Sunday, April 25, 2021

KEBERINGASAN JENGIS KHAN: SANG RAJA DIRAJA YANG MEMBANTAI 11% POPULASI DUNIA INI

Kita mungkin mengenal Kubilai Khan, raja keturunan Mongol yang berusaha menyerang Jawa dan berhasil dikalahkan berkat tipu daya Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit. Gelar “Khan” berarti “kaisar” sudah diwariskan turun-temurun sejak abad 3 M dan merupakan julukan khas bagi penguasa suku-suku di kawasan Turki dan Mongolia (yang memiliki nenek moyang yang sama). Namun pada abad 12, nama “Khan” menjadi sebuah nama yang amat ditakuti semenjak disematkan kepada nama seorang pemuda keturunan Mongol bernama Temujin. Kala itu, semenjak naik tahta menggantikan ayahnya yang seorang kepala suku, ia menggunakan gelar Jengis Khan. Dalam penaklukannya, Genghis Khan berhasil menjadikan Mongolia menjadi kekaisaran dengan wilayah terluas dalam sejarah kuno dunia. Wilayahnya terbentang dari Korea hingga Polandia dan mencakup benua Eurasia.

Dalam penaklukannya itu, percaya atau tidak, dia membunuh sekitar 11 persen populasi dunia kala itu.

Namun bagaimana perjalanan Temujin hingga menjadi kaisar yang paling ditakuti dalam sejarah dunia tersebut? Kita simak saja dalam Dark History kali ini.


THE RISE OF KHAN


Seperti inilah gaya hidup kaum Mongolia dimana mereka tinggal berpindah-pindah (nomaden) dalam sebuah tenda di stepa yang amat luas


Nama Jengis Khan (di Barat dieja sebagai “Genghis Khan”) berasal dari kata “tengiz” yang berarti “lautan”, sehingga ama tersebut secara harfiah berarti “sang penguasa lautan”. Namun sebelum dijuluki sebagai sang Khan yang agung, nama aslinya adalah Temujin, seorang bocah biasa yang tumbuh besar di padang rumput Mongolia. Kala itu Mongolia masih terpecah-pecah ke dalam suku-suku yang saling berperang satu sama lain. Wilayah Mongolia sendiri kala itu dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan besar, yakni Dinasti Jin, Kerajaan Xia Barat, Kerajaan Qara Khitan (ketiganya meliputi wilayah Tiongkok) dan Kekaisaran Khwarezmia (kini Timur Tengah) di sebelah barat. Ajaibnya, Temujin kelak berhasil menaklukkan semuanya, bahkan memperluas kekuasaannya hingga ke Eropa.

Temujin lahir pada 1162 di wilayah Mongolia Utara, dekat dengan kota Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia kini. Ia adalah putra dari Yesugei, seorang kepala suku dari klan Borjigin. Ibunya adalah Hoelun, istri kedua dari Yesugei. Seperti suku-suku pedalaman Mongolia lainnya, mereka hidup nomaden (berpindah-pindah). Seperti tradisi Mongolia kuno, iapun ditunangkan dengan seorang gadis bernama Borte, putri dari kepala suku dari klan Khongirad. Tentu, karena Temujin adalah anak seorang kepala suku, pernikahan ini adalah sebuah bentuk langkah politik untuk mendamaikan kedua suku. Temujin kemudian dikirim ke rumah Dai Setsen, ayah dari Borte.

Namun sepulangnya dari perjalanan itu, sang ayah kemudian bertemu dengan Suku Tatar, musuh bebuyutannya dan iapun dibunuh di sana. Mengetahui kematian ayahnya, Temujin kemudian kembali ke sukunya untuk mengklaim posisinya sebagai kepala suku. Namun sukunya sendiri menolaknya, bahkan kemudian mengusir dan menelantarkan keluarga Temujin.

Sepeninggal kematian Yesugei, keluarga Temujin pun hidup terlunta-lunta, bahkan terpaksa memakan buah-buahan liar dan bangkai binatang untuk bertahan hidup. Namun hal ini dilakoni dengan sabar oleh Hoelun, istri mendiang Yesugei, dan anak-anaknya. Kehidupan serba susah tersebut ternyata malah menempa sifat keksatriaan dan keberanian Temujin. Pada suatu hari terjadi insiden dimana Begter, kakak laki-laki Temujin (tapi berasal dari ibu yang berbeda) mengklaim dirinya sebagai kepala keluarga yang baru dan berusaha menikahi Hoelun, ibu tirinya. Hal ini membuat Temujin murka hingga ketika mereka tengah berburu, Temujin tak segan-segan menghabisi nyawa Begter.

Patung lilin Genghis Khan dan istri kesayangannya, Borte

Pada 1178, Temujin kembali ke kediaman Borte untuk menikahinya. Borte kemudian hidup bersama keluarga Temujin sebagai istrinya. Namun kebahagiaan para pengantin baru itu tak mereka cicipi lama. Tak lama setelah pernikahan mereka, Borte diculik oleh suku musuh mereka yang bernama Merkit. Butuh waktu lama bagi Temujin untuk melacak dan akhirnya menyelamatkan Borte (serta tentu saja menghabisi semua musuhnya itu tanpa ampun). Ketika Borte berhasil diselamatkan, ia tengah mengandung 8 bulan. Hal ini memicu kecurigaan banyak pihak bahwa anak yang tengah dikandung Borte sesungguhnya bukanlah darah daging Temujin. Namun Temujin tak mempedulikan gosip itu dan ketika anak sulungnya itu lahir, ia menamainya Jochi dan merawatnya seperti anak kandungnya sendiri. Borte kemudian memiliki 3 anak lagi dari Temujin, yakni Chagatai, Ogedei, dan Tolui.

Perjalanan Temujin menjadi seorang Khan dimulai ketika dalam usahanya mencari Borte, ia kemudian bekerja sama dengan sahabat ayahnya yang bernama Toghrul, yang juga memiliki gelar sebagai Wang Khan. Wang Khan dan Yesugen, ayah Temujin merupakan “anda” atau “saudara angkat”, yakni sebuah tradisi Mongol dimana dua sahabat akan bersumpah untuk menjadi “saudara sedarah” walaupun mereka tak memiliki hubungan kekeluargaan. Mengingat persahabatannya dengan ayah Temujin, maka Wang Khan kemudian bersedia membantu Temujin dengan kemudian mempersenjatai Temujin dengan 20 ribu tentaranya. Temujin juga meminta bantuan pada “anda”-nya sendiri, yakni sahabat masa kecilnya yang bernama Jamukha, yang juga telah menjadi Khan di sukunya sendiri, yakni klan Jadaran (nggak ada hubungannya ama film Thailand itu ya). Setelah kemenangannya mengalahkan para Merkit, maka nama Temujin pun semakin berkibar di antara para suku-suku Mongol.

Ambisi Temujin menjadi Khan yang terhebat terinspirasi oleh ajaran ibunya sendiri. Kala itu Hoelun sering bercerita tentang kondisi para suku-suku Mongol yang terpecah belah. Pada abad ke-12, daratan Mongolia memang dikuasai oleh konfederasi suku-suku yang saling berperang satu sama lain, antara lain Suku Naiman, Merkit, Tatar, Tangut, dan Kerait. Bahkan, kaum Mongol lebih dikenal sebagai kaum barbar beringas yang suka merusak dan mencuri. Mendengarnya, Temujin menjadi berambisi untuk menyatukan seluruh suku-suku Mongol dan mendirikan sebuah kerajaan yang digdaya, sehingga nama Mongol lebih “harum semerbak” dan tak lagi dikenal sebagai suku yang terbelakang.

Namun ambisi ini ternyata membuat persahabatan antara Temujin dengan “anda”-nya sendiri, yakni Jamukha, menjadi retak. Jamukha sendiri lebih condong menyetujui sistem aristrokasi, yakni sang Khan dipilih dari sistem dinasti berdasarkan hubungan kekeluargaan. Namun Temujin lebih percaya pada sistem meritokratis, dimana Khan dipilih berdasarkan kemampuannya, jadi orang dari kalangan rakyat jelatapun bisa menjadi Khan asalkan memiliki kemampuan berperang yang mumpuni. Ketika mengalahkan suku-suku Mongolia, iapun menerapkan kepercayaannya itu dengan mengangkat anggota-anggota suku yang ia kalahkan menjadi tentaranya sendiri. Bahkan tak jarang, anak-anak yatim korban peperangan dari suku lain kemudian ia adopsi menjadi anak-anaknya sendiri. Hal ini membuat Temujin justru dihormati oleh suku-suku yang ia kalahkan, alih-alih dimusuhi.

Karena keberhasilannya sebagai Khan, wajah Temujin tergambar di mata uang Mongolia

Selain Jamukha, sosok yang “iri” dengan keberhasilan Temujin adalah putra dari Wang Khan, sekutu dari Temujin sendiri. Namun dulu bersahabat karib dengan mendiang ayah Temujin, namun kali Wang Khan lebih berpihak pada anaknya sendiri dan tega mengkhianati Temujin. Dalam kesempatan lain, Wang Khan juga menolak memberikan putrinya sebagai istri dari Jochi, putra tertua Temujin. Padahal ini merupakan tradisi demi memperkuat aliansi antara kedua pemimpin tersebut. Perseteruan ini semakin diperkeruh oleh Jamukha yang memutuskan berpihak pada Wang Khan. Akibatnya pecah perang di antara mereka yang kemudian dimenangkan Temujin. Wang Khan dan anaknya berhasil dikalahkan, sementara Jamukha berhasil melarikan diri.

Jamukha kemudian berpihak pada musuh Temujin, yakni Suku Naiman. Pada 1201, Jamukha bahkan mengangkat dirinya sebagai “Gur Khan” alias sang penguasa dunia. Namun pertempuran antara Temujin dan Gur Khan akhirnya dimenangkan Temujin karena salah satu anak buahnya sendiri ternyata mengkhianatinya dan menyerahkannya pada Temujin.

Namun reaksi Temujin justru sangat mengejutkan. Temujin kembali menawarkan pengampunan dan persahabatannya kembali pada Jamukha yang kala itu telah takluk. Mungkin Temujin sendiri masih ingat pada persahabatan karib mereka semasa mereka masih kecil. Bahkan untuk menunjukkan keseriusannya, Temujin menghukum mati anak buah Jamurkha yang mengkhianatinya. Namun tekad Jamurkha tak bisa digoyahkan, bahkan ia lebih memilih mati ketimbang tunduk pada Temujin dengan mengatakan bahwa “hanya boleh ada satu matahari di langit”. Akhirnya dengan terpaksa, Temujin menghukum mati Jamurkha, namun itupun dengan cara terhormat, yakni dengan mematahkan lehernya (kematian yang dianggap terhormat dalam kepercayaan Mongolia adalah mati tanpa meneteskan darah). Sementara itu, Suku Naiman yang berpihak pada Jamurkha akhirnya dikalahkan oleh salah satu anak buah Temujin yang bernama Subutai. Subutai ini kemudian diangkat menjadi salah satu jenderal kepercayaan Temujin.

Lukisan yang menggambarkan kala Temujin mengangkat dirinya menjadi sang Genghis Khan

Kisah lain muncul ketika Kuchlug (yap, that’s his real name), sang Khan dari Suku Naiman berhasil lolos ke Kerajaan Qara Khitai (Cathay), namun di sana ia berhasil ditangkap oleh jenderal kepercayaan Jengis Khan yang lain, yakni Jebe. Kerajaan Qara Khitai kala itu dipimpin oleh Tayang Khan (yep, that’s his real name) sebagai penguasa de facto kerajaan tersebut. Namun sebenarnya, tampuk kekuasaan dikendalikan oleh sang permaisuri yang amat berambisi, yakni Juerbieusu. Dulunya, Juerbiesu merupakan selir kesayangan sang raja terdahulu. Karena kecantikannya, iapun kemudian diperistri oleh Tayang Khan, sang pangeran yang naik tahta setelah ayahnya meninggal. Sama seperti kisah Selir Wu Zetian, Juerbiesu ternyata adalah wanita berambisi yang kemudian menggantikan peran suaminya (yang dianggapnya terlalu lemah) untuk menjadi penguasa kerajaan tersebut.

Ketika Kerajaan Qara Khitai diserang, tentu sang permaisuri tak terima, bahkan berani menyebut para pasukan Mongol sebagai kaum barbar yang memiliki bau badan tak tertahankan. Namun bukannya murka dengan komentar sinis itu, Temujin justru terperangah ketika melihat kecantikan dan kesexyan Juerbiesu sehingga mengangkatnya sebagai istri setelah berhasil menaklukkan Qara Khitai.

Tak hanya Juerbiesu yang diperistri oleh Temujin sepanjang perjalanannya menaklukkan para suku-suku Mongol. Tercatat di tiap penaklukannya ia senantiasa mengangkat gadis-gadis tercantik di suku itu sebagai istri barunya. Saat mengalahkan Suku Tatar (sekaligus membalaskan dendam ayahnya) ia memperistri dua putri cantik bernama Yesugen dan Yesui. Saat menaklukkan Merkit, ia juga memperistri putri mereka, yakni Khulan. Namun walaupun memiliki banyak istri, Temujin tak lupa untuk berlaku adil pada mereka. Tercatat, Temujin pernah memiliki istri bernama Ibaqa dari Suku Kerait yang berhasil ia taklukkan. Namun setelah dua tahun menikah, Ibaqa tak kunjung memberikannya keturunan sehingga Temujin menceraikannya. Namun Temujin tak serta merta menelantarkan Ibaqa, bahkan ia diperbolehkan tetap menyandang gelar “Khatun” (istri Khan) dan hidup berkelimpahan karena masih diberi “tunjangan” oleh mantan suaminya itu. Walaupun memiliki banyak istri, namun tetap hanya keturunan yang dilahirkan Borte, istri pertamanya, yang berhak menjadi penerusnya kelak dan menyandang gelar “Khan”.

Naiman kala itu adalah suku terakhir yang harus ia kalahkan untuk mempersatukan Mongolia. Kini, iapun menjadi penguasa tunggal Mongolia dan mengangkat dirinya dengan gelar Jengis Khan, sang penguasa segala lautan.

Uniknya, sang Jengis Khan sendiri dikenal amat religius dan juga amat toleran terhadap penganut agama lainnya di dalam kerajaannya. Dalam kekuasaannya, para penganut agama Tao, Buddha, Kristen, hingga Muslim bisa beribadah dengan aman, bahkan dibebaskan dari pajak.

Namun bagi orang-orang yang berani menentang dan menghina sang Khan, ia tak ragu untuk bertindak luar biasa kejam, seperti yang akan ia lakukan pada kerajaan-kerajaan lain di luar Mongolia.


THE EMPIRE OF TWO CONTINENTS


Genghis Khan merupakan kaisar yang ambivalen, di satu sisi ia amat toleran pada berbagai agama, namun di sisi lain ia bertindak amat kejam pada mereka yang berani menyinggungnya


Pada 1206, Kekaisaran Mongol yang diciptakan oleh Jengis Khan berbatasan dengan negara-negara lain seperti Dinasti Xia di Tibet dan Dinasti Jin di Manchuria. Tentu dengan ambisinya sebagai seorang penakluk, lumrah baginya untuk berkeinginan menguasai kerajaan-kerajaan tersebut.

Jengis Khan kemudian memberi komando pada tentaranya untuk mempersiapkan perang terhadap Kerajaan Xia Barat. Ia tahu bahwa kedua kerajaan yang menguasai daratan Tiongkok kala itu, yakni Xia Barat dan Jin salinglah bermusuhan, sehingga mereka takkan saling membantu satu sama lain. Ternyata dugaan Khan benar, saat ia menyerang Kerajaan Xia Barat, Kerajaan Jin diam saja berpangku tangan, sehingga kerajaan itupun ia taklukkan dengan mudah.

Uniknya, kala itu sebuah suku bernama Uyghur, yang menyatakan menyerah pada Kerajaan Mongol. Jengis Khan rupanya amat tertarik pada suku ini, bahkan kemudian memproklamirkan penggunaan abjad Uyghur di sebagai abjad resmi di seluruh wilayah kekaisarannya.

Pada 1211, Khan mulai berencana ikut menaklukkan Dinasti Jin. Pada 1215 ia bahkan berhasil menyergap ibu kota Kekaisaran Jin, yakni Zhongdu (kini lebih dikenal dengan nama Beijing). Hal ini membuat sang penguasa Dinasti Jin kala itu, Kaisar Xuanzong terpaksa kabur dan meninggalkan negaranya untuk dikuasai Kaum Mongol.

Kini setelah menguasai hampir seluruh daratan Tiongkok, kini Khan mulai melirik ke arah barat, yakni wilayah Timur Tengah. Kala itu Timur Tengah dikuasai oleh Dinasti

Khwarazmia yang berpusat di Iran dengan Shah Ala ad-Din Muhammad sebagai sultannya. Kerajaan Khwarazmia terletak di Jalur Sutra yang legendaris sehingga awalnya Jengis Khan hanya tertarik untuk mengembangkan hubungan dagang yang saling menguntungkan antara kedua pihak. Khan pun mengirimkan karavan yang membawa emas, perak, serta sutra untuk diperdagangkan dengan Kerajaan Khwarazmia.

Peta penaklukan Genghis Khan

Namun, Inalchuq, gubernur dari kota Otrar yang berada di wilayah Khwarazmia, justru menyerang karavan yang datang dengan tujuan damai tersebut dengan dalih bahwa para pedagang itu sesungguhnya adalah mata-mata yang dikirim Khan untuk menaklukkan Khwarazmia. Padahal, niatnya kala itu adalah mencuri semua barang berharga di karavan tersebut.

Hal ini belum membuat Khan tersinggung, bahkan ia meneruskan diplomasi damainya. Khan lalu mengutus tiga orang duta besar (salah satunya bahkan ia pilih yang Muslim) untuk menghadap sang Shah, penguasa tertinggi Khwarazmia. Namun sang Shah sendiri tak kalah kejam, bahkan memenggal kepala duta besar tersebut. Kini apa boleh buat, Khan yang sudah telanjur murka akhirnya mengirimkan 100 ribu pasukannya untuk memusnahkan Khwarazmia. Ketika tiba di kota Otrar, pasukan Mongol langsung menghancurleburkan kota itu, bahkan membunuh semua penduduknya tanpa ampun sedikitpun. Jengis Khan kemudian membalas “kekurangajaran” Inalchuq dengan memberinya hukuman yang amat menyakitkan, yakni dengan menuangkan perak cair (yang tentunya dalam keadaan mendidih) ke dalam telinga dan matanya. Sang Shah sendiri berhasil kabur, namun kemudian meninggal dalam pengasingan.

Pasukan Mongol cukup beringas dalam meluluhlantakkan Kerajaan Khwarazmia. Setelah meratakan ibu kota kerajaan tersebut, yakni Samarkand, dengan tanah, termasuk menghabisi semua penduduknya dengan cara yang kejam. Kala itu seluruh penduduk kota Samarkand disuruh berbaris kemudian dibunuh tanpa satupun yang lolos. Tak hanya itu, kepala mereka dipenggal dan ditumpuk menjadi sebuah piramid, sebagai penanda bahwa siapapun yang berani menghina Sang Khan dan Kerajaan Mongol, akan menerima hukuman serupa.

Mendengar kebiadaban pasukan Mongol, penduduk kota Bukhara, salah satu kota di Kerajaan Khwarazmia yang belum mereka taklukkan, menjadi gentar. Kala itu gubernur kota tersebut bersama para penduduk menyerah, bahkan membukakan pintu gerbang kota tersebut agar pasukan Mongol bisa masuk. Namun, ada sedikit pasukan yang masih setia dengan Sang Shah berani melawan pasukan Mongol.

Ketika tiba, pasukan Mongol langsung mengeksekusi para tentara, namun masih “berbaik hati” pada para penduduk kota. Alih-alih dibunuh, semua yang dianggap “berguna” semisal para seniman dan pengrajin dibawa ke Mongolia, para laki-laki dewasa dilatih menjadi tentara, sementara sisanya dijadikan budak.

Lukisan yang menggambarkan serangan pasukan Mongol

Kota terakhir yang kini mereka taklukkan adalah Urgench. Namun para tentara yang berada di kota itu masih memberikan perlawanan. Akibatnya tentu bisa ditebak. Begitu ditaklukkan, pasukan Mongolia melancarkan hukuman tak berperikemanusiaan bagi para warga kota. Diperkirakan tiap tentara Mongol kala itu diberi tugas untuk mengeksekusi 24 penduduk, Karena ada sekitar 50,000 pasukan Mongol yang mengepung kota Urgench kala itu, maka bisa dihitung sekitar 1,2 juta nyawa penduduk kota tersebut lenyap.

Setelah berhasil menaklukkan seluruh wilayah Kekaisaran Khwarazmia pada 1220, atas usul Subutai, jenderal kepercayaannya, Jengis Khan membagi pasukannya menjadi dua. Sang Khan sendiri akan memimpin pasukannya ke selatan unruk menguasai Afghanistan dan India Utara, sementara pasukan yang dipimpin Subutai dan Jebe akan bergerak terus ke arah barat menuju Pegunungan Kaukasus untuk menaklukkan Eropa.

Pasukan Mongol yang dipimpin Jebe dan Subutai kemudian menuju ke Kerajaan Georgia dan menaklukannya, lalu melanjutkan penaklukan mereka ke kota Caffa yang ada di Semenanjung Crimea di Laut Hitam. Tak hanya itu, pasukan tersebut berhasil merangsek masuk ke Eropa dan menaklukkan Ukraina, Bulgaria, dan Hungaria. Ini menandai kala pertama Bangsa Asia berhasil menguasai teritori Eropa yang didominasi kulit putih. Rencana menaklukkan benua Eropa ini hendak diteruskan oleh Jebe dan Subutai, dibuktikan dengan perjalanan mereka untuk menyerang Jerman. Namun langkah mereka mandeg di Austria ketika Duke Frederick II (penguasa Austria kala itu) berniat menghentikan serangan kaum Mongol dan akhirnya berhasil mengalahkan mereka.

Namun keberhasilan Jengis Khan, sang penakluk dua benua, kini tertantang oleh konflik internal keluarganya sendiri.


THE LORD OF GENOCIDE


Ekspansi Mongolia yang mencapai dua benua


Anak-anak Jengis Khan kini tengah bertikai memperebutkan kekuasaan. Ingat bahwa Jengis Khan memiliki 4 anak dari permaisurinya, Borte, yakni Jochi, Chagatai, Ogedei, dan Tolui. Sebagai anak tertua, maka selayaknya Jochi-lah yang nantinya akan menggantikan tampuk kekuasaan apabila ayahnya suatu saat meninggal. Namun Chagatai, putra keduanya tak setuju. Ia mengangkat “isu lama” yang menyebutkan bahwa Jochi kemungkinan bukan anak kandung Jengis Khan, sebab Borte sendiri hamil ketika ia diculik oleh Suku Merkit. Chagatai berpendapat bahwa ia-lah yang lebih pantas menjadi pengganti ayahnya.

Namun Khan sendiri tak sependapat, sebab ia mengetahui dengan baik perangai Chagatai, anaknya itu. Chagatai dikenal sebagai pria yang bertemperamen tinggi dan pemarah. Demi mendamaikan kedua anaknya itu, Khan akhirnya mengambil keputusan untuk mengangkat anak ketiganya, yakni Ogedei, sebagai suksesornya. Inilah sebabnya, nantinya Ogedei lah yang berhak meneruskan gelar ayahnya menjadi Ogedei Khan.

Jengis Khan meninggal pada 1227 kala terlibat perang dengan Kerajaan Xia Barat. Kala itu Kerajaan Xia Barat yang telah takluk pada Mongol diam-diam berusaha memberontak dengan bekerja sama dengan Dinasti Jin. Jengis Khan yang mendengar rencana itu tentu saja murka dan berniat menyerang kerajaan tersebut untuk kedua kalinya. Kala itu legenda menyatakan bahwa Khan hendak membawa pulang seorang putri dari Kerajaan Xia Barat yang cantik jelita sebagai hadiah perang. Namun siapa sangka, sang putri ternyata membawa sebilah pisau dan ketika tengah menunggang kuda bersama sang Khan, ia menusuknya hingga sang penakluk itupun terjerembap jatuh dari kuda dan tewas.

Namun kematian Jengis Khan ternyata tak menghentikannya untuk menebar maut. Kala itu, karena takut apabila makam sang Khan dirusak musuhnya atau dirampok, maka para tentara Khan berniat merahasiakan lokasi makam sang Khan. Oleh karena itu, mereka menguburkannya di sebuah tempat rahasia (yang hingga kini tak diketahui siapapun). Bahkan demi menjaga rapat-rapat rahasia itu, mereka membunuh semua orang yang mereka temui sepanjang perjalanan.


Walaupun amat kejam, namun Genghis Khan tetap dikenang oleh masyarakat Mongolia

SUMBER GAMBAR

Kini yang tersisa sepeninggal kematian Jengis Khan adalah nama dan reputasinya. Namun apakah Jengis Khan dikenang sebagai pahlawan atau penjahat? Citra Jengis Khan di Mongolia tentu amat harum sebab ia adalah penakluk yang membawa nama Mongolia tercatat dalam sejarah. Namun bagi benak penduduk Tiongkok dan Timur Tengah yang pernah dihancurkan oleh pasukan Mongol, nama Jengis Khan berkonotasi amat negatif. Sebab tak perlu dipungkiri, Jengis Khan sebagai sang penakluk dan kaisar agung, melakukan sebuah hal yang amatlah tabu untuk bahkan disebutkan di dunia modern yang beradab ini.

Yakni genosida.

Di Timur Tengah, kebrutalan pasukan Mongol membantai sekitar 10-15 juta orang di dataran Iran. Sebelum invasi Mongol, penduduk Tiongkok pada awal abad ke-12 diperkirakan sekitar 120 juta jiwa. Namun setelah serangan Mongol, jumlah itu turun drastis menjadi separuhnya, yakni 60 juta jiwa. Tentu nyawa sebanyak itu hilang tak hanya karena dicabut oleh pasukan Mongol. Kematian tersebut juga disebabkan bencana kelaparan dan juga wabah penyakit yang pecah akibat perang.

Bahkan diperkirakan, secara keseluruhan, penaklukan oleh Pasukan Mongol di bawah panji kepemimpinan Jengis Khan menyebabkan kematian sekitar 11% penduduk dunia. Jika terjadi di masa kini, penaklukan Jengis Khan ini jelas akan mengatasi global warming, sebab dengan melenyapkan 11% populasi dunia, ia membantu menurunkan sekitar 700 juta ton karbon dioksida dari atmosfer, bahkan juga membantu menyelamatkan hutan dan satwa liar (karena tak ada manusia yang merusak habitat mereka)

Pada saat menaklukkan benteng di semenanjung Crimea di Laut Hitam inilah tentara Genghis Khan menyebabkan wabah Black Death yang menyebar hingga ke Eropa dan memusnahkan separuh populasi benua tersebut

Para sejarawan juga meyakini bahwa pasukan Mongol juga sebenarnya bertanggung jawab atas wabah Black Death yang memusnahkan separuh populasi Eropa. Kala itu pada tahun 1345, pasukan Mongol menyerbu kota Caffa di Semenanjung Crimea di Laut Hitam. Karena penduduknya tak mau menyerah, maka pasukan Mongol menggunakan taktik baru, yakni dengan memanfaatkan senjata biologis. Mereka melemparkan mayat-mayat manusia yang meninggal karena terinfeksi wabah pes menggunakan ketapel ke dalam benteng kota. Akibatnya, populasi kota tersebut-pun akhirnya musnah akibat wabah. Namun kota Caffa juga merupakan pelabuhan yang sering disinggahi pedagang dari Genoa, Italia. Tanpa mereka sadari, tikus-tikus yang membawa wabah pes masuk ke kapal mereka dan menularkan penyakit itu ke seluruh penjuru Eropa.

Seperti kalian tahu, wabah Black Death yang menjalar dari Kota Caffa itu menewaskan 75-200 juta penduduk Eropa pada tahun 1346-1353. Walaupun penyerangan itu tidak dipimpin langsung oleh Jengis Khan karena sang Khan sendiri jelas sudah meninggal saat itu, namun tetap saja tanpa kepemimpinannya, pasukan Mongol takkan pernah bisa sampai ke wilayah tersebut.

Selain genosida yang melenyapkan 11% populasi dunia dan 50% populasi Eropa, Jengis Khan juga punya “prestasi” lain. Kalian pastinya sudah tahu kebiasaan Jengis Khan untuk senantiasa memperistri gadis-gadis tercantik di wilayah jajahannya. Karena ke-playboy-annya tersebut, diperkirakan sekitar 25% penduduk di Asia Timur merupakan keturunan dari Sang Khan. Bahkan lebih menghebohkan lagi, angka ini meliputi 16 juta pria. Dengan kata lain, sekitar 1 dari 200 pria yang ada di dunia ini memiliki darah keturunan dari Jengis Khan. Luar biasa bukan?

SUMBER ARTIKEL: WIKIPEDIA


A VERY SPECIAL THANKS TO:

Aulia Pratama Putri

별처럼 우리 빛나

SPECIAL THANKS TO MY SUPPORTER THIS APRIL:

Sinyo Kulik , Singgih Nugraha , Adhitya Sucipto , Rahadian Pratama Putra , Radinda , Kinare Amarill , Maulii Za , Rara , Sharnila Ilha , Victria tan , Ali Hutapea , Keny Leon , Rosevelani Manasai Budihardjo , Marcella F , Tieya Aulia , PJ Metlit , Marwah , Dana Xylin , Paramita . Amelia Suci Wulandari . Rivandy , Syahfitri , Dyah Ayu Andita Kumala , Fitriani , Ilmiyatun Ainul Qolbi , Ciepha Ummi , Riani Azhafa


6 comments:

  1. Berarti Sharukh Khan juga keturunannya Genghis Khan, dong?

    ReplyDelete
  2. Bangdep : menjelaskan Jengis Khan sampe berbusa2

    Me : wkwkwk namanya kucluque wkwkw kucluque

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jingan, ngakak aing 🤣🤣🤣🤣🤣🤣

      Delete
  3. That kuchlug tho........ 🗿👌

    ReplyDelete
  4. Aku suka sejarah, apalagi kalo sumbernya blog Mengaku Backpacker 💕👍

    ReplyDelete
  5. Bang,...bukannya kematian dschinghis khan masih simpang siur? Ada yg mengatakan kena wabah penyakit jugak

    ReplyDelete