Monday, January 15, 2024

LOVELESS CREATION: CHAPTER 16 – SAMSON AND THE GALAXY OF DAGON



A LOVECRAFTIAN NOVEL

 

Aku membuka mataku, namun aku merasa amat lemah. Suara riuh tawa terdengar di sekitarku. Aku melihat sebuah auditorium luas dan aku berada tepat di tengah-tengahnya. Ribuan orang memadati amphiteatre itu. Di depanku duduk seorang pria bermahkota emas, sementara seorang gadis berdiri di sampingnya.

Sang raja dan putrinya, Delila.

“Delila ... apa ... apa yang kau lakukan?” aku menyadari bahwa ada rantai yang kini mengikat kedua kaki dan tanganku. Aku berusaha meronta, namun percuma. Bernapas di atmosfer ini saja aku kesusahan, apalagi mematahkan rantai-rantai ini. Aku merasa seluruh daya dalam tubuhku telah terkuras.

Raja itu dengan bangga menunjukkan serat-serat sibernetik yang terurai di genggaman tangannya.

“Ram ... rambutku ... apa yang sudah kau lakukan?”

Delila tak menjawab. Ia hanya menatapku tanpa ekspresi.

“Inikah sumber kekuatanmu?” ejek Micromagnus, “Putriku sudah memotongnya dari kepalamu dan lihat ... betapa lemahnya kau saat ini ...”

Suara ejekan terdengar riuh membahana dari podium. Seluruh rakyat planet ini kini menertawakannya.

“Kau kini tak berguna, Samson. Setelah mengetahui kelemahan kaummu, kami akan menggunakannya untuk menjajah planetmu.”

“Ternyata memang itu tujuanmu,” Samson justru tersenyum, “Kalian tak lebih dari planet parasit yang mencuri dari planet lain lalu menghancurkannya ....”

“Salah! Planet-planet itu juga akan hancur pada akhirnya. Kami hanya mengambil dari planet itu supaya sumber daya mereka tidak mubazir.”

“Menghancurkannya? Dengan teknologi kalian?”

“Bukan,” jawab Delila tiba-tiba, “Tapi Dewa Dagon-lah yang akan menghancurkannya. Dia akan datang menuruti panggilan kami. Setelah merampok planet-planet itu, kami mengumpankannya kepada Dagon supaya dia memangsanya, sebagai balasan atas perlindungan yang dia berikan kepada kami.”

“Outer God yang memakan planet?” Samson tak habis pikir. Ia telah banyak mendengar dongeng tentang para Outer Gods ini, namun ia tak menyangka kekuatannya akan sebesar ini, “Jadi karena itu kalian hendak mengorbankan Orene? Untuk memanggil Dewa kalian?”

“Dagon amat peka terhadap aroma darah. Beliau bisa mencium darah di luar angkasa dari jarak jutaan tahun cahaya dan ia bisa tiba di sini dalam sekejap menggunakan wormhole.”

“Manusia di planet kami tidak berdarah ... “ aku akhirnya memahaminya, “Rupanya teknologi kalian tak seprimitif yang aku duga. Kalian telah mengetahui banyak hal dari kami.”

“Kemampuan spesies-mu sudah melegenda, Samson.” balas sang raja, “Planet-planet lain yang kami taklukkan sudah mengetahui tentang dirimu. Ras-mu amat kuat, hingga tak ada yang mampu membuatmu berdarah. Hingga saat ini ...”

Tiba-tiba Micromagnus turun dari singgasananya, mengeluarkan sebilah pisau, dan menusuk kedua mataku.

“AAAAAAARGH!” rasa sakit menggerayangiku. Ras kami terbiasa dengan rasa sakit, sehingga hal itu bukan masalah buatku. Namun luka ini membuatku tak bisa melihat apapun.

“Ayah!” kudengar protes dari Delila, “Apa yang Ayah lakukan?”

“Bukankah kita sudah sepakat menjadikannya persembahan pengganti dirimu, Delila?” balas ayahnya.

“Tapi Ayah tak perlu menyiksanya begitu! Dia kan sudah kehilangan kekuatannya!” teriak gadis itu.

“Apa kau lupa dia sudah membunuh kakakmu dengan darah dingin? Apa kau tak ingat?”

“Ta ... tapi ...” rasa sesal mengurai dari suara Delila.

“Itukah yang ia katakan kepadamu?” ujarku, “Aku sama sekali tak sengaja melukainya, Delila. Aku berusaha menyelamatkan Orene, sungguh ... itu semua hanya kecelakaan. Aku tak bermaksud membunuhnya ...”

Delila hanya terdiam.

“Maafkan aku tak mengatakannya kepadamu ... namun aku hanya ingin kau percaya padaku. Aku ingin menyelamatkan planet ini ... aku ingin menyelamatkanmu ...”

Aku mendengar tangisan Delila.

Kudengar ia berlutut di dekatku dan membisikkan sesuatu.

“Maafkan aku, karena menuruti emosi dalam diriku, aku sudah merusak satu-satunya kesempatan yang kami miliki untuk mengalahkan Dagon.” bisiknya.

“Delila!” protes ayahnya, namun Delila membalas.

“Biarkan aku mengucap kata-kata perpisahan dengannya, Ayah! Setelah itu pendeta itu bisa mengorbankannya!”.

“A ... apa yang hendak kau katakan ...” tanyaku.

“Balaskan dendamku,” bisiknya, “Kau akan bisa mengalahkannya.”

“Bagaimana mungkin?” tanyaku, “Dia seorang Outer God!”

“Ia lemah. Amat lemah. Dari kekuatan cenayang yang kau berikan padaku, aku bisa melihat masa lalu dan mengetahui sejarah planet kami. Bukan Dagon yang menyebabkan bintang kami meledak. Keegoisan dan teknologi kami sendirilah yang menyebabkannya. Kami tak sengaja meledakkannya saat ingin membangun Dyson Sphere di sekitarnya, demi ketamakan kami akan energi tanpa batas. Dagon hanya memanfaatkan kesempatan itu untuk memperbudak kami. Ia hanya ingin dipuja. Hanya itu yang bisa ia lakukan, memanfaatkan rasa takut kami.”

“Dagon bisa dikalahkan? Ta ... tapi aku kini buta dan tanpa serat sibernetikku ...”

“Dirimu lebih dari hanya sekedar kabel sibernetik, Samson! Benda itu ... benda itu adalah kutukan. Tak ada seorangpun yang seharusnya memilikinya. Hanya sedetik memakai benda itu aku sudah bisa melihat masa lalu suram planet kami. Kau ... kau memiliki keberanian ... kau bukan pengecut seperti kami. Kau akan bisa mengalahkannya ketika ia datang.”

“Darimana kau tahu ia akan datang?”

“Itu urusanku!”

Aku bisa merasakan Delila menjauh dan terdengar sebuah perselisihan.

“Delila, kembalikan!” terdengar suara Micromagnus. “Apa yang hendak kau lakukan dengan pisau itu?”

“Jika ini memang takdirku, biarlah! Biarkan Dagon ikut menghancurkan planet ini bersama kalian! Apa yang sudah kita lakukan terhadap planet-planet lain tidaklah termaafkan!”

“DELILA! TIDAAAAAK!!!!” teriak ayahnya.

“A ... apa yang terjadi dengan Delila?” teriakku, “Ada apa?!”

“Tuanku Raja, ini gawat!” aku mendengar suara sang pendeta, Myxogonus. “Sang putri mengorbankan dirinya tanpa upacara yang semestinya. Jika ini terjadi, kita tak bisa meredam amarah Dagon dan dia akan menganggap kita juga mangsanya!”

“Delila ... Delila mengorbankan dirinya?” hatiku terasa patah mendengarnya. Perasaan apa yang kurasakan ini? Aneh, ras kami tak pernah merasakan ini sebelumnya.

Sedih? Rindu?

Cinta?

Riuh panik para penduduk planet itupun terdengar. Mereka berlarian ke sana kemari dan berteriak histeris.

“DIA DATANG! DIA DATANG! AAAAAAAKH!!!”

Hanya kekacauan yang bergema di sekelilingku. Aku bahkan yakin bahwa mereka tak mempedulikanku lagi.

Dagon. Dewa. Monster. Apapun itu. Akhirnya ia datang.

“DIA ... DIA ... TIDAAAAAK!!!”

“MENGAPA WUJUDNYA SEPERTI ITU??? AAAAAAKH!!!”

Aku mengerti sekarang. Legenda-legenda tentang para Outer Gods itu ternyata benar. Dulu nenek moyang kami tidak mengembangkan teknologi wormhole untuk menjelajahi alam semesta, karena itu berarti kami akan masuk ke dalam dunia yang didiami Outer Gods. Semula kami menyangka bahwa itu bukanlah masalah, sebab kami mengetahui hakikat Outer Gods. Seberkuasa apapun, mereka sama sekali tak memiliki intelegensi, bahkan bisa dibilang dungu. Kami juga hanya akan melewati Lubang Cacing itu hanya sepersekian detik. Namun, semua astronot yang kami kirim mengalami hal yang sama.

Mereka menjadi gila.

Hanya sepersekian detik melihat wujud Outer Gods akan membuat otakmu menjadi gila. Konon wujud mereka terlalu mengerikan dan menjijikkan untuk bisa diterima akal sehat.

Inilah yang dimaksudkan Delila.

Aku buta. Aku tak bisa melihatnya. Karena itu aku bisa melawannya.

“Samson ...” tiba-tiba terdengar bisikan Delila di telingaku. “Am ... ambillah pisau ini ...”

“Delila?” ujarku, “Ka ... kau belum wafat?”

“Aku hanya punya sedikit kekuatan tersisa ... A ... aku harus mengatakan kepadamu ... bahwa kau benar ... planetku dulu amat indah ... Apa kau ingin tahu apa nama planet kami dulu, sebelum akhirnya terombang-ambing dan diperbudak oleh makhluk itu?”

Aku berusaha memeluknya, “Bertahanlah ...”

“Namanya adalah Bumi ...”

Aku bisa mendengar Delila menarik napas terakhirnya dan tubuhnya terkulai dalam dekapanku.

“Bumi ...” pikirku, “Jadi Bumi telah lama mati ...”

Ras kami masih bisa melihat Matahari, bintang yang menaungi Bumi dari teleskop kami. Namun, jarak planet kami ratusan juta tahun cahaya. Apa yang kami lihat saat ini ketika menatap tata surya itu adalah kondisinya ratusan juta tahun lalu.

Seandainya ...seandainya saja kami mampu dan mau memperingatkan mereka tentang masa depan yang akan mereka hadapi, mungkin mereka ... mungkin kalian ...

Aku segera menggenggam pisau yang diberikan Delila, pisau yang sama yang telah menusuk jantungnya dan juga membutakan mataku.

Akupun bangkit dan menantang makhluk itu.

“AKU TIDAK TAKUT PADAMU! MAJULAH!!!”

***

 

“Apa yang terjadi dengannya?” suster itu bertanya pada dokter yang tengah merawat Enricho. “Kenapa ia berteriak seperti itu?”

“Majulah Dagon! Aku sama sekali tidak takut!” seru Enricho.

“Halusinasinya lagi. Apa dia tidak meminum obatnya?” tanya dokter itu.

Suster itu membuka bantal yang tergeletak di kasur Enricho.

“Lihat ini, dia menyembunyikannya di sini. Sepertinya dia tidak meminumnya dalam waktu yang lama.”

“Pantas saja, obat-obat itu berfungsi untuk menekan halusinasinya.” kata dokter itu, “Mulai sekarang kita terpaksa menyuntikkan obat itu untuk menghindari kesalahan serupa. Siapkan dosis yang lebih tinggi.”

“Baik, Dokter. Tapi apa tidak sebaiknya kita menghubungi Dokter Aulia dulu?”

“Kenapa?” tanyanya.

“Ia suka mengamati halusinasi anak-anak ini. Dia menyebutnya apa, aku lupa ... 'All-Seeing'? Kurasa itu sebutannya. Menurutnya semua halusinasi mereka menunjukkan pola tertentu yang mungkin bisa membantu ...”

“Sudahlah, lupakan saja dokter gila itu! Dia terlalu mempercayai apa kata anak-anak ini secara harfiah. Memangnya dia apa, penulis novel? Mulai sekarang aku akan merawat anak-anak ini!”

“Ba ... baik, Dokter ...” suster itu tak mampu membantahnya.

 

BERSAMBUNG

 

2 comments:

  1. Kaya cerita di alkitab ya,samson dan delillah

    ReplyDelete
  2. Jangan pernah berenti upload ploss

    ReplyDelete