Haloooo ... balik lagi ke postingan arsitektur. Gue kali ini pengen membahas arsitektur Islam gara2 membaca postingan keren di skyscrapercity, sebuah forum diskusi penggemar arsitektur. Gue sendiri pernah membahas tentang arsitektur Moorish Revival di salah satu postingan gue di blog, namun gue akuin emang kurang rinci. Arsitektur Moorish Revival sesuai namanya, merupakan kebangkitan arsitektur Moorish. Arsitektur Moorish sendiri adalah gaya arsitektur yang dikembangkan oleh koloni Muslim (yang saat itu disebut kaum “Moor”) ketika mereka menduduki sebagian wilayah Eropa di Semenanjung Iberia (sekarang wilayah Spanyol dan Portugal) pada abad kedelapan Masehi. Perkembangan gaya Moorish tak terhenti setelah kaum Muslim hengkang dari Eropa sekitar abad ke-15. Pada pertengahan abad ke-19, Bangsa Barat yang mulai bosan dengan gaya arsitektur Eropa mulai melirik gaya Timur yang lebih eksotik, salah satunya adalah gaya Moorish ini. Akhirnya kebangkitan gaya arsitektur Moorish ini pada abad ke-19 itulah yang kini dikenal dengan Moorish-Revival.
Secara umum, gaya Moorish Revival memiliki ciri2 berupa:
1. Adanya lengkung tapal kuda (horse-shoe arch) yang menghubungkan kedua pilarnya.
Variasi dari lengkung tapal kuda adalah cusped arch.
2. Detail dekorasi bersifat non-figuratif karena ajaran Islam melarang penggambaran hewan ataupun manusia. Detail dekorasi yang diperbolehkan bertema geometris maupun floral (tumbuhan). Gaya Moorish yang asli banyak menggunakan pula dekorasi berupa kaligrafi Arab, namun pada gaya Moorish-Revival ciri tersebut dihilangkan.
3. Adanya muqarnas atau hiasan pada langit-langit yang berbentuk seperti sarang lebah (ada pula yang melihatnya serupa stalaktit).
4. Penggunaan warna berseling ataupun warna2 yang mencolok.
Berikut ini 10 contoh bangunan sekuler (non-religius) yang memiliki gaya arsitektur Islam berupa Moorish-Revival
1. Arab Room (Porto, Portugal)
Mungkin nggak terbayang ya ruangan seindah ini terdapat di sebuah gedung bursa saham. The Palacio de Bolsa (Stock Exchange Palace) dibangun pada 1850 dengan fasad eksterior bergaya Neo-klasik ala Eropa. Namun bangunan yang kini menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO ini lebih terkenal karena keberadaan Arab Room yang diarsiteki Gustavo Adolfo Gonçalves e Sousa. Ruangan yang biasa dimanfaatkan sebagai gedung resepsi dan tempat jamuan makan ini dibuat dengan gaya Moorish Revival yang eksotik dengan hiasan2 bertema vegetal (tumbuhan).
Portugal pernah menjadi wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam bersama dengan Spanyol, maka tak heran gaya arsitektur Moorish Revival sangat digemari di sini. Salah satu contohnya adalah sebuah gedung tua di Porto ini.
Gedung lain yang memiliki gaya arsitektur hampir sama, namun teletak di Prancis adalah Le Casamaure yang berada di kota Grenolbe.
2. Yenidze (Dresden, Jerman)
Sekilas mirip sebuah masjid, namun bangunan ini sebenarnya adalah pabrik tembakau dan cerutu bermerk “Yenidze” yang dirancang oleh arsitek Martin Hammitzsch pada tahun 1907 – 1909. Tak heran bangunan bergaya campuran Moorish Revival dan Art Nouveau (Jugendstil) ini disebut oleh warga setempat sebagai “Tobacco Mosque”. Uniknya, bangunan ini memiliki kubah yang terbuat dari kaca dan cerobong pabrik disamarkan sebagai minaret (menara) yang indah. Bagian atapnya dahulu memiliki tulisan “Salem Aleikum” (May Peace be with you) yang sayangnya hancur bersama bagian2 lain gedung bersejarah ini saat Perang Dunia II. Bangunan ini telah direkonstruksi pada 1980-an dan kini berubah fungsi menjadi perkantoran dan restoran.
3. Brcko Town Hall (Brhcko, Serbia) dan Vijecnica (Sarajevo, Bosnia)
Kedua bangunan ini gue masukkan ke dalam satu list karena sama2 merupakan bangunan balai kota yang berada di negara2 Eropa Timur yang bertetangga. Balai kota Brcko (yang gue sendiri nggak tau cara pengucapannya) ini didesain oleh Ciril Metod Ivekovich dan dibangun pada 1892.
Sedangkan Vijećnica adalah balai kota sekaligus simbol kota Sarajevo yang dibangun pada abad ke-19, dimana negara ini masih dalam kekuasaan Kerajaan Prussia. Gayanya disebut pseudo-Moorish dan memang cocok diterapkan di negara Bosnia Herzegovina yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Arsiteknya, Alexander Wittek, sempat berkelana hingga Kairo dan mempelajari monumen berarsitektur Islam demi mendapatkan ilham desain bangunan balai kota ini.
Pada 20 April 1896, sebuah peristiwa bersejarah sekaligus tragis terjadi di sini ketika Pangeran Franz Ferdinand dan istrinya yang kala itu tengah mengandung, Sophie, ditembak mati oleh assasin bernama Gavrilo Princip ketika mengadakan lawatan ke balai kota ini. Peristiwa ini kemudian memicu peristiwa Perang Dunia I. Pada 1992, gedung bersejarah ini hancur akibat Perang Bosnia dan dibangun kembali serupa bentuk aslinya pada 1996-2014.
4. Mohammed VI Center for Dialogue of Civilization (Coquimbo, Chile)
Bangunan ini gue masukkan ke dalam list bangunan sekuler sebab fungsinya tak hanya sebagai masjid (yang hanya memakan sebagian kecil ruang dari gedung ini), namun sebagai tempat berdialog untuk mendorong keterbukaan dan saling pengertian antaragama dan kebudayaan yang berbeda. Kegiatan yang dilakukan di bangunan yang terletak di Amerika Selatan ini antara lain book fair, pemutaran film dokumenter, pertunjukan musik, dan konferensi. Tak hanya menjadi jembatan bagi komunitas Muslim dan Katolik saja, namun dialog di gedung ini juga merangkul komunitas Yahudi.
5. Rio Piedras State Penitentiary (Rio Piedras, Puerto Rico)
Satu-satunya bangunan penjara di list ini, Río Piedras State Penitentiary atau disebut juga Oso Blanco (“Beruang Putih”) karena bentuknya yang menyerupai benteng, didirikan pada 1933. Gedung rancangan Francisco Roldán ini sangat unik, bahkan mungkin hanya satu-satunya di dunia, sebab menggabungkan dua gaya yang sekilas tak berkaitan, yakni neo-Moorish dengan art- deco. Gaya neo-Moorish sengaja dipilih karena keberadaan patio (taman atau lapangan di dalam kompleks) merupakan warisan arsitektur Islam. Sayangnya, pada 2004, penjara ini ditutup dan pada 2014, pemerintah berniat merubuhkannya, walaupun ditentang oleh serikat arsitek Puerto Rico. Keunikan lain penjara ini adalah adanya kutipan dari Concepción Arenal di pintu masuknya, seorang feminis dan sosiolog asal Spanyol yang berbunyi: “Bencilah kejahatannya, namun kasihilah penjahatnya.”
6. Rocchetta Matei (Bologna, Italia)
“Rocchetta” dalam bahasa Italia berarti “istana kecil” dan memang cocok diterapkan untuk kastil ini. Istana unik bergaya campuran Medieval ala abad pertengahan dan Moorish ini dibangun antara 1850-1859 oleh Count Cesare Mattei.
7. Moorish Kiosk (Bavaria, Jerman)
Moorish Kiosk adalah bangunan kecil yang sengaja dibangun untuk International exhibition di Paris 1867 untuk mewakili Jerman. Setelah ekshibisi usai, bangunan ini kemudian dipindahkan ke lokasinya sekarang di Taman Linderhof Castle (yang juga memiliki sebuah masjid di dalamnya). Salah satu pesona dari interiornya adalah adalah “peacock throne” atau “tahta merak” yang penuh warna. Ini membuktikan sentuhan Eropa dalam gaya Moorish Revival, sebab penggambaran figur hewan jelas dilarang dalam seni Islam.
8. Villa Crespi (Lake Orta, Italia)
Terletak di tepi Danau Orta yang indah, villa bergaya Moorish ini dibangun pada 1879. Kini bangunan bersejarah ini dialihfungsikan menjadi hotel dan restoran dengan tetap mempertahankan keindahan interior Moorish-nya yang membanggakan.
9. Arab Room (Wales, UK)
Hampir sama dengan Arab Room yang ada di list pertama, Arab Room di sini adalah sebuah ruangan bergaya Moorish Revival yang terletak di Cardiff Castle, sebuah kastil yang berdiri sejak abad ke-11. Arab Room sendiri dirancang pada 1880-an oleh arsitek William Burges. Detail atapnya yang mencengangkan mengingatkan kita pada kubah Masjid Agung Cordoba yang berada di Spanyol.
10. Castle of Sammezzano (Tuscany, Italia)
Bisa gue bilang sebagai bangunan terindah di list ini, Kastil Samezzanno sudah ada sejak 1605, namun kemudian direnovasi dengan gaya Moorish Revival pada 1853-1889. Istana dengan 365 kamar ini sempat menjadi hotel pada era Pasca-Perang Dunia II, namun akhirnya ditutup hingga kini. Pada 2012 diwacanakan usaha untuk merestorasi tempat dengan interior menakjubkan ini untuk mengembalikannya ke puncak kejayaannya.
BONUS:
Royal Pavillion (Brighton, UK)
Royal Pavilion merupakan kediaman keluarga kerajaan yang dibangun pada 1787 sebagai rumah peristirahatan bagi Pangeran Goerge yang kala itu menyandang gelar Prince of Wales. Pada 1815-1822, desainer bernama John Nash ditugaskan merestorasi bangunan ini dengan gaya Timur yang eksotik. Gedung ini kemudian direnovasi dengan gaya Islam, lebih tepatnya Indo-Saracenic yang berasal dari India. Selama Perang Dunia I. Gedung ini sempat beralih fungsi menjadi rumah sakit militer. Untuk mewadahi kebutuhan tentara2 India yang berbeda keyakinan, hingga 9 dapur didirikan agar tiap makanan bisa dimakan sesuai dengan persyaratan agama mereka. Tak hanya itu, sebuah masjid juga pernah berdiri di sini untuk tempat beribadah bagi tentara Muslim.
No comments:
Post a Comment