Wednesday, November 20, 2019

JOURNAL OF THE DEAD: KISAH TRAGIS DAN ANEH DAVID COUGHLIN DAN RAFFI KODIKIAN




Pada July 1999, seorang ranger dari Taman Nasional Carlsbad Caverns, Amerika Serikat tengah melakukan patroli rutinnya. Banyak hikers dan pecinta alam datang ke teriknya gurun Chihuahua di Nex Mexico itu untuk berkemah. Ia kemudian melihat salah satunya meringkuk di sebuah tenda. Namun kali ini ia merasa ada sesuatu yang aneh.

Sang ranger mendekatinya. Pemuda di depannya itu terlihat letih dan mengalami dehidrasi parah. Sang ranger mengenalinya sebagai salah satu dari dua pecinta alam yang pernah dilihatnya empat hari lalu. Kala itu mereka menanyakan dimana mereka bisa berkemah dan ranger itu menjawab sebuah lokasi bernama Rattlesnake Canyon. Namun tempat itu amat jauh dengan dimana ia menemukannya.

Mengira mereka berdua tersesat, ranger itupun kemudian bertanya, “Dimana temanmu?”

Pemuda itu hanya menunjuk ke arah tumpukan batu, tak jauh dari kemahnya, masih dengan kondisi lemah.

Di sana,” jawabnya, “Aku membunuhnya.”
***

Kasus yang menimpa David Coughlin dan Raffi Kodikian adalah salah satu kasus paling aneh sekaligus menggenaskan di list ini. Keduanya memutuskan untuk menghabiskan waktu mereka hiking di sebuah gurun di New Mexico, namun naasnya, hanya satu yang kembali hidup-hidup.

Dear readers, inilah Dark Case kali ini.


David Coughlin dan Raffi Kodikian merupakan sahabat dekat yang berasal dari Boston. Berusia baru 20-an, kedua sahabat berjiwa muda dan petualang itu memutuskan untuk berkelana hingga California dengan berkendara selama 6 hari. Di sana pulalah David berencana untuk meneruskan kuliahnya. Di tengah perjalanan, mereka mampir ke sebuah taman nasional di negara bagian New Mexico. Tinggal di negara bagian Massachusetts yang dingin dan bersalju, mereka masih asing dengan iklim gurun di sana.

Gurun tempat mereka tersesat

Karena mereka berniat backpacker-an, begitu tiba merekapun bertanya pada seorang ranger dimana mereka bisa berkemah secara gratis. Ranger itu mengusulkan Rattlesnake Canyon, sebuah lokasi yang cukup populer bagi pecinta alam. Letaknya pun tak terlalu jauh, cukup berjalan satu mil (1,6 kilometer) dari lokasi mereka memarkirkan mobilnya.

Celakanya mereka tersesat.

Kala itu mereka hanya berencana untuk menginap semalam saja. Toh tujuan asli mereka adalah negara bagian California dengan iklim yang hangat dan banyak pantai dengan ombak untuk berselancar. Walaupun sang ranger menyarankan agar membawa minimal 1 galon air karena suhu gurun yang tentu teramat panas, kedua pemuda yang kurang pengalaman itu hanya membawa sekitar 1,5 liter air bersama mereka.

Di tengah perjalanan, mereka sadar bahwa mereka tersesat. Tak ada hikers lain yang mereka lihat di sana untuk mereka mintai tolong. Mereka tak punya kompas, namun mereka memiliki sebuah peta topografi taman nasional itu. Celakanya, tak ada satupun dari mereka yang tahu cara menggunakannya.

Mereka terus berjalan dan berjalan, berharap bisa kembali dan menemukan jalan keluar dari neraka itu. Suhu di sana hampir membuat kulit mereka terbakar dan tentu saja, mereka terancam dehidrasi karena sedikitnya bekal air yang mereka bawa.

Pada malam berikutnya, David dan Raffi memutuskan untuk berjalan lagi melintasi gurun di bawah teriknya suhu 40 derajat Celcius ke arah lain, dimana sebelumnya Raffi melihat cahaya yang bergerak. Ia mengasumsikan cahaya itu adalah lampu mobil dan di sana terdapat sebuah jalan raya.

Naasnya, ketika mereka sampai di sana, sama sekali tak ada jalan raya. Yang ia lihat sebelumnya hanyalah halusinasi.

Fatamorgana

Lelah, kehausan, dan panik, keduanya mulai panik. Burung-burung pemakan bangkai mulai berputar-putar di atas mereka, sehingga mereka berdua mulai yakin bahwa ajal akan segera menjemput mereka.

Mereka berusaha untuk bertahan hidup sekeras mungkin. Satu-satunya yang mereka temukan di gurun kering itu hanyalah pohon kaktus, dimana mereka berdua memetik buahnya dan memakannya. Kehabisan air sama sekali, mereka berduapun berusaha meminum air kencing mereka sendiri. Namun Raffi hampir muntah setelah mencobanya, sehingga ia mengabaikan ide itu.

Pada malam ketiga, David merasa amat sakit dan mulai muntah tak terkendali. Ketika fajar menjelang, hampir semua harapannya telah pupus. Ia merasa tubuhnya takkan pernah lagi bisa bertahan dan mulai meminta sesuatu yang tak terbayangkan kepada sahabatnya.

Ia memohon kepada Raffi supaya membunuhnya.

Percaya bahwa takkan ada yang akan menolong mereka dan pada akhirnya mereka juga akan mati di sana, Raffi dengan berat hati mengabulkan permintaan temannya. Paling tidak ia takkan membiarkan temannya mati menderita dengan perlahan-lahan di gurun ini.

Raffi menulis di jurnalnya:
Aku membunuh dan mengubur sahabatku hari ini. Dave amat kesakitan sepanjang malam. Pada jam 5 atau 6, ia menoleh kepadaku dan memohon agar aku menusukkan pisau ke dada. Aku melakukannya, dan menusuknya lagi untuk kedua kalinya ketika ia masih belum mati.
Naasnya, hanya beberapa jam setelah ia membunuh sahabatnya, Raffi diselamatkan oleh sang ranger yang kebetulan menemukannya.

Raffi selama proses pengadilan

Begitu tiba kembali di peradaban, Raffi-pun menemukan dirinya sebagai tersangka atas tuduhan kasus pembunuhan sahabatnya sendiri. Polisi yang menyelidiki kematian David di gurun memiliki teori lain, bahwa Raffi membujuk David untuk pergi ke padang gurun, kemudian sengaja tersesat agar mereka berada di lokasi antah berantah tanpa seorangpun saksi, dimana di sana ia sudah berencana untuk menghabisinya. Motifnya? David diduga bermesraan dengan kekasih Raffi sehingga membuat dirinya murka.

Selama proses pengadilan, fakta yang tak kalah tragis terkuak. Dari hasil otopsi diketahui bahwa David menjadi sakit dan muntah-muntah bukan karena ia tengah sekarat, namun hanya gara-gara ia memakan buah kaktus yang masih mentah. Memang mereka berdua mengalami dehidrasi, namun banyak orang yang tersesat di gurun dalam kondisi yang lebih parah dengan durasi lebih lama dan tanpa air minum, akan tetapi masih bisa selamat. Contohnya adalah kasus Aron Ralston yang terjebak selama 5 hari di tengah padang gurun di Utah. Bahkan saat itu dirinya tak bisa bergerak karena tangannya tertindih batu besar. Ia terpaksa mengamputasi tangannya sendiri agar bisa bebas. Tak hanya itu, ia masih harus berjalan kaki sepanjang 11 kilometer sebelum akhirnya diselamatkan.

Akan tetapi hakim ternyata masih berbaik hati. Dari hukuman 20 tahun yang bisa diterimanya atas tuduhan pembunuhan, ia hanya diganjar 2 tahun penjara, bahkan boleh bebas setelah hanya menjalani 16 bulan hukuman. Hakim berpendapat apa yang dilakukannya adalah “mercy killing” dan tak menutup kemungkinan, bila kita berada dalam kondisi yang sama seperti mereka berdua, mungkin kita akan melakukan hal yang sama.

Kisah hidup mereka berdua kemudian diangkat oleh wartawan bernama Jason Kersten ke dalam bukunya yang berjudul “Journal of the Dead: A Story of Friendship and Murder”. Judulnya mengacu pada jurnal yang ditulis oleh Raffi selama mereka terjebak di padang gurun. Tak hanya itu, aktor Matt Damon menulis sebuah naskah film berjudul “Gerry”, terinspirasi oleh kisah kelam mereka berdua, bahkan membintangi film itu sendiri.

Lagi-lagi, kisah ini menjadi bukti ketidaksiapan anak-anak muda yang naif dalam menaklukkan alam. Mereka berdua berasal dari negara bagian Massachusetts dimana perlu kondisi alamnya amat berbeda dengan New Mexico. Bahkan mungkin itu pertama kalinya mereka melihat gurun. Kurangnya pengetahuan mereka, seperti bagaimana beradaptasi di lingkungan gurun atau bahkan ketrampilan sederhana seperti cara membaca peta, juga berkontribusi atas kasus tragis itu.

Ketidaksabaran juga menjadi pemicu lain. Seandainya saja mereka cukup sabar menunggu beberapa jam saja hingga pertolongan datang (dan memang terbukti pertolongan memang datang beberapa jam setelah tragedi itu terjadi) mungkin akhir kisah ini akan sangat berbeda. Namun takdir sudah berkehendak dan tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubahnya. Kasus David Coughlin dan Rafii Kodikian kini menjadi pengingat bahwa alam terkadang amat kejam bila kita tak siap menghadapinya.

Sumber: New York Times


4 comments:

  1. pelajaran yang sangat mahal harganya

    ReplyDelete
  2. Merinding banget bacanya... Hal ini membuktikan kalau manusia amat terbatas dan sebaiknya jangan main-main dengan alam.

    ReplyDelete
  3. Talking about bad timing. Kayak endingnya film the mist

    ReplyDelete