Monday, March 31, 2025

GUNDALA: PATRIOT – CHAPTER 1

 


AWAL YANG BARU

 

NB: cerita ini adalah fan fiction Gundala dari komik yang pernah terkenal pada era 80-an. Saya tak memegang hak cipta atas tokoh ini.

 

Balapan motor itupun dimulai. Jalanan Yogya tidaklah seramai Jakarta atau Bandung. Ketika malam semakin larut, jalanan kosong dan diisi para pembalap jalanan. Pemuda itu mengenakan helmnya, sementara yang lain tengah bertaruh atas namanya.

“Siapa namamu?” ujar pria yang menunggang motor di sampingnya.

“Kanigara!” jawabnya sembari bersiap menancap gas.

“Sok keren.” Ia mencemooh penampilannya, “Sampai jumpa di garis finish, Kanigara. Di belakangku!” dia tertawa.

Pemuda itu tak menghiraukannya.

Seorang gadis cantik berpakaian minim muncul di tengah garis start (“cabe-cabean” begitu anak muda sekarang menyebutnya). Enam orang bersiap untuk memacu motornya begitu peluit tanda perlombaan dibunyikan.

Namun perlombaan itu justru diiringi suara sirine polisi dimana-mana. Para penonton segera berlarian, sementara para polisi dan pamong praja bergabung menggrebek balapan liar.

Keenam pembalap itu cukup beruntung sudah berada di atas motor dan segera melesat jauh meninggalkan arena itu. Kanigara melihat “cabe-cabean” yang tadi berada di garis start melambaikan bendera sudah ditangkap polisi.

“Sayang sekali,” bisiknya di dalam helm. Iapun kembali berkonsentrasi pada motornya.

Ia berhasil melewati beberapa motor dan berada di barisan paling depan. Ia melongok spionnya lagi dan kali ini ada moge polisi melaju ke arahnya.

“Ah, sial!”

Ia memacu motornya lebih keras dan melihat sebuah motor lain mendahuluinya.

“Sudah kubilang kau akan terus di belakangku!” serunya sambil tertawa di balik helmnya.

“Kurang ajar!” makinya, “Balapannya kan sudah batal!”

Tiba-tiba suara klakson yang amat keras terdengar dari arah depannya. Ia baru menyadari, mereka tiba di perlintasan jalan dan sebuah truk entah darimana muncul menghadang mereka.

“Sial!!!” pemuda itu berusaha menghentikan motornya secara mendadak. Akibatnya motornya terjatuh dan ia terseret, menabrak kios di pinggir jalan.

Pemuda itu jatuh berguling-guling di atas aspal. Namun didengarnya bunyi yang lebih keras meraung dari arah jalan.

Ia mendongak dan menyaksikan dengan ngeri ketika truk itu terguling (sepertinya sopirnya melakukan hal yang sama, yakni mengerem secara mendadak dan membanting setir). Truk beserta peti muatannya itu meluncur tepat ke arah moge-moge milik polisi yang tengah mengejarnya.

Motor-motor itu berusaha menghentikan laju mereka, namun terlambat. Beberapa dari mereka terguling dan tak dapat menghentikan kecepatan mereka.

Pemuda itu segera bergerak cepat, berusaha menghentikan peti raksasa itu sebelum melindas tubuh para polisi itu hingga gepeng.

Pemuda itu meluncur di atas aspal dan menghentikan laju peti itu.

Ya, dia berada di antara para polisi dan peti itu. Dengan telapak tangannya yang teracung ke depan, ia berusaha menahan peti yang beratnya berton-ton itu.

Dan berhasil.

Kakinya terdorong mundur, meninggalkan jejak terbakar di atas aspal akibat gaya geseknya. Ia mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghentikan peti itu hingga akhirnya tertahan tak bergerak.

Ia menunduk lelah, namun kemudian ia tersadar, para polisi yang tadi ditolongnya masih melongo menyaksikan peti kemas di depan mereka penyok membentuk bekas telapak tangannya. Iapun segera melarikan diri.

Untunglah tadi ia masih mengenakan helm, sehingga tak ada siapapun yang menyadari identitasnya.

Dan apa yang mampu ia lakukan.

***

 

Dari kejauhan, sosok berjubah tengah melayang di udara, mengamatinya. Sepeda motor yang tadi ia gunakan bersama helmnya teronggok di pinggir jalan. Ia-lah pembalap yang tadi melaju mendahului Kanigara.

Ia memunculkan hologram untuk mendiskusikan penemuannya.

“Kau benar, rupanya memang ada manusia berkekuatan adidaya lain di sini.”

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya hologram itu.

Ia menyilangkan tangannya di dada, menatap pemuda itu dari ketinggian ketika ia menegakkan motornya kembali lalu melarikan diri dengannya. Sepertinya ia sama sekali tak menyadari kehadiran Godam.

“Tak ada, sepertinya ia bukan ancaman. Namun, besar kemungkinan ia bukanlah sosok bersayap metalik yang pernah kulihat itu. Apa ia pemilik Inti Atom juga?”

“Bukan, aku tak merasakannya.”

“Padahal saat kau mengatakan bahwa ada manusia adidaya lainnya di Yogya, aku sempat berpikir itu adalah ...”

“Gundala sudah tak ada di dunia ini. Aku tak bisa merasakan lagi kehadirannya.”

Hati Godam merasa pedih mendengarnya. Tak ada lagi di dunia ini? Apa itu maksudnya? Apa itu artinya dia sudah ....

“Kau harus merelakannya.”

“Yah,” bisiknya, “Mungkin memang inilah saatnya untuk memulai lembaran baru.”

***

 

Lubang hitam itu membuka dan menjatuhkan Gadriel ke tanah.

“Aaaargh,” pria berseragam hijau itu berusaha bangun, “Dimana manusia petir keparat itu? Apa kami terpisah? Semoga saja ia sudah menemui ajalnya di neraka!”

Tiba-tiba ia merasakan kekuatan yang amat besar tengah menuju ke arahnya.

“Siapa di situ?” ia langsung melancarkan serangan fusi termonuklirnya ke arah lawan yang tak kelihatan itu. Namun dengan mudah, serangan bom hidrogen itu ditepisnya.

“A ... apa?” ia terperangah melihat serangannya itu dengan mudah dihalau. “Siapa kau?”

Sosok itu membuka sayap metalik yang tadi melindunginya dari serangan tersebut.

“Apa kau Sang Pemunah?” tanyanya dari balik topeng logam yang ia kenakan.

“Apa yang kau bicarakan?” balas Gadriel.

Sosok bersayap itu menatapnya, lalu tersenyum sinis.

“Mustahil kau adalah Sang Pemunah. Kekuatanmu amatlah lemah. Namun jika aku tak salah tebak, kau-lah yang mengirim UFO untuk mengekstrak kobalt di Antartika kala itu.”

“Kau ...” ucapnya geram, “Jadi kau yang menghancurkan pesawatku dan menggagalkan rencanaku?”

“Kalau begitu kusimpulkan bahwa kau adalah gangguan bagi planet ini.” tangannya segera memancarkan cahaya, “Musnahlah!”

“A ... apa?! Te ... tenaga ini ...”

Matanya membelalak tak percaya ketika merasakan kekuatannya sendiri tengah mengarah ke dirinya.

“Kau mampu membalik seranganku?”

Gadriel langsung menyadari bahwa ia bukanlah tandingannya. Ia segera berusaha melarikan diri, namun serangan bom hidrogen itu keburu diluncurkan ke arahnya dan ...

“BLAAAAAAR!!!”

Tubuhnya segera hangus, teronggok menjadi debu.

Pemuda itu mengepakkan sayapnya, menciptakan hembusan angin yang segera menceraiberaikan abu itu, meniupnya hingga habis ke angkasa.

“Dasar alien tak berguna.” cibirnya.

“Kau menyinggungku. Aku juga adalah seorang alien.” sosok hologram muncul di sampingnya, “Wahai Sembrani!”

“Huh, aku tak suka nama itu. Kenapa kau harus menamaiku seperti itu, Othorb?”  pemuda bersayap itu menoleh.

“Perlu aku ingatkan bahwa misimu di sini belum selesai. Sang Pemunah belumlah ditemukan.”

“Mungkin jika kau memperjelas siapa dia, pasti misi kita akan lebih mudah kulaksanakan.” balasnya kesal.

“Namun kau kini satu langkah lebih dekat untuk menemukannya. Lihatlah!”

Mata Sembrani, superhero bersayap metalik itu berbinar.

Abu Gadriel yang habis karena tertiup angin ternyata meninggalkan sebuah kristal di dasarnya yang tak ikut hancur oleh serangannya.

“Itu adalah sebuah Inti Atom. Batu Zirconium.”

“Jika benar katamu bahwa Sang Pemunah juga membawa Inti Atom sebagai sumber kekuatannya,” dengan memakai telekinesis, ia mengangkat batu kristal itu ke tangannya, “maka inti atom seharusnya akan saling tarik menarik dan kita akan dengan mudah menemukannya.”

“Namun aku peringatkan, tak hanya Sang Pemunah yang memiliki inti atom di planet ini. Ada manusia-manusia adidaya lain yang memilikinya. Dan kita tidak tahu, siapa di antara mereka yang menjadi incaran kita.”

“Tak masalah,” pemuda itu menyunggingkan senyum sembari menggenggam kristal itu erat-erat, “Jika berani menghalangiku, biar kulenyapkan saja mereka semua dari muka Bumi ini.”


BERSAMBUNG

 

No comments:

Post a Comment