Thursday, August 4, 2016

BUILT FROM SCRATCH: 10 REPLIKA BANGUNAN BERSEJARAH YANG DIBANGUN KEMBALI

 

800px-Berlin_Stadtschloss_1920er

Sejarah bisa saja terjadi di masa lalu, namun bukan berarti harus dilupakan. Salah satu pengingat masa lalu adalah adanya landmark-landmark yang tak hanya adiluhung dalam hal estetik saja, namun juga menyimpan nilai historisnya sendiri. Namun apa jadinya jika landmark-landmark yang sangat penting sebagai tengaran sejarah tersebut hancur? Jika bangunan tersebut menjadi identitas budaya suatu bangsa, pastilah ada banyak upaya untuk membangunnya kembali. Sama halnya dengan landmark-landmark di bawah ini. Tak hanya mewah, namun keberadaannya juga mencari ciri khas suatu kota dan bahkan suatu negara, maka tak heran bangunan yang sudah hancur inipun dibangun kembali menyerupai baru. Apa sajakah bangunan-bangunan tersebut? Berikut ini adalah list-nya.

1. Frauenkirche (Dresden, Jerman)

461px-Dresden_Frauenkirche_1880

Bundesarchiv_Bild_183-60015-0002,_Dresden,_Denkmal_Martin_Luther,_Frauenkirche,_Ruine

Gereja unik bergaya Baroque ini sering disebut sebagai Katedral Dresden, walaupun resminya gereja ini bukanlah katedral, melainkan gereja Protestan. Selama 2 abad, gereja dengan bentuk kubah unik berbentuk lonceng setinggi 96 meter ini menjadi landmark kota Dresden. Namun gereja yang dibangun pada 1726-1743 ini mengalami nasib naas saat pemboman Sekutu pada Perang Dunia II dan luluh lantak. Konon, saking cintanya para penduduk Dresden akan gerejanya ini, mereka menyelamatkan puing-puing gereja ini (terutama yang berukir) supaya kelak dapat digunakan lagi untuk rekonstruksinya.

Pada 1999, seorang imigran Jerman di AS bernama Günter Blobel meraih nobel kedokteran dan menggunakan seluruh uang hadiahnya tersebut untuk membangun kembali gereja tersebut. Konon sang peraih nobel tersebut terkesan dengan kemegahan Frauenkirche ketika menyaksikannya semasa kecil saat ia menjadi pengungsi di Desden. Gereja ini akhirnya direkonsekrasi pada 2005 dan uniknya, rekonstruksinya sebisa mungkin menggunakan material-material batu aslinya yang berhasil diselamatkan. Hasilnya, terdapat perbedaan warna yang kontras dimana batu lama yang kembali digunakan terlihat lebih gelap.

Dresden_frauenkirche

2. House of the Blackheads (Riga, Latvia)

800px-Riga_house_of_the_blackheads

Namanya keren ya? Sejarahnya juga keren. Blackheads adalah kelompok persaudaraan para saudagar yang memilih hidup selibat alias tidak menikah. Ornamennya yang sangat rumit ini ditambahkan secara berkala antara tahun 1580-1886. Namun sayang, akibat serangan Jerman pada saat Perang Dunia II pada 1941, struktur ini dibom dan diperparah ketika pasukan Soviet menduduki negara Balkan ini tahun 1948. Beruntung, pada tahun 1999, bangunan berarsitektur khas ini kembali direkonstruksi dan kembali menjadi landmark kota di Eropa Timur tersebut.

riga2

3. Yongdingmen (Beijing, Tiongkok)

gl150502050

Dari arsitektur Eropa, kita beralih ke bangunan yang lebih bergaya oriental. Gerbang Yongdingmen di Beijing dahulu menjadi salah satu kunci penting dalam jalur keluar masuk ibu kota kekaisaran Tiongkok tersebut. Dibangun pada 1553, gerbang ini dihancurkan pada 1950 oleh pemerintah Komunis yang sangat sedikit peduli terhadap kelestariann sejarahnya. Namun pada 2005, gerbang indah ini kembali direkonstruksi, walaupun fungsinya sebagai pintu masuk utama ke kota Beijing tak lagi berlaku.

800px-Yongdinggate

4. Cathedral of Christ the Saviour (Moskow, Rusia) dan St. Michael's Golden-Domed Monastery (Kiev, Ukraina)

786px-Christ_saviour_explosion

AE7F8B78-0BFC-4C89-A16C-00E1C6AC5BC8_mw800_mh600

Kedua gereja ini, walaupun terletak di negara yang berbeda, kumasukkan ke dalam satu list karena sama-sama menjadi korban penindasan rezim Komunis. Pemerintahan Soviet memang dengan lantang menindas kebebasan beragama di negara-negara jajahannya, termasuk di tanah airnya sendiri di Rusia. Katedral yang menjadi gereja Kristen Ortodoks terbesar di dunia ini tak seberuntung tetangganya, Katedral St. Basil, karena dihancurleburkan oleh Stalin, pemimpin Komunis saat itu, untuk pembangunan Palace of The Soviets. Akhirnya setelah umat beragama di Rusia memperoleh kebebasan mereka kembali, gereja ini kembali dibangun ke kemegahannya yang semula pada tahun 2000.

pic-S-A-Saint Michaels Monastery (early 20century)  St.-Basil-during-demolition-1935

Bernasib sama seperti gereja Ortodoks di atas, gereja St. Michael's Golden-Domed Monastery ini juga dihancurkan pada masa penjajahan Soviet di Kiev, Ukraina; walaupun gereja Katedral St. Sophia yang terletak tak jauh darinya masih beruntung lolos dari penghancuran. Dibangun pada 1760, gereja ini dibangun dengan gaya Ukrainian Baroque yang amat khas dan tiada duanya.

Konon pemerintah komunis memaksa para sejarawan Ukraina untuk menyetujui aksi penghancuran mereka. Hanya satu profesor sekaligus arsitek, yakni Mykola Makarenko yang menolak menandatangani petisi tersebut, namun tragisnya, beliau kemudian meninggal di penjara lantaran menyuarakan keberaniannya itu. Menyusul kemerdekaan Ukraina pada 1991, gereja berkubah emas ini akhirnya direkonstruksi dan selesai pada 1999, mendengungkan kembali keindahan dan warisan sejarahnya pada dunia.

kiev

5. Stari Most (Mostar, Bosnia)

Mostar-bruecke-1930  27047593_mostar-20-anni-fa-distrutto-il-ponte-poi-ricostruito-me-restano-le-lacerazioni-0

Beranjak ke arsitektur Muslim, jembatan yang namanya berarti “jembatan tua” ini dibangun pada abad ke-16 melewati jurang yang membentang di atas sungai Neretva, Bosnia (negara pecahan Yuglosavia). Berbentuk melengkung seperti pelangi, jembatan ini menghubungkan dua menara yakni menara Halebija dan Tara.

Dibangun pada Kekaisaran Ottoman, jembatan ini merupakan keajaiban arsitektur pada zamannya. Desainnya yang amat “berani” konon membuat Mimar Hayruddin, arsiteknya, mempersiapkan pemakamannya sendiri pada hari jembatan tersebut dibuka karena takut hukuman mati yang akan menimpanya bila jembatan tersebut roboh. Konon, batu-batu yang digunakan untuk membangun jembatan ini disatukan hanya dengan menggunakan adonan putih telur, namun kekokohan jembatan ini terbukti selama 427.

Hingga pada 1993, jembatan ini dimusnahkan oleh tentara Kroasia pada perang Bosnia. Pada 2004, akhirnya jembatan ini direkonstruksi dan dibuka kembali. Tak ayal, jembatan ini menjadi salah satu landmark peninggalan Islam yang tak ternilai di Eropa.

Old-Bridge-Stari-Most-

6. Berlin City Palace (Berlin, Jerman)

800px-Dom_und_Stadtschloss,_Berlin_1900

Istana Berlin atau dalam bahasa Jermannya “Stadtschloss”, merupakan pusat kekaisaran Prussia zaman dulu (kekaisaran yang mencakup Jerman dan Polandia pra-Perang Dunia I). Istana bergaya Baroque ini menjadi kediaman musim dingin bagi para kaisar Jerman pada masa kejayaan mereka. Sayangnya, istana yang dibangun pada 1451 ini lenyap menjadi debu, lagi-lagi karena perang, yakni akibat serangan Sekutu pada 1945.

Ide untuk merekonstruksi istana ini awalnya mendapat tentangan dari rakyat Jerman sendiri karena berbagai alasan. Pertama karena rekonstruksi tersebut dianggap hanya menghambur-hamburkan uang dan kedua, pembangunan kembali istana tersebut hanya akan mengingatkan rakyat Jerman akan sejarah kelam imperialisme negara mereka. Pendapat publik akhirnya berubah setelah kanvas dengan ukuran skala 1x1 dengan ukuran istana aslinya didirikan di lokasi aslinya, menggambarkan kemegahan istana ini pada masa lalu.

BERLIN PALACE

Akhirnya, rencana rekonstruksi istana ini dimulai 2013 dan diharapkan rampung pada 2019. Akan tetapi, karena terbatasnya budget, hanya bagian eksterior istana ini yang masih mempertahankan wujud klasiknya, sementara interornya akan bergaya modern. Selain Stadtschloss, bangunan lain yang menanti rekonstruksi adalah Katedral Berlin atau Berliner Dom. Bangunan berkubah ini juga sempat hancur karena serangan bom dan hasil renovasinya pada 1957 justru mengubah bentuk aslinya dan mengurangi keindahannya secara drastis (terutama bisa dilhat pada bagian “lantern” atau hiasan pada pucuk kubahnya).

758px-Bundesarchiv_Bild_146-1998-014-24A,_Berlin,_Stadtschloss_(Spreeseite),_Berliner_Dom

mv19254cs2   mv1945hcpk

berlin-2-15-29

7. Gyeongbokgung Palace (Seoul, Korea)

800px-Seoul_Gyeongbok-gung-3

Gyeongbokgung atau Istana Gyeongbok menjadi rumah bagi raja-raja Korea pada masa Dinasti Josoen. Istana dibangun pada 1395 ini secara sistematis dihancurkan pada masa okupansi Jepang (setelah terlebih dahulu membunuh secara sadis ratu terakhir monarki Korea). Pada 1916, Jepang membangun Government-General Building bergaya kolonial Barat di atas puing-puing istana yang dulu menjadi kebanggaan Korea. Hal ini tak lain untuk menghapuskan identitas dan kebanggaan diri rakyat jajahannya, Korea.

Japanese_General_Government_Building

Pada 1995, setelah melewati banyak debat kontroversial, bangunan (yang sebenarnya sudah bisa dianggap bersejarah) peninggalan Jepang tersebut dirubuhkan untuk membuka jalan bagi rekonstruksi istana Gyeongbokgung beserta gerbang Gwanghwamun yang menjadi pintu masuk kompleks istana tersebut. Namun restorasi sepenuhnya kompleks istana tersebut bakalan memakan waktu lama, yakni diperkirakan selama 20 tahun, agar bisa mengembalikan keraton Korea tersebut ke keagungannya semula.

8. St Martin's Cathedral dan Cloth Hall (Ypres, Belgia)

ypres2

Kota Ypres yang terkenal indah ini sempat luluh lantak selama Perang Dunia I akibat pertempuran antara Jerman dan Sekutu. Pertarungan yang amat dahsyat tersebut tak hanya memakan korban hingga setengah juta jiwa, namun juga menghancurkan sebagian besar kota tersebut. Salah satunya yang hancur adalah katedral yang telah berdiri sejak 1370 dan juga balai kotanya. Pihak Jerman kemudian mendanai restorasi kota tersebut dengan masih setia mempertahankan tampilan Medieval kedua bangunan di kota tua Ypres tersebut.

ypres   cloth hall

Ypres_grand_place

“City Of Peace” ini bersaudara dengan kota lain yang juga mengalami nasib serupa sebagai korban peperangan, yakni Hiroshima.

9. Hotel de Ville (Paris, Prancis)

Paris-City-Hall-burnt-down-in-1871-LR

HotelVilleParis

Namanya serem ya, tapi arsitekturnya ternyata amat indah. tak heran, letaknya saja di Paris. Bangunan yang dibangun pada 1357 ini menjadi balai kota Paris dengan gaya French Renaissance. Pada 1871, ketika Perang Franco-Prussian, balai kota ini terbakar habis oleh rakyat Prancis yang menentang pendudukan Kerajaan Prussia terhadap negeri mereka. Restorasi kemudian dilakukan sesegera mungkin pada 1873 dan berlangsung selama 19 tahun hingga 1892 untuk benar-benar mengembalikan keindahannya seperti semula.

10. Reichstag (Berlin, Jerman)

Reichstagsgebaeude

573px-Reichstag_after_the_allied_bombing_of_Berlin

Jika proses rekonstruksi bangunan-bangunan di atas sangat setia pada bentuk aslinya, maka kasus yang satu ini amatlah berbeda. Reichstag merupakan gedung parlemen Jerman yang dibangun oleh arsitek Paul Wallot pada 1894 dengan gaya klasik khas Eropa. Sayangnya setelah kebakaran yang melandanya pada 1933 dan kisruh Perang Dunia II dimana Jerman terbagi menjadi Barat (Liberal) dan Timur (Komunis), bangunan ini dibiarkan terbengkalai dalam kondisi memprihatinkan.

Setelah unifikasi Jerman pada 1990, rencana untuk mengembalikan kejayaan gedung parlemen inipun dilaksanakan. Arsitek Norman Foster yang dipasrahi rencana restorasi tersebut memang mengembalikan bentuk awal Reichstag dengan gaya klasiknya, terkecuali bagian kubahnya yang justru disulap menjadi gaya modern yang ternyata tak mengecewakan. Kubah kaca di puncak gedung ini dirancang menjadi platform observasi dimana para pengunjung dapat menikmati pemandangan fantastis kota Berlin saat malam. Karena daya tariknya tersebut, Reichstag menjadi magnet wisatawan terbesar di Jerman, hanya setingkat di bawah Katedral Cologne.

800px-Berlin_-_Reichstag_building_at_night_-_2013

reichstag-dome620_1863729b

BONUS

Butcher’s Guild Hall (Hildesheim, Jerman)

220px-Knochenhaueramtshaus_1900

Tak salah memang memasukkan bangunan ini ke postingan ini soalnya gue kebetulan juga membahas tentang rumah tradisional “half-timbered” di postingan gue yang lain. Butcher’s Guild Hall atau bahasa Jermannya “Knochenhaueramthaus” kini merupakan restoran dan museum yang terkenal dengan pasar Natal yang selalu dilaksanakan di depannya setiap November – Desember. Bangunan berlantai tujuh dengan tinggi 26 meter inidibangun pada 1529 namun hancur karena serangan bom pada Perang Dunia II bersama bangunan-bangunan bersejarah lainnya di kota tersebut.

Setelah itu, bangunan ini sempat dirubuhkan dan di atasnya didirikan sebuah bank bergaya modern. Namun pada 1980-an, bank tersebut bangkrut dan pemerintah memutuskan mengambil alihnya untuk mengembalikan Pasar Natal ke kondisinya yang semula. Rencana tersebut banyak didukung warga setempat yang tak hanya mendonasikan uang, namun juga foto-foto tua rumah tersebut yang ternyata sangat terbukti dalam menjaga keaslian rupa hasil restorasinya.

Tak hanya desainnya yang sama persis, bahan pembangunannya pun menggunakan kayu-kayu yang sudah berumur ratusan tahun. Pada 1989, rumah tradisional inipun akhirnya selesai direkonstruksi dengan biaya mencengangkan, mencapai 7 juta euro, namun tentu setimpal dengan keindahannya dan warisan sejarah yang tetap terjaga hingga anak cucu mereka nantinya.

Hildesheim_Knochenhaueramtshaus_Hildesia

Apa yang bisa kita pelajari dari list di atas. Well, ternyata bangsa di luar begitu menghargai sejarahnya dan mati-matian membangun kembali warisan masa lalunya. Bagaimana dengan bangsa kita? Jangan sampai malah kita tak menjaga bahkan merusak warisan sejarah dan budaya yang sudah ada dan masih berdiri hingga saat itu. Kalau sudah hilang, nah lho, barulah kita menyesal.

No comments:

Post a Comment