AWAL YANG BARU
NB: cerita ini adalah fan
fiction Gundala dari komik yang pernah terkenal pada era 80-an. Saya tak
memegang hak cipta atas tokoh ini.
Balapan
motor itupun dimulai. Jalanan Yogya tidaklah seramai Jakarta atau Bandung.
Ketika malam semakin larut, jalanan kosong dan diisi para pembalap jalanan.
Pemuda itu mengenakan helmnya, sementara yang lain tengah bertaruh atas
namanya.
“Siapa
namamu?” ujar pria yang menunggang motor di sampingnya.
“Kanigara!”
jawabnya sembari bersiap menancap gas.
“Sok
keren.” Ia mencemooh penampilannya, “Sampai jumpa di garis finish, Kanigara. Di
belakangku!” dia tertawa.
Pemuda
itu tak menghiraukannya.
Seorang
gadis cantik berpakaian minim muncul di tengah garis start (“cabe-cabean”
begitu anak muda sekarang menyebutnya). Enam orang bersiap untuk memacu
motornya begitu peluit tanda perlombaan dibunyikan.
Namun
perlombaan itu justru diiringi suara sirine polisi dimana-mana. Para penonton
segera berlarian, sementara para polisi dan pamong praja bergabung menggrebek
balapan liar.
Keenam
pembalap itu cukup beruntung sudah berada di atas motor dan segera melesat jauh
meninggalkan arena itu. Kanigara melihat “cabe-cabean” yang tadi berada di
garis start melambaikan bendera sudah ditangkap polisi.
“Sayang
sekali,” bisiknya di dalam helm. Iapun kembali berkonsentrasi pada motornya.
Ia
berhasil melewati beberapa motor dan berada di barisan paling depan. Ia
melongok spionnya lagi dan kali ini ada moge polisi melaju ke arahnya.
“Ah,
sial!”
Ia
memacu motornya lebih keras dan melihat sebuah motor lain mendahuluinya.
“Sudah
kubilang kau akan terus di belakangku!” serunya sambil tertawa di balik
helmnya.
“Kurang
ajar!” makinya, “Balapannya kan sudah batal!”
Tiba-tiba
suara klakson yang amat keras terdengar dari arah depannya. Ia baru menyadari,
mereka tiba di perlintasan jalan dan sebuah truk entah darimana muncul
menghadang mereka.
“Sial!!!”
pemuda itu berusaha menghentikan motornya secara mendadak. Akibatnya motornya
terjatuh dan ia terseret, menabrak kios di pinggir jalan.
Pemuda
itu jatuh berguling-guling di atas aspal. Namun didengarnya bunyi yang lebih
keras meraung dari arah jalan.
Ia
mendongak dan menyaksikan dengan ngeri ketika truk itu terguling (sepertinya
sopirnya melakukan hal yang sama, yakni mengerem secara mendadak dan membanting
setir). Truk beserta peti muatannya itu meluncur tepat ke arah moge-moge milik
polisi yang tengah mengejarnya.
Motor-motor
itu berusaha menghentikan laju mereka, namun terlambat. Beberapa dari mereka
terguling dan tak dapat menghentikan kecepatan mereka.
Pemuda
itu segera bergerak cepat, berusaha menghentikan peti raksasa itu sebelum
melindas tubuh para polisi itu hingga gepeng.
Pemuda
itu meluncur di atas aspal dan menghentikan laju peti itu.
Ya,
dia berada di antara para polisi dan peti itu. Dengan telapak tangannya yang
teracung ke depan, ia berusaha menahan peti yang beratnya berton-ton itu.
Dan
berhasil.
Kakinya
terdorong mundur, meninggalkan jejak terbakar di atas aspal akibat gaya
geseknya. Ia mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghentikan peti itu hingga
akhirnya tertahan tak bergerak.
Ia
menunduk lelah, namun kemudian ia tersadar, para polisi yang tadi ditolongnya
masih melongo menyaksikan peti kemas di depan mereka penyok membentuk bekas
telapak tangannya. Iapun segera melarikan diri.
Untunglah
tadi ia masih mengenakan helm, sehingga tak ada siapapun yang menyadari
identitasnya.
Dan
apa yang mampu ia lakukan.
***
Dari
kejauhan, sosok berjubah tengah melayang di udara, mengamatinya. Sepeda motor
yang tadi ia gunakan bersama helmnya teronggok di pinggir jalan. Ia-lah
pembalap yang tadi melaju mendahului Kanigara.
Ia
memunculkan hologram untuk mendiskusikan penemuannya.
“Kau
benar, rupanya memang ada manusia berkekuatan adidaya lain di sini.”
“Apa yang akan kau lakukan
sekarang?”
tanya hologram itu.
Ia
menyilangkan tangannya di dada, menatap pemuda itu dari ketinggian ketika ia
menegakkan motornya kembali lalu melarikan diri dengannya. Sepertinya ia sama
sekali tak menyadari kehadiran Godam.
“Tak ada, sepertinya ia bukan
ancaman. Namun, besar kemungkinan ia bukanlah sosok bersayap metalik yang
pernah kulihat itu. Apa ia pemilik Inti Atom juga?”
“Bukan,
aku tak merasakannya.”
“Padahal
saat kau mengatakan bahwa ada manusia adidaya lainnya di Yogya, aku sempat
berpikir itu adalah ...”
“Gundala sudah tak ada di dunia
ini. Aku tak bisa merasakan lagi kehadirannya.”
Hati
Godam merasa pedih mendengarnya. Tak ada lagi di dunia ini? Apa itu maksudnya?
Apa itu artinya dia sudah ....
“Kau harus merelakannya.”
“Yah,”
bisiknya, “Mungkin memang inilah saatnya untuk memulai lembaran baru.”
***
Lubang
hitam itu membuka dan menjatuhkan Gadriel ke tanah.
“Aaaargh,”
pria berseragam hijau itu berusaha bangun, “Dimana manusia petir keparat itu?
Apa kami terpisah? Semoga saja ia sudah menemui ajalnya di neraka!”
Tiba-tiba
ia merasakan kekuatan yang amat besar tengah menuju ke arahnya.
“Siapa
di situ?” ia langsung melancarkan serangan fusi termonuklirnya ke arah lawan
yang tak kelihatan itu. Namun dengan mudah, serangan bom hidrogen itu
ditepisnya.
“A ...
apa?” ia terperangah melihat serangannya itu dengan mudah dihalau. “Siapa kau?”
Sosok
itu membuka sayap metalik yang tadi melindunginya dari serangan tersebut.
“Apa kau Sang Pemunah?” tanyanya dari balik topeng
logam yang ia kenakan.
“Apa
yang kau bicarakan?” balas Gadriel.
Sosok
bersayap itu menatapnya, lalu tersenyum sinis.
“Mustahil
kau adalah Sang Pemunah. Kekuatanmu amatlah lemah. Namun jika aku tak salah
tebak, kau-lah yang mengirim UFO untuk mengekstrak kobalt di Antartika kala
itu.”
“Kau
...” ucapnya geram, “Jadi kau yang menghancurkan pesawatku dan menggagalkan
rencanaku?”
“Kalau
begitu kusimpulkan bahwa kau adalah gangguan bagi planet ini.” tangannya segera
memancarkan cahaya, “Musnahlah!”
“A ...
apa?! Te ... tenaga ini ...”
Matanya
membelalak tak percaya ketika merasakan kekuatannya sendiri tengah mengarah ke
dirinya.
“Kau
mampu membalik seranganku?”
Gadriel
langsung menyadari bahwa ia bukanlah tandingannya. Ia segera berusaha melarikan
diri, namun serangan bom hidrogen itu keburu diluncurkan ke arahnya dan ...
“BLAAAAAAR!!!”
Tubuhnya
segera hangus, teronggok menjadi debu.
Pemuda
itu mengepakkan sayapnya, menciptakan hembusan angin yang segera
menceraiberaikan abu itu, meniupnya hingga habis ke angkasa.
“Dasar
alien tak berguna.” cibirnya.
“Kau menyinggungku. Aku juga
adalah seorang alien.” sosok
hologram muncul di sampingnya, “Wahai
Sembrani!”
“Huh,
aku tak suka nama itu. Kenapa kau harus menamaiku seperti itu, Othorb?” pemuda bersayap itu menoleh.
“Perlu aku ingatkan bahwa
misimu di sini belum selesai. Sang Pemunah belumlah ditemukan.”
“Mungkin
jika kau memperjelas siapa dia, pasti misi kita akan lebih mudah kulaksanakan.”
balasnya kesal.
“Namun kau kini satu langkah
lebih dekat untuk menemukannya. Lihatlah!”
Mata
Sembrani, superhero bersayap metalik itu berbinar.
Abu Gadriel
yang habis karena tertiup angin ternyata meninggalkan sebuah kristal di
dasarnya yang tak ikut hancur oleh serangannya.
“Itu adalah sebuah Inti Atom.
Batu Zirconium.”
“Jika
benar katamu bahwa Sang Pemunah juga membawa Inti Atom sebagai sumber
kekuatannya,” dengan memakai telekinesis, ia mengangkat batu kristal itu ke
tangannya, “maka inti atom seharusnya akan saling tarik menarik dan kita akan
dengan mudah menemukannya.”
“Namun aku peringatkan, tak
hanya Sang Pemunah yang memiliki inti atom di planet ini. Ada manusia-manusia adidaya
lain yang memilikinya. Dan kita tidak tahu, siapa di antara mereka yang menjadi
incaran kita.”
“Tak
masalah,” pemuda itu menyunggingkan senyum sembari menggenggam kristal itu
erat-erat, “Jika berani menghalangiku, biar kulenyapkan saja mereka semua dari
muka Bumi ini.”
BERSAMBUNG
No comments:
Post a Comment