Thursday, January 7, 2016

HOW TO MAKE A PLOT TWIST: A SIMPLE (INCOMPLETE) MANUAL

 

HOW TO MAKE A PLOT TIWST

Hei guys. Kali ini lain dari biasanya gue bakal ngasih tips menulis. Nggak tau diri banget ya gue, padahal novel gue aja belum ada penerbit yang mau nerbitin wkwkwk. Tapi karena ada readers yang minta tips cara bikin plot twist (udah lama sih), makanya gue buatin kalian artikelnya.

Pertama, apa sih plot twist itu? Plot twist adalah kondisi dimana arah jalan cerita (plot) dalam suatu kisah tiba-tiba berubah drastis ke arah yang sama sekali nggak dapat ditebak pembacanya. Suatu cerita nggak bisa dipungkiri akan jauh lebih menarik jika ada plot twistnya. Lihat saja karya-karya terkenal dari Agatha Christie, Sidney Sheldon, hingga RL Stine. Novel-novel mereka meraih puncak popularitas karena menyajikan plot twist tak terduga dalam karyanya. Belum lagi karya-karya sutradara karya Alfred Hithcock, M. Night Syamalan, hingga Christopher Nolan yang film-filmnya dihargai dan menjadi legenda karena plot twist dalam skenarionya.

Namun semua penulis pasti menghadapi kesulitan dalam menciptakan plot twist. Maklum saja, penulis harus memutar otak membuat plot twist yang dapat membuat pembacanya tercengang. Membuat cerita emang jauh lebih mudah jika tanpa plot twist, namun tentu cerita itu akan menjadi kurang menarik. Maka dari itu, menciptakan plot twist membutuhkan kerja otak yang ekstra. Namun jangan khawatir, jika melihat novel-novel maupun film-film yang udah ada, sebenarnya ada kok “pola-pola” plot twist yang sebenarnya nggak jauh-jauh beda. Cuman penggunaannya aja disesuaikan dengan jalan ceritanya.

Dalam membuat plot twist, sebenarnya para penulis bertujuan untuk “mempermainkan dan membodohi” para pembacanya. Keliatannya jahat ya guys, tapi buat gue bisa jadi ajang balas dendam soalnya gw sering dipermainkan wanita, makanya sekarang gw mempermainkan pembaca gw hahaha *tabok* Agar bisa mempermainkan pembaca, terlebih dahulu kita harus sadar betul bagaimana cara berpikir para pembaca kita saat membaca karya kita. Bisa dikatakan, ketika memulai membaca karya kita, para pembaca dalam kondisi pikiran yang murni dan polos (membuat mereka lebih mudah dipermainkan xixixixi). Mereka mengharapkan bahwa jalan cerita akan sesuai dengan harapan mereka dan sesuai dengan apa yang mereka baca. Mereka sama sekali nggak mengharapkan atau menduga twist yang akan datang.

NB: Kecuali untuk beberapa pembaca yang “pintar”, mereka akan memiliki ekspetasi dan interpretasi mereka sendiri dalam membaca jalan cerita. Mereka akan selalu menaruh rasa curiga sehingga kebanyakan dari pembaca model ini bisa menebak plot twist yang akan datang. Contoh orang-orang kayak gini adalah orang-orang yang membaca cerita detektif dan sudah menduga-duga selama jalan cerita berlangsung sehingga akhirnya mereka bisa menebak siapa pelaku sebenarnya.

Well, abaikan dulu pembaca yang “curigation” seperti di atas sebab mereka “one of the kind”. Secara umum, cara berpikir pembaca adalah seperti ini.

1. Tokoh protagonis (tokoh utama) adalah tokoh dengan karakter moral baik (bukan penjahatnya), mereka masih hidup (bukan hantu), sehat jasmani rohani (nggak gila atau punya teman khayalan), nggak punya kembaran, identitasnya asli sesuai yang ia katakan (nggak sedang menyamar), dan jujur dalam setiap perkataannya.

2. Dalam hal waktu, cerita dikisahkan dalam alur cerita yang linear (maju), bukan di masa lalu atau di masa depan, serta kronologis (urut).

3. Dalam hal setting, cerita bersetting di bumi, terjadi dalam realitas, bukan halusinasi semata.

4. Dalam hal tokoh (bisa berlaku untuk tokoh selain protagonis): jenis kelamin mereka sesuai nama mereka, memiliki orientasi seksual yang normal, tidak berpura-pura menjadi orang lain, berkata jujur dan tidak menyimpan rahasia, tidak punya kelainan fisik (pakai kursi roda, buta, tuli) kecuali jika dijelaskan, atau sebaliknya memang memiliki kelainan fisik sesuai jalan cerita (tidak berpura-pura cacat), hanya manusia biasa (bukan vampir, alien, atau hantu), jika mereka diceritakan meninggal maka mereka benar-benar mati (nggak ternyata pura-pura mati dan ternyata masih hidup) dll.

Nah jika kita sudah tahu cara berpikir pembaca yang lempeng-lempeng aja, maka makin mudah bagi kita untuk membelokkan jalan cerita agar tidak sesuai dengan dugaan mereka.

Gue sendiri membagi plot twist menjadi berbagai macam, yakni plot twist tokoh, identitas, motif, setting, dan plot (alur).

PLOT TWIST TOKOH

Nah dalam plot twist tokoh ini, yang dijadiin subjek plot twist adalah tokohnya. Contohnya bisa kita lihat dalam novel-novel detektif. Biasanya pelaku pembunuhan atau penjahat sesungguhnya ternyata adalah orang yang sama sekali nggak diduga.

Kalian mungkin mengira cerita detektif itu diciptakan di Inggris, secara di sana ada penulis-penulis kawakan semisal Sir Arthur Conan Doyle (pencipta Sherlock Holmes) dan Agatha Christie. Tapi kalian pasti nggak menduga (plot twist juga nih) kalo cerita detektif pertama ternyata berasal dari peradaban Islam, yakni cerita “The Three Apples” yang termasuk Kisah 1001 Malam, lengkap dengan plot twist pertama dalam sejarah literatur. Keren khan? Cerita-cerita model ginian (menebak pelaku kejahatan yang biasanya nggak terduga) disebut dengan istilah “whodunnit” atau “siapa yang melakukan”.

Pasti kalian bertanya-tanya, gimana sih cara bikin identitas pelaku yang tidak terduga? Soalnya emang nggak gampang lho. Tapi ini gue kasih rumusnya (karena cerita detektif biasanya nggak jauh-jauh dari pola-pola di bawah ini)

1. Pelaku adalah si “aku” atau tokoh utama

Plot twist ini emang nggak membosankan walaupun sering dipakai berkali-kali. Penulis pertama yang menciptakan plot twist ini adalah Agatha Christie di salah satu novelnya yang paling terkenal. Ketika pertama kali muncul, plot twist ini amat kontroversial sebab banyak yang mengatakan bahwa Agatha Christie terlalu tega “menipu” pembacanya dan membuat pembacanya merasa terkhianati. Namun that’s what plot twist all about, right? *lagian masih tegaan Bang Toyib kali 3 kali lebaran nggak pulang-pulang*

Jika novel/cerita tersebut menggunakan sudut pandang tokoh pertama (tokoh utama adalah “aku”) maka teknik ini disebut “inreliable narrator” atau “narator yang tak dapat dipercaya” soalnya di ending kita akan sadar bahwa keseluruhan cerita sebenarnya adalah kebohongan.

2. Pelaku adalah tokoh yang penting bagi tokoh utama

Dalam plot twist ini, pelaku ternyata adalah tokoh yang penting, namun selain tokoh utama. Bisa jadi dia partner si tokoh utama, kekasih, istri, suami, pokoknya orang yang selama ini dipercaya oleh sang tokoh utama, atau malah berusaha dilindungi oleh tokoh utama. Contohnya bisa dilihat di "Scream 4" dan serial misteri “Harper’s Island”.

3. Pelaku adalah tokoh yang sekilas nggak penting (insignificant) bagi cerita

Plot twist ini adalah kebalikan dua nomor di atas. Jika di atas kita menjadikan karakter penting sebagai pembunuh, maka sebaliknya, di sini kita malah menggunakan karakter yang keliatannya sepele sehingga nggak akan diperhitungkan oleh pembaca. Ada banyak kok cerita yang menggunakan plot twist semacam ini semisal film detektif Korea “Detectives in 40 Minutes”. Namun yang perlu diingat kalo mau membuat plot twist semacam ini, walaupun si tokoh nggak penting, namun kita harus memastikan si tokoh ini benar-benar bisa diingat oleh pembaca.

Teknik keren digunakan oleh film Korea “Mother” yang menggunakan plot twist ini juga. Dalam film ini, dalam salah satu scene sang ibu tokoh utama bertemu dengan seseorang dalam adegan yang artistik banget. Pemirsa nggak akan mudah melupakan adegan ini dan mungkin mengira adegan ini sama sekali nggak ada hubungannya ama jalan cerita, melainkan hanya untuk memperindah film ini. Namun ternyata terkuak tokoh figuran itu ternyata memegang peranan penting dalam cerita. Jadi ingat, buat walaupun tokoh ini terkesan nggak penting, namun bikin kehadirannya memorable, jangan ampe pembaca bilang, “Lho siapa dia? Gue nggak inget ada tokoh ini sebelumnya.”

Teknik mutakhir lainnya yang bisa kalian pakai adalah dengan menghilangkan tokoh ini sementara. Teknik ini dipakai dalam film Sadako 3D 2 dimana ada tokoh yang sejak awal muncul, namun lalu tak mendapat porsi adegan di pertengahan hingga akhir sehingga akhirnya dilupakan pemirsanya. Ketika ia tiba-tiba muncul di adegan klimaks, pemirsanya (termasuk gue) bener-bener terkejut (terutama karena ingat, “Oh ya ada tokoh ini ya.”)

Teknik yang berkebalikan dengan teknik di atas juga ada, yakni memunculkan karakter figuran yang sekilas nggak penting itu di sepanjang cerita. Namun karena perannya yang remeh di cerita itu, mungkin pembaca akan mengabaikannya. Semisal gue pernah baca sebuah novel misteri (gue lupa judulnya) tentang anak-anak kuliahan gitu. Pembunuhnya ternyata adalah bapak tukang bakso langganan mereka tempat mereka sering makan *gubrak* Pak bakso ini sering banget muncul tapi mungkin nggak ada yang curiga soalnya sekilas si bapak ini nggak punya motif untuk membunuh. Contoh lainnya di SAW 1, dimana para penonton sebenarnya menyaksikan si pembunuh sepanjang film, namun sama sekali nggak menyadarinya. Film “Death Bell” asal Korea juga memanfaatkan plot twist sejenis ini, digabungkan dengan teknik berikutnya.

4. Pelaku adalah tokoh yang emang seharusnya ada di cerita tersebut

Polisi, detektif, dokter, sipir penjara, hakim adalah orang-orang yang memang mesti ada dalam suatu cerita detektif, maka lumrah jika kita menganggap mereka sebagai figuran yang bakal membantu kerja sang tokoh utama dalam memecahkan misteri. Namun bagaimana jika ternyata salah satu aparat itulah pelakunya? Plot twist kayak gini pernah gue baca di salah satu novel Agatha Christie, film Detective Conan “Captured in Her Eyes”, dan film “General’s Daughter” yang dibintangi John Travolta. Plot twist jenis ini hampir selalu mengejutkan, sebab pembaca secara naluriah akan mempercayai para penegak hukum tersebut.

Teknik yang sama pernah digunakan di salah satu serial kriminal “The Closer”. Dalam tiap episodenya diceritakan kepala polisi bernama Brenda dalam menginterogasi para tersangka pembunuhan, selalu ditemani oleh pengacara yang berusaha membela klien mereka. Maka, kehadiran pengacara dianggap hal yang lumrah dan kadang tak diperhitungkan. Namun dalam salah satu episodenya, si pembunuh justru sang pengacara tersebut.

5. Pelaku adalah orang yang nggak mungkin melakukannya

Yup ... beberapa kondisi di bawah ini akan langsung membuat para pembaca mencoret para tokoh ini dari daftar tersangka. Sehingga, ketika terkuak bahwa dia pembunuhnya, pasti akan membuat shock para pembaca. Berikut ini beberapa alasannya.

a. Pelaku memiliki keterbatasan fisik

Dalam plot twist ini pelakunya ternyata berpura-pura memiliki keterbatasan fisik, semisal buta, duduk di kursi roda, nenek-nenek, atau bahkan hanya anak kecil. Film dengan plot twist semacam ini contohnya “Identity” dan “Orphan” serta novel misteri "Name of The Rose" karya Umberto Uco.

b. Pelaku adalah korban yang (dikira) sudah meninggal

Nggak akan ada yang mencurigai orang yang sudah mati sebagai pelaku pembunuhan bukan? Plot twist ini sering kok dipakai dalam film pembunuhan, contohnya "Scream 3" dimana si pelaku ternyata berpura-pura mati. Teknik ini juga dipakai dalam novel legendaris karya Agatha Christie “And Then There Were None”.

c. Pelaku adalah orang yang memiliki alibi sempurna

“Lho nggak mungkin dia pelakunya? Kan selama ini dia bareng tokoh utamanya terus?” mungkin kalian pernah baca cerita atau liat film yang endingnya kayak gitu. Ternyata si pelaku punya trik untuk menciptakan alibi bagi dirinya sendiri, kayak semisal pembunuhnya ternyata ada dua. Plot twist kayak gini sering dipakai di Detective Conan dan Kindaichi.

PLOT TWIST IDENTITAS

Plot Twist ini hampir ini mirip plot twist tokoh namun lebih dalam. Bukan hanya membuka tabir “siapa si pelaku” namun juga “jati diri si pelaku ini sesungguhnya”. Lihat aja semisal film “Shutter”, “Fight Club”, “Sixth Sense”, “The Others” dan “Before I Go To Sleep”, hingga “Oldboy”  yang semuanya menjelaskan identitas si tokoh utama (atau tokoh lainnya) ternyata tak seperti yang diduga pemirsa selama ini. Si tokoh utama ternyata hantu. Si tokoh utama ternyata punya teman khayalan. Si tokoh utama ternyata penghuni rumah sakit jiwa. Kakak perempuan si tokoh utama ternyata adalah ibunya sendiri. Pacar tokoh utama ternyata selama ini adalah anak kandungnya sendiri. Itu semua adalah contoh yang gue sebut plot twist identitas.

Teknik ini berbeda dengan “unreliable narrator” sebab jika di teknik “unreliable narrator” tokoh “aku” memang sengaja membohongi pembaca. Sedangkan pada teknik ini, bisa dibilang si “aku” sama sekali tak menyadarinya dan terungkapnya identitasnya yang sebenarnya juga akan mengejutkan si tokoh “aku” ini. Plot twist ini juga bisa berupa rahasia yang selama ini disembunyikan dari si tokoh utama. Teknik ini ada bahasa kerennya, yakni “anagnorisis”.

PLOT TWIST MOTIF

Plot twist semacam ini gue liat mulai berkembang di film horor Korea. Film-film ini mungkin nggak terlalu mengandalkan konsep whodunnit sebab identitas pelakunya sudah jelas. Namun motif yang melatarbelakangi si pelaku-lah yang menjadi plot twist dan mengejutkan pemirsa saat diuraikan di adegan klimaks/endingnya. Salah satu film yang menggunakan plot twist ini adalah sebuah film Korea “Don’t Click” yang menceritakan video kutukan yang membunuh siapapun yang melihatnya. Di ending ternyata diceritakan bahwa si hantu ini ternyata membunuh bukan tanpa alasan, namun karena si tokoh utama cerita itu dulu kerap membully dia semasa hidup hingga ia bunuh diri.

PLOT TWIST SETTING

Nah, plot twist setting tidak menggantungkan diri pada karakter, melainkan setting, bisa berupa "waktu" dan "tempat". “Plot twist lokasi” semisal bisa diliat pada “Planet of The Apes” dimana seorang astronot terdampar di sebuah planet yang dikuasai monyet. Kemudian pada endingnya ia menyadari jika sebenarnya ia selama ini terdampar di bumi masa depan.

“Plot twist waktu” menceritakan dua kejadian yang seakan-akan linear (terjadi di waktu yang sama), namun ternyata salah satunya terjadi di waktu yang lampau. Semisal “Detective 2” yang dibintangi Aaron Kwok, diceritakan ia menangani kasus pembunuhan dan ada adegan lain dimana diperlihatkan si pembunuh adalah seorang anak SMP. Otomatis para pemirsa mengira penyelidikan Aaron Kwok sia-sia sebab tak satupun tersangka yang ia selidiki adalah anak SMP. Namun yang pemirsa tidak tahu, ternyata adegan kedua itu adalah flashback dan si pemuda SMP ini ternyata sudah tumbuh besar.

Plot twist waktu yang lebih sederhana contohnya pada film “The Village” dimana sekilas film bersetting di masa lampau. Namun di ending film terkuak bahwa film tersebut bersetting pada masa yang sama sekali berbeda. Gue juga pernah denger salah satu sekuel SAW (nggak tahu yang mana, soalnya belum nonton juga) dimana plot twistnya ternyata setting waktu sekuel tersebut bersamaan dengan sekuel SAW sebelumnya.

Setting waktu nggak hanya bisa dimanfaatkan sebagai plot twist, namun juga bisa diutak-atik untuk menciptakan plot twist itu sendiri. Lihat saja “Memento” yang ternyata alur waktunya dibalik, diawali oleh ending film dan diakhiri oleh adegan yang seharusnya menjadi awal film. Dengan begini, pembaca akan bingung sebab ada banyak informasi yang dirahasiakan, untuk kemudian terkuak satu demi satu melalui flashback. Teknik semacam ini disebut “in medias res”, sebab permulaan cerita “digeser”, entah ke tengah atau malah akhir cerita.

PLOT TWIST ALUR

Plot twist ini menurut gue sangat brilian, namun cuman sedikit cerita yang mengeksplorasinya. Plot twist ini mengandalkan alur dan hubungan antarkarakter, dimana subplot cerita yang berbeda ataupun tokoh-tokoh yang sekilas tidak berhubungan ternyata pada akhir cerita diceritakan memiliki takdir yang saling terkait. Contoh jelas dari penggunaan plot twist ini adalah ending di sebuah film Hong Kong berjudul “Beast Stalker” dimana seorang polisi berusaha menyelamatkan seorang gadis cilik yang diculik. Si polisi dan penculik yang tidak saling mengenal rupanya “terhubung” oleh sebuah kejadian di masa lalu mereka yang ketika terkuak, benar-benar bikin gue menganga.

Selain plot twist di atas, sebenarnya masih ada banyak sih jenis-jenis plot twist lain *list di atas pun karangan gue sendiri kebanyakan haha* kayak plot twist cara (howdunnit) semisal di film “Prestige” dan "Suspect X" (film jepang). Kalo mau memperbanyak perbendaharaan plot twist kalian, silakan banyak-banyakin baca novel atau liat film yang ada plot twistnya.

Setelah menentukan apa plot twist apa yang akan kalian gunakan untuk mengecoh pembaca, tugas kalian belumlah selesai. Ada dua teknik yang bisa dibilang harus kalian terapin biar plot twist kalian nggak sia-sia. Dua teknik itu adalah red herring dan foreshadowing.

RED HERRING

Setelah kalian menentukan plot twist, langkah berikutnya adalah menebarkan “red herring” untuk mengalihkan kecurigaan para pembaca dari pelaku/twist yang sebenarnya. Apa sih red herring itu?

Red herring bahasa politiknya adalah pengalihan isu, jadi tugasnya adalah mengalihkan perhatian pembaca agar ia konsen ke petunjuk palsu dan mengabaikan petunjuk yang asli. Contoh red herring adalah dengan membuat tersangka palsu atau tokoh antagonis semu. Contohnya nih, di sebuah novel ada seorang tokoh antagonis yang nyebelin banget, pokoknya kalo liat dia kita jadi kepengen mutilasi dia terus potongan-potongan tubuhnya kita buang ke tempat sampah biar dimakan anjing *jadi kebawa perasaan hehe*. Otomatis kecurigaan pembaca akan tertuju pada dia. Namun kemudian terkuak identitas asli sang tokoh antagonis sesungguhnya yang ternyata adalah tokoh yang selama ini dianggap alim dan pendiam.

Teknik brilian pernah gue jumpai di film "Scream 4" dimana salah satu tokohnya, seorang deputi cewek bilang ke tokoh utamanya kalo dia pernah satu SMA sama dia, tapi si tokoh utama nggak ingat. Para pemirsa pasti langsung curiga ama dialog ini dan menduga ini ada kaitannya dengan identitas si pembunuh yang sebenarnya (mungkin ada yang terjadi pas SMA yang bikin si deputi ini dendam ama tokoh utama). Namun ternyata adegan itu cuman red herring yang sama sekali nggak ada hubungan dengan jalan cerita.

FORESHADOWING

Salah satu cara untuk membuat suatu plot twist tidak mengecewakan pembaca dan tidak membuat mereka merasa “tertipu mentah-mentah” adalah “foreshadowing”. Teknik ini benar-benar berkebalikan dengan red herring sebab di sini justru kalian memberikan clue untuk menyingkap plot twist yang akan kalian sajikan.

Dalam membuat plot twist, sebenarnya kalian jangan benar-benar menyembunyikan plot twist ini dari pembaca, namun kalian malah harus memberikan “petunjuk-petunjuk samar”. Biasanya ini bermanfaat ketika plot twist terkuak, kemudian ada adegan flashback ke petunjuk samar yang pernah kalian berikan itu. Maka, pembaca akan berpikir, “Ooooh iya, kok aku nggak kepikiran sampai ke situ ya, padahal udah ada petunjuknya.” Anggap aja foreshadowing ini sejenis remah-remah roti (breadcumbs) yang ditinggalkan Hansel dan Gretel sebagai jejak mereka saat menyusuri hutan biar nggak kesasar.

Foreshadowing ini akan membuat plot twist kalian sangat logis, sehingga pembaca akan merasa “terkecoh” dan merasa memang salahnya sendiri kurang teliti dalam memahami petunjuk. Jika tak ada “foreshadowing” ini, plot twist yang kalian bikin akan terkesan “dibuat-buat dan dipaksakan”. Namun petunjuk yang akan di-foreshadowing ini jangan juga terlalu kentara guys, nanti plot twistnya dapat dengan mudah tertebak. Well, langkah untuk menyembunyikan petunjuk penting ini bisa dengan mengaburkannya bersama red herring.

Contoh foreshadowing ini semisal di salah satu episode “Sherlock”-nya Benedict Cumberbatch yang menceritakan anjing-anjing raksasa Hound of Baskerville. Di awal diceritakan oleh salah satu figuran bahwa Baskerville pernah digunakan menjadi medan percobaan gas kimia oleh militer. Fakta tersebut kemudian dilupakan oleh pemirsanya hingga kemudian terungkap bahwa anjing-anjing raksasa yang mereka lihat sebenarnya hasil halusinasi akibat sejenis gas kimia. Maka pemirsa langsung ingat “foreshadowing” yang diberikan di depan tadi dan membenarkan plot twist tadi.

Dari semua uraian di atas, sebenarnya ada satu trik sederhana yang menurut gue ampuh dalam membuat plot twist, yakni “rahasia”. Yup, bikin saja tokoh utama atau tokoh lainnya menyimpan sebuah rahasia, yang ketika terungkap, itulah plot twist yang selama ini kalian simpan untuk mengejutkan para pembaca. Tapi tetep jangan lupa teknik “red herring” dan “foreshadowing” di atas tadi.

Oke, demikian guys contoh-contoh teknik yang bisa kalian gunakan untuk menciptakan plot twist di cerita kalian. Silakan gunakan sekreatif mungkin dalam karya kalian dan kalau mau, silakan share ke blog baru gue supaya bisa dimuat *biar postingan gue tambah banyak yeeeeey* Yang pasti plot twist yang baik adalah plot twist yang tak hanya membuat pembaca terkejut, namun juga puas karena sadar mereka nggak ngabisin waktu selama ini buat baca karya kita. Gue juga selalu kok berusaha nyiptain plot twist yang lebih kreatif untuk menipu kalian semua huahahahaha *cetar cetar*

19 comments:

  1. Widii..panjang amat bang,tapi kerennnn

    ReplyDelete
  2. Hebat, Bang Dave. Jadi tambah ilmu. Thank you for sharing this ^^

    ReplyDelete
  3. Duhhhh lgi baca and then there was none bangggg, jdi ke spoiler sdikitttt nihhh -____-

    ReplyDelete
  4. Red Herring juga bisa dipakai ke dalam plot twist itu sendiri loh bang.

    Misalnya di pee mak makranong. penonton yang udah pernah nonton film besutan sutradaranya dan 4 sekawan itu pasti udah berharap filmnya bakal ada plot twistnya. Hal yang gak bisa dielakan.

    Akhirnya difilm kita diarahkan pada satu plot twist palsu (yg mirip dengan film2 sutradaranya terdahulu) penonton ikutan terbawa plot twist palsu. padahal plot twist sebetulnya itu jauh berbeda

    Plot twist yang sebetulnya simpel, tapi jadi hebat dan gak kebaca karena dikemas secara apik

    ReplyDelete
  5. Wahahaha ada inspirasi buat nulis nih

    ReplyDelete
  6. Baca postingan ini sambil makan siang, akhirnya makanannya diabaikan .. wkwkw

    Nice share Dave~ tambah ilmu lagi,, aku lemah dalam pembuatan plot twist kkkk thanks alot

    ReplyDelete
  7. wah bang dep emVAK!!!!
    makasih ilmunya ya bang ({})

    ReplyDelete
  8. klo novel lu blm ada yg mau nerbitin, cari penerbit indie aja,bang dave. kayak si Dijjah Kuning itu lho yg novelx Rembulan Love. :)

    btw, makasih infox inginspirasi

    ReplyDelete
  9. Hi....hi....hi....Bang Dave dapat darimana sih Bang ?
    Ada ilmunya atau ngarang sendiri ?

    Tapi memang banyak sih film
    Yg pakai 'plot twist'

    -The Other
    -Hide And Seek
    -Kuroyuri Danchi a.k.a The Complex
    -{Bahkan} Flowers In The Attic

    ReplyDelete
  10. Makasih informasinya bermanfaat banget ^^
    Kalau misalnya plot twist hanya di letakkan di ending dan jadinya kayak membantah feel yang dirasakan pembaca dari awal itu namanya twist apa ya ?

    makasih

    ReplyDelete
  11. wow, mungkin ini best article di blog ini sejauh ini.
    thanks banget bang Dave.
    suka banget sama plot twist "the prestige".


    Plot Twist: yang ditulis bang Dave diatas 100% ngarang, semuanya red herring.
    becanda.

    ReplyDelete
  12. Keren bang,Plot twist rada somvlak gua lebih suka.....-_-

    ReplyDelete
  13. Mau nambahin Bang Dave,
    manga Ghost Hunt juga pake teknik foreshadowing ternyata. sampe bengong2 ane baca ending manganya ehehehe...

    ReplyDelete
  14. setelah membaca full artikelnya :v aku terpaku dan secara tidak langsung jadi ingat manga yg pernah ku baca :v dan smua jenis plot twist sampai red herring sama foreshadowing.. ada di manga yg pernah ku baca itu :v


    recom manga yg bisa buat nambah referensi buat nulis plot twist :v "Pandora Heart" rasakanlah plot twist nya :v

    ReplyDelete
  15. Mantap bro... d naruto misalnya. madara ku pikir dah mati, eh trnyata dy muncul sebagai itu,, apa namanya tu? Yah itu,"... kemudian zetsu hitam, kemudian itachi(yg trnyata ..... apa???), kemudian Arima (hah,!! arima??).

    ReplyDelete
  16. Informatif banget, sumbernya dr buku atau perenungan pribadi gan? Hehe

    ReplyDelete