Saturday, May 5, 2012

CANDI MANGKUBUMEN: SEJARAH YANG TERLUPAKAN

Foto4538
Aku sempat tertegun membaca artikel di blog tarabuwana yang mengatakan kalo ada peninggalan bersejarah di daerah Mangkubumen, Solo. Apaaaaaaa??? Padahal lokasi itu deket banget sama rumahku, hanya beberapa blok. Aku juga sering lewat daerah itu tiap kali aku pergi ke stadion Manahan untuk mengincar barang2 murah (soalnya ada pasar dadakan di sana tiap Minggu pagi). Kok bisa ya aku nggak tahu (padahal yang nulis blog itu aja  bukan orang Solo asli hiks). Akhirnya suatu hari aku berhasil menyambangi lokasi itu dan benar, aku menemukan candi Mangkubumen, sayangnya dalam kondisi terbengkalai.
Setelah searching di google, aku hanya mendapat dua referensi tentang bangunan ini, yaitu dari blog yang tadi aku sebutin dan dari harian joglosemar (sebuah koran lokal). Pas aku menyambangi daerah itu, penunggunya sedang tidak ada,jadi aku nggak sempat nanya2 dan informasi yang kutulis di postingan ini hanya berdasarkan dua sumber itu.
Candi Mangkubumen dibangun oleh Keraton Kasunanan pada tahun 1840 (yap, udah 1,5 abad lebih umurnya). Candi ini dibangun tepat di atas tempat dikuburkannya ari-ari (tali pusar) dari kanjeng Sosronegoro, yaitu patih Keraton Kasunanan yang kesembilan. Candi ini berbentuk sangat unik, yaitu menyerupai menara sebuah gereja gotik. Warnanya putih dan pada bagian atasnya terdapat penunjuk mata angin. Bergaya kolonial banget.
Ternyata lokasi Mangkubumen sendiri menyimpan banyak sejarah. Tak jauh dari situ terdapat bekas kediaman Pangeran Mangkubumi (karena itu daerah ini disebut Mangkubumen). Rumah itu kemudian dialihfungsikan menjadi rumah sakit pada zaman Belanda dulu yang bernama “sikensoro” (dari kata “ziekenzorg”, artinya “kesehatan”).
Sayangnya di lokasi bersejarah itu kini berdiri mall dan apartemen Solo Paragon yang menjulang tinggi. Apartemen itu sendiri menuai kontroversi, sebab menurut aturan keraton, seharusnya nggak boleh ada bangunan di Solo yang tingginya melebihi Panggung Sangga Buwana di keraton Kasunanan (sekitar 5 lantai). Aku agak sensi nih kalo menyangkut urusan keraton begini. Walaupun aku bukan darah biru, tapi bokap keturunan abdi dalem Mangkunegaran. Yah, kayaknya aku harus menerima kenyataan kalo kewibawaan keraton sudah mulai luntur seiring modernisasi. Padahal kota Solo sendiri ada berkat keraton.
Sayang sekali sebenarnya kalo kawasan Mangkubumen yang sebenarnya menyimpan banyak sejarah ini justru dijadikan mall dan apartemen. Kini hanya Candi Mangkubumen satu-satunya monumen bersejarah yang tersisa di sana. Selain itu, Kota Solo juga menghadapi ancaman dari pihak swasta yang ingin mendirikan hotel di kawasan benteng Vastenburg (bangunan-bangunan di bagian dalamnya juga sudah dihancurkan). Kepentingan ekonomi vs melestarikan sejarah…siapa yang akan menang kira-kira?

1 comment:

  1. Sebutannya tugu ari ari
    rumah sakit mangkubumen cikal bakal rumah sakit moewardi

    ReplyDelete