Sunday, January 29, 2017

CREEPYPASTA MADE IN INDONESIA #6: MALA THE KILLER (BY FRILLIA ZASKIA)

 

Cukup banyak ya entri cerita2 creepypasta Nusantara dari pembaca MBP. Cerita kali ini dikirim jauh-jauh dari Palu lho dari readers MBP bernama Frillia Zaskia, tentang sekelompok anak yang mengerjakan tugas di sekolah hingga larut malam, hanya untuk mengalami teror mengerikan. Silakan disimak.

MALA THE KILLER

“Hah? Gue pacaran sama orang kayak lo? Cuih, ngaca sana lo!”

“Ya ampun, ihh, sana! Sana! Eneg aku lihat mukamu!”

“Oh? Lo suka sama gue, terus lo mau gue pacaran sama lo gitu? Hahahah, sialan! Sana pergi lo!”

“Cih, orang kayak kamu nggak pantas buat sebanding dengan dia. Sana pergi!”

***

“Gile, tugas yang dikasih sama Bu Yasmine banyak banget! Harus ngerangkum satu buku ini? Gile, udah pegal tangan, habis tinta pulpen, buku gue juga jadi tambah tipis.” Randi terus mengoceh sambil menatap buku catatannya yang hanya tersisa dua lembar. Sementara ketiga temannya yang lain sibuk mencatat.

“Kayaknya udah nggak bakal cukup deh, sayang,” kata Dian melirik pacarnya yang sedari tadi terus membolak-balik halaman bukunya dengan ekspresi merana.

“Udah ah, Randi! Cepetan aja tulis, kalau nggak muat yah cari kertas aja. Paling Bu Yasmine masih toleransilah,” kata Nana ketus. “Udah mulai malam nih, emang lu mau nginap di sekolah gitu. Dan lagi emang lu mau biarin Dian pulang sendirian?”

“Nggak sih.”

“Makanya cepetan catat!” ketus Nana.

“Pacar lu sangar banget bro,” bisik Randi ke telinga Yudi. Yudi melirik sinis, sorot matanya seperti mengatakan berani-lu-bilang-sekali-lagi-bakal-gue-bunuh-lu. Randi hanya cengengesan lalu berpaling ke buku tulisnya dan kembali merangkum buku diktat IPS-nya.

Nyaris jam 6 sore, keadaan mulai gelap. Anak-anak yang ikut ekskul pun banyak yang sudah pulang. Keadaan jadi sepi dan menyeramkan dan hanya ada mereka berempat di gedung sekolah lantai dua.

Dian menggoyang-goyangkan pergelangan tangannya yang pegal setengah mati. Dia melirik sekilas ke arah jendela kelasnya. “Kalau kayak gini, bisa-bisa kita nginap di sekolah. Kenapa sih kita nggak lanjutin di rumah aja? Capek tahu kalau catat kebut-kebutan kayak gini. Kan lebih enak di rumah. Mana aku udah keringatan banget lagi. Mukaku juga berminyak banget. Guys, ayolah kita balik aja dulu!” ajak Dian.

“Kalau kamu mau cabut duluan, silahkan. Kalian berdua juga kalau mau cabut, duluan aja. Aku mau menyelesaikan ini sekarang juga, soalnya kalau di rumah aku punya banyak urusan, bersih-bersih, jaga adikku, dan sejenisnya. Jadi aku nggak punya waktu buat ngerjain tugas.”

Dian mendesah pelan. “Ya udah deh, nggak jadi. Aku jadi bad mood mau pulang duluan.” Nana lalu kembali menekuni merangkum buku diktatnya.

Randi mendadak menggeram kesal. “Buku gua habis.” Dia berdiri dari kursinya dan mengecek satu-persatu laci meja. Dia menemukan beberapa lembar kertas, tapi semuanya sudah tercoret dengan cakaran perhitungan matematika dan berbagai gambar dan sejenisnya. Dia menggaruk-garuk kepala. “Gue keluar sebentar ya, mau beli buku!” katanya.

“Hati-hati, sayang,” kata Dian tanpa menengok.

“Gue perlu istirahatin tangan gue sebentar,” kata Yudi. Dia berhenti mencatat, dia menggoyang-goyangkan pergelangan tangannya sambil mengecek catatan kedua cewek di depannya. “Wow, catatanmu udah sejauh ini. Emang hebat banget pacar gue,” pujinya pada Nana.

Nana hanya tersenyum tipis.

Sementara itu, Randi berjalan menuruni tangga. Mendadak ponselnya berdering, ada telpon masuk. Dia melihat sekilas layar ponselnya, nomor tidak dikenal. Tapi dia tetap menerima telpon itu.

“Halo?”

Apa kamu masih ingat padaku?” suara orang itu terdengar sedih. “Rupanya kamu sudah lupa denganku, ya?

Lalu telpon terputus begitu saja. Randi memandangi ponselnya, orang aneh, pikirnya.

Randi berjalan di koridor lantai satu. Dari ujung koridor lantai satu, Randi yakin betul ada orang di sana, bersamaan dengan kemunculan orang itu terdengar suara seperti mengiris lantai. Randi mencipitkan mata melihat orang itu. Orang itu menunduk dalam, dia memakai jaket tebal dan celana training gelap, dan dia menyeret pedang di belakangnya.

Orang itu mendadak berlari dengan cepatnya ke arah Randi. Respon Randi yang amat lambat membuatnya sukar bergerak, meski dia sadar bahwa orang itu pasti berlari ke arahnya. Jadi sedetik kemudian, pedang itu menusuk perutnya hingga tembus dari punggungnya.

Pedang itu berubah jadi merah. Lantai itu juga berubah jadi merah. Begitu pula dengan tubuh Randi berubah jadi merah.

Orang itu mencabut pedang itu dengan menggoyang-goyangkannya hingga luka Randi semakin melebar. Kala pedang itu sudah tercabut seutuhnya, usus Randi berjuntai-juntai keluar dari rongga perutnya. Randi terjatuh ke lantai dengan posisi terlentang, lalu orang tak dikenal itu menusuk Randi tepat di dada kiri–jantungnya Randi.

Mata Randi masih terbuka, selama beberapa detik dia masih bernapas hingga akhirnya dia benar-benar mati.

Masih ada tiga orang lagi.

“Ihh, Randi mana sih? Udah lima belas menit dia nggak juga kembali,” keluh Dian di sela menulis rangkuman tersebut.

“Mungkin aja kiosnya jauh. Lagian si Randi itu hobi buang-buang waktu, jadi sabar aja nunggu dia,” jawab Yudi yang merupakan teman Randi semenjak kecil.

“Dia nggak efisien waktu banget,” kata Dian cemberut.

“Udahlah, lanjut aja nulis, nggak usah resek. Lagian paling Randi bakal balik juga,” ketus Nana yang tidak lain juga merupakan teman Dian sejak SD. Sejak kecil dia memang agak ketus–apalagi di saat ada tugas yang perlu buru-buru diselesaikan seperti sekarang.

Mendadak saja ponsel Dian bergetar. Konsentrasi Nana dan Yudi buyar dan langsung terfokus ke Dia. “Sori, hpku bunyi.” Dian lalu membuka pesan yang masuk ke ponselnya.

Apa kamu masih ingat padaku? Rupanya kamu sudah lupa denganku, ya?

Oh ya, Randimu sekarang terbaring di koridor lantai satu. Kelihatannya dia tidak bernapas lagi. Mungkin dia sudah mati.

Mata Dian membelalak kaget. “Apa-apaan ini coba? Guys, coba lihat deh!” dia memperlihatkan layar ponselnya ke Nana dan Yudi. “Nggak masuk akal banget, kan?” katanya setelah melihat perubahan ekspresi dari Nana dan Yudi.

“Firasatku nggak enak,” kata Nana pelan. “Aku mungkin terlalu tersugesti, tapi sms itu berlebihan.”

“Kita harus cek,” kata Yudi. “Sms itu nggak beres banget! Oh ya, pengirimnya siapa?” tanyanya kemudian.

Dian melihat layar ponselnya sebentar. “Nomor nggak dikenal.” Dian mengigit bibir bawahnya. “Ini bukan iseng-isengan, kan?”

“Kita harus cek,” tukas Yudi tegas.

Ketiga keluar dari kelas itu, mereka menuruni anak tangga. Sesampainya di lantai satu, mereka bertiga berjalan pelan-pelan dengan Yudi memimpin di depan dengan bersenjata tangkai sapu lidi yang copot yang tergeletak di kelasnya tadi.

Kaki Nana bergetar kencang kala melihat pemandangan yang mengerikan itu. Dia melihat dengan jelas mayat Randi tergeletak di lantai koridor. Sekeliling lantai berwarna merah darah. Dian berlari mendekat. Dian menutup mulutnya mencegah agar ia tak muntah. Sementara Yudi, mendadak saja badannya menjadi lemas tapi dengan langkah lambat dia menghampiri mayat itu.

Dengan ekspresi ketakutan dan kesakitan di wajahnya, ketiganya bisa mengenali sosok Randi dan bahkan membayangkan yang tidak-tidak tentang apa yang terjadi pada Randi. Belum lagi ditambah dengan usus dan rongga dalam yang terjuntai keluar yang spontan membuat Dian memuntahkan sedikit makan siangnya tadi.

“Apa-apaan ini? Randi? Dia mati? Tapi, bagaimana mungkin? Lima menit yang lalu aku lihat dia baik-baik aja. Tapi, sekarang dia terbaring di sini, mati–dia dibunuh, oleh siapa?” kata Dian tak percaya.

Mendadak ponsel ketiganya berdering.

Berikutnya kalian! Persiapkan diri kalian untuk menemui ajal kalian masing-masing!

Begitu isi pesan di ponsel ketiganya, dan ketiga pesan itu dikirim nomor yang berbeda.

“AKU MAU PULANG!!! AKU MAU PULANG SEKARANG JUGA!!!” mendadak Nana yang kalem menjadi histeris. “YUDI, KUMOHON, ANTAR AKU PULANG SEKARANG JUGA! PLEASE!”

Tanpa memerdulikan tas dan buku-buku mereka yang masih tertinggal di kelas, mereka langsung ke tempat parkir. Untungnya tadi Randi sempat menitipkan kunci motornya ke Dian, jadi Dian bisa membawa motor Randi pergi bersamanya. Sementara Yudi memboncang Nana yang kelihatan syok.

Namun kala mereka menaiki motor mereka, mereka sadar bahwa ban motor depan-belakang mereka kempis–tepatnya sengaja dikempiskan. Mereka kini hanya punya satu opsi di saat sekolah sudah sepi dan tidak ada seorang pun di sana serta malam mulai menjelang, yaitu mereka harus naik angkot.

Mereka bertiga berlari ke gerbang sekolah, tapi kemudian mereka harus terima kenyataan bahwa gerbang sekolah sudah terkunci. Dan mereka tidak bisa memanjat pagar dengan tinggi 10 meter itu.

“Apa ini berarti kita akan berakhir seperti Randi?” gumam Nana dalam.

“Kita harus telpon polisi,” kata Yudi. Dia dan Nana langsung menelpon kantor polisi, namun jaringan di ponsel mereka sungguh tak mendukung. Dian mencoba menelpon kantor polisi, namun ponselnya mendadak mati karena lowbat.

“Gimana sekarang?” tanya Nana gelisah.

“Untuk sekarang, kita kembali dulu ke kelas, beresin buku terus cari tempat sembunyi paling aman. Kita mungkin bakal terus di sini sampai besok–”

“Tepatnya mayat kita akan di sini terus sampai ditemukan,” tukas Nana pesimis.

“Jangan negatif thinking dong sayang. Kita nggak bakal kenapa-kenapa, ingat ada aku di sini. Aku pasti bakal ngejaga kamu terus, karena itu kita harus terus bersama. Kalau begitu, ayo kita pergi, sayang, Dian!”

Ketiga menaiki tangga ke lantai dua dengan waspada. Mereka bahkan tidak tahu siapa atau apa yang sedang mengintai mereka dari tempat yang aman. Kala mereka masuk ke dalam kelas mereka dan langsung meraih buku-buku kemudian memasukkan ke dalam tas, lalu mereka menggendong tas mereka dan keluar dari kelas itu.

“Kita mau ke mana lagi?” rintih Dian kala mereka menuruni tangga lantai dua lagi.

“Tempat yang aman di sekolah ini di mana?” tanya Yudi pada diri sendiri. “Gudang alat olahraga. Tersembunyi, agak pengap, nggak terkunci–gemboknya dirusak sama anak kelas XII, jadi nggak ada kemungkinan kita bakal terkunci di sana, tapi orang gila ini bisa aja masuk ke sana dan ngebantai kita.”

“Nggak ada pilihan lain,” bantah Nana. “Kita harus ke sana! Harus!”

Gudang alat olahraga berada sangat di sudut sekolah, tempat itu biasanya dijadikan siswa-siswa untuk tempat mereka mengungsi kala bolos karena saking jauhnya. Karena saking jauhnya pula, mereka bertiga berlari dengan ngos-ngosan ke sana.

“Omong-omong, orang gila itu pasti nggak ada di sana, kan?” kata Dian.

“Jangan berpikiran macam-macam,” jawab Yudi.

Pintu gudang alat olahraga terbuka lebar seperti biasa. Mereka bertiga langsung berlari masuk. Yudi langsung menarik pintu itu menutup, dan menyelipkan tongkat di gagang pintu.

“Dengan begini, kita akan aman!” kata Yudi.

Ketiganya lalu duduk bersandar pada kardus berisi bola.

“Kenapa ini menimpa kita?” gumam Nana. “Kenapa Randi mati dan kenapa juga kita akan dibunuh?”

Kedua lawan bicaranya hanya diam. Namun mendadak saja Yudi menggeram.

“Sial. Perut gua komplikasi lagi,” kata Yudi meringis. Dia berdiri. “Kalian berdua tetap di sini. Gua perlu ke toilet sekarang.” Dia meraih pemukul bisbol dan menarik tongkat yang diselipkannya di gagang pintu. Namun Nana langsung ikut berdiri dan menahan Yudi.

“Tunggu, kalau kamu pergi, gimana dengan aku dan Dian?” tanya Nana.

Yudi berbalik badan dan menatap Nana. “Karena itu, kamu taruh aja tongkat di gagang pintu selagi aku ke toilet. Aku nggak bakal lama kok. Kalian berdua pasti nggak bakal kenapa-kenapa selama kalian terus di sini. Ok?” kata Yudi. “Masalahnya komplikasi perutku nggak bisa ditoleransi lagi.”

Yudi membalikkan badannya dan menarik tongkat itu, lalu membuka pintu itu. “Tutup kembali, ok?” dia keluar dan berlari pergi. Nana langsung mengambil tongkat itu dan kembali menyelipkan tongkat itu ke gagang pintu.

“Yudi pasti bakal baik-baik saja! Kita juga pasti bakal baik-baik saja!” gumam Nana. Dia lalu kembali duduk di samping Dian.

Sementara itu Yudi berjalan dengan perlahan di koridor sekolahnya. Dia menajamkan pendengarannya, barangkali ada seseorang di belakangnya, tapi dia tidak mendengar siapa pun atau apa pun dalam keadaan sunyi senyap.

Telinganya mendadak menangkap sebuah suara tajam. Seperti suara benda tajam yang bergesekan dengan lantai. Yudi mencari-cari suara itu. Dari ujung koridor, tepat di depannya, seseorang menyeret sebuah pedang berdarah. Yudi yakin bahwa orang itulah yang telah membunuh Randi.

Yudi langsung berlari ke arah orang itu dengan pemukul bisbol yang siap untuk memukul si sialan itu. Namun orang itu juga ikut berlari. Dia mengayunkan pedangnya, Yudi langsung mengayunkan tongkatnya untuk menangkis, namun tongkatnya langsung patah begitu saja.

Mampus! Begonya gue!

Seketika itu juga, lehernya Yudi sobek. Yudi berlutut sambil memegangi lehernya yang berdarah.

“Kamu pasti tidak mengingatku, kan?” gumam orang itu. Lalu memenggal kepala Yudi hingga putus. Kepalanya Yudi tergeletak di lantai begitu saja.

“Sasaran berikutnya mereka.”

Nana berjalan bolak-balik di depan Dian. “Yudi belum kembali juga,” katanya gusar. “Hampir setengah jam. Mana udah gelap banget lagi. Aku nggak berani buat nyenter. Yudi, kamu di mana?”

Mendadak saja pintu itu seperti ditebas. Nana dan Dian langsung pucat seketika. Mereka langsung berlari semakin masuk ke dalam gudang alat olahraga dan bersembunyi di antara kardus-kardus besar itu. Pintu itu rusak total, orang yang tadi masuk sambil menyeret pedangnya.

“Kalian pasti tidak mengingatku, kan? Tapi aku ingat dengan kalian. Karena itu, keluarlah! Aku tahu kalian di sini! Tadi aku melihat kalian lho.” Suaranya begitu pelan dan menyeramkan.

Nana dan Dian membekap mulut mereka masing-masing, air mata mereka mulai menetes jatuh. Tubuh mereka bergetar ketakutan, walau pun ada pemukul bisbol di tangan mereka masing-masing.

Dalam hati Nana telah pasrah dengan takdirnya, begitu pula dengan Dian. Randi sudah mati. Yudi juga sepertinya sudah mati. Kedua cowok itu saja mati, apalagi mereka berdua. Sudah pasti tidak ada harapan untuk hidup.

Mendadak seekor tikus merayap di kaki Dian. Dian merasa geli dan ingin berteriak, jika saja bukan karena keadaan yang sangat tak mendukung seperti ini. Sialnya, mendadak seekor kecoak jatuh tepat di atas roknya. Dia langsung berteriak histeris.

Nana melotot sangar, dan langsung menarik Dian berdiri, dia berniat untuk melarikan diri bersama Dian selagi sempat. Namun orang itu mendadak saja sudah muncul di depan mereka, bahkan sebelum keduanya bangkit berdiri.

Orang itu mengayunkan pedangnya. Dan menebas dada Dian seketika. Baik Dian maupun Nana syok setengah mati. Nana berteriak kencang-kencang, sementara Dian memegangi luka di dadanya, darah lalu mengalir keluar dari mulutnya.

“Lari! Cepat lari!” bisik Dian.

Nana merayap pergi dengan cepat. Orang itu melirik sekilas lalu tersenyum sinis. “Percuma. Tidak ada jalan keluar dari sini!” lalu dia menebas kepala Dian.

Nana pergi ke sisi lain ruangan itu. Tapi dia tidak menemukan pintu keluar lain. Barulah dia ingat sesuatu, hanya ada satu pintu di gudang alat olahraga yang besarnya nyaris menyamai aula sekolah ini. Nana langsung bersembunyi di belakang kardus besar. Dia berjongkok dan menangis pelan sambil membekap mulutnya, dia mendengar suara tajam pedang yang bergesekan dengan lantai.

Dian pasti udah mati.

Air mata Nana mengalir dengan deras. Tangannya terjuntai lemas begitu saja, dia biarkan pemukul bisbol itu memukul lantai dengan suara yang fantastis, lalu dia berteriak menangis sekencang-kencangnya. Dan dalam waktu singkat, orang itu muncul tepat di depannya.

“Kamu pasti tidak mengingatku, kan? Tapi aku masih mengingatmu,” dia menurunkan maskernya. Dia menyeringai lebar.

Mata Nana melotot lebar. Dia... Mala.

Lalu orang itu mengayunkan pedangnya berulang kali dan membuat tebasan di seluruh tubuh Nana hingga Nana mati.

***

Mala sudah memerhatikan Randi dan kawan-kawannya sejak lama. Dia sangat suka pada Randi dan Yudi, sekaligus juga dia kagum pada kedua cewek yang bersama kedua cowok itu, Nana dan Dian. Yang satu kalem dan berwibawa dan yang satunya cantik dan fashionable.

“Aku suka sama Kak Randi,” kata Mala dengan pelan. “Aku... bolehkah kita pacaran?”

“Hah? Gue pacaran sama orang kayak lo? Cuih, ngaca sana lo!” balas Randi dengan ekspresi jijik. “Lagian, gue juga udah punya pacar yang cantik banget.” Lalu Randi pergi begitu saja.

Mala dengan tampang semringah menghampiri Dian.

“Kak Dian, boleh minta tanda tangannya?” tanyanya sambil menawarkan buku.

Dian menandatangani buku itu.

“Makasih, kak. Oh ya, kak, boleh minta pin BB, nomor hpnya kakak, ID Line, WA, dan IG. Dan pin BB-nya kak Randi juga boleh?”

Mendadak raut wajah Dian berubah. “Tunggu, apaan maksud lo minta pin BB-nya Randi, hah? Lu suka sama dia? Sori aja, tapi orang kayak lu nggak pantas banget sama Randi. Dan asal lo tahu gue pacarnya Randi.” Dian meraih buku yang ada di pelukan Mala dan merobek buku itu.

Mala mengeluarkan wajah memelas.

“Ya ampun, ihh, sana! Sana! Eneg aku lihat mukamu!” bentak Dian.

Randi jelas-jelas sudah punya pacar dan tidak bisa didekati, jadi Mala akan mulai menyukai Yudi. Jadi esoknya lagi dia ber-make-up tipis dan menghampiri Yudi.

“Kak Yudi, aku udah lama suka sama kakak? Kita pacaran, yuk!”

“Oh? Lo suka sama gue, terus lo mau gue pacaran sama lo gitu? Hahahah, sialan! Sana pergi lo!” bentak Yudi ketus. Lalu balik badan dan pergi begitu saja.

Mala menangis sendirian di taman sekolah, hingga Nana melihatnya. Nana menghampiri Mala.

“Hei, kamu kenapa?” tanya Nana berusaha simpatik.

“Kak Nana?” kata Mala nyaris tak percaya. “Aku... aku ditolak sama cowok yang kusuka.”

“Siapa?”

“Kak Yudi, temannya Kak Nana.”

Raut Nana mendadak berubah. “Oh, jadi lo cewek yang dibilang sama Randi dan Dian. Lu nggak sadar diri banget ya! Setelah nembak Randi dan minta pin BB-nya Randi dari Dian sekarang lu nembak Yudi. Sekarang lu mau apa, minta nomor hpnya Yudi gitu?”

Mala terdiam.

“Cih, orang kayak kamu nggak pantas buat sebanding dengan dia.” Nana menuangkan sebotol air mineral ke kepala Mala. “Sana pergi!” bentak Nana.

Sejak saat itu, Mala tidak pernah terlihat lagi oleh siapa pun di sekolah itu. Tapi Mala terus memerhatikan keempat targetnya–Randi, Dian, Yudi dan Nina.

THE END

Sekilas gue sih pikir judulnya kurang original. Gue pikir ini temennya Jeff ama Jane tapi ternyata bukan. Mungkin bisa ganti nama biar lebih “Indonesia” seperti Mala Si Pembantai, Mala Cecan Sadis, atau apalah. Tapi gue suka banget ama settingnya terjebak di sekolah malam-malam dengan pembunuh berantai berkeliaran. Gue lebih suka cerita dengan setting begini (cepat dan padat). Kereeeeeen deh pokoknya  :D

2 comments:

  1. Gila tembok sekolay udah kayak tembok penahan titan tinggi banget 10 m

    ReplyDelete
  2. bagus sih, tapi kalo ada sebuah plot diamana semua karakter mati mungkin keren XD, meskipun pemeran utamanya yg dikira mati tapi malah masih hidup

    ReplyDelete