Mulia
merasakan panas yang amat dahsyat menyengat tubuhnya. Ia terbaring di
tanah. Dilihatnya tangannya telah gosong. Bau mayat terbakar
menyeruak di udara, membuatnya muak. Namun kemudian ia sadar, mungkin
saja bau itu adalah aroma kulitnya sendiri yang terbakar. Dilihatnya
refleksi wajahnya di kaca jendela yang masih tersisa. Mukanya telah
hancur.
Namun
tak apa.
Yang
penting ia masih hidup, tak berubah menjadi makhluk menyedihkan
seperti mereka.
Ia
hendak bangkit, namun kemudian ia jatuh tertelungkup lagi di tanah.
Ada yang
menggenggam erat kakinya.