Sunday, April 6, 2014

URBAN LEGEND #4: INTERN TEACHER

 

INTERN TEACHER

GURU MAGANG

(Cerita ini adalah sebuah riddle)

 

Suatu hari seorang calon guru melakukan magang di sebuah SD di Jepang. Ini adalah kali pertamanya mengajar, sehingga ia merasa sangat gugup. Untunglah murid2nya sangat ramah dan dengan waktu cepat ia sudah merasa dekat dengan murid2nya.

Namun beberapa hari sebelum masa magangnya berakhir, salah seorang anak perempuan di kelasnya meninggal bersama kakak laki2nya. Mereka sedang tertidur di lantai dua saat api menelan rumah mereka. Hanya kedua orang tuanya dan adik mereka yang masih bayi yang tidur di lantai satu mereka menyelamatkan diri.

Teman2 sekelasnya shock dan menangis tersedu-sedu saat upacara pemakaman mereka. Setelah pemakaman, sang guru magang melihat-lihat lukisan yang dibuat oleh gadis itu sebagai tugas kelas seni. Temanya adalah keluarga. Di sana ia menggambar rumah dan keluarganya. Ia dan kakaknya sedang melambaikan tangannya dari jendela lantai dua. Sementara ayahnya sedang menggendong bayi mereka, bersama dengan ibunya yang sedang menyirami tanaman di halaman.

Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia. Sungguh sangat disayangkan.

URBAN LEGEND #3: THE MAID

 

THE MAID

SI PEMBANTU

 

Seorang pria sedang dalam perjalanan dinas ke luar kota ketika ia memutuskan untuk menghubungi istrinya di rumah lewat telepon. Ia terkejut ketika mendengar suara wanita yang tidak dikenalnya di telepon.

“Siapa kau?” tanya sang suami.

“Saya pembantu yang bekerja di rumah ini.” jawabnya.

“Kami tak punya pembantu di rumah kami.” kata sang suami dengan curiga.

“Saya baru saja mulai bekerja hari ini. Nyonya rumah yang memperkerjakan saya.”

“Dapatkah kamu memberikan telepon ini pada istriku?” pria itu semakin curiga.

“Beliau sedang beristirahat di kamarnya sekarang,” sang pembantu terdiam sebentar sebelum akhirnya ia melanjutkannya perkataannya kembali, “Saya pikir pria yang berada bersamanya di kamar tidur itu suaminya ...”

“Apa?!” sang suami terkejut. Sebuah akal kemudian muncul di kepalanya, “Apa kau mau uang 50 juta?”

“Apa yang anda inginkan untuk saya lakukan?” ia terdengar ragu-ragu, namun uang 50 juta terdengar sangat banyak untuknya.

“Ada pistol di laci meja telepon. Seharusnya pistol itu sudah terisi. Aku ingin kamu naik ke atas dan menembak mereka. Mengerti?”

“Ba...baik. Saya akan mencobanya.”

Sang pembantu pergi tanpa menutup teleponnya. Sang suami bisa mendengarnya menarik laci, melangkah naik ke atas, dan kemudian terdengar samar dua suara letusan tembakan sebelum akhirnya terdengar langkah kaki mendekat ke arah telepon.

“Halo?” tanya sang pembantu. Sang pria tersenyum dengan puas.

“Kau bekerja dengan sangat bagus. Jauh lebih bagus daripada dugaanku.”

“Terima kasih. Apa yang harus saya lakukan dengan jenazah mereka?”

“Pertanyaan bagus. Tenggelamkan saja mereka di kolam renang.”

“Kolam renang? Kolam renang yang mana? Rumah ini tidak memiliki kolam renang.”

Keduanya hanya terdiam.

URBAN LEGEND #2: GLASSES

 

GLASSES

KACA MATA

 

Aku baru berumur 7 tahun ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku sebuta kelelawar. Sebenarnya kelelawar tidaklah buta. Mereka memiliki penglihatan, namun sangat buruk. Seperti itulah kondisiku. Aku belum pernah mengikuti tes penglihatan sehingga aku beranggapan bahwa orang lain melihat sebagaimana aku melihat dunia. Aku hanya melihat bayangan-bayangan kabur, figur yang samar-samar, cukup untuk membuatku tidak menabrak mereka. TV bagiku adalah radio yang dilengkapi dengan permainan cahaya dan aku hanya bisa membedakan mainanku dari warna-warnanya. Ketika aku tak kunjung belajar membaca, orang tuaku membawaku ke rumah sakit dan akhirnya mengetahui kekuranganku.

Duniaku berubah selamanya ketika aku mendapat kacamata pertamaku.

Aku melihat segalanya! Aku melihat kamar dokter mata, dinding, langit-langit, tanganku, dan orang-orang yang ada di ruangan. Aku melihat ayah, ibu, dokter, dan para perawat. Dengan takjub aku melihat warna mata ayahku untuk pertama kalinya.

Namun untuk pertama kalinya pula aku masih melihat beberapa orang di ruangan tetaplah samar, gelap, dan kabur. Mereka ada banyak dan aku tahu mereka mengawasiku seperti aku mengawasi mereka.

Dan aku menyadari kaki mereka tak menyentuh tanah.

URBAN LEGEND #1: KAGOME KAGOME

 

KAGOME KAGOME

 

Note: Kagome Kagome adalah sebuah lagu yang mengiringi permainan tradisional Jepang. Dalam permainan ini, sekelompok anak (minimal 7) akan membentuk lingkaran dengan satu anak di tengah berperan sebagai “oni” atau “setan”. Anak tersebut akan ditutup matanya, kemudian teman2nya di sekelilingnya akan menyanyikan lagu “Kagome Kagome”. Setelah lagu tersebut selesai, anak tersebut harus menebak nama anak yang ada di belakangnya. Bila ia benar, maka anak itu akan digantikan oleh anak yang tertebak namanya tersebut, begitu seterusnya (sumber: wikipedia).

Kakak perempuanku datang ke rumahku untuk pertama kalinya sejak 3 tahun terakhir. Aku belum pernah melihat keponakanku, namun sepertinya ia telah tumbuh menjadi anak yang cerdas. Karena beberapa tanda lahir di wajah dan tubuhnya, ia tak memiliki banyak teman seumuran. Namun ia memiliki banyak tenaga untuk bermain dan ketika ia lelah, aku memutuskan untuk menyanyikannya sebuah lagu.

Kagome, Kagome

Ada burung di perut naga

Kapan? Kapan? Kapan ia akan keluar?

Bangau dan kura-kura, tergelincir saat malam sebelum fajar

Siapa di belakangmu?

“Hei, apa bibi tahu lagu ini sebenarnya tentang membunuh bayi dalam kandungan?”

Aku hanya terdiam karena tak menyangka ia akan mengatakan hal seperti itu. Keponakanku itu hanya menatapku, menunggu jawabanku.

“Maksudku ibu yang menyanyikan lagu ini ketika anaknya masih berada dalam perutnya sebenarnya ingin bayinya mati. Menyeramkan kan?” katanya lagi.

“Apa maksudmu aborsi?” aku tak begitu yakin anak sekecil itu sudah tahu makna kata itu, “Ya...itu memang menyeramkan.”

“Aborsi itu artinya ibu mengambil sebuah tongkat keras kemudian ditusukkan ke tempat bayi agar keluar dari perut. Setelah itu, bayinya akan dibuang ke tempat sampah.”

Astaga, pikirku. Darimana anak sekecil ini memiliki bayangan semengerikan itu? Apa yang kakakku ajarkan pada anak ini?

“Darimana kau belajar hal semacam itu?” tanyaku. Aku takut ia mendapatkannya dari teman-temannya.

“Bahkan di dalam perut mama, aku bisa mendengar dan merasakan ... Rasanya sakit sekali dan aku benar-benar takut. Aku menangis kalau ingat hal itu.”

Sejak saat itu aku benar-benar memperhatikan tanda-tanda lahir yang ada di sekujur tubuh keponakanku.

APRIL’S HORROR: 20 URBAN LEGEND DAN RIDDLE TERBARU

 
mirror

Bulan April ini admin akan memberikan urban2 legend dan riddle2 terbaru untuk merayakan keberhasilan blog admin bulan lalu. Jumlah postingan admin udah mencapai 600 posts dan jumlah likers di FB mencapai 300. Selain itu jumlah page visit admin pernah melonjak menjadi 5.000 page visit per hari (dari rata2 2.000 per hari) dan total page visit sejak blog ini diluncurkan mencapai 1,5 juta page visit. Wow! Tapi tenang saja, riddle2 yang akan admin berikan ini mudah2 dan tingkat kesulitannya masih di bawah riddle2 bulan Januari yang lalu. so, enjoy the riddles and be the first to solve it!

Saturday, April 5, 2014

PANDORA PART 06

 

Sekarang aku akan menjelaskan alasan mengapa kisah itu penting.

Pada kenyataannya, tradisi mengerikan itu tak bertahan lama. Orang-orang lama-lama meragukan tradisi tersebut hingga akhirnya kepercayaan itupun luntur. Akhirnya hubungan antara ibu dan anak berjalan seperti biasa seperti sekarang ini. Tradisi itupun akhirnya dilupakan.

Namun tetap ada dua kebiasaan yang masih bertahan hingga kini, yaitu kebiasaan memberikan “nama sesungguhnya” pada anak perempuan dan kebiasaan mewariskan meja rias untuk putrinya.

Suatu saat, seorang wanita bernama Yachiyo yang dibesarkan dengan cara ini, menikah dan memiliki keluarga normal. Seperti yang dilakukan ibunya kepadanya, Yachiyo memberikan nama tersembunyi pada putrinya, Yoshiko dan menyiapkan sebuah meja rias untuknya.

Keluarga itu hidup dengan damai, hingga Yoshiyo berumur sepuluh. Dan terjadilah peristiwa itu.

Suatu hari Yachiyo pergi mengunjungi orang tuanya, meninggalkan Yoshiko di rumah bersama suaminya. Ia pulang larut malam dan ketika ia tiba di rumah, ia menemukan sesuatu yang sangat mengerikan.

Yoshiko telah tewas. Kuku-kuku dan giginya telah tercabut. Darah berceceran dimana-mana.

Yachiyo mencari ke seluruh rumah dan menemukan serpihan kertas bertuliskan nama tersembunyi Yoshiyo di lantai. Kuku dan gigi Yoshiyo berserakan di meja rias putrinya.

Suaminya tak ada dimanapun.

Yachiyo hanya bisa menangis sambil memeluk jenazah putrinya. Tetangga yang mendengar tangisan Yachiyo datang dan berusaha membantunya. Ada yang berinisiatif menghubungi orang tua Yachiyo, sementara ada pula yang berusaha mencari suaminya.

Namun tak ada yang menemani Yachiyo.

Malam itu, Yachiyo memutuskan untuk bunuh diri di samping jenazah anaknya. Ia menyayat kedua pergelangan tangannya dengan pisau.

Ketika orang tua Yachiyo mendengar kabar kematian cucu mereka, reaksinya mereka sungguh dingin.

“Aku pikir aku tahu apa yang terjadi,” kata ibu Yachiyo, “Yoshiko pasti mendengar tentang ritual itu dari Yachiyo dan memutuskan untuk mencobanya sendiri. Yachiyo pasti tak menceritakannya dengan lengkap sehingga ia hanya menangkap bagian-bagian tertentu saja. Kemudian, ia menunggu hingga berumur 10 tahun untuk melakukannya.”

Ketika orang tua Yachiyo datang ke rumah malam itu, mereka menemukan Yachiyo juga telah tewas. Para tetangga merasa shock.

Orang tuanya segera memerintahkan, “Tak ada yang boleh masuk ke dalam rumah sebelum kami pergi.” Setelah berkata seperti itu, merekapun masuk.

Setelah berada di dalam selama beberapa jam, mereka akhirnya keluar. “Kami akan mengadakan upacara pemakaman. Kalian tak perlu mencari suaminya. Kalian akan mengerti segera.” mereka lalu memaksa para tetangga untuk pulang kembali ke rumah mereka.

Suaminya tetap menghilang selama beberapa hari. Namun suatu hari, ia ditemukan tewas di depan rumah mereka. Ketika ia ditemukan, segumpal rambut hitam yang panjang ditemukan tersumpal di mulutnya.

Para tetangga Yachiyo menanyakan pada orang tua Yachiyo mengapa ini terjadi.

“Siapapun yang masuk ke dalam rumah Yachiyo akan berakhir seperti ini,” ibunya berkata, “Rumah ini telah dikutuk. Siapapun, tolong jangan pernah masuk ke dalam rumah ini lagi!”

Sejak itu rumah tersebut menjadi semacam kuil untuk mengenang Yachiyo dan Yoshiko dan dibiarkan apa adanya. Selama bertahun-tahun, masyarakat mengikuti larangan orang tua Yachiyo untuk tidak memasukinya dan rumah itupun tak pernah tersentuh lagi.

Hingga akhirnya, rumah itu dirubuhkan karena mulai meresahkan. Namun di dalamnya mereka menemukan benda itu. Benda yang sama seperti yang kami lihat.

Meja rias dan rambut.

Mengetahui bahwa benda-benda itu mengandung kutukan, warga pun berinisiatif memindahkannya. Mereka membangun sebuah rumah baru yang sama persis dengan rumah Yachiyo di luar kota, di tempat yang jarang dikunjungi. Mereka meletakkan meja rias dan rambut itu di dalamnya dan mereka sengaja membuat dinding di pintu rumah itu. Tentu agar tak ada seorangpun yang masuk dan terkena kutukannya.

Hanya itulah penjelasan mengenai apa yang kami lihat. Dua meja rias dan rambut itu masing-masing milik Yachiyo dan Yoshiko.

Namun cerita ini tak berakhir sampai di sini.

 

TO BE CONTINUED

Saturday, March 29, 2014

PANDORA PART 05

 

Di keluarga tertentu di Jepang, seorang ibu akan meneruskan tiga tradisi kepada putri mereka. Biarkan kujelaskan mengenai tradisi-tradisi itu.

Pertama, anak perempuan adalah milik ibu mereka dan akan diperlakukan seperti itu. Jika seorang wanita melahirkan dua atau tiga anak perempuan, ia akan memilih salah satunya untuk menjadi “miliknya”. Putri yang terpilih ini akan diberikan dua nama, salah satunya adalah nama aslinya. Nama asli itu tak diketahui oleh siapapun, kecuali ibunya.