Monday, April 26, 2021

SEJARAH PARA ASSASSIN: WARISAN TIMUR TENGAH YANG PALING DITAKUTI

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Adhitya Sucipto. Thanks!

Kalian tentu tak asing lagi dengan istilah “assasin” alias pembunuh. Kata yang terserap ke Bahasa Inggris ini sesungguhnya berasal dari bahasa Arab. Alasannya, Assassin adalah nama ordo pembunuh yang benar-benar ada di Timur Tengah kuno sana. Ordo Assassin berdiri pada tahun 1090 hingga akhirnya berakhir pada 1275. Namun siapakah Ordo Assassin ini sebenarnya?

Assassin sesungguhnya adalah nama sebuah cabang ajarah Syi’ah yang bernama sekte Nizari yang merupakan penganut mazhab Ismaili. Kaum Nizari mendapatkan permusuhan baik dari kaum Muslim Sunni maupun dari kaum Syi’ah mainstream sendiri, sehingga mereka harus bersembunyi di daerah pegunungan di antara Persia dan Syria. Karena hanya berjumlah sedikit, maka mereka mengembangkan sebuah metode unik untuk mempertahankan diri. Mereka mengutus para pembunuh dari klan mereka sendiri untuk menghabisi lawan politik mereka secara diam-diam. Cara ini dianggap lebih menguntungkan daripada berperang dengan pasukan melawan musuh mereka, yang jelas akan membuat mereka kewalahan karena sedikitnya jumlah mereka. Tak jarang, mereka juga “mengomersilkan” jasa mereka dengan bersedia menjadi pembunuh bayaran bagi berbagai pihak yang berani membayar mereka. Kisah para Assassin ini tentu menjadi cacatan hitam yang cukup tabu bagi dunia Muslim Timur Tengah kuno.

Seperti apakah sepak terjang para Assassin ini hingga nama mereka tetap terabadikan di dunia modern ini? Kita simak saja kisah para Assassin ini di Dark History kali ini.


THE DAWN OF THE ASSASSIN


Inilah lukisan Hassan I, grand master pertama sekaligus pendiri Ordo Assassin


Pendiri Orde Assassin adalah pria bernama Hassan-i Sabbah. Baik Hassan maupun ayahnya merupakan penganut mazhab Ismaili, salah satu aliran dalam ajaran Syi’ah. Kala itu Hassan dan keluarganya tinggal di kota Rayy, Iran. Namun penguasa kota Rayy kala itu, Nizam al Mulk, ternyata amat membenci para penganut Syi’ah sehingga iapun mengusir Hassan dan keluarganya dari Persia. Hassan kemudian mengungsi ke tempat ayahnya yang tinggal di Kairo. Kala itu Kairo merupakan ibu kota Kekhalifamah Fatimiyah yang juga bermazhab Ismaili.

Namun di sana Hassan kembali terlibat masalah. Kala itu Kekhalifahan Faitimiyah tengah gonjang-gonjing karena kematian sang khalifah mereka, yakni al-Mustansir Billah. Sang khalifah kala itu memiliki dua anak yang bersengketa dan berebut tahta. Ayah Hassan kala itu mendukung Nizar, sang putra tertua khalifah. Namun pemenang sengketa adalah adiknya, al-Musta’li, sehingga keluarga Hassan dan pengikutnya yang tadinya mendukung Nizari pun akhirnya diusir dari Kairo. Karena mendukung Nizar, maka para pengikut Hassan pun disebut Nizari. Sekte Nizari (yang tadi merupakan cabang mazhab Ismaili dari aliran Syi’ah) kini mendapat dua musuh, yakni kaum Sunni (yang sejak awal memang menentang keberadaan aliran Syi’ah) dan juga dari kaum Ismaili (Syi’ah) sendiri yang memenangkan sengketa di Kekhalifahan Fatimiyah.

Namun Hassan kurang sreg dengan istilah “Nizari” ini sehingga kemudian memanggil para pengikutnya sebagai para “Assassin” yang berasal dari kata “asas”. Arti dari kata “Assassin” sendiri adalah orang-orang yang memiliki prinsip atau asas. Tak diterima baik di Timur Tengah, para pengikut sekte Nizari ini kemudian bersembunyi di pegunungan antara Persia dan Suriah. Kaum Assassin kemudian merebut kastil Alamut dan Lambsar di wilayah pegunungan dekat Laut Kaspia yang kemudian mereka gunakan sebagai benteng pertahanan.


Inilah peta wilayah Assassin, berada di tengah County of Tripoli dan Principality of Antioch yang dikuasai pasukan Salib Kristen dari Eropa. Mereka juga bertetangga dengan Kerajaan Yerusalm (milik Eropa), Kekhalifahan Fatimiyah, dan Kekaisaran Seljuq


Kala itu kemunculan para Assassin hampir bertepatan dengan Perang Salib I pada 1096. Para pasukan Eropa yang memenangkan Perang Salib kemudian bercokol di tiga wilayah, yakni Antiokia, Tripoli, dan Yerusalem, serta mendirikan negara merdeka di sana. Antiokia meliputi Turki dan sebagian Suriah, sementara Tripoli meliputi Lebanon utara dan Suriah barat, serta Kerajaan Yerusalem yang meliputi Lebanon selatan, Suriah selatan, Yordania, hingga tentu saja Palestina. Uniknya, wilayah kekuasaan para anggota Ordo Assassin ini berada di antara Antiokia dan Tripoli yang tergolong wilayah yang dikuasai kaum Kristen. Karena berada di wilayah pegunungan yang terpencil serta lokasinya pun berada di wilayah kekuasaan Eropa, Kaum Assassin pun tergolong bebas dari gangguan kaum Muslim dari aliran lain yang hendak mengganggu mereka.

Namun bukan berarti kaum Assassin tak terlibat politik. Bahkan mereka dengan aktif berkecimpung di dalamnya. Kaum Assassin secara resmi bermusuhan dengan Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir dan Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Irak dan berpaham Sunni. Kaum Assassin ingin menyingkirkan kedua kerajaan tersebut, tapi tentu saja hal itu tidaklah mudah. Ketiganya adalah kekaisaran dengan wilayah luas, jumlah tentara yang amat besar, serta persenjataan lengkap. Sebagai sebuah sekte kecil, tentu para Assassin akan kalah telak jika berani melawan mereka. Karena itu Hassan kemudian menggunakan sebuah taktik dengan melatih kaum pria dari sektenya untuk menjadi pembunuh tangguh yang kemudian dikirimkan untuk memata-matai dan membunuh para lawan politiknya, meliputi para wazir, raja, bahkan khalifah sekalipun. Cara itu tergolong lebih praktis untuk menghabisi musuh-musuh mereka ketimbang harus berperang.

Uniknya, para Assassin ini memiliki kode etik sendiri. Semisal mereka hanya membunuh dalam jarak dekat menggunakan pisau atau belati, karena cara itu dianggap lebih “terhormat”. Mereka tak pernah membunuh diam-diam menggunakan panah ataupun racun karena cara itu dianggap kurang “jantan”.

Hassan sendiri sebagai pendiri Ordo Assassin ini tak pernah meninggalkan tahtanya. Ia hanya mengutus para assassin-nya untuk beraksi, namun memerintah langsung dari dalam benteng. Karena tak pernah “turun gunung”, iapun dikenal memiliki reputasi misterius dan kerap disebut sebagai “sang pria tua di atas gunung”. Konon, Marco Polo, sang petualang legendaris yang kala itu kebetulan melintasi wilayah kekuasaan para Assassin, yang memberinya julukan itu berdasarkan hembusan kabar burung.


THE WAR WITH THE SELJUKS


Di wilayah pegunungan seperti inilah para assassin bermarkas, sehingga amat sulit menaklukkan mereka

Lalu siapakah korban para Assassin ini? Korban perdana kaum Assassin adalah Nizar al Mulk dari Kesultanan Seljuk (kini merupakan wilayah Turki dan Iran). Jika kalian ingat, dia-lah orang yang dulu mengusir Hassan dari kota Rayy, tempat tinggalnya, hanya karena dia penganut paham Syi’ah. Rupanya Hassan adalah pria yang amat pendendam sehingga pria yang dulu pernah menghinanya itu dijadikannya korban pertama. Namun hal ini mengobarkan permusuhan baru antara Kesultanan Seljuk dengan Ordo Assassin.

Pada masa pemerintahan Hassan, Ordo Assassin sukses besar, bahkan berhasil menghabisi sekitar 50 musuh besar mereka, kebanyakan adalah petinggi politik Kesultanan Seljuk. Hal ini tentu saja membuat murka Sultan Seljuk kala itu yang bernama Muhammad I Tapar. Merasa sukses, Ordo Assassin pun semakin pede dan berani memperluas wilayah kekuasaannya. Mereka bahkan berhasil membuka “cabang” di Aleppo, Suriah. Kala itu, Hassan mengutus salah satu assassin kepercayaannya, al-Hakim al-Munajjim yang tak hanya memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni, namun juga amat cerdas. Ia adalah cendekiawan yang menguasai ilmu astrologi dan kedokteran. Ia kemudian bersahabat dengan emir Aleppo kala itu, Ridwan. Bahkan, para assassin membantu Ridwan untuk menyingkirkan para lawan-lawan politiknya. Ketika al-Hakim meninggal, maka assassin legendaris lain, seorang pandai besi bernama Abu Tahir al-Sa’igh, menggantikannya. Baik al-Hakim maupun Abu Tahir dikenal sebagai “grand master” Assassin (walaupun hanya memimpin cabang Suriah) karena kepiawaian mereka membunuh.

Pada 1105, tangan Muhammad I Tapar sang Sultan Seljuk sudah terlalu gatal ingin menghabisi para Assassin sehingga iapun mengutus seorang panglimanya, Ahmad ibn Nizam al-Mulk, untuk menghancurkan benteng para Assassin di Alamut. Sesuai namanya, kalian pasti sudah menduga bahwa Ahmad adalah putra dari Nizam, korban pertama para Assassin. Namun sayang, Ahmad tak berhasil merebut benteng Alamut dan membalaskan dendam ayahnya. Akan tetapi ia berhasil menghabisi salah satu pemimpin Assassin bernama Ahmad ibn 'Abd al-Malik ibn Attāsh.

Kastil Masyaf di Suriah, salah satu lokasi benteng pertahanan milik Ordo Assassin

Di Suriah, sang grand master Assassin, Abu Tahir kembali membantu Ridwan menyingkirkan musuh politiknya, kali ini bernama Khalaf ibn Mula'ib, emir kota Apamea. Mereka mengutus assasin bernama Abu'l Fath dari Sarmin yang berhasil membunuh Khalaf dan menjadikan Ridwan penguasa kota Apamea. Namun kemudian, salah satu anak laki-laki dari Khalaf ternyata berhasil lolos dan membalaskan dendam ayahnya dengan menghabisi Abu’l Fath. Yang mengejutkan, keberhasilannya kala itu ternyata berkat dukungan Tancred, seorang ksatria Perang Salib blasteran Italia dan Viking. Peristiwa ini membuat para Assassin mulai mewanti-wanti keberadaan para ksatria Eropa.

Pada 1108, Ahmad ibn Nizam al-Mulk hampir saja dibunuh oleh para assassin sebagai aksi balas dendam, namun beruntung ia berhasil lolos. Tapi para assassin sendiri berhasil membunuh banyak saingan politik mereka, mulai dari Isfahan (Iran) hingga Mosul (Suriah).

Ridwan, sang penguasa Aleppo meninggal pada 1113 dan digantikan oleh anaknya, Alp Arslan al-Akhras. Namun sang anak ini, baru berusia 16 tahun dan juga tuna wicara, sangat mudah dipengaruhi. Muhammad I Tapar, sang sultan Seljuk, memperingatkan pemimpin muda itu akan betapa berbahaya para Assassin. Akibatnya, Alp Arslan tak sudi lagi melanjutkan kerjasamanya dengan para Assassin, seperti yang dilakukan ayahnya. Alp Arslan kemudian mengutus panglimanya, Said ibn Badi, untuk menghabisi para Assassin di Aleppo. Bahkan, mereka berhasil menghukum mati Abu Tahir, sang grand master Assassin. Namun tentu saja para Assassin lain tak tinggal diam dan berhasil menghabisi Said ibn Badi sebagai aksi balas dendam. Alp Arslan, karena kecerobohannya, membuat banyak musuh (baik dari kalangan orang dalamnya maupun dengan kerajaan lain, seperti Antiokia) akhirnya tewas, bahkan tanpa campur tangan para Assassin.

Pada 1118, Muhammad I Tapar akhirnya meninggal dunia dan saudaranya, Ahmad Sanjar menjadi sultan Seljuk yang baru. Kini para Assassin mengubah taktik mereka. Mengetahui bahwa kaum Seljuk adalah musuh yang amat berbahaya, mereka kini mengajukan perdamaian. Namun usaha perdamaian ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan Ahmad yang sudah keburu jyjy dengan reputasi sadis para Assassin. Akibatnya, Assassin pun mengancam Ahmad dengan “halus”. Konon, para assassin menyusup ke dalam kamar sang sultan ketika ia sedang tidur, lalu meninggalkan sebilah belati di samping ranjangnya. Hal ini seakan menjadi peringatan bahwa para assassin bisa melakukan apa yang mereka mau, termasuk membunuh sultan kapanpun. Ancaman dari para assassin itupun cukup membuat Sultan Ahmad bergidik ngeri hingga iapun memutuskan berdamai dengan para Assassin, bahkan rela memberi mereka upeti.

Lukisan yang menggambarkan keberhasilan seorang assassin menghabisi Nizam al Mulk dari Kekaisaran Seljuq. Perhatikan kesamaan busana antara sang assassin yang sedang menusuk Nizam dengan para pengawal Nizam, membuktikan para assassin sangatlah mahir dalam menyamar

Kini, berhasil “menaklukkan” Kekaisaran Seljuk, musuh besar mereka, kebrutalan para Assassin pun menjadi-jadi. Mereka mulai mengintai dua kekhalifahan yang selama ini menjadi musuh bebuyutan mereka, yakni Kekhalifahan Fatimiyah yang beraliran Syi’ah dan Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni. Para anggota Ordo Assassin tentu masih dendam kesumat pada Kekhalifahan Fatimiyah karena mengusir mereka dari tanah air mereka. Pada 1121, mereka menghabisi seorang wazir (penasehat) yang sangat berpengaruh di Dinasti Fatimiyah, yakni al-Afdal Shahanshah (dia pulalah yang dulu membunuh Nizar, sang panutan kaum Assassin sebelum mereka terusir dari Kairo). Bahkan sang khalifah sendiri, yakni al-Amir bi-Ahkam Allah juga berhasil mereka bunuh pada 1130. Pada 1135, mereka juga berhasil menghabisi seorang khalifah Abbasiyah bernama al-Mustarshid.

Pada 1124, Hassan sang grand master sekaligus pendiri Ordo Assassin, akhirnya meninggal dunia dan digantikan anaknya, Kiya Buzurg Ummid. Ahmad Sanjar, sang Sultan Seljuk mengira ini adalah kesempatan emas untuk menghabisi para Assassin karena menyangka sang grand master baru ini menye-menye dan nggak setangguh ayahnya. Sang sultanpun mengutus perwiranya, Mu'in ad-Din Kashi untuk segera menghancurkan benteng Assassin. Namun serangan ini gatot alias gagal total dan Mu’in akhirnya dibunuh oleh para assassin.

Mahmud II, putra dari mendiang Muhammad I Tapar yang kala itu diberi daerah kekuasaan di Isfahan (Iran) berusaha meminta ampun atas “kekhilafan” Sultan Ahmad itu. Takut nantinya para Assassin membalas dendam dengan aksi yang lebih keji, Mahmud II kemudian menawarkan perdamaian. Para duta dari kaum Assassin kemudian datang ke Isfahan untuk memenuhi permintaan Mahmud II (yang sebenarnya tulus itu). Namun ternyata rakyat Isfahan sendiri tak sudi menerima kedatangan mereka dan langsung ramai-ramai mengeroyok dan menghabisi para utusan Assassin tersebut. Hal tersebut menunjukkan sudah sebegitu kadung bencinya rakyat Seljuk terhadap para Assassin yang memiliki reputasi kejam dan kelam itu.

Buzurg Ummid, sang grand master Assassin, meninggal pada 1138 dan digantikan oleh putranya Kiya Muhammad. Ia kemudian membalas dendam atas insiden di Isfahan itu dengan menghabisi putra Mahmud II (karena kala itu Mahmud II sudah keburu meninggal). Kiya Muhammad sebagai grand master yang baru juga mencatat sejarah dengan membunuh korban Eropa pertama mereka. Kala itu, Raymond II, raja dari Tripoli tiba-tiba menjadi korban para Assassin. Perlu diingat bahwa sebelumnya para Assassin tak pernah mencari masalah dengan kaum Eropa yang bercokol di Timur Tengah semenjak Perang Salib, jadi tentu alasannya bukanlah main-main. Kala itu Raymond menyetujui kedatangan musuh bebuyutan para Assassin dari Eropa.

Siapa lagi jika bukan para Ksatria Templar.


SALADIN AND THE KNIGHTS OF TEMPLAR


Saladin, sang pahlawan Muslim termahsyur juga menjadi musuh bebuyutan para Assassin

Pada 1162, sang grand master Assassin Kiya Muhammad turun tahta dan digantikan oleh anaknya yang bergelar Hassan II. Setelah kematian Hassan II pada 1166, maka putranya Imam Muhammad II menggantikannya. Namun dua grand master ini dianggap lemah dan tak “segarang” pendahulu-pendahulunya. Justru nantinya, yang menjelma menjadi sosok assassin paling ditakuti adalah pria bernama Rashid ad-Din Sinan, yang nantinya karena kepiawaiannya membunuh yang begitu ditakuti, berani mengangkat dirinya sendiri sebagai seorang grand master.

Kala itu wilayah Timur Tengah berkobar karena terjadinya Perang Salib III. Sinan, seorang ahli alkimia yang cerdas, dikirim Hassan II ke Suriah untuk mengembalikan kejayaan para Assassin di sana. Ingat, para Assassin dulu memiliki kedudukan amat kuat di Suriah pada masa kekuasaan Ridwan, sebelum akhirnya terusir dari sana. Sinan, dengan kecerdasan dan juga kemampuannya membunuh, tak perlu waktu lama untuk menjadi salah satu assassin terhebat dan juga paling legendaris. Bahkan, kala itu Sinan bebas membunuh siapapun yang ia mau tanpa perlu perintah langsung Hassan II, sang grand master-nya sendiri. Memang, kala itu Hassan II yang bertahta di Alamut, markas besar Assassin, justru takut dan takluk pada kehebatan Sinan.

Namun kini, di tengah Perang Salib II, Sinan harus memilih antara dua sisi yang berlawanan, apakah ia akan mendukung para pasukan Salib dari Eropa, yang dipimpin oleh Richard The Lion Heart, ataukah ia akan mendukung pasukan Muslim yang dipimpin ksatria legendaris, Saladin?

Jawabannya mungkin akan mengejutkan kalian.

Ordo Assassin seringkali bersitegang dengan dunia Islam, contohnya dengan Kekhalifahan Fatimiyah yang membangun masjid Al-Azhar di Kairo ini. Karena itulah, pada ajang Perang Salib, peran mereka amatlah ambigu

Kala itu para Kstaria Templar tiba dari Eropa. Mereka mendarat di Tartus, kini wilayah Suriah. Ingat, Raymond II sang raja Tripoli kala itu dibunuh oleh Assassin karena mengizinkan keberadaan para Ksatria Templar tersebut. Namun rupanya para Assassin lebih memilih berdiplomasi dalam menghadapi kedatangan para ksatria dari Eropa itu. Sinan, yang kini telah mengangkat dirinya sebagai grand master Assassin, mencoba bernegosiasi dengan pemimpin Eropa lain di Timur Tengah, yakni Almaric yang kala itu menjabat sebagai raja Yerusalem. Sinan bersedia membantu Almaric untuk mengalahkan Nur ad-Din, seorang raja dari Negeri Syam yang menjadi musuh bebuyutannya, dengan imbalan Almaric menyingkirkan para Ksatria Templar dari Tartus.

Almaric menyetujui rencana itu dan Sinan-pun mengutus para Assassin ke Yerusalem. Namun di tengah perjalanan, seorang ksatria Templar bernama Walter du Mesnil berhasil menyergap para Assassin ini dan membunuh mereka. Rupanya rencana mereka tercium oleh grand master Ksatria Templar bernama Odo de Saint Amand yang kemudian mengutus Walter. Almaric yang kesal karena rencananya runyam akhirnya meminta Walter dan para ksatria Templar lainnya menyerah. Odo menolak dan menyatakan hanya Paus-lah yang berkedudukan di Vatikan yang bisa menghukum Walter. Almaric-pun, demi menjaga “persahabatannya” dengan Ordo Assassin, diam-diam menangkap Walter dan mengurungnya. Sinan kemudian menerima permintaan maaf Almaric, namun tentu insiden tersebut menambah kebencian Ordo Assassin terhadap para Ksatria Templar.

Selesai menghadapi Ksatria Templar, Sinan kini memusatkan perhatiannya pada musuhnya yang lain: Saladin. Saladin adalah seorang ksatria dari golongan suku Kurdi yang beragama Sunni. Tentu, sebagai Sunni, ia menjadi musuh bebuyutan kaum Assassin yang beraliran Syi’ah. Kepopuleran Saladin sebagai seorang jenderal perang tangguh mulai membuat para Assassin khawatir. Selama ini para Assassin bercokol di perbatasan dua wilayah kekuasaan Eropa di Timur Tengah. Jika Saladin berhasil mengusir hegemoni Barat dari sana dan wilayah itu dikuasai Muslim, apalagi Sunni, tentu akan berdampak buruk bagi mereka. Oleh karena itu, para Assassin berusaha mengenyahkan Saladin.

Bahkan, karena tangguhnya musuh baru mereka, Sinan sang grand master Assassin sendiri akhirnya turun tangan.

Kabar bahwa para Assassin mengincarnya telah lama terdengar di kuping Saladin sehingga membuatnya khawatir. Tentu saja, siapa tak mengenal reputasi brutal dari ordo pembunuh yang paling ditakuti di Timur Tengah itu? Bahkan, Saladin mengantisipasi kedatangan para Assassin ini (yang biasanya diam-diam di tengah malam) dengan menebarkan bubuk kapur dan arang di sekitar tendanya, untuk menangkap jejak kaki para Assassin.

Namun sang Assassin ternyata lebih piawai. Sinan kala itu menyusup diam-diam ke tenda Saladin dan yang mengejutkan, sama sekali tak melukainya. Ia malah meninggalkan sebuah roti beracun dan belati di samping tempat tidur Saladin (ingat, metode “menakut-nakuti” ini juga pernah mereka lancarkan pada seorang sultan Seljuk). Tentu tujuannya untuk menurunkan nyali Saladin dan menunjukkan bahwa para assassin bisa membunuhnya kapanpun mereka mau. Khawatir akan keselamatan keponakannya, paman Saladin yang juga menjabat sebagai gubernur di kota Hama, Suriah akhirnya menjembatani perdamaian antara Saladin dan para Assassin.

Setelah “menaklukkan” Saladin, apalagi rencana para Asassin?

Saladin berhasil menaklukkan para Ksatria Templar

Kala itu, di tengah Perang Salib III, Kerajaan Yerusalem tengah mengalami gonjang-ganjing akibat kematian sang raja, Almaric. Almaric kala itu meninggalkan dua orang putri cantik jelita bernama Sybilla dan Isabella, yang diam-diam bersaing dan saling membenci, sebab berasal dari dua ibu yang berbeda. Kontan, para pangeran-pangeran tampan dari penjuru Eropa berebut hendak meminang kedua putri itu. Tak hanya karena kecantikan mereka, namun siapapun yang berhasil menikahi kedua putri itu tentu akan menjadi Raja Yerusalem. Kota Yerusalem, seperti kalian tahu, merupakan kota suci bagi tiga agama sekaligus, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Tak heran, tentu siapapun yang menjadi raja akan meraup upeti pajak yang amat besar dari para penganut tiga agama tersebut yang tak henti-hentinya datang ke Yerusalem untuk berziarah.

Kala itu Sybilla menikah dengan Guy of Lusignan, seorang ksatria dari Prancis, sementara Isabella menikah dengan Conrad of Montferrat, bangsawan dari Italia. Sayangnya, Sybilla kemudian meninggal karena wabah. Sebagai suami putri sulung Almaric, Guy merasa dirinya berhak menduduki tahta sebagai raja Yerusalem. Namun Conrad berpikir lain. Karena Isabella adalah satu-satunya putri Almaric yang masih hidup, maka istrinya-lah yang pantas menjadi ratu dan ia selaku suaminya yang seharusnya menjadi raja. Akibatnya, pecah perang antara dua kubu pendukung Guy dan Conrad untuk memperebutkan tahta Raja Yerusalem.

Perselisihan antara keduanya semakin runyam setelah seorang raja Inggris bernama Richard The Lion Heart, yang baru saja tiba untuk membela Eropa dalam Perang Salib III, ikut campur tangan. Dalam kekisruhan itu, rupanya Raja Richard lebih mendukung Guy. Namun Conrad mewarisi darah biru bangsawan (bahkan, dua sepupunya menjabat sebagai raja) sehingga Guy-pun (yang hanya seorang ksatria) kalah pamor. Namun disinilah terjadi sebuah peristiwa misterius.

Kala itu Conrad menunjukkan kepiawaiannya berperang dengan berhasil mempertahankan kota Tyre di Lebanon dari serangan Saladin. Namun tiba-tiba saja, pria-pria misterius yang menyamar menjadi rahib menyusup dan menusuk Conrad hingga tewas. Dari gaya pembunuhannya yang khas, kuat dugaan bahwa para pembunuh itu tak lain adalah utusan dari para Assassin. Namun apa tujuan mereka membunuh Conrad? Bukannya selama ini para Assassin berusaha keras untuk tak ikut campur dalam permasalahan pribadi para warga Eropa yang menduduki Timur Tengah (terkecuali karena terpaksa, seperti pada kasus Raymond II dan para Ksatria Templar)? Ada desas-desus bahwa para Assassin tersebut sesungguhnya dibayar jasanya oleh Richard The Lion Heart untuk menghabisi Conrad. Namun ada pula teori yang lebih heboh yang menyatakan bahwa Saladin sendirilah otak di bawah pembunuhan.

Hingga kini, misteri tersebut tak pernah terpecahkan.


THE FALL OF THE ASSASSINS


Lukisan yang menggambarkan jatuhnya benteng para assassin di tangan para pasukan Mongol yang terkenal beringas

Pembunuhan Conrad merupakan aksi terakhir Sinan. Sang grand master terhebat dalam sejarah Ordo Assassin itu akhirnya meninggal pada 1193, anehnya, pada tahun yang sama dimana Saladin meninggal. Namun sayangnya (atau malah untungnya), sepeninggal Sinan, tak ada lagi grand master Assassin yang mampu menyamai kehebatannya. Bahkan Ordo Assassin justru mengalami kemerosotan karena konflik internal. Pada 1210, Muhammad II meninggal dan digantikan anaknya Hassan III. Namun berbeda dengan para grand master sebelumnya, Hassan III lebih condong pada ajaran Sunni karena memiliki ibu dan empat istri yang kesemuanya penganut Sunni. Ia bahkan membuka persahabatan dengan Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni (yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutan Ordo Assassin).

Tentu saja perubahan drastis ini membuat para Assassin yang beraliran Syi’ah tak terima. Hassan III kemudian tewas secara misterius pada 1221 karena diracun. Penggantinya adalah Muhammad III, putranya yang baru berusia 9 tahun. Tentu saja karena usia yang terlalu muda, para penasehatnya turun tangan untuk memangku tahta. Titah pertama mereka adalah membunuh istri-istri Hassan III yang dituduh meracuninya. Tentu saja mengingat tabiat para Assassin, bisa dipastikan sang grand master tersebut dibunuh oleh anak buahnya sendiri.

Pada 1255, grand master Muhammad III juga ditemukan tewas secara misterius, sama seperti ayahnya, dan digantikan anaknya, Rukn al-Din Khurshah yang kemudian akan dikenal sebagai grand master Assassin terakhir.

Kepiawaian Assassin dalam membunuh ternyata bukanlah tandingan serangan tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Mereka berhasil menaklukkan benteng Alamut bahkan menghukum mati sang grand master terakhir. Namun itu bukan berarti kaum Asasssin benar-benar punah. Perlu kita pahami bahwa istilah “Assassin” berlaku bagi semua penganut paham Nizari dari mazhab Ismaili dari aliran Syi’ah. Tak hanya para pembunuh piawai saja, namun juga istri dan anak-anak mereka juga bisa disebut “Assassin” asalkan memiliki paham yang sama.

Para Assassin yang selamat pun bermukim di Salamiyah, Suriah. Kini, para Assassin yang tersisa tak lagi menyebut diri mereka dengan nama yang jelas memiliki konotasi mengerikan itu. Mereka hanya menyebut diri mereka Sekte Nizari dimana kini, mereka memiliki pemimpin tertinggi bernama Aga Khan. Sekte Nizari tak pernah benar-benar mati, bahkan bisa dibilang memiliki posisi yang cukup dihormati baik di Timur Tengah maupun Asia Selatan.

Namun setelah mempelajari sejarah para Assassin, muncul pertanyaan. Bagaimana mereka bisa setangguh itu, hingga nama merekapun terukir dalam sejarah?

Para Assassin dikenal dengan misi bunuh diri mereka. Seperti para pilot Kamikaze Jepang, para Assassin sama sekali tak takut kematian. Tapi apa rahasianya?


THE HASHISH EATER


Lukisan yang menggambarkan Hassan I, sang grand master, tengah "mengakali" pengikutnya sehingga merekapun rela mati demi menuntaskan tugas berbahaya Ordo Assassin


Seperti yang sudah gue sebutkan tadi di awal, nama “Assassin” berasal dari kata “asas”. Namun ada pula teori lain yang menyatakan bahwa nama tersebut berasal dari “hashshashin” yang artinya pengguna “hashish”. Kalian mungkin tak asing dengan hashish yang merupakan “rokok” khas Timur Tengah. Ada kemungkinan bahwa asal nama ini ada benarnya. Kaum Assassin memang dikenal sebagai pengguna hashish, namun bukan untuk bersenang-senang. Konon, sang grand master pertama Assassin, yakni Hassan, meminta para anggota-anggota baru para Assassin untuk merokok menggunakan hashish ini sebagai suatu bentuk upacara inisiasi. Tanpa sepengetahuan mereka, Hassan telah memasukkan sejenis halusinogen (mungkin opium) atau bahkan obat bius ke dalam hashishs tersebut. Dalam kondisi tak sadarkan diri (atau bahkan teler), para assassin-assassin baru itu dibawa ke sebuah taman yang indah dan berisi gadis-gadis cantik. Hassan kemudian mengatakan bahwa mereka tengah berada di “surga” dan jika mereka akan kembali lagi ke tempat itu jika mereka mati di tengah misi “suci” untuk melayani Ordo Assassin.

Ada juga cerita lain tentang bagaimana Hassan meyakinkan para anggotanya untuk rela mati di misi mereka. Ia berpura-pura memenggal kepala salah seorang Assassin-nya dan menaruh kepalanya di depan tahtanya. Padahal, yang terjadi sebenarnya, pria itu hanyalah dikubur dengan kepala di atas tanah. Hassan lalu berpura-pura memiliki kekuatan untuk berkomunikasi dengan orang mati dan “membangkitkan” kepala itu. Kemudian kepala itu akan membuka matanya dan bercerita tentang surga yang ia kunjungi setelah mati karena selama ini ia melayani ordo Assassin sepenuh hati. Untuk semakin meyakinkan ceritanya itu, Hassan kemudian diam-diam memenggal sungguhan pria tersebut dan memajang kepalanya untuk mengukuhkan triknya itu.

Legenda lain tentang para Assassin mengisahkan tentang seorang ksatria dari Eropa bernama Count Henry II of Champagne yang kala itu berjumpa dengan sang Grand Master Assassin yang legendaris, Sinan. Kala itu sang Count sesumbar bahwa tentaranya-lah yang terhebat dan mereka bisa mengalahkan para Assassin dengan mudah karena jumlah mereka 10 kali lipat banyaknya. Mendengarnya, Sinan hanya tersenyum lalu menyuruh salah satu Assassin yang kala itu berjaga di atas menara untuk menjatuhkan dirinya ke bawah. Tanpa ragu, sang Assassin itupun melompat dan akhirnya tewas. Melihatnya, sang Count langsung angkat tangan dan menyerah, mengakui bahwa memang Ordo Assassin yang lebih hebat karena mereka mengikuti semua perintah sang Grand Master mereka tanpa ragu, bahkan jika mereka disuruh untuk mati sekalipun.

Dengan berbekal semua cerita-cerita ini, tentulah kita paham mengapa para Assassin bisa sebegitu berhasilnya dan ditakuti pada masanya. Tentu saja, keberadaan Assassin ini (walaupun ordo aslinya telah musnah) menginspirasi berbagai aksi kejahatan serupa, yakni membunuh petinggi-petinggi politik dengan cara asasinasi. Mulai dari presiden Amerika seperti Abraham Lincoln hingga Archduke Franz Ferdinand yang kematiannya memicu PD I dan PD II, semuanya merupakan aksi asasinasi. Terbaru, kematian saudara Kim Jong Un di Malaysia hingga kematian Jamal Khasoggi (yang uniknya, didalangi pihak Timur Tengah, negeri asal para Assassin), merupakan bukti bahwa teknik para Assassin ini sampai kapanpun akan digunakan sebagai cara instan untuk menyingkirkan musuh dan mendapatkan kekuasaan.

SUMBER: WIKIPEDIA, ANCIENT HISTORY ENCYCLOPEDIA


A VERY SPECIAL THANKS TO:

Aulia Pratama Putri

별처럼 우리 빛나

SPECIAL THANKS TO MY SUPPORTER THIS APRIL:

Sinyo Kulik , Singgih Nugraha , Adhitya Sucipto , Rahadian Pratama Putra , Radinda , Kinare Amarill , Maulii Za , Rara , Sharnila Ilha , Victria tan , Ali Hutapea , Keny Leon , Rosevelani Manasai Budihardjo , Marcella F , Tieya Aulia , PJ Metlit , Marwah , Dana Xylin , Paramita . Amelia Suci Wulandari . Rivandy , Syahfitri , Dyah Ayu Andita Kumala , Fitriani , Ilmiyatun Ainul Qolbi , Ciepha Ummi , Riani Azhafa 


3 comments:

  1. Pas awal baca, berasa strateginya mirip perang gerilnya tentara Indonesia jaman sebelum merdeka.
    Tapi semakin kebawah, jadi semakin twisted. Part terakhir jadi kebayang mereka yag jadi 'pengantin' bom bunuh diri.
    Denger2 mereka mau bunuh diri soalnya dijanjiin ama pemimpinnya kalo setelah mati martir, dijamin bakal masuk surga penuh bidadari cantik.


    P.s. Ada yang bingung ama nama-namanya juga? Berasa semua namanya mirip dan sama, jadi kebalik2 siapa itu siapa 😂😂

    ReplyDelete
  2. Di bagian terakhir artikel itu sama kaya yg ditulis Dan Brown di Angel and Demon. Soal pengguna Hashish.

    ReplyDelete