Monday, March 6, 2017

IT’S MARCH AND IT’S RAINING MOVIE! PART TWO - REVIEW FILM TERBARU ALA MBP

 

Friend-Request-Full-Movie-Download-Free-in-HDRip 

Lanjutan dari postingan sebelumnya. Silakan disimak ….

5. BILOCATION (JEPANG) - NOT FOR ALL HORROR FANS

  BILOCATION POSTER

Kembali ke pioneer film horor Asia berkualitas, yakni Jepang. Kali ini gue akan membahas “Bilocation”; sebuah film yang menceritakan doppelganger dengan sisi yang lebih gelap. Film ini menceritakan seorang pelukis muda bernama Shinobu (itu nama cewe yaaa) yang suatu bertemu dengan duplikat-nya yang disebut “bilocation”. Nggak seperti doppleganger biasa, “bilocation” ini amat ganas bahkan hendak membunuh duplikat aslinya untuk menguasai hidupnya. Sang tokoh utama kemudian bertemu dengan teman-teman senasib yang kehidupan mereka juga diteror oleh “bilocation”.

BILOCATION

Sebagai film horor yang tidak mengandalkan hantu atau jumpscare lainnya, film ini lebih mengeksplore drama yang dialami para tokoh-tokohnya. Film ini memang nggak mengandalkan “horor” semata, bahkan bisa dikatakan satu-satunya hal yang serem dan disturbing dari film ini hanyalah boneka yang menggambarkan “bilocation” (ada di poster filmnya) pada awal cerita. Kelebihannya, film ini mengandalkan plot twist yang bisa gue bilang rumit, alias kalian mungkin harus menonton film ini lebih dari sekali untuk memahami jalan cerita. Endingnya juga tragis dan hmmm ... nggak banget deh menurut gue.

Overall, jika kalian nggak suka film yang serius atau cuman mencari sekedar hiburan aja, gue sarankan menghindari film ini. Soalnya plot-nya agak rumit. Namun jika kepingin film yang buat kita mikir, jelas film ini cocok untuk kalian. Gue kasih 4,5 CD berdarah deh buat film ini, khusus buat mengapresiasi plot twist-nya yang shocking sekaligus tragis.

030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[39][4]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[39][6]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[39][8]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[39][10]030menunderwear2Copy2_thumb31_thumb6

6. FRIEND REQUEST (JERMAN) - GOOD BUT NO ‘THAT’ GOOD

  FRIEND REQUEST

Sudah sejak lama gue mengincar film “Friend Request” ini. Gue membaca banyak review yang menyanjung film ini, bahkan mengkomparasinya dengan “Unfriended”, salah satu film “breakthrough” horor paling brilian yang pernah gue liat. Katanya, kalo kalian menikmati “Unfriended” maka kalian dijamin akan menikmati film ini. Bahkan, salah satu member MBP yang paling terpercaya dalam mereview film horor juga menyarankan film ini. Namun gue sadar, selera orang beda-beda. Mungkin banyak yang menyukai film ini, namun gue jelas bukan salah satunya. Satu-satunya yang gue dapet dari film ini hanya kekecewaan.

Film ini menceritakan seorang gadis populer bernama Laura yang pada suatu hari mendapat permintaan pertemanan (hence judulnya “Friend Request”) di facebook dari seorang cewek gothic penyendiri bernama Marina. Sedikit yang ia tahu, bahwa keputusan yang awalnya “innocent” itu pada akhirnya akan mengancam hidupnya dan keselamatan teman-temannya sendiri.

Oke, gue paham kenapa banyak yang menilai positif film ini. Film ini punya konsep yang keren dan kreatif. Adegan-adegannya pun seru dengan jump scare yang lumayan. Mengingat ini film Barat, maka hal-hal tersebut bisa dinilai sebagai prestasi luar biasa (lain halnya jika ini film horor Asia, mungkin hal-hal kek gitu udah dianggap biasa). Soalnya tau sendiri setan versi film Barat biasanya lebay. Namun dari segi teknis dan ide cerita, film ini emang jempolan.

image

*imagine this scene happens in your school computer lab*

Tapi tetap saja ada yang bagi mengganjal buat gue. Pertama gue bingung karakter mana yang baik dan jahat? Karakter mana yang harusnya mendapat simpati? Oke gue tahu semua teman Laura semuanya bitchy and jerk, they deserve what they got. Tapi gue bingung, di sini seharusnya kita membela Laura, tokoh utamanya atau Marina, si tokoh antagonis?

Latar belakang tokoh antagonis memang pantas mendapat simpati, namun tetap saja apa yang dilakukannya salah. Menurut gue apa yang dilakukan sang tokoh utama sudah benar, tapi mengapa dia harus mendapat “hukuman” atas perbuatannya itu? Ini membuat gue berpikir, apa sih pesan moral film ini? Pada film biasanya tokoh jahat akan mendapat hukuman dan tokoh baik selamat karena kualitas dalam dirinya. Namun di sini nggak. Endingnya juga nggak jelas buat gue.

Jelas bagi gue ini adalah kesalahan paling fatal yang bisa dilakukan dalam sebuah film. Oke deh gue akuin semua hal yang bersifat teknis horor sudah patut mendapat acungan jempol, tapi dari segi pesan moral, I don’t get anything. Film ini menurut gue “empty” tanpa menawarkan suatu pencerahan yang baru. Film ini bener-bener kosong, nggak bermakna, kecuali jika film ini mau menekankan pesan untuk berhati-hati dalam memilih teman dalam dunia maya.

Menurut gue, contrary dengan apa kata kritikus lainnya, film ini jelas nggak bisa dibandingin dengan pendahulunya; “Unfriended”. Memang genre-nya sama (musical score-nya juga sama-sama memuaskan), namun “Unfriended” menawarkan pesan moral yang amat jelas, yakni menolak “cyberbullying”. Sedangkan menonton film ini bak memakan makanan yang lezat namun sama sekali nggak bergizi. Definetely not the kind of movie I wanted to watch. Tapi gue nggak menutup kemungkinan kalian bakalan menikmati film ini jika kalian nggak seidealis gue.

And may I remind you, film ini berusaha amat keras menjadi the next “The Ring” (konsep ceritanya hampir mirip). Gue nggak mengatakan itu gagal, but yeah, just try to be original next time.

Overall gue kasi nilai 3,5 CD berdarah buat film ini. Gue udah berbaik hati lho ngasi nilai segini, mengingat film ini berasal dari negara yang nggak biasa memproduksi film horor, yakni Jerman.

030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[39][12]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[39][14]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[39][16]030menunderwear2Copy2_thumb31_thumb6[3]030menunderwear2_thumb132_thumb5_thu[2]

7. LAST SHIFT (AMRIK) - JUST ONE WORD: “EEEEEEEW!!!”

  last-shift

Ew ... ew ... ewwwwww ... don’t bother to watch this movie! Gue yang download-nya gratis numpang wifi di tempat temen gue aja ngerasa rugi buang-buang kuotanya. Pokoknya jangan tonton film iniiiiiiiiii!!! Sumpah filmnya nggak sekeren posternya. Film ini bener-bener ngingetin gue ama lack of quality-nya film horor Hollywood ketimbang film horor Asia.

8. JERUZALEM (ISRAEL) - EXCITING CONCEPT, THAT’S IT!

  jeruzalem

Film horor Israel? Wow ... that’s definetely something new. Gue aja nggak tau kalo Israel bisa bikin film hahaha (boleh ya, padahal setau gue hukum Yahudi cukup ketat). Well, yang pasti gue merasa bias melihat film ini. Jujur, film ini memiliki tema dan premis yang keren dan original. Apalagi film ini bergenre found footage yang jadi genre favorit gue banget. Itu masih ditambah film ini menampilkan glimpse panorama kota suci Yerusalem yang sangat indah. Namun lagi-lagi film ini jatuh pada tiga hal: eksekusi ... eksekusi ... dan eskekusi! Walaupun memiliki tema yang fresh dan keren, tapi jika eksekusinya mengecewakan, hasilnya pun tetap mengecewakan.

Film ini menceritakan perjalanan dua cewek Yahudi asal Amrik yang berwisata ke Israel. Awalnya mereka ingin menuju ke Tel Aviv, ibu kotanya. Namun di dalam perjalanan, mereka bertemu seorang cowok Katolik yang mengajak mereka mengubah perjalanan ke Yerusalem, karena di sana akan ada peringatan hari besar Yahudi, yakni Yom Kippur. Ketiganya kemudian meneruskan perjalanan ke kota suci dan berteman dengan seorang pemuda muslim “ultra-moderat-liberal” (you’ll know what I mean). Wisata yang awalnya menyenangkan itu berubah menjadi bencana ketika wabah misterius (disertai makhluk misterius) muncul di Yerusalem.

image

Hal yang paling menarik menurut gue adalah premis yang ditawarkan di awal film ini, “Ada tiga gerbang menuju Neraka. Satu di gurun, satu di lautan, dan satu di Yerusalem” yang katanya diambil dari Kitab Yeremia: 16. Well, gue ngubek-ngubek kitab suci gue tapi nggak menemukan ayat tersebut. Well done guys, menggunakan ayat kitab suci buat promosi film, ditambah lagi kenyataannya ayatnya tidak ada. A hell of promotion.

Tapi secara keseluruhan, sebenarnya gue cukup impressed dengan latar belakang cerita ini. Keempat muda-mudinya digambarkan mengaku menganut agama tertentu. Namun, kenyataannya, kehidupan mereka mengikuti alur duniawi. It’s a hard truth guys, mungkin inilah gambaran muda-mudi sekarang yang di luar memang berlabel penganut agama (bahkan mengikuti peribadatannya), tetapi tetap saja nggak mudah bagi mereka untuk mengabaikan godaan nafsu jasmani mereka. But I won’t judge, I’ll admit it’s a hard thing to do for all of us. Gue rasa itu nggak jauh beda dengan para penganut agama yang di luar terlihat alim, namun di dalam masih menyimpan rasa benci, iri hati, dan dendam.

Satu adegan yang bener-bener bikin gue terkesima dan awe-inspiring adalah, ketika hampir mendekati ending dan para tokohnya mulai putus asa karena sepertinya udah tak ada jalan keluar, pada akhirnya merekapun berpaling pada Tuhan dan berdoa menurut kepercayaan mereka masing-masing. Well that’s definetely something. Walaupun adegan yang mengikutinya nggak banget menurut gue, tapi menurut gue itu masihlah memberikan suatu pencerahan. Jauh lebih bagus daripada “Friend Request” yang nggak bermakna.

Gue juga suka banget dengan penggambaran kota Yerusalem di film ini. Gue jadi kepengen ke sana. Bahkan, kita diajak “berwisata” keliling kota suci tersebut, mulai dari mengunjungi Gereja Makam Suci, lokasi tersuci di dunia Kekristenan hingga favorit gue, Solomon’s Quarries yang penuh misteri (gue sampe googling lho saking kerennya tempatnya). Bahkan ketegangan antara tentara Yahudi dan penduduk Muslim juga disiratkan secara gamblang di film ini. Gue juga suka banget film ini juga menyinggung “Jerusalem Syndrome” yang merupakan penyakit psikis beneran!

Konsep “musibah” yang menimpa mereka sungguh brilian. Emang sih keliatan plagiat “Cloverfield” banget, tapi mengambil konsep “raksasa” yang ada di kitab suci Yahudi, Kristen, hingga Islam gue pikir itu keren banget! Walaupun “wabah” yang menjadikan yang terinfeksi jadi xxxxxxx (gue sensor takut spoiler) gue rasa agak berlebihan dan nggak masuk akal.

Gue udah menyajikan kelebihan-kelebihan film ini, sekarang beralih ke kekurangannya. Dan.itu.ada.banyak.banget! Dari review gue di atas, mungkin kalian mendapat kesan film-nya bagus banget ya? Tapi kenyataannya nggak begitu. Seperti yang gue bilang di awal, eksekusinya gagal total. Akting para pemerannya lebay (kecuali akting si cewek rambut pirang gue rasa natural banget). Tokoh utamanya sama sekali nggak mengundang simpati (gue lebih merasa dia cuman jadi karakter “kameramen” di sini alih-alih bintang utama). Ada plot twist di sini, namun nggak terlalu mempengaruhi jalan cerita. Ceritanya berantakan. Dan paling bikin gue kesel, banyak adegan “mesum” yang nggak perlu di sini (gue pikir untuk tujuannya untuk menarik pemirsa Barat). Secara konsep film ini emang oke, tapi tetep saja film ini terkesan sebagai film monster B-rated.

Jujur, ini film pertama yang bikin gue bias. Kalo dari segi konsep dan tema, gue bakalan ngasih nilai 5 CD berdarah tanpa ragu (belum lagi settingnya). Namun kalo dari segi cerita, aaaaargh kacau balau banget! Film ini ngingetin gue ama betapa kerennya konsep dan setting di film “Krampus” dan “Chernobyl Diaries”. Namun sama seperti kedua film itu, “Jeruzalem” gagal total dalam membuat film yang bagus, walaupun sudah memiliki konsep yang mumpuni.

Hasilnya? Gue nggak akan memberi nilai untuk film ini (yang pertama dalam sejarah Mengaku Backpacker). Terlalu bias buat gue. Biar kalian sendiri yang menilainya. Recommended or not? Gue bahkan nggak bisa menjawab pertanyaan itu untuk kalian.

Nah, demikian guys review-review film horor yang pernah gue tonton. Silakan jika ada feedback buat kalian yang pernah nonton film-film di atas. Kalo ada saran film-film keren yang mesti gue review, segera post di comment ya. Gue tunggu ... thanks for reading :D

10 comments:

  1. Belom nonton semua masa. Wkwkwkwk. Cuma yang billocation itu kek nya bisa laaa buat di donlod besok2. Maaciw review nha :)

    ReplyDelete
  2. Langsung donlod Billocation. Langsung nonton. Keren ajib deh. Maaciw dah di review. Dan ga nyesel nonton nya. Emang ga horor tapi... sedih akhir2 nya malah gthu ;(

    ReplyDelete
  3. *langsung ngecek kuota buat download 😄😄

    ReplyDelete
  4. Lasr shift prasaan bgus bang

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin selera org beda2. tapi menurut gue mengecewakan :(

      Delete
  5. Aku pernah ke jerusalem, waktu itu karena suatu alasan (niat mau pulang aja) kami harus lewat tembok ratapan. Sebagai muslim agak deg2an jg karena tentara israel lagi banyak yg pulang dan berdoa, banyak yg liatin sih tapi kami ga maksud apa2 cuma numpang lewat biar deket bis. Semoga bang dave bisa kesana yaa, bagus kok banyak sejarahnya, terutama agama kristen dan islam, yahudi juga. Budayanya sama kentalnya seperti negara dgn agama yg mayoritas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaaaaaaaaa pengen banget ke sana :o

      Delete
  6. coba nonton the wailing bang? film korea tuh..

    ReplyDelete
  7. Udah lama baca postingan yg ini, tapi barusan aja nonton friend request. Akhirnya balik lagi ke sini demi nulis komen.
    Efek-efeknya bagus, tapi konflik film ini cetek banget. Alasan membunuh teman2 si protagonis juga kayak having fun aja. Bener-bener film yg cetek dan pointless.

    ReplyDelete
  8. sumpah, ini blog keren banget kalo nge-review film. Well Done, Bang Dave!!

    ReplyDelete