Wednesday, September 23, 2015

REVIEW BUKU: MALICE by KEIGO HIGASHINO

 

malice

Kali ini gue lagi keranjingan baca novel karya sastrawan Jepang. Kalo kemaren gue review novel “The Tokyo Zodiac Murders” yang udah keluar versi bahasa Indonesia, kali ini novel yang gue bahas adalah “Malice” karya Keigo Hirashino yang gue yakin belum ada versi Indonesianya. Gue nggak berharap banyak novel ini bakal ditemukan di Indonesia, sebab novel “The Tokyo Zodiac Murders” saja memerlukan waktu 26 tahun untuk diterbitkan di Indonesia (novel tersebut ditulis tahun 1986 dan baru diterjemahin tahun 2012). Malice bercerita dari dua sudut pandang tokoh yang berbeda, menceritakan pembunuhan misterius seorang penulis terkemuka dan motif mengerikan yang melandasinya.

Pertama gue bakal mereview dulu penulisnya, yakni Keigo Hirashino. Namanya mungkin masih asing bagi pembaca di tanah air. Namun di negeri asalnya sana, Jepang, ia adalah penulis best-seller yang amat terkenal. Karyanya yang amat fenomenal adalah “Devotion of Suspect X” yang dibikin versi layar lebar sekaligus layar peraknya melalui serial “Detektif Galileo”. Ia menciptakan tokoh detektifnya sebagai Manabu Yukawa, seorang profesor fisika cerdas yang membantu polisi memecahkan berbagai kasus misterius. Ia menulis trilogi Galileo dalam ketiga novelnya yang berjudul “Devotion of Suspect X”, “The Salvation of A Saint”, dan “Midsummer’s Equation” (ketiga-tiganya kepengen gue baca tapi belom kesampaian). Namun dalam novelnya yang berjudul Malice kali ini, ia mengenalkan tokoh detektif baru bernama Detektif Kaga.

“Malice” diawali dengan kisah persahabatan dua orang penulis bernama Osamu Nonoguchi dan Kunihiko Hidaka. Hidaka adalah seorang penulis sukses yang salah satu novelnya, “Forbidden Hunting Ground” cukup kontroversial karena mengumbar kisah nyata seorang pembully yang kejam dan kematian tragisnya, sehingga membuat keluarganya marah. Sedangkan Nonoguchi adalah sahabatnya sejak kecil yang juga bermimpi menjadi penulis besar. Namun pada malam sebelum kepindahan Hidaka ke Kanada, istri Hidaka bersama Nonoguchi menemukan mayatnya tergeletak di dalam rumahnya, dibunuh. Seorang polisi muda bernama Kyoichiro Kaga (yang juga sahabat lama dari Nonoguchi) harus menguak tak hanya siapa sang pelaku, namun juga motif pembunuhannya. Dalam merampungkan kasus ini, ia harus bersedia menyelam jauh ke masa lalu kelam baik sang pelaku maupun korban, serta berdamai dengan masa lalunya sendiri.

Buku ini bukanlah tipe novel detektif “whodunnit” dimana identitas si pelaku akan terkuak secara mencengangkan di akhir cerita. Baru 1/3 novel ini berjalan, identitas si pelaku sudah terkuak, begitu pula trik pembunuhannya. Namun bukan itu yang penting dalam novel ini, melainkan usaha Detektif Kaga untuk menemukan motif asli si pelaku, sebab tanpa itu, kasus pembunuhan itu bisa dianggap tak sah, walaupun sudah ada pengakuan si pelaku.

Buku ini membuat gue puas, baik dari segi teknik penulisan, alur cerita, penokohan, hingga endingnya. Dilihat dari teknik penulisan, gue terbantu dengan kenyataan bahwa Keigo Hirashino, sang penulis, suka membuat kalimatnya mudah dicerna dan denotatif, tidak puitis seperti kebanyakan penulis (ini sangat membantu sebab gue baca versi bahasa Inggrisnya). Gue bisa menghitung hanya 2-3 kalimatnya yang ditulis dengan bahasa konotatif, itupun di bab-bab terakhir.

Tiap tokoh utama di sini memiliki karakter yang kuat, termasuk si pembunuh dan sang detektif. Tokoh Detektif Kaga yang selalu mengikuti instingnya dan memiliki masa lalu yang “kelam dan tragis” benar-benar terasa “fresh” buat gue, hampir berkebalikan dengan karakter Detektif Mitarai di “The Tokyo Zodiac Murders” yang menurut gue kurang orisinil.

Endingnya pun cukup mengena buat gue, mungkin karena cerita ini berkutat di dalam dunia penulis dan gue sendiri juga penulis (at least di blog) maka gue bisa memahami konsep yang dilakoni banget oleh sang pembunuh.

Dan judul novel ini ... gue rasa nggak ada judul yang lebih tepat bagi novel ini ketimbang “malice”. Gue merasa “bergetar” *lebay* ketika kata “malice” digunakan beberapa kali sepanjang cerita, dan emang penempatannya pas banget. Ketika Detektif Kaga mengambil kesimpulan, sebenarnya motif pembunuhan tersebut tidaklah serumit yang kita duga, namun hanyalah (kalo boleh gue ngutip bahasa novelnya): “pure, simple malice”.

Namun kalau gue bisa menunjuk beberapa kelemahan, ada beberapa fakta di belakang, saat sang detektif menguraikan deduksinya yang seolah-olah disembunyikan dari pembaca sejak awal dan baru diungkap di akhir. Ini serasa nggak adil bagi gue, terutama bila dibandingkan dengan novel “The Tokyo Zodiac Murders” yang memaparkan dengan gamblang semua faktanya agar bisa dirangkai sendiri oleh para pembacanya.

Nah, berapa gue kasih untuk cerita ini?

Penokohan

TISU TOILET BERDARAH  TISU TOILET BERDARAH  TISU TOILET BERDARAH TISU TOILET BERDARAH TISU TOILET 0,5 BERDARAH

Jalan cerita

TISU TOILET BERDARAH  TISU TOILET BERDARAH  TISU TOILET BERDARAH TISU TOILET BERDARAH TISU TOILET

Ending

TISU TOILET BERDARAH  TISU TOILET BERDARAH  TISU TOILET BERDARAH TISU TOILET BERDARAH TISU TOILET

Total gue kasi rata-rata 4 tisu toilet berdarah untuk novel ini.

  TISU TOILET BERDARAH  TISU TOILET BERDARAH  TISU TOILET BERDARAH TISU TOILET BERDARAH TISU TOILET

Sayang sekali jika kalian kepengen baca novel ini, belum ada versi bahasa Indonesianya dan terpaksa kalian harus mencari versi e-pub-nya dalam bahasa Inggris di internet. Semoga aja ada penerbit yang tertarik menerjemahkannya ya (dan novel-novel Keigo Hirashino yang lain).

2 comments:

  1. anda baca buku atau e-book ya? saya ingin baca. bisa beli atau dapet dimana ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada versi epubnya kok. tapi aku sendiri lupa donlot dimana. kasih aja alamat email nanti aku kirimin filenya.

      Delete