Sunday, September 23, 2012

BACKPACKING KE KEDIRI: SAKING ASYIKNYA AMPE BINGUNG NGASIH JUDUL APA

100_1860
Entah gimana awalnya aku jatuh cinta dengan Jawa Timur, namun ini sudah ketiga kalinya aku backpacking ke Jatim. Pertama dulu ke Surabaya, lalu ke Malang, dan sekarang dua kota sekaligus, yaitu Kediri dan Blitar aku sambangi. Nah, kuakui perjalananku ke Kediri kali ini merupakan petualangan yang “liar” soalnya aku sama sekali buta soal kota Kediri (saking “liarnya” bahkan di Kediri aku belum tau mau tidur dimana hahaha). Pengen donk denger pengalaman aku backpacking ke kedua kota itu, ya kan?
*pembaca langsung serempak bilang “Nggaaaaakk!!!*
Huh kalo emang nggak mau ngapain kalian buka blogku sejak pertama *ngambek mode on* Tapi tetap saja sebagai orang narsis, tanpa dimintapun aku akan membeberkan pengalamanku berpetualang (baca: kesasar) ke kedua kota tersebut. Begitu serunya pengalamanku di kedua kota itu ampe di postingan ini aku bingung mau kasih judul apa hehehe. Check it out!
Dari Solo, aku memutuskan naek kereta saja ke Kediri setelah pengalaman traumatisku naek bus selama 8 jam dari Malang-Solo (baca pengalamanku backpacking ke Malang). Ada tiga kereta jurusan Kediri yang bisa kunaiki, yaitu Matarmaja (nyampe di stasiun Kediri jam 3 pagi), Brantas (nyampe jam setengah 8 pagi), dan Kahuripan (nyampe jam 11 siang) dimana ketiga-tiganya kereta ekonomi. Dari ketiganya, yang paling masuk akal adalah KA Brantas, soalnya nyampeknya nggak kepagian ataupun kesiangan. Sialnya, kereta itu berangkat dari hometown-ku Solo jam 3 pagi. Akhirnya pagi2 buta aku berangkat naek taksi ke stasiun Solojebres (haaaa taksi??? Baru kali ini seumur2 naek taksi pas backpackingan)
Nyampe stasiun aku cukup kaget, soalnya cuma aku penumpang yang naek dari Solo. Kereta-pun cukup lengang sehingga aku bebas memilih tempat duduk soalnya banyak yang kosong. Nah, di sekitar daerah Nganjuk (udah pagi), aku mengalami pengalaman mendebarkan. Aku memutuskan tidur sebentar karena semalaman tidak bisa tidur di kereta. Toh, aku nggak mungkin kebabalasan soalnya Kediri kan tujuan akhir kereta ini. Namun saat aku mencoba tidur, tiba-tiba terdengar bunyi “Pyaar!!!” dan kaca-kaca berserakan di sekitarku. Baru aku nyadar, kaca jendela di seberangku dilempar batu.
100_1828
Kacanya nyampe ke wajahku dan untung sekali aku pas merem saat itu, kalo nggak mungkin skenario terburuk pecahannya masuk ke mataku. Mas-mas yang duduk di kursi di samping kaca yang pecah itu lebih beruntung lagi, soalnya dia pas lagi tiduran dan pake topi lagi (kalo nggak, bisa kubayangin pasti berdarah-darah). Wah, Puji Tuhan sekali aku nggak kenapa2 *perjalananku ini emang kuanggap petualangan liar, tapi nggak gini2 juga kali*. Nggak habis pikir deh, siapa sih orang yang bisa sejahat itu ngelemparin kereta pake batu? Abis kejadian itu aku cuma bisa geleng2 kepala.
Sesampainya di Stasiun Kediri, aku tertarik dengan jam tua yang masih tepat waktu di dalam stasiun ini.
100_1829
Stasiun Kediri cukup biasa2 aja untuk ukuran kota terbesar ke-3 di Jawa Timur. Aku lalu melanjutkan perjalanan mengelilingi kota Kediri. Aku cukup kaget ketika keluar stasiun, aku justru menemukan diriku berada di jalan Dhoho, itu lho yang dijuluki Malioboronya Kediri. Ini dia suasana Jalan Dhoho di Minggu pagi.
100_1833
Tujuan pertamaku adalah Gereja Merah yang terletak di Bundaran Sekartaji, Mojoroto. Aku tertarik banget dengan gereja ini soalnya gerejanya gereja tua dan berarsitektur gotik. Setelah bertanya dengan seorang tukang parkir, beliau menyarankanku belok ke kanan abis keluar dari stasiun lalu belok ke kiri (arah selatan) lalu naik angkot kuning. Di persimpangan jalan aku menemukan gedung Bank Indonesia cabang Kediri.
100_1834
Aku pun berjalan ke arah sebuah gunung yang terlihat besar sekali (tapi sayangnya aku nggak tahu gunung apa itu). Di jalan itu aku menyetop sebuah angkot kuning, ada tulisan Selomangleng (rute A kalo nggak salah). Ternyata angkot itu melewati Bundaran Sekartaji, langsung aja aku naiki. Nah, ternyata di sepanjang perjalanan kami melintasi Sungai Brantas yang legendaris itu. Aku cukup kagum walaupun di musim kemarau begini, air di sungai lumayan tinggi. Aku coba bayangin kalo air di Bengawan Solo setinggi ini, kota Solo pasti udah siaga satu dan warganya siap2 pada ngungsi semua hahaha.
Beberapa menit kemudian aku tiba di Bundaran Sekartaji dan dikasi tarif 2.500 rupiah. Nah, di sini terdapat Monumen Kediri Syu dengan latar belakang Gereja Merah yang keren bangeeeeeet.
100_1841
100_1840
Gereja Merah sebenarnya adalah julukan bagi gereja GPIB Imanuel dan termasuk cagar budaya soalnya umurnya dah 100 tahun lebih. Sayang, saat itu pas hari Minggu jadi gereja digunakan untuk beribadah. Aku jadi nggak enak kalo foto2 lebih dekat. Ini dia foto2 gereja ini seadanya.
100_1849   100_1846
100_1852
Setelah puas foto2 Gereja Merah, akupun melanjutkan perjalanan menuju destinasiku berikutnya, yaitu Monumen Gumul. Nah, aku sama sekali nggak ada clue naek apa nih kesananya. Beruntung, aku bertemu lagi dengan angkot kuning jurusan A tadi. Aku tanya sama bapak angkotnya, ternyata aku harus oper kol jurusan Pare (bukan brokoli lho maksudnya, tapi lidah orang Jawa kalo nyebut mobil “colt” jadi kol). Nah, bisa dibilang trayek angkot di Kediri cukup aneh, soalnya angkot ini muter2 dan akhirnya balik lagi ke tempat dimana aku nyetop angkot ini pertama kali (lho???). Di tepi sungai Brantas, ternyata angkot ini melewati Masjid Agung Kediri dan alun-alunnya.
100_2006
Untungnya lagi, ibu2 yang satu angkot sama aku juga mau ke Pare jadi aku bisa ngikutin ibunya. Di sebuah pertigaan di jalan Ahmad Yani (depan Makodin) kami turun lalu nyegat kol arah Pare. Nah, untung aja aku ikut ibunya ini soalnya kol yang dimaksud dari luar nggak kayak angkutan umum, soalnya pintunya ditutup. Kalo aku sendirian pasti aku nggak tahu hehehe (makasih ya ibunya).
Perjalanan ke Gumul ternyata lumayan lama. Awalnya aku membayangkan Gumul tuh terletak di tengah kota, tapi ternyata ada jauh di pinggiran. Begitu liat, wow ini yang namanya Gumul? Megah banget.
100_1858
Setelah membayar 4 ribu rupiah ke bapak sopir, aku langsung menyeberang ke Monumen Gumul. Aku sempet bingung dimana masuknya soalnya di sekeliling monumen dikasih pagar pembatas dari rantai. Akhirnya sama satpamnya aku dikasih tau, “Nggak apa-apa Mas, lompat aja.” Ternyata ada jalan masuk bawah tanah dari tempat parkir menuju monumen untuk menghindari kepadatan lalu lintas di Simpang Lima.
Hari itu masih siang tapi sudah banyak warga Kediri yang nongkrong di sana. Lucunya aku melihat sekelompok anak latihan nge-dance ala K-Pop di sana hahaha (semacam klub kali).
100_1869
Walaupun saat itu siang bolong, tapi teriknya matahari yang menyengat tak terasa, soalnya angin di monumen ini kenceng banget, berasa di pantai malah. Tapi aku cukup kecewa soalnya nggak ada yang bisa dilihat di sini. Awalnya kupikir aku bisa naik ke puncak monumen, namun ternyata overall monumen ini sebenarnya belum jadi. Yang bisa dipakai cuma kamar mandinya doang. Yah ... *kecewa mode on*
Aku kemudian melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu Waduk Selorejo (baca postinganku di sini) dan balik lagi ke Kediri sekitar jam 3 siang. Nah, di sini aku mulai kontak2 temen2 Couch Surfing alias CS Kediri.
Apa, belum tau apa itu Couch Surfing?
Ih, gimana sih, ngakunya backpacker? Couch Surfing itu sebuah website pertemanan khusus backpacker (lebih lengkapnya klik di sini). Kalo kalian mau backpacking ke sebuah kota dan bingung mau nginep dimana, situs ini menyediakan “host” alias tuan rumah yang bisa menyediakan akomodasi selama di sana. Sebagai gantinya, kita juga menyediakan rumah kita sebagai akomodasi apabila ada backpacker yang berkunjung ke kota kita.
Walaupun udah beberapa bulan gabung di CS, namun baru kali ini aku memanfaatkannya. Untungnya, salah satu anak CS Kediri bernama Mas Pram mau menampungku selama di Kediri (padahal kenalan baru tadi pagi lewat sms hehehe). Kamipun janjian ketemu di Gumul. Ternyata beliau juga baru 3 bulan di Kediri jadi belum pernah maen ke Gumul. Akhirnya kami berdua menjelajahi Gumul bersama, termasuk jalan bawah tanahnya.
100_2003
Sebelum pulang, aku sempat memotret salah satu sudut Gumul yang menggambarkan kerukunan beragama di Kediri. Nah, yang kulingkari tuh gereja Katolik Pohsarang yang terkenal di Kediri (tapi kali ini tak kukunjungi sebab aku sudah pernah dua kali ke sana). Salah satu yang membuat gereja Katolik itu sangat terkenal di kalangan umat Katolik adalah adanya Goa Maria yang menyerupai Goa Maria Lourdes yang ada di Perancis sana. Kalo dipikir-pikir, Gumul juga mirip Arch de Triomphe di Paris sana. Kenapa ya arek Kediri pengen banget nyama2in kota mereka ama Perancis? Apakah ingin merebut gelar Paris van Java dari Bandung?
100_1994
Terus ini nih relief yang agak bikin geli, sejak kapan ya Indonesia dijajah ama PINOKIO???
100_2000
Yang lebih parah lagi Cornelis de Houtman tuh datang ke Indonesia pas zaman-zaman Kerajaan Islam kali, bukan pas zaman Majapahit gitu. Capek deh….
Di rumah Mas Pram ternyata aku disediain sebuah kamar kosong yang katanya milik adiknya yang lagi kuliah di luar kota. Pertama sih aku agak “pekewuh” alias nggak enak (dalam arti nggak mau merepotkan). Soalnya biasanya kalo backpacking aku bermalam di tempat temenku yang udah lumayan akrab. Eh, tapi 30 menit kemudian, rumah Mas Pram udah kuanggap kayak rumah sendiri (bebas makan, minum kopi, nonton TV, mandi, be’ol hehehe) *bahaya backpacker beginian*
Oya, baru kali ini aku dapet kesempatan bertukar pikiran dengan sesama backpacker. Mas Pram lalu menceritakan pengalaman uniknya di Tulungagung menikmati Kopi Pangku. Ternyata kopinya biasa aja, cuma yang jual boleh dipangku, alias kayak female escort gitu, cewek pelayannya nemenin ngobrol. Huahahahaa asik tuh….
Sama Mas Pram, malamnya aku diajak muter-muter Kediri, termasuk mencari oleh-oleh yang ternyata pusatnya di deket kelenteng (sekilas kayak Pecinan-nya Kediri, banyak bangunan tuanya). Aku lalu membeli kerupuk pasir yang katanya sih digoreng nggak pake minyak tapi pake pasir jadi non kolesterol (begitu kucoba mirip krupuk biasa, cuma agak “sepo” alias tawar). Ada juga banyak yang jual tahu Kediri. Sayang sekali di sini aku nggak sempat menikmati kuliner khas Kediri, yaitu Pecel Mbok Bari (yang katanya berdiri sejak 1964, wah apa nggak capek ya Mbok Bari berdiri terus). Soalnya lidahku nggak tahan ama makanan yang pedes2.
Nah, itulah pengalamanku sehari di Kota Kediri. Eh, masih belum kelar, soalnya masih banyak pengalaman-pengalaman tak terduga yang kualamin di sini...

5 comments:

  1. aku mau tanya, kalo dari kediri itu kita naik kereta ke solo gimana caranya ya???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa naik kereta Matarmaja jurusan Malang - Jakarta, kereta Brantas jurusan Kediri - Jakarta ama Kahuripan jurusan Kediri - Padalarang, semuanya melewati Solo. Nanti turun di stasiun Solojebres dan semuanya kereta ekonomi. Kalo yg bisnis atau eksekutif kurang tahu

      Delete
  2. kalo dari stasiun kediri ke simpang lima gumul naik apa ya kemudian perjalanan bisa ditempuh berp jam ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah jalan ke Kediri mbak?
      Kalo blm, aq kasih saran..
      Angkutan sekarang gampang di Kediri.
      Kalo ke Gumul, tinggal naik gojek saja. Mbaknya pasti tau kan cara pesennya. Tp saya sarankan, jangan naik gojek di Stasiun. Keluar setasiun saja dulu, jalan saja kearah kanan sampe ketemu jalan raya yg rame (jl Hayam Wuruk) atau jln lurus ke depan sampe ketemu pertigaan yg rame (jl Doho). Kasian babang Gojeknya, lagi kisruh sm tukang becak dan ojek di stasiun.
      Kalau mau naik lyn P(jurusan pare)/bus Bagong/Puspa Indah jurusan Malang, bisa saja. Tp mbaknya kudu nyegat di pertigaan utara RS Bhayangkara Kdr. Menuju pertigaan situ, mbaknya cukup naik becak. Masalah waktu, tergantung Lyn/Bis nya lama ngetem ato engga.

      Delete