Sunday, July 8, 2012

CATATAN BACKPACKING KE JATIM: THE AMAZING TROWULAN

trowulan

Udah lama aku terobsesi buat backpacking ke Jatim. Aku kepengen banget melihat kayak apa sih kehidupan arek Jatim, beda nggak sih ama wong Solo? Nah, setelah mengincar jatah cutiku bulan ini, akhirnya kutetapkan untuk backpacking ke Trowulan (Mojokerto – Malang) selama 2 hari. Di Trowulan aku kepengen mengabadikan peninggalan2 Majapahit di sana, sementara di Malang aku kepengen ngeliat katedralnya sekalian menikmati kesejukan kota apel itu.

Ada dua plan sebenarnya di pikiranku (soalnya aku cowok yang banyak pertimbangan, nggak bisa kalo langsung nekad berangkat hehehe), yaitu plan A pagi tiba di Malang trus nginep di Trowulan (denger2 di vihara dimana kita bisa nginep gratis di guest house-nya) atau plan B pagi tiba di Mojokerto terus nginep di kost temenku yang sekarang kerja di Malang. Plan B terdengar lebih menggiurkan, soalnya lebih aman. Namun kedua rencana itu tetap membutuhkan transit di Surabaya.

Rencana awalku adalah naik kereta Gaya Baru Malam ke Mojokerto Jumat malam dan pulang dengan kereta Matarmaja dari Malang Minggu siang (kedua-duanya kereta ekonomi). Tapi gara-gara keabisan tiket kereta, terpaksa aku naik bus jurusan Surabaya dari terminal Tirtonadi Solo jam 1 dini hari biar bisa tiba di Mojokerto pas pagi. Untuk ke Mojokerto aku harus naik bus jurusan Surabaya. Ada beberapa pilihan bus Solo – Surabaya. Untuk yang ekonomi ada MIRA dan Sumber Kencono dengan biaya 26 ribu, terus yang eksekutif ada bus PATAS EKA dengan tarif sekitar 50 ribu (plus makan di Ngawi). Karena aku hanya punya budget maksimal 200 ribu untuk perjalanan kali ini, akhirnya aku pilih bus ekonomi, yaitu MIRA (aku nggak pilih bus Sumber karena track record-nya yang jelek, sering kecelakaan).

Perjalanan naek bus MIRA lumayan nyaman, kuakui. Sebenarnya aku pengen liat sunrise di perjalanan, tapi tampak mendung mulai menggantung di Kertosono, jadinya gagal. Untungnya aku dapat kenalan mahasiswa yang kebetulan arek Mojokerto, jadi aku dikasih tau kapan turunnya (apalagi ternyata bus-nya nggak masuk terminal, cuma lewat depannya aja, kalo aku nggak dibantuin pasti kelewatan hehehe…makasih banget ya buat mas-nya). Sekitar jam 6 aku tiba di Mojokerto. Kepagian sih sebenarnya, namun nggak apa2 lah, soalnya semboyanku “Lebih baik kepagian daripada kesiangan, lebih baik kesiangan daripada kemalaman, lebih baik kemalaman daripada nggak sama sekali” (semboyan macam apa itu?) dan “SNSD is the best” (lebih nggak nyambung lagi).

Iseng2 aku foto2 suasana fajar di Mojokerto. Ini dia.

mojokerto

Di terminal aku langsung mandi di WC umum, padahal udaranya masih menggigil, Jangan khawatir deh kebutuhan duniawi kalian nggak terpenuhi di sini, soalnya walaupun terminalnya kecil tapi fasilitasnya lengkap. Warung ada banyak. Keluar dikit bahkan kalian bisa nemuin minimarket dan pom bensin + musholla.

Aku nemuin ada dua angkot yang melewati Trowulan, yaitu jurusan C (warna kuning) dan D (warna coklat). Karena angkot jurusan C belum datang, akupun naik angkot D dari terminal pas jam 7 pagi. Untungnya angkot ini lewat tengah kota sehingga aku bisa melihat2 seperti apa pusat kota Mojokerto itu. Ternyata wong Mojokerto bangga banget sama peninggalan sejarahnya. Hampir semua gapura di sini bergaya Majapahit. Kebetulan banget angkot ini ternyata ngelewatin stasiun Mojokerto. Wah, ternyata jaraknya lumayan jauh. Di sekitar stasiun banyak rumah-rumah tua dan uniknya, aku ngelewatin sebuah pabrik tua yang ternyata pabrik bir bintang.

Sialnya, angkot yang kunaiki bergerak dengan kecepatan 2 kbps, lebih lemot daripada akses internet sebuah provider tertentu (hehehe). Akibatnya, aku menghabiskan satu jam perjalanan hanya untuk muter2 dalam kota. Di sebuah pasar, aku dioper ke sebuah angkot colt biru karena bapaknya yang nyetir angkot memutuskan nggak lewat Trowulan karena penumpangnya sedikit. Aku cuma disuruh bayar 2 ribu aja.

Pasar ini namanya aneh banget, yaitu Kedungmaling. Di sini aku agak kaget ketika mendengar dua orang ibu2 yang baru pulang berbelanja bercakap-cakap, “Mandhap pundi Bu?" (turun dimana Bu)”. Konon katanya bahasa Jawa Timuran itu kasar. Tapi yang kudengar barusan kan bahasa Jawa halus tingkat tinggi. Apalagi bapaknya sopir angkot beberapa kali mengatakan “Njengengan” (“kamu” dalam bahasa Jawa yang sangat halus). Well, dari pengalamanku sepanjang perjalanan di Jatim, mitos bahwa orang Jatim bahasanya kasar nggak terbukti. Bahasa yang mereka pakai nggak jauh beda kok ama di Solo, cuma mungkin beda aksen aja. Jadi nyesel, soalnya dari tadi aku ngomong pakai bahasa Ngoko (Jawa kasar) sama orang2 yang kutemui.

Walaupun sebenarnya dirugikan karena harus naik angkot 2 x (dan biayanya 2 x lipat juga), tapi aku nggak nyesel soalnya sopir angkot yang kedua ini orangnya ramah, nggak pendiem kayak yang pertama tadi. Akhirnya aku turun di perempatan Trowulan dan segera masuk ke jalan yang ada di sebelah kanan (ada gapura batu bata merahnya) menuju Museum Trowulan. Masuknya lumayan jauh, nggak ada trotoarnya lagi, padahal objek wisata terkenal begini. Secara overall, Trowulan emang nggak backpacker-friendly secara jarak objek2nya jauh dan nggak ada kendaraan umum (adanya ojek dengan tarif 50rb). Huh, coba ada Jokowi disini hehehe, pasti udah disulap jadi keren.
Setelah berjalan beberapa ratus meter, aku langsung melihat Kolam Segaran, peninggalan Majapahit pertama yang kujumpai. Pas aku kesana, panoramanya tertutup oleh kabut sehingga suasananya mistis gimana gitu. Oya ada cerita unik tentang kolam ini. Konon dari berita2 dari Cina dan cerita rakyat, tamu2 dari mancanegara sering dijamu di dekat kolam ini dan begitu jamuan selesai, alat-alat makan yang terbuat dari emas murni dibuang begitu saja di kolam untuk menunjukkan ketajiran Majapahit kala itu. Walah, ternyata budaya lebay udah mendarah daging di bangsa kita sejak zaman Majapahit ya hehehe.

kolam segaran

Aku kemudian mengambil jalan ke kiri untuk mencari makam Putri Campa. Adanya makam ini membuktikan agama Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-14, soalnya menurut kepercayaan Hindu-Buddha, jenazah harusnya dikremasi. Aku menemukan plakat penunjuk jalan yang dibuat seadanya lalu belok ke kanan dan menemukan gerbang ini.

gerbang makam putri campa

Setelah mengisi buku tamu dan memasukkan uang ke kotak sumbangan, akupun masuk. Ternyata ada beberapa makam di sana, namun semua nisannya ditutup dengan kain putih. Setelah bertanya pada juru kuncinya yang ternyata seorang ibu2, ternyata itu hanya untuk mencegah agar prasasti pada batu makam nggak mudah rusak. Bahkan ibunya berbaik hati membukakan kain penutup batu nisan. Di batu nisan tertulis aksara Jawa yang berbunyi 1370 saka. Tak jauh dari makam itu, terdapat makam Emban Kinasih, abdi dalem sang putri. Ada juga bapak2 yang sedang bersemadi di dekat makam. Wah, ternyata tempat ini masih dianggap tempat keramat untuk mengalap berkah, jadi nggak boleh sembarangan.

makam putri campa

Di dekat makam terdapat candi Minak Jingga, namun aku kecewa karena candi itu ternyata baru berupa pondasi dan masih direkonstruksi. Akupun mencari jalan kembali ke kolam segaran untuk menuju ke museum.

Setelah mengelilingi kolam segaran, akupun segera check in (halah) di museum majapahit yang kontroversial. Sayangnya di sini nggak boleh foo2. Aku hanya sempat memotret bagian depan gedung ini. Oya disini aku ngerasain kalo pegawainya ramah2 banget dan tamunya disambut bak raja. Museumnya juga full music. Pertamanya sih musik2 gamelan khas Jawa eh tapi agak2 siang ganti ama lagunya Nidji “Sang Mantan”. Hmmm….

museum majapahit

Setelah tanya2 jalur sama bapak petugas museum, aku dikasih tau bahwa untuk menuju destinasi berikutnya yaitu Candi Bajang Ratu dan Candi Tikus, aku harus belok kanan setelah keluar dari museum lalu belok ke kiri pada perempatan pertama. Dan waduh, ternyata jarak dari museum ke candi2 itu sekitar 2,5 km!!! Namun begitu aku udah menetapkan niat untuk berjalan kaki sampai ke sana.

Karena sambil dengerin koleksi lagu K-Pop, nggak terasa aku udah nyampe di depan Candi Bajang Ratu. Menurut pengalamanku, jarak 2,5 km kutempuh dengan waktu setara 6 lagu K-Pop hehehe.Lumayan cepet ya, maklum aku ingin mematahkan mitos kalo orang Solo jalannya pelan2. Di Candi Bajang Ratu, aku mengisi buku tamu dan memberi sumbangan seadanya. Candi ini sebenarnya bukan candi beneran, namun sebuah gerbang bergaya paduraksa (bagian atasnya menyambung). Nama Bajang Ratu artinya Raja Kecil mungkin ada hubungannya sama raja Kertanegara yang diangkat menjadi raja pada umur belia. Namun ada juga yang mengatakan hal ini ada hubungannya dengan kematian Raja Kertanegara saat masih membujang gara2 dibunuh tabibnya sendiri yang cemburu karena istrinya digoda sang raja.

candi bajang ratu
candi bajang ratu

Sayangnya pengunjung dilarang naik ke dalam candi soalnya candi ini rapuh. Maklum lah soalnya candi2 di Trowulan ini terbuat dari batu bata yang terbuat dari tanah liat, beda ama candi2 di Jateng yang terbuat dari batu andesit yang kokoh. Ditambah lagi usianya udah ratusan abad.  Di gambar di atas terlihat adanya peopang besi di dalam candi yang menunjukkan kerapuhan candi ini. Oya uniknya di kawasan ini terdapat WC jujur dimana hanya ada kotak sumbangan tanpa diawasin. Wah harusnya WC jujur ditaruh di gedung DPR pak, bukan di sini hehehe.

Setelah puas di Candi Bajang Ratu, akupun melanjutkan perjalanan ke Candi Tikus yang kata bapaknya yang jaga candi. Wah kalo denger kata “Deket kok mas” perasaanku dah rada nggak enak nih. Pasti kenyataannya jauh. Aku kemudian mengikuti jalan besar dan mulai khawatir kalo aku tersesat, soalnya aku nggak menemukan tanda-tanda adanya candi di jalan yang kulewatin. Akhirnya aku bertanya pada penduduk lokal dan mereka mengatakan jalannya udah benar. Sudah kuduga harusnya aku nggak meragukan naluri backpackerku (padahal udah sering kesasar hehehe). Ternyata setelah berjalan agak jauh, aku baru menemukan Candi Tikus. Candi ini lagi2 bukan candi beneran tapi pemandian (petirtaan). Konon candi ini dinamai Candi Tikus karena saat digali, banyak tikus bermunculan dari dalam candi.

candi tikus

Aku kecewa begitu ada peringatan “Dilarang turun” di bagian tangga candi dan “Dilarang naik” di bagian tengah candi. Buset naik nggak boleh, turun nggak boleh, pusing dah hahaha. Oya disini nggak ada peringatan “Dilarang berenang” lho jadi sillakan nyebur kalo kalian cukup gila hehehe.
Yang unik di sini aku melihat pancuran di tiap sisi kolam, jadi aku bayangin kalo zaman dulu air keluar dari pancuran2 ini. Wah pasti bagus kalo masih jalan, namun sayangnya sekarang udah nggak berfungsi.

candi tikus

Di Candi Tikus aku udah nyerah kalo disuruh jalan lagi. Akhirnya setelah minta tolong ama bapak penjaga candi, aku dicariin ojek untuk balik ke jalan besar (wah baik banget bapaknya hehehe). Kemudian aku mikir, kalo mau ke jalan besar, ngapain nggak sekalian aja aku ngunjungin objek2 lainnya. Akhirnya aku membuat kesepakatan dengan bapaknya ojek untuk pergi ke Vihara dan Candi Bajang Ratu dengan tarif 30ribu (udah capek soalnya jadi males nawar).

Dengan naik ojek, aku segera menyambangi Maha Vihara Majapahit. Keluar dari perempatan Trowulan belok kiri sekitar 1 km lalu masuk ke sebuah gang di kanan jalan. Jalannya mblusuk2 sih, namun tenang, ada papan penunjuk jalan di tiap persimpangan yang mudah ditemukan. Setelah nulis buku tamu dan masukin uang seadanya ke kotak sumbangan (dari tadi pagi begini terus kegiatanku, jangan2 ampe Solo keterusan mau masuk rumah sendiri pake nulis buku tamu ama masukin sumbangan hehehe).

Banyak yang nggak tahu tentang objek wisata yang satu ini, padahal vihara ini menyimpan patung Buddha emas terbesar di Indonesia. Patung keren emang  ini belum begitu terkenal dan belum masuk ke dalam cagar budaya, soalnya umurnya baru 40 tahun (untuk masuk cagar budaya minimal umurnya 50 tahun). Begitu masuk, wah langsung deh berasa di Thailand!

patung buddha

Dalam perjalanan dari vihara ke Candi Wringin Lawang (sekitar 2,5 kilo), aku mampir di Candi Brahu. Sebenarnya sih aku nggak niat ke situ, tapi bapaknya ojek nawarin sekalian mampir tanpa biaya tambahan, soalnya satu arah sama Candi Wringin Lawang. Wah baek banget bapaknya, mungkin gara2 tadi aku nggak nawar ya hehehe. Nah, candi ini pada zaman Majapahit yang rajanya lebay itu digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah.

candi brahu
candi brahu
candi brahu

Oya, uniknya di Candi Brahu ini, aku menemukan pohon maja yang termasuk tanaman langka. Tau kan, nama Majapahit berasal dari rasa buah maja yang pahit ini.


Tujuan terakhirku adalah Candi Wringin Lawang yang lagi2 bukan candi beneran, tapi sebuah gerbang bergaya Bentar (kedua ujung atasnya nggak menyambung) kayak gapura2 Bali. Nah, menuju kemana gapura ini masih menjadi misteri yang belum terjawab.

candi wringin lawang
candi wringin lawang
candi wringin lawang

Oya pas bilang ke pak ojeknya kalo aku ingin menuju ke candi ini, aku sempet salah nyebut dan bilang mau ke candi “Wringin Branjang”. Bapaknya langsung bingung dan bilang “Wringin Lawang ya mas maksudnya?” Aku langsung nepuk jidat, oya itu namanya. Wringin Branjang mah Wringin Lawang ama  Candi Bajang Ratu dijadiin satu hahaha. Untung bapaknya bukan Fitri Tropica, kalo iya pasti jawabnya, “Wringin Lawang khaleeee…”

Taman di candi ini sangat asri (kayak candi2 lainnya di Trowulan) jadi aku memutuskan istirahat bentar sambil makan bakso pentol (nggak ada makanan beginian di Jateng hehehe) yang tadi aku beli di depan Candi Tikus.

Setelah puas menikmati kemegahan Candi Wringin Lawang, akupun melanjutkan perjalanan dengan menanti bus menuju Surabaya di jalan raya tepat di depan candi. Namun rupanya bus jurusan Surabaya nggak mau sembarangan berhenti di tengah  jalan entah berantah. Akhirnya aku memutuskan naik angkot kuning bernomor C yang menuju ke terminal Mojokerto. Oya, di jalan aku melewati kembali Pasar Kedungmaling (daerah Brangkal namanya) yang ternyata pemberhentian bus jurusan Surabaya. Tips aja kalo mau menunggu bus menuju Surabaya mending di sini saja soalnya kalo dari terminal takutnya sudah penuh. Cuma aku saat itu lebih memilih turun terminal aja soalnya sekalian cari makan ama bekal. Oya, angkot yang kunaiki ini juga melewati stasiun Mojokerto juga lho, jadi bisa jadi pilihan buat kalian yang naik kereta.

Nah, itulah pengalamanku backpacking di Trowulan. Selesai dari Trowulan aku segera melanjutkan perjalanan ke Malang dengan terlebih dahulu transit di Surabaya. Ikuti terus ceritaku ya, jangan lupa kirim sms dukungan (halah).

4 comments:

  1. Haaiiii......salam kenal, wah boleh juga referensi tulisan ini buat ke Trowulan, gue lagi searching2 tentang Trowulan n salah satunya dapet webblog ini, lumayan buat pengetahuan soalnya planning mau ke sana jadi lagi cari2 info dan tips buat ke sana, makasih sharing nya yah.

    Ditunggu kunjungannya juga ke blog saya.

    ReplyDelete
  2. Rencana pas 17 agustus ini mo ke Trowulan..nemu blog ini lumayan buat referensi..makasih..

    ReplyDelete