Saturday, September 27, 2014

REAL PART 3/4

 

Episode yang lalu: Kondisi Tomohiko semakin memburuk dan Miss Akagi yang diharapkan ternyata tak kunjung datang. Tomohiko terpaksa menerima bantuan Ogawa dengan mendatangkan seorang paranormal bernama Hayashi untuk mengusir hantu tersebut. Namun Hayashi sendiri kewalahan dan hantu itu kembali menampakkan diri dengan wujud yang lebih mengerikan. Tomohiko kini putus asa.

Empat hari berlalu sejak upacara pengusiran setan yang gagal itu. Leherku mulai terlihat dan terasa lebih baik. Bekas itu masih ada, namun secara fisik aku merasa lebih baik. Demamku ini sidah turun dan aku tak punya banyak hal untuk kukeluhkan sejak rasa sakit ini mulai berkurang.

Namun kelainannya kini tidak pada tubuhku. Mentalku menurun secara drastis. Entah apakah itu siang atau malam, aku selalu khawatir bahwa hantu itu akan menampakkan diri lagi. Aku tak bisa tidur saat malam dan aku bahkan tak berselera makan. Aku selalu memeriksa apakah ada yang aneh di sekitarku. Aku tak punya waktu untuk merasa lelah ataupun lapar.

Setelah sepuluh hari, aku memperhatikan bahwa wajahku mulai terlihat berbeda. Aku bahkan hampir tak mengenali wajahku sendiri di cermin. Kondisi mentalku yang melorot sangat terpancar dari wajah dan penampilanku. Aku benar-benar tak tahan lagi.

Saturday, September 20, 2014

REAL PART 2/4

 

Episode yang lalu: Sang narator mengikuti ritual yang pernah diceritakan temannya, Ogawa, dan berujung pada penampakan hantu di apartemennya. Sang narator kembali ke rumah orang tuanya untuk meminta bantuan Miss Akagi, seorang biksuni untuk mengusir hantu itu. Namun dalam perjalanan, sang narator mengalami sesuatu yang aneh terhadap lehernya.

Dengan napas tersengal-sengal, aku segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu di belakangku. Aku mendengar ibuku menutup telepon dan begitu melihat wajahku, ia langsung berkata.

“Miss Akagi baru saja menelepon! Kau ingat beliau kan, biksuni yang tinggal di Nagasaki? Beliau sangat mencemaskanmu. Beliau mengatakan bahwa ada hal yang buruk terjadi padamu dan ingin berbicara denganmu secepat mungkin. Apa kau baik-baik saja, Nak?” mata ibuku langsung membelalak begitu melihat leherku, “Astaga! Apa yang terjadi dengan lehermu?”

Aku segera berlari ke cermin yang berada di lorong. Tadi aku sempat berpikir aku aman di sini, bahwa makhluk yang sebelumnya kulihat di apartemenku takkan mengikutiku di sini. Namun aku segera menyadari bahwa aku salah begitu melihat garis merah yang melingkari leherku. Luka itu terlihat seperti seutas tali yang tengah meliliti leherku. Aku mendekat ke cermin untuk melihatnya lebih jelas dan terlihat bagiku, luka aneh itu akan sulit hilang.

Aku mulai gemetar. Aku tak mampu berpikir lagi. Yang dapt kulakukan hanyalah naik ke kamar ibuku, dimana ada sebuah patung Buddha kecil di sana. Aku berdoa di depannya terus-menerus.

“Apa yang terjadi?” ayahku yang tampaknya baru saja berbicara dengan ibuku, menyerbu masuk ke dalam ruangan. Ibu sangat ketakutan, sehingga beliau memanggil nenek. Aku tak bisa menerka apa yang ibuku bicarakan di telepon di tengah doaku, namun aku bisa mengetahui bahwa beliau tengah menangis. Sesuatu mengenai ibuku yang ketakutan membuatku tersadar betapa serius kondisi yang tengah kualami ini. Tak ada tempat yang aman bagiku. Makhluk itu akan terus mengikutiku hingga akhir hayatku.

Setelah tiga hari, keadaanku hanya terus memburuk. Aku tak tahu apakah ini karena kondisi mentalku yang turun ataukah karena ulah makhluk yang terus mengikutiku ini, namun aku menderita demam yang amat parah selama dua hari. Leherku terus-menerus berkeringat dan pada hari kedua, darah mulai bercampur dengan keringatku. Pendarahanku mulai terhenti keesokan harinya setelah demamku mulai turun. Aku akhirnya bisa menenangkan diriku sedikit.

Namun leherku masih terasa gatal, bahkan terasa seperti disengat. Apapun yang menyentuhnya, apakah itu handuk, kaos, selimut, semuanya memberikan rasa sakit di sekitar luka tersebut. aku berusaha untuk tidak menyentuhnya karena takut darah akan keluar kembali dari luka tersebut. Aku hanya berbaring sepanjang hari, memaksa diriku sendiri untuk berhenti memikirkannya. Namun tiap kali aku masuk ke kamar mandi, aku tak mampu menghindar untuk melihat ke arah cermin.

Apa yang kulihat di cermin benar-benar hampir membuatku jadi gila. Warna merah hampir sepenuhnya menghilang, namun luka itu ... aku bisa mengatakan bahwa luka itu justru makin melebar. Benda itu benar-benar membuatku jijik. Aku akan mencoba menggambarkan seperti apa luka itu sekarang, maaf jika aku membuat kalian merasa mual.

Ketika pertama muncul, luka itu hanya berbentuk garis merah tipis sekitar 1 cm lebarnya. Garis itu melingkari leherku tanpa terputus. Kulitku cukup putih, sehingga warna merah itu sangat jelas terlihat, kontras dengan warna kulitku. Luka itu benar-benar nampak seperti tali merah yang tengah meliliti leherku.

Namun setelah tiga hari, benda itu mulai berubah bentuk. Bentuknya benar-benar menjijikkan saat aku melihatnya di cermin. Tampak benjolan-benjolan di luka itu, letaknya sangat berdekatan hingga hampir tak ada jarak antara satu tonjolan dengan tonjolan yang lainnya. Ukurannya kecil-kecil, namun yang membuatnya buruk, terlihat cairan nanah keluar dari benjolan-benjolan itu. Dan luka itu tampak semakin melebar dan melebar. Aku bahkan muntah begitu pertama melihatnya. Aku mencoba mencuci leherku dengan air, namun rasa sakit terus saja menyengat. Ibuku bahkan mengoleskan obat ke luka tersebut, namun aku tahu itu takkan membantu. Aku kembali berbaring di atas kasur dan menangis sepanjang malam.

“Kenapa aku?” hanya itu yang bisa kupikirkan. Tak ada hal lain yang terlintas di dalam benakku kecuali penyesalan.

Aku sampai di suatu titik dimana aku tak mampu lagi menangis. Telepon genggamku tiba-tiba berdering. Itu Ogawa. Ketika aku melihat namanya di caller ID, hatiku segera terisi dengan harapan. Aku tiba-tiba serasa di-charge dengan energi yang aku bahkan lupa masih memilikinya. Aku tak mengira aku akan sebahagia ini mendapat telepon darinya.

“Halo!” aku mengangkatnya secepat mungkin.

“Hei, apa kau baik-baik saja?”

“Tidak ... kondisiku tak begitu baik.” Aku mencoba sebisa mungkin tak membiarkan perasaan menguasaiku, namun tangisku hampir pecah.

“Oh, seburuk itu ya?”

Kata ‘buruk’ bahkan tak cukup dekat untuk menggambarkannya. “Hei, bagaimana? Kau sudah menemukan seseorang untuk menolongku?”

Ketika ia tak segera menjawabku, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. “Maaf, tapi aku belum menemukannya. Aku sudah menghubungi beberapa kawan lamaku, namun aku belum mendapatkan kabar apapun.”

“Apa? Jadi apa yang harus kulakukan?” aku tahu aku terdengar sangat memaksa dan terdengar egois, namun aku tak peduli. Dia harus menolongku!

“Tenanglah sedikit, oke? Tak ada seorangpun yang kukenal bisa menolongmu. Namun mungkin ada seseorang, ia teman dari temanku. Temanku mengatakan ia sangat jago dan ia akan sangat senang menolongmu, namun ...”

“Namun?” aku mulai tak sabar.

“Harganya sangat mahal.” Ia tampak tak enak ketika menyebutkannya.

“Ia minta bayaran?”

“Ya begitulah kata temanku. Bagaimana, kau mau?”

“Berapa?” sebenarnya aku tak ingin mendengar jawaban Ogawa, sebab ia sendiri terdengar sangat berat untuk mengatakannya.

“Menurut temanku, mungkin sekitar 500 ribu yen [sekitar 59 juta].”

“500 ribu yen? Bagaimana aku harus membayarnya?” aku memiliki pekerjaan, namun mustahil bagiku mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Namun jika itu bisa melepaskan semua penderitaan ini, mungkin aku tak memiliki pilihan lain, “Baik, dimana aku bisa menemuinya”

“Temanku bilang ia tinggal di Gunma. Aku harus menanyakan pada temanku dimana persisnya, jadi aku akan meneleponnya dan lihat apa yang bisa ia lakukan.”

Percakapan kamipun usai dan aku pergi untuk berdoa di altar kembali. Kalian mungkin masih ingat, pada hari aku tiba, ibuku memanggil nenek. Beliau mengatakan bahwa Miss Akagi mungkin akan datang untuk menolongku secepat mungkin. Namun ada masalah. Beliau sangat sibuk dan beliau juga sudah sangat tua. Paling cepat beliau bisa tiba di sini 3 minggu lagi. Itu berarti aku terjebak dengan keadaan ini untuk tiga minggu ke depan. Aku tak tahu apakah aku bisa bertahan selama itudan semuanya itu membuatku sangat gugup dan ketakutan. Tiga minggu tanpa kepastian. Aku jelas takkan mampu melaluinya. Paling tidak, aku tak bisa hanya berdiam diri saja selama itu. Aku harus mencoba melakukan sesuatu.

Ogawa meneleponku kembali sekitar jam 11 malam itu.

“Maaf membuatmu menunggu. Aku harus menunggu temanku meneleponku balik. Ia bilang orang itu bisa datang ke tempatmu besok.”

“Besok?”

“Besok hari Minggu bukan?” Ogawa terdengar terkejut saat ia tahu aku tak menyadari bahwa ini akhir pekan. Akupun sama terkejutnya. Sudah lima hari berlalu sejak kami berjumpa terakhir kalinya. Aku bahkan lupa bahwa aku sudah absen selama seminggu dari kantor.

“Baiklah kalau begitu,” jawabku, “Terima kasih. Jadi, dia akan datang ke sini, ke Saitama?”

“Ya, katanya begitu. Ia memiliki mobil sendiri, jadi aku akan mengirimkan alamatmu kepadanya, oke?”

“Baik, aku akan mengirimkanmu SMS berisi alamatku. Oya, kau tak melakukan apapun kan besok? Bisakah kau datang bersamanya?”

“Oh, tentu. Jangan khawatir.”

“Oya ... bisakah kira-kira aku membayarnya belakangan?” aku tak mau berterus terang bahwa aku tak memiliki uang, namun kurasa Ogawa bisa menyimpulkannya sendiri.”

“Kurasa bisa.”

“Baiklah. Hubungi aku besok jika kamu sudah berada di dekat sini.” Semuanya tak begitu sesuai rencanaku, namun kurasa ini justru lebih baik.

Malam itu, aku bermimpi aneh. Seorang gadis mengenakan kimono putih berlutut di lantai di sampingku. Ia membungkuk dalam-dalam ke depan, menaruh tiga jari dari tiap tangan ke lantai ketika ia membungkuk. Ia kemudian berdiri dan meninggalkan kamar, namun tidak sebelum ia membungkuk kembali di depan pintu. Aku tak tahu apa kaitan mimpi itu dengan situasi yang kini kualami, namun aku merasa seperti semua ini ada hubungannya.

Hari berikutnya Ogawa meghubungiku tepat siang hari. Aku membimbingnya ke rumah orang tuaku ketika kami berbicara di telepon. Ia membawa teman yang katanya menawarkan bantuannya dan ia terlihat seperti berumur pertengahan 30-an. Aku sama sekali tak merasa pria ini bisa membantuku, ia malaj terlihat seperti anggota yakuza kelas teri. Aku belum memberitahu orang tuaku tentangnya dan jelas mereka juga sama curiganya sepertiku.

Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Hayashi. Aku yakin itu bahkan bukan nama aslinya, namun semua itu bukan masalah bagiku. Ia kemudian berbicara denganku.

“Tomohiko, aku dengar bahwa kau terlibat masalah yang sangat besar, bukan?”

Maaf memotong di sini, namaku Tomohiko. Maaf baru mengatakannya.

“Hayashi, bukan?” ayahku memotong pembicaraan kami. Nadanya sangat tajam dan defensif, “Bisakah saya tahu mengapa anda datang ke sini?”

“Karena anak anda, Pak. Anda mungkin takkan mempercayai apa yang saya katakan pada anda, namun anak anda terlibat dalam suatu masalah, benar bukan? Dia mengemis meminta bantuan saya. Karena itulah saya datang.”

“Dia dalam masalah?” kata ibuku. Matanya beralih dari Hayashi ke arahku.

“Ya. Saya punya pengalaman dengan hal-hal seperti ini. Masalahnya adalah kasus-kasus yang pernah saya tangani tak pernah ada yang seberat ini. Bukan saya ingin menakuti kalian semua, namun bahkan berada di ruangan ini lumayan membuat saya takut.”

Ayahku semakin tak yakin dengan orang ini, “Maafkan saya bertanya, namun apa sebenarnya pekerjaan anda?”

“Ah, mungkin anda berpikir saya ini orang gila. Namun pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang rumit dengan jawaban yang rumit pula. Percayalah saja pada saya ketika saya mengatakan bahwa hanya saya yang dapat menolong anak anda. Anda tak ingin dia direnggut dari anda untuk selamanya, bukan?”

“Apa kami bisa mempercayai anda untuk menolong anak kami?” ibuku tak sebegitu curiga pada orang ini ketimbang ayahku, namun ia juga tampak tak mempercayai Hayashi sepenuhnya.

“Saya akan membantu kalian jika kalian mengizinkannya.” Ia menatap mata ibuku dengan tajam ketika mengatakannya. Ibuku mengangguk.

“Masalah seperti ini hanya bisa dipecahkan oleh seorang ahli seperti saya. Dan anda tahu, hal ini juga cukup berbahaya bagi diri saya sendiri. Saya membutuhkan suatu jaminan, apa anda mengerti apa yang saya katakan?”

“Berapa yang kau inginkan?” keraguan ayahku semakin menguat. Garis-garis di wajahnya makin menebal.

“Hmmm ... jika saya tidak mendapat 2 juta yen [sekitar 230 juta rupiah] ...”

“Apa kau bercanda?” wajah ayahku berubah merah akibat amarahnya.

“Saya sudah memiliki niat membantu anda dengan datang ke sini. Maksud saya, saya hanya ingin menolong seorang teman di sini. Namun jika anda tak menginginkan bantuan saya, saya dapat pergi sekarang juga. Atau, saya bisa tinggal jika anda memberi saya 2 juta yen, sehingga saya bisa menyelamatkan jiwa anak anda. Saya pikir dengan semua resiko yang saya hadapi, harga itu cukup setimpal.” Ia berbalik menatapku, “Anda sudah pergi ke banyak kuil untuk meminta bantuan, bukan? Dan saya berani bertaruh, mereka sama sekali tak peduli pada anda. Well, itu karena tak banyak orang bisa menangani situasi seperti ini. Apa anda ingin mencari bantuan dari mereka lagi?”

Aku terdiam. Ketika Hayashi menyebutkan harga itu, aku menatap pada Ogawa yang terlihat sama terkejutnya dengan aku. Setelah berbicara satu sama lain selama beberapa saat, orang tuaku dengan enggan menyetujui harga itu. Hayashi kemudian mengatakan bahwa upacara exorcism (pengusiran setan) akan dilakukan malam ini dan ia mulai bersiap-siap.

Apa yang ia maksud dengan bersiap-siap benar-benar berbeda dengan yang aku bayangkan. Ia mengatur lilin di kamarku dimana kami berdiri di dan ia menempel kertas mantra di tengah ruangan. Dia duduk bersila, menaruh sebuah bola kristal tepat di depannya dan mengambil sebuah tasbih di tangannya. Ia mengambil apa yang kuduga sebagai sake dan menuangkannya ke dalam gelas. Ya, itulah yang ia sebut sebagai persiapan.

“Hei, Tomohiko, aku akan mengusir hantu itu dari tubuhmu, oke? Semuanya akan baik-baik saja sekarang, jadi aku ingin orang tuamu melakukan sesuatu untukku,” ia menatap mereka dalam-dalam, “Maaf, namun kalian harus meninggalkan rumah ini untuk sementara waktu. Aku tak bisa menjamin hantu ini tak mencoba untuk merasuki orang lain, dan kita tentu tak ingin hal itu terjadi pada kalian.”

Orang tuaku menatapnya dengan curiga, namun akhirnya setuju untuk meninggalkan rumah. Mereka masuk ke dalam mobil mereka yang terparkir di luar sambil menunggu semuanya usai.

Hayashi memulai ritualnya tepat setelah matahari terbenam. Ia mulai merapal apa yang terdengar bagiku seperti ayat-ayat kitab suci. Pada saat-saat tertentu, ia akan mencelupkan jarinya ke dalam segelas sake yang tadi ia persiapkan dan mencipratkannya ke arahku. Aku setengah percaya dan setengah ragu apakah ia benar-benar tahu apa yang ia lakukan. Aku menutup mataku dan berbaring di atas kasurku ketika ia menyuruhku begitu.

Upacara itu berjalan beberapa lama. Alunan ayat-ayat itu lama-lama terdengar seperti putus-putus, entah kenapa. Aku menjaga mataku tetap tertutup, namun suasana di sekitarku mulai terasa tak beres. Suasana semakin mencekam hingga aku sadar bahwa ruangan ini benar-benar sunyi, tak ada lagi setitikpun suara.

Aku tak merasakannya sebelumnya, namun leherku kembali terasa panas dan seperti terbakar. Rasanya sudah tak gatal lagi, namun menyakitkan. Aku ingin membuka mataku dan melihat apa yang terjadi, namun aku hanya menggertakkan gigiku dan memaksa diriku menahan rasa sakit ini.

Namun aku tahu ada yang salah.

Terdengar seperti upacara kini sudah berakhir, karena aku sudah tak mendengar suara apapun lagi. Namun rasanya ini bukan sebuah ending, melainkan ada sesuatu yang membuat upacara ini terpotong dari yang seharusnya. Benar-benar sunyi di dalam ruangan ini. Tak ada yang mengatakan sepatah katapun. Rasa sakit di leherku sama sekali tak berkurang, bahkan semakin meningkat. Rasa panas yang kurasakan sudah tak tertahankan lagi. Ruangan ini juga terasa lebih dingin ketimbang saat upacara itu dimulai.

Dan aku merasakan seperti ada sesuatu yang berada di sampingku.

Aku menyuruh diriku sendiri untuk tidak membuka mata. Aku tahu aku tak boleh melakukan itu. Aku tahu bahwa tetap menutup mataku adalah hal terpintar yang bisa kulakukan. Namun aku tak bisa menahan godaan itu. Aku membukanya.

Dan apa yang kulihat sangatlah mengerikan.

Hayashi masih duduk di sisi kananku, terdiam bergeming. Namun di sisi kiriku, duduk makhluk itu. Ia duduk bersila, sama seperti Hayashi. Tangannya berada di atas kedua lututnya.

Namun tubuhnya ...

Tubuhnya menjulur ke arah depan, memanjang, tepat di atas tubuhku. Dan kepalanya ... kepalanya tepat berada di depan wajah Hayashi. Jarak antara wajah Hayashi dan kepala makhluk itu mungkin hanya berjarak satu bola baseball.

Yang lebih aneh dan mengerikan, kepala hantu itu bergerak seperti burung hantu, memutar. Suara mengerikan seperti tulang patah mengikuti ketika ia memutar kepalanya, “Kreeek ... kreeeek ... kreeek ...”

Kepalanya miring, kemudian berputar hingga posisi kepalanya horisontal, kemudian memutar hingga tegak lurus, lalu memutar kembali hingga kembali ke posisinya semula, masih miring.

Ia menatap mata Hayashi kemudian berbisik dengan suara yang teramat menakutkan. Aku tak mengerti apa yang ia katakan, mungkin ia membisikkan sesuatu kepada Hayashi, sesuatu yang amat mengerikan. Apapun yang ia bisikkan memiliki efek yang sangat besar untuk Hayashi. Wajahnya memucat hingga seputih kertas. Kepalanya menunduk dan pandangan matanya mengikuti, jatuh ke bawah. Ia sama sekali tak berkedip dan tak mengucapkan sepatah katapun. Mulutnya membuka dan sebenang air liur jatuh dari bibirnya.

Walaupun sangat tipis, aku bisa melihatnya tersenyum. Ketika ia mendengarkan apapun yang makhluk itu bisikkan, sesekali ia mengangguk kecil. Yang bisa kulakukan hanya menatap peristiwa mengerikan itu tanpa bisa melakukan apapun.

Makhluk itu tiba-tiba memutar lehernya, “Kreeeeek .....”

Dan selanjutnya yang kutahu, ia tengah menatapku.

Aku merasakan mataku segera menutup dan aku menarik selimutku ke atas kepalaku. Aku membisikkan doa-doa, namun bayangan ketika kepala makhluk itu memutar seperti burung hantu dengan suara mengerikan tetap terpatri dalam benakku. Aku sangat ketakutan.

Aku mendengar suara berdecit dari arah tangga dan segera menyadari seseorang sedang menuruni tangga dengan terburu-buru. Hayashi telah melarikan diri. Aku meringkuk makin dalam di dalam selimutku, menunggu sesuatu untuk terjadi.

Beberapa saat kemudian, orang tuaku masuk ke dalam kamar, menyalakan lampu, dan menarik selimut dari atas tubuhku. Di sana mereka melihatku meringkuk seperti janin. Mereka mengatakan bahwa Hayashi kabur tanpa sedikitpun melihat ke arah mereka. Ia langsung melompat ke dalam mobil dan meluncur pergi, menghilang ke dalam kegelapan malam.

Ogawa kemudian mengatakan padaku bahwa ketika Hayashi masuk ke mobil, ia hanya mengatakan, “Nyalakan mobilnya dan cepat pergi” serta berperilaku sangat aneh sepanjang perjalanan.

Kunjungan Hayashi seharusnya menyelamatkanku, namun kondisiku justru memburuk.

Aku tahu aku tak bisa lagi menunggu Miss Akagi.

BERSAMBUNG

 

Cuplikan episode berikutnya:

Makhluk itu ada di sana. Ia merangkak sambil menatap wajahku. Aku tak punya bayangan apa yang sedang terjadi atau apa yang Miss Akagi sedang lakukan. Aku berada di dalam kuil, di hadapan seorang biksuni, namun entah bagaimana caranya, monster itu berada hanya beberapa jengkal jaraknya dariku.

Thursday, September 18, 2014

TANTANGAN 30 HARI: RESORT THE SEQUEL

 

RESORT

Apa kabar readers? Excited denger tantangan 30 hari membuat riddle sendiri? Eits, masih ada lagi lho. Kali ini admin juga menggelar tantangan baru, yakni membuat sekuel dari Resort. Tau kan cerbung Resort yang ternyata mendapat sambutan cukup positif di blog admin? Bahkan sampai salah satu readers bikin covernya nih di wattpad. Jadi terharu hiks. Nah, buat kalian yang hobi nulis, kalian bisa nih manfaatin kemampuan kalian untuk membuat sekuel dari cerita tersebut. Dan bonusnya, bisa tayang di blog admin sebagai cerber baru!

TANTANGAN 30 HARI: TAKE US TO THE BACKPACKER’S WORLD

 

Hooooi para readers. Berbarengan dengan event “Riddle from Readers” dimana para pembaca bisa ngirim riddle buatan mereka sendiri, admin juga ada event lain nih. Nah, kali ini kembali ke “jiwa” backpacker blog ini, admin akan memberikan kesempatan kalian untuk mengirimkan pengalaman backpacker kalian, tapi nggak usah jauh2, tuliskan aja yang ada di dekat tempat tinggal kalian. Admin tau, pembaca blog admin tersebar di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke *lebay* Pasti dong ada tempat menarik di sekitar kalian. Nah, kalian bisa menulis tentang tempat2 menarik di tempat kalian untuk menarik para backpackers ke sana.

TANTANGAN 30 HARI: RIDDLE FROM READERS!!!

 

Hai para readers, kali ini gue selaku admin Mengaku Backpacker bakalan ngasih tantangan ke para readers semua yakni “Riddles From Readers”. Udah lumayan lama kan para readers nggak baca update-an riddle dari blog admin? Nah biar suplai riddle terus membludak walaupun admin nggak bisa setiap saat ngasih update-an, kali ini admin akan memberi kesempatan para readers buat ngirim riddle kalian sendiri. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi supaya riddle kalian dimuat.

Saturday, September 13, 2014

REAL PART 1/4

 

Catatan penerjemah (baca baik2 sebelum membaca cerita ini):

“Real” adalah cerita bersambung yang diambil dari blog okaruto.tumblr. Cerita ini mengisahkan pengalaman seorang pemuda yang iseng-iseng melakukan sebuah ritual memanggil hantu yang berujung pada pengalaman yang mengerikan. Cerita ini cukup pendek, hanya terdiri atas 4 bagian. Semuanya akan ku-update setiap seminggu sekali.

Aku tak yakin cerita ini dikutuk dan aku sendiri juga tak pernah percaya pada cerita2 yang “katanya” dikutuk. Namun tepat pada malam saat pertama kali menerjemahkan cerita ini, aku dihantui mimpi buruk. Aku tak bisa menceritakan detail mimpiku, namun ada elemen yang sama dengan cerita yang kuterjemahkan ini. Dan percayalah, mimpi itu sangat buruk, hingga2 aku terbangun karena terlalu takut. Hal ini sangat aneh karena kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi, bahkan sudah bertahun-tahun aku tak pernah mengalami mimpi buruk.

Bukannya aku ingin menakut-nakuti kalian, namun aku harus memperingatkan agar kalian jangan terlalu menghayati cerita ini terlalu dalam. Bacalah saja sambil lalu.

Dan mungkin karena alasan ini, aku akan berhenti dulu menerjemahkan cerita2 seram untuk beberapa waktu. Selain karena kesibukan, aku juga tak ingin hal yang sama terjadi lagi. Namun jangan khawatir, jika situasi sudah agak tenang dan jika pekerjaanku sudah tidak sesibuk sekarang, aku akan secepatnya meng-update riddle2 dan urban legend di blog ini.

NB: Beberapa detail dalam cerita ini sudah kuubah dari versi aslinya, terutama bagian akhirnya. Jadi jangan heran jika cerita ini agak berbeda dengan yang ada di blog okaruto.

----------------------------------------------------------------------------------

Cerita ini mungkin tidaklah menarik bagi kalian sehingga aku akan menjaganya tetap sesingkat mungkin. Namun maaf jika kenyataannya cerita ini terlalu panjang. Inilah ceritaku.

Pertama, kalian perlu mengetahui bahwa kerasukan atau diikuti oleh sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini sama sekali tidaklah menyenangkan. Segalanya sangat berbeda dengan yang biasa kita lihat di televisi. Berdasarkan pengalamanku sendiri, lepas dari cengkeraman makhluk semacam itu tidaklah mudah. Satu atau dua kali upacara pembersihan tidaklah membantu.

Kenyataan ini, walaupun tidak menyenangkan untuk didengar, perlu kukatakan kepada kalian. Jujur, tak semua orang yang mengalaminya bisa diselamatkan.

Ceritaku sendiri dimulai dua setengah tahun lalu. Sebelum kejadian itu, kehidupanku berjalan sangat normal. Dari luar, kehidupanku amatlah sempurna. Namun masalahnya, kita takkan pernah tahu kapan semua itu akan direnggut dari kita. Tak seorangpun tahu.

Kurasa aku harus memulainya dari awal. Pada saat itu, umurku baru 23 tahun. Aku baru saja mulai bekerja di sebuah perusahaan di Tokyo. Aku bekerja sangat keras karena baru saja lulus kuliah dan ingin melakukan semuanya dengan benar. Perusahaanku itu bukanlah perusahaan besar dan tak banyak pekerja yang berusia sama denganku. Dan bisa kalian tebak, di tempat seperti itu, para pegawai yang sama-sama berusia muda akan berakhir menjadi sahabat karib.

Satu pemuda yang menjadi sangat dekat denganku bernama Ogawa. Ia berasal dari wilayah timur laut Jepang dan sepertinya tahu akan segala hal. Ia tidak memiliki banyak teman dekat. Bahkan kupikir, mungkin hanya aku sajalah sahabatnya di sini. Tak ada orang yang berani mengatakan hal ini di depannya, namun dia itu ... yah, bisa dibilang agak aneh.

Sebagai contoh, ia akan mengatakan sesuatu seperti: “Jika kamu melakukan ini, maka ini yang akan terjadi ...” atau “Dia sedang menuju ke sini ...”. Orang-orang yang gemar mengatakan hal seperti itu akan dianggap sok tahu, namun tidak dengan Ogawa. Apapun yang ia katakan pada akhirnya akan menjadi nyata. Awalnya, aku hanya berpikir itu semua adalah sebuah lelucon.

Gaji yang kuperoleh dari pekerjaanku ini jauh lebih besar ketimbang yang biasa kuhabiskan saat kuliah. Karena itu aku tak pernah menghabiskan waktuku di rumah dan selalu berakhir pekan dengan berpesta dengan teman-temanku. Pada permulaan Agustus, Ogawa dan aku berhasil mendapatkan dua gadis sebagai gebetan kami. Kami mengajak mereka ke sebuah rumah terbengkalai yang kabarnya berhantu. Tempat itu memang seram. Aku merasa merinding hanya dengan berjalan mengelilinginya dan kami merasa ada sesuatu yang selalu mengawasi kami sepanjang waktu. Namun tak ada terjadi di sana dan kami akhirnya pulang setelah merasa bosan.

Tiga hari kemudian, aku sedang bekerja dan seperti hari-hari lain, aku pulang terlambat. Ada sebuah aturan tak tertulis di kantorku bahwa pegawai junior tidak sepantasnya meninggalkan kantor sebelum seluruh pegawai senior pulang. Ketika aku akhirnya bisa pulang, tubuhku sudah sangat teramat lelah. Aku berjalan masuk ke dalam kamar apartemenku, mengunci pintunya, dan melepaskan sepatuku. Aku tak tahu mengapa, namun begitu aku melewati cermin, aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan. Perbuatanku itu sangatlah bodoh, aku tahu itu. Namun hal itu terlintas begitu saja di pikiranku dan saat itu aku merasa perlu untuk melakukannya.

Agar tak membuat kalian bingung, sebaiknya aku menjelaskannya kondisi tempat tinggalku terlebih dulu. Apartemenku berjarak 15 menit dari stasiun kereta api. Kamarku bertipe studio [kamar luas tanpa penyekat] dengan sebuah lorong pendek menuju pintu masuk. Cermin itu berada di akhir lorong tersebut. Aku tak mau membicarakan terlalu banyak detail, namun Ogawa pernah memberitahuku tentang sebuah ritual kecil yang dapat kalian lakukan di depan cermin. Ia berkata, “Jika kamu berdiri di depan sebuah cermin dan membungkuk, kemudian melihat ke arah kanan, maka ‘sesuatu’ akan tampak.”

Aku sama sekali tak mengira sesuatu benar-benar akan terlihat, jadi aku melakukannya. Aku membungkuk di depan cermin lalu menoleh ke kanan.

Begitu aku menoleh, aku bisa mengatakan ada sesuatu yang berada tepat di bagian tengah kamar apartemenku.

Apapun itu, ia terlihat sangat aneh.

Tingginya tak lebih dari dua meter. Rambutnya panjang dan berantakan, menutupi sebagian besar wajahnya. Kertas-kertas mantera menutupi wajahnya, namun aku tak bisa mengatakan ada berapa banyak. Ketika aku melihat pakaiannya, aku cukup yakin pakaian itu sama seperti yang dipakaikan kepada jenazah pada upacara pemakaman. Selain itu, ia juga bergerak maju mundur, seperti meliukkan tubuhnya, secara berulang kali.

Aku membeku saat itu juga. Aku bahkan tak mampu bersuara. Tubuhku terasa dilumpuhkan oleh rasa takut dan bingung. Otakku mencoba mecari penjelasan logis tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apakah makhluk itu sebenarnya. Namun rasanya tak ada penjelasan yang masuk akal tentang apa yang kulihat saat itu.

Aku ingin kalian mencoba memahami apa yang kualami saat itu. Coba tutuplah matamu dan bayangkan kalian berada di sebuah ruangan yang sangat sunyi. Kemudian bayangkan ada sesuatu yang berdiri di sana, mengamatimu.

Jelas ritual itulah yang membawa makhluk itu ke sini, namun aku sama sekali tak mengerti apa yang terjadi saat itu. Pikiranku terlalu dipenuhi oleh rasa bingung dan takut. Makhluk itu seperti muncul entah dari mana dan anehnya lagi, kehadirannya serasa membuat udara di sekitarnya menjadi biru.

Kamar itu teramat sangat sunyi, sehingga aku merasa seperti waktu telah berhenti.

Aku akhirnya berkesimpulan bahwa aku secepatnya harus pergi dari apartemen ini. Sepatuku masih tergeletak di lantai dan aku segera berusaha menggapainya, sementara mataku tetap terpaku pada makhluk itu. Aku tak tahu mengapa, namun aku merasa jika aku memalingkan wajahku dari makhluk itu, sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku berjalan mundur keluar dari kamar. Biasanya hanya butuh 3 langkah untuk berjalan keluar dari cermin itu ke pintu keluar, namun aku berjalan sangat perlahan dan waktu seakan berjalan lebih lambat. Aku masih bisa melihat makhluk itu dari cermin, dan aku melihat bahwa makhluk itu menggerakkan tubuhnya makin cepat, ke depan dan ke belakang. Aku juga mendengar ia mulai mengeluarkan suara, seperti rintihan.

Aku tak begitu ingat apa yang terjadi setelah itu. Yang kutahu, aku sudah berjalan menuju sebuah supermarket dekat stasiun. Aku lega begitu melihat masih ada banyak orang di sana. Namun aku masih tak bisa melepaskan pikiranku terhadap apa yang baru saja terjadi. Sebagian dari diriku merasa marah, sebab rumahku diinvasi oleh sesosok makhluk mengerikan. Sementara sebagian lain dari diriku mencoba tenang untuk mengingat, apakah aku tadi mengunci kamar apartemenku atau tidak.

Aku terlalu takut untuk pulang ke rumah dan memutuskan menghabiskan malam di supermarket itu hingga pagi. Aku pulang ketika fajar telah menyingsing dan melihat kondisi di dalam kamarku. Makhluk itu telah lenyap. Aku kembali pergi keluar, mencoba menenangkan diri dengan meneguk sekaleng kopi dari vending machine. Aku mulai berpikir, apa tadi malam aku benar-benar melihat sesuatu, ataukah itu hanya khayalanku saja setelah lelah bekerja seharian? Hal-hal seperti itu mustahil terjadi kan?

Matahari semakin merangkak naik ke atas ketika aku menghabiskan kopiku. Langit yang terang benderang memberikanku kepercayaan diriku dan akupun masuk kembali ke kamarku. Aku tak melihat apapun sebab tirai jendela kamarku masih tertutup.

Namun ketakutanku menjadi nyata. Apa yang terjadi tadi malam bukanlah khayalanku.

Makhluk itu meninggalkan jejak. Tempat dimana makhluk itu tadi malam berdiri tampak sangat kotor, seperti tertutup oleh lumpur yang berbau sangat menyesakkan. Jejak itu telihat seperti bekas kaki. Semua itu membuktikan bahwa makhluk yang kulihat tadi malam benar-benar ada.

Aku terhuyung mundur karena rasa takut. Telapak tanganku mulai berkeringat. Aku mulai menekan tombol lampu untuk menerangi ruangan, namun itu hanya membuatku menyadari sesuatu yang tak kalah mengerikan. Terdapat jejak lumpur yang sama di tombol lampu, yang kini mengotori jari tanganku yang tadi kugunakan untuk menekannya.

Untuk sesaat aku merasa putus asa. Namun aku kemudian menyadari, tak ada yang bisa kulakukan sekarang, jadi sebaiknya aku menghadapinya saja. Aku yang membawa “dia” ke sini, jadi ini adalah tanggung jawabku sendiri. Kupikir aku adalah contoh yang baik dari seseorang bergolongan darah AB: aku bisa menjadi orang yang kurang bertanggung jawab, namun aku selalu memiliki cara untuk mengatasi masalah.

Aku mencuci semua kotoran itu dan pergi mandi. Bagaimanapun menakutkan pengalaman tadi malam, tetap saja aku harus bekerja pagi ini. Jadi walaupun aku kurang tidur tadi malam, aku tetap bersiap-siap untuk berangkat kerja. Oya, bau itu ... aku melupakan bau menyengat di kamarku. Aku tetap saja tak bisa menyingkirkan bau memuakkan itu. Namun aku harus segera mengejar waktu untuk berangkat kerja, jadi aku berpikir lebih baik mengatasi masalah itu setelah pulang.

Di kantor, aku berusaha sebaik mungkin untuk melakukan pekerjaanku dengan normal. Namun aku tahu satu hal, aku harus berbicara dengan Ogawa. Ia yang memberitahuku tentang segala proses untuk memanggil arwah itu. Jadi, mungkin ia bisa memberikan sedikit nasehat.

Aku baru bisa berbicara dengannya saat makan siang, namun ia tak bisa memberikan informasi baru kepadaku. Ia hanya mengatakan hal-hal yang sudah kuketahui. Inilah percakapanku dengannya saat itu.

“Hei, kau tahu tentang hal yang pernah kau katakan padaku,” aku duduk di sampingnya, “Ketika kau berdiri di cermin, membungkuk sedikit, dan menoleh, kemudian hal yang menakutkan terjadi dan membuat apartemenmu berbau busuk? Nah, aku melakukannya dan hal itu benar-benar terjadi.”

“Hah? Apa yang kau maksud?” Ogawa bahkan tampak tak memperhatikan apa yang baru saja aku katakan.

“Aku serius! Sesuatu, entah itu roh atau apa, datang setelah aku melakukan apa yang kau katakan.”

“Oh. Oke, kurasa aku tak ingat pernah mengatakannya.” Ia bahkan sama sekali tak menoleh ke arahku dan terus menatap makanannya sambil mengunyah, seolah ia mengatakannya hanya untuk mengusirku.

“Berhentilah bermain-main denganku!” aku memukul meja dengan telapak tanganku. “Ada sesuatu yang sangat menakutkan berdiri di dalam rumahku tadi malam!”

“Aku sama sekali tak tahu apa yang kau katakan!” ia bersikeras, matanya tampak menyipit karena kesal.

“Dan aku juga tak tahu apa yang terjadi!”

Apapun yang kukatakan, tampaknya tidak ada yang membuatnya serius menanggapiku. Aku tahu, jika aku tak bisa membuatnya mempercayaiku, maka aku takkan mampu memperbaiki semua ini. Jadi aku ceritakan semua yang terjadi tadi malam. Ogawa awalnya tak mempercayaiku, namun ketika aku menyelesaikan ceritaku, akhirnya ia mulai menganggap ceritaku serius. Ia setuju untuk datang ke apartemenku sepulang kerja. Kami melanjutkan hari kami di kantor dengan bekerja, seolah tak terjadi apapun. Namun sepanjang hari itu, yang bisa kupikirkan hanyalah pulang dan membereskan semua masalah ini.

Ketika kami sampai di apartemenku, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku membuka pintu depan, dan kami langsung diserang dengan bau busuk yang kucium tadi pagi. Aku dengan bodohnya meninggalkan rumah dengan jendela tertutup dan dengan suhu ruanganku yang hangat, aroma itu hanya bertambah buruk. Akhirnya, aku berhasil membuat Ogawa percaya kepadaku. Namun yang ia katakan hanyalah, “Apa-apaan ini?”

Aku menduga ia akan memiliki suatu rencana untuk membantuku, namun nampaknya aku terlalu berharap. Ia hanya mengatakan bahwa aku harus “disucikan” dan ia akan mencari orang yang bisa membantuku. Ia seolah hendak melarikan diri dari tanggung jawab, secara harfiah, ketika ia meninggalkanku sendirian di kamarku. Akupun sendirian kembali. Kini harapanku hanyalah semoga salah satu kenalannya mampu membantu keluar dari semua masalah ini.

Aku sama sekali tak ingin tidur di kamar apartemenku malam ini karena bau ini, jadi aku akhirnya bermalam di sebuah hotel kapsul. Aku tak tahu apakah aku mampu tinggal di sana lagi.

Hari berikutnya, aku memutuskan membolos kerja dan mengunjungi sebuah kuil. Aku mengatakan pada biksu di sana tentang apa yang terjadi denganku, namun tampaknya ia tak mampu menolongku.

“Saya tidak dilatih untuk hal-hal seperti ini.” Ia masih mencoba untuk ramah, “Sudahkah anda berpikir untuk libur sebentar? Mungkin anda hanya mengalami strees dan butuh waktu untuk menenangkan diri.””

Aku pergi ke hampir semua kuil terkenal di penjuru Tokyo, namun apa yang mereka katakan semua hampir sama. Aku akhirnya kelelahan dan siap untuk menyerah. Aku memutuskan untuk pulang ke Saitama, kampung halamanku, yang letaknya tak jauh dari Tokyo.

Aku pulang tak hanya untuk bertemu orang tuaku saja. Aku kesana karena aku mengenal seorang biarawati bernama Miss Akagi. Aku tak bisa memikirkan orang lain yang bisa membantuku selain beliau. Aku akan menceritakan tentangnya agar lebih masuk akal bagi kalian.

Ibuku berasal dari Nagasaki, dan begitu pula nenekku. Aku tak tahu, mungkin karena perang atau apa, namun nenekku adalah seorang penganut Buddha yang amat taat. Beliau rajin pergi ke kuil seminggu sekali dan di kuil itulah tinggal Miss Akagi. Beliau di sana bertindak sebagai kepala biara, atau biksuni, atau apapun kalian ingin menyebutnya. Aku hanya pernah bertemu dengan Miss Akagi beberapa kali, namun aku tahu bahwa aku bisa mempercayai beliau. Miss Akagi bahkan cukup terkenal di daerah itu. Walaupun di luar sana mungkin banyak dukun2 palsu dan sebagainya, namun ketika kau melihat seperti apa Miss Akagi, kalian akan tahu bahwa kemampuan beliau adalah sungguhan.

Miss Akagi sangat lembut dan berbicara dengan ramah pada semua orang. Ketika aku masih duduk di bangku SMP, keluargaku memutuskan membeli sebuah tanah dan membangun rumah di atasnya. Aku tak tahu apa nama upacara itu, namun kami memiliki suatu kebiasaan untuk “membersihkan” rumah yang baru saja kami beli atau bangun. Nenekku memanggil Miss Akagi dan beliau sendiri yang memimpin upacara tersebut. Ternyata, menurut beliau banyak hal-hal “buruk” yang berkaitan dengan tanah itu, namun tak ada yang perlu kami khawatirkan setelah upacara itu selesai.

Aku tahu aku bisa bergantung pada beliau.

Karena aku menghabiskan hampir seharian berkeliling mencari pendeta di Tokyo, aku baru sampai di kota asalku jam 9 malam. Kota ini sebagian besar terdiri atas bangunan pabrik, jadi tidak seperti Tokyo, tak banyak orang berkeliaran di malam hari seperti ini.

Aku berjalan dengan cepat dari pemberhentian bus ke rumah orang tuaku, yang berjarak 20 menit. Jalanan hampir kosong, kecuali untuk beberapa lampu jalanan yang masih menyala. Masih teringat jelas di kepalaku apa yang terjadi tadi malam dan aku tak melihat tanda-tanda dari makhluk yang menghantui kamarku itu. Namun lebih buruk lagi, aku mulai merasakan ada yang aneh dengan diriku.

Walaupun matahari telah terbenam dan suhu udara cukup dingin, aku merasakan bagian belakang leherku sangat panas. Sangat sulit untuk menggambarkan bagaimana rasanya, namun rasanya seperti ada tali yang melingkar dan digesek-gesekkan ke leherku. Aku mulai meraba bagian yang panas itu dengan tanganku. Masih terasa panas. Bulu kudukku mulai berdiri dan aku mulai mencoba merasakan bagian tubuhku yang lain dengan telapak tanganku. Semuanya masih terasa sedikit dingin karena udara malam. Hanya leherku yang terasa panas, sangat panas. Aku juga mulai merasakan sensasi seperti disengat.

Aku berhenti berjalan dan mulai berlari ke rumahku.

BERSAMBUNG

 

Cuplikan episode berikutnya:

Upacara itu berjalan beberapa lama. Aku menjaga mataku tetap tertutup, namun suasana di sekitarku mulai terasa tak beres. Suasana semakin mencekam hingga aku sadar bahwa ruangan ini benar-benar sunyi, tak ada lagi setitikpun suara.

Aku tahu ada yang salah.

Dan aku merasakan seperti ada sesuatu yang berada di sampingku.

THE RISE AND FALL OF ART DECO ART-CHITECTURE

 

X_WINDSORW_big

Gue terinspirasi membuat postingan ini setelah lawatan gue (halah kayak nasi aja dilawat *liwet bang*) ke Bandung. Bandung emang surganya art deco, nggak hanya di Indonesia aja, namun juga di dunia. Yap, di muka bumi ini emang nggak begitu banyak tersisa kota yang menyimpan kejayaan art deco, sebab gaya arsitektur ini emang berumur pendek, kurang dari dua dekade. Namun di kala pertama muncul, gaya ini langsung menarik banyak penggemar, hingga menjadi trend setter kala itu. Bahkan art deco menjadi gaya hidup dengan tak hanya diterapkan di bangunan, namun juga menjadi fashion. Namun kali ini gue hanya memperbatas pembahasan gue tentang art deco hanya dalam gaya arsitekturnya saja. Nah, inilah sejarah bangkit dan terbenamnya gaya art deco.