Saturday, April 21, 2018

REVIEW ANIME: JUNJI ITO COLLECTION


Naaaaah ... akhirnya nih sesuai janjiku di postingan sebelumnya, gue bakalan mengulas anime horor terbaru yang mengangkat cerita-cerita dari manga Junji Ito. Awal tahun ini, gue dibikin harap-harap cemas dengan kabar rilisnya anime Junji Ito. Gue baru bisa ngelarin animenya bulan April ini (itu pun berkat videonya yang banyak bertebaran di Youtube hahaha) dan ujung-ujungnya, bisa gue katakan kecemasan gue terbukti. Siapa sih yang nggak seneng kalo karya mangaka favoritnya dibikin anime? Tapi gue adalah salah satu (atau mungkin satu-satunya ya) yang berpikir bahwa manga Junji Ito sebaiknya tetap dibiarkan menjadi manga aja, nggak usah dibikin animenya. 


Lah kenapa? Soalnya menurut gue media televisi nggak akan bisa mewujudkan kengerian dalam panel-panel gambar Ito-Sensei dengan tepat, atau paling nggak sama ngerinya. Ada beberapa sebabnya. Pertama, medium hitam-putih yang ada di manganya menurut gue udah pas takaran creepy-nya, bahkan mendukung kengerian suasananya yang emang menurut gue dapet banget. Jadi, kalo diubah jadi medium berwarna menurut gue malah mengurangi kengeriannya. Kedua, yang namanya anime itu biasa terikat ama durasi, jadi gue khawatir beberapa adegan dalam manga Junji Ito yang asli terpaksa dipotong demi memenuhi kuota jam tayang itu.

Dan ternyata benar, bisa dibilang dalam banyak hal anime ini membuat gue kecewa. Eamng sih gue mengapresiasi usaha dan minat mereka untuk memindahkan manga Ito-Sensei dalam bentuk media audio visual, namun di sana sini gue masih melihat banyak kekurangan. Di beberapa episode sih gambarnya cukup mumpuni. Semisal pada episode 9 "Painter" animenya berhasil menangkap kecantikan Tomie yang adidaya. Pada episode 4 "Shiver" pun adegan "bolong-bolong" juga cukup membuat ngeri dan shock.

Akan tetapi, pada kebanyakan episode, versi anime-nya justru meng-undertone kengerian dari manganya. Gue kasi contoh simpel nih pas penampakan syaiton di episode 10 "Bridge", mana yang lebih serem? Versi anime apa manga-nya?

*sesudah ke klinik tong fang*

*sebelum ke klinik tong fang*


Dan ada banyak contoh lain dimana sang animator gagal menangkap esensi kengerian manga-nya Ito-Sensei. Contoh lain adalah penampakan "Pretty Boy" di episode 3 "Crossroad". Bisa dibandingkan mana yang lebih eerie.



Gue emang nggak bisa komplain banyak soal animasinya. Gue sendiri nggak bisa gambar anime jadi bukan kapasitas gue juga sih mau mengkritik gambarannya kayak gimana. Tapi itu baru masalah pertama. Sekarang masalah kedua.

Gue pribadi sangat kecewa dengan pemilihan cerita-cerita Ito-Sensei yang divisualisasikan dalam bentuk anime. Cerita Junji Ito ada banyak banget karena gue tahu Ito-Sensei doyan banget bikin cerita pendek. Jadi gue nggak heran mungkin produsernya juga kesulitan kali memilih cerita mana yang akan dimasukkan ke dalam anime yang hanya berdurasi 12 episode ini. Emang bener sih cerita Ito-Sensei yang terkenal dan ikonik seperti "Snail Girl", "Fashion Model" (menampilkan Fuchi .... uuuuw idola bangeeeet), "Honored Ancestor" (masih inget banget ama lipannya, dulu baca manga-nya bikin mimpi buruk), "Long Dream", dan tentu saja the ultimate gross "Grease" alias "Glyceride". YEAH!

Tapi, yang bikin gue kecewa, justru cerita-cerita Ito-Sensei yang diangkat kebanyakan justru kisah-kisah yang kurang populer, semisal "Blood Bubble Bushes", "Scarecrow", "Supernatural Transferred Student" (ugh ... gue benci banget cerita ini, nggak jelas banget), ceritanya Oshikiri (bahkan gue baru tahu Ito-sensei pernah nyiptain tokoh ini, boring banget), dan yang paling gue nggak bisa terima: Souichi. Yup, Souichi everywhere! Bahkan ada 3 cerita yang mengupas Shouichi. Hueeeeeek ...

Dari dulu gue nggak pernah suka sama tokoh ini. With all respect, I love Ito-Sensei, tapi gue rasa beliau mabok pas bikin dia. Gue selalu skip semua cerita yang ada Souichi-nya. I hate it a lot (dan gue kayaknya nggak sendiri soalnya ada juga sih blogger yang mengaku benci banget ama Souichi). And they make 3 episodes based on him? It was unacceptable! Dimana karya-karya Ito-Sensei yang fenomenal seperti "Enigma of Emigara Fault", "That Thing That Drift Ashore", "Army of One", "The Hanging Balloons", "Flesh Colored Horror"??? Those are masterpieces!

Masalah ketiga, seperti yang gue sebutkan tadi, beberapa anime seperti dugaan gue terpaksa terpaksa memotong adegan yang ada di panel komik Ito-Sensei demi durasi. Satu yang paling ngefek adalah di cerita "Town Without Crossroads" yang menurut gue punya ide yang dahsyat dan falsafah yang dalam banget, tapi gara-gara masalah ini jadi nggak begitu kerasa dampaknya. Padahal cerita ini salah satu favorit gue, tapi gara-gara animenya (ada sensornya pula) menurut gue malah terkesan biasa-biasa. 

Yup, masalah animasi gue emang nggak bisa berharap banyak, tapi dalam masalah pemilihan cerita mereka kurang bijaksana. Overall, anime ini cukup mengecewakan gue. Tapi nggak kecewa-kecewa amat sih. Soalnya pertama, gue sejak semula udah punya low expectation sebelum nonton anime ini. Jadi ketika hasilnya gini-gini amat ya gue sudah memprediksinya sejak awal. Yang kedua, at least anime ini membuat gue kangen ama cerita-cerita Ito-Sensei dan membuat gue membaca kembali karya-karyanya. Ketiga, ada kok beberapa episode yang cukup berkesan buat gue. Tapi episode tersebut justru bukan episode terseram, melainkan episode tersedih. Episode terbaik di anime ini menurut gue adalah di episode 6 "Gentle Goodbye". Simak aja deh.


Akhir kata, jika kalian tertarik melihat animenya, nggak usah takut. Nggak serem-serem amat kok hahaha. Jika kalian punya pendapat lain tentang anime ini, silakan post ya di comment. Gue tunggu!


1 comment:

  1. Andai cerita Tomie yaa bang yg dibikin banyak, bukannya si Souichi 😂😂😂, 3 favorit gw itu Glyceride, Snail Girl, sama apa tuh judul nya yg ada emak emak masuk ke kamar anak muda? yg creepy itu loh muka emak emaknya 😆

    ReplyDelete