Wednesday, February 19, 2020

DON’T F*CK WITH NORTH KOREA (2): MENELISIK MISTERI KASUS OTTO WARMBIER



Kita telah membicarakan separuh dari kasus Otto Warmbier, seorang mahasiswa asal Amerika Serikat yang ditangkap saat berkunjung ke Korea Utara. Bagaimana akhir nasibnya setelah ia diadili secara sepihak oleh pemerintahan diktator itu? Tentu, kalian bisa menebak dari berbagai foreshadowing yang gue berikan di artikel sebelumnya, bahwa kisah ini takkan berakhir indah.


Setelah 17 bulan mendekam di tahanan, Otto akhirnya dipulangkan ke Amerika Serikat. Namun bukan karena pemerintah Korea Utara berbaik hati membebaskannya begitu saja. Pemerintah Korea Utara mengklaim bahwa sejak April 2016, Otto mengalami koma. Alasan mereka, Otto mengalami keracunan akibat botulisme. Tak hanya itu, kondisinya memburuk hingga koma setelah menelan obat tidur. Pada 13 Juni 2017, ia akhirnya dipulangkan ke tanah airnya.

Enam hari setelah kepulangannya, orang tua Otto akhirnya melepaskan kepergian anak mereka untuk selama-lamanya. Setelah tahu bahwa ia takkan pernah siuman lagi, mereka rela untuk meng-euthanasia anak sulung mereka itu agar ia bisa pergi dalam keadaan damai.

Kematian pemuda berusia 22 tahun itu membuat shock seantero Amerika. Tak ada satupun yang meragukan klaim bahwa Otto disiksa di dalam penjara dan merekapun menyalahkan kebrutalan rezim Korea Utara. Penyelidikan melalui otopsi jenazah Otto-pun ambigu. Tak ada bukti bahwa Otto pernah mengalami botulisme. Namun perlu diingat juga, Otto dalam kondisi koma hampir setahun, sehingga jejak-jejak racun itu, jikapun ada, pasti telah menghilang.

Namun tak semuanya menyalahkan rezim pimpinan Kim Jong-Un itu. Tak sedikit pula yang mempertanyakan keputusan Otto yang sengaja “mencari masalah” dengan berkunjung ke Korea Utara. Padahal, pemerintah Amerika Serikat jelas-jelas memberikan “travel warning” kepada seluruh warganya untuk tidak memgunjungi negara komunis tersebut. Mereka, yang umumnya menyalahkan keputusan Otto, juga menganggap operator tur juga ikut menanggung beban kematian pemuda itu. Mungkin karena itulah, Young Pioneer Tour yang begitu membanggakan itinerari wisatanya ke Korea Utara akhirnya membuat kebijakan untuk tidak lagi menerima tamu dari Amerika Serikat.

Lalu bagaimana pendapat kalian akan kematian Otto? Apakah benar dia meninggal karena disiksa ataukah karena alasan lain? Lalu percayakah kalian akan klaim bahwa Otto melakukan pencurian poster tersebut?

Gue akan mencoba memberikan teori gue sendiri, dimulai dari malam naas di Hotel Yanggakdo tempat Otto dan teman-temannya menginap. Kala itu, seperti gue sebutkan tadi ada selang waktu dua jam dimana teman-temannya tak mengetahui keberadaan Otto. Apa benar di selang waktu tersebut ia menyusup ke lantai terlarang tersebut, hendak mencuri sebuah poster propaganda?

Uniknya, di sini, gue sama sekali nggak meragukan klaim itu. Buktinya di rekaman CCTV kala itu. Wajah sang pelaku memang tak terlihat dengan jelas karena buramnya video itu. Namun dengan membandingkan tingginya dengan tinggi langit-langit di video itu, terlihat jelas bahwa pria itu adalah seorang pria dengan tubuh tinggi tegap, ciri khas yang umumnya dimiliki kaum kulit putih. Gue nggak tahu ada berapa tamu bule di hotel itu kala itu, tapi yang jelas, pelakunya jelas bukan dari grup tur Otto sendiri. Sebab kala itu, semuanya tengah berpesta dan dengan demikian, ada saksi mata (baik di antara mereka sendiri maupun staf hotel) yang memberikan mereka alibi. Hanya Otto-lah yang kala itu tak bersama dengan mereka.


Perbandingan tinggi Otto dengan penduduk lokal dan video dimana ia dituduh mencuri poster propaganda. Perhatikan tinggi Otto kurang lebih sama dengan pintu di lantai tersebut.



Namun mengapa ia melakukannya? Apakah ia tak tahu bahwa dengan mencuri poster itu, ia melakukan kejahatan yang teramat berat di mata pemerintahan diktator Korea Utara? Bukankah sebagai warga asing, seharusnya ia lebih berhati-hati tidak membangkitkan amarah pemerintah komunis yang dikenal kejam? Gue akan memberikan satu alasan yang sebenarnya sudah cukup jelas.

Karena saat itu dia mabuk.

Gue akan ulang lagi, pada saat pesta tahun baru itu, tak diragukan lagi sesuai budaya Barat, semua anggota tur tersebut larut dalam pesta minuman keras. Mungkin karena itulah Otto, karena berada di bawah alkohol, tak memikirkan dampak dari perbuatannya.

Lalu bagaimana dengan kematiannya yang diselubungi misteri? Apakah ia benar disiksa hingga meregang nyawa? Ataukah kalian lebih menerima penjelasan pemerintahan Korea Utara bahwa semua ini hanya kecelakaan?

Di sini, gue akan kembali mengejutkan kalian dengan mengatakan bahwa gue lebih percaya versi Korea Utara. Kenapa? Jangan salah, gue nggak meragukan bahwa Otto mungkin disiksa dengan berat di dalam penjara, mengingat ia berasal dari negara musuh. Namun gue sendiri yakin, Korea Utara takkan berani hingga membunuh Otto secara terang-terangan. Korea Utara sendiri tengah berusaha keras memperbaiki citra mereka di hadapan dunia, salah satunya dengan membuka bisnis pariwisata agar masyarakat dunia bisa berkunjung dan melihat “kesempurnaan” negara mereka. Membunuh Otto, seorang turis asal Amerika, justru akan meruntuhkan citra tersebut.

Lalu benarkah botulisme penyebabnya? Justru penyakit botulisme menunjukkan betapa tak manusiawinya perlakuan pemerintah Korea Utara terhadap tahanannya. Botulisme disebabkan oleh bakteri Clostridium botulinum yang biasanya berasal dari makanan kaleng yang kurang steril. Dengan kata lain, mereka kemungkinan besar memberi makan para narapidananya dengan makanan yang jelas tak memenuhi standar, sehingga Otto akhirnya keracunan.

Botulisme biasanya berasal dari makanan kaleng yang terkontaminasi sehingga bisa ditebak, Otto mengalami kondisi yang memprihatinkan dalam penjara

Namun Otto meninggal bukan karena botulisme, namun karena koma akibat obat tidur. Nah pertanyaannya, darimana narapidana seperti Otto bisa memperoleh akses terhadap obat tidur? Jawabannya, di rumah sakit. Seperti gue singgung tadi, pemerintahan Kim Jong-Un tak ingin Otto mati, sehingga setelah kasus keracunan tersebut, mereka lalu merawat Otto di rumah sakit. Dan di sinilah gue akan mengungkapkan teori gue yang paling mengejutkan.

Di rumah sakit inilah, Otto menemukan obat tidur dan kemudian menelannya.

Untuk bunuh diri.

Ya, gue sama sekali tidak menyalahkan Otto apabila setelah penyiksaan yang ia alami (dan juga kenyataan bahwa ia akan mengalaminya selama 15 tahun mendatang dan ada pula kemungkinan ia takkan pernah berkumpul lagi dengan keluarganya) memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Sayang, dosis obat tidur tersebut hanya cukup untuk membuatnya terlelap dalam koma.

Tentu teori gue ini hanya sebatas dugaan semata karena hingga kini belum ada bukti yang valid. Yang jelas, kematian Otto kala itu mengguncang publik Amerika Serikat, bahkan tak pelak mengundang teori konspirasi. Rasanya mustahil, sebuah negara se-adidaya Amerika Serikat diam saja membiarkan salah seorang warganya, disiksa di depan mata mereka. Ingat bahwa ini adalah negara yang dengan sesumbarnya mengaku telah menghabisi seorang jenderal Iran dengan persenjataan canggih mereka. Ada yang menduga bahwa pemerintahan Amerika kala itu, di bawah Donald Trump (yang jelas amat membenci Kim Jong-Un dan kroni-kroninya) sengaja tak berbuat apa-apa untuk membiarkan Otto mati di sana.

Alasannya? Agar kematian Otto menjadi alasan valid di mata dunia supaya Amerika Serikat bisa menyerang Korea Utara dan memulai perang yang semakin menunjukkan kedigdayaan mereka. Otto, di mata para politisi itu, adalah Franz Ferdinand abad ke-21. Namun sayang, jikapun benar, rencana itu sedikit meleset karena Otto meninggal bukan di Korea Utara, melainkan di tanah mereka sendiri. Itupun dengan sedikit bukti bahwa Korea Utara memang benar terlibat atas kematiannya.

Dan reaksi Korea Utara untuk menambah luka kekalahan Amerika Serikat? Mereka mengirimkan tagihan 2 juta dolar yang mereka keluarkan untuk merawat Otto di rumah sakit mereka selama setahun ia koma. Hmmmm ....

Apa yang bisa kita pelajari dari nasib tragis Otto Warmbuer? Pertama, jangan suka mencari masalah. Gue nggak pengen blaming victim di sini, tapi come on ... ini udah jelas? Siapa sih yang mau pelesiran ke Korea Utara? Itu sama aja dengan kalian mau wisata ke Syria saat perang masih berkecamuk di sana. Atau mau berlibur ke gunung berapi yang sedang meletus. Yang kedua, selalu hormati peraturan dari tempat yang kita kunjungi. Ingat, Otto hanya melakukan satu kesalahan saja yang akhirnya berdampak fatal bagi hidupnya.

But for whatever reason, I hope he finally rests in peace.

SUMBER ARTIKEL: Wikipedia, Youtube


7 comments:

  1. Dang! Kayaknya gak jadi ke Pyongyang buat jabat tangan.

    ReplyDelete
  2. Keren bgt analisis dan opini bangdep, berharap bangdep diundan di acara Dedy Corbuzier

    ReplyDelete
  3. Andai saja dia tidak mabuk semua itu takkan pernah terjadi, jauhi lah alkohol kawan2.

    ReplyDelete
  4. Bang tapi kenapa otto mau ke Korea Utara kayak janggal banget, awalnya di Hongkong tiba tiba pengen ke Korea Utara emang gak negara lain yg bagus apa kak ada China, Korsel, dan Jepang yg lebih aman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena korut itu dianggap sebagai destinasi yg eksotik dan nggak semua org bisa ke sana. Buktinya banyak kok youtubers2 yg jalan2 ke sana sana terus dibikin konten

      Delete
  5. Bang Dave, korea utara ga seburuk itu kok
    Coba deh search youtube : JAKA PARKER.
    Ekspatriat indo bersama istrinya di korea utara. Suka jalan2 pyongyang, beli groceries, juga makan streetfood. Bahkan bawa 2 kamera foto2 konyol ada tentara padahal.
    Aman aman aja.
    Indonesia punya embassy disana dan saya liat ga terlalu buruk walau sepi bgt.
    Otto aja emg suka buat ribut.

    ReplyDelete