Sunday, September 23, 2012

BACKPACKING KE BLITAR: BUNG KARNO BANGET!

 

100_2193

Kalo ditanyain dua hal apa yang paling kucintai di dunia ini (selain ortu dan keluarga tentunya), pastilah kujawab: sejarah dan SNSD (hehehe). Namun kali ini aku nggak akan membahas cewek-cewek di SNSD tapi aku akan membahas kota yang kaya akan sejarah, yaitu Blitar. Salah satu alasan aku tertarik mengunjungi Blitar karena dari dulu aku kepengen mengunjungi Candi Penataran. Plus lagi bonusnya di Blitar terdapat makam sosok yang sangat kukagumi, yaitu Bung Karno, presiden pertama kita. Bisa dibilang Blitar adalah kota dimana sejarah bersemayam.

Perjalanan kuawali di Kediri. Rencana backpacking ke Blitar ini sebenarnya adalah lanjutan perjalananku backpacking ke Kediri. Pagi sekitar jam 7 aku diantar Mas Pram, host CS-ku ke stasiun Kediri untuk mencari tiket kereta Rapih Dhoho jurusan Blitar yang berangkat jam 8.15. Tiketnya ternyata sangat murah, yaitu 4 ribu untuk satu jam perjalanan. Kamipun balik lagi ke rumah Mas Pram untuk mengambil tasku. Malangnya, rupanya kami salah paham dengan jadwal keberangkatan kereta. Alhasil aku ketinggalan kereta (repotnya lagi Mas Pram langsung pulang begitu nganter aku hiks). Aku nggak merasa kecewa karena toh tiketnya juga cuma 4 ribu aja (hahahaha cuma 4 ribu gituuuu. Mana, satu gerbong juga bisa kubayarin *dasar backpacker nggak tahu diri*).

Setelah nanya sama bapak tukang parkir, aku disarankan naek angkot ke terminal yang mangkal di depan alun-alun (sekitar 1 km dari stasiun). Beruntungnya di depan alun-alun aku diberitahu seorang bapak kalo mau naek bus ke Blitar, nggak perlu ke terminal dulu, tapi cukup menunggu di samping Dhoho Mall yang terletak tak jauh dari situ (di pojokan depan Masjid Agung). Wah asik, lumayan hemat budget dan waktu.

Bus jurusan Blitar pun datang. Ternyata kondisinya nggak separah bus jurusan Malang (busnya gede). Nah, lucunya nih aku dapet teman seperjalanan seorang mas-mas yang mukanya menurutku mirip ama Iko Uwais. Aku jadi keinget adegan di film Merantau pas Iko Uwais naek bus dari Padang ke Jakarta. Kok mirip ya hahaha. Aku ditarik karcis seharga 10 ribu (wah, malah dua kali lipat harga tiket kereta). Aku sih sempat bingung, soalnya aku nggak tahu nanti di Blitar turun dimana. Untungnya ada ibu-ibu yang membantuku dan menyarankan aku turun Pasar Legi. Bus ini sebenarnya nggak lewat Pasar Legi, tapi begitu nyampe di perempatan, kernetnya teriak “Lama! Lama!” dan aku disuruh turun di situ soalnya pasarnya nggak jauh dari situ (tapi nggak tau juga maksudnya Lama tuh apa).

Aku lalu nanya orang lagi. Dari perempatan itu aku jalan terus lalu belok kiri pas perempatan pertama. Aku cukup kaget soalnya aku nyampe ke Blitar jam 10 pagi (sekitar waktu yang sama dengan jadwal kereta tiba di Blitar). Wah, kok malah lebih cepetan bus ya? Setelah berjalan di pusat kota Blitar, akhirnya aku menemukan Pasar Legi. Wah, ternyata pasar tradisional di Blitar tertata rapi.

100_2007

Di sini juga ada sebuah kelenteng warna-warni. Nah, di dekat kelenteng inilah kita menunggu angkot jurusan Penataran.

100_2011

Iseng-iseng aku nanya ama bapak yang jualan di pinggir jalan sambil beli air mineral. Aku bilang mau ke Candi Penataran lalu bapaknya nyaranin aku naek angkot kuning. Nah, di sebelahku ada orang-orang yang lagi minum wedangan di warung. Karena males nunggu angkot lama, akhirnya kuputusin mampir dulu ke alun-alun Blitar buat nyari es (soalnya udaranya panas) yang katanya nggak jauh dari situ. Eh belum berjalan jauh, sebuah angkot kuning bertuliskan Penataran melewatiku, langsung saja aku stop.

Di dalam aku kaget ketika disapa sepasang suami istri, “Lho, masnya kok naek dari sini?” Aku mikir2, “Kenal nggak ya?”. Karena mereka tahu aku mau ke candi, aku berkesimpulan mereka pasti yang tadi minum wedangan deket aku pas aku beli air mineral tadi. Yang bikin aku terharu, mereka bantuin nunjukin jalan (bahkan turun dimana). Wah, kalo dipikir-pikir sepanjang perjalanan Kediri-Blitar udah banyak banget orang yang nolongin aku tanpa pamrih. Rasanya nggak mungkin deh aku membalas kebaikan mereka hehehe kecuali lewat blog ini. Makasih ya buat semua bantuannya (semisal pas baca).

Ternyata candi Penataran ini letaknya di pinggiran, lumayan jauh dari kota. Suami istri tadi juga memperingatkan aku kalo angkot menuju kota sudah habis sekitar jam 2an. Jadi aku nggak boleh terlena. Akhirnya aku tiba di kompleks Candi Penataran. Di sini aku mengisi buku tamu dan membayar seikhlasnya untuk perawatan candi. Langsung deh aku melaksanakan apa yang sudah menjadi kodratku sebagai backpacker, yaitu foto-foto hahaha.

100_2185

Oya coba tebak, apa persamaan candi ini sama bunga bangkai? *kalo persamaan bunga bangkai ama admin udah jelas ya, sama2 bau bangkai hahaha* Ternyata Candi Penataran juga ditemukan sama Raffles lho. Di sini aku lumayan kaget, soalnya relief-relief di candi ini sangat terawat dan sangat cantik sekali. Aku sampai terkagum-kagum. Namun asal tahu saja, beberapa relief di sini menyimpan misteri lho (nanti akan kubahas di postingan tersendiri di sini). Candi-candi di sini beda ama candi-candi di Jawa Tengah. Aku merasa pendiri candi Penataran ini terobsesi sama ular. Banyak banget patung ular di sini, Ini beberapa contohnya.

100_2026

100_2080

Selain itu mereka terobsesi juga ama raksasa atau kala. Banyak banget relief kala di sini, serem2 lagi.

100_2050

Inilah candi yang masih utuh di kompleks Candi Penataran ini, yaitu Candi Angka tahun. Dinamakan begitu karena ada angka tahun pembuatan candi ini, yaitu 1291 tahun Saka pada bagian atas pintu. Candi ini juga diapit oleh patung dua dewi yang cantik banget.

100_2183

100_2041    100_2054

100_2063

100_2057     100_2053

Di dalamnya ternyata masih terdapat arca Ganesha yang diberi persembahan.

100_2061

Di kawasan candi induk (candi paling belakang, ada tiga tingkat, tingkat paling atas dipakai buat landasan tempat mendarat UFO….hiaaaa bo’ong ding) ternyata relief2nya lebih dahsyat.

100_2102

Kulihat banyak relief raksasa yang serem di sini. Tapi detailnya sangat mengagumkan. Sulit dipercaya ukiran2 serumit ini bisa bertahan hingga ratusan tahun tanpa cacat.

100_2120100_2105100_2107100_2111

Relief raksasa terus ada relief Planet of the Apes di sini. Jangan-jangan menceritakan kisah Ramayana ya?

100_2114

Kecurigaanku akhirnya terbukti. Ini nggak salah lagi relief yang menceritakan “Anoman Obong”.

100_2119

Di sini juga ada relief berupa tablet berisi hewan-hewan.

100_2124

Dan ini adalah relief yang aneh….

100_2129

Ada juga banyak makhluk mitologi yang keren di sini. Kayak makhluk bersayap ini.

100_2144

100_2143

Inilah kompleks candi dilihat dari puncak Candi Induk tadi.

100_2146

Dan inilah salah satu cara memanfaatkan batuan candi berumur ratusan tahun dan tak ternilai warisan sejarahnya bagi bangsa….

100_2184

….untuk menjemur sepatu ama kaos kaki…..

Setelah puas foto2, akupun memutuskan cabut. Tapi sebelum balik ke pusat kota Blitar, aku tertarik dengan candi kecil yang tadi kulewatin tak jauh sebelum tiba di Candi Penataran. Akupun berjalan beberapa meter kesana dan rupanya candi itu adalah kompleks pemandian. Wah, aku jadi teringat sama Candi Tikus di Trowulan.

100_2186

Aku lalu menunggu angkot jurusan Blitar dan turun di makam Bung Karno. Jujur, aku ke sini karena penasaran sama lukisan Bung Karno yang katanya bisa berdetak kalo diliat dari samping. Di depan makam Bung Karno terdapat perpustakaan yang sangat megah.

Foto4966

Akupun masuk ke museum Bung Karno yang menampilkan foto-foto Bung Karno sejak beliau muda hingga menjabat presiden. Aku mencoba membuktikan kebenaran rumor tentang lukisan itu. Begitu kulihat, YA IYA LAH keliatan berdetak, secara kena angin gini! *soalnya nggak ditempel di dinding lukisannya*

100_2195

Ini beberapa foto Bung Karno. Wah, ganteng banget ya? Pantesan aja Maryln Monroe ampe tergila-gila (wah, aku nyari surat Maryln Monroe tapi rupanya nggak ada di koleksi museum ini hehehe).

Foto4962100_2197Foto4951Foto4952Foto4953Foto4957(1)

Ini foto yang paling kusuka. Mirip-mirip foto pre-wedding ya? Tampak banget keromantisan Bung Karno dan Ibu Fatmawati.

Foto4955

Dan foto ini pasti semua orang tau! Foto saat Proklamasi (eh baru tau kalo di foto ini di belakang Bung Karno ada Ibu Fatmawati, coba tebak dimana?).

100_2199

Nah, ini adalah suasana di makam Bung Karno.

Foto4967

Foto4968

Foto4972

Di sini juga ada gong yang katanya adalah gong perdamaian. Ada simbol dari agama-agama dari seluruh dunia. Tapi jangan ampe deh aku yang mukul gong-nya, soalnya kalo aku sih bakatnya menciptakan gong kekacauan hehehe.

Foto4978

Setelah puas menyambangi makam sang proklamator kita, akupun menunggu angkot menuju alun-alun. Begitu dapat satu angkot kuning, aku langsung kaget, “Lho, ini kan bapaknya yang nganter aku tadi???” Aku emang pernah baca kalo angkot di Blitar cuma dikit dan jarang2, tapi nggak gini2 juga kali ampe bapak angkotnya itu2 aja….

Sama bapaknya, aku diturunin di jalan Masjid, katanya tinggal jalan lurus aja aku bakal nyampe alun2. Ternyata benar, akupun sampai alun-alun (modelnya ditulis Aloon-Aloon kayak di Kediri, kalo di Solo itu tuh artinya “pelan-pelaaaan banget”). Nah, ini nih baru namanya alun2 beneran, ada pohon beringin ama lapangan rumput luas, nggak kayak alun2 di Malang dan Kediri yang lebih mirip taman.

Foto4986

Alun-alunnya keren, ada pohon beringin dikurung di tengahnya.

Foto4982

Lalu ini Masjid Agung Kediri.

Foto4985

Di sini aku sempat menikmati jajanan khas Blitar yaitu dawet serabi dicampur pleret. Rasanya sih mirip dawet Solo cuma uniknya ada pleret (putih2 kenyal rasanya) ama serabi (beda ama serabi Solo, serabi Blitar lebih mirip apem).

Foto4983 - Copy

Setelah minum es dan makan siang, akupun melanjutkan perjalanan ke stasiun yang terletak tak jauh dari alun-alun. Ini dia stasiunnya.

Foto4987

Wah, mentang-mentang stasiun Blitar terus interior stasiunnya juga berbau Bung Karno banget.

Foto4988

Keren khan? Di posternya tertulis, saking berbaktinya Bung Karno, sampai-sampai Putra Sang Fajar ini rela menempuh perjalanan 16 jam (kala itu) hanya untuk sungkem kepada ibunda beliau.

Dari stasiun Kediri ini aku naek kereta Matarmaja jurusan Pasar Senen yang berangkat jam 5 sore. Di gerbongku ada pengalaman lucu karena banyak banget penumpang yang salah gerbong. Di tiketku sendiri tertulis K3-3  A10. Nah K-3 itu ternyata nomor kereta (jadi seisi kereta nomor keretanya sama), barulah angka 3 yang kedua itu nomor gerbongnya dan A10 itu nomor tempat duduk. Ternyata banyak yang mengira nomor K-3 di depan itu nomor gerbong, Alhasil banyak banget yang nyasar ke gerbongku (bahkan yang duduk di sampingku, padahal udah akrab ngobrol dari tadi eh nggak taunya salah gerbong hahaha). Akhirnya aku nyampe Solo jam 10 malam dengan supercapek (nggak bisa bayangin yang pada baru nyampe ke Jakarta jam 9 pagi).

Kesimpulan dari pengalaman backpacking-ku kali ini: Kediri – Blitar  kereeeeeeeen….Nggak nyesel deh udah menyambangi kedua kota tersebut.

5 comments:

  1. lama lama itu maksudnya terminal lama om. sebelum pasar legi direnovasi kayak yang di poto om, belakangnya adalah terminal lama. di sekitaran pasar legi itu kampungnya rese, tapi selama kita ga ngapa nagapain aman kok. belakang kelenteng itu ada yang nyebut kampung seng. dari alun alun blitar harusnya jalan aja terus ke timur nanti sampai di kebun raja (bonrojo istilah lokal), taman untuk nongkrong, nah dibelakangnya itu ada rumah ibu bung karno...

    ReplyDelete
    Replies
    1. waduh ada kebon raja juga ya? tau gitu dulu mampir sekalian,,,makasih infonya ^_^

      Delete
  2. Kok bisa foto2 di museumnya gan? bukannya dilarang? -__-
    ke istana gebang juga gan... rumah Bung Karno lo...
    sayang nya... kita tak bisa bertemu~~~ Mueheheh <===== Orang Blitar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak dilarang tuh pas aku kesana. Iya pengen ke blitar lagi, banyak yang belum kujelajahin rupanya

      Delete
  3. waah refensi nih..thanks postingannya bung dave :D

    ReplyDelete