Monday, November 25, 2019

I KNOW WHAT YOU DID LAST AUTUMN: KASUS TRAGIS GREGORY GLEN BIGGS


Chante Mallard adalah seorang suster yang tak puas dengan kehidupannya. Ia bekerja di panti jompo dan demi melarikan diri dari realita kehidupannya, ia memilih bersenang-senang dengan teman-temannya kala malam tiba. Gregory Glen Biggs memiliki kehidupan yang sama sekali berbeda. Ia pria berusia 37 tahun yang tengah bangkrut. Ia kehilangan pekerjaannya, mobilnya, bahkan rumahnya, dan berakhir menjadi seorang pria tunawisma. Takdir yang kejam mempertemukan mereka berdua pada malam 26 Oktober 2001 dalam kasus yang membuat kita mempertanyakan, seberapa dalam hati nurani kita ketika melihat seseorang menderita dan seberapa jauh kita sudi bertanggung jawab atas kesalahan yang kita buat?

Dear readers, inilah Dark Case kali ini.

Gregory dan putranya

Chante Mallard adalah wanita muda berusia 25 tahun yang memiliki pendidikan sebagai perawat. Namun ia menyimpan rahasia bahwa sebagai pelariannya atas kehidupan yang dirasa kurang memuaskan, ia memilih obat-obatan terlarang dan juga minuman keras. Kehidupan Gergory Glen Biggs sebenarnya justru lebih terpuruk. Awalnya pria berusia 37 tahun itu masih memiliki kehidupan yang mulus sebagai tukang bangunan. Namun ia kehilangan segalanya dan akhirnya terpaksa terluntang-lantung di jalanan sebagai tunawisma, tanpa tempat bernaung dan pekerjaan.

Malam naas itu, pada 26 Oktober 2001, Chantel yang habis berpesta dengan teman-temannya, berkendara pulang dengan mobil Chevrolet miliknya di kota Fort Worth, Texas. Malam telah amat larut dan Chantel juga tidak dalam kondisi prima, sebab ia telah menenggak beberapa gelas minuman keras, pil ekstasi, hingga menghisap ganja.

Pada malam itu, ia tak melihat seorang pria tengah menyeberang dan dengan kecepatan tinggi menabraknya.

Pria itu adalah Gregory Glen Briggs.

Ilustrasi kecelakaan yang menimpa Gregory 
dari adegan film "Stuck" yang terinspirasi oleh peristiwa tersebut

Kecelakaan itu begitu dahsyat hingga tubuh Gregory menghantam kaca jendela depan, memecahkannya, dan tubuhnya tersangkut di kaca dashboard. Akibat kejadian itu pula, satu kakinya nyaris putus dan ia dalam kondisi terluka parah. Chantel panik melihat seorang pria tersangkut di kaca depan mobilnya dan di tengah kepanikannya, ia mengambil sebuah keputusan yang amat mengerikan.

Ia berkendara sejauh 1,6 km pulang ke rumahnya, memarkirkan mobilnya di dalam garasi, dengan tubuh Gregory masih tersangkut di pecahan kaca depan. Ia lalu mematikan lampu garasi, dan meninggalkannya di sana.

Manusia yang masih memiliki hati nurani tentu takkan membuang waktu dan langsung memanggil 911 atau membawanya ke rumah sakit kala itu juga. Chantel juga bukan sosok yang asing dengan dunia medis sebab ia seorang perawat sehingga seharusnya ia bisa menolong pria itu atau paling tidak mengerti betapa mengancam jiwa luka yang kini dideritanya.

Namun tidak. Malam itu Chantel memutuskan tidur dan membiarkan Gregory mati perlahan-lahan di tengah kegelapan garasinya. Chantel kala itu tahu benar pria itu masih hidup karena ia masih mendengar erangan pinta tolongnya di dalam garasi.

Keesokan harinya, setelah menemukan bahwa pria itu sudah meninggal akibat kehabisan darah, ia meminjam mobil temannya untuk menemui mantan kekasihnya, Clete Jackson untuk melenyapkan jasad Gregory. Clete sendiri sudah tidak asing dengan dunia kejahatan dan dengan santai, iapun membuang jenazah pria malang dengan bantuan sepupunya, Herbert Tyrone. Kehidupan Chantel kemudian berjalan seperti sediakala, seolah-olah tak terjadi apapun. Ia masih berpesta miras dan narkoba dengan teman-temannya tiap akhir pekan.

Namun sepandai-pandainya ditutupi, bau busuk akhirnya pasti tercium juga.

Wajah tersangka yang ngezelin abis dan bikin kita pengen nabok

Pada Februari 2002, tahun berikutnya, Chantel dan teman-temannya tengah berpesta di rumahnya dan tanpa sengaja, Chantel yang tengah mabuk dengan bangga mengaku telah menabrak seorang pria. Ia bahkan membumbui bahwa ia dan pacarnya sedang asyik berhubungan seks di kamarnya sementara pria itu tengah sekarat di garasinya. Salah satu teman Chantel yang bernama Amanda shock mendengarnya. Ia bahkan mengira Chantel tengah bercanda, namun teman mereka yang lain, Keke, mengaku memang ada yang aneh. Kala ia berkunjung ke rumah Chantel, ia melihat mobilnya di garasi rusak parah dengan kaca depan pecah, bahkan ada noda darah dan bau busuk menguar dari mobil itu.

Amanda, mengikuti hati nuraninya, memutuskan melapor kepada polisi. Pihak berwajib menindaklanjuti laporan itu dengan menyerbu rumah Chantel. Wanita itu tak mampu lagi berkutik begitu mereka menemukan barang bukti tak terbantahkan di dalam garasinya. Chantel dan kedua rekannya memang berusaha memusnahkan barang bukti dengan mempreteli mobil itu, bahkan membakar kursinya yang berlumuran darah. Namun masih ada sisa darah di lantai mobil itu.

Chantel pun ditangkap dan diadili. Atas ulahnya yang tak berperikemanusiaan, ia diganjar dengan hukuman 50 tahun penjara. Sedangkan kedua rekan prianya yang membantunya dalam usaha menghilangkan barang bukti masing-masing dihukum 10 tahun penjara. Yang tak kalah tragis, seorang dokter yang meneliti luka-luka dan penyebab kematian Gregory kala itu mengaku bahwa seandainya pria itu lekas ditolong setelah kecelakaan, sebenarnya nyawanya bisa diselamatkan. Saat itu Gregory tidak mengalami luka yang parah. Organ dalam dan kepalanya tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Satu-satunya masalah adalah kakinya yang hampir putus yang akhirnya menyebabkan ia meninggal karena kehabisan darah.

Chantel mengaku, satu-satunya alasan mengapa ia melakukan tindakan dinginnya dengan meninggalkan korbannya untuk mati karena ia takut ditangkap polisi karena mengemudi dalam kondisi mabuk. Ia juga enggan apabila ketahuan mengonsumsi narkoba. Memang Chantel menghadapi resiko penjara jika ia memutuskan menyelamatkan nyawa Gregory kala itu, namun tetap saja hukuman yang akan diterimanya akan lebih rendah bila dibandingkan hukumannya kini, bahkan bisa mendapat keringanan jika ia memang punya niat menolong pria itu.

Namun kini, nasi telah menjadi bubur. Perbuatan Chantel telah meninggalkan luka mendalam di hati istri dan anak Gregory, korbannya. Namun alih-alih menuntut uang ganti rugi ke Chantel, putra Gregory, yakni Brandon, malah memilih untuk memaafkan pembunuh ayahnya itu. Kasus itu menarik simpati para terpidana di Amerika hingga mereka dari dalam penjara berhasil mengumpulkan dana hingga 10 ribu dolar sebagai beasiswa untuk Brandon untuk meneruskan pendidikan sebagai pendeta.

At least, this story still has a happy ending.

5 comments:

  1. Yang parah, Chantel kerjanya jadi suster, pekerjaan yang butuh hati nurani dan compassion terhadap sesamanya.
    Sudah berapa banyak pasien yang sia-sia memanggil suster jaga karena kesakitan sementara susternya asyik mabuk-mabukan? Atau telat dapet obat yang harusnya tepat waktu? Malah mungkin Chantel pernah salah kasih obat ke pasien?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kisah ini pernah diangkat ke film layar lebar (tapi dengan ending beda dmn si gregory ini selamat) judulnya "stuck" dan di situ digambarin kehidupan si cewek ini merawat orang2 tua di panti jompo, dimana salah satunya dia bersihin berak mereka kalo mereka BAB sembarangan. yah mungkin dr itu dia merasa kesal sendiri ama kehidupannya dan nuraninya jd tumpul

      Delete
  2. Chantel ini wajahnya kayak yg lelah dan bosan sama hidupnya sendiri. mungkin stress juga dengan pekerjaannya, eh sekalinya kena musibah ekstrem gitu

    ReplyDelete
  3. pengen nonton stuck..tapi udah spoiler...ga jadi deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu mah masuknya bukan spoiler --__--

      Delete