Wednesday, February 19, 2020

DARK HISTORY: WABAH FLU SPANYOL, KIAMAT YANG TERLUPAKAN


 

Dunia kini lagi digoncang gundah gulana gara-gara merebaknya Coronavirus atau yang kini disebut dengan COVID-19. Banyak yang menyamakan wabah Coronavirus ini dengan wabah serupa yang pernah terjadi pada awal abad ke-20. Pada tahun 1918, dunia kala itu dihantam oleh wabah flu misterius yang mengoyak jagad. Wabah itu disebut dengan Flu Spanyol (sebuah salah kaprah sebenarnya, tapi akan gue jelaskan nanti) dan yang mengagetkan, wabah ini menginfeksi 500 juta penduduk dunia kala itu serta menewaskan (angkanya masih simpang siur) antara 50 hingga 100 juta penduduk Bumi.

Mengapa bencana ini begitu mematikan? Apakah penyebabnya? Mungkinkah wabah berskala apokaliptik ini akan terulang kembali?

Dear readers, inilah Dark History kali ini!


Hampir seabad berlalu setelah wabah virus ini menulari hampir 30% penduduk dunia kala itu. Yap benar, kalian nggak salah baca.  Sekitar 500 juta dari 1,8 milyar penduduk Bumi kala itu terjangkit penyakit misterius ini. Angka kematiannya pun tergolong tinggi, yakni 3-6%. Mungkin secara persentase, kalian mengira angka itu rendah. Namun melihat jumlah korbannya, kalian akan berpikir sebaliknya. Sekitar 100 juta penduduk dunia lenyap dan menghadap Yang Maha Kuasa akibat penyakit mematikan ini. Wow, kayak bencana berskala Thanos ya.

Mungkin tak banyak dari kita pernah mendengar tentang wabah Flu Spanyol. Jarang sekali kasus ini disinggung-singgung dalam pelajaran sejarah. Hal itu tidaklah mengherankan, sebab merebaknya virus mematikan ini berbarengan dengan sebuah peristiwa berskala global yang mengguncang dunia kala itu: Perang Dunia I. Ya, wabah flu yang muncul bak malaikat maut utusan Tuhan ini semakin menambah penderitaan masyarakat kala itu. Tak hanya didera perang berkepanjangan, kini mereka juga harus menghadapi amukan alam. Namun darimanakah asal virus ini?

Wabah ini pecah pada tahun 1918, dimana kala itu bisa kalian tebak, dunia kedokteran belumlah semaju sekarang ini. Apalagi bangsa Barat kala itu terlalu disibukkan dengan berkecamuknya peperangan, sehingga tak begitu banyak penelitian dilakukan untuk melacak asal-usul virus ini. sehingga ilmu kedokteran generasi masa kini hanya bisa menduga-duga darimana asalnya. Mungkin dari namanya, kalian akan mengira bahwa Flu Spanyol ini memang berasal dari salah satu negara Latin di Eropa itu. Namun nama itu sebenarnya salah kaprah media belaka.

Di tengah peperangan seperti inilah wabah Flu Spanyol berkecamuk

Kala itu, negara-negara adidaya seperti Jerman, Inggris, Prancis, hingga Amerika Serikat terlibat Peranfg Dunia yang menyebabkan banyak surat kabar mendapat penyensoran (tentu agar kondisi  dalam negeri mereka tak terdengar musuh). Mereka tidak leluasa membeberkan kekacauan yang timbul akibat wabah tersebut. Sebaliknya, Spanyol yang tak terlibat perang, memiliki pers yang amat bebas, sehingga sebagian besar berita tentang wabah itu berasal dari media Spanyol. Hal ini menimbulkan kesan bahwa Spanyol terkena dampak paling hebat dari virus itu, makanya bencana itu dinamakan Flu Spanyol. Padahal, negara-negara lain juga mengalami hal serupa, bahkan lebih naas; hanya saja mereka pintar merahasiakannya rapat-rapat.

Kembali ke pertanyaan asal, darimana virus ini berasal? Pertama perlu diketahui bahwa Flu Spanyol ini merupakan salah satu strain dari virus influenza bernama H1N1. Terdengar tak asing? Ya, sebab virus ini, di dunia modern, dikenal dengan nama flu babi. Maka bisa ditebak bahwa flu ini pertama bermula dari binatang (tersangka utama tentu hewan berkaki empat yang dikenal jorok itu) yang kemudian ditularkan kepada manusia.

Prancis diduga sebagai awal mula kasus pandemi ini. Tentu kini Prancis dikenal sebagai negara modern yang teramat bersih, namun tidak kala Perang Dunia I berkecamuk. Kala itu, tentara Prancis hidup dalam kondisi yang menggenaskan. Kamp militer mereka penuh sesak dengan tentara yang terluka. Belum lagi untuk menjaga suplai makanan, mereka membawa babi-babi hidup untuk dipelihara dan dijagal di sekeliling kamp mereka. Kondisi tak steril inilah, ditambah lagi fisik para tentara yang lemah karena terluka, stress, dan kelaparan ini, akhirnya menjadi resep sempurna bagi bencana ini lahir.

Namun tak semua sependapat. Ada pula yang menduga bahwa kasus ini bermula justru di Amerika Serikat. Lho kok jauh? Karena kasus pertama wabah ini dilaporkan terjadi di Haskell County di negara bagian Kansas. Waduh, gue harap semoga bukan berasal dari laboratorium militer yaaaa. Teori bahwa “kampung halaman” virus ini berada di Amrik didukung oleh ahli virologist terkemuka asal Australia bernama MacFarlane Burnet. Beliau bukan ilmuwan abal-abal ya, soalnya pernah meraih hadiah Nobel  atas penelitiannya di bidang imunitas (kekebalan tubuh).

Tempat lain yang diduga keras menjadi sumber malapetaka itu adalah Tiongkok. Nah, kenapa lagi-lagi negara tirai bambu ini disalahkan dalam kasus ini? Karena menurut statistik, jumlah korban di Tiongkok kala itu amat rendah jika dibandingkan dengan berbagai belahan dunia lain. Hal ini menunjukkan bahwa rakyat Tiongkok memiliki kekebalan khusus untuk menghadapi ancaman virus ini. Hal tersebut tidak akan terjadi jika mereka sebelumnya tidak terekspos oleh virus serupa, namun kurang mematikan. Maka banyak yang menyimpulkan, virus ini bermula di Tiongkok sebagai virus tak berbahaya, namun kemudian bermutasi menjadi patogen kejam.

Penampakan virus flu di bawah mikroskop

Hal ini lebih diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa banyak penduduk Tiongkok yang berdiaspora ke berbagai negara di dunia. Kemungkinan ada warga Tiongkok bermigrasi ke Amerika dan tanpa sadar membawa penyakit itu. Belum lagi tercatat selama Perang Dunia I, sekitar 96 ribu pekerja etnis Tionghoa didatangkan untuk membantu garis depan pertahanan Inggris dan Prancis kala itu, diduga semakin menyebarluaskan bencana itu.

Wabah Flu Spanyol, seperti gue singgung tadi, pertama tercatat di Haskell County, Kansas pada Januari 1918. Satu orang yang tertular virus ini kala itu bekerja sebagai koki di sebuah markas militer AS dan celakanya, menulari 500-an tentara yang berdiam di sana. WADUUUH MOGA-MOGA BUKAN DARI LABORATORIUM MILITER YAAAA!!!

Pada bulan Agustus, wabah itu telah menjangkiti seluruh Eropa, yang kala itu masih dicekam peperangan. Angka kematian akibat virus ini cukup tinggi. Sekitar 10-20% pasien yang tertular penyakit ini meninggal. Bahkan yang mengejutkan, jumlah korban meninggal akibat pandemi ini jauh lebih tinggi ketimbang korban akibat Perang Dunia I dan II digabungkan!

Tak hanya di Benua Amerika dan Eropa, virus ini juga menyebar hingga ke Asia. Di India, 17 juta penduduknya meninggal akibat wabah ini. Di Indonesia (yang kala itu masih dalam jajahan Belanda), sekitar 1,5 juta jiwa melayang (perlu diingat jumlah penduduk Indonesia kala itu masih 30 juta jiwa). Iran terkena dampak paling dahsyat, sekitar 1/5 lebih penduduknya tewas akibat serangan virus ini. Semua orang, baik kaya miskin, pria wanita, semua tak ada yang mampu luput dari ancaman global ini. Tercatat, bahkan presiden Brazil kala itu meregang nyawa gara-gara terinfeksi penyakit mematikan ini.

Nama Flu Spanyol lagi-lagi menipu. Gejalanya sama sekali tak seperti flu biasa yang hanya bersin-bersin atau batuk-batuk. Penderitanya bisa mengalami pendarahan yang keluar dari darah, telinga, bahkan kulit. Walaupun tak terlihat dari luar, penderitanya juga bisa mengalami pendarahan hebat di organ dalamnya. Virus ini juga menyebabkan pneumonia, bahkan pendarahan di paru-paru, yang biasanya berakibat fatal.

Banyak lokasi disulap menjadi rumah sakit darurat ketika wabah flu ini merebak



Virus flu ini benar-benar tak kenal ampun dan menyapu seantero planet. Bahkan penduduk yang tinggal di lokasi terpencil, seperti kepulauan di Samudra Pasifik yang terisolir, hingga ke Kutub Utara sekalipun, semuanya tak mampu bersembunyi dari kekejian penyakit ini. Mulai dari Selandia Baru, hingga penduduk primitif yang bermukim di kepulauan Nauru, Fiji, hingga Samoa, tak sanggup lolos dari kekejaman virus ini. Bahkan Samoa tercatat mendapat dampak paling parah. Sekitar 90% penduduknya terjangkit Flu Spanyol dan 30% di antaranya tewas. Di Kutub Utara, tercatat beberapa suku Eskimo di Alaska punah dari muka bumi setelah 100% dari mereka terbunuh oleh penyakit ini.

Dari seluruh permukaan Bumi, hanya Pulau Saint Helena di selatan Samudra Atlantik dan Pulau Marajo, di pedalaman Hutan  Amazon yang lebat, merupakan dua lokasi yang sama sekali tak tersentuh pandemi global tersebut. Yang unik, bak plot dari film apokaliptik “Bird Box”, sebuah sekolah khusus tuna netra di Pittsburgh, AS juga terhindar dari malapetaka ini karena mengisolasi diri dari dunia luar.

Bagaimana akhir dari dongeng mimpi buruk ini? Virus ini, sama seperti kemunculannya yang begitu misterius tanpa satupun firasat pada awal 1918, tiba-tiba saja lenyap begitu saja, pada akhir 1918.

Ada teori yang mengemuka mengapa hal ini terjadi. Seperti awal mulanya sebagai virus flu biasa yang bermutasi menjadi patogen jahat, ada kemungkinan bahwa virus ini kemudian bermutasi menjadi strain yang lebih ramah dan tak mematikan. Bak sulap, virus inipun musnah tanpa bekas. Mungkin kala itu, Tuhan masih berbaik hati mengampuni umat manusia, yang telah bertekuk lutut di bawah amukan alam yang mahadahsyat. 

Namun itu bukan berarti ancaman bagi kemanusiaan sudah benar-benar tiada. Kini kita menghadapi wabah pandemi lain, yakni Coronavirus. Namun kita berdoa saja, semoga dampak virus COVID-19 ini (yang sudah disebut-sebut sebagai senjata bio-terorisme menurut ahli teori konspirasi) takkan berdampak semengerikan Flu Spanyol, yang melenyapkan ratusan juta nyawa hanya dalam sekali hembusan nafas.

SUMBER ARTIKEL DAN GAMBAR: Wikipedia



3 comments:

  1. Bang bahas black death dong bang salah satu wabah paling mematikan di dunia

    ReplyDelete
  2. Baru sadar flu spanyol ini cuma berlangsung sebentar tapi bisa merenggut banyak nyawa

    ReplyDelete