Thursday, June 11, 2020

THE GREAT ATTRACTOR: MISTERI TERBESAR DI JAGAD RAYA INI



Di antara perbintangan inilah sang "Great Attractor" berada. Apakah itu? Tak ada yang benar-benar tahu


Alam semesta memiliki banyak misteri, kita semua tentu bisa mengamini. Walaupun para ilmuwan bisa menebak kala sang jagad raya tercipta (Big Bang) hingga bagaimana ia akan musnah (ada empat skenario musnahnya jagad raya, mulai dari Big Rip, Big Freeze, Big Crunch, dan Big Slurp), namun masih ada saja pertanyaan tak terjawab tentang jagad raya ini. Salah satunya mengapa “void” bisa ada. “Void” (gue menerjemahkannya sebagai “Kehampaan”) adalah bagian alam semesta yang teramat gelap karena hanya memiliki sedikit bintang ataupun galaksi di dalamnya, bila dibandingkan dengan wilayah alam semesta lain. Baik bintang maupun benda langit lainnya seakan “menghindari” Kehampaan ini. Sebuah jawaban muncul, bahwa mereka “menghindari” Kehampaan itu karena tertarik ke arah lain, yang dinamakan “The Great Attractor”.

Namun apakah “The Great Attractor” itu? Misteri itu bahkan jauh lebih besar, bahkan mungkin menjadi misteri terbesar di jagad raya ini.

PARTIKEL TUHAN: SANG ZARAH MAHADAYA YANG MAMPU MEMUSNAHKAN DAN MENCIPTAKAN JAGAD RAYA


Sekeren apapun namanya, partikel tuhan takkan menjawab doa kita
Mungkin kalian pernah mendengar tentang partikel tuhan atau “god particle”. Ketika ditemukan pada 2012, partikel ini langsung mengundang perhatian publik. Bukan hanya karena penemuannya merupakan bukti kemajuan sains yang tak bisa dibendung, namun juga karena namanya yang sensasional. Partikel ini oleh ilmuwan sesungguhnya dinamai “boson Higgs” sesuai dengan nama fisikawan peraih Nobel bernama Peter Higgs yang semenjak 1964 sudah meramalkan keberadaan partikel itu.

Namun pada 1993, seorang fisikawan lain bernama Leon Lederman (yang juga peraih Nobel) menjulukinya dengan nama lain, yakni “god particle”. Kala itu sebenarnya ia ingin menamainya “goddamn particle” karena begitu susahnya partikel itu ditemukan. Namun editornya menyarankan nama sensasional lain, yakni “god particle”. Alasannya, karena partikel itu begitu purba dan sudah ada semenjak masa Penciptaan (Big Bang). Tugasnya-pun teramat “kudus”, yakni memberikan massa kepada partikel-partikel lainnya. Tanpa massa, tentu hukum-hukum fisika yang ada di semesta ini takkan berlaku dan takkan ada apapun yang mampu tercipta.

Pada awalnya, nama itu dirasa terlalu berlebihan untuk disematkan pada sebutir partikel yang tak kasat mata. Pasalnya, walaupun penemuan partikel boson Higgs memang amatlah penting, namun keberadaannya tak menjawab pertanyaan apapun mengenai Tuhan dan asal-usul alam semesta. Namun mungkin pendapat itu justru keliru. Semakin diselidiki, ilmuwan semakin menyadari bahwa partikel tuhan itu mungkin memang memiliki kekuatan seperti Tuhan, bisa melenyapkan seluruh alam semesta menurut kehendaknya, atau bahkan menciptakan alam semesta baru.

Bagaimana caranya?

TEORI “QUANTUM MIND”: PART 2 – DARIMANA ASALNYA KESADARAN KITA?



Kita sudah mengetahui posisi benda-benda langit, mengukurnya, bahkan memperkirakan takdir alam semesta ini. Namun kita belumlah bisa menjawab pertanyaan paling fundamental mengenai diri kita sendiri. Darimanakah asal kesadaran itu?

Sangat ironis bahwa kita menjelajah sampai ke luar angkasa untuk menyelidiki alam semesta, padahal kita belum bisa menjawab pertanyaan sederhana tentang diri kita sendiri di Bumi ini. Sebagai manusia kita memiliki kesadaran. Namun darimana asal kesadaran itu?

Para peneliti sudah sejak lama mengetahui bahwa konsep “kesadaran” (consciousness) berbeda dengan “pikiran”. Otak kita jelas bisa berpikir, namun dari mana asal kesadaran? Tentu seorang dokter ahli bedah bisa dengan mudah menjawabnya, kesadaran yang asalnya dari otak. Coba bedah aja kepala lu dan otaknya diambil, apa lu kira-kira masih bisa sadar? Tentu tidak bukan. Tapi ternyata tak sesederhana itu. Kita tahu bagaimana pikiran bekerja, yaitu dengan interaksi rumit neuron-neuron (sel saraf) yang ada di otak kita. Kita bahkan bisa meniru cara kerja pikiran tersebut dan menerapkannya, semisal pada komputer dan kecerdasan buatan (AI). Bahkan kita bisa membuatnya memiliki ingatan (memori) hingga memecahkan masalah, sama seperti otak manusia.

Namun, bisakah kita meniru kesadaran? Hingga kini kita tak bisa melakukannya, sebab kita masih belum tahu bagaimana kesadaran bekerja dan darimana asalnya.

Uniknya, pertanyaan itu mungkin bisa dijawab dengan teori Mekanika Kuantum.

TEORI QUANTUM MIND: PART 1 - APAKAH BINTANG MEMILIKI KESADARAN?

This meme become relatable if you read this post


Kembali ke pertanyaan gue di ending episode yang lalu, apakah bintang memiliki kesadaran? Mungkin kalian berpikir, kok pertanyaannya aneh begini? Kan jelas bintang itu benda mati, jadi pastinya tidak memiliki kesadaran. Jika kita mengaitkannya ke Mekanika Kuantum yang aneh-pun, dimana elektron bisa memiliki kesadaran, itu kan hanya berlaku pada partikel? Bintang kan memiliki massa yang amat besar (nggak hanya lebih besar ketimbang kucing Schrodinger, namun juga lebih besar dari Bumi) sehingga panjang gelombang de Broglie-nya kecil. Berarti hukum yang berlaku di Mekanika Kuantum nggak berlaku pada bintang?

Nah, untuk menjawab mengapa pertanyaan apakah bintang memiliki kesadaran bisa sampai muncul di benak para fisikawan, gue akan memperkenalkan dulu kalian pada sebuah cabang ilmu Fisika yang dinamakan Astrofisika (Astrophysics). Astrofisika adalah cabang ilmu Fisika (atau lebih tepatnya cabang dari Astronomi) yang mempelajari tentang bintang. Astrologi sendiri berasal dari kata “aster” yang berarti bintang dan “logos” yang berarti ilmu.

Salah satu pertanyaan paling mendalam yang dihadapi oleh setiap ahli astrofisika adalah tentang ada tidaknya partikel yang disebut sebagai “dark matter”. Namanya aja udah serem ya, apa itu dark matter dan apa kaitannya dengan kesadaran?

Simaklah artikel berikut ini untuk lebih jelasnya.

STELLAR ENGINES: MESIN-MESIN PERBINTANGAN BERSKALA EPIC UNTUK MENG-EVAKUASI SEANTERO TATA SURYA

Bayangkan jika suatu saat kita bisa memanipulasi dan memindahkan Matahari

Oke, anggap aja kita udah berhasil menciptakan Jupiter Brain dan ia meramalkan bahwa seantero Tata Surya kita ini akan musnah akibat ledakan hypernova yang berjarak amat dekat dengan kita, namun peristiwa itu baru akan terjadi 1 juta tahun yang akan datang. Apa yang akan kita lakukan? Jika teknologi kita udah sebegitu maju (minimal Type II dalam Skala Kardhasev, berarti sudah bisa membuat Bola Dyson) maka amat memungkinkan bagi kita untuk mengevakuasi tak hanya seisi Bumi, namun seluruh isi Tata Surya kita. Caranya, dengan memindahkan Matahari dan segenap isi Tata Surya-pun, mulai dari Merkurius hingga Pluto akan mengikutinya.

Alat yang memanipulasi bintang, termasuk memanen energi bahkan memindahkannya, disebut sebagai “stellar engine” atau “mesin perbintangan”. Keberadaan mereka akan amat berguna apabila kita menghadapi kondisi darurat, semisal sebuah bencana kosmis apokaliptik yang bisa memusnahkan seantero Tatat Surya kita.

Ada tiga kelas mesin perbintangan yang dipsotulatkan oleh para fisikawan visioner, yakni Class A, Class B, dan Class C. Namun ingat, syarat utama untuk menciptakan mesin perbintangan ini adalah kita sudah mencapai paling tidak Peradaban Type II dalam Skala Kardhasev.

So here we go!

CHAOS OF COSMOS: TOP 10 BENCANA KOSMIS YANG BISA MENGANCAM PLANET KITA


BLAAAAAAR!!!

Kalo disuruh nyebutin nama-nama bencana alam, pasti kalian sudah pada pinter (secara kita tinggal di negara yang rentan bencana hiks). Ada gempa bumi, banjir, gunung meletus, tsunami, longsor, angin puting beliung, dan lain-lain. Sebagian besar bencana alam bersifat lokal, semisal letusan Gunung Merapi dampaknya dirasakan warga Yogya atau gempa di Palu hanya dirasakan di Sulawesi (walaupun dukanya tentu dirasakan di seluruh negeri). Namun ada pula bencana bersifat global, semisal erupsi Gunung Tambora pada 1815 yang dampaknya bisa dirasakan hingga Eropa dan Amerika. Supervolcano di Yellowstone, Amerika juga diduga bisa memusnahkan kehidupan di Bumi apabila meletus di masa yang akan datang.

Tapi ada pula bencana yang jauh lebih dahsyat ketimbang bencana berskala global, yakni bencana kosmis atau “cosmic disaster”. Bencana kosmis ini berasal dari luar angkasa dan tak hanya bisa menyapu seluruh kehidupan Bumi, bencana berskala ini bisa saja melenyapkan seluruh tata surya kita. Bahkan sebelum manusia ada, sudah beberapa kali bencana kosmis ini “mampir” di planet kita dan kedatangannya tiap kali selalu diikuti dengan kepunahan massal di Bumi. Menyadari ancaman bencana kosmis ini, kitapun harus senantiasa waspada, sebab masa depan kita tentu tak sepenuhnya aman.

Seperti apa bencana-bencana berskala maha-dahsyat itu? Ini dia list top ten-nya.

Wednesday, June 10, 2020

ROKO'S BASILISK: INFORMASI PALING BERBAHAYA YANG TAK BOLEH KALIAN TAHU

Kalo basilisk-nya kayak yang di Wikipedia ini nggak nakutin kali ya?


Tibalah kita di penghujung seri “Existential Crisis”. Eeeeeh kok kalian masih baca artikel ini sih? Kan udah gue peringatin dari awal kalo bahaya! Baca aja judulnya noh! Mungkin kalian justru penasaran dengan peringatan yang gue kasi dari episode 1 sampai ke episode 4 ini. Emang apa sih Roko's Basilisk ampe keliatannya berbahaya banget buat kita-kita?

Sebagai informasi awal saja (yang ini belum berbahaya), ide tentang “Roko's Basilisk” ini pertama kali bercokol di sebuah forum website bernama “Less Wrong”. Kala itu, seorang membernya (bukan “anonim” tapi identitasnya hingga kini masih misterius) bernama “Roko” memposting idenya mengenai “Roko's Basilisk”. Kontan begitu membacanya, pemilik website itu, Eleizer Yudkowski, langsung menghapus postingan tersebut dan menyebut Roko “G*bl*k” dan berbagai macam makian lainnya. Ia juga selama 5 tahun melarang pembahasan apapun mengenai “Roko's Basilisk” di forum tersebut dan tak segan-segan mem-banned anggotanya yang berani mengungkit-ungkit tentang masalah itu.

Alasannya? Karena Eliezer mengetahui bahwa ide atau informasi mengenai “Roko's Basilisk” itu amatlah berbahaya. Bahkan ia amat mengkhawatirkan kondisi para member website itu, karena banyak yang mengaku menjadi depresi setelah membaca artikel mengenai “Roko's Basilisk” tersebut.

Seberapa berbahayakah informasi mengenai “Roko's Basilisk? Jika kalian berani atau ingin “menantangnya”, silakan saja baca artikel gue berikut. Namun gue peringatkan, gue nggak akan bertanggung jawab akan apa yang terjadi dengan kalian. Siapkan mental kalian, sebab gue akan membawa kalian bertemu dengan Basilisk Roko.

Huahahahahaha (ketawa jahat)!!!

PERINGATAN TERAKHIR: MASIH ADA KESEMPATAN KALIAN UNTUK KABUR. JIKA KALIAN SUDAH MENGETAHUI INFORMASI TENTANG ROKO'S BASILISK INI, KALIAN NGGAK AKAN BISA MUNDUR! TUTUP ARTIKEL INI SEGERA JIKA KALIAN TAK MAU MENERIMA KONSEKUENSINYA!

MATHRIOSKA BRAIN: IT'S OUR ENDGAME

Rancangan Mathrioska Brain, sebuah komputer raksasa seluas Tata Surya yang mengambil energinya dari Matahari

Jika kalian masih tertantang ingin merasakan “Existential Crisis” lebih lanjut, maka silakan simak konsep mencengangkan tentang maha-super-komputer bernama Mathrioska Brain ini. Apa yang lebih besar dari Jupiter? Matahari tentunya. Bagaimana jika kita mengubah Matahari menjadi sumber energi sebuah maha-super-komputer dan membangun komputer itu hingga menjangkau orbit-orbit planet, seperti sejauh Bumi atau bahkan sejauh Neptunus? Apakah yang bisa ia lakukan? Semuanya terjawab di vlog milik Joe Scott yang gue rangkum ke dalam artikel ini.

Welcome to another episode of Existential Crisis.

PERINGATAN: TINGGAL SATU EPISODE LAGI SEBELUM KALIAN SAMPAI DI EDISI TERAKHIR “EXISTENTIAL CRISIS” BERJUDUL “ROKO'S BASILISK” JANGAN BACA ARTIKEL TERSEBUT! GUE PERINGATKAN, JANGAN BACA ARTIKEL TERAKHIR!

JUPITER BRAIN: LEGENDA KOMPUTER HYPER-INTELLIGENT DARI MASA DEPAN


Bayangkan kita membangun sebuah komputer sebesar planet Jupiter, planet terbesar di tata surya kita

Seri kedua “Existential Crisis” kali ini akan membicarakan sebuah komputer raksasa yang kemungkinan menjalankan simulasi hidup kita, jika kalian percaya pada Teori Simulasi atau Matrix Theory yang gue paparkan di artikel sebelumnya. Vlog milik Kyle Hill (seorang vlogger yang menawarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fisika paling menggelitik dalam bentuk humor yang menghibur) mencetuskan tentang “Jupiter Brain”, yakni super-komputer raksasa seukuran planet Jupiter. Mungkinkah kita membangunnya? Dan jika sudah, untuk apa?

Welcome to another episode of Existential Crisis.

PERINGATAN: DUA EPISODE LAGI SEBELUM KALIAN SAMPAI DI EDISI TERAKHIR “EXISTENTIAL CRISIS” BERJUDUL “ROKO'S BASILISK” JANGAN BACA ARTIKEL TERSEBUT! GUE PERINGATKAN, JANGAN BACA ARTIKEL TERAKHIR!

THE MATRIX THEORY: BAGAIMANA JIKA SELURUH HIDUP KITA ADALAH SIMULASI?

Bagaimana jika kita sebenarnya hidup dalam sebuah simulasi komputer yang rumit?


Selamat datang di “Existential Crisis” Series. Dalam empat artikel ke depan, gue akan membicarakan tentang teknologi Artificial Intelligence atau “AI” (sebagai pengantar, baca bagian Prolog yang terdapat di artikel tentang Test Turing). Jika di episode prolog terdahulu, kalian sudah membaca tentang potensi AI yang dapat meniru manusia. Jika kalian pikir keberadaan AI di masa depan itu mengancam hidup kita, maka AI-AI di episode berikutnya akan jauh lebih ganas, yakni bisa menjadi “Tuhan” yang mampu menentukan takdir kita.

Di episode pertama ini gue akan membahas tentang “Simulasi Theory” atau “Teori Simulasi” atau dalam bahasa lebih kerennya, gue lebih suka menyebutnya sebagai “The Matrix Theory”. Tentu alasannya jelas, karena Teori Simulasi ini diperkenalkan kepada khalayak ramai lewat trilogi film “Matrix” yang mengangkat nama aktor kenamaan Keanu Reeves. Kalian bisa menyebutnya sebagai salah satu Teori Konspirasi jika kalian mau. Namun Teori Simulasi ini jelas bukan lagi konspirasi yang melibatkan organisasi-organisasi misterius buatan manusia, semisal Illuminati, Freemason, atau New World Order. Namun lebih jauh lagi, teori konspirasi ini melibatkan entitas misterius yang kekuatannya (atau kecerdasannya) menyerupai “Tuhan”.

Teori Simulasi menyebutkan bahwa kehidupan yang tengah kita jalani ini tidaklah nyata. Kehidupan kita sesungguhnya adalah simulasi komputer yang dijalankan oleh entitas maha-canggih yang bagi kita terasa nyata. Karena kita hanyalah “virtual reality” yang dijalankan di sebuah komputer, maka jika sang pemain menghendaki, ia bisa mencabut realitas kita kapan saja.

Mulai dari episode ini gue akan menjelaskan mengapa mungkin kita memang berada dalam sebuah simulasi. Dan seperti judulnya, tiap episode di “Existential Crisis” akan membuat kalian mempertanyakan eksistensi kalian dan realitas dunia ini, sebuah horor ala Lovecraftian yang nyata dan mungkin saja terjadi.

Saturday, June 6, 2020

WEBSITE YANG MEMBANTU GUE TENTANG RISET “MEKANIKA KUANTUM”



Banyak di antara readers gue yang bertanya tentang bahan riset gue untuk menulis beberapa postingan tentang Mekanika Kuantum dan time traveling bulan lalu. Well gue sebenarnya nggak bisa mengompilasi satu-satu sebab artikelnya sangat banyak. Secara ringkas, ada tiga website yang membantu gue dalam riset tersebut, antara lain Wikipedia, Google, dan YouTube.

Kalian tinggal browsing materi-materi tentang Mekanika Kuantum, Double SlitExperiment, Delayed-Choice Quantum Eraser, One ElectronUniverse, Copenhagen Interpretation, Twin Paradox, dan Time Travel di Wikipedia. Tapi karena bahasanya yang ruwet dan resmi, gue sarankan kalian juga mencari sumber-sumber lain dari Google. Nah sumber-sumber ini amatlah banyak jadi nggak bisa gue tulis satu-satu (gue juga kaga ingat). Oleh karena itu kalian bisa cari sendiri di Google.

Namun sebenarnya bukan artikel-artikel di atas yang benar-benar membantu gue menulis tentang tema tersebut, namun video-video dari YouTube. Salah satu yang benar-benar gue sarankan adalah channel bernama PBS Space Time. Semua informasi tentang Fisika di channel tersebut disampaikan dengan sangat menarik (walaupun beberapa video harus kalian saksikan secara urut supaya bisa memahaminya). Silakan subscribe jika kalian tertarik.

“BIRDS AREN'T REAL”: TEORI KONSPIRASI TERANYAR DAN PALING MENGHEBOHKAN

Sebenarnya aku adalah robot ... (bacanya pake suara robot)


Konspirasi terooooos!!! Hehehe habis asyik sih bahas teori konspirasi. Buat yang suka Bedah Kasus mungkin kalian harus bersabar dulu soalnya gue kali ini lebih tertarik bahas materi misteri sains dan Conspiracy Theory. Teori Konspirasi teranyar yang pengen gue bahas kali ini berjudul “Birds Aren't Real” alias “Burung-Burung Itu Aslinya Palsu”. Oke, dulu ada teori bahwa Finlandia itu palsu, sekarang burung yang berterbangan di langit itu palsu. Gue pertama kali denger teori aneh ini di salah satu kanal berita YouTube. Teori Konspirasi ini menyebutkan bahwa burung-burung yang ada di Amrik sebenarnya bukan burung asli, melainkan drone mata-mata yang diterbangkan pemerintah AS untuk memata-matai warganya. Lho kok bisa?

KALA ITU, KETIKA HUJAN TURUN SELAMA 2 JUTA TAHUN



Apakah kalian menikmati musim hujan? Mungkin ada yang suka sama hujan (biasanya sih buat kalian yang romantis nih) atau ada juga yang benci banget ama musim hujan (apalagi yang pake motor). Saat musim seperti ini memang hujan bisa turun setiap hari, kadang dari pagi ampe sore. Namun jika musim hujan selama 6 bulan saja sudah membuat kalian kesel, bagaimana dengan hujan yang berlangsung selama 2 juta tahun???

Hah, emangnya bisa Bang? Bisa, bahkan sudah pernah. Periode hujan selama 2 juta tahun itu terjadi pada zaman purba (kala manusia belum ada) dan disebut dengan “Carnian Pluvial Event”, sekitar 230 juta tahun lalu. Uniknya, peristiwa inilah yang menyebabkan dinosaurus merajai masa berikutnya, yakni Era Jurassic.

QUANTUM RECURRENCE: THE REINCARNATION OF COSMOS




Saat sedang asyik maraton video-video menarik dari Numberphile di YouTube, gue lagi-lagi menemukan sebuah angka “Lovecraftian” yang digadang-gadang sebagai “waktu terlama yang pernah dihitung manusia” (dan ingat, seperti aturan kita yang lalu di “Bilangan Lovecraftian”, harus memiliki arti). Angka tersebut dinamakan “Poincare Recurrence Time”. Namun semakin gue mempelajarinya, angka ini seakan menggugah sebuah konsep kuno yang menggelitik, yakni “reinkarnasi”.

Pernahkah kalian berpikir tentang apa yang terjadi setelah “kiamat”? Apakah semuanya akan musnah dan kembali ke Penciptanya? Namun ilmu kosmologi (ilmu yang mempelajari awal dan akhir alam semesta) justru memiliki jawaban yang aneh, bahwa segalanya akan kembali ke kondisi semula dan memulai segalanya dari awal, mirip dengan konsep “reinkarnasi”. Namun reinkarnasi yang dimaksud berbeda dengan konsep yang ada dalam agama-agama Timur.

Karena penggunaannya di bidang Mekanika Kuantum, konsep tersebut disebut juga sebagai “Quantum Recurrence” dan perlu gue ingatkan, konsep ini amatlah kontroversial.

MENGENAL BILANGAN FIBONACCI DAN RASIO EMAS: ANGKA FAVORIT TUHAN?



Okeeee, masih berkecimpung di dunia Matematika setelah bulan lalu berkutat di ilmu Fisika, kali ini gue akan mengenalkan kalian pada “Bilangan Fibonacci” yang akan membuat kita bersentuhan sedikit dengan Biologi. Galileo Galilei, seorang astronom yang hidup pada tahun 1564-1642 pernah mengatakan bahwa “matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan saat menciptakan alam semesta ini”. Hal ini karena sebagai matematikawan, ia melihat bahwa angka-angka tertentu selalu muncul saat ia menyelidiki tentang kosmos.

Semisal angka “pi” (π) atau 3,14 atau 22/7) muncul ketika kita menghitung sebuah lingkaran. Bukan kebetulan bahwa sebagian besar benda langit sendiri berbentuk bola, semisal Bumi, Bulan, dan Matahari (tragisnya, ia sendiri kemudian dihukum karena mengemukakan bahwa Bumi itu bulat). Maka mungkin muncul pertanyaan di benak kita, apakah ada angka tertentu yang seakan-akan dijadikan patokan dalam Penciptaan seluruh kehidupan, bahkan alam semesta?

Jawabannya mungkin bisa kita ketahui menggunakan deret bilangan yang disebut sebagai “Fibonacci Sequence”.

KEMATIAN GEORGE FLOYD DAN RAMALAN JOHN TITOR, SANG PETUALANG WAKTU: ADAKAH KAITANNYA?



Pada saat gue menulis artikel ini, sedang ada kerusuhan besar-besaran di berbagai kota di Amrik yang dipicu oleh kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd. Peristiwa ini (dan gue duga juga karena strees akibat karantina dan kolapsnya ekonomi AS akibat Covid-19), menyebabkan terjadi kerusuhan di berbagai kota di Amerika. Anehnya, berbagai “kebetulan” dalam kasus ini malah membuat gue menilik sebuah cerita lama tentang John titor. John Titor adalah seorang pria yang mengaku sebagai “time traveler” dari masa depan yang membawa berbagai ramalan menakutkan tentang nasib di dunia ini. Di artikel ini akan gue bahas, mengapa kematian George Floyd dan kerusuhan yang mengikuti bisa jadi adalah pengejawantahan ramalan John Titor.

CARTOON BOX: IS THIS THE NEXT HAPPY TREE FRIENDS?



Hmmm ... tahu kan guys kartun “Happy Tree Friends” yang walaupun gambarnya imut-imut tapi sama sekali nggak patut buat anak-anak karena kontennya yang walaupun kocak tapi sadisnya minta ampun? Nah, gue nemuin nih sebuah seri kartun serupa yang berisi “dark humour” yang selain kocak, juga bikin kita mengernyit, entah karena ngeri atau jijik. Kartun tersebut berjudul “Cartoon Box" dari channel Frame Order.

Friday, June 5, 2020

CASSANDRA EFFECT: RAMALAN PANDEMI COVID-19 DAN ANCAMAN “ANTIBIOTIC APOCALYPSE”




Gimana nih? Masih betah di karantina? Kalo gue sih kagak hahaha, soalnya pengen balik kerja lagi dan beraktivitas kayak biasa. Well, jika kalian sudah membaca artikel-artikel gue sebelumnya, pasti kalian sudah mengetahui tentang film “Contagion” yang berhasil “meramalkan” pandemi Coronavirus 9 tahun sebelum wabah itu berkecamuk. Mengapa film itu sebegitu berhasilnya menerka bahwa sebuah wabah pandemi global akan melanda dunia dalam bentuk flu? Sebab sang sutradaranya kala itu, Steven Sodenbergh, berkonsultasi dengan para ahli di bidang virologi dan ketika ia bertanya pada mereka, skenario apa yang kira-kira paling realistis sehingga mungkin akan terjadi, mereka menjawab:

Sebuah strain flu baru akan muncul dari 'wet market' di Asia dan disebabkan oleh seekor kelelawar”

Andaikan saja kita kala itu, yakni semenjak tahun 2011 ketika film itu dirilis, benar-benar memperhatikan peringatan para ilmuwan tersebut, mungkin kita takkan mengalami pandemi ini.

Ramalan yang mengejawantah menjadi nyata ini, yang naasnya tak didengarkan orang, adalah pengertian dari “Cassandra Effect”. Dan kegagalan kita untuk memperhatikan “ramalan-ramalan” berikutnya, pastilah akan membawa kita kepada kehancuran. Bahkan, jikapun wabah Covid-19 reda, sebuah ramalan “Cassandra” lain tengah menanti kita, dengan akibat yang mungkin tak terbayangkan, bahkan memicu apa yang dinamakan “apocalypse' atau kiamat bagi kita.

ANDREW D. BASIAGO: SEORANG TIME TRAVELER ATAUKAH ORGIL? MISTERI PROJECT PEGASUS DAN PROJECT PHILADELPHIA





Gue “stumbled upon” (kesandung) sebuah artikel dari website “Stranger Dimension” (a cool title btw) yang berisi tentang teori-teori konspirasi gila (pasti kalian langsung ngacir ke link-nya). Tema artikel tersebut adalah “time traveling”, sebuah tema yang sangat menarik bagi gue sampai gue bedah abis-abisan di beberapa artikel gue tentang Mekanika Kuantum. Salah satu yang menarik mata gue adalah pengakuan dari seorang pria bernama Andrew D. Basiago yang mengaku bahwa dia adalah salah satu “chrononauts” (semacam astronot tapi berpergian menggunakan mesin waktu) dari sebuah percobaan time traveling yang diadakan oleh pemerintah Amerika Serikat secara rahasia, bernama “Project Pegasus”. Pengakuannya ini cukup gila, namun beberapa bukti seakan menyiratkan tanda tanya, benarkah pengakuannya ini? Ataukah ia cuma kepengen pansos dengan membesut cerita menghebohkan ini?

Marilah kita ikuti kisahnya dan barulah kalian berpendapat, apakah perkataannya ini omong kosong belaka atau bukan.

THE LOVECRAFTIAN NUMBERS" PART 2 - BILANGAN-BILANGAN YANG LEBIH BESAR DARI ALAM SEMESTA!




Oke, di postingan sebelumnya (jika kalian masih betah melanjutkannya), kita membahas Googol dan Googolplex, dua angka yang amat mengerikan hingga alam semesta saja tak mampu menampungnya. Bagaimana dengan angka-angka lainnya yang lebih besar? Well, beruntung kita tak kehabisan matematikawan “gila” yang selalu berusaha mencari angka terbesar yang bisa dirumuskan (memiliki arti dan bukan sekedar angka “random” seperti yang gue jelaskan di Pendahuluan). Angka-angka itu meliputi Mersenne Prime, Skewes Number, dan Graham Number.

THE LOVECRAFTIAN NUMBERS: PART 1 - BILANGAN-BILANGAN TERBESAR DI ALAM SEMESTA



Hallo guys, kalo kemarin-kemarin postingan gue tentang alien, String Theory, dan Mekanika Kuantum menyinggung ilmu Fisika, sekarang gue akan membahas Matematika hehehe. Eits, jangan buru-buru muntah darah! Emang sih, bagi banyak dari kita (termasuk gue), Matematika adalah pelajaran yang paling bikin ilfil semasa kita sekolah. Udah gurunya galak, rumusnya banyak, itungannya ruwet, soal ulangannya susah-susah lagi. Pantesan nilai kita dulu banyakan ancur. Momok mengerikan semacam itu mungkin sudah terpatri di benak kita. Tapi jangan salah, kita menganggap Matematika seperti itu karena sejak awal kita nggak diperkenalkan akan “keajaiban” ilmu tersebut. Matematika punya banyak banget lho manfaat buat kita (manfaat paling basic ya ngitung uang jajan) dan seandainya kita dikenalin ke “sisi lain” Matematika ini, mungkin kita akan belajar mencintainya.

Salah satu yang membuat gue berubah pikiran akan momok menakutkan Matematika adalah channel YouTuber bernama “Numberphile”. Di channel tersebut, seorang film-maker bernama Brady mewawancarai profesor-profesor top untuk menjelaskan topik-topik menarik dalam Matematika. Banyak dari penjelasan mereka emang amat “friendly” terutama buat otak gue yang pas-pasan. Salah satu topik yang paling menarik menurut gue adalah ketika mereka membahas angka-angka yang teramat besar dalam Matematika. Bahkan saking besarnya, mereka sudah di luar batas nalar dan pemahaman kita. Emang seberapa gede sih Bang angkanya? 100? 1000? Satu triliun?

Yang jelas, angka-angka yang gue tawarkan ini akan amat besar, hingga alam semesta kita tak mampu menampungnya.

Banyak sih sebutan-sebutan “awam” untuk angka-angka ini, mulai dari angka monster (“monstrous”), "behemoth", hingga "gargantuan". Namun gue pribadi lebih suka menyebut mereka angka-angka “Lovecraftian” (mungkin lain kali akan gue bikin deh postingan tersendiri yang menjelaskan siapa itu Lovecraft dan apa maksud istilah “Lovecraftian horror”) karena mereka sendiri lebih besar ketimbang ukuran alam semesta ini.

Bikin penasaran kan? Tapi gue peringatkan, penjelasan dari beberapa angka ini selain “mind-blowing” juga akan membuat kalian sedikit pusing karena penjelasannya yang ruwet. 

So here we go!

“EXISTENTIAL CRISIS” PROLOGUE: TEST TURING & ARTIFICIAL INTELLIGENCE



Jika kalian suka dengan film-film atau series bergenre sci-fi seperti “Star Wars”, “Star Trek”, atau mungkin buat kalian yang anti-maintream, “Dr. Who”, banyak tema yang diangkat terlalu futuristis dan bombastis (bahkan khayal). Space warp lah, wormhole lah, mesin waktu lah. Namun tahun lalu gue menonton sebuah film sci-fi thriller yang begitu dekat dengan kenyataan, bahkan seakan “menyentuh” realita. Film itu berjudul “Ex-Machina”, sebuah film besutan tahun 2014 yang dibintangi Alicia Vikander (yang kini main “Tomb Raider”). Film tersebut menyinggung tentang “Turing Test” yang langsung bikin gue penasaran. Apa itu “Turing Test” atau “Tes Turing?”

Tes Turing adalah sebuah tes untuk robot, dimana apabila robot itu lulus, maka berarti robot itu sudah tak bisa dibedakan lagi dengan manusia. Bagaimana akibatnya jika ada robot yang mampu lulus Tes Turing? Tentu itu menjadi bukti kemajuan teknologi manusia yang mumpuni. Namun bagaimana jika robot-robot yang kelewat cerdas tersebut memutuskan untuk memberontak, seperti plot film “Terminator”? Ataukah ketakutan kita itu terlalu dini dan justru tak beralasan?