Wednesday, February 19, 2020

HARBINGER OF DEATH: KISAH “TYPHOID MARY” DAN “SUPER SPREADER”, TAK BERDOSA NAMUN MEMBAWA PETAKA




Masih karena heboh Coronavirus nih, gue akan mengangkat kisah para “asymptomatic carrier” alias  orang-orang yang terinfeksi oleh patogen (virus atau bakteri penyebab penyakit), namun kebal terhadap penyakit itu sehingga tidak menunjukkan gejala apapun, akan tetapi masih bisa menularkannya pada orang lain. Contoh terkenal dari para “carrier” itu adalah sosok yang pada awal abad ke-20 disebut sebagai “Typhoid Mary”. Sosoknya kala itu mengguncang publik Amerika Serikat, bahkan mengundang ketakutan. Pasalnya, kemanapun sang Mary pergi, malaikat maut seolah senantiasa mengikutinya. Mary menyebarkan penyakit tifus (yang kala itu masih mematikan) kepada orang-orang di sekitarnya. Kasus serupa ternyata terjadi dalam penyebaran COVID-19 ketika seorang pria, lagi-lagi kebal terhadap virus ini, menularkan wabah ini ke penjuru Eropa.
Seperti apakah kisah mereka? Gue akan membahasnya di Dark Case kali ini.

“Typhoid Mary”, sosok yang amat ditakuti ini disebut-sebut menularkan penyakit tifus pada puluhan orang di kota New York, dimana beberapa orang korban bahkan meninggal dunia. Lahir dengan nama Mary Mallon, di Irlandia Utara, sang penebar maut ini kemudian bermigrasi ke Amerika Serikat dan tinggal bersama bibinya di sana. Entah dimana ia terinfeksi penyakit tifus (yang disebabkan bakteri Salmonella typhii), namun yang jelas Mary sama sekali tak menyadarinya. Ia bahkan tak menunjukkan gejala penyakit itu dan terlihat sehat wal'afiat. Mungkin karena ia adalah sedikit dari dengan genetik yang mampu tahan terhadap penyakit itu. Akan tetapi itu bukan berarti bakteri itu mati dalam tubuhnya, tidak. Bakteri itu terus tumbuh di dalam dirinya dan siap untuk ditularkan kepada orang lain yang tak beruntung bertemu dengannya.
Pada tahun 1900, ia mulai bekerja pada sebuah keluarga berada di New York, dimana dalam dua minggu, para penghuni rumah itu tiba-tiba secara “misterius” mengalami demam. Setahun kemudian ia pindah ke Manhattan dan lagi-lagi, keluarga dimana ia bekerja diterjang demam misterius. Bahkan, salah satu pegawai rumah itu meninggal. Kala itu Mary sama sekali belum sadar akan wabah yang ia tebarkan dan pindah bekerja di rumah seorang pengacara. Di sana, tujuh dari delapan anggota keluarga tersebut jatuh sakit.
Pada 1906, ia bekerja di Long Island dan dalam 2 minggu, 10 dari 11 anggota keluarga dimana ia bekerja harus dirumahsakitkan. Kecurigaan mulai tersulut ketika ia bekerja di rumah keluarga banker bernama Warren.  Warren, seorang pria tajir, memiliki pondok musim panas tepi laut di Oyster Bay. Selama liburan, ia mengajak keluarganya untuk berlibur di sana. Mary, sebagai koki kepercayaannya, tentu ikut. Namun di sana, lagi-lagi tragedi merebak. 6 dari 10 anggota keluarga Warren kala itu mengalami demam. Dokter di sana mendiagnosis mereka dengan tifus, namun hal tersebut justru membuat mereka bingung. Tidak pernah ada wabah tifus merebak di wilayah itu selama mereka bekerja sebagai dokter puluhan tahun. Sehingga mau tak mau, kecurigaan jatuh kepada keluarga Warren sebagai sumber wabah itu.
Namun kala itu, tak ada yang mencurigai Mary. Toh, dia senantiasa terlihat sehat.
Salah satu gejala tifus adalah demam yang bisa berakibat kematian
Seorang detektif bernama George Soper pun ditugaskan untuk menyelidikinya. Dari hasil investigasinya, George berkesimpulan bahwa Mary-lah “dalang” yang menyebabkan semua kekacauan itu, menilik bencana demi bencana yang merundung tiap rumah yang didatangi Mary. Akan tetapi sayang, Mary kala itu sudah pindah lagi dan susah untuk melacak keberadaannya kini. Beruntung, George mendengar tentang maut yang menggentayangi sebuah keluarga yang tinggal di Park Avenue. Dua dari pembantu di rumah tersebut mondok di rumah sakit dan seorang anak gadis dari keluarga itu tewas karena demam.
Sesuai tebakan George, ternyata benar Mary bekerja di rumah itu.
Tanpa membuang waktu, George langsung mengkonfrontasi wanita itu. Namun Mary justru marah dan menolak mentah-mentah tuduhan itu. Ia kemudian mengurung dirinya di dalam kamar dan menolak bertemu pria itu.
Soper tak menyerah dan memberi tahu Departemen Kesehatan Kota New York. Di sana mereka bersama beberapa petugas polisi berhasil memaksa Mary untuk meninggalkan keluarga tak berdosa itu. Namun hal itu justru semakin menyulut kemaraha Mary yang beranggapan bahwa pihak berwajib berbuat tak adil padanya.
Peneltian medis terhadapnya membuktikan kecurigaan para dokter bahwa Mary memang seorang “carrier” penyakit tifus. Keberadaan Mary kala itu menghebohkan publik, terutama media surat kabar yang kemudian menjulukinya dengan “Typhoid Mary”. Namun Mary masih bersikeras bahwa dirinya tak bersalah. Mary juga menolak ketika para dokter mengusulkan agar mereka mengoperasi kandung kemihnya (dimana mereka menduga di organ itulah para bakteri tersebut bersembunyi di tubuh Mary).
Tak punya pilihan lain, demi menjaga keselamatan banyak orang, pihak medis terpaksa mengisolasi Mary dalam sebuah klinik di pulau terpencil bernama Brother Island. Namun tentu, siapa sih yang rela dikurung di dalam sebuah gedung di pulau terpencil selama bertahun-tahun? Apalagi ia dilarang melakukan kontak sosial dengan siapapun. Akhirnya setelah 3 tahun mendekam di sana, Mary tak tahan lagi dan meminta para dokter untuk melepaskannya.
Karena rasa kasihan, hati para dokter akhirnya luluh dan mereka mengizinkan Mary kembali ke peradaban dengan syarat yang ketat. Pertama, ia tidak boleh lagi bekerja sebagai koki dan kedua, ia harus menjaga kehigienisannya selama melakukan kontak dengan orang lain untuk meminimalisir infeksi. Mary setuju dengan syarat-syarat itu dan akhirnya dilepaskan dari karantina.
Mary yang terlihat kesal saat dikarantina
Akan tetapi celakanya, sang “Typhoid Mary” ini rupanya tak kapok. Awalnya Mary masih menepati janjinya dengan mengubah mata pencahariannya sebagai tukang laundri, dimana ia tentu hanya memiliki sedikit kontak dengan orang lain, belum lagi ia dikelilingi bahan-bahan desinfektan yang bisa mencegah penularan penyakitnya. Akan tetapi karena gajinya yang amat sedikit, Mary berubah pikiran dan tergoda untuk kembali bekerja sesuai keahliannya, yakni sebagai koki. Tak hanya itu, Mary sengaja mengubah nama keluarganya menjadi Brown agar tak seorangpun mengetahui identitasnya yang sebenarnya.
Dan seperti bisa ditebak, wabah kembali merebak di tiap keluarga yang didatangi Mary.
Kiprahnya sebagai pembawa malapetaka akhirnya usai ketika sebuah wabah tifus menerpa sebuah rumah sakit di New York pada 1915. Di sana, tak kurang 25 pasien terinfeksi, bahkan dua meninggal. Mary, lagi-lagi tertangkap basah bekerja sebagai koki di rumah sakit itu. Iapun kembali ditangkap dan dikarantina kembali di Pulau North Brother. Di sana, para dokter tak lagi berbaik hati dan mengurungnya di sana sampai akhir hayatnya.
Namun status selebriti telanjur menempel pada wanita itu akibat gencarnya pemberitaan media. Beberapa kali para wartawan mendatanginya untuk wawancara karena penasaran akan sosoknya. Namun para dokter terus mengingatkan setiap tamu yang berkunjung untuk tidak menerima apapun yang diberikan Mary, bahkan segelas airpun. Untuk mengisi kesibukan dan mengusir kebosanan, Mary kemudian bekerja di laboratorium klinik itu dan bertugas mencuci alat-alat gelas.
Setelah dikarantina selama 23 tahun, Mary akhirnya meninggal pada usia 69 tahun tanpa pernah sekalipun meninggalkan klinik itu. Seolah tak adil memang, namun itu demi kebaikan banyak orang. Otopsi yang dilakukan terhadap jenazahnya akhirnya membuktikan kecurigaan para dokter selama beberapa dekade. Kandung kemihnya ternyata memang benar menjadi organ tempat bakteri tifus bersembunyi dan berkembang biak. Naas, jika saja Mary mau mengikuti saran dokter untuk mengoperasinya, tentu ia akan bebas dan tak lagi menyandang gelar sebagai sang pembawa maut.
Tapi tentu, bahkan seusai kematiannya-pun, banyak pihak yang takut ia akan masih menularkan bibit penyakit tersebut. Mereka akhirnya memutuskan jenazah Mary untuk dikremasi .
Mary mungkin sosok tak bersalah dalam kasus ini. Tentu kita tak bisa menyalahkannya sebagai “carrier” penyakit mematikan itu karena apa yang dialaminya tentu di luar keinginan dan kuasanya. Akan tetapi setelah ia tahu bahwa dirinya mampu menularkan wabah, seharusnya Mary lebih bijak dalam menjaga dirinya, juga orang-orang di sekitarnya.
Namun kasus Mary ini, walaupun menjadi yang pertama dalam dunia kedokteran modern, ternyata bukan menjadi yang terakhir. Wabah Coronavirus yang merebak saat ini ternyata juga membawa cerita lain tentang seorang “carrier” tak berdosa yang membawa malapetaka kemanapun ia pergi.
Sang “Typhoid Mary” modern yang membawa wabah virus Corona dalam setiap hembusan napasnya

Kenyataan bahwa wabah virus ini bermula di Tiongkok bukanlah sesuatu yang dipungkiri. Namun fakta itu naasnya membuat banyak keturunan Tionghoa yang berdiaspora ke seluruh dunia mendapat berbagai macam diskriminasi. Banyak yang cemas bahwa etnis tertentu ini akan menyebarkan penyakit yang kini dinamai COVID-19 tersebut. Padahal pada kenyataannya, sosok yang menyebarkan penyakit ini ke penjuru Eropa justru bukanlah seorang etnis Tionghoa, melainkan seorang bule asal Inggris.

Pria ini bernama Steve Walsh yang kala itu diutus oleh perusahaannya, Servomex, untuk menghadiri sebuah konferensi di hotel Grand Hyatt di Singapura. Tanpa ia tahu, salah satu peserta konferensi itu berasal dari Wuhan. Steve yang tak tahu menahu bahwa dirinya terjangkit penyakit mematikan kemudian pulang dari Singapura dan memutuskan mampir berlibur bersama keluarganya di sebuah resort ski di pegunungan Alpen, Prancis. Di sana, ia menginfeksi 11 orang yang berada di resort tersebut.

Ia kemudian kembali ke Inggris bersama keluarganya menggunakan pesawat dan sempat transit di Jenewa, Swiss. Celakanya, ada sekitar 200 penumpang di pesawat itu. Sampai di kampung halamannya di Brighton, ia kembali menularkan virus itu ke beberapa orang, termasuk seorang suster. Sialnya, para tamu di resort di Prancis tersebut pulang ke kampung halamannya masing-masing, semakin menyebarluaskan virus itu. Satu orang bahkan kembali ke Spanyol sehingga total, satu pria Inggris ini sudah menyebarkan penyakitnya ke tiga negara, yakni Inggris, Prancis, dan Spanyol (bahkan mungkin Swiss, namun belum ada konfirmasi pasien di sana).

Kasusnya dianggap sebagai contoh seorang “super-spreader”, yakni seseorang dengan kemampuan unik dimana ia bisa menyebarkan penyakit lebih luas karena daya tahannya terhadap penyakit itu. Untuk menjelaskannya, bayangkan aja nih semisal ada satu orang terjangkit COVID-19. Namun ia hanya sempat menularkan kepada keluarganya, paling banter 2-3 orang, sebelum akhirnya ambruk karena tak kuat dengan penyakitnya itu. Namun seorang super spreader ini bisa menularkan hingga ke puluhan orang sebab ia  masih bisa berpergian dan beraktivitas, sehingga memperluas wilayah penyebaran virus itu. Buktinya, setelah terkonfirmasi penyakit tersebut, Steve Walsh akhirnya dipulangkan dari rumah sakit dengan kondisi sehat. 

Beruntung kasus Steve Walsh ini tak separah “Typhoid Mary” yang memakan korban jiwa. Namun tak menutup kemungkinan akan adanya para “carrier” dan “super spreader” di luar sana yang kebal terhadap virus itu, tapi kenyataannya justru membawa bencana dengan menularkan ke lebih banyak orang. Apalagi kini adalah zaman globalisasi dimana tiap benua dapat dikunjungi dengan kilat menggunakan berbagai sarana transportasi seperti pesawat terbang. Well, apapun yang terjadi, yang kita bisa lakukan adalah menjaga kesehatan kita sendiri, bukan dengan mendiskriminasikan orang lain, termasuk terduga “super-spreader” ini.

SUMBER ARTIKEL: Wikipedia

12 comments:

  1. Kok jadi curiga kalo penduduk Indonesia aslinya pada Super Spreader ya?
    Soalnya emang rada mencurigakan kenapa di Indo sampe saat ini belum ada kasus sama sekali padahal Indo dekat ama Tiongkok, dan banyak turis-turis Tiongkok, ataupun mereka yang habis liburan ke Tiongkok, liburan di Indo.

    ReplyDelete
  2. Carrier, kayak tokoh di salah satu dark darkness darkest yg semua org jadi bisa melihat mahluk astral, dikiranya kebal,

    Banana
    Eh nyepoiler

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adakah tokoh kays gitu? Judulnya apa? Kayaknya aku udah baca semua cerita dr 2 blog mengakubackpacker fapi kaga tau tentang itu deh

      Delete
    2. Jangankan elu, gw aja kaga tau wkwkwk 😂😂😂

      Delete
    3. Hooh, yg itu maksudku

      Wah parah juga bangdep Sampek lupa wkwke padahal itu plot twist terkeren di jagad mbp2

      Delete
  3. jadi ingat FAIRY TAIL itu loh karakter Zeref dragniel sama mavis vermillion yang membawa kematian dimanapun berada

    ReplyDelete
  4. Lah, klo gtu berarti bkn si Steve Walsh dong pasien pertama yg terjangkit, tapi si org dr wuhan tetepan. Tapi dia termasuk ke org yg kebal dgn penyakit itu. Gtu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iy bener sepemikiran,, te2p ae awal ny emank dari org Wuhan..

      Delete
  5. Makanya masker itu perlu, walaupun di Indonesia belum ada laporan penyebaran corona disini. Kita ngga tau siapa aja orang2 yang kita temui di transportasi umum, mall, atau kantor/sekolah. Kali aja mereka udah terpapar dengan virusnya dan jadi carrier

    ReplyDelete
  6. Indonesia dg penduduk sebanyak ini gk mungkin 100% bebas covid19. Gw curiga jgn2 banyak "carrier" yg kebal krn sejak sd udh mengkonsumsi bakteri e coli dan boraks tiap hari

    CakNgganteng

    ReplyDelete
  7. Mampir ke blognya Bang Dave setelah dikasih link sama Harllie ^^ Yang menyedihkan dari kasus Mary Mallon ini adalah setelah dia meninggal baru diketahui ternyata sebenarnya Mary bukan satu-satunya yang menjadi carrier, ada ratusan super spreader lainnya. Tapi hanya Mary Mallon yang menjalani hukuman tahanan di pulau terpencil selama nyaris seperempat abad hingga ajal menjemputnya :(

    ReplyDelete