Tuesday, February 20, 2024

LOVELESS CREATION: CHAPTER 21 – THE FREEMASON CHAMBER

 



A LOVECRAFTIAN NOVEL

 

Mereka berdua menyusuri lorong gua itu, kali ini dengan senter di tiap tangan mereka.

“Tetesan air ini …” Dimas menatap stalaktit di atap gua yang mulai mencair. “Darimana asalnya?”

“Salju abadi di Jayawijaya mulai mencair dan akan hilang sepenuhnya kurang dari 3 tahun lagi. Bahkan kini hanya tertinggal 1% saja dari luasnya semua.”

Dimas menoleh ke arah Eric, “Apa karena global warming?”

Eric mengangguk, “Sayang sekali bukan? Padahal Puncak Jayawijaya adalah satu-satu tempat di ekuator yang memiliki salju. Bahkan orang Belanda pertama yang menemukannya dianggap gila ketika ia pulang ke negaranya dan memberitakan penemuannya.”

“Manusia memang kodratnya merusak Bumi.” desah Dimas sembari meneruskan perjalanan.

“Karena itulah kita perlu kembali ke cara lama kita.” bisik Eric pelan, seolah-olah ia hanya menginginkan dinding-dinding gua itu yang mendengarnya.

“Apa katamu tadi?” tolehnya lagi.

“Tak apa-apa.” elaknya, “Bagaimana dengan pemuda itu? Apa dia menemukan sesuatu?”

“Eric,” Dimas segera berbisik ke rekan seperjalanannya itu, “Kurasa kita harus memberitahu yang sesungguhnya kepadanya.”

“Untuk apa?”

“Dia berhak tahu!”

“Lihat saja dia, Dim! Dia sama sekali tak menua walaupun sudah hilang lebih dari 20 tahun! Kau pikir masyarakat akan menerimanya jika ia kembali?”

“Apa maksudmu?”

“Jika kita benar menemukan alat komunikasi dan berhasil keluar dari sini, kurasa kita sebaiknya meninggalkannya.”

“APA?” sentak Dimas. Namun ia segera menurunkan nada suaranya. “Tega sekali kau?”

“Dia adalah anomali, Dim! Bahkan, menurutku tak seharusnya ia masih hidup!”

“Hei! Aku menemukan sesuatu!” terdengar teriakan Arya dari arah depan mereka, tertutup oleh dinding gua yang berliku-liku itu.

“Ka … kami akan segera ke sana!” teriak Dimas dengan gugup.

“Pokoknya diam saja, Dim!” tatap Eric dengan tajam.

Mereka berdua bergegas menyusulnya. Senter mereka seakan saling berkejaran menerangi lantai gua.

“Ada apa? Apa yang kau temukan?”

Arya segera menunjuknya dengan cahaya senternya. Di dinding terlihat sesuatu.

“Lukisan gua!” Eric langsung terkesima, “Pasti ini dibuat puluhan ribu tahun yang lalu.”

“Apa ini?” sorot Dimas, “Raksasa ini? Makhluk bertentakel?”

“Mereka memujanya.” Eric memperhatikan sosok-sosok mirip stick figure yang seakan menyembah makhluk itu. Terlihat pula aksara-aksara kuno di bawahnya.

Kami membawa persembahan ke kotamu yang agung, R'lyeh, wahai Cthulhu yang maha suci.”

“Kau bisa membacanya?” Dimas tersentak, “Darimana kau tahu bahasa sekuno ini?”

“HP Lovecraft.” Ia menoleh kepadanya, “Kau tak pernah membacanya?”

“Siapa itu?”

“Penulis horor terkenal? Kau tak tahu siapa dia?” Eric terlihat heran, “Ia menciptakan genre fiksi baru, cosmic horror. Yah, walaupun karyanya tak sepenuhnya fiksi.”

“Apa maksudmu?”

Eric mendesah, seakan mempertanyakan intelektualitasan rekannya itu karena tak mengetahui siapa HP Lovecraft.

“Ia lahir pada akhir abad ke-19 dari keluarga kelas atas di Amerika. Namun setelah ayahnya mengalami kegilaan dan dijebloskan ke rumah sakit jiwa, keluarganya bangkrut dan mentalnya ikut menurun. Belum lagi ia yang terlampau cerdas namun pendiam, menjadi penyendiri dan tak memiliki teman di sekolah. Akibatnya, ia pernah berusaha bunuh diri dengan menaiki kapal dari kediamannya di Rhode Island dan berniat menenggelamkan dirinya ke dalam laut. Namun di tengah perjalanan, kapalnya terjebak badai dan ia terdampar ke sebuah pulau yang aneh. R'lyeh.”

“R'lyeh?”

“Ya, di sana ia bersumpah melihat sesosok makhluk yang tak bisa dijelaskan oleh akal sehat. Ia menamainya Cthulhu yang ia percayai adalah sesosok tuhan kuno. Older God. Namun tentu saja, ia sadar takkan ada yang percaya kepadanya sehingga ketika ia berhasil tiba kembali ke daratan Amerika, ia kemudian menulis pengalamannya seolah-olah itu adalah karya fiksi.”

“Makhluk ini?” Dimas menatap sosok raksasa bertentakel yang dipuja itu. “Tuhan? Tapi dia …”

“Mengerikan? Seperti monster?” Eric tersenyum, “Menurutmu seperti apa tuhan itu? Tampan, seperti manusia? Itu adalah ide yang amat antroposentris, berpikir bahwa tuhan mesti berpenampilan seperti kita. Inilah kekuatan tuhan yang sebenarnya, menakutkan, tanpa ampun.”

“Jadi orang-orang di sini memuja yang namanya Cthulhu?” tiba-tiba saja Arya bergabung dalam pembicaraan mereka. Eric mengernyitkan dahinya, tak paham mengapa Arya menjadi tertarik dengan topik tersebut.

“Bisa jadi. Lovecraft sendiri menggambarkan R'lyeh sebagai pulau yang terletak di Samudra Pasifik selatan, bahkan memberikan koordinatnya, di lokasi yang dinamakan Point Nemo …”

Point of inaccessibilty?” bisik Arya tiba-tiba.

“Kau juga tahu?”

“Ya, itu legenda dalam ilmu navigasi. Tempat paling terisolir di dunia. Satu titik dimana jika kau berada di sana, satu-satunya manusia yang terdekat denganmu adalah para astronot yang berada di stasiun luar angkasa.”

“Ya, jarak Point Nemo dengan stasiun ISS yang mengorbit di luar Bumi adalah 400 km, namun jarak titik ini dengan pulau terdekat yang dihuni manusia adalah 2.600 km atau 6,5 kali lipatnya.”

“Tapi tunggu, bukannya katamu tadi Lovecraft adalah seorang Amerika? Mustahil ia sampai terdampar di Samudra Pasifik, apalagi di lokasi terisolir itu.” tanya Dimas.

“Kau memang jeli, Dim. Tak heran kau adalah salah satu ilmuwan terbaik di Indonesia.” puji Eric, “Apa yang dialami Lovecraft bahkan lebih aneh lagi. Ia berlayar dari Long Island yang ada di New York, pantai timur Amerika, namun tiba di Samudra Pasifik yang ada di seberang pantai barat Amerika. Untuk sampai ke sana, ia harus melintasi Samudra Atlantik, Afrika, Samudra Hindia, Indonesia, Melanesia, Polynesia, hingga sampai ke titik ini.”

“Teleport,” bisik Dimas yang akhirnya paham, “Ia mengalami teleportasi hingga tiba ke sana.”

Ia kemudian menoleh kepada Arya, “Kurasa itu pula yang terjadi padamu. Pada kita!”

“Lalu kenapa hieroglif ini bisa sampai ke Papua? Apalagi di Puncak Jayawijaya?” Dimas masih tak paham. “Apa penduduk pulau itu bermigrasi ke sini? Namun untuk apa?”

“Entahlah, itu masih misteri.” Eric mengangkat bahunya.

“Mungkin kita akan menemukan jawabannya jika kita masuk lebih dalam ke gua ini.”

“Kau benar, Arya.” bahkan kini Eric memutuskan untuk berjalan paling depan memimpin keduanya, “Kita mungkin menemukan hieroglif lain di dalam gua ini.”

“Tu …. Tunggu!” cegas Dimas, “Apa kau yakin itu ide yang bagus?”

“Kenapa?” Eric menoleh tak sabaran, “Bukankah kita sepakat untuk mencari para penumpang yang lenyap itu juga?”

“Ta … tapi jejak kaki di salju itu …”

“Apa kau mau kembali ke sana, Dim? Ke reruntuhan pesawat itu? Walaupun mereka tahu pesawat kita jatuh, mereka takkan mencarinya sampai di sini. Tempat ini bahkan bukan di jalur penerbangan kita!”

Mau tak mau Dimas harus setuju dan dengan enggan, iapun mengikuti langkahnya.

 

***

 

Tomo segera berlari ke arah mesin faks itu.

“Ini sudah tahun berapa, kok kau masih pakai mesin itu? Ada yang namanya email dan WhatsApp.” keluh Brian.

“Aku bukannya kuno, tapi apa kau tak tahu, faks adalah sarana komunikasi yang paling terjamin kerahasiaannya? Kau mau pesanmu dibaca oleh Mark Zuckenberg?”

Brian hanya geleng-geleng mendengarnya.

“Lagian apa sih itu? Faks dari temanmu di Arecibo?”

“Tepat sekali. Ia mengirimkan data ini, gelombang radio yang terpancar dari bintang yang kuamati di Konstelasi Cygnus.” ujarnya girang, “Tuh kan aku benar!”

“Alah, palingan itu hanya cosmic background radioation.”

“Apa CMB bisa berbahasa … “

“Apa?” Brian bangkit dari kursinya, “Pesan itu menggunakan Bahasa Basque?”

Tomo menunjukkan data itu dengan melongo.

“Mereka mengirimnya memakai Bahasa Indonesia …”

“APA?” sentaknya, “Apa isinya?”

“Isinya benar-benar tak masuk akal …”

***

 

“Eric!” panggil Dimas, “Kurasa kita harus kembali!”

Ia mulai merasa resah. Air masih menetes dari langit-langit gua itu. Namun tak ada stalaktit di sana. Darimana asal tetesan air in? Apakah dari gletser yang mencair?

“Ah!” Dimas mulai mengernyit ketika tetesan air itu mengenai tangannya, “Kenapa rasanya perih sekali? Apa air ini mengandung asam?”

Ia tahu bahwa kadang air di pegunungan kadang sedikit basa karena memiliki kesadahan tinggi. Namun air sadah-pun tak pernah bersifat se-kaustik ini.

Air ini seperti hendak melelehkan kulitnya.

“Eric! Kita keluar saja, ah!” teriaknya lagi ketika air itu kembali melukai kulitnya hingga berasap, “Gua ini semakin menyempit … Eric!”

Namun Eric sepertinya tak peduli walaupun gua di depannya semakin menyempit dan menyempit, bahkan kini ia mulai sulit bergerak.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, ia kini tak bisa berbalik, terjepit di sana.

“Arya, tolong …” Dimas menoleh, namun pekikannya terhenti ketika ia tak melihat siapapun di sana.

“Arya?” teriaknya lagi. Dimana pemuda itu? Tadi dia ada di belakangku.

“AAAAARGH!”

Terdengar teriakan dari belakangnya.

“ERIC!” Dimas segera berbalik dan menyorotkan senternya ke depan, namun ia tercekam melihat pemandangan di depannya. Dinding gua itu kini bergerak, seakan tengah meremas-remas tubuh Eric dan menelannya.

Tidak, bukan menelan.

Melainkan mencernanya.

“Eric!”

Namun Dimas tahu bahwa rekannya itu tak mungkin tertolong lagi setelah melihat bagian-bagian tubuhnya mulai meleleh. Malah, tangannya kini terlepas dan putus karena terlarutkan air keras itu. Iapun memutuskan segera berbalik untuk pergi dan meninggalkan temannya itu.

“Arya!” teriaknya setelah melihat siluet bayangan di depannya, “Cepat tolong aku!”

Namun bayangan itu hanya berdiri di sana, seolah hanya menonton penderitaan mereka. Sementara itu, Dimas mulai merasakan gua itu makin menyempit dan dindingnya, bak otot sebuah usus yang amat kuat, mulai meremukkannya.

“Aku sudah membawa mereka ke sini! Satu believer dan satu unbeliever, sesuai permintaanmu!” suara Arya menggaung dalam gua itu, “Sekarang tepati janjimu!”

“Apa?” Dimas tercengang mendengarnya.

“Bawa aku kembali ke Jakarta! Kumohon! Lyla pasti amat merindukanku!”

“Arya,” dengan napas terakhirnya, Dimas masih mencoba menjernihkan pikirannya, “Dia berbohong kepadamu! Lyla sudah mati!”

“Apa?” sentaknya.

“Maaf, tapi aku tak tega memberitahumu, tapi setelah story Lyla viral, netizen mulai membully-nya. Kata mereka ia menggunakan kasusmu untuk pansos karena karirnya mulai meredup.”

“Viral? Netizen? Pansos? Apa maksudmu?”

“Lyla tak kuat menerima rundungan itu dan bunuh diri, Arya! Dia sudah mati!” teriaknya, walau kini ia merasakan rasa sakit merambat ke tubuhnya ketika tubuhnya sedang dilumat, “Kau takkan pernah bisa bersamanya lagi! Dia berbohong kepadaku!”

“Tidak!” Arya masih sulit menerima kenyataan itu, “TIDAK MUNGKIN!”

Iapun segera mematahkan salah satu stalaktit di gua itu dan menusuk-nusukkannya ke bagian dinding yang berdenyut itu.

“KAU HANYA MEMANFAATKANKU, CTHULHU!”

***

 

“Apa isi pesan itu, Tomo! Katakan!”

“Ta … tapi isinya sama sekali tak masuk dinalar …”

“Mereka susah-susah mengirimkan pesan itu dari masa depan. Pesan dari sebuah ras alien dengan intelegensi tinggi tak mungkin tak bermakna! Apa kata mereka?”

“Isinya …” Tomo mulai membacanya perlahan, “Jangan ikuti kameramen itu.”

 

BERSAMBUNG

 

 

3 comments: