Saturday, October 27, 2012

PENGALAMANKU RESIGN

Foto5035

Tak terasa perjalanan panjang hidupku telah membawaku menapaki dunia kerja selama dua tahun. Kerjaanku dulu enak sih, aku jadi editor buku-buku pendidikan *pembaca langsung pada shock*. Tapi aku merasa pekerjaan di Solo mulai membuatku jenuh. Itulah satu-satunya persamaanku sama Rio Febrian selaen kita sama2 galau. Jadi tertanggal akhir Oktober, aku memutuskan resign dari kantorku yang lama di penerbitan dan pindah ke sebuah lembaga bimbingan belajar untuk mendidik generasi2 muda *pembaca lebih shock lagi*. Nah, aku sempat bingung nih gimana “manner” yang tepat kalo mau resign. Setelah cari-cari di internet dan kupraktiin, ternyata hasilnya aku bisa resign dengan sukses.

Kalo mau resign sih idealnya kalian mengajukan surat pengunduran diri sekitar sebulan atau minimal seminggu sebelum hari-H. Hal ini bertujuan supaya bos kita nggak ketar-ketir gara-gara pekerjaan kita nggak ada yang ngelarin dan memberi waktu yang cukup buat mencari penggantinya. Nah, gara-gara aku emang pegawai nggak tahu diri, aku baru mengajukan resign sehari sebelum hari-H hahaha. Sebenarnya aku mendapat pemberitahuan keterima kerjanya udah agak lama, cuma aku butuh waktu mikir-mikir dulu. Akhirnya setelah berdiskusi alias curhat dengan temen kampusku dulu yang sekarang kerja jadi tentor, akupun menetapkan hatiku untuk benar-benar keluar dari kerjaanku sekarang dan menyongsong hari esok baru yang lebih cerah *halah*.

Sebenarnya sih ada beberapa alasan kenapa aku resign dari kerjaan. Secara ekonomi sih sebenarnya gajiku masih cukup (beberapa bulan lalu aku malah naek gaji terus dapet jamsostek). Namun aku pikir, nggak bakal berkembang deh karir di Solo. Kalo aku terus-terusan kerja di sini, mana bisa aku jadi lelaki dewasa seutuhnya (jiah). Selain itu, sejak dulu aku sudah kepengen merantau ke Jakarta, bahkan sejak sebelum aku lahir (weleh, gimana caranya ya?). Aku juga pengen hidup mandiri jauh dari orang tua di Solo dan keluar dari comfort zone alias zona nyaman serta mencari pendamping hidup yang seiman (haiah apa hubungannya). Namun keinginanku resign terus kutahan-tahan hingga akhirnya titik kulminasiku tercapai ketika *dua* teman kantor baikku memutuskan resign. Akhirnya aku berpikir,

“That’s it! Gue ikut cabz!”

Setelah membulatkan tekad, aku langsung browsing contoh-contoh surat pengunduran diri. Ada banyak kok contohnya. Liat saja di sini. Nah, ternyata di surat pengunduran diri kita nggak perlu nyebutin alasan resign kita, kayak “lagi galau”, “HRD-nya galak”, “putus cinta ama anak lantai atas”, “mengalami physical dan emotional abuse”, “gaji dikit, sejuta tuh suruh buat makan anak istri?!” dan lain-lain. Yang lebih penting, jaga image kita dengan tetap membuat surat yang sopan. Kalo emang gara-gara nggak betah di kantor lama, nggak perlu pake emoticon tears atau bahkan emoticon devil segala.

Nah, hari Senin akhirnya aku berniat memberikan surat pengunduran diriku sama bosku. Entah kenapa, suasana pagi itu mendung dan sendu, seolah-olah semesta juga ikut meratapi kepergian aku *halah*. Tapi waktu bosku menerima surat resign-ku, ekspresinya malah biasa-biasa aja. Malah bosku bilang, “Semoga Mas David berada di tempat yang lebih baik.”

“SAYA BELUM MAU MENINGGAL PAK!!!”

Setelah melalui Pak Bos dengan sukses, kini tantangan lainnya adalah HRD! Aku kini merasa seperti Saint Seiya yang harus melewati 12 istana yang dijaga 12 satria berjubah emas (imajinasi terlalu liar). Aku melangkahkan kaki ke arah kantor HRD yang bagi setiap pegawai kantorku lebih menyeramkan dari Villa Angker Pondok Indah. Eh, ternyata HRD-nya lagi interview calon pegawai baru. Akupun mengobrol dengan mas-mas yang akan diwawancarai sambil menunggu. Mas-nya nih kayaknya masih polos banget soalnya baru lulus kuliah. Dalam hati aku berkata, “Siap-siap aja deh buat merasakan hidup menderita HUAHAHAHA…”

Beruntungnya kepala HRD-nya saat itu ternyata lagi keluar sehingga aku diterima wakilnya (yang lebih ramah tentunya). Inilah percakapanku dengan HRD.

“Wah, Pak David kok mau keluar? Kami pasti kehilangan.”

Aku senyum-senyum sendiri. Di benak liarku tergambar adegan para HRD narik2 kaki aku, “Jangan pergi Pak, plis! Bagaimana kami bisa mencari pengganti sebaik Bapak?"

“Tidak, Bu! Lepaskan saya…lepaskan!!!”

“Pak? Pak? Kok senyum2 sendiri?”

Tersadar dari lamunan, “Oh, nggak apa-apa Bu.” *ibu HRD nyadar nggak ya kalo gue psikopat?*

Step berikutnya adalah pamitan ama temen-temen kantor. Hal ini wajib dilakuin kalo kalian mau resign, supaya temen2 kantor nggak berpikiran macam2,

“Aduh, jangan2 dia keluar gara2 aku tolak…”

“Aduh, jangan2 dia keluar gara2 bau badan aku…”

“Aduh, jangan2 dia keluar gara2 jadi tersangka teroris …”

Awalnya aku pikir temen-temenku bakalan nggak bisa mengendalikan emosi dan berurai air mata, karena terpukul dengan kepergianku *berlebihan*. Eh, tapi ternyata malah kita justru becandaan bareng dan ketawa2 pas pisahan. Hingga akhirnya pas aku cabut,

“Ya udah temen-temen…selamat jalan ya…” aku buru-buru keluar dari kantor.

Teman-temanku langsung berlari-lari mengejarku, “BENTAR! BENTAR! DISPENSER AMA KOMPUTER KANTOR JANGAN DIBAWA!!!!”

Hahaha…itu cuma ilustrasi aja guys. Kalo aslinya sih nggak cuma dispenser ama komputer, tapi kulkas ampe mesin absensi biasanya juga aku embat (lumayan dikiloin).

Tapi overall baik bosku maupun HRD hingga sohib2 kerja seperjuangan sama sekali nggak menunjukkan wajah sedih atau kehilangan, bahkan malah tersenyum ramah. Aku curiga jangan-jangan selepas aku pergi, kantor malah mengadakan syukuran dengan mengundang anak-anak yatim.

1 comment:

  1. Nice.. sumpah ngakak baca spoiler imajinasi nya.. haha

    ReplyDelete