Sunday, January 29, 2017

CREEPYPASTA MADE IN INDONESIA #10: DUNG BUTA (BY DENNIS BRAMASTA)–CHAPTER I

 

Akhirnya tiba di kisah creepypasta terakhir yang dikirimkan oleh Dennis Bramasta, salah satu member grup Line MBP dari Jakarta. Karakter creepypasta yang akan diperkenalkan kali ini dinamakan Dung Buta dan ceritanya cukup panjang sehingga akan dibagi menjadi dua chapter. Tapi tetap seru kok buat diikutin.

  DUNG BUTA

Prolog

TASIKMALAYA, MENIT.COM - Warga kembali digegerkan dengan penemuan mayat kembali oleh warga di sebuah tempat sampah pada Selasa (8/11/2016) sekitar pukul 10.15 malam.

Mayat ditemukan dalam keadaan telanjang dan mengenaskan. Kondisi mayat yang ditemukan sama kondisinya seperti beberapa mayat yang sebelumnya ditemukan, yaitu dengan luka tusuk di bagian perut, usus memburai dan kedua bola mata menghilang.

Penemuan mayat berawal dari seorang warga yang akan membuang sampah di tempat sampah. Namun, ia malah menemukan mayat. Melihat dari penyebab kematian, polisi menyimpulkan bahwa ini adalah kasus pembunuhan.

Polisi sampai saat ini masih menyelidiki kasus tersebut. Polisi menduga kejadian ini masih berhubungan dengan beberapa kasus sebelumnya. Besar kemungkinan juga pelakunya adalah orang yang sama.

Mitos tentang pembunuh berantai bernama Dung Buta kembali mencuat kembali jadi buah bibir masyarakat. Polisi meminta kepada masyarakat agar berhati-hati dan melaporkan setiap ada orang yang berperilaku mencurigakan.

~

"Berita menarik, aku harus kesana." ucap Ardi.

Ia segera memakai jaket kulitnya, mengambil kunci motornya, lalu segera berangkat ke kantornya menggunakan motor bebek kesayangannya.

 

Perjalanan ke Muncang

"Di, ke ruangan saya sekarang" panggil Juan, pimpinan redaksi menit.com.

"Baik, pak." jawab Ardi yang baru saja sampai ke kantornya, bahkan ia baru saja sampai di pintu masuk kantor.

Ardi lalu langsung segera ke kantor bosnya itu. Dia tahu akan ada sesuatu yang penting, karena tidak biasanya seorang pemimpin redaksi memanggilnya langsung tanpa ada alasan jelas. Dia tahu, berita pagi tadi lah yang menyebabkannya dipanggil langsung ke ruangan si bos.

"Permisi, pak" ucap Ardi begitu masuk ke ruangan Juan.

"Duduk, di" ucap bosnya, tegas.

"Saya memanggil kamu kesini untuk tugas khusus. Saat ini rating untuk berita tentang pembunuh berantai di Tasik sedang tinggi. Kamu sebagai jurnalis senior disini saya minta untuk menggali lebih dalam lagi tentang pembunuhnya. Siapkan barangmu, besok kamu naik bis jam 9 pagi ke Tasik, saya sudah belikan tiketnya. Disana kamu temui Irjen Madun. Cari informasi sebanyak banyaknya, kalau bisa, datang langsung ke tkp atau mungkin ke tempat awalnya kasus ini. Saya kasih waktu 1 minggu. Laporkan setiap kemajuannya kke saya lewat email. Paham?"

"Paham, pak"

"Sebagai motivasi untuk kamu, kita butuh seseorang sebagai Redaktur baru. Jika ini berhasil, saya angkat kamu jadi Redaktur, gajimu akan 2x lipat. Setuju?"

"Serius pak?"

"Tentu saya serius"

"Baik, pak. Saya akan mencari infonya sebaik mungkin"

"Nah, begitu dong. Sekarang kamu boleh pergi."

~

Kamis pagi, perjalanan Ardi ke Tasikmalaya cukup lancar, bahkan lebih cepat dari perkiraan. Selain karena supir bus yang sedang mengejar setoran, jalanan pun cukup lengang.

Sesampainya di Tasik, Ardi langsung menemui Irjen Madun. Dari penuturan Irjen Madun, kasus pembunuhan ini berawal dari desa kecil di Kecamatan Sodonghilir, yaitu Desa Muncang. 9 bulan yang lalu ditemukan 3 mayat di Desa Muncang dengan kondisi usus memburai keluar dari perut akibat luka tusuk dan kedua bola mata menghilang. Satu-satunya saksi mata mengalami gangguan jiwa. Mungkin karena terlalu syok. Dari mulutnya hanya mengatakan "Itu Dung Buta" berulang-ulang. Sisa kasus lainnya tidak ada lagi saksinya. Warga Desa Muncang pun tutup mulut perihal siapa itu Dung Buta. Sehingga saat ini kasusnya sangat sulit diselidiki karena polisi tidak mengetahui identitasnya.

Ardi paham dengan situasinya. Tampak jelas wajah murung Madun karena kesulitan mengungkap kasus ini. Ardi pun berniat segera ke Desa Muncang untuk mencari info lebih lanjut. Madun pun meminta untuk Ardi untuk berhati-hati. Karena selain medan ke Muncang yang cukup sulit, Ardi harus berhati hati karena Muncang merupakan tempat awal kejadian ini. Bisa jadi dialah korban selanjutnya.

Ardi mengucapkan terima kasih kepada Madun. Dia lalu segera bersiap untuk ke Muncang. Mencari keberadan si pembunuh berantai. Demi tugas, demi keluarga.

Pencarian Dung Buta

Perjalanan ke Desa Muncang benar benar sangat melelahkan Ardi. Betul apa yang dikatakan Madun, medan ke tempat ini sangat sulit karena akses jalan ke desa yang jelek. Beberapa kali dia harus berganti angkutan. Jika saja bukan karena dijanjikan menjadi redaktur, mungkin Ardi akan lebih memilih bertahan di Tasik dan menunggu laporan kepolisian saja. Tapi bagi jurnalis senior seperti Ardi, hal itu butuh waktu lama dan tidak terjamin.

Sesampainya di Muncang, Ardi sangat bersyukur bisa sampai ke tempat ini. Desanya ternyata masih sangat asri. Hal ini yang membuat semangatnya kembali melonjak setelah tadi tertunduk lesu.

Ardi mencoba bertegur sapa dengan warga desa sambil mencoba mencari tempat untuk menginap karena sebentar lagi akan malam. Juga sambil mencari tahu soal Dung Buta. Mereka sangat ramah dengan pendatang baru, namun ketika Ardi bertanya tentang Dung Buta, sikap mereka langsung berubah. Seolah menjauhinya. Ardi cukup putus asa dengan hal itu.

Setelah mendapat penginapan, Ardi mencoba berbicara dengan pemiliknya. Mungkin akan membantu. Si pemilik pun menyikapinya dengan hal yang sama seperti warga lain. Namun berkat kepiawaian Ardi bernegosiasi dan sedikit rupiah, sang pemilik pun akhirnya angkat bicara dengan alasan untuk menyenangkan pelanggannya.

Si pemilik kemudian memberi tahu Ardi untuk pergi ke rumah yang ada di dalam hutan. Rumah itu tidak jauh masuk ke hutan. Demi sebagai redaktur, Ardi pun pergi ke hutan walau hari mulai gelap. Ternyata benar, tidak berapa jauh dari kampung, sudah nampak sebuah rumah di tengah hutan. Dari penampilan rumahnya, Ardi sudah bergidik ngeri. Tapi dia kumpulkan tekad untuk masuk ke rumah itu.

Tok tok.

"Permisi" ucap Ardi sopan.

"Masuk" jawab suara berat di dalam.

Ardi lalu masuk ke rumah tersebut. Di dalam tampak seorang pria, dengan brewok yang tidak terawat sedang duduk kursi sambil memangku buku.

"Siapa kamu? Ada apa bertamu malam-malam?"

"Saya Ardi pak, jurnalis dari majalah dan situs Menit"

"Ada perlu apa?"

"Saya ingin bertanya tentang Dung Buta"

Seketika itu, pria itu langsung menatap Ardi. Wajahnya agak terkejut. Lalu dia menutup bukunya, meletakannya di meja, lalu mengajak Ardi duduk di sofanya yang lusuh.

"Sini, duduk kamu disini. Siapa yang menyuruhmu kesini?"

"Si pemilik penginapan, katanya hanya anda yang mengetahui secara detail"

Pria itu berpikir sejenak.

"Baiklah, akan kuberitahukan kau tentang kisah si Dung Buta. Pastikan kau bisa mengetik dengan cepat, karena aku tak akan mengulanginya kembali.

Dahulu, di desa ini hidup seorang anak bernama Dudung. Dia dilahirkan dengan kekurangan yaitu syaraf matanya yang lemah. Sehingga dia harus menghabiskan hari harinya menggunakan kaca mata. Karena desa ini desa terpencil, dia harus menjadi bahan ejekan teman teman sebayanya karena kacamatanya. Terutama dari gengnya si Dadang. Namun, karena sudah sering mendapat ejekan, akhirnya Dudung pun kebal.

Menginjak usia remaja, sudah sewajarnya seorang pria akan mulai menyukai lawan jenisnya. Rani, gadis kembang desa yang saat itu menjadi incaran para pemuda desa pun meluluhkan hatinya. Bahkan, Dudung sempat menulis sebuah surat cinta untuk Rani.

Tapi dengan angkuhnya, Rani bukan hanya memakinya dengan kata-kata kasar. Rani juga menyebarkan surat cintanya seantero desa, sehingga para pemuda bahkan gengnya Dadang pun ikut turut andil dalam mencaci maki Dudung. Bahkan surat cinta Dudung itu disobek dan diinjak injak tepat di depan mukanya.

Dudung yang sudah terbakar emosi langsung memukul Dadang. Hingga terjadi perkelahian pun tak terelakan. Karena memang kalah telak dalam hal jumlah, Dudung akhirnya menjadi bulan bulanan. Hingga akhirnya dia dipukul dengan sangat keras hingga terjatuh. Wajahnya jatuh langsung ke atas batu sehingga kacamatanya pecah dan pecahannya menusuk matanya.

Melihat hal ini, geng Dadang pun berhenti lalu langsung kabur. Mereka tidak ingin dimintai pertanggung jawaban. Sedangkan Rani dan para pemuda yang lain pun langsung bubar.

Mendengar hal ini, orang tua Dudung langsung datang ke tempatnya tersebut. Mereka lalu mebawa Dudung langsung ke rumah sakit. Dudung akhirnya operasi mata yang menguras harta orang tua Dudung yang tidak seberapa. Orang tua Dudung jatuh miskin. Setelah mengalami operasi, hasilnya tetap mengecewakan. Mata kanan dudung berhasil diselamatkan, walaupun syaraf matanya tetap rusak. Sementara mata kirinya tidak dapat diselamatkan karena Dudung jatuh ke batu tepat mengenai mata kirinya sehingga matanya rusak. Dokter pun menutup mata kiri Dudung dengan perban dan kain.

Ternyata mata kanan Dudung pun tambah rusak. Matanya buram sehingga untuk berjalan biasanya dia memakai tongkat untuk membantu. Hal inilah yang membuat Dudung makin diejek dan dicela. Mereka sering menendang kaki Dudung hingga jatuh terjungkal, atau bahkan mengambil tongkat Dudung hingga ia harus meraba jalan untuk pulang. Bahkan mereka memanggilnya dengan julukan Dudung si Buta. Karena julukannya cukup panjang, orang-orang menyingkatnya menjadi Dung Buta.

TO BE CONTINUED

Bersambung ke Chapter II yaaaa …

NOTE: KISAH ASLINYA BISA DILIHAT PADA AKUN WATTPAD INI

1 comment: