Wednesday, April 26, 2017

TERRIFICALLY TERRIFYING (CHAPTER 1): REVIEW 12 FILM HOROR TERSERU PILIHAN MENGAKU BACKPACKER

 

DON'T KNOCK TWICE

Hallo guys. Banyak yang potes nih kok gue lama nggak ngeblog (padahal baru sebulan doang absen). Tenang guys ... gue bukannya lagi diculik Jeff ama SCP wkwkwk tapi cuman sibuk aja. Beruntung bulan ini ada banyak libur jadi gue bisa ngisi waktu gue dengan nonton film horor maraton. Ada 12 judul film horor yang bakal gue kupas di sini. Beberapa merupakan genre favorit gue, yakni “found footage” dan beberapa lagi adalah film horor ala exorcisme (nggak tau kenapa gue lagi suka film bertema ginian). Karena ada banyak, maka postingan ini gue bagi dua.

Untuk kali ini, enam film yang bakal gue kupas adalah “The Girl With All The Gifts”, “Get Out”, “Deliver Us From Evil”, “The VVitch”, “Southbound”, dan “Don’t Knock Twice”. Oya, kebetulan dalam review gue kali ini, semua filmnya adalah film Barat, nggak ada film Asia (tumben ya hahaha).

1. THE GIRL WITH ALL GIFTS (2016)

The_Girl_with_All_the_Gifts_poster_t

(sumber gambar)

Kalo soal fim zombie, serahkan aja sama Inggris soalnya mereka tau cara bikin film zombie yang keren. Kalian pasti masih ingat “28 Days Later” dan juga “Shaun of The Dead” (kocak banget mah kalo itu). Kita emang nggak bisa ngeremehin industri perfilman Eropa, walaupun jarang film dari sana yang kedengeran gaungnya ampe ke Indonesia. Salah satunya adalah film ini, “The Girl With of All The Gifts”.

Bernuansa dystopian nan kelam, film ini menceritakan tentang sekelompok anak-anak yang dididik dalam sebuah pangkalan militer. Dari luar, anak-anak tersebut terlihat tak berdosa. Namun sesungguhnya mereka adalah zombie yang entah mengapa, mampu mempertahankan “kemanusiaan” mereka (walaupun ketika lapar, mereka akan berubah menjadi zombie haus darah).

Film ini berkutat pada Melanie, gadis cilik separuh zombie yang cerdas dan masih memiliki hati. Sementara orang-orang di pangkalan militer itu melihatnya sebagai kelinci percobaan saja, namun salah satu gurunya, Mrs. Justineau, mulai merasakan ikatan batin dengan Melanie dan berusaha menyelamatkannya, apalagi setelah pangkalan militer tersebut diserang oleh gerombolan zombie haus darah.

Film ini memang menyoroti zombie apocalypse dengan cara unik. Kalo film-film lain biasanya menceritakan tentang cara sekelompok survivor untuk bertahan hidup dari serangan zombie, namun film ini mengupas lebih dalam tentang kemanusiaan. Bagaimana jika zombie ternyata masih memiliki hati dan perasaan? Akankan kita akan tetap membunuhnya? Namun tak hanya manusia di film ini yang ditantang dengan pertanyaan moral tersebut. Bahkan Melanie juga harus memilih, akankah ia membela manusia yang berusaha membunuhnya ataukah ia akan berpihak pada sesama zombie yang ganas dan haus darah?

Intinya, film ini jelas beda dengan film-film zombie lainnya. Denger-denger cerita film ini diangkat dari novel. Biasanya yang dari novel begitu lebih berkualitas, soalnya dibuktikan dengan larisnya novel itu terlebih dahulu. Untung aja, adaptasi ceritanya juga lebih faithful ketimbang novel zombie lainnya, “World War Z”, yang diangkat ke layar lebar juga (tapi dengan alur cerita yang jauh berbeda dari novelnya).

Gue beri film ini nilai 4 CD berdarah. Seru kok buat ditonton. Apalagi pas nontonnya, gue sama sekali nggak tau sama sekali tentang jalan cerita film ini (belum pernah baca review dan sinopsisnya). Bakalan lebih seru dengan cara kayak gitu deh, percaya ama gue. Kita jadi menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[2]_thumb[1]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[18]_thumb[1]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb_thumb[1]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[11]_thumb[1]030menunderwear2_thumb132_thumb5_thu_thumb[5]

2. GET OUT (2017)

Teaser_poster_for_2017_film_Get_Out_

(sumber gambar)

Film yang lumayan baru ini cukup berani mengangkat tema rasial ke dalam ceritanya. Dikisahkan, Chris, seorang pemuda berkulit hitam, akan bertemu untuk pertama kalinya dengan orang tua Rose, pacarnya. Chris menjadi amat grogi, terutama karena Rose adalah gadis berkulit putih. Otomatis dia takut orang tuanya takkan menerima hubungan mereka yang berbeda ras. Namun, ketika ia tiba di rumah orang tua Rose yang terpencil, Chris segera sadar bahwa bukan hanya restu orang tua Rose saja yang perlu ia cemaskan, namun juga nyawanya. Sebab keluarga gadis pujaannya yang terlihat sempurna (namun sedikit aneh) mungkin saja menyimpan rahasia yang amat mematikan.

Gue tertarik ama film ini karena ratingnya yang amat tinggi di Rotten Tomatoes (bayangin, skornya 99%!). Awalnya gue agak pesimis soalnya di genrenya ditulis horror comedy. Horor dan komedi? C’mon guys, those two things don’t mix (mungkin masih bisa lah horor bertema black comedy). Tapi ternyata dugaan gue salah. Adegan horornya oke (apalagi ada sedikit adegan gore-nya), tapi komedinya juga bikin ngakak (gag-nya terutama berasal dari Rod, sahabat Chris). Jarang-jarang kan ada yang genrenya kayak begini.

Film ini, seperti gue singgung di awal, nggak merasa canggung sama sekali untuk menunjukkan perilaku diskriminatif yang masih saja diterima kulit hitam di Amrik (kok bisa ya, padahal mudah ada presiden kulit hitam di sana). Cukup menarik menyaksikan film yang berani mengangkat tema tabu seperti ini. Dan bonusnya lagi, ada plot twist di pertengahan cerita yang bikin gue “Oh, man ... that’s so f***ed up”. Belum lagi klimaksnya yang seru dan “cukup satisfying” (apalagi setelah perlakuan yang diterima tokoh utamanya).

Gue sarankan untuk menonton film ini guys. Blend antara horor dan komedinya seimbang. Gue beri nilai 4 untuk film ini.

030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[2]_thumb[2]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[18]_thumb[2]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb_thumb[2]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[11]_thumb[2]030menunderwear2_thumb132_thumb5_thu_thumb[4]

3. DELIVER US FROM EVIL (2014)

Deliver_Us_from_Evil_2014_film_poste[2]

(sumber gambar)

Gue akhir-akhir gila banget ama film bertema exorcism, makanya gue pada edisi ini hunting mati-matian film bertema seperti ini. Di Barat, praktek exorcism erat banget kaitannya dengan Gereja Katolik dan judul film ini juga berasal dari kalimat terakhir doa “Bapa Kami” yang diajarkan dalam agama Kristen. Sepertinya judul yang menjanjikan, tapi kenyataannya cukup mengecewakan, karena genrenya lebih deket ke action ketimbang horor.

Kisah ini menceritakan Ralph Sarchie (diperankan Eric Bana), seorang polisi yang sudah lama kehilangan imannya dan harus dihadapkan dengan kasus-kasus aneh di New York yang berujung pada satu kesimpulan: demonic possession! Film ini diproduseri oleh Jerri Bruckheimer yang sudah veteran menangani film-film blockbuster bergenre action seperti “Armaggedon”, “Con Air”, “Black Hawk Down”, hingga “Pearl Harbor”. Apalagi tokoh utama film ini adalah polisi, jadi adegan-adegannya lebih berkesan kayak film action ketimbang horor.

Well, nggak salah sih ada yang coba nyambungin genre horor ke action, tapi gue nggak ngerasa pas aja. Gue juga nonton film ini cuman gara-gara kepengen liat akting Eric Bana yang terakhir kali gue liat di film “Hulk” (he’s the original Hulk waaaaaaaay before Mark Ruffalo) dan “Troy”. Ada sih adegan-adegan chilling (terutama gore) di film ini, tapi tetep aja film ini nggak menawarkan apa yang gue harapkan. Jalan cerita dan karakternya juga gue rasa terlalu dipaksakan supaya muat ke tema action-nya (banyak hal yang kebetulan banget di sini dan tokoh pasturnya, seriously ada pastur bergaya rocker kayak gitu di kehidupan nyata?). Denger-denger sih film ini didasarkan pada tokoh demonologist yang benar-benar nyata, tapi masih jauh lah ama karakter Ed dan Lorraine Warren yang memukau kita di film “Conjuring”.

Akhir kata, gue cuman bisa memberikan 2,5 CD berdarah untuk film ini. Sayang, padahal tema-nya sudah menantang dan cukup berpotensi.

030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[2]_thumb[3]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[18]_thumb[3]030menunderwear2Copy2_thumb31_thumb6_thumb[2]030menunderwear2_thumb132_thumb5_thu_thumb[2]030menunderwear2_thumb132_thumb5_thu_thumb[3]

4. THE VVITCH (2005)

The_Witch_poster_thumb2

(sumber gambar)

Yup ... tulisannya nggak salah guys. Judulnya emang “The Witch” tapi nulisnya kudu “The VVitch” (mungkin biar lebih 6403L). Bersetting di Amerika pada masa kolonisasi di abad ke-17, kisah ini menceritakan sekeluarga yang diusir komunitas Puritan yang religius karena perbedaan pandangan dalam menginterpretasikan Injil. Keluarga tersebut beranggotakan William dan istrinya, Katherine serta anak-anak mereka: Thomasin, Caleb, Mercy dan Jonas (kembar), dan Samuel yang masih bayi. Akibat diusir dari komunitas mereka, keluarga tersebut terpaksa mencari tempat tinggal baru dan menetap di tepi hutan. Namun kejadian demi kejadian mengerikan yang terjadi membuat mereka sadar bahwa ada bahaya mengintai di hutan.

Dari judulnya udah kelihatan culprit-nya adalah penyihir. Namun di film ini kita disuruh menebak, apakah sang penyihir benar-benar tinggal di hutan ataukah sang penyihir sebenarnya salah satu anggota keluarga tersebut? Endingnya dimana identitas sang penyihir terungkap bakalan membuat kalian tercengang.

Kisah ini benar-benar memiliki setting yang “eerie”. Nggak cuman hutannya, tapi juga rumah mereka yang gue bilang sih masih “primitif” dan seadanya. Bahkan di malam yang gelap pun mereka harus bertahan dengan lampu lilin. Ya iyalah, secara settingnya di zaman kuno begitu.

Dari segi setting emang sudah menang, namun film ini juga memiliki karakterisasi, akting, dan jalan cerita yang cukup bagus. Konfik antara Thomasin dan ibunya (gue sih menduga Katherine tuh ibu tirinya) kerasa banget. Namun sang ibu juga punya alasan buat bersikap “bitchy” kek gitu karena penderitaan yang dia alami.

Singkat kata, film ini recommended buat kalian (cuman gue peringatin ada beberapa adegan nudity di sini, tapi nggak full frontal banget). Gue kasih 4,5 CD berdarah (wow, cukup tinggi kan) buat film keren ini.

030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[2]_thumb[4]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[18]_thumb[4]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb_thumb[4]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[11]_thumb[4]030menunderwear2Copy2_thumb31_thumb6_thumb

5. SOUTHBOUND (2015)

Southbound_poster_thumb2

(sumber gambar)

“Southbound” merupakan film anthology (kumpulan cerita-cerita yang lebih pendek) horor. Gue sudah lama kepengen melirik film-film anthology horor Barat (soalnya gue taunya yang Asia doang semacam Phobia). Contoh film anthology horor yang (katanya) cukup keren adalah “VHS” dan “ABC’s of Death”. Tapi sayangnya, film-film tersebut berbau seks dan full of nudity jadi bikin gue eneg liatnya (sama kayak “Game of Thromes” yang dari dulu gue kepengen nonton, tapi gue urungkan karena banyak adegan NSFW di sana). Untunglah film “Southbound” ini cukup aman buat gue review buat blog gue yang dari dulu emang gue setting ramah untuk semua umur ini.

“Southbound” berisi lima cerita yang saling berkaitan dan memiliki satu kesamaan: yakni bersetting di sebuah jalan raya di tengah gurun. Poster filmnya udah cukup keren dan mengundang gue buat menyaksikan filmnya. Ceritanya sih lumayan, walau yah seperti harus gue akui, kualitasnya agak lebih rendah dari ekspetasi gue. Satu-satunya film yang gue anggap seru adalah cerita ketiga, dimana seorang pria tanpa sengaja menabrak seorang cewek, lalu mengalami sesuatu yang amat mengerikan (bener-bener bikin trauma, gue bayangin aja kalo kejadiannya beneran di kehidupan nyata, ancur bener deh).

Seperti sudah gue bilang, semua cerita di sini saling berkaitan, jadi gue sarankan kalian nonton dari awal sampai akhir (ada “sedikit” plot twist di belakangnya). Tapi kalo kalian buru-buru atau cuman pengen nonton secuplik aja, gue sarankan liat aja cerita yang ketiga seperti review gue di atas.

Kelebihan film ini (walau ceritanya kurang “menggigit”) adalah nggak kayak film Hollywood dimana semua kejadian supranatural harus dijelaskan dengan rinci apa penyebabnya, di film ini justru para penonton dibiarkan bertanya-tanya. Apa yang mereka alami sebenarnya, lalu siapa iblis-iblis yang menyiksa mereka, bahkan dimana mereka berada, semua nggak dijelaskan asal-usulnya. Bahkan gue saja dibikin penasaran ampe sekarang. Namun justru menurut gue itu bagus dan kemajuan buat perfilman horor Hollywood. Lebih banyak misteri dalam film horor menurut gue adalah sebuah nilai plus.

Gue kasih film ini skor 3,5 CD berdarah. Lumayan bagus, namun kurang memuaskan buat gue (kecuali, sekali lagi, cerita ketiga, bener-bener brilian idenya soalnya).

030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[2]_thumb[5]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[18]_thumb[5]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb_thumb[5]030menunderwear2Copy2_thumb31_thumb6_thumb[1]030menunderwear2_thumb132_thumb5_thu_thumb[1]

6. DON’T KNOCK TWICE (2016)

  image

(sumber gambar)

Gue pernah denger dari salah satu temen gue yang review film ini, katanya filmnya jelek (rating di Rotten Tomatoes juga rendah skornya). Makanya gue agak males-malesan liat film ini. Tapi ternyata dugaan gue salah. Mungkin cuman masalah selera ya, tapi film ini menurut gue brilian dan termasuk salah satu film horor terbaik yang gue liat.

Film ini diawali dengan Jess, seorang wanita karir yang sukses yang ingin menjalin hubungan kembali dengan Chloe, putrinya yang dulu ia buang. Namun tentu saja Chloe membencinya dan menolak berbaikan kembali dengan ibunya. Tapi Chloe tak punya pilihan lain setelah kejadian-kejadian supranatural mulai mengancamnya. Terpaksa ia meminta bantuan ibunya untuk melindunginya dari sosok jahat yang mengejarnya.

Film ini keren dari semua segi. Intrik dramanya yang menceritakan hubungan ibu dan anak yang retak, jumpscare horornya yang benar-benar mantap, penampakan setannya yang nggak lebay, dan nggak lupa plot twistnya yang keren di endingnya (walaupun gue udah bisa nebak karena “foreshadowing” yang terlalu kentara di pertengahan film). Semuanya jempolan deh. Jujur, bahkan ini adalah salah satu tiga film dalam hidup gue, yang saking seremnya, sampe bikin gue jerit-jerit pas nontonnya (yang lainnya adalah “Tale of Two Sisters” dan “Insidious”). Bahkan dari adegan-adegan pertama saja, nuansa horornya sudah langsung kerasa. Jarang-jarang lho guys, biasanya kan di awal-awal masih adegan dialog-dialog gitu buat perkenalan tokoh. Namun film ini nggak mengambil pusing hal tersebut dan langsung aja “mencekik” pemirsanya dengan jumpscare-nya.

Film ini keren, beneran deh gue recommended banget buat kalian nontonnya. Gue beri film ini skor sempurna 5 CD berdarah, soalnya jarang-jarang ada film Barat yang jarang bikin gue takut hehehe. Mungkin karena gue mengawali nonton film ini dengan low expectation kali ya, begitu nonton berasa wah banget hahaha.

030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[2]_thumb[6]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[18]_thumb[6]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb_thumb[6]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[11]_thumb[6]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[11]_thumb[7]

Masih ada lanjutannya ya guys ke part 2.

5 comments:

  1. Habis nonton Get out: awalnya skeptis krn bbrapa thun trakhir film horror hollywood yg d hype sma fan atau media bgtu tyang agak mngecewakan tp film get out mnurutku memnuhi expektasi. Thrillernya kena banget, kita btul2 d buat pnasaran dn cemas sama nasib tokoh utamanya, film ini jg mngangkat rasisme isu yg smpe saat ini msh hidup d USA tnpa mnjadikan orang kulit hitam sbg "korban" supaya pnonton kasihan, Komedinya jg nggak garing dn bneran lucu pdhal ini film thriller. Apalagi ini film debut dr sutradara Jordan Pelee. Pokonya ane reccomend banget ama pncinta horror dn thriller

    ReplyDelete
  2. Duh bang kupikir bakal ada spoiler alertnya haha #pecintaspoilerdetected padahal butuh spoiler dari the vvitch krn endingnya jadi bingung, itu dia emg penyihir atau baru direkrut. Soal film horor yg berkesan akupun tale of two sisters bangeettt (apalagi ost-nya yg instrumental itu ga ngerti bagus tapi horornya dpt), dan insidious. Berarti selera horor kita sama fix ntar nyoba nonton yg cd berdarahnya 3,5 ke atas makasih bang dave aku pada blogmu hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya dia baru direkrut deh *spoiler dikit*

      Delete
  3. Game of thrones bang, tuh kan typo -_-
    walaupun ada nuditynya tapi worth it banget buat ditonton

    ReplyDelete