Wednesday, February 19, 2020

DON’T F*CK WITH NORTH KOREA (1): MENELISIK MISTERI KASUS OTTO WARMBIER



Nb: Karena artikelnya panjang, akan gue bagi jadi dua bagian

Otto Warmbier adalah pemuda kulit putih asal Amerika Serikat yang berprestasi dan hobi traveling. Namun namanya menjadi perbincangan publik di senatero negaranya ketika ia melakukan satu kesalahan yang amat fatal: berkunjung ke Korea Utara. Mulai dari beberapa tahun belakangan, Korea Utara memang membuka pintunya untuk pariwisata. Beberapa vlogger yang sering gue ikutin videonya pun ada yang pernah berkunjung ke Korea Utara, namun semuanya pulang selamat. Akan tetapi sayang, Otto tak menemui nasib sebahagia itu.

Pada kunjungannya di tahun baru 2016, Otto ditangkap oleh pihak berwajib di Korea Utara dan ditahan karena dituduh melakukan kejahatan “tak termaafkan”. Proses diplomasi untuk memulangkan pemuda itu ke negaranya berjalan alot karena baik Amerika Serikat dan Korea Utara tak memiliki hubungan yang harmonis. Video persidangan Otto yang “janggal” membuat kedua orang tua pemuda itu menjadi ketakutan. Hingga ujungnya, ketakutan mereka mengejawantah menjadi nyata. Otto dipulangkan setahun berikutnya dalam kondisi meregang nyawa.

Apakah yang sebenarnya terjadi dengan Otto? Benarkah seperti dugaan banyak pihak ia disiksa selama di penjara? Ataukah dia korban tak berdosa antara perang politik kedua negara?

Dear readers, inilah Dark Case kali ini.

Foto Otto Warmbier
(SUMBER GAMBAR)

Pemuda bernama lengkap Otto Frederick Warmbier ini lahir pada 1994 dari keluarga Yahudi yang bertempat tinggal di Cincinnati, Ohio. Semenjak remaja, ia dikenal sebagai figur yang populer, tampan, dan disukai banyak orang. Tak heran, ia dianugerahi sebagai “prom king” pada pesta kelulusan SMA-nya. Masa depannya pun terbilang cerah, mengingat pribadinya yang dikenal cerdas. Ia mengambil double degree di University of Virginia, mengambil dua jurusan sekaligus, yakni Perdagangan dan Ekonomi. Untuk memenuhi hobi berpetualangnya, ia gemar berpergian ke luar negeri, antara lain hingga ke Eropa serta Kuba dan Ekuador di Amerika Latin.

Pada penghujung 2016, Otto sedang melaksanakan studi ke Hong Kong dan terpaksa menghabiskan tahun baru jauh dari orang tuanya. Hasrat petualang pemuda itu kemudian membuatnya memutuskannya untuk menghabiskan liburan itu dengan melakukan sesuatu yang amat ekstrim. Berwisata ke Korea Utara.

Entah apa yang mendorong Otto melakukan tindakan tersebut. Negaranya kala itu, Amerika Serikat tengah berseteru dengan Korea Utara karena tuduhan pengembangan senjata nuklir hingga pelanggaran HAM yang kerap dilakukan pemimpinnya, Kim Jong-Un. Mungkin keterisolasian Korea Utara dari segala pengaruh dari luar membuat Otto penasaran untuk melihat kehidupan semacam apakah yang akan ia temui di balik segala ketertutupan tersebut. Yang jelas, reputasi Korea Utara yang kelam sama sekali tidak membuat Otto gentar ketika ia akhirnya mem-booking paket perjalanan dari Young Pioneer Tour dari Hong Kong untuk perjalanan selama 5 hari di Korea Utara. Apalagi, operator tur tersebut meyakinkan Otto bahwa perjalanan ini akan sepenuhnya aman.

Pada 5 Desember 2015, Otto besama 10 warga negara Amerika Serikat lain terbang menuju ke Pyongyang.

Kala itu ia sama sekali belum tahu, bahwa ia takkan pernah pulang dalam keadaan selamat.

Tur itu awalnya berjalan sesuai rencana. Grup itu berpartisipasi di pesta tahun baru yang meriah bersama para penduduk Pyongyang di Alun-Alun Kim Il-Sung sambil melihat kembang api. Kemudian grup itu memutuskan untuk melanjutkan pesta di hotel mereka, Yanggakdo International Hotel, sambil minum minuman keras.

Dan di sinilah bencana dimulai.

Selama dua jam, teman-teman Otto dalam grup itu tak tahu dimana keberadaan pemuda itu. Sebelumnya mereka tengah berpesta di bar, namun detik berikutnya, pemuda itu tiba-tiba lenyap. Para anggota grup tur itu tak begitu ambil pusing. Mungkin saja pemuda itu memutuskan jalan-jalan sendiri di dalam hotel. Apalagi ketika teman sekamarnya kembali ke kamar, ia menemukan Otto telah tertidur lelap, mabuk, di atas ranjangnya sendiri.

Hingga kini, apa yang sebenarnya dilakukan Otto selama dua jam ia menghilang di hotel kala itu, hanyalah sebatas spekulasi.

Hotel dimana Otto dan rekan-rekan seperjalanannya menginap

Keesokan harinya, ketika grup itu telah tiba di bandara dan hendak boarding ke pesawat yang akan mengantar mereka pulang, dua orang penjaga berseragam militer mendatangi mereka dan membawa Otto pergi. Pemuda itu sama sekali tak terlihat takut, bahkan terlihat setengah tersenyum, seolah ia baru saja melakukan perbuatan yang nakal.

Itulah kali terakhir teman-teman seperjalanannya melihat Otto.

Kita kembali lagi ke malam itu, dimana Otto lenyap. Seperti gue sebutkan di awal, Otto bukanlah turis Amerika (atau paling nggak bule) yang pertama kali berkunjung ke Korea Utara. Beberapa di antaranya bahkan adalah vlogger yang merekam perjalanan mereka dan membagikannya ke subsciber mereka di YouTube. Jadi boleh dibilang, tak ada lagi kerahasiaan di sini.

Salah satu video mengungkapkan sebuah urban legend mengenai hotel tempat mereka menginap. Hotel itu memiliki lantai nomor 5 yang amat misterius. Lantai itu tertutup hanya untuk staff dan tamu sama sekali tak diperbolehkan masuk ke dalamnya. Bahkan, angka “5”-pun dihilangkan dari tombol lift. Urban legend yang berkembang di kalangan turis Amerika berprasangka bahwa ada rahasia kelam yang disembunyikan di lantai itu.

Merasa penasaran, ada beberapa YouTuber yang nekad masuk ke sana. Di antaranya adalah Calvin Sun dan teman-temannya yang berhasil menyusup ke sana dan merekam kondisi “creepy” di dalamnya. Bukannya angker, ruangan itu (walaupun perlu gue akuin cukup menyeramkan) malah dipenuhi oleh poster-poster propaganda.

Otto kemungkinan besar pernah mendengar urban legend ini dan menurut spekulasi gue, turun sendirian ke sana untuk mengeksplorasinya pada dua jam misterius dimana ia menghilang.

Namun perlu kita ingat juga, para YouTuber yang nekad menggentayangi lantai rahasia ini semuanya selamat dan kembali ke negara mereka hidup-hidup. Tak ada yang mengalami nasib senaas Otto. Lalu apa yang terjadi malam itu?

Pemerintah Korea Utara menuduh Otto sengaja merobek sebuah poster propaganda dari dinding lantai 5 tersebut, lalu membuangnya. Otto kemudian “mengaku” bahwa ia memang berniat membawa poster itu sebagai suvenir ke Amerika, namun karena ukurannya yang terlalu besar, iapun akhirnya meninggalkannya begitu saja.

Apa yang dilakukan Otto ini, walaupun terbilang sepele, dianggap sebagai kejahatan tak terampuni di Korea Utara. Pasalnya, poster yang dirobek itu memuat foto diktator Korea Utara (entah Kim Jon-Un atau mungkin ayahnya) dan perbuatan tersebut bisa dianggap sebagai penghinaan kepada pemimpin yang amat mereka agungkan (bahkan mereka tuhankan) tersebut.

Kurang lebih dua bulan kemudian, Otto kembali muncul di depan publik, kali ini di press conference persidangannya sendiri pada 29 Februari 2016. Di sana, dengan memakai jas dan dasi, ia membacakan pengakuannya dimana ia mengaku bersalah dan memohon ampun dari pemerintah Korea Utara.


Video persidangan Otto Warmbier di depan otoritas militer Korea Utara. Ekspresinya terlihat amat ketakutan, terutama saat penghujung konferensi pers.

Dari ekspresi wajah dan bahasa tubuhnya, bisa terlihat bahwa Otto terlihat amat ketakutan, seolah ia tahu ia takkan keluar dari tempat itu hidup-hidup.

Yang mengejutkan, Otto di kesempatan itu juga mengaku bahwa ia disuruh oleh gerejanya yang bekerja sama dengan CIA, untuk mencuri poster itu. Banyak pihak yang meragukan pengakuan ini dan curiga bahwa surat pengakuan itu dibuat oleh pihak Korea Utara untuk menuduhnya terlibat spionase. Apa kalian melihat kejanggalan dari pernyataan itu?

Tak hanya keterkaitan Otto dengan pihak intelejen Amerika Serikat terlihat terlalu berlebihan namun juga karena kenyataan lain. Ingat bahwa Otto seorang Yahudi? Jadi tidak mungkin ia disuruh oleh gereja untuk mencuri poster itu.

Namun Korea Utara mengajukan sebuah bukti bahwa tuduhan mereka terhadap pemuda Amerika itu bukanlah tidak beralasan. Ada sebuah rekaman CCTV yang menunjukkan seorang pria yang diduga Otto, tengah melepas sebuah poster dari lantai 5 yang terlarang itu.

Sosok dalam video yang terlihat buram ini diyakini adalah Otto Warmbier yang tengah melepas poster dari lokasi terlarang di hotel yang diinapinya, "kejahatan" yang kemudian meminta tumbal nyawanya

Bukti itu sebenarnya bukanlah bukti yang tak terbantahkan. Toh, gambarnya terlalu buram bagi kita untuk mengenali apakah sosok itu benar Otto atau bukan. Yang jelas, bukti itu lebih dari cukup bagi mereka. Alhasil, pinta pengampunan dari Otto sama sekali tak didengar pemerintah Korea Utara. Mereka menghukumnya dengan 15 tahun kerja paksa. Pemerintah Amerika Serikat tentu memprotes dengan keras keputusan sepihak itu. Namun apa boleh buat, mereka tak memiliki kekuatan diplomasi apapun akibat ketegangan politik kedua negara.

Namun ternyata ini bukan akhir cerita. Sedihnya, hal yang lebih tragis justru terjadi.


BERSAMBUNG ...



2 comments:

  1. Kasian :((

    Dia dibawah ancaman dan tekanan saat membaca surat permohonan maaf itu, nyesel saya lihat huhuhuhuh wajahnya :((

    ReplyDelete