Wednesday, May 30, 2018

10 GENOSIDA TERPARAH SEPANJANG SEJARAH: PART 2



Gue akan melanjutkan hitungan mundur dari 5-1. Siapakah pelaku genosida terparah dalam sejarah umat manusia? Kalian akan mengetahui jawabannya.


5. GENOSIDA KAMBOJA



Kapan: 1975-1979
Dimana: Kamboja, Asia Tenggara
Pelaku: rezim Khmer Merah di bawah pimpinan Pol Pot
Jumlah korban: 3 juta jiwa (30% penduduk Kamboja)

Tak ada yang menyangka bahwa Pol Pot, seorang pemuda cerdas yang awalnya bekerja sebagai guru, menjadi salah seorang pembantai terkejam dalam sejarah umat manusia setelah dirinya teracuni paham komunis.

Berbeda dengan genosida lainnya di list ini, yang dilakukan oleh suatu pihak kepada etnis, agama, atau suku lain, Pol Pot dan rezim Khmer Merah-nya justru membantai saudara sebangsanya sendiri. Tak heran, banyak ahli sejarah menyebut kejadian ini sebagai auto-genocide, sebuah peristiwa yang amat langka.

Pol Pot awalnya menyasar kaum yang bukan asli etnis Kamboja. Ia amat membenci kaum pendatang dari Vietnam, Laos, dan Thailand, walaupun mereka sebenarnya sudah berasimilasi dengan budaya Kamboja sejak ratusan tahun lalu.  Secara sukses dia berhasil membunuh 100% penduduk Kamboja keturunan Vietnam serta 40% penduduk keturunan Laos dan Thailand. 

Secara khusus, dia juga amat membenci penduduk keturunan Cina karena umumnya mereka sukses di bidang perdagangan dan lebih makmur ketimbang penduduk pribumi Kamboja. Ia berhasil membunuh 50% penduduk keturunan Cina saat itu. Yang ironis, Pol Pot sendiri memiliki darah campuran Khmer dan Cina.

Pol Pot juga menyasar penduduk Muslim Cham yang dianggapnya tidak mewakili budaya asli Kamboja karena agama eksotis mereka. Dia membantai hampir separuh populasi Muslim di Kamboja. Tak hanya itu, Pol Pot yang menganut atheisme juga melarang semua agama, bahkan tega membantai 50 ribu biksu Budha yang merupakan agama mayoritas penduduk Kamboja.

Tak hanya itu, Pol Pot juga mencurigai semua cendekiawan karena dianggapnya bisa memicu pemberontakan. Bahkan, pada masa Khmer Merah berkuasa, memakai kacamata saja bisa menjadi alasan seseorang dibunuh, karena dia dianggap sebagai kaum cendekiawan yang pintar.

Kekejaman Pol Pot saat itu membantai sepertiga bangsanya sendiri meninggalkan luka dalam dan trauma bagi rakyat Kamboja, hingga saat ini. Salah satu bukti kekejaman tentara Khmer Merah saat itu adalah pohon “Chankiri” yang masih berdiri hingga saat ini. Para tentara saat itu tidak hanya membunuh pria dewasa saja yang mereka curigai, namun juga seluruh keluarga mereka, termasuk anak-anak. Alasan mereka membunuh anak-anak adalah agar dia tidak tumbuh besar dan membalaskan dendam kedua orang tuanya. Cara membunuh anak-anak tersebut cukup sadis, yakni dihantamkan kepalanya ke pohon hingga tewas. Konon, para tentara akan tertawa terbahak-bahak menyaksikan kematian anak tersebut. Bukan karena mereka tak memiliki perasaan, namun karena jika mereka menunjukkan sedikit saja simpati pada korban, mereka akan dicurigai dan menjadi target selanjutnya.

4. HOLODOMOR



Kapan: 1932-1933
Dimana: Ukraina, wilayah USSR
Pelaku: kaum komunis Uni Soviet di bawah pimpinan Stalin
Korban: penduduk etnis Ukrania
Jumlah korban: 7,5 juta jiwa

“Holodomor” adalah salah satu bukti kekejaman paham Komunisme yang dianut Uni Soviet kala itu. Hanya dalam kurun waktu setahun saja, wabah kelaparan yang “disengaja” oleh pemerintah Uni Soviet kala itu menghabisi hingga 7,5 penduduk Ukraina.

Setelah Revolusi Bolshevik dan menghukum mati kaisar terakhir Rusia, Tsar Nicholas II beserta keluarganya pada awal abad ke-20, pemerintahan sosialis Uni Soviet yang baru berdiri menghendaki wilayah Ukraina sebagai jajahannya. Namun rakyat Ukraina menolak dan menghendaki berdirinya negara demokratis yang merdeka.

Uni Soviet memberantas pemberontakan tersebut bukan dengan langkah militer, namun dengan membiarkan warga Ukraina kelaparan. Dengan dalih industrialiasasi, banyak lahan pertanian berubah fungsi. Pemerintah sosialis sendiri mengkehendaki ladang gandum yang menjadi makanan pokok diubah fungsi menjadi lahan untuk tebu dan kapas yang hasilnya lebih menguntungkan. Akibatnya kelaparan melanda seluruh wilayah Ukraina. Tak hanya itu, untuk memperbesar penderitaan rakyat Ukraina, pemerintah Uni Soviet juga menolak semua bantuan bahan pangan dari negara-negara Barat.

Kelaparan besar ini tak hanya menghantam wilayah Ukraina, namun negara tetangganya Kazakhstan juga menjadi korban. Kurang lebih 1,5 juta penduduk Kazakhstan juga ikut tewas. Dan yang lebih mengerikan, bencana kelaparan ini juga sudah pasti berakibat pada munculnya kanibalisme, walaupun gue nggak mau mendengar detail tentang hal itu.

3. ATROCITIES IN CONGO



Kapan: 1885-1908
Dimana: Kongo, Afrika Tengah
Pelaku: Kerajaan Belgia di bawah pimpinan Raja Leopold II
Korban: rakyat pribumi Kongo
Jumlah korban: 1-15 juta jiwa

Memang tak semua setuju mengatakan peristiwa sadis yang dikenal sebagai “Congo Horrors” ini sebagai genosida, namun lebih tepatnya karena “ketiadaan hukum”. Jika penduduk pribumi Banda dibantai karena komoditas pala mereka, maka penduduk Kongo juga mengalami hal serupa. Bangsa Eropa menggunakan hasil alam mereka yang amat berharga, yakni karet alami, sebagai dalih perbuatan biadab mereka.

Pada abad ke-19, Kerajaan Belgia menjajah Kongo, menciptakan sebuah "Free State" (negara tanpa hukum), dan mengeksploitasi hasil alamnya berupa karet secara basar-besaran. Perusahaan-perusahaan Barat yang bercokol di Kongo langsung berlomba-lomba mengumpulkan getah karet “by all means necessary”, terutama karena tidak adanya hukum yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial di Kongo. Mereka bahkan diperbolehkan memperkerjakan tentara militer yang bernama “Force Publique” untuk memaksa warga pribumi mengumpulkan karet. Yang ironis, tentara tersebut direkrut dari penduduk pribumi Kongo sendiri.

Segera, penduduk sipil Kongo diperbudak untuk memanen getah karet untuk diekspor. Warga yang menolak akan dibantai dan desanya dibakar. Bahkan, para budak yang menurut namun tak memenuhi kuota karet yang diinginkan akan  dihukum mati. Tentara “Force Republique” juga diperbolehkan melakukan aksi sadisme mereka sendiri untuk memuaskan nafsu mereka.

Semua aksi mengerikan itu menimbulkan jutaan korban jiwa, bahkan menurunkan populasi Kongo secara dramatis. Tak hanya karena pembantaian massal, namun tak adanya layanan kesehatan menyebabkan berbagai penyakit tropis seperti penyakit tidur, cacar, malaria, dan disentri menyebabkan jutaan penduduk tewas.

Aksi penuh kengerian tersebut berakhir setelah para misionaris penyebar agama Kristen menyaksikan sendiri kekejaman yang terjadi di Kongo dan melaporkannya ke dunia internasional. Inggris dan Amerika Serikat, serta publik Belgia sendiri menuntut pembubaran “Congo Free State” bentukan Belgia hingga akhirnya mereka mendapatkan kemerdekaan sendiri pada 1960-an.

2. HOLOCAUST



Kapan: Perang Dunia II (1939-1945)
Pelaku: Kaum fasisme NAZI di bawah pimpinan Hitler
Korban: kaum Yahudi dan etnis lain
Jumlah korban: 6-17 juta jiwa

Kaget tak melihat Holocaust di posisi pertama? Holocaust adalah genosida paling terkenal dalam sejarah dunia dan juga dipercaya memiliki jumlah korban terbanyak. Tak banyak yang akan gue ceritakan tentang Holocaust sebab kalian sendiri pasti sudah mengetahuinya serta ada banyak sumber tentang kekejaman NAZI.

Namun yang perlu kalian ketahui, Holocaust sendiri tak hanya menargetkan kaum Yahudi. Bahkan jika ditilik dari jumlah korban, kaum Yahudi yang dibantai bahkan tak mencapai separuhnya, hanya 45% dari total korban Holocaust. Namun tak pelak, populasi Yahudi jelas mendapat pukulan terberat, sebab sekitar 6 juta atau 2/3 penduduk Yahudi di Eropa menjadi korban.

Lebih dari separuh korban Holocaust ternyata justru non-Yahudi. Sekitar 2-3 juta korban adalah tawanan perang asal Rusia, 2 juta jiwa adalah penduduk etnis Polandia (termasuk Katolik), jutaan etnis Slavia (Eropa Timur), 200 ribu korban adalah kaum gypsi, 150 korban adalah kaum difabel, 2,5 ribu korban penganut agama Saksi Yehuwa (Jehovah Witnesses), dan tak terhitung kaum gay yang dibunuh saat Holocaust berlangsung.

Tak banyak diketahui pula, aksi Holocaust ini mendapat balasan serupa ketika Jerman akhirnya kalah pada akhir Perang Dunia II. Sekitar 31 juta warga keturunan Jerman diusir dari berbagai negara yang menjadi korban kekejaman NAZI. Sekitar 2 juta warga sipil Jerman di perantauan tewas menjadi korban aksi balas dendam tersebut.

1. GENOSIDA PENDUDUK PRIBUMI AMERIKA



Kapan: 1600-1900 (pasca kedatangan Columbus)
Dimana: seantero Benua Amerika
Pelaku: pendatang kulit putih Eropa
Korban: penduduk asli benua Amerika
Jumlah korban: 45-90 juta jiwa (90% populasi penduduk pribumi Amerika saat itu)

Amerika Serikat boleh mengaku sebagai negara yang paling menjamin HAM di dunia, namun sejarah berkata lain. Justru Amerika Serikat dan pemerintah kolonial lainnya di penjuru benua Amerika (termasuk Kanada dan conquistador Spanyol) merupakan pelaku aksi genosida terkejam dalam sejarah planet ini. Aksi tersebut melenyapkan 90% penduduk asli Amerika saat itu, walau mungkin tak seluruhnya disengaja.

Kedatangan bangsa Eropa ke benua Amerika jelas membawa bencana, paling tidak bagi penduduk pribumi kala itu. Pada abad ke-19, sebelum kedatangan Columbus, ahli sejarah menaksir penduduk asli Benua America paling rendah 10 juta jiwa dan tertinggi 100 juta jiwa. Namun banyak ahli sejarah sepakat di tengah-tengah, yakni sekitar 50 juta jiwa. Itu termasuk antara 2-10 juta jiwa suku Indian penghuni Amerika Utara serta 37 juta jiwa mendiami Amerika Tengah dan Selatan (tterdiri atas 6 juta suku Aztec, 10 juta suku Maya, 11 juta penduduk Amazon, dan 12 juta suku Inca). Namun bahkan di angka paling moderat pun, sekitar 50 juta jiwa, jumlah korban akibat kedatangan bangsa Barat sudah mencapai 45 juta jiwa, jauh lebih tinggi daripada genosida manapun yang ada di list sebelumnya.

Jumlah korban setinggi itu tak hanya datang dari korban peperangan antara pemerintah kolonial Inggris melawan penduduk asli Indian saja. Bahkan setelah pemerintah Amerika Serikat mendapatkan kemerdekaannya, mereka terus melanjutkan tradisi pembantaian itu. Salah satu tragedi kemanusiaan paling terkenal yang menimpa kaum Indian adalah “Trail of Tears” yakni ketika pemerintah AS yang diskriminatif mengeluarkan “Indian Removal Act” yang mengusir ribuan kaum Indian dari rumah mereka untuk ditempatkan di “tempat pengasingan” di Oklahoma. Paling tidak 25.000 anggota suku Cherokee tewas dalam perjalanan tersebut.

Seperti gue sebutkan tadi, peperangan tak hanya menjadi alasan utama korban sebanyak itu berjatuhan. Namun juga karena penyakit “eksotis” yang dibawa oleh bangsa Eropa, terutama cacar, dimana penduduk asli Amerika tidak memiliki kekebalan tubuh melawannya. Yang mengerikan, tak jarang penyakit tersebut justru dimanfaatkan sebagai senjata biologis. Kasus paling terkenal adalah Komandan Inggris, Jeffrey Amherst, pada “Seven Years’ War” (1756-1763) memberikan selimut gratis sebagai bukti “kebaikannya” kepada penduduk pribumi Indian. Tak mereka ketahui, selimut tersebut sebenarnya sudah ditulari dengan wabah cacar dan bertujuan untuk membunuh kaum pribumi.


BONUS:

JENGIS KHAN



Kapan: abad ke-13
Dimana: Asia hingga Eropa
Pelaku: Kekaisaran Mongol
Korban: 10% penduduk dunia saat itu

Kekaisaran Mongol di bawah Jengis Khan merupakan kekaisaran kuno terbesar di dunia, dengan wilayah meliputi sepanjang Benua Asia hingga Eropa. Sebagai jenderal perang, ia terkenal amat kejam, bahkan membantai seluruh penduduk kota yang ditaklukkannya. Sejarah mencatat, sepanjang penaklukannya, ia dan tentaranya telah membantai 40 juta orang atau kurang lebih 10% populasi dunia saat itu. Bahkan, berkat pembantaiannya, ia sudah membantu Bumi dengan mengurangi 700 juta ton karbon sehingga mengurangi efek rumah kaca, serta menyebabkan pemulihan hutan dan area hijau lainnya di kota-kota yang dihancurkannya. Wow!




No comments:

Post a Comment