Thursday, April 12, 2018

REVIEW "A QUIET PLACE": SIMPLY THE BEST HORROR MOVIES I'VE EVER SEEN


Gara-gara suntuk kemarin, gue kepikiran buat nonton aja. Setelah ngecek list film yang lagi tayang di CGV, pilihan gue jatuh pada "A Quiet Place" secara itu satu-satunya film horor dan ratingnya di Rotten Tomatoes tinggi banget, mencapai 96%. Gue sih nggak selalu menjadikan rating di website tersebut sebagai patokan, secara selera gue mungkin beda (ada film yang dapat skor tinggi tapi gue ga suka, tapi ada juga film yang gue demen banget tapi ratingnya malah rendah). Tapi kali ini gue tampaknya harus setuju ama mereka. Film ini merupakan salah satu film horor terbaik yang pernah gue tonton.
"A Quiet Place" menceritakan dunia post-apocalyptic dimana hampir seluruh populasi manusia musnah akibat serbuan makhluk ekstra-terestrial yang berburu menggunakan suara. Uniknya, nggak dijelaskan awal mula serangan makhluk ini (mungkin bakalan keren ya kalo ditampilkan adegan hancur-hancuran saat invasi monster ini). Mungkin keputusan ini karena keterbatasan budget ya, soalnya budget-nya cukup ketat yakni 17 juta dolar (bandingin aja ama film summer box office yang bisa mencapai 100 juta dolar). Film ini bisa disebut minimalis sebab pemerannya hanya sebuah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan tiga anaknya. Di sepanjang film, dikisahkan cara mereka bertahan hidup dengan berusaha keras tidak menimbulkan suara sesedikit apapun agar tak menarik perhatian monster tersebut. Masalahnya, sang ibu kini dalam keadaan hamil dan bisa dibayangkan bagaimana "mustahilnya" memiliki bayi dalam kondisi semacam itu. Film horor ini juga tak hanya mengandalkan ketegangan saja, melainkan dibumbui drama keluarga sekaligus adegan-adegan mengharukan.
Pertama gue bahas dulu ya kekurangannya. Pertama ketika melihat premise unik di film ini, gue menyangka film ini bakalan jadi film eksperimental yang memberikan pengalaman baru buat para penontonnya. Soalnya di sepanjang film, para tokohnya "ditantang" untuk tak membuat suara sepelan apapun agar tidak menjadi incaran monster haus darah. Gue awalnya berpikir sepanjang film akan diisi oleh kesunyian yang mencekam, tapi ternyata masih ada musical score di sini yang mengisi kekosongan audio akibat minimnya dialog. Well, bagi gue pribadi sih ini agak mengecewakan. Sepertinya walaupun sudah diberi tema yang cukup unik dan menantang, sutradara (which is John Krasinski himself) masih bermain "aman" di area audio-visual yang mainstream. Yah, mungkin dia nggak ingin film ini terlalu kontroversial sekaligus sebisa mungkin tetap profitable dengan membuat penonton senyaman mungkin.
Selain itu, kekurangan lain, film ini terlalu mengandalkan jumpscare dalam bentuk suara yang mengagetkan. Sumpah itu mengganggu banget, terutama pada bagian-bagian awal film. Kalo jumpscare dalam bentuk visual sih menurut gue bagus, tapi kalo mainnya cuma di suara yang bikin kaget aja menurut gue itu murahan dan nggak bisa gue tolerir.
Sekarang kelebihannya, which is a lot. Pertama, keunikan tema film ini membuat perhatian para penonton nggak tertuju pada dialognya, seperti di film-film lain, melainkan lebih ke bahasa tubuh serta ekspresi para pemainnya. Ini jelas jadi tantangan bagi para aktor dan aktrisnya sebab mereka dituntut untuk berperforma semaksimal mungkin. Dan hasilnya nggak mengecewakan. Akting Emily Blunt yang memerankan sang ibu jelas meyakinkan, sebab dia pernah mendapat nominasi piala Oscar. Sosok sang ayah yang diperankan John Krasinski juga tak mengecewakan. Jujur aja, salah satu hal yang menarik perhatian gue untuk menonton film ini adalah adanya penampilan John Krasinski. Well, kalian mungkin masih asing sama dia tapi gue sudah mengenal aktor ini sejak dia masih bermain di drama sitkom "The Office".
Walaupun sangat minim dialog, namun kepribadian para tokohnya terbaca lewat bahasa isyarat mereka. Contohnya sang ibu menggunakan bahasa isyarat yang penuh "kasih sayang" dan perhatian pada anaknya (keliatan banget pas adegan dia ngobrol pake bahasa isyarat sama anak laki-lakinya). Sebaliknya, sang ayah menggunakan bahasa isyarat yang pendek-pendek dan "tegas" untuk memggambarkan bahwa yang menjadi prioritas sang ayah adalah berkomunikasi sependek namun seoptimal mungkin demi keselamatan keluarganya.
Uniknya lagi, baik John Krasinski sama Emily Blunt sama-sama suami istri di kehidupan nyata lho (jadi heran kenapa Emily nggak mengubah namanya jadi Emily Krasinski ya?). Fakta unik lain, John Krasinski adalah pemain sekaligus sutradara film ini. Gue nggak bisa bayangin ya gimana jadi sutradara sekaligus aktor utamanya. Mungkin pas dia jadi sutradara dia duduk sambil teriak "action" terus buru-buru lari ke set buat akting, abis itu balik lagi ke kursi teriak "cut" hehehe. Dan fakta unik ketiga, baik John maupun Emily sama-sama pernah "hampir" jadi anggota Avengers. John Krasinski pernah jadi kandidat utama pemeran Captain America sebelum akhirnya peran itu jatuh ke tangan Chris Evans, sementara Emily Blunt pernah dipertimbangkan untuk mengisi peran sebagai Black Widow sebelum akhirnya digantikan Scarlett Johansson. Waduh, kok gue lebih setuju ya kalo John Krasinski jadi Cap hehehe. Secara fisik dia udah pas, soalnya badannya gede. Selain itu Chris Evans udah identik dengan perannya sebagai playboy nyeleneh di Fantastic Four dan sampai sekarang, image itu yang terus kebayang-bayang di benak gue meskipun dia mencoba berakting serius sebagai Steve Rogers.
Oke lanjut ke review filmnya. Gue juga suka banget ama akting kedua anaknya. Dengan dialog seminim mungkin, kita bisa melihat karakter sang anak cowok sebagai anak yang penakut (nggak bisa disalahkan juga sebab dia tumbuh besar diteror monster) dan anak ceweknya rebellious banget. Dan kita juga nggak akan mendengar satupun dialog dari si anak cewek karena pemerannya, Millicent Simmonds, adalah penderita tuna rungu beneran. Dari segi monsternya pun, special effect-nya juga cukup memukau dan meyakinkan. Oya, FYI naskah film ini awalnya dibuat sebagai sekuel film Cloverfield, jadi jangan heran jika ada sedikit kesamaan pada desain monsternya.
Dari segi ceritanya, walaupun simpel, tapi tetap dapet banget gaungnya. Kita bisa merasakan konflik di keluarga ini. Tak hanya itu, ada adegan yang bener-bener bikin gue kaget. Yah bukan plot twist sih, tapi tetep gue nggak nyangka itu terjadi dan itu bikin gue puas banget liat film ini. Drama di film ini benar-benar membuat kita terharu, apalagi hubungan antara sang bapak dengan putrinya.
Gue suka banget karena film ini digarap dengan cerdas. Emang bener kalo orang mengatakan "necessity is the mother of all invention" sebab di sini gue belajar sama si bapak yang mungkin menurut gue nggak berpendidikan tinggi (buktinya mereka cuma petani biasa yang mungkin sebelum apocalyse cuma bekerja di ladang) tapi bisa menciptakan alat bantu dengar dan solusinya buat ngatasin si bayi yang nangis menurut gue pinter banget.
Dari segi scare-nya sekaligus ketegangan, nggak ada yang bisa ngalahin film ini. Terakhir kali gue merasa setegang ini adalah saat gue nonton "Panic Room", sebuah film lawas. Dan saat itupun penilaian gue mungkin agak bias sebab gue masih kecil dan itu juga pengalaman gue pertama kali nonton film bergenre thriller psikologis yang bikin deg-degan. Bahkan jujur aja ya guys, di pertengahan film ini gue udah mulai merasa nggak kuat dan pengen kabur dari bioskop aja. Soalnya sumpah, baru kali ini gue merasa takut (but in a good way) ampe gue nggak berani liat adegan berikutnya. Saat gue nonton film-film bergenre horor yang biasa gue tonton (katakanlah Conjuring dll) tiap kali ada adegan scare, gue langsung ketawa begitu adegannya berakhir, soalnya adegan itu terasa fun. Tapi lain halnya dengan film ini. Ketegangan datang silih berganti dan kita nggak dikasi waktu istirahat, sebab saat satu masalah selesai, muncul masalah lain yang lebih berat.
Dan endingnya, WOW. Gue nggak pernah merasa sepuas itu menyaksikan ending sebuah film sejak gue nonton "Corpse Party". Buat beberapa orang mungkin bikin sebel karena menggantung, namun menurut gue endingnya luar biasa pas!!!
Akhir kata, gue berani memberikan film ini skor sempurna yakni 5/5 CD berdarah yang biasa gue obral pas review film. Emang sih ada kekurangannya, namun itu semua tertutupi dengan mudah setelah ketegangan tiada habisnya pada pertengahan film hingga akhir(dan dramanya juga ... Huh, biasanya gue nggak setuju film horor dikasi drama-dramaan, tapi film ini membuat gue berubah pikiran).
030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[10]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[10]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[10]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[10]030menunderwear2Copy_thumb1226_thumb[10]
Dan yang jelas, kalo skenario apocalypse kayak gini bener-bener kejadian, gue rasa orang Indo kali ya yang pertama punah. Soalnya gue sendiri kalo pup suka berisik banget (ditambah lagi suara "plung plung" nya). Ditambah lagi kalo ada yang suka kentut ama ngorok (tapi bukan admin looooh). So finally, this film is totally recommended, but not for the faint-hearted.

5 comments:

  1. Sepertinya semua memang masalah selera atau kadang mood dalam menonton sebuah film

    ReplyDelete
  2. Pengen ngomentarin soal Panic Room deh bang, hahaha. Itu kayaknya film yg underrated banget ya? Padahal bagus filmnya, terutama pas slow motion Jodi Foster keluar dari Panic Room ngambil hape, sumpah rasanya jantung pengen aku pelanin. Hahahaha

    ReplyDelete
  3. Udah pernah nonton Don't Breath bang? Menurut gw hampir sama kyk film ini, tegangnya sama2 dapet dr pertengahan sampe akhir filmnya 👍

    ReplyDelete
  4. kok gua kurang suka ya. gak dijelasin awal makhluknya darimana, itu aja sih. endingnya keren sih meskipun gampang ketebak

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenarnya sih kalo teliti di adegan awal di apotek ada glimpse sebuah headline surat kabar tentang meteor yang jauh. mungkin itu mengisyaratkan kalo monster2 itu sebenarnya alien

      Delete