Sunday, January 29, 2017

CREEPYPASTA MADE IN INDONESIA #2: THE MASKED MAN (BY ADINDA RAFIFA)

 

Cerita kedua berasal dari salah satu member grup Line MBP bernama Adinda (tapi biasa dipanggil Yupe) dari Jakarta. Kali ini ceritanya tentang sekelompok remaja yang tengah membicarakan sosok creepypasta menakutkan. Overall gue suka cerita ini soalnya ada pesan moralnya, yakni jangan menyiksa binatang. Menyiksa binatang aja nggak boleh guys, apalagi menyiksa perasaan jomblo. Silakan disimak.

THE MASKED MAN

Sekelompok remaja sedang asik bersenda gurau di dalam sebuah mobil avanza yang tengah melaju di kegelapan malam. Di sekeliling mereka hanya ada pepohonan yang rimbun. Sekelompok remaja tersebut hendak pulang ke rumah mereka masing-masing seusai menghabiskan 2 hari libur mereka di puncak. Hanya bermodalkan cahaya mobil dan beberapa lampu jalanan yang sebagian sudah rusak dan tak berfungsi, mereka berkendara menuju Jakarta.

"Hei apa kalian ingin mendengar cerita seram?" tanya seorang perempuan bernama Sartika kepada teman-temannya.

"Cerita apaaa? Mau dong!" Seru seorang temannya bernama Maryam.

"Eh masa cerita serem malem-malem gini? Di samping kanan kiri kan hutan semua.." jawab seorang perempuan berkacamata yang duduk di sebelah bangku supir.

"Yaaa takut kan lo Din?" tanya seorang laki-laki sambil tetap fokus mengendarai mobil avanza tersebut.

"Bukan gitu Ham, tapi yaudahlah terserah kalian." gerutu Dinda.

"Nah, kalian pernah denger gak tentang The Masked Man?" tanya Sartika dengan suara pelan, seolah-olah ingin membuat suasana jadi lebih menyeramkan.

"Nggak pernah." jawab Maryam dan Hamdi bersamaan, sedangkan Dinda hanya terdiam sembari menatap jalanan kosong di depannya.

"Yang gw denger dari bokap gue, masyarakat Bogor punya mitos tentang The Masked Man." tutur Sartika. "Jadi gini ceritanya.." lanjutnya.

***

Di sebuah pemakaman umum yang terletak di kawasan Bogor, terlihat seorang anak laki-laki dengan setelan jas berwarna hitam sedang menatap kosong kedua gundukan makam baru yang berada di depannya. Ia merasa sedih, namun ia tidak menangis. Kini ia yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal karena mengalami kecelakaan parah yang menyebabkan tubuh mereka berdua hancur. Bahkan untuk mengenali wajah mereka berdua saja sudah tak bisa. Para petugas Autopsi membutuhkan waktu yang lama hingga akhirnya bisa mengidentifikasikan wajah mereka berdua.

"ASTA!!" seorang perempuan gemuk dengan pakaian serba hitam berumur 40an memanggil bocah yang masih menatap kedua makam orangtuanya. Di sebelah perempuan tersebut, berdiri seorang pria tua kurus dengan setelan jas berwarna hitam sedang memegangi payung hitam untuk melindungi istrinya dari pancaran sinar matahari yang kala itu sangat terik.

"AYO CEPAT PULANG! MAU SAMPAI KAPAN KAU MEMANDANGI MAKAM KEDUA ORANGTUAMU? MEREKA TIDAK AKAN HIDUP KEMBALI ANAK BODOH!!" lanjut perempuan tersebut.

Prasta Aditya, ia menghela nafas. Ia tak memiliki pilihan. Mulai saat ini, ia akan tinggal bersama paman dan bibinya. Ia tahu bahwa paman dan bibinya sebenarnya tidak mau mengasuhnya. Namun hanya merekalah satu-satunya kerabat yang tersisa.

"Selamat tinggal.."

Asta kemudian melangkah menjauhi kedua makam orangtuanya.

***

Sejak saat itu, Asta dipaksa untuk bekerja membantu paman dan bibinya merawat kandang sapi milik salah seorang juragan di desanya. Bahkan ia terpaksa harus berhenti sekolah karena paman dan bibinya berpikir itu hanya akan membuang-buang uang saja.

Di waktu senggang Asta lebih banyak menghabiskan waktu bersama seekor anak kucing liar yang ia beri nama Pici. Ia tidak memiliki seorang teman pun di rumah barunya. Banyak anak-anak seumuran Asta yang takut kepada paman dan bibi nya yang terkenal kejam dan gampang marah.

Setiap kali Asta berbuat kesalahan kecil sekalipun, bibinya akan memarahi sambil mencambukinya dengan sapu lidi.

***

Sudah delapan tahun berlalu, kini Asta sudah berumur 17 tahun. Luka cambukan sapu lidi yang selama ini sudah ia terima dari paman dan bibinya membekas di punggungnya. Walaupun luka-luka tersebut sudah mengering, namun rasa sakit bekas luka cambukan tersebut masih ia rasakan. Selama ini, kucing-kucing liar di sekeliling rumahnya lah yang telah setia menemani dirinya dan mengisi hari-harinya yang sepi. Setiap hari ia diam-diam menyisihkan makanannya untuk diberikan kepada kucing-kucing liar tersebut. Bahkan mengajak mereka berkomunikasi. Ia sudah menganggap kucing-kucing tersebut sebagai temannya. Menurutnya, ketulusan dan kesetiaan hewan tidaklah palsu seperti kebanyakan manusia di dunia ini.

***

Suatu hari, pamannya yang baru pulang dari Kota tak sengaja menabrak kucing saat hendak memarkirkan sepeda motor tuanya.

Melihat hal tersebut, emosi Asta meluap. Ia sangat marah. Kucing kesayangan yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya selama ini, Pici, dibiarkan tergeletak sekarat oleh pamannya yang tak sengaja menabrak kucing malang tersebut. Baginya, walaupun hewan tak memiliki akal, namun mereka tetap memiliki perasaan. Mereka bisa merasakan sakit, cinta, sedih, marah, bahkan takut. Namun sayang, saat Asta hendak menolong Pici, kucing tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itu, ia baru saja kehilangan sahabat yang ia sayangi.

Asta yang sudah tak bisa membendung emosinya, segera masuk ke dalam rumah dengan membawa sebilah pisau. Matanya merah dan berkaca-kaca. Kemarahan, kesedihan, semuanya bercampur aduk. Ia telah kehilangan akal sehatnya. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang ia pikirkan hanyalah, nyawa di balas dengan nyawa dan ia hendak membunuh pamannya yang kala itu sedang beristirahat di sofa.

Melihat Asta yang datang dengan membawa sebilah pisau, pamannya terkejut dan segera bangkit dari sofa.

"A-ADA APA INI?! APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN?!" teriak pamannya sembari berjalan mundur perlahan.

"APA KAU TIDAK SADAR? KAU TELAH MENABRAK SEEKOR KUCING DAN MEMBIARKANNYA SEKARAT BEGITU SAJA! DAN SEKARANG..KUCING MALANG ITU MATI! INI SEMUA SALAHMU!" teriak Asta, wajahnya memerah, air matanya mengalir di kedua pipinya.

Kemudian, dengan cepat Asta melayangkan pisau tersebut ke arah dada pamannya. Namun serangan tersebut masih bisa di tahan oleh pamannya.

"ANAK BODOH! JADI INI SEMUA HANYA KARENA KUCING JELEK ITU? APA KAMU SEBEGITU CINTANYA SAMA KUCING-KUCING LIAR MENJIJIKAN ITU?" jawab pamannya, yang kemudian berhasil merebut pisau dari tangan Asta dan meninggalkan sebuah luka sayatan di pipi kanan keponakannya tersebut.

"CIH, KAU BAHKAN LEBIH RENDAH DIBANDINGKAN DENGAN SEEKOR HEWAN."

"A-APA KATA--"

Asta dengan cepat menarik tangan pamannya kemudian memelintirnya hingga patah.

Sang paman berteriak kesakitan. Kemudian, Asta mengambil pisau tersebut dari tangan pamannya.

"Titipkan salamku kepada ayah dan ibu ya, paman." Asta menyeringai lebar, ia kemudian menusuk tubuh pamannya di berkali-kali dengan sebilah pisau yang ada di tangannya. Hingga kemudian pamannya tak lagi bernyawa.

"TIDAAAAK! APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA SUAMIKU?! ANAK SIALAN!!" sang bibi, sangat terkejut ketika melihat suaminya terbujur kaku tak bernyawa dengan darah menggenang di sekelilingnya.

Asta kemudian menoleh ke arah bibinya.

"Coba kau tanyakan sendiri saja pada suamimu." jawab Asta.

Bibinya, terkejut ketika melihat wajah Asta yang dipenuhi dengan percikan darah suaminya.

"Lagipula, kau sebentar lagi akan menemuinya." Asta menyeringai lebar. Kemudian membunuh bibinya dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan terhadap pamannya. Saat itu, dendam yang selama ini ia pendam telah terlampiaskan. Ia merasa sangat senang saat membunuh kedua paman dan bibinya.

***

Sejak saat itu, Asta menghilang dan tak pernah ditemukan. Ia melarikan diri ke hutan dan tinggal bersama kucing-kucing liarnya. Lama kelamaan, sifat kemanusiaannya hilang. Ia bertransformasi menjadi seperti kucing. Ia jadi sering berburu mangsa di tengah hutan hanya untuk makan. Semakin lama, gigi taringnya pun tumbuh menjadi lebih panjang layaknya hewan karnivora. Kuku-kukunya pun tumbuh memanjang, memudahkan ia untuk mencabik-cabik mangsa buruannya. Perubahan tersebut menandakan bahwa ia sudah sepenuhnya berubah menjadi karnivora.

Konon, Asta masih sering berkeliaran di desa-desa maupun di kota dengan menggunakan masker untuk menutupi kedua taringnya. Ia memperhatikan siapapun yang menyakiti seekor kucing. Jika kalian menendang, menyiram, menabrak atau bahkan menyiksa kucing, ia pasti melihatnya. Dan kalian pasti akan menjadi targetnya. Ketika malam datang, ia akan segera menghampirimu. Namun, kalian tidak akan langsung dibunuh, terlebih dahulu kalian akan menjadi mainannya. Layaknya seekor kucing yang baru menangkap seekor tikus. Ia akan melempar-lempar kalian, mencabik-cabik tubuh kalian dengan kukunya yang tajam dan menyeret-nyeret kalian sebelum akhirnya ia membunuh kalian. Dan meninggalkan kalian begitu saja dengan sebuah pesan berdarah bertuliskan "KAU BAHKAN LEBIH RENDAH DIBANDINGKAN DENGAN HEWAN"

Jika manusia menyiksa hewan hanya untuk bersenang-senang, berbeda dengan Asta, ia menyiksa manusia hanya untuk bersenang-senang.

Ada juga yang bilang, ia tak hanya menyerang para penyiksa kucing. Namun juga menyerang orang yang berbuat jahat kepada hewan manapun. Jika kalian bertemu dengan seorang laki-laki dengan menggunakan masker di malam hari, segeralah bersembunyi di tempat yang aman. Itu adalah Asta. Mereka menyebutnya The Masked Man. Berdoa tidak akan membantu kalian. Karena ia bukan hantu.

Jika kalian beruntung, dia tidak akan menemukan kalian dan kalian aman. Jika tidak, kalian mati.

***

"Duh kok gue jadi merinding." Maryam memegangi tengkuk lehernya.

"Gue juga anjir." tutur Hamdi.

Dinda menelan ludah. Ia ketakutan setengah mati setelah mendengar cerita tersebut. Mana di kanan kiri mereka hutan semua.

"Pfft...Ahahahaha! Kalian kok percaya aja sih?" Sartika tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi semua teman-temannya.

"Eh jadi itu semua boongan?" Maryam memukul pelan bahu Sartika.

"Ya engga sih, itu emang bokap gue yang cerita. Tapi masa iya sih manusia bisa tumbuh taring? Kalian tuh percaya aja sama gitu-gituan. Lagian kan itu cuma mitos." ujar Sartika.

"Anjir tapi nyeremin tau! Iya juga sih mana ada yang kayak gitu di dunia ini. Nggak masuk akal kan? Kok gue bego." Maryam menampar jidatnya sendiri.

"Duh, gue sempet takut njir, gue sering nendang kucing liar soalnya di ruma--AANJ!"

CIIIT...

Hamdi segera memberhentikan mobilnya ketika seekor musang tiba-tiba saja melintas di tengah jalan. Namun terlambat. Musang tersebut telah tertabrak, dan sekarat.

"Kenapa sih Ham kok berhenti mendadak gitu? Untung kita masih hidup." gerutu Sartika.

"Ada apa sih?" tanya Maryam.

"Kayaknya gue nabrak sesuatu deh.." jawab Hamdi yang kemudian keluar dari dalam mobil.

"Lo nabrak apaan? Duh ini mobil bokap gue nanti kalo rusak gue dimarahin." Sartika pun segera keluar dari dalam mobil, menyusul Hamdi.

“Eh gue ikut dong!" seru Maryam yang kemudian menyusul kedua temannya.

"E-eh jangan tinggalin gue sendiri disini dong...Gue takut." ujar Dinda yang masih ketakutan setelah mendengar cerita tentang The Masked Man.

"Yaampun Din itukan cuma mitos, udahlah..Lo tunggu disini aja, gapapa kok." ujar Maryam yang kemudian menutup pintu mobilnya.

Sartika, Maryam, dan Hamdi berdiri menghadap bagian depan mobil dan memandangi sesuatu yang tertabrak oleh mobil beberapa saat yang lalu. Sartika dan Maryam tampak terkejut ketika melihatnya. Dinda yang sedari tadi hanya duduk di jok depan di dalam mobil, hanya bisa memandang mereka tanpa mendengar apa yang mereka bertiga bicarakan.

Samar-samar, di ujung kegelapan jalanan di depannya, Dinda melihat seberkas bayangan seseorang berjalan mendekat. Semakin lama, ia dapat mengenali bahwa dia adalah seorang laki-laki. Namun ada sesuatu hal yang membuat Dinda takut setengah mati. Laki-laki itu menggunakan masker! Dinda hendak memberi tahu ketiga temannya, ia segera menggedor-gedor kaca depan mobilnya. Lalu memberikan kode agar ketiga temannya melihat ke belakang mereka. Namun itu semua terlambat. Dinda segera bersembunyi di kolong bangku mobil. Ia dapat mendengar teriakan-teriakan temannya. Ia merasa takut. Tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa bersembunyi. Karena berdoa tidak akan bisa menyelamatkannya. Ia menutup kedua telinganya. Menangis.

Beberapa lama kemudian, sudah tak terdengar lagi suara teriakan. Yang tersisa hanyalah keheningan.

Tok..tok..tok..

Terdengar suara ketukan dari jendela di samping kursi supir. Dinda segera menoleh ke arah datangnya suara ketukan tersebut. Berharap itu adalah salah satu temannya yang selamat. Namun yang ia dapati bukanlah temannya. Melainkan seringai lebar penuh darah The Masked Man yang menatap langsung ke arah dirinya.

Dengan kuat Asta memecahkan jendela mobil dengan tangannya.

"KALIAN BAHKAN LEBIH RENDAH DIBANDINGKAN DENGAN HEWAN." suara parau Asta menggema di dalam mobil. Kemudian dengan kuat Asta menarik Dinda keluar dari dalam mobil.

***

Saat ini yang tersisa hanyalah kesunyian. Keempat remaja tersebut tergeletak di depan mobil Avanza yang lampu depannya masih menyala.

Hal terakhir yang Dinda lihat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya adalah....Asta membawa musang sekarat yang beberapa saat lalu mereka tabrak bersamanya. Kemudian menghilang di dalam kegelapan malam.

THE END

Bagus ya cerita dari Adinda ini. Pertama gue suka banget ama modus anomali si karakter Creepypasta ini, yakni menghabisi orang-orang yang membunuh binatang. Walaupun agak-agak gimana gitu, bunuh binatang nggak boleh tapi bunuh manusia malah boleh hahaha. Gue curiga The Masked Man ini pasti vegetarian. Unik ya ada psikopat tapi vegan.

Kedua, gue juga suka settingnya dimana tidak hanya diceritakan masa lalu si pembunuh kenapa jadi karakter creepypasta, namun juga cerita ini “dibingkai dimana pencerita juga menjadi korban. Cuma sayang, kematian para pencerita ini terlalu terburu-buru buat gue. Tiba-tiba aja pada langsung mati semua. Akan lebih baik jika kematian para tokohnya diceritakan secara detail satu-persatu, semisal Handi digorok terus dibiarkan mati kehabisan darah sambil menggelinjang sekarat, lalu Sartika dicekik kemudian digantung di atas pohon lalu mayatnya dimakan burung bangkai (kasih juga detail saat hewan-hewan itu merobek dan menyantap satu-persatu bagian tubuhnya). Terus Maryam disobek perutnya dan ginjalnya dikeluarkan lalu dipotong bentuk dadu lalu dimasak crispy kemudian bola matanya dicongkel dan dipanggang dalam bentuk sate. Yang terakhir Dinda dipotong kakinya pake gergaji mesin terus diumpankan ke serigala-serigala yang tinggal dalam hutan setelah sebelumnya badannya dilumuri saos tomat biar rasanya lebih gurih dan sebelumnya mulutnya dijahit supaya tidak berteriak dan menarik perhatian (sorry, naluri penulis psikopat soalnya)

Terus kenapa juga pakek musang? Apalagi jika settingnya di Jakarta. Emang musang masih belum punah ya? Atau mungkin itu musang peliharaan yang memang lagi “in” sekarang? Kalo benar, mungkin bisa ditambahin adegan dimana si pemilik musang mencari peliharaannya lalu tertangkap terus lidahnya dipotong dan tubuhnya dimutilasi ...

Ekspresi readers: “Udah ... Udah Bang! Cukup ... cukup ...”

Oya sama satu lagi saran sih. Kan ada kalimat begini nih di ceritanya "Yang gw denger dari bokap gue, masyarakat Bogor punya mitos tentang The Masked Man." Nah, kenapa nggak nama “The Masked Man” diterjemahin ke Bahasa Sunda, secara settingnya di Bogor nih (gue juga nggak tau bahasa Sundanya “The Masked Man” paan). Sekedar saran seh.

1 comment:

  1. Kok jadi sereman ceritanya bang dep yak:v anyway ceritanya keren thanks adinda

    ReplyDelete