Friday, September 2, 2016

DEEPEST CONDOLENCES: 10 PEMAKAMAN TERBESAR SEPANJANG SEJARAH

 

Mendengar kita pemakaman pasti yang terbayang adalah suasana sedih dicekam duka. Memang sulit melepaskan kepergian seseorang untuk beristirahat selamanya, apalagi jika orang tersebut adalah orang yang amat kita sayangi. Terutama jika yang meninggal adalah public figure, pastilah tak hanya keluarga dan teman-teman terdekat saja yang berduka, melainkan juga banyak orang.

Yang jelas, kepergian tokoh-tokoh di bawah ini tak hanya mengundang duka bagi yang mengenal mereka saja, namun juga seisi negara, bahkan dunia. Tak ayal, pemakaman tokoh-tokoh penting ini sampai dibanjiri hingga jutaan pelayat. Berikut ini 10 pemakaman terbesar di dunia, bukan karena kemewahan dan keglamoran acara pemakamannya, namun ditilik dari jumlah pelayatnya.

10. Lady Diana – 6 September 1997 (London, UK)

Attendance: ± 3 juta pelayat

lady di

Kita mulai count down ini dengan salah satu public figure sekaligus ikon fashion paling terkenal di dunia, Lady Diana. Kematian mendadak Lady Diana pada tahun 1997 akibat kecelakaan memang mengguncang dunia kala itu. Dunia berduka karena Lady Diana, walaupun sudah bertahta sebagai putri lagi karena telah bercerai dengan suaminya, Pangeran Charles, terkenal tak hanya karena kecantikannya, namun juga karena kedermawanan dan karya sosialnya.

Pemakamannya di Gereja Westminster Abbey, London dihadiri 2.000 jemaat, di antaranya berbagai tokoh penting seperti Nelson Mandela hingga artis-artis dunia seperti Tom Hanks, Steven Spielberg, Elton John, George Michael, Luciano Pavarotti, Tom Cruise and Nicole Kidman. Elton bahkan menggubah lagu “Candle in the Wind” untuk mengenang sang putri berjulukan “England Rose” tersebut.

Tak hanya itu, pada prosesi pemakaman dari gereja ke peristirahatan terakhirnya, sekitar 3 juta warga Inggris sudah memadati jalan-jalan untuk melihat sekilas peti mati sang putri dan melemparkan bunga sebagai tanda duka cita. Lady Diana kono dimakamkan dengan tangan memegang tasbih rosario yang pernah diberikan oleh Bunda Theresa kepadanya. Sebagai informasi, kedua tokoh dunia tersebut meninggal dalam minggu yang sama (masih ingat dulu pernah nonton pemakamannya di TV).

9. Victor Hugo – 1 Juni 1885 (Paris, Prancis)

Attendance: ± 3 juta pelayat

image

Salah satu pemakaman terbesar di Eropa pada zamannya dihadiri sekitar 3 juta pelayat hampir 130 tahun lalu. Namun bukan pemakaman para raja atau bangsawan yang dimaksud, namun penulis sastra kenamaan, Victor Hugo. Penulis kisah “Hunchback of Notre Dame” dan drama musikal “Les Miserables” ini memang amat dicintai oleh rakyat Perancis. Tak hanya itu, untuk mengenang namanya, hampir setmua kota yang ada di Prancis memiliki jalan yang menyandang namanya.

8. Evita Peron – 9 Agustus 1952 (Buenos Aires, Argentina)

Attendance: ± 3 juta pelayat

evita

Siapa tak kenal tokoh ini? Nama Evita Peron memang mencuat berkat film yang dibintangi Madonna dan lagunya yang terkenal “Don’t Cry for Me Argentina”. Evita Peron sendiri adalah sosok yang amat dicintai oleh rakyat Argentina. Dikenal sebagai “first lady” Argentina yang terkenal, Evita adalah mantan aktris dan istri presiden Argentina, Juan Peron. Evita juga dikenal sebagai tokoh wanita paling berpengaruh di Argentina, walaupun ia tak pernah menjabat peran politik apapun.

Kematiannya yang amat mendadak di usia 33 tahun akibat kanker membuat seluruh rakyat Argentina berduka. Tak hanya itu, jalana Buenos Aires, kota Evita dimakamkan dibanjiri karangan bunga, sampai-sampai seluruh toko bunga di toko tersebut kehabisan stok dan harus mengimpor dari negara tetangga, Chile.

7. Ayton Senna – 1 Mei 1994 (Sao Paulo, Brazil)

Attendance: ± 3 juta pelayat

senna

Namanya mungkin masih asing bagi kalian, namun bagi rakyat Brazil, Ayton Senna adalah seorang pahlawan. Senna mengharumkan nama Brazil dengan menjadi juara balap mobil Formula One kenamaan. Namun sayang, pada 1994 saat mengikuti kejuaraan dunia di San Marino, Iitalia, ia mengalami kecelakaan di sirkuit balap dan meninggal seketika.

Kematiannya memicu kontroversi sekaligus kemarahan rakyat Brazil karena sehari sebelum kematiannya, seorang pembalap Austtria bernama Roland Ratzenberger mengalami nasib serupa, terbunuh di sirkuit balap. Seharusnya akibat insiden tersebut, ajang Grand Prix dibatalkan, namun pihak sponsor terus menyerukan agar pertandingan tetap dilanjutkan demi menghindari kerugian finansial. Yang mengharukan, setelah jenazahnya dievakuasi, di dalam mobil Senna ditemukan bendera Austria yang hendak ia kibarkan bersama bendera Brazil apabila ia menang nanti, untuk mengenang pembalap yang terbunuh tersebut.

Kematian Senna, walaupun ia adalah olahragawan, bukan presiden ataupun tokoh politik lainnya, disebut sebagai “tragedi nasional” oleh pemerintah Brazil. Bahkan diadakan tiga hari berkabung untuk mengenang jasanya. Hmmm ... apakah negara kita bakal menghargai atlet yang sudah mengharumkan nama bangsa seperti ini juga ya?

6. Umm Khulthum – 6 Februari 1975 (Kairo, Mesir)

Attendance: ± 4 juta pelayat

umm-kulthum-2

Umm Khultum mungkin tak begitu kita kenal di tanah air, namun di Timur Tengah, dia dikenal sebagai primadona pop Arab. Umm Khultum adalah penyanyi dan aktris Mesir paling terkenal sepanjang sejarah. Kemampuan vokal membuatnya dikenang sebagai penyanyi Arab terbaik di abad ke-20 dan dianggap berjasa besar bagi dunia musik Timur Tengah. Pada usia 76 tahun, diva ini meninggal dan pemakamannya di Kairo langsung dibanjiri jutaan penggemarnya.

5. Paus Yohanes Paulus II – 8 April 2005 (Vatikan, Roma)

Attendance: ± 4 juta pelayat

Pope-John-Paul-II.-9814

Gue ingat, sebagai penganut Katolik, gue shock berat ketika Paus Yohanes Paulus II meninggal pada 2005. Pemakamannya pun diliput secara besar-besaran sebab tak heran, Paus Yohanes Paulus II adalah tokoh dunia yang amat berpengaruh, bahkan dikenal menghapuskan komunisme di Eropa Timur. Sosoknya yang pecinta damai mungkin dapat disetarakan dengan Dalai Lama sebagai pemimpin Buddha.

Pemakamannya hingga kini merupakan gathering kepala negara terbesar sepanjang sejarah (di luar sidang PBB). Sebanyak 4 raja, 5 ratu, 70 presiden dan perdana menteri, serta 14 pemimpin agama lain dari segala penjuru dunia datang melayat. Sebanyak 4 juta pelayat juga memadati kota Vatikan yang merupakan negara terkecil di dunia. Jumlah ini menakjubkan, mengingat kota Roma sendiri (Vatikan merupakan satu-satunya negara yang berada di dalam kota, yakni Roma) hanya berpenduduk 3 juta jiwa. Proses pemakamannya-pun disiarkan ke penjuru dunia dan ditonton 2 miliar pasang mata, padahal Gereja Katolik sendiri mengaku hanya memiliki 1,2 miliar penganut di seluruh dunia.

4. Gamal Abdul Nasser – 1 Oktober 1970 (Kairo, Mesir)

Attendance: ± 5 juta pelayat

nasser_gamal05

Gamal Abdul Nasser dikenal sebagai salah satu pemimpin Timur Tengah paling berwibawa. Pemimpin Mesir ini terkenal karena menasionalisasi Kanal Suez menjadi milik Mesir setelah sebelumnya dikuasai pihak kolonial Eropa. Dia dikenal pula memodernisasi Mesir, menyatukan negara-negara di Timur Tengah, sekaligus melawan keras Imperialisme Barat.

Kematiannya secara tiba-tiba akibat serangan jantung membuat tak hanya Mesir, namun juga seluruh Timur Tengah berduka. Raja Husein dari Arab Saudi dan Yasser Arafat, pemimpin Palestina secara terang-terangan menangis saat pemakamannya. Bahkan, mendiang Muammar Ghadafi, pemimpin Libia, pingsan hingga dua kali akibat duka mendalam. Gamal Abdul Nasser kini disemayamkan di dalam masjid yang juga menyandang namanya.

3. Abraham Lincoln – 19 April - 3 Mei 1865 (Penjuru Amerika Serikat)

Attendance: ± 7 juta pelayat

abe

Mungkin pemakaman paling unik di list ini, prosesi pemakaman presiden Amerika Serikat yang terkenal memimpin negara tersebut pada Perang Sipil ini memang memakan waktu lama sebab jasadnya diarak menggunakan kereta mengunjungi 6 negara bagian agar seluruh rakyat Amerika berkesempatan melayat pemimpin mereka. Tercatat, jasadnya dibawa dari sejauh 2.700 km dari Washington DC ke berbagai kota seperti Philadelphia, New York, Chicago, hingga akhirnya disemayamkan di kota kelahirannya, Springfield untuk penghormatan terakhir.

Abraham Lincoln sendiri merupakan presiden AS pertama yang dibunuh. Pada 14 April 1865, Lincoln ditembak hingga tewas oleh John Wilkes Booth pada saat menonton opera bersama istrinya. Ini adalah usaha ketiga untuk membunuh presiden yang dikenal menghapuskan perbudakan terhadap kaum kulit hitam ini. Daftar presiden AS yang meninggal karena dibunuh adalah William Harrison (1841), Abraham Lincoln (1865), James Garfield (1881), William Mc Kinley (1901), dan John F. Kennedy (1963).

Bila diperhatikan, ada selang waktu 20 tahun antara pembunuhan satu dengan yang lain. Oleh media, hal ini dipercaya sebagai kutukan Tippecanoe, dimana seorang kepala suku Indian bernama Tecumseh konon mengutuk Harrison (yang kala itu masih menjabat gubernur) karena telah merebut tanahnya. Uniknya, hanya dua presiden yang lolos dari kutukan tiap 20 tahun itu, yakni Ronald Reagan dan Goerge W. Bush. Namun mereka berdua sendiri pernah menjadi korban usaha pembunuhan, walaupun selamat.

2. Ayatollah Khomeini – 4-5 Juni 1989 (Teheran, Iran)

Attendance: ± 10 juta pelayat

ayatollah khomeini

Dikenal sebagai pemimpin revolusioner Syi’ah di Iran, Ayatollah Khomeini menjadi pemimpin relgius sekaligus pemimpin politik Iran setelah menggulingkan sultan terakhir Iran, Reza Pahlevi pada 1979. Sosok ini memang dikenal amat anti-Barat. Salah satu kebijakannya yang kontroversial adalah menyerukan fatwa untuk membunuh novelis berdarah India, Salman Rushdie karena novelnya “Ayat-Ayat Setan” dianggap menghina Islam. Ia juga menyebut Amerika Serikat sebagai “Great Satan”, bahkan menyebut demokrasi setara dengan prostitusi.

Walaupun di Barat dikenal karena pelanggaran HAM, namun di Iran imam ini amat dihormati, bahkan dipuja. Pada saat pemakamannya, jutaan orang berdesakan untuk menyobek kain kafan Khomeini karena dipercaya dapat dipakai sebagai jimat. Bahkan sekitar 10 pelayat tewas karena berdesak-desakan. Situasi yang kacau kala itu (tak heran, sebab pemakamannya dihadiri 10 juta orang, atau setara sepersepuluh populasi Iran), menyebabkan pemakaman tersebut dibatalkan dan jenazahnya diterbangkan kembali dengan helikopter. Baru sehari sesudahnya, pemakaman yang dijaga dengan lebih ketat dapat berlangsung dengan tertib.

1. CN Annadurai – 3 Februari 1969 (Madras, India)

Attendance: ± 15 juta pelayat

annadurai

Siapakah pemimpin india yang pemakamannya dihadiri oleh paling banyak penduduk India? Tidak, ternyata bukan Mahatma Gandhi, Indira Gandhi, atau Jawaharlal Nehru, namun politikus bernama CN Annadurai yang kerap dipanggil Anna (artinya “kakak”). Pemakamannya Anna mengalahkan jumlah pelayat Gandhi dengan telak. Jika pemakaman Gandhi mengumpulkan 2 juta pelayat, maka pemakaman Anna mengumpulkan hingga 15 juta orang bahkan masuk ke dalam Guinness Book of Record!

Ini mungkin karena Anna dikenal membela minoritas Dravidian (berbahasa Tamil) terhadap mayoritas kaum Arya (berbahasa Hindi) di India. Sebanyak 28% penduduk India adalah Dravidian yang mengaku sebagai penduduk asli sub-kontinen India sebelum didesak oleh kaum pendatang yang menamakan diri mereka Arya. Kini, kaum Arya menempati India utara sedangkan bagian selatan ditempati kaum Dravidian.

Mungkin karena perjuangannya inilah, dirinya (yang juga dikenal sebagai orator ulung) begitu dicintai publik hingga pemakamannya dihadiri 15 juta pelayat. Jika kalian susah membayangkan jumlah sebesar itu, coba bandingkan dengan populasi Jakarta yang “hanya” 10 juta jiwa. Pastinya sesak banget ya?

Wow, bayangkan padatnya sebuah pemakaman yang dihadiri hingga jutaan orang. Gue jadi ingat salah satu kotbah seorang ustad saat pemakaman salah satu sanak saudara gue bahwa amal budi seseorang dapat dilihat dari jumlah pelayat yang mendatangi pemakamannya. Gue pikir perkataan ini ada benarnya juga. Pemakaman tokoh-tokoh di atas dibanjiri pelayat bukan hanya karena mereka sosok terkenal, namun juga karena jasa-jasa mereka bagi negara bahkan kemanusiaan.

Bisakah kalian bayangkan seperti apa pemakaman kalian nanti? Apakah nanti pemakaman kalian bakal dikunjungi banyak orang yang berduka atas kematian kita karena jasa-jasa kita semasa hidup? Atau malah nggak ada yang datang? Silakan direnungkan sendiri (selagi masih bisa bernapas).

No comments:

Post a Comment