Monday, November 28, 2016

SCP PARK: BEAST PROTOCOL – CHAPTER 2

 

SECURE CONTAIN PROTECT VS LEAGUE OF CREEPYPASTA

WHICH SIDE YOU’RE ON?

 

“It’s scary what a smile can hide.”

– Anonymous

 

LOKASI: SEBUAH PULAU RAHASIA DI LAUTAN PASIFIK

“Semua wisatawan diharapkan untuk mengelilingi SCP Park secara berkelompok. Kami akan menyediakan pemandu wisata, jadi sebaiknya anda berkumpul membentuk grup.”

Terdengar pengumuman melalui speaker di atas mereka.

“Kurasa itu berarti kita harus tetap bersama.” ujar Rigel. Quinn yang saat itu sedang bersama Holden mengangguk.

“Bisakah aku bergabung dengan kalian?”

Quinn menoleh dan melihat Toby tengah tersenyum. Pemuda ini lagi, pikirnya. Apa maunya?

Namun sebelum Quinn menyahut, Rigel keburu menjawab, “Tentu saja boleh. Silakan bergabung.”

“Bagaimana cara kita berkeliling? Tempat ini amat luas?” tanya Quinn.

“Hei, kalian!” teriak seseorang dari atas sebuah mobil listrik. “Kalian belum dapat kelompok kan? Ayo!”

***

 

Seorang pemuda berseragam petugas keamanan mengawasi para pengunjung yang baru saja memasuki SCP Park. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda. Ia merasa khawatir dengan keamanan mereka. Bagaimana jika tragedi sebulan lalu terulang kembali?

“Apa yang kaupikirkan, Letnan Dragan?”

Ia menoleh pada gadis berseragam ilmuwan yang baru saja berbicara dengannya.

“Dr. Lethe Athena,” bisiknya. Nama ‘Lethe’ dalam mitologi Yunani adalah nama sungai di Tartarus, dunia orang mati, yang airnya harus diminum oleh jiwa-jiwa yang baru datang agar mereka melupakan masa lalu mereka ketika masih hidup. Sungguh suatu kebetulan, karena gadis berkebangsaan Yunani itu merupakan dokter ahli amnesiac yang bekerja untuk SCP.

“Kalian seharusnya membatasi usia para pengunjung SCP Park ini.” ujar pemuda itu. “Ada anak kecil di sini. Bagaimana jika ...”

“Keamanan adalah tugasmu, Letnan.” gadis itu menjawab. “Lagipula, semua koleksi yang kita tunjukkan berkelas Safe, jadi kurasa takkan ada masalah.”

“Namun ...”

“Lakukan saja tugasmu. Rapat akan dimulai 15 menit lagi. Sebaiknya kau bergegas.” ia berbalik, memunggungi pemuda itu. Letnan Zlatan Dragan, pemimpin Mobile Task Force di pulau itu hanya mendengus kesal.

***

 

Pemandu wisata SCP Park itu memperkenalkan dirinya sebagai Rufus Hudson.

“Jadi, bagaimana rasanya bergabung dengan SCP.” tanya Rigel, “Pasti seru!”

Rufus hanya menghela napas sembari masih memegangi setir, “Justru sebaliknya. Sangat membosankan. Mereka tak memperbolehkanku masuk ke area-area tertentu. Di sini tugasku hanya mengantar kalian melihat koleksi berstatus Safe.”

“Safe?” tanya Rigel, “Berarti kita tidak akan melihat Doctor Plague? Ah, sial! Padahal itu tujuanku datang ke sini!”

“Apa ada koleksi baru?” Toby tiba-tiba berkata.

“Ah, darimana kau tahu ada koleksi baru?” Rufus tersenyum, “Kalian sangat beruntung akan menyaksikan pertarungan abad ini.”

***

 

Letnan Zlatan Dragan berjalan memasuki ruang rapat itu. Pintu otomatis membuka untuknya dan begitu ia masuk, ia langsung merasakan aura permusuhan dari semua orang yang ada di sana.

“Orang itu lagi, kenapa ia masih bekerja di sini setelah apa yang sahabatnya lakukan?”

“Sahabatnya adalah pengkhianat. Siapa yang bisa menjamin ia takkan melakukan hal yang sama?”

Ia seakan bisa mendengar bisikan itu di dalam kepalanya.

“Letnan Dragan, selamat datang.” seorang pria bertopi panjang dan berkumis melengkung menyambutnya.

“Dr. Wondertainment!”

dr wondertainment

Zlatan memaksakan dirinya tersenyum, sebab kini ia berhadapan dengan pria yang paling ia benci, yang ironisnya juga merangkap sebagai bosnya.

Dulu SCP tidaklah seperti ini. Semua berubah ketika Dr. Wondertainment menjadi pemimpin baru setelah kematian Dr. Clef di tangan Doctor Plague saat containment breach terakhir

[Catatan penulis: silakan baca prekuel kisah ini di SCP: Malevolent Creatures]

Ia lebih menyukai SCP yang dulu. Zlatan dengan setia melayani SCP selepas ia dan sahabatnya, Milos Darko bermigrasi dari Bosnia ke Amerika Serikat. Ia ingin melupakan kenangan pahit perang di kampung halamannya dan memulai kehidupan baru. Dengan keahlian mereka sebagai tentara, ia dan Milos direkrut menjadi petugas keamanan.

Zlatan amat menyukai tugasnya: menangkap dan mengurung para SCP yang keberadaannya dapat mengancam dunia. Mempelajari mereka adalah tugas para ilmuwan, namun dengan menjaga mereka tetap berada di sini, ia merasa telah melakukan tugas mulia: mencegah makhluk-makhluk ini keluar dan membahayakan manusia.

Namun sekarang justru sebaliknya. Tempat ini berubah menjadi sirkus semenjak Dr. Wondertainment mengambil alih tampuk kepemimpinan. Yang ada di pikirannya hanya uang, uang, dan uang. Akan tetapi Zlatan tak bisa menyalahkannya. Sebagian juga merupakan tanggung jawabnya.

Sebelum semua ini terjadi, Pemerintah Amerika Serikat mendanai sepenuhnya operasi SCP dengan syarat semua yang bekerja untuk SCP bersumpah untuk menjaga kerahasiaanya. Namun suatu ketika, informasi mengenai SCP bocor ke internet. Sebuah website yang didedikasikan untuk SCP tiba-tiba muncul, menjelaskan dengan rinci semua koleksi yang disimpan di sini, bahkan didukung oleh dokumen-dokumen resmi.

[Catatan penulis: situs itu bisa dilihat di sini]

Hal ini memicu kemarahan Pemerintah USA. Apalagi muncul reaksi keras dari para pacifist dan pejuang HAM yang mengecam penggunaan para narapidana terhukum mati sebagai D-class personnel yang disposable dengan gampang dikorbankan untuk penelitian SCP.

Pemerintah kemudian memutuskan semua aliran dana untuk SCP. Akibatnya, lembaga ini mengalami kegoncangan. Tanpa aliran dana itu, SCP terpaksa dibubarkan. Jika SCP bubar, apa yang akan terjadi dengan semua koleksinya? Seluruh dunia akan mengalami kiamat jika semua koleksi SCP dilepaskan begitu saja.

Kemudian, muncullah Dr. Wondertainment di depan mereka semua bak penyelamat. Namun Zlatan tahu, ia sama sekali bukan malaikat.

Dr. Wondertainment menyarankan untuk menjual beberapa koleksi SCP dengan merk dagangnya sendiri: Dr. Wondertainment™. Tak hanya itu, ia mencetuskan pembangunan SCP Park untuk memamerkan koleksi SCP ke khalayak terbatas. Hanya segelintir orang yang bisa mengakses situs SCP Park di Deep Web untuk membeli tiketnya, menjadikan keanggotaannya amat eksklusif. Klien-klien mereka adalah orang kaya dan berkuasa yang haus akan hiburan. Kondisi keuangan SCP kembali aman berkat ide tersebut.

Zlatan tak pernah setuju akan semua inovasi itu. Ia tahu, SCP Park adalah bom waktu. Bagaimana mungkin Dr. Wondertainment memamerkan SCP yang sedemikian mematikan sebagai hiburan? Zlatan selalu memperingatkan bahayanya, namun tak ada yang mempedulikannya. Tak ada yang percaya kepadanya semenjak pengkhianatan Milos. Namun sekali lagi, ia tak bisa menyalahkan mereka. Website yang membocorkan SCP ... Milos-lah yang membuatnya.

Kenyataannya, setiap kunjungan ke SCP pasti memakan korban. Karena itulah, semua pengunjung diberikan amnesiac agar mereka melupakan apa yang mereka lihat dan alami, sehingga kerahasiaan SCP tetap terjaga.

Seperti bulan lalu, ketika gadis itu ...

Zlatan buru-buru menghapus pikiran itu, kemudian duduk. Ia menatap satu demi satu petinggi SCP yang berada di tempat itu.

Dr. Lethe Athena, tangan kanan Dr. Wondertainment selalu berada di dekatnya. Ia seorang gadis berparas cantik, namun Zlatan tahu, hatinya tak kalah busuk dengan tuannya. Di sampingnya adalah Dr. Quentin Yukasuke, seorang ahli komputer jenius yang pernah bekerja untuk Apple. Ia kini tengah meneliti tentang lengan robotik SCP 073.

Kemudian ada Dr. Isaac “Mercury” Holland. Dr. Mercury, begitu ia dipanggil karena kecintaannya pada astronomi. Mungkin orang akan heran mengapa seorang astronom bekerja untuk SCP. Namun ialah yang berjasa menemukan SCP 1548 “The Hateful Star”, bintang yang memiliki jiwa dan kini sedang menuju Bumi untuk menghancurkannya. Bahkan fakta bahwa bintang itu baru akan mencapai Bumi 4.700 tahun yang akan datang tak membuat siapapun tenang.

Dr. Zyn Kiryu adalah ilmuwan wanita yang amat dihormati di SCP. Dokter ekspatriat Jepang itu adalah lulusan John Hopkins Medical University yang bergengsi, bahkan menjadi lulusan terbaik di angkatannya. Namun sebagai dokter, ia tak pernah mengucapkan sumpah Hippocrates, sehingga membuat etikanya dipertanyakan. Beberapa perbuatan di masa lalu membuatnya dicari organisasi HAM sedunia karena dianggap melanggar Deklarasi Helsinki. Namun justru itulah penyebab ia direkrut oleh SCP untuk melakukan “tugas kotor” mereka. Benar-benar wanita yang menyeramkan, pikir Zlatan.

Terakhir adalah Dr. Nikolai Montenegro. Tak ada yang tahu asal-usulnya, bahkan tak ada yang yakin darimana ia mendapat gelar doktornya. Namun keahliannya sebagai pakar cryptozoologist jelas dibutuhkan di SCP. Ia bukan tipe orang yang suka berteman, karena itu Zlatan tak tahu banyak tentangnya.

“Karena semua orang telah berkumpul, Mari kita mulai rapatnya sekarang!” Dr. Wondertainment mulai berbicara. Semua segera mendengarkannya.

“Seperti kita tahu, kebijakan SCP Park adalah hanya menampilkan koleksi yang tidak termasuk kelas Euclid, apalagi Keter. Selama ini kita hanya menampilkan koleksi berkelas Safe. Namun kita akan menampilkan koleksi baru!”

Sebuah layar menyala memperlihatkan sosok yang tak asing lagi di mata mereka. Beberapa sosok lain muncul di layar, terperangkap dalam sel yang terpisah-pisah.

“Kau gila!” seru Zlatan sambil berdiri dan menghentak meja. “Kau tak bisa mempertontonkan mereka ke publik! Mereka amat berbahaya!”

“Justru itu, Letnan.” Dr. Wondertainment tersenyum, “Itu akan membuat para penonton semakin puas dan rela membayar mahal untuk melihat atraksi ini. Jika ini berhasil, tahun depan kita akan menaikkan harga tiket SCP Park dan aku yakin mereka akan tetap membanjiri tempat ini ...”

“Tapi bila lepas, mereka bisa membunuh semua pengunjung di sini!”

“Cukup, Letnan! Aku akan menambahkan dua personil security baru dari markas pusat untuk membantumu supaya kau bisa tenang dengan keamanan para turis kita.”

“Tapi itu menyalahi kesepakatan kita! Kau bilang hanya akan menampilkan koleksi SCP level Safe?”

“Aku tak mengingkari janjiku. Sesuai janjiku, kita takkan mengeluarkan koleksi kelas Euclid dan Keter ...”

Dr. Lethe Athena melanjutkan, “Namun tak ada larangan untuk menampilkan level Thaumiel bukan?”

 

***

“Apa itu Thaumiel?” tanya Sersan Daniel Cross ketika mereka meletakkan piring berisi makanan mereka di atas meja.

“Yang jelas lebih parah ketimbang Keter.” sahut Letnan Dragan, “Namun aku senang kalian diutus ke sini untuk membantuku.”

Di depan mereka Sersan Emile Favreux mengangguk. Pria berkebangsaan Prancis dengan wajah penuh bekas luka itu memang selalu membisu, tak pernah mengucapkan sepatah katapun. Kata orang-orang karena trauma yang didapatkannya saat perang.

“Selamat siang, Letnan.” ujar pria yang duduk di sampingnya, “Hari yang buruk?”

Zlatan menoleh dan melihat seorang pria bertangan besi tengah menyendok makanan dan memasukkannya ke mulutnya. Bertangan besi bukan saja sebuah kiasan, namun lengannya memang terbuat dari logam, seperti robot.

073

“Aku dari dulu heran, Cain.” ujarnya, “Kenapa kau masih butuh makan? Bukankah kau sudah hidup abadi?”

“Aku hanya berusaha menikmati hidupku, Letnan.” jawab Cain sambil memandangnya dengan mata biru. Wajahnya yang bernada Timur Tengah jelas tak serasi dengan warna matanya, namun memang tak ada yang yakin darimana ia berasal. Ia ditemukan di dalam ekskavasi sebuah ziggurat di Irak, di sebuah situs arkeologis yang disebut-sebut sebagai peninggalan Menara Babel, terlelap di dalam sarkofagus dengan ukiran hieroglyph Sumeria.

Ia tak ingat siapa namanya, apalagi darimana ia memperoleh lengan robot futuristik itu jika ia memang terkubur selama ribuan tahun. Satu-satunya yang ia tahu tentang dirinya, ada sesuatu yang tengah memburunya. Kadang ia merasa ketakutan karena itu.

Semua orang yang bertemu dengannya akan sadar bahwa ia sama sekali bukan ancaman. Karena itu ia dibiarkan berkeliaran di fasilitas SCP dan bebas berbincang dengan para personil, walaupun statusnya sudah ditetapkan sebagai Euclid.

Yang jelas, ia tak dapat mati (para personil SCP sudah mencoba semua cara). Semua percaya itu karena sebuah tanda di dahinya. Mereka memanggilnya Cain, seperti tokoh Kain dalam Kitab Kejadian karena tanda di dahinya tersebut.

“Bagaimana kondisi SCP 076?” tanya Cain.

“Masih berhibernasi dalam UFO-nya.” jawab Zlatan, “Tenanglah, Cain. Ia takkan mengincarmu dalam waktu dekat.”

“Dan para pengunjung itu? Kapan aku boleh bertemu dengan mereka? Aku ingin sekali memiliki ... ehm, teman baru.”

“Kurasa tidak, Cain. Maaf, tapi statusmu masih Euclid.”

“Ya, ya ... aku tahu. Kemarin aku melihat mereka membawa orang baru. Apa aku boleh berteman juga dengannya? Ia tampak baik, selalu tersenyum.”

“Entahlah, apa kau tahu namanya?”

“Namanya adalah ...”

***

 

“JEFF! JEFF! JEFF!”

Semua penonton bersorak mengelukan namanya.

Jeff The Killer menatap tantangan di depannya. Ia dikurung dalam sangkar dan diceburkan ke dalam akuarium raksasa. Air mulai masuk ke dalam hidung dan matanya. Asin, ia mengecap rasanya.

Tiba-tiba di hadapannya, tampak dua ekor hiu martil siap menyambarnya.

“Benar-benar menyenangkan.” pikirnya. Sarangnya tiba-tiba membuka dalam air.

“Jadi itu yang mereka inginkan, agar aku bertarung dengan hiu-hiu itu?” Jeff justru menjilati bibirnya, “Mereka pasti lezat!”

Dengan segera ia meninju seekor hiu martil yang mendekatinya hingga terpelanting dalam air. Buih menyeruak ketika makhluk itu muncul ke permukaan. Jeff segera menyambar celah insangnya dan merobeknya, menyemprotkan darah ke seisi akuarium.

Para penonton bersorak, walaupun darah itu membuat mereka tak bisa melihat dengan jelas ke dalam akuarium.

Setelah Jeff membunuh satu hiu, seekor lainnya siap menyambarnya dengan giginya. Namun dengan gesit, Jeff menghindar dan membiarkan kepala hiu itu menghantam dinding kaca.

Tawa dan sorakan para penonton seketika menghilang ketika mereka melihat retak di dinding kaca yang membatasi tempat duduk mereka dengan air dimana Jeff beraksi.

Jeff memukul dinding kaca itu sekali lagi hingga ...

“BYUUUUUUR!!!”

Para penonton panik ketika akuarium itu akhirnya pecah dan airnya tumpah ruah ke arah mereka, membawa hiu yang langsung menerkam siapapun yang berada di dekatnya. Jeff hanya tersenyum sembari berenang keluar dari air dan menatap kamera yang menggantung di atasnya. Ia segera melompat dan mencabut kamera itu. Kabel listrik yang berjuntai dan masih mengeluarkan percikan api segera ditariknya ke bawah, menyentuh air itu.

“CTAAAAR ... CTAAAAAAAR!!!”

Segera, listrik menyambar di air yang menggenangi ruangan itu, membuat semua yang tenggelam dalamnya tersetrum.

Jeff tersenyum dengan hasil pekerjaannya ... melihat mayat-mayat menggelepar di dalam air.

Ia menjilati bibirnya, membayangkan berapa banyak lagi orang yang bisa ia bunuh di luar sana.

jeff

TO BE CONTINUED

9 comments:

  1. akhirnya si Jeff ada juga. lanjut bang... aku suka bgt

    ReplyDelete
  2. Tokoh creepypastanya mulai ditunjukkan secara terang-terangan.. Bagus bg Dave :D

    ReplyDelete
  3. update-nya setiap apa bang? satu minggu sekali kah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesempetnya gue aja hahaha

      Delete
    2. Wossh sesempetnya aja bang.. Klo disempet2in malah gabisa total bikinnya yekan

      Delete
  4. ntar karakter creepypasta-nya ada si Smiling Dog, gk bang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. enggak deh. kan smilling dog udah mati di league of creepypasta: wars of phoenix. ini kan sekuelnya

      Delete
  5. bocoran dong bang... char creepy pasta yang muncul siapa aja?

    ReplyDelete
  6. oh, si Smiling Dog udah mati di Wars of Phoenix, ya. nanti coba baca lg, deh

    ReplyDelete