Saturday, February 1, 2014

URBAN LEGEND #3: VILLAGE IN THE ATTIC

 
VILLAGE IN THE ATTIC
SEBUAH DESA DI LOTENG
 
Ada seorang anak baru di kelasku suatu hari ini. Ia tak pernah berbicara dengan siapapun, jadi dia tak memiliki satupun teman. Saat istirahat, ia hanya meletakkan kepalanya di atas meja dan mulai menangis sesenggukan. Aku mulai penasaran dengan dirinya dan memutuskan untuk mengajaknya ngobrol.

“Kamu selalu kelihatan sedih. Apa ada yang ingin kauceritakan padaku?”

Ia tampak sedikit gemetar, namun akhirnya ia mau menceritakan padaku tentang dirinya.

Ia mengatakan, sekitar sebulan yang lalu, sesuatu yang sangat buruk terjadi padanya. Ia sedang duduk bermain video game di kamarnya ketika tanpa sengaja ia mendongak dan melihat sebuah papan di langit-langitnya terlihat sudah dipindahkan. Dari situ, ia bisa melihat kegelapan pekat yang ada di dalam loteng rumahnya. Bukannya takut, ia malah mengambil sebuah kursi dan senter, lalu naik ke sana.

Ketika sampai di atas, ia merasa terkejut akan betapa luasnya loteng rumahnya tersebut. Bahkan dengan senter, tampaknya kegelapan menyebar tanpa batas di sana. Rasa ingin tahunya membuatnya menjelajahi loteng tersebut. Namun setelah beberapa lama, senternya mati dan iapun mulai ketakutan. Ia mencoba mencari jalan keluar, namun sekeras apapun ia mencari, ia sepertinya tak bisa menemukan lubang dimana ia masuk tadi. Ia mencoba terus berjalan, namun kegelapan itu sepertinya tak ada habis-habisnya.

Ia tersesat di dalam loteng rumahnya sendiri.

Ia terus berjalan dan berjalan, ia akhirnya menemukan cahaya yang lemah di kejauhan. Ia segera berlari menghampirinya karena yakin itulah jalan pulang menuju kamarnya. Namun semakin dekat, iapun menyadari bahwa sumber cahaya itu bukanlah kamarnya. Ia tak yakin, namun ia melihat sebuah desa dari kejauhan.

Sebuah desa di loteng rumahnya.

Karena sudah merasa putus asa, iapun berjalan menuju desa itu, berharap di sana ia mungkin dapat menemukan jalan untuk kembali.

Ia mulai gemetar kembali dan air mata menetes di pipinya.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, namun aku melakukan sebisanya untuk menghiburnya.

“Sudahlah, tenang. Semuanya baik-baik saja sekarang.” Aku menepuk pundaknya, “Aku tahu pengalaman itu menakutkan. Namun kamu aman sekarang. Jangan menangis lagi.”

Perlahan, ia mendongakkan kepalanya dan menatapku. Air mata masih mengalir di wajahnya. Apa yang dikatakannya kemudian nyaris membuat jantungku berhenti.

“Tapi aku masih belum menemukan jalan keluar dari desa itu...”

16 comments:

  1. berarti si 'AKU' adalah salah satu penduduk di DESA DI ATAS LOTENG tersebut!

    ~W

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin KITA SEMUA adalah penduduk desa di loteng tersebut ....

      Delete
    2. 'KITA'?? Please jangan bawa aku OM!

      ~W

      Delete
    3. Mungkin BIMA SATRIA GARUDA adalah penduduk desa di loteng tersebut ....

      Delete
    4. APA??? Berarti ada Stella Cornelia dong??? #langsung kemas2 barang#

      Delete
  2. Berarti si anak baru ini berasal dari dunia lain

    ReplyDelete
  3. si Aku juga tersesat kayaknya dan ga nyadar kalau tersesat???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mereka tersesat dan tak tahu arah jalan pulang *jadi butiran debu dong?*

      Delete
  4. Jadi si anak baru itu ternyata sekolah yg berada di desa yg dia temukan di loteng rumahnya. Kan dia bilang masih tersesat sampai sekarang. Jadi semua orang termasuk AKU itu adalah warga desa tsb.

    ReplyDelete
  5. seberapa besarkah rumah anak baru itu? penasaran saya. kok bisa-bisanya ada desa di dalam loteng rumah. dunia lain itu jangan2. jangan2... jangan!
    ada kemungkinan anak baru itu tanpa sengaja ditarik ke dunia lain.

    -yeos-

    ReplyDelete
  6. AKU tersesat di dunia lain... raganya kosong jadi diisi sama makhluk lain *ingat film insidious*

    ReplyDelete
  7. si anak mimpi kali ya??? atau dia hantu:D

    ReplyDelete
  8. mungkin tubuhnya masih di dunia nyata bang.. tapi jiawanya msh di desa itu

    ~ KDR

    ReplyDelete
  9. mungkin langit2 yg papannya dicopot itu jadi kayak portal, entah ke dunia lain, atau hanya ke tempat lain, atau ke dimensi waktu lain

    ReplyDelete
  10. sebenarnya rumah anak itu adalah kuburan,
    lotengnya liang lahat
    dan dia naik ke lotengnya tersebut yaitu saat malam hari
    jadi saat dia melihat cahaya mungkin sudah fajar

    ReplyDelete