Wednesday, May 30, 2018

10 GENOSIDA TERPARAH SEPANJANG SEJARAH: PART 1



Genosida menurut gue adalah kejahatan terkeji yang bisa dilakukan oleh umat manusia. Genosida sendiri diartikan sebagai pembunuhan massal yang menyasar pada etnis, suku, agama, atau nasionalisme tertentu. Genosida sendiri berasal dari kata “genos” yang artinya “generasi” dan  “sida” yang artinya pembunuhan. Jadi, alih-alih membunuh seseorang, genosida lebih ditargetkan untuk menghabisi seluruh generasi. Maka tak heran, sasaran genosida pun mencakup wanita dan anak-anak tak berdosa.

Genosida bukanlah hal baru bagi manusia. Genosida sudah sering terjadi dalam sejarah umat manusia. Banyak arkeolog menduga bahwa punahnya spesies manusia kera “Neanderthal” karena dipicu pembantaian massal yang dilakukan oleh tetangganya, “Homo sapiens”, yakni kita sendiri. Jadi, apakah aksi genosida sendiri sudah mengakar dalam genetik kita? Semoga tidak.

Gue mengumpulkan 10 (saja) aksi genosida paling mengerikan yang pernah dilakukan umat manusia. Karena banyaknya detail yang ingin gue ungkap di tiap list-nya, gue memecah postingan ini menjadi dua bagian.Gue juga akan menghitung mundur tiap kasus genosida berdasarkan tingginya jumlah korban jiwa.

Sebelumnya gue peringatkan, membaca postingan ini mungkin membuat kalian trauma, jadi gue sarankan pertimbangkan baik-baik sebelum mulai membacanya.


10. GENOSIDA BANDA



Kapan: 1621
Dimana: Pulau Banda, Maluku
Pelaku: VOC di bawah pimpinan JP Coen
Korban: penduduk asli Banda
Jumlah korban: 13.000 jiwa

Tanah air kita pun pernah mengalami salah satu genosida terkejam dalam sejarah. Pada 1609, kapal VOC tiba di Kepuauan Banda untuk berdagang pala, hasil alam utama kepulauan tersebut. Kala itu, pala merupakan salah satu rempah-rempah eksotis yang dihargai amat tinggi di Eropa. Akan tetapi, Belanda berang begitu mengetahui rakyat Banda lebih suka berdagang dengan kompetitornya, yakni Inggris.

Puncaknya, JP Coen, pemimpin VOC kala itu, mengadakan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk asli Banda. Tanpa pandang bulu, termasuk wanita dan anak-anak, semuanya dibunuh dalam genosida tersebut. Sedangkan kepala dan potongan tubuh para pemimpin mereka ditancapkan di batang bambu sebagai peringatan akan kekejaman mereka. Dari 14.000 penduduk yang hidup damai di pulau tersebut kala itu, hanya tersisa 480 orang yang berhasil meloloskan diri dari pembantaian tersebut.

Semua darah yang tertumpah itu hanya demi pala.

9. PERANG SALIB ALBIGENSIAN



Kapan: 1209-1229
Dimana: Languedoc, Prancis
Pelaku: kaum Katolik Prancis di bawah pimpinan Paus Innocent III
Korban: penganut agama Cathar
Jumlah korban: 200.000 – 1 juta jiwa

Jika mendengar nama “Perang Salib”, maka yang teringat mungkin permusuhan antara kaum Kristiani dengan Muslim untuk memperebutkan Tanah Suci. Namun lain halnya dengan Perang Salib yang terjadi di tanah Eropa ini. Pada abad ke-11, berkembang sebuah agama bi’dah yang bernama Cathar. Agama beraliran gnostik ini mengakui Injil dan menyebut diri mereka Kristen, namun mempercayai bahwa ada dua Tuhan, yakni satu Tuhan yang baik dan satu Tuhan yang jahat (dualisme). Gereja Katolik di bawah pimpinan Paus, penguasa tertinggi di Eropa kala itu, tentu saja menganggap aliran tersebut sesat.

Para penganut Cathar ini disebut sebagai Albigensian (artinya penduduk Albi), sebab sebagian besar bermukim di kota Albi, di wilayah selatan Prancis. Paus Innocent III kemudian mengutus tentara untuk menghabisi kaum Albigensian di bawah pimpinan seorang jenderal bernama Arnaud Amalric. Amalric yang berhasil mengepung kota awalnya meminta seluruh umat Katolik yang berdiam di kota tersebut untuk keluar menyelamatkan diri, sebab ia hanya menyasar kaum Cathar yang ia anggap sesat. Namun penduduk kota yang beragama Katolik saat itu bersikeras tetap tinggal untuk membantu tetangga-tetangga mereka yang beraliran Cathar. Tanpa pilihan lain, Amalric menyerang kota tersebut dan membantai semua yang tinggal di kota tersebut.

Ketika salah satu tentara kepausan bertanya, bagaimana cara membedakan kaum Cathar dan sesama mereka kaum Katolik, Amalric hanya menjawab: “Bunuh saja semua. Biar Tuhan sendiri nanti yang membedakan mereka.” Pada akhir penyerangan, sekitar 200 ribu penduduk kota tewas mereka bantai tanpa pandang bulu. Aksi genosida itu terus meluas hingga akhirnya pada tahun 1350, agama Cathar akhirnya musnah.

8. GENOSIDA RWANDA



Kapan: 1994
Dimana: Rwanda, Afrika
Pelaku: etnis mayoritas Hutu
Korban: etnis minoritas Tutsi
Jumlah korban: 1 juta jiwa

Genosida Rwanda cukup unik, sebab justru dikenal luas oleh masyarakat dunia berkat sebuah film Hollywood berjudul  “Hotel Rwanda” yang memperoleh piala Oscar. Konflik ini melibatkan dua suku asli Rwanda, yakni Hutu dan Tutsi yang selalu bermusuhan. Padahal secara fisik, kedua suku tersebut tidak bisa dibedakan. Bakan mereka memiliki agama, kebudayaan, hingga bahasa yang sama.

Pemicu utama genosida ini adalah terbunuhnya presiden Rwanda kala itu, seorang Hutu, ketika pesawat kenegaraannya ditembak jatuh. Ini memicu kemarahan suku Hutu yang menuduh suku Tutsi sebagai pelakunya. Pertumpahan darah pun tak terhentikan dan lebih parahnya, genosida tersebut disponsori oleh pemerintah. Akibatnya, bukanlah tentara yang membunuh sebagian besar kaum Tutsi, melainkan justru tetangga dan penduduk sekampungnya sendiri yang sudah diprovokasi oleh pemerintah. Yang lebih mengerikan, genosida ini juga menargetkan kaum Hutu moderat yang membantu suku Tutsi.

Pada akhir pembantaian besar-besaran tersebut, 70% penduduk dari etnis Tutsi terbunuh dan dunia internasional terguncang karena kekejamannya.

7. GENOSIDA ARMENIA



Kapan: 1915-1922
Dimana: Turki
Pelaku: Kekhalifahan Utsmaniyah di bawah pimpinan Sultan Abdul Hamid II
Korban: kaum minoritas Kristen Ortodoks Armenia
Jumlah korban: 1,5 juta jiwa

Hukum Islam mewajibkan kaum non-Muslim di wilayah kekuasaan mereka (disebut “dhimmi”) untuk tetap dilindungi dan dihargai hak beribadahnya, setelah membayar pajak yang disebut “jizya”. Dalam Kekhalifahan Utsmaniyah (Dinasti Ottoman) yang bercokol di Turki, Siria, dan Irak; hal tersebut tetap dilakukan. Namun pada Perang Dunia I, dimana perang besar-besaran berkecamuk di Eropa, Sultan Abdul Hamid II menaruh kecurigaan pada kaum Kristen Ortodoks Armenia yang selama ini tinggal di wilayah mereka. Ia mencurigai mereka tidak loyal terhadap pemerintah Muslim dan lebih berpihak pada Kekaisaran Kristen di Rusia. Akibatnya, dengan berani ia mengusir hingga 2 juta warga minoritas Kristen Ortodoks dari wilayahnya ke padang gurun tanpa tujuan, menyebabkan sebagian besar dari mereka tewas.

Yang mengerikan, bukan hanya kaum Armenia saja yang menjadi korban pembantaian oleh Kekhalifahan ini. Di tempat lain, terjadi tiga genosida lain yang menyasar penduduk minoritas Kristen Ortodoks. Dalam kurun waktu 1914-1922, kaum Kristen Ortodoks Yunani di Anatolia, Turki juga menjadi korban pembantaian besar-besaran. Di Persia, pada tahun 1915-1923, kaum Kristen Ortodoks Assiria juga mengalami hal serupa. Dalam setiap genosida, masing-masing jatuh hingga 750.000 korban jiwa. Tak lupa, pada 1915-1918 juga terjadi genosida kaum Kristen Maronit di Lebanon yang menyebabkan 200.000 jiwa meninggal. Sehingga total dari empat genosida tersebut, sudah jatuh korban hingga 3,2 juta jiwa.

Tak heran, setelah Perang Dunia I, Kekhalifahan Utsmaniyah akhirnya runtuh.

6. PARTITION OF INDIA



Kapan: 1947
Dimana: wilayah India dan Pakistan
Pelaku: kaum Muslim dan Hindu India
Korban: kaum Muslim dan Hindu India
Jumlah korban: 1,2 juta jiwa warga Muslim dan 840.000 jiwa warga Hindu

Kita sebagai rakyat Indonesia patut bersyukur, bahwa dalam sejarah Perang Kemerdekaan negara kita, kita tak pernah mengalami apa yang terjadi dalam kemerdekaan India, yakni genosida besar-besaran yang dilakukan justru bukan oleh penjajah, melainkan oleh bangsa mereka sendiri.

Pada 1947, India akhirnya memperoleh kemerdekaan mereka dari Inggris, namun hal tersebut harus dibayar dengan mahal. Kaum Hindu dan Muslim di India memiliki sejarah ketidak-akuran yang panjang. Akibatnya Inggris akhirnya membagi wilayah mereka menjadi dua, yakni India bagi penduduk mayoritas Hindu dan Pakistan untuk penduduk minoritas Muslim. Akibatnya terjadi migrasi besar-besaran, dimana penduduk Hindu yang bermukim di Pakistan harus pindah ke wilayah India, dan begitu pula sebaliknya.

Akan tetapi migrasi yang secara teori sederhana itu ternyata tak berlangsung sepenuhnya damai. Dari 14 juta penduduk yang terpaksa dipindahkan, terjadi kerusuhan dan pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Kaum Hindu membantai kaum Muslim dan begitu pula sebaliknya, kaum Muslim membantai kaum Hindu. Pertikaian ini menyebabkan banyak imigran yang hilang (kemungkinan besar tewas) sepanjang perjalanan.

Seorang jurnalis yang pernah menyaksikan kamp konsentrasi Yahudi NAZI saja memberitakan bahwa apa yang dia lihat jauh lebih kejam ketimbang Holocaust hingga: “wanita hamil dibedah perutnya dan janinnya dibakar hidup-hidup”.

Di pihak Muslim sendiri, ada 1,2 juta penduduk yang tak pernah sampai ke Pakistan. Dan di lain pihak, ada hampir 1 juta penduduk Hindu yang tak pernah sampai ke India. Total, para ahli sejarah memperkirakan sekitar 2,3-3,2 juta jiwa tewas dalam kerusuhan antar-agama tersebut (jika menghitung eetnis minoritas lain seperti Sikh).

Yang lebih parah, aksi genosida di wilayah ini tak berhenti sampai di sini. Pada 1971, di wilayah Pakistan terjadi pembantaian besar-besaran etnis Bengali. Jumlah korbannya bervariasi menurut berbagai sumber, berkisar antara 300 ribu hingga 3 juta jiwa. Peristiwa ini memicu pecahnya negara Bangladesh dari wilayah Pakistan.

Artikel ini akan berlanjut ke Part II yang tentu saja tak kalah sadis, sebab jumlah korban akan semakin meningkat hingga ke angka jutaan bahkan puluhan juta.

No comments:

Post a Comment