Sunday, September 26, 2021

CERITA HOROR GOJEK (6): GARA-GARA GOSEND KINI SIKAP SUAMIKU BERUBAH (DERITA ISTRI TERANIAYA)

SUMBER GAMBAR: UNSPLASH

Namaku Ratna dan suamiku, Egi adalah seorang driver gojek. Walaupun dia tak mampu, namun aku tetap bangga padanya. Dia bekerja keras demi menghidupi keluarga kami. Kami belum punya rumah sendiri, jadi semenjak menikah, kami tinggal di rumah orang tuaku.

"Apa ini Mas?" Tanyaku saat dia pulang suatu malam membawa bungkusan. 

"Entahlah. Tadi ada orderan gosend. Seorang pria menyuruhku mengantarkan ini. Namun anehnya, alamat tujuannya fiktif. Kata penduduk sekitar, alamat tujuannya tersebut tidak ada."

"Itu aneh sekali. Jadi kau membawanya pulang? Kenapa tak mengembalikannya?"

"Tempatnya jauh. Lagipula sudah malam begini.  Besok saja aku kembalikan."

Diapun beristirahat di sofa sembari kubuatkan kopi. Tiba-tiba dia memanggilku.

"Rat! Rat! Ke sini sebentar!"

"Ada apa sih?" Aku menghampirinya.

"Lihat ini! Ini pria yang tadi mengorderku!"

Aku menyaksikan berita itu sambil mengernyit.

“... korban penusukan dikenal sebagai pemilik toko barang antik. Diduga, pelaku pembunuhan adalah orang yang mengenal korban dan kini sang pelaku tengah diburu polisi. Kita lanjut ke berita selanjutnya ...”

"Ih ... Jadi dia korban pembunuhan?"

"Ya, dia ditusuk setelah menyuruhku mengantar benda ini."

"Ih mengerikan sekali! Apa dia dirampok?"

"Yang jelas pria yang melakukannya jelas amat dendam padanya. Apa karena benda ini ya?" Suamiku akhirnya penasaran pada benda yang ia bawa tadi.

"Apa isinya?" tanyaku.

Dia membukanya. Ternyata isinya sebuah kaset. Di covernya tertulis "Primadona".

"Kaset apa ini ya? Apa isinya lagu?" Ia lalu menatapku, "Hei, apa kamu ingat dulu pas kita masih pacaran aku pernah memberimu sebuah walkman. Apa kamu masih menyimpannya?"

"Tentu saja. Akan kuambilkan."

Benda usang itu sudah lama sekali tak pernah kami pakai, jadi aku agak terkejut ketika suamiku memakainya dan ternyata masih bekerja dengan baik.

"Wah, lagu lawas ternyata. Suara penyanyinya merdu sekali." Suamiku tampak menggoyang-goyangkan kepalanya, seakan-akan mengikuti hentakan musik yang didengarnya.

"Untuk apa dia menyuruhmu mengantar kaset usang seperti itu? Bukannya sekarang tidak ada lagi yang memakai kaset?" Tanyaku heran.

"Entahlah. Tadi diberitakan dia pemilik toko barang antik. Mungkin ini kaset langka atau dia seorang kolektor. Mungkin kaset seperti ini tidak diproduksi lagi." Iapun bangun dan masuk ke kamar sambil membawa walkman itu. Headphone bahkan masih terpasang di telinganya. Seakan-akan dia begtu menikmati alunan musik dari kaset itu.

Keesokan harinya, ketika ia akan berangkat bekerja, aku terkejut melihatnya masih memakai headphone itu.

"Lho kamu mau narik sambil mendengarkan musik itu?" 

"Iya, lagunya bagus kok. Bisa menambah semangat hahaha."

Namun harusnya aku curiga. Sejak kejadian itu, sikap suamiku perlahan-lahan berubah.

"Loh, mas?" Tanyaku suatu pagi saat melihatnya tiduran di sofa sambil mendengarkan kaset itu, "Kok nggak berangkat kerja?"

"Lagi nggak enak badan." jawabnya singkat. Dia bahkan tampaknya belum mandi.

"Oh, baiklah. Aku mau ke pasar dulu. Aku titip anak kita ya."

Namun sepulang aku dari pasar, aku menemukan anak bayiku menangis sambil meraung-raung sementara suamiku masih mendengarkan musik di telinganya.

"Mas! Apa-apaan ini?!" Ucapku marah, namun suamiku tak bergerak sedikitpun dari sofa. Bahkan ekspresi wajahnya pun sangat tenang, seakan dunianya meresap ke dalam alunan musik itu.

Semenjak itu kelakuan suamiku semakin berubah. Ia tak pernah lagi bekerja, hanya mendengarkan rekaman itu seharian. Terpaksa aku mengandalkan ayahku untuk menghidupi kami. Bahkan aku berpikir untuk bekerja paruh waktu sebagai buruh cuci.

Suatu hari aku bahkan menemukan suamiku sedang bertengkar dengan mertuanya. Ketika kutanya ada apa, Egi menjawab bahwa ayahku tanpa seizinnya meminjam kasetnya, sementara ayahku bilang bahwa menantunya itu egois karena menyimpan rekaman itu sendirian tanpa mau berbagi.

Semenjak itu, kondisi rumah semakin kacau. Suamiku dan ayahku selalu bertengkar. Tak ada yang mempedulikan tangisan anakku, sementara aku terpaksa bekerja menghidupi keluarga kami.

Hingga suatu saat aku merasa muak dan saat suamiku mandi, aku mengendap-endap dan mencoba mendengarkan rekaman itu.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!" terdengar bentakan suamiku dari belakang. Ia rupanya memergokiku. Dengan kasar dia merebut walkman itu lalu menamparku dengan keras.

"PLAAAAK!!!"

"DASAR ISTRI NGGAK TAHU DIRI!!! NANTI KASETNYA RUSAK!"  Seru suamiku sambil memeriksa kasetnya.

"Aku nggak tahan lagi!" tangisku, "Kau lebih peduli pada kaset itu daripada aku dan anakku! Lebih baik aku pergi saja!"

"PERGI SAJA SANA!" bentaknya, "Kalau aku sudah punya kaset ini, aku tak butuh siapapun!"

Tiba-tiba saja ayahku muncul dari belakangnya dan langsung membacok suamiku dengan parang.

"AAAAAARGH!!!"

"AAAAAAAA!!!" teriakku.

"CEPAT BERIKAN KASET ITU PADAKU!!!" teriak ayahku dengan wajah murka. 

Mereka berdua lalu bergelut. Aku segera lari dari rumah sambil membawa anakku. Kami segera pergi ke kantor polisi dan menjelaskan semuanya di sana. Mereka segera mengirimkan petugas ke sana, namun mereka kembali dengan berita buruk.

"Maaf, kami menemukan suami dan ayah anda sudah tewas. Mereka berkelahi sampai meninggal."

Aku mendekap anakku dan menangis, "Se ... Semua ini gara-gara rekaman terkutuk itu!"

"Saya tak bisa membayangkan perasaan Anda. Suami anda berubah karena lama-lama jatuh hati pada suara merdu primadona itu. Pasti anda merasa terkhianati ..."

"Ti .... Tidak! Bukan itu!" Jawabku seraya menghapus air mataku, "Anda tidak mengerti ..."

"Apa maksud anda?"

"Aku sudah mendengarkan rekaman itu. Sama sekali tak ada nyanyian merdu dalam kaset itu. Yang ada hanya teriakan kesakitan ... Seperti jeritan  seseorang yang sedang disiksa dan dibunuh ..."


2 comments: