Saturday, March 29, 2014

PANDORA PART 05

 

Di keluarga tertentu di Jepang, seorang ibu akan meneruskan tiga tradisi kepada putri mereka. Biarkan kujelaskan mengenai tradisi-tradisi itu.

Pertama, anak perempuan adalah milik ibu mereka dan akan diperlakukan seperti itu. Jika seorang wanita melahirkan dua atau tiga anak perempuan, ia akan memilih salah satunya untuk menjadi “miliknya”. Putri yang terpilih ini akan diberikan dua nama, salah satunya adalah nama aslinya. Nama asli itu tak diketahui oleh siapapun, kecuali ibunya.

Saturday, March 22, 2014

PANDORA PART 04

 

Haruka masih terisak dan aku serta yang lainnya juga tak tahu harus berbuat apa. Sekujur tubuh kami dibasahi keringat dingin karena ketakutan. Di lorong pintu masuk rumahku, Saori masih berdiri dengan tatapan kosong sambil mengunyah rambutnya.

“Ibu! Ibu!” panggilku. Ibuku keluar dan dengan mata membelalak menatap Saori. Aku mencoba menjelaskan kepadanya, namun dengan segera ia menampar wajahku dan ketiga anak lainnya. Ia menjerit ke arah kami semua.

“Kalian pergi ke sana kan? Kalian pergi ke rumah terlarang itu!”

Yang dapat kami lakukan hanya mengangguk. Kami tak mampu mengatakan apapun untuk membela diri kami.

“Masuk ke dalam, kalian semua! Aku akan memanggil orang tua kalian!” ibuku kemudian membawa Saori ke atas.

Aku melakukan perintah ibuku dan diam di ruang tamu. Aku bahkan tak bisa berpikir apa-apa lagi. kami hanya duduk di sana selama sejam hingga akhirnya semua orang tua kami datang.

Ketika orang tua kami datang, ibuku segera turun dari lantai atas.

“Mereka pergi ke rumah itu!” pekiknya.

Para orang tua tampak marah dan kecewa hingga berteriak kepada kami.

“Apa?! Apa yang kalian lihat di sana?”

Kami semua terkejut dengan semua bentakan itu dan tak mampu menjawabnya. Namun, Atsushi dan Kazuchika berhasil menjelaskannya kepada mereka.

“Kami melihat sebuah meja rias dan rambut yang aneh... aku juga memecahkan kaca depan...”

“Lalu....apa lagi yang kalian lihat?”

“Selain itu...kami meihat beberapa kertas dengan dua huruf tertulis di atasnya ...”

Kamar itu menjadi sunyi seketika, namun pada saat yang sama terdengar jeritan dari lantai atas.

Ibuku langsung berlari ke atas dan kemudian turun kembali. Ia memegang pundak ibu Saori. Pipinya basah dengan air mata.

“Saori...apa dia melihat ke dalam laci?” ibu Saori datang mendekati kami penuh rasa cemas.

“Apa kalian membuka laci ketiga dan melihat isinya?” ia mengulang pertanyaannya.

“Laci ketiga di meja rias di lantai atas. Apa kalian melihat ke dalamnya?” orang-orang tua lain mulai bertanya.

“Laci pertama dan kedua kami melihat isinya....tapi yang ketiga, hanya Saori yang melihat...”

Setelah aku mengatakannya, ibu Saori mencengkeram tanganku dan menjerit, “Kenapa kalian tak menghentikannya? Dia teman kalian! Mengapa kalian tak menghentikannya? Mengapa?”

Ayah Saori dan orang-orang tua lainnya berusaha menenangkannya.

“Tenanglah!”

“Kumohon, sayang! Tenangkan dirimu!”

Mereka berhasil menariknya, namun ia masih tampak histeris. Para orang tua mulai menenangkan diri mereka dan mulai bercerita.

“Tak ada yang pernah tinggal di rumah yang kalian datangi itu. Rumah itu dibangun khusus untuk meja rias dan rambut itu. Semacam kuil. Bangunan itu sudah ada sejak kami kecil.”

“Rambut itu rambut manusia asli,” ayah Kazuchika berkata, “Kalian melihat kertas yang ada di dalam laci itu kan? Apakah ini yang tertulis di sana?”

Ia mengambil sebuah kertas dan menuliskan sesuatu di sana.

“Ya benar! Tulisan itu yang kami lihat.”

Ayah Kazuchika lalu segera meremas-remas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia melanjutkan ceritanya.

“Kata itu sebenarnya adalah sebuah nama; nama dari perempuan yang rambutnya kalian lihat di sana. Nama itu memang tak biasa...” ia berhenti beberapa saat sebelum kembali bercerita, “Semua yang perlu kalian tahu adalah: kalian tak boleh, dengan alasan apapun, membicarakan tentang rumah itu lagi! Kalian tidak boleh berada dekat-dekat dengan rumah itu! Mengerti!”

Wajah ayah Kazuchika tampak serius saat itu dan kamipun mengangguk patuh.

“Sekarang sudah malam. Orang tua kalian akan membawa kalian pulang sekarang. Kalian pasti lelah.”

Tiba-tiba Kazuchika berdiri, “Bagaimana dengan Saori? Apa ia akan baik-baik saja?”

“Lupakan tentang dia.” jawab ayah Kazuchika dengan dingin, “Ia takkan pernah menjadi Saori yang kalian kenal dulu.” ia lalu menatap kami dengan sorot mata penuh kesedihan. “Ibunya akan terus menyalahkan kalian atas apa yang terjadi dengan putrinya. Ia takkan membiarkan kalian melihat Saori lagi.”

Sejak saat itu, hidup kembali berjalan normal, kecuali satu hal. Kami tak pernah melihat Saori lagi. Guru kami mengatakan keluarganya sudah pindah ke tempat lain.

Kamipun tak pernah membicarakan hal itu lagi. Sepertinya kabar bahwa kami mendobrak masuk ke rumah itu telah menyebar sehingga larangan-pun semakin ketat. Bahkan anak-anak pun sekarang sudah tak berani membicarakan rumah itu di belakang orang tua mereka. Kaca yang dipecahkan Atsushi pun sekarang ditutup dengan papan kayu sehingga tak seorangpun dapat mengintip ke dalam.

Kamipun menyelesaikan sekolah kami dan waktu serasa berjalan sangat cepat. Kami berempat yang semula bersahabat baik semakin menjauh ketika kami kuliah di kota-kota yang berbeda. Satu hal terjadi ketika aku lulus dari kuliah dan pulang ke rumah. Aku melihat ibuku membaca surat dari ibu Saori. Ketika aku bertanya dimana Saori, ibu menolak untuk menjawab. Ibuku juga menolak untuk menceritakan si surat itu kepadaku. Namun apa yang ia katakan masih menghantuiku sampai kini.

“Ia memilih untuk melakukan ini kepada Saori karena ia adalah ibunya. Jika kau ada di posisinya, kau pasti juga akan melakukan hal yang sama. Meskipun kau tahu itu adalah pilihan yang salah.”

Aku diam-diam menyelidikinya, tentang meja rias dan rambut itu. Akupun menemukan kenyataan yang mengerikan.

 

TO BE CONTINUED

Sunday, March 16, 2014

PANDORA PART 03

 

Kami semua berada di ruang tamu dimana kami masuk tadi, jadi ia tak mungkin keluar. Kami mencoba mencarinya di ruang tamu dan dapur, namun kami tetap tak menemukannya.

“Haruka!” panggil Saori penuh keputusasaan, “Haruka! Dimana kamu! Jawab kakak!”

Namun tak ada jawaban.

“Hei, apa kalian pikir dia naik ke atas?” kami semua menatap ke arah tangga itu.

Sunday, March 9, 2014

PANDORA PART 02

 

Ketika hari Minggu akhirnya tiba, kami sangat bersemangat dengan apa yang akan kami lakukan ini, sebab kami sudah merencanakannya sangat lama. Kami berkumpul di depan rumah tua itu dan membawa tas ransel penuh makanan. Aku ingat saat itu kami sangat gembira karena akan “berpetualang”.

Sunday, March 2, 2014

LET’S ASK NINO

 

file (2)

Nggak usah panjang lebar guys, kali ini gue akan me-review http://ask.fm/ninonafan. Pertama kali gue nemu di internet, gue ngakak semaleman. Awal mula cerita, di salah satu cerita urban legend gue, ada salah satu readers (anonymous sih) minta izin share cerita2 gue ke fanbase dia. Fanbase, pikir gue, apaan tuh? Kok gue bisa nggak punya? Nah beberapa bulan kemudian, barulah gue secara kebetulan nemuin website tersebut. Dan kocaknya lagi, penulisnya baru duduk di bangku SMP lo. Namanya adalah Nino Na’fan. And why is it so important that I have to discuss it in here? I will explain it.

MENGAKU BACKPACKER VERSI MALAYSIA!!!!

 

Indonesia-Malaysia

HALLO PARA READERS!!! Wuih semangat banget ya admin kali ini. Ya iyalah semangat 45, soalnya blog gue sekarang udah GO INTERNATIONAL! Buktinya gue baru aja nemuin kalo cerita2 dalam blog gue udah diterjemahin ke dalam bahase Malaysie ... Woooow, berarti pembaca blog gue nggak cuman di Tanah Air aja melainkan nyampe ke negeri jiran juga. Kalo nggak percaya, ini dia link-nya:

http://carigold.com/portal/forums/showthread.php?t=484902

Ternyata ada salah satu pembaca dari negeri jiran yang menerjemahkan cerita2 urban legend di postingan gue 15 urban legend paling menakutkan (pasti udah baca semua dan apal dong ama cerita2nya khan?). Terus terjemahannya itu diposting di sebuah forum di Malaysia dan ternyata mendapat sambutan hangat. Woooooow ... tapi yang bener2 bikin kocak guys, terjemahannya itu lho, bikin ngakak. Belum lagi komen2nya ... haduuuuuh. Silakan aja dibaca deh, admin bakal share beberapa :D

PANDORA PART 01

 

Aku akan menceritakan kepadamu mengenai 禁后, sebuah kisah yang diceritakan secara turun-menurun di kotaku. Huruf kanji tersebut jika diterjemahkan secara kasar akan menjadi “Forbidden Empress” atau “Permaisuri Terlarang”. Namun kami menyebutnya “Pandora”.

Aku tumbuh besar di sebuah kota kecil yang tenang dan damai. Tempat itu agak terpencil dan membosankan karena tidak ada tempat “nongkrong”, namun ada suatu tempat yang selalu menarik perhatian anak muda di sana. Di luar desa kami, di tengah sawah-sawah yang luas, berdiri sebuah rumah tua. Bahkan di kotaku yang masih banyak terdapat bangunan tua, rumah tesebut masih tampak sangat antik. Kondisinya cukup buruk karena telah lama terbengkalai dan nampaknya sudah tak ada lagi yang menempatinya sejak lama.

Namun rumah itu bukanlah rumah tua biasa.

Anehnya, entah mengapa, orang tua kami dan orang-orang dewasa lainnya di kota ini sangat membenci tempat itu. Kami dilarang untuk membicarakannya, bahkan kadang kala kami bisa ditampar oleh orang tua kami bila kami mengungkit-ungkit tentang rumah tua itu. Bahkan orang tuaku juga sama.

Ada alasan lain mengapa kami menganggap rumah tua itu sangat aneh. Tak ada pintu masuk di rumah tersebut.

Tentu saja ada jendela, namun jika benar-benar ada orang yang dahulu tinggal di sana, bagaimana mereka masuk? Apa mereka merangkak masuk melalui jendela? Tampaknya tak masuk akal.

Warga kota kami menyebutnya “Pandora”.

Misteri ini tentunya menarik perhatian anak-anak muda sepertiku dan juga teman-temanku. kami ingin tahu, ada apa sebenarnya dibalik kemisteriusan rumah itu. Kami tentu ingin masuk ke sana dan mencari tahu,apalagi rumah itu sebenarnya cukup mudah untuk dimasuki. Rumah itu terletak di tempat yang sangat terpencil sehingga kecil kemungkinan ada yang akan memergoki kami. Namun kami tak berani. Orang tua kami saja sangat marah saat kami membicarakan rumah itu, apalagi jika mereka tahu kami diam-diam masuk ke sana.

Beberapa bulan setelah aku masuk SMP, seorang anak memutuskan bahwa apapun yang terjadi, ia akan masuk ke rumah itu. Namanya adalah Atsushi.

Ibu Atsushi, Izumi, berasal dari kota ini. Namun ia menikah dengan pria dari prefektur lain dan pindah ke sana bersama suaminya. Mereka akhirnya bercerai dan ibunya kembali dan membawa Atsushi ke kota ini.

Atsushi tak pernah mengunjungi kota ini hingga ia pindah ke sini, jadi ia belum pernah mendengar tentang Pandora.

Ketika ia pindah ke sini, aku bersahabat dengan Kazuchika, Naoki, dan Saori. Kazuchika dan Naoki menjadi berteman dengan Atsushi, sehingga iapun bergabung dengan kelompok kami.

Suatu hari, kami berlima sedang mengobrol dan topik tentang Pandora pun mencuat.

“Ibu dan nenekku berasal dari sini. Apakah mereka akan marah jika aku menanyakan tentang Pandora?” tanya Atsushi.

“Apakah kau harus menanyakannya?” kataku, “Orang tuaku bahkan memukulku jika aku membicarakannya.”

“Aku juga. Tapi aku tak mengerti mengapa mereka berbuat begitu.”

Kamipun mulai berandai-andai, tampak seperti apakah bagian dalam rumah tua itu.

“Jadi, belum ada seorangpun yang pernah masuk ke sana?” tanya Atsushi.

“Tidak, belum ada yang pernah. Mungkin satu-satunya orang yang pernah ke sana hanyalah orang-orang dewasa di kota ini.”

“Well, kalau begitu mari kita cari tahu apa yang mereka sembunyikan dari kita!” kata Atsushi dengan mata berbinar.

Kami semua takut dengan hukuman yang akan kami terima jika ketahuan, jadi kami semua awalnya menolak. Namun akhirnya kami setuju setelah dia terus-menerus membujuk kami. Kami memang takut, namun jika boleh jujur, kami semua juga ingin tahu apa yang sebenarnya disembunyikan di sana. Dan ini mungkin satu-satunya kesempatan kami untuk mengetahuinya.

Saori memberitahu tentang rencana ini pada adik perempuannya, Haruka. Karena adiknya itu juga sering berkumpul bersama kami, maka kamipun memutuskan kami berenam akan pergi ke rumah itu pada hari Minggu siang.

Kami tak tahu itu akan menjadi kesalahan terbesar dalam hidup kami.

TO BE CONTINUED