Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Wednesday, December 4, 2024

KASUS PEPSI NUMBER FEVER DI FILIPINA: SEANTERO NEGARA GEGER GARA-GARA UNDIAN

Hello guys! Ini adalah sekelumit artikel bertema sejarah yang gue tulis di Karyakarsa. Jika kalian ingin membaca lebih banyak artikel seperti ini, ikuti saja link di bawah ini ya (atau masuk saja ke halaman utamanya lalu pilih “Karya”, lalu geser ke kanan dan pilih “History”.

https://karyakarsa.com/dave.cahyo/posts?tag=History

Sebagai produk minuman bersoda, Pepsi masih kalah tenar dibandingkan rival bebuyutannya, Coca Cola, Sprite, dan Fanta. Karena itulah, perusahaan Pepsi di Filipina melancarkan rencana yang bisa demi mendongkrak popularitas brandnya. Namun sayang, ide tersebut justru menjadi bumerang dan menyebabkan kekacauan di Filipina, bahkan berujung pada kerusuhan dan kematian lima orang.

Rencana itu adalah dengan mengadakan undian berhadiah miliaran.

Monday, November 25, 2024

THE AMERICAN VAMPIRE: KISAH MERCY BROWN, SANG WANITA VAMPIR ASAL RHODE ISLAND?

 Hello guys! Ini adalah sekelumit artikel bertema sejarah yang gue tulis di Karyakarsa. Jika kalian ingin membaca lebih banyak artikel seperti ini, ikuti saja link di bawah ini ya (atau masuk saja ke halaman utamanya lalu pilih “Karya”, lalu geser ke kanan dan pilih “History”.




Kalo ditanya darimana sih novelis Bram Stoker mendapat inspirasi akan cerita termashyurnya “Dracula” yang memulai trend “vampir” dalam literatur hingga film? Banyak yang bilang Count Dracula terinspirasi oleh sosok Vlad the Impaler, pangeran asal Transylvania, Rumania yang kastilnya masih ada hingga kini. Namun tak banyak yang tahu bahwa Bram Stoker terinspirasi untuk menulis novelnya yang legendaris setelah membaca sebuah berita dari Amerika Serikat tentang seorang gadis yang dijangkiti “vampirisme”. Gadis itu bernama Mercy Brown dan kasus yang menghampirinya disebut sebagai “Mercy Brown vampire incident”.

Seperti apakah kisahnya? Mari kita simak bersama.

Wednesday, November 20, 2024

INDONESIAN HIDDEN HISTORY: ADA PAHLAWAN KOREA DI GARUT?

Hello guys! Ini adalah sekelumit artikel tentang sejarah Indonesia yang gue tulis di Karyakarsa. Jika kalian ingin membaca lebih banyak artikel seperti ini, ikuti saja link di bawah ini ya (atau masuk saja ke halaman utamanya lalu pilih “Karya”, lalu geser ke kanan dan pilih “Misteri Nusantara”.

https://karyakarsa.com/dave.cahyo/posts?tag=Misteri%20Nusantara

Hallo guys. Sekarang, saatnya kita bahas dulu artikel yang gue kemas spesial untuk menyambut Hari Pahlawan. Nah, buat ngerayain Hari Pahlawan yang jatoh bulan kemaren, gue akan mengangkat kisah salah satu pahlawan Indonesia yang mungkin belum kalian kenal, yakni Komarudin. Namun yang mengejutkan, pejuang kemerdekaan asal Garut ini sesungguhnya adalah orang Korea.

Hah kok bisa ada yang namanya Komarudin tapi asalnya dari Korea? Terus gimana ceritanya ahjussi ini bisa nyasar ampe ke Garut?

Saturday, January 29, 2022

PRAHARA HOUSE OF VANDERBILT: KISAH JATUHNYA KELUARGA TERKAYA DI AMERIKA SERIKAT

Akhir abad ke-19 merupakan zaman keemasan bagi sistem kapitalis di Amerika yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan finansial yang amatlah pesat. Pada masa itu, banyak muncul keluarga-keluarga terkaya, semisal keluarga Rockefeller, Carnegie hingga Vanderbilt. Tiba-tiba saja Eropa bukan lagi menjadi pusat kemakmuran dunia, melainkan bergeser ke Amerika Serikat. Namun walaupun demikian, kisah keluarga Vanderbilt adalah yang paling miris dan menggelitik di antara keluarga-keluarga terkaya di dunia itu.

Kita sudah membahas tentang keluarga Rothschild yang merupakan keluarga terkaya di dunia, namun siapakah keluarga Vanderbilt? Keluarga Vanderbilt sempat menjadi keluarga terkaya di muka planet ini berkat monopoli mereka di bisnis perkeretaapian di Amerika Serikat. Namun status adidaya mereka hanyalah bertahan 3 generasi. Pada tahun 1973, ketika para keluarga Vanderbilt berkumpul untuk reuni keluarga, tidak ada satupun dari mereka yang masih menyandang status sebagai miliuner. 

Namun bagaimana sebuah salah satu keluarga terkaya di dunia justru merosot menjadi seperti ini hanya dalam beberapa generasi? Inilah kasus kejatuhan keluarga Vanderbilt dan bagaimana mereka bisa kehilangan seluruh kekayaan mereka.

KONSPIRASI SIFILIS TUSKEGEE: TRAGISNYA DISKRIMINASI TERHADAP KAUM KULIT HITAM DI AMERIKA

Mungkin kalian udah nggak asing lagi ya ama gerakan BLM atau “Black Lives Matter” di Amerika sana dimana para penduduk kulit hitam mengaku mereka senantiasa mendapatkan diskriminasi dari penduduk kulit putih, bahkan sering menjadi korban kekerasan polisi. Namun apa benar semua klaim tersebut? Benarkah kehidupan kaum kulit hitam di sana begitu menggenaskan. 

Nah, gue akan kenalkan kalian pada sebuah skandal bernama "Eksperimen Sifilis Tuskegee", yakni sebuah eksperimen tak beretika dan tak bermoral yang dilakukan pemerintah AS terhadap penduduk kulit hitam dengan dali “penelitian sains”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati riwayat penyakit sifilis yang tidak diobati. Mungkin kedengaran mulia ya, akan tetapi cara pemerintah AS melakukan eksperimen tersebut sungguhlah tak berperikemanusiaan.

Seperti apa ceritanya? Mari kita simak bersama dalam Dark History kali ini.

NB: Jangan harap kasusnya kayak “Russian Sleep Experiment” yeeee, nggak sesadis itu kok.

Friday, July 23, 2021

LEGENDA MENGHILANGNYA PASUKAN LEGIO IX HISPANA DAN PASUKAN RAJA CAMBYSES II: MISTERI KELENYAPAN MASSAL YANG TAK TERPECAHKAN

Salah satu kasus yang paling menarik perhatian gue adalah kasus-kasus dimana seseorang menghilang secara misterius tanpa bisa dijelaskan penyebabnya. Termasuk salah satunya adalah kasus tentang hilangnya dua pasukan pada masa kuno yakni Legio IX Hispania dari zaman Romawi kuno pada abad ke-1 M dan pasukan Raja Cambyses II dari Persia yang menghilang dan gurun pasir Mesir pada abad ke-xx

Kedua kasus ini sangat menarik karena sering gue dengar di film-film horor sebagai referensi akan kasus-kasus yang tak bisa dijelaskan oleh nalar. Pasalnya kalau cuman 1 atau 2 orang yang menghilang, pasti ada banyak penjelasan yang sesuai dengan akal sehat. Namun bagaimana apabila ribuan dan puluhan ribu orang tiba-tiba lenyap dalam waktu yang sama  tanpa adanya jejak yang bisa menjelaskan tentang alasan mereka menghilang? Apakah yang bisa menyebabkan peristiwa tersebut menimpa mereka?

Mari kita bahas tentang kasus hilangnya dua tentara pada masa kuno ini dalam Dark History kali ini.

Sunday, July 11, 2021

SIAPAKAH SANG PRIA DIBALIK TOPENG BESI? INILAH “THE MAN IN THE IRON MASK”, MISTERI TERBESAR DALAM SEJARAH PRANCIS

 

Mungkin kalian pernah mendengar legenda tentang “The Man in the Iron Mask” atau “pria dibalik topeng besi” yang cukup terkenal dari Prancis. Konon pada abad ke-17, seorang pria misterius muncul di sejumlah penjara di Prancis. Narapidana itu disebut-sebut senantiasa mengenakan topeng besi untuk menyembunyikan wajah aslinya. Tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya dan misteri senantiasa ikut menyelubunginya kemanapun ia pergi. Karena kerahasiaan sang tahanan misterius itu, banyak yang menduga bahwa pemerintah kerajaan Prancis sengaja menyembunyikan identitasnya. Bahkan ketika ia meninggal pada 1703, kabut misteri tentang siapa dia sebenarnya tak pernah tersibak dengan jelas.

Tak ada yang pernah melihat wajahnya. apalagi mengetahui nama aslinya. Karena itu, pria itupun disebut sebagai “The Man Behind the Iron Mask” atau “pria dibalik topeng besi”, walaupun sesungguhnya ia tak pernah mengenakan topeng besi, melainkan sebuah topeng yang terbuat dari beludru hitam. Namun apapun yang dikenakannya, misteri yang menyelimutinya tetaplah menarik perhatian banyak pihak, termasuk para penulis Prancis yang mengabadikannya dalam berbagai karya sastra.

Namun siapakah dia sebenarnya dan mengapa kerajaan Prancis begitu getol menyembunyikan identitasnya? Inilah kisah misteri yang menyelubungi pria di balik topeng besi ini.

MADAME DE MONTESPAN: SANG “PENYIHIR” YANG NYARIS MENJADI RATU PRANCIS

 

Nama Madame de Montespan mungkin tidak seterkenal Marie Antoinette, sang ratu Prancis yang bernasib tragis karena memicu Revolusi Prancis. Namun kedua nama tersebut sama-sama memiliki sejarah kelam. Madame de Montespan dikenal sebagai wanita simpanan Raja Louis XIV dimana ia mendominasi politik di istana Versailles, bahkan lebih populer ketimbang sang ratu alias istri sah dari Raja Louis sendiri. Terlahir dalam keluarga bangsawan yang borjuis, Madame de Montespan tentulah memiliki gaya hidup bergelimpang kemewahan. Tapi justru bukan gaya hidupnya mewah dan skandal seksnya yang mencuri perhatian publik kala itu, namun tuduhan serius (pada masa Eropa kuno) yang dilontarkan kepadanya.

Yakni bahwa ia mengguna-guna sang raja untuk mendapatkan posisinya tersebut, bahkan mempraktekkan ilmu gaib sebagai seorang penyihir wanita.

Apakah benar wanita yang dijuluki “the true queen of France” alias “ratu sejati Prancis” pada masa pemerintahan Louis XIV ini memang benar seorang penyihir? Ataukah itu hanya gosip miring, sama seperti yang dialami oleh Marie Antoinette, yang akhirnya berujung pada eksekusinya?

Mari kita bahas bersama-sama dalam Dark History kali ini.

Sunday, July 4, 2021

MADAGASCAR PLAN DAN NEGERI “IMPIAN” PARA KAUM YAHUDI SELAIN ISRAEL

 

SUMBER GAMBAR

Hallo guys! Kapan itu gue bikin pengumuman di Karyakarsa gue untuk minta ide postingan buat kalian dan sobat setia Karyakarsa gue Riani Azhafa mencetuskan ide yang cukup gue bikin penasaran. Isinya adalah tentang “Madagascar Plan” dan karena gue belum pernah dengar tentang hal itu, gue iseng-iseng browsing tentangnya dan isinya cukup mind-blowing. Jadi sebelum Holocaust terhadap kaum Yahudi terjadi pada Perang Dunia II, ternyata sudah ada beberapa rencana dari berbagai pihak (bahkan Hitler sendiri) untuk memindahkan secara damai umat Yahudi ke sebuah “tanah perjanjian” di luar Eropa. Sayang, rencana-rencana eksodus besar-besaran kaum Yahudi ini hanya berakhir menjadi “wacana” seperti rencana bukber kalian.

Gara-gara rencana-rencana ini gagal, akibatnya umat Yahudi dimusnahkan dalam genosida yang disebut dengan “Holocaust” pada Perang Dunia II dan akibat tidak langsungnya, mereka yang tersisa kemudian mendirikan negara Israel di tanah suci Palestina. Nah, unik juga sih jika kita membayangkan jika saja rencana pemindahan ini berjalan lancar, maka mungkinkah penduduk Palestina di Timur Tengah sana akan damai, atau malah muncul konflik baru? Lalu tanah-tanah perjanjian manakah yang diperuntukkan sebagai rumah baru kaum Yahudi ini? Simak saja artikel berikut ini.

Tuesday, June 1, 2021

RAJA CHARLES II DARI SPANYOL: SANG RAJA MALANG HASIL “ROYAL INCEST”

Kalian pasti pernah mendengar kasus“incest” (tapi bukan Incess Syahrini loh ya), bahkan gue udah beberapa kali membahasnya seperti kasus katie Pladl dan juga incest dalam keluarga Borgia. Mungkin kita membayangkan incest cuma ada di “Sweet Home Alabama” alias kaum kulit putih yang tinggal di pedesaan terpencil yang kerap disebut sebagai “hillbilly” atau “rednecks”, seperti yang menginspirasi film horor semacam “The Hills Have Eyes” dan “Texas Chainsaw Massacre”. Namun ternyata, incest justru marak di royal family berbagai kerajaan Eropa. Penyakit hemofilia yang menurun dalam keluarga Inggris semisal, diduga disebabkan oleh kebiasaan incest yang dilakukan dari generasi ke generasi.

Namun kasus incest paling heboh terjadi di Spanyol dimana sang raja yang berkuasa kala itu, Charles II, memiliki fisik yang amat tak biasa, bahkan rentan akan berbagai penyakit hingga akhinya meninggal tanpa memiliki keturunan (mandul). Banyak sejarawan yang berpendapat bahwa yang dialami Charles II ini sesungguhnya merupakan tumpukan kelainan genetik yang disebabkan oleh kebiasaan incest di dalam keluarga kerajaan Spanyol.

Dear readers, inilah kisahnya.

KISAH KELAM CASANOVA: SANG PLAYBOY LEGENDARIS

Apakah yang terbayang di benak kalian kala mendengar kata Casanova? Casanova merupakan nama seorang pria asal Italia yang hidup pada abad ke-18 yang hingga kinipun, namanya terabadikan sebagai pria playboy yang memiliki banyak kekasih. Kisahnya dianggap sebuah kisah romantis dan “keberhasilan” pria dalam memikat banyak wanita. Namun benarkah jika kita berpendapat demikian? Apakah kisah Cassanova merupakan bukti kesuksesan seorang lelaki? Ataukah kisahnya merupakan penanda kebejatan akhlak dan juga kemerosotan moral?

Kita simpulkan saja setelah mendengar tentang kisah sang playboy legendaris ini.

KISAH TRAGIS MARIE ANTOINETTE: SANG RATU PRANCIS KORBAN HOAX


Princess de Lamballe keluar dari penjaranya, hanya untuk menyaksikan bahwa ratusan mayat tergeletak di halaman, dibantai dengan kejam dengan tubuh terpotong-potong. Sang putri hendak berteriak, namun massa mulai mengeksekusinya dengan menusuk dan memenggal kepalanya. Terakhir, kepalanya ditancapkan ke sebuah pancang dan dibawa berkeliling di penjuru kota Paris dan berakhir di depan penjara sahabatnya, Marie Antoinette.

Dari paragraf itu, mungkin kalian tak menyangka bahwa sekelam itulah Revolusi Prancis yang terjadi pada abad ke-18. Peristiwa yang terpicu akibat strata sosial yang begitu timpang antara kaum borjuis dengan rakyat jelata itu memang tak pernah berjalan dengan damai, melainkan dipenuhi oleh pertumpahan darah. Namun membicarakan peristiwa berdarah tersebut, sangatlah tak afdol jika kita tidak mengaitkannya dengan Ratu Marie Antoinette yang konon karena gaya hidupnya yang glamor, berujung pada nasib tragis serta mengubah arus sejarah untuk selamanya.

Namun benarkah semua berita miring yang kita dengar tentang sang ratu> benarkah hanya karena satu wanita, arus sejarah Prancis, atau bahkan Eropa dan seluruh dunia tiba-tiba berubah. Bagaimana seorang wanita mengubah nasih sebuah bangsa hanya dalam sekejap mata?

Inilah kisah dari sang ratu Prancis paling terkenal.

Saturday, May 1, 2021

RIWAYAT RANAVALONA I: SALAH SATU RATU TERKEJAM DALAM SEJARAH DUNIA

 

Siapakah pemimpin wanita terkejam dalam sejarah? Mungkin ada yang menjawab Kaisar Wu Zetian di dinasti Tiongkok kuno atau Queen Mary dari dinasti Tudor Inggris yang karena kekejamannya sampai dijuluki sang “Bloody Mary”. Namun rupanya jika kita menghitung jumlah korbannya, kedua masih terbilang kalah sadis dengan ratu dari negeri antah berantah ini. Ranavalona I adalah nama ratu yang pernah berkuasa di Madagascar, sebuah pulau di sebelah tenggara Afrika. Namanya memang masih asing di telinga kita, namun jangan salah. Di bawah kepemimpinannya yang bertangan besi, populasi Madagascar saat itu turun drastis dari 5 juta menjadi 2,5 juta hanya dalam waktu 6 tahun.

Dengan kata lain, sang ratu ini dengan keji melenyapkan separuh populasi pulaunya sendiri.

Siapakah Ranavalona ini dan seperti apa riwayat kekejamannya? Kita simak saja di Dark History kali ini.

BATTLE OF LOS ANGELES: SERANGAN ALIEN ATAUKAH HISTERIA MASSAL SEMATA?

 

Hingga kini apa yang sebenarnya melayang di langit malam kala Battle of LA terjadi masihlah menjadi misteri

Pernah dong menonton film-film bergenre alien invasion semisal “Independence Day” atau “War of The Worlds” yang berkisah tentang serangan alien di kota-kota besar di Amerika Serikat, semisal New York dan Washington DC (biasanya dengan efek CGI dimana landmark-landmark ikonik dihancurkan)? Nah, ternyata hal tersebut bukan hanya imajinasi Hollywood semata? Peristiwa serupa pernah (atau diduga pernah) terjadi di California, Amerika Serikat. Kala itu penduduk AS tengah tegang karena mereka terlibat perang dengan Jepang pada Perang Dunia II setelah Jepang dengan terang-terangan menyerang pangkalan militer Pearl Harbor di Hawaii. Kala itu, mengingat lokasi Jepang dan pantai barat Amerika yang “hanya” dipisahkan oleh Samudra Pasifik, pihak militer AS cukup yakin bahwa cepat atau lambat, Jepang akan menyerang wilayah benua Amerika demi menunjukkan dominasi mereka, sama halnya seperti Jerman yang menduduki berbagai negara di Eropa.

Ketakutan mereka mengejawantah ketika pada malam hari, antara 24 dan 25 Februari 1942, terjadi sebuah peistiwa misterius yang menggoncang negara tersebut. Kala itu langit kota Los Angeles riuh redam dan terang benderang akibat suara tembakan yang membelah keheningan malam. Pihak militer kala itu menembakkan amunisi mereka tiada henti karena melihat sesuatu di langit yang mereka yakini sebagai pesawat tempur Jepang, musuh bebuyutan mereka. Namun di sinilah letak keanehannya. Jepang sendiri menampik keterlibatan mereka dan menyanggah, bahwa serangan udara yang terjadi pada malam itu merupakan perbuatan mereka. Lalu apakah yang melayang di langit dan menyebabkan kepanikan massal kala itu?

Misteri itu masihlah belum terjawab hingga sekarang, namun ada pihak yang menyebut, bahwa jawaban dari misteri itu sesungguhnya ada di depan mata mereka.

Yakni serangan kapal-kapal luar angkasa atau UFO.

Benarkah teori itu, bahwa di tengah Perang Dunia II, kota Los Angeles hampir saja diluluhlantakkan oleh kunjungan alien? Kita akan kupas tuntas teori tersebut di Dark History kali ini.

Friday, April 30, 2021

CHERNOBYL DIARIES 2: PART 2 – BAGAIMANA CHERNOBYL NYARIS MEMUSNAHKAN KEHIDUPAN DI EROPA, BAHKAN DUNIA

 

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Kinare Amarill. Thanks!

Dari seri pertama (yang amat panjang) tentang Chernobyl kita sudah membahas sains di balik cara bekerjanya sebuah PLTN serta apa penyebab ledakan di PLTN Chernobyl di Pripyat kala itu. Perlu kita ingat bahwa PLTN Chernobyl memiliki 4 reaktor dan ledakan kala itu hanya terjadi di reaktor nomor 4. Namun ini saja cukup untuk memulai sebuah efek domino yang berpotensi menyapu seluruh kehidupan yang ada di Eropa. Kini, reaktor nomor 4 yang sama sekali tak terlindungi oleh RPV seperti reaktor nuklir lain pada umumnya,

Ledakan tersebut tak melukai secara langsung para teknisi yang sedang bekerja dari ruang kontrol, termasuk Anatoly, Aleksander, dan Leonid, namun terdengar keras hingga membangunkan seantero warga Pripyat. Grafit, yang merupakan moderator reaktor yang menahan inti uranium tersebut, terpental ke udara, melepaskan radiasi yang amat mematikan.

Monday, April 26, 2021

CHERNOBYL DIARIES: PART 1 – INILAH AKIBATNYA JIKA KALIAN MEMAKAI REAKTOR NUKLIR “HARGA TEMEN”

 

PLTN Chernobyl

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Kinare Amarill. Thanks!

Sudah menonton serial HBO berjudul “Chernobyl” yang merupakan re-interpretasi Hollywood tentang bencana Chernobyl di Ukraina (dulu jajahan Uni Soviet) pada 1986? Well, gue sarankan sih jangan (kecuali kalian penggemar drama-drama bertema berat) karena nggak hanya “slow burn” namun nuansanya amat kelam dan menyebabkan depresi. Namun mungkin itulah yang dialami penduduk Chernobyl kala itu dibawah cengkeraman rezim Komunis Rusia. Tapi drama tersebut (walaupun tak sepenuhnya 100% akurat karena tentu harus ada dramatisasi untuk membuatnya makin komersil) membuat gue sadar akan satu fakta yang selama ini gue abaikan.

Selama ini gue menganggap Uni Soviet sebagai pihak jahat yang akibat kelalaiannya menyebabkan bencana nuklir terburuk dalam sejarah itu. Namun kenyataannya, Uni Soviet juga merupakan “pahlawan” sebab seandainya mereka tidak bertanggung jawab atas insiden tersebut, seluruh kehidupan di Eropa mungkin akan musnah tak berbekas dan seluruh benua biru itu akan menjadi benua mati. Jika seluruh Eropa mati, maka well, jelas dampaknya akan dirasakan di seluruh dunia, at least impact ekonominya.

Mengejutkan memang, namun sebuah kesalahan yang terjadi pada Sabtu malam, 26 April 1986 itu bisa saja menimbulkan sebuah Butterfly Effect yang begitu mematikan hingga bisa mengancam keberadaan kehidupan di dunia ini akibat pancaran radiasi mautnya.

Namun mengapa bencana itu bisa sedemikian berbahaya? Apa penyebabnya dan bagaimana kita akhirnya bisa menghindari bencana yang mungkin saja bisa menimbulkan pergolakan politik dan sosial yang sedemikian dahsyat itu (jika saja seluruh Eropa menjadi benua mati tentu efeknya akan sangat drastis bagi sejarah dunia ini)?

Dear readers, silakan simak Dark History kali ini untuk mengetahui jawabannya.

SEJARAH PARA ASSASSIN: WARISAN TIMUR TENGAH YANG PALING DITAKUTI

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Adhitya Sucipto. Thanks!

Kalian tentu tak asing lagi dengan istilah “assasin” alias pembunuh. Kata yang terserap ke Bahasa Inggris ini sesungguhnya berasal dari bahasa Arab. Alasannya, Assassin adalah nama ordo pembunuh yang benar-benar ada di Timur Tengah kuno sana. Ordo Assassin berdiri pada tahun 1090 hingga akhirnya berakhir pada 1275. Namun siapakah Ordo Assassin ini sebenarnya?

Assassin sesungguhnya adalah nama sebuah cabang ajarah Syi’ah yang bernama sekte Nizari yang merupakan penganut mazhab Ismaili. Kaum Nizari mendapatkan permusuhan baik dari kaum Muslim Sunni maupun dari kaum Syi’ah mainstream sendiri, sehingga mereka harus bersembunyi di daerah pegunungan di antara Persia dan Syria. Karena hanya berjumlah sedikit, maka mereka mengembangkan sebuah metode unik untuk mempertahankan diri. Mereka mengutus para pembunuh dari klan mereka sendiri untuk menghabisi lawan politik mereka secara diam-diam. Cara ini dianggap lebih menguntungkan daripada berperang dengan pasukan melawan musuh mereka, yang jelas akan membuat mereka kewalahan karena sedikitnya jumlah mereka. Tak jarang, mereka juga “mengomersilkan” jasa mereka dengan bersedia menjadi pembunuh bayaran bagi berbagai pihak yang berani membayar mereka. Kisah para Assassin ini tentu menjadi cacatan hitam yang cukup tabu bagi dunia Muslim Timur Tengah kuno.

Seperti apakah sepak terjang para Assassin ini hingga nama mereka tetap terabadikan di dunia modern ini? Kita simak saja kisah para Assassin ini di Dark History kali ini.


THE DAWN OF THE ASSASSIN


Inilah lukisan Hassan I, grand master pertama sekaligus pendiri Ordo Assassin


Pendiri Orde Assassin adalah pria bernama Hassan-i Sabbah. Baik Hassan maupun ayahnya merupakan penganut mazhab Ismaili, salah satu aliran dalam ajaran Syi’ah. Kala itu Hassan dan keluarganya tinggal di kota Rayy, Iran. Namun penguasa kota Rayy kala itu, Nizam al Mulk, ternyata amat membenci para penganut Syi’ah sehingga iapun mengusir Hassan dan keluarganya dari Persia. Hassan kemudian mengungsi ke tempat ayahnya yang tinggal di Kairo. Kala itu Kairo merupakan ibu kota Kekhalifamah Fatimiyah yang juga bermazhab Ismaili.

Namun di sana Hassan kembali terlibat masalah. Kala itu Kekhalifahan Faitimiyah tengah gonjang-gonjing karena kematian sang khalifah mereka, yakni al-Mustansir Billah. Sang khalifah kala itu memiliki dua anak yang bersengketa dan berebut tahta. Ayah Hassan kala itu mendukung Nizar, sang putra tertua khalifah. Namun pemenang sengketa adalah adiknya, al-Musta’li, sehingga keluarga Hassan dan pengikutnya yang tadinya mendukung Nizari pun akhirnya diusir dari Kairo. Karena mendukung Nizar, maka para pengikut Hassan pun disebut Nizari. Sekte Nizari (yang tadi merupakan cabang mazhab Ismaili dari aliran Syi’ah) kini mendapat dua musuh, yakni kaum Sunni (yang sejak awal memang menentang keberadaan aliran Syi’ah) dan juga dari kaum Ismaili (Syi’ah) sendiri yang memenangkan sengketa di Kekhalifahan Fatimiyah.

Namun Hassan kurang sreg dengan istilah “Nizari” ini sehingga kemudian memanggil para pengikutnya sebagai para “Assassin” yang berasal dari kata “asas”. Arti dari kata “Assassin” sendiri adalah orang-orang yang memiliki prinsip atau asas. Tak diterima baik di Timur Tengah, para pengikut sekte Nizari ini kemudian bersembunyi di pegunungan antara Persia dan Suriah. Kaum Assassin kemudian merebut kastil Alamut dan Lambsar di wilayah pegunungan dekat Laut Kaspia yang kemudian mereka gunakan sebagai benteng pertahanan.


Inilah peta wilayah Assassin, berada di tengah County of Tripoli dan Principality of Antioch yang dikuasai pasukan Salib Kristen dari Eropa. Mereka juga bertetangga dengan Kerajaan Yerusalm (milik Eropa), Kekhalifahan Fatimiyah, dan Kekaisaran Seljuq


Kala itu kemunculan para Assassin hampir bertepatan dengan Perang Salib I pada 1096. Para pasukan Eropa yang memenangkan Perang Salib kemudian bercokol di tiga wilayah, yakni Antiokia, Tripoli, dan Yerusalem, serta mendirikan negara merdeka di sana. Antiokia meliputi Turki dan sebagian Suriah, sementara Tripoli meliputi Lebanon utara dan Suriah barat, serta Kerajaan Yerusalem yang meliputi Lebanon selatan, Suriah selatan, Yordania, hingga tentu saja Palestina. Uniknya, wilayah kekuasaan para anggota Ordo Assassin ini berada di antara Antiokia dan Tripoli yang tergolong wilayah yang dikuasai kaum Kristen. Karena berada di wilayah pegunungan yang terpencil serta lokasinya pun berada di wilayah kekuasaan Eropa, Kaum Assassin pun tergolong bebas dari gangguan kaum Muslim dari aliran lain yang hendak mengganggu mereka.

Namun bukan berarti kaum Assassin tak terlibat politik. Bahkan mereka dengan aktif berkecimpung di dalamnya. Kaum Assassin secara resmi bermusuhan dengan Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir dan Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Irak dan berpaham Sunni. Kaum Assassin ingin menyingkirkan kedua kerajaan tersebut, tapi tentu saja hal itu tidaklah mudah. Ketiganya adalah kekaisaran dengan wilayah luas, jumlah tentara yang amat besar, serta persenjataan lengkap. Sebagai sebuah sekte kecil, tentu para Assassin akan kalah telak jika berani melawan mereka. Karena itu Hassan kemudian menggunakan sebuah taktik dengan melatih kaum pria dari sektenya untuk menjadi pembunuh tangguh yang kemudian dikirimkan untuk memata-matai dan membunuh para lawan politiknya, meliputi para wazir, raja, bahkan khalifah sekalipun. Cara itu tergolong lebih praktis untuk menghabisi musuh-musuh mereka ketimbang harus berperang.

Uniknya, para Assassin ini memiliki kode etik sendiri. Semisal mereka hanya membunuh dalam jarak dekat menggunakan pisau atau belati, karena cara itu dianggap lebih “terhormat”. Mereka tak pernah membunuh diam-diam menggunakan panah ataupun racun karena cara itu dianggap kurang “jantan”.

Hassan sendiri sebagai pendiri Ordo Assassin ini tak pernah meninggalkan tahtanya. Ia hanya mengutus para assassin-nya untuk beraksi, namun memerintah langsung dari dalam benteng. Karena tak pernah “turun gunung”, iapun dikenal memiliki reputasi misterius dan kerap disebut sebagai “sang pria tua di atas gunung”. Konon, Marco Polo, sang petualang legendaris yang kala itu kebetulan melintasi wilayah kekuasaan para Assassin, yang memberinya julukan itu berdasarkan hembusan kabar burung.


THE WAR WITH THE SELJUKS


Di wilayah pegunungan seperti inilah para assassin bermarkas, sehingga amat sulit menaklukkan mereka

Lalu siapakah korban para Assassin ini? Korban perdana kaum Assassin adalah Nizar al Mulk dari Kesultanan Seljuk (kini merupakan wilayah Turki dan Iran). Jika kalian ingat, dia-lah orang yang dulu mengusir Hassan dari kota Rayy, tempat tinggalnya, hanya karena dia penganut paham Syi’ah. Rupanya Hassan adalah pria yang amat pendendam sehingga pria yang dulu pernah menghinanya itu dijadikannya korban pertama. Namun hal ini mengobarkan permusuhan baru antara Kesultanan Seljuk dengan Ordo Assassin.

Pada masa pemerintahan Hassan, Ordo Assassin sukses besar, bahkan berhasil menghabisi sekitar 50 musuh besar mereka, kebanyakan adalah petinggi politik Kesultanan Seljuk. Hal ini tentu saja membuat murka Sultan Seljuk kala itu yang bernama Muhammad I Tapar. Merasa sukses, Ordo Assassin pun semakin pede dan berani memperluas wilayah kekuasaannya. Mereka bahkan berhasil membuka “cabang” di Aleppo, Suriah. Kala itu, Hassan mengutus salah satu assassin kepercayaannya, al-Hakim al-Munajjim yang tak hanya memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni, namun juga amat cerdas. Ia adalah cendekiawan yang menguasai ilmu astrologi dan kedokteran. Ia kemudian bersahabat dengan emir Aleppo kala itu, Ridwan. Bahkan, para assassin membantu Ridwan untuk menyingkirkan para lawan-lawan politiknya. Ketika al-Hakim meninggal, maka assassin legendaris lain, seorang pandai besi bernama Abu Tahir al-Sa’igh, menggantikannya. Baik al-Hakim maupun Abu Tahir dikenal sebagai “grand master” Assassin (walaupun hanya memimpin cabang Suriah) karena kepiawaian mereka membunuh.

Pada 1105, tangan Muhammad I Tapar sang Sultan Seljuk sudah terlalu gatal ingin menghabisi para Assassin sehingga iapun mengutus seorang panglimanya, Ahmad ibn Nizam al-Mulk, untuk menghancurkan benteng para Assassin di Alamut. Sesuai namanya, kalian pasti sudah menduga bahwa Ahmad adalah putra dari Nizam, korban pertama para Assassin. Namun sayang, Ahmad tak berhasil merebut benteng Alamut dan membalaskan dendam ayahnya. Akan tetapi ia berhasil menghabisi salah satu pemimpin Assassin bernama Ahmad ibn 'Abd al-Malik ibn Attāsh.

Kastil Masyaf di Suriah, salah satu lokasi benteng pertahanan milik Ordo Assassin

Di Suriah, sang grand master Assassin, Abu Tahir kembali membantu Ridwan menyingkirkan musuh politiknya, kali ini bernama Khalaf ibn Mula'ib, emir kota Apamea. Mereka mengutus assasin bernama Abu'l Fath dari Sarmin yang berhasil membunuh Khalaf dan menjadikan Ridwan penguasa kota Apamea. Namun kemudian, salah satu anak laki-laki dari Khalaf ternyata berhasil lolos dan membalaskan dendam ayahnya dengan menghabisi Abu’l Fath. Yang mengejutkan, keberhasilannya kala itu ternyata berkat dukungan Tancred, seorang ksatria Perang Salib blasteran Italia dan Viking. Peristiwa ini membuat para Assassin mulai mewanti-wanti keberadaan para ksatria Eropa.

Pada 1108, Ahmad ibn Nizam al-Mulk hampir saja dibunuh oleh para assassin sebagai aksi balas dendam, namun beruntung ia berhasil lolos. Tapi para assassin sendiri berhasil membunuh banyak saingan politik mereka, mulai dari Isfahan (Iran) hingga Mosul (Suriah).

Ridwan, sang penguasa Aleppo meninggal pada 1113 dan digantikan oleh anaknya, Alp Arslan al-Akhras. Namun sang anak ini, baru berusia 16 tahun dan juga tuna wicara, sangat mudah dipengaruhi. Muhammad I Tapar, sang sultan Seljuk, memperingatkan pemimpin muda itu akan betapa berbahaya para Assassin. Akibatnya, Alp Arslan tak sudi lagi melanjutkan kerjasamanya dengan para Assassin, seperti yang dilakukan ayahnya. Alp Arslan kemudian mengutus panglimanya, Said ibn Badi, untuk menghabisi para Assassin di Aleppo. Bahkan, mereka berhasil menghukum mati Abu Tahir, sang grand master Assassin. Namun tentu saja para Assassin lain tak tinggal diam dan berhasil menghabisi Said ibn Badi sebagai aksi balas dendam. Alp Arslan, karena kecerobohannya, membuat banyak musuh (baik dari kalangan orang dalamnya maupun dengan kerajaan lain, seperti Antiokia) akhirnya tewas, bahkan tanpa campur tangan para Assassin.

Pada 1118, Muhammad I Tapar akhirnya meninggal dunia dan saudaranya, Ahmad Sanjar menjadi sultan Seljuk yang baru. Kini para Assassin mengubah taktik mereka. Mengetahui bahwa kaum Seljuk adalah musuh yang amat berbahaya, mereka kini mengajukan perdamaian. Namun usaha perdamaian ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan Ahmad yang sudah keburu jyjy dengan reputasi sadis para Assassin. Akibatnya, Assassin pun mengancam Ahmad dengan “halus”. Konon, para assassin menyusup ke dalam kamar sang sultan ketika ia sedang tidur, lalu meninggalkan sebilah belati di samping ranjangnya. Hal ini seakan menjadi peringatan bahwa para assassin bisa melakukan apa yang mereka mau, termasuk membunuh sultan kapanpun. Ancaman dari para assassin itupun cukup membuat Sultan Ahmad bergidik ngeri hingga iapun memutuskan berdamai dengan para Assassin, bahkan rela memberi mereka upeti.

Lukisan yang menggambarkan keberhasilan seorang assassin menghabisi Nizam al Mulk dari Kekaisaran Seljuq. Perhatikan kesamaan busana antara sang assassin yang sedang menusuk Nizam dengan para pengawal Nizam, membuktikan para assassin sangatlah mahir dalam menyamar

Kini, berhasil “menaklukkan” Kekaisaran Seljuk, musuh besar mereka, kebrutalan para Assassin pun menjadi-jadi. Mereka mulai mengintai dua kekhalifahan yang selama ini menjadi musuh bebuyutan mereka, yakni Kekhalifahan Fatimiyah yang beraliran Syi’ah dan Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni. Para anggota Ordo Assassin tentu masih dendam kesumat pada Kekhalifahan Fatimiyah karena mengusir mereka dari tanah air mereka. Pada 1121, mereka menghabisi seorang wazir (penasehat) yang sangat berpengaruh di Dinasti Fatimiyah, yakni al-Afdal Shahanshah (dia pulalah yang dulu membunuh Nizar, sang panutan kaum Assassin sebelum mereka terusir dari Kairo). Bahkan sang khalifah sendiri, yakni al-Amir bi-Ahkam Allah juga berhasil mereka bunuh pada 1130. Pada 1135, mereka juga berhasil menghabisi seorang khalifah Abbasiyah bernama al-Mustarshid.

Pada 1124, Hassan sang grand master sekaligus pendiri Ordo Assassin, akhirnya meninggal dunia dan digantikan anaknya, Kiya Buzurg Ummid. Ahmad Sanjar, sang Sultan Seljuk mengira ini adalah kesempatan emas untuk menghabisi para Assassin karena menyangka sang grand master baru ini menye-menye dan nggak setangguh ayahnya. Sang sultanpun mengutus perwiranya, Mu'in ad-Din Kashi untuk segera menghancurkan benteng Assassin. Namun serangan ini gatot alias gagal total dan Mu’in akhirnya dibunuh oleh para assassin.

Mahmud II, putra dari mendiang Muhammad I Tapar yang kala itu diberi daerah kekuasaan di Isfahan (Iran) berusaha meminta ampun atas “kekhilafan” Sultan Ahmad itu. Takut nantinya para Assassin membalas dendam dengan aksi yang lebih keji, Mahmud II kemudian menawarkan perdamaian. Para duta dari kaum Assassin kemudian datang ke Isfahan untuk memenuhi permintaan Mahmud II (yang sebenarnya tulus itu). Namun ternyata rakyat Isfahan sendiri tak sudi menerima kedatangan mereka dan langsung ramai-ramai mengeroyok dan menghabisi para utusan Assassin tersebut. Hal tersebut menunjukkan sudah sebegitu kadung bencinya rakyat Seljuk terhadap para Assassin yang memiliki reputasi kejam dan kelam itu.

Buzurg Ummid, sang grand master Assassin, meninggal pada 1138 dan digantikan oleh putranya Kiya Muhammad. Ia kemudian membalas dendam atas insiden di Isfahan itu dengan menghabisi putra Mahmud II (karena kala itu Mahmud II sudah keburu meninggal). Kiya Muhammad sebagai grand master yang baru juga mencatat sejarah dengan membunuh korban Eropa pertama mereka. Kala itu, Raymond II, raja dari Tripoli tiba-tiba menjadi korban para Assassin. Perlu diingat bahwa sebelumnya para Assassin tak pernah mencari masalah dengan kaum Eropa yang bercokol di Timur Tengah semenjak Perang Salib, jadi tentu alasannya bukanlah main-main. Kala itu Raymond menyetujui kedatangan musuh bebuyutan para Assassin dari Eropa.

Siapa lagi jika bukan para Ksatria Templar.


SALADIN AND THE KNIGHTS OF TEMPLAR


Saladin, sang pahlawan Muslim termahsyur juga menjadi musuh bebuyutan para Assassin

Pada 1162, sang grand master Assassin Kiya Muhammad turun tahta dan digantikan oleh anaknya yang bergelar Hassan II. Setelah kematian Hassan II pada 1166, maka putranya Imam Muhammad II menggantikannya. Namun dua grand master ini dianggap lemah dan tak “segarang” pendahulu-pendahulunya. Justru nantinya, yang menjelma menjadi sosok assassin paling ditakuti adalah pria bernama Rashid ad-Din Sinan, yang nantinya karena kepiawaiannya membunuh yang begitu ditakuti, berani mengangkat dirinya sendiri sebagai seorang grand master.

Kala itu wilayah Timur Tengah berkobar karena terjadinya Perang Salib III. Sinan, seorang ahli alkimia yang cerdas, dikirim Hassan II ke Suriah untuk mengembalikan kejayaan para Assassin di sana. Ingat, para Assassin dulu memiliki kedudukan amat kuat di Suriah pada masa kekuasaan Ridwan, sebelum akhirnya terusir dari sana. Sinan, dengan kecerdasan dan juga kemampuannya membunuh, tak perlu waktu lama untuk menjadi salah satu assassin terhebat dan juga paling legendaris. Bahkan, kala itu Sinan bebas membunuh siapapun yang ia mau tanpa perlu perintah langsung Hassan II, sang grand master-nya sendiri. Memang, kala itu Hassan II yang bertahta di Alamut, markas besar Assassin, justru takut dan takluk pada kehebatan Sinan.

Namun kini, di tengah Perang Salib II, Sinan harus memilih antara dua sisi yang berlawanan, apakah ia akan mendukung para pasukan Salib dari Eropa, yang dipimpin oleh Richard The Lion Heart, ataukah ia akan mendukung pasukan Muslim yang dipimpin ksatria legendaris, Saladin?

Jawabannya mungkin akan mengejutkan kalian.

Ordo Assassin seringkali bersitegang dengan dunia Islam, contohnya dengan Kekhalifahan Fatimiyah yang membangun masjid Al-Azhar di Kairo ini. Karena itulah, pada ajang Perang Salib, peran mereka amatlah ambigu

Kala itu para Kstaria Templar tiba dari Eropa. Mereka mendarat di Tartus, kini wilayah Suriah. Ingat, Raymond II sang raja Tripoli kala itu dibunuh oleh Assassin karena mengizinkan keberadaan para Ksatria Templar tersebut. Namun rupanya para Assassin lebih memilih berdiplomasi dalam menghadapi kedatangan para ksatria dari Eropa itu. Sinan, yang kini telah mengangkat dirinya sebagai grand master Assassin, mencoba bernegosiasi dengan pemimpin Eropa lain di Timur Tengah, yakni Almaric yang kala itu menjabat sebagai raja Yerusalem. Sinan bersedia membantu Almaric untuk mengalahkan Nur ad-Din, seorang raja dari Negeri Syam yang menjadi musuh bebuyutannya, dengan imbalan Almaric menyingkirkan para Ksatria Templar dari Tartus.

Almaric menyetujui rencana itu dan Sinan-pun mengutus para Assassin ke Yerusalem. Namun di tengah perjalanan, seorang ksatria Templar bernama Walter du Mesnil berhasil menyergap para Assassin ini dan membunuh mereka. Rupanya rencana mereka tercium oleh grand master Ksatria Templar bernama Odo de Saint Amand yang kemudian mengutus Walter. Almaric yang kesal karena rencananya runyam akhirnya meminta Walter dan para ksatria Templar lainnya menyerah. Odo menolak dan menyatakan hanya Paus-lah yang berkedudukan di Vatikan yang bisa menghukum Walter. Almaric-pun, demi menjaga “persahabatannya” dengan Ordo Assassin, diam-diam menangkap Walter dan mengurungnya. Sinan kemudian menerima permintaan maaf Almaric, namun tentu insiden tersebut menambah kebencian Ordo Assassin terhadap para Ksatria Templar.

Selesai menghadapi Ksatria Templar, Sinan kini memusatkan perhatiannya pada musuhnya yang lain: Saladin. Saladin adalah seorang ksatria dari golongan suku Kurdi yang beragama Sunni. Tentu, sebagai Sunni, ia menjadi musuh bebuyutan kaum Assassin yang beraliran Syi’ah. Kepopuleran Saladin sebagai seorang jenderal perang tangguh mulai membuat para Assassin khawatir. Selama ini para Assassin bercokol di perbatasan dua wilayah kekuasaan Eropa di Timur Tengah. Jika Saladin berhasil mengusir hegemoni Barat dari sana dan wilayah itu dikuasai Muslim, apalagi Sunni, tentu akan berdampak buruk bagi mereka. Oleh karena itu, para Assassin berusaha mengenyahkan Saladin.

Bahkan, karena tangguhnya musuh baru mereka, Sinan sang grand master Assassin sendiri akhirnya turun tangan.

Kabar bahwa para Assassin mengincarnya telah lama terdengar di kuping Saladin sehingga membuatnya khawatir. Tentu saja, siapa tak mengenal reputasi brutal dari ordo pembunuh yang paling ditakuti di Timur Tengah itu? Bahkan, Saladin mengantisipasi kedatangan para Assassin ini (yang biasanya diam-diam di tengah malam) dengan menebarkan bubuk kapur dan arang di sekitar tendanya, untuk menangkap jejak kaki para Assassin.

Namun sang Assassin ternyata lebih piawai. Sinan kala itu menyusup diam-diam ke tenda Saladin dan yang mengejutkan, sama sekali tak melukainya. Ia malah meninggalkan sebuah roti beracun dan belati di samping tempat tidur Saladin (ingat, metode “menakut-nakuti” ini juga pernah mereka lancarkan pada seorang sultan Seljuk). Tentu tujuannya untuk menurunkan nyali Saladin dan menunjukkan bahwa para assassin bisa membunuhnya kapanpun mereka mau. Khawatir akan keselamatan keponakannya, paman Saladin yang juga menjabat sebagai gubernur di kota Hama, Suriah akhirnya menjembatani perdamaian antara Saladin dan para Assassin.

Setelah “menaklukkan” Saladin, apalagi rencana para Asassin?

Saladin berhasil menaklukkan para Ksatria Templar

Kala itu, di tengah Perang Salib III, Kerajaan Yerusalem tengah mengalami gonjang-ganjing akibat kematian sang raja, Almaric. Almaric kala itu meninggalkan dua orang putri cantik jelita bernama Sybilla dan Isabella, yang diam-diam bersaing dan saling membenci, sebab berasal dari dua ibu yang berbeda. Kontan, para pangeran-pangeran tampan dari penjuru Eropa berebut hendak meminang kedua putri itu. Tak hanya karena kecantikan mereka, namun siapapun yang berhasil menikahi kedua putri itu tentu akan menjadi Raja Yerusalem. Kota Yerusalem, seperti kalian tahu, merupakan kota suci bagi tiga agama sekaligus, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Tak heran, tentu siapapun yang menjadi raja akan meraup upeti pajak yang amat besar dari para penganut tiga agama tersebut yang tak henti-hentinya datang ke Yerusalem untuk berziarah.

Kala itu Sybilla menikah dengan Guy of Lusignan, seorang ksatria dari Prancis, sementara Isabella menikah dengan Conrad of Montferrat, bangsawan dari Italia. Sayangnya, Sybilla kemudian meninggal karena wabah. Sebagai suami putri sulung Almaric, Guy merasa dirinya berhak menduduki tahta sebagai raja Yerusalem. Namun Conrad berpikir lain. Karena Isabella adalah satu-satunya putri Almaric yang masih hidup, maka istrinya-lah yang pantas menjadi ratu dan ia selaku suaminya yang seharusnya menjadi raja. Akibatnya, pecah perang antara dua kubu pendukung Guy dan Conrad untuk memperebutkan tahta Raja Yerusalem.

Perselisihan antara keduanya semakin runyam setelah seorang raja Inggris bernama Richard The Lion Heart, yang baru saja tiba untuk membela Eropa dalam Perang Salib III, ikut campur tangan. Dalam kekisruhan itu, rupanya Raja Richard lebih mendukung Guy. Namun Conrad mewarisi darah biru bangsawan (bahkan, dua sepupunya menjabat sebagai raja) sehingga Guy-pun (yang hanya seorang ksatria) kalah pamor. Namun disinilah terjadi sebuah peristiwa misterius.

Kala itu Conrad menunjukkan kepiawaiannya berperang dengan berhasil mempertahankan kota Tyre di Lebanon dari serangan Saladin. Namun tiba-tiba saja, pria-pria misterius yang menyamar menjadi rahib menyusup dan menusuk Conrad hingga tewas. Dari gaya pembunuhannya yang khas, kuat dugaan bahwa para pembunuh itu tak lain adalah utusan dari para Assassin. Namun apa tujuan mereka membunuh Conrad? Bukannya selama ini para Assassin berusaha keras untuk tak ikut campur dalam permasalahan pribadi para warga Eropa yang menduduki Timur Tengah (terkecuali karena terpaksa, seperti pada kasus Raymond II dan para Ksatria Templar)? Ada desas-desus bahwa para Assassin tersebut sesungguhnya dibayar jasanya oleh Richard The Lion Heart untuk menghabisi Conrad. Namun ada pula teori yang lebih heboh yang menyatakan bahwa Saladin sendirilah otak di bawah pembunuhan.

Hingga kini, misteri tersebut tak pernah terpecahkan.


THE FALL OF THE ASSASSINS


Lukisan yang menggambarkan jatuhnya benteng para assassin di tangan para pasukan Mongol yang terkenal beringas

Pembunuhan Conrad merupakan aksi terakhir Sinan. Sang grand master terhebat dalam sejarah Ordo Assassin itu akhirnya meninggal pada 1193, anehnya, pada tahun yang sama dimana Saladin meninggal. Namun sayangnya (atau malah untungnya), sepeninggal Sinan, tak ada lagi grand master Assassin yang mampu menyamai kehebatannya. Bahkan Ordo Assassin justru mengalami kemerosotan karena konflik internal. Pada 1210, Muhammad II meninggal dan digantikan anaknya Hassan III. Namun berbeda dengan para grand master sebelumnya, Hassan III lebih condong pada ajaran Sunni karena memiliki ibu dan empat istri yang kesemuanya penganut Sunni. Ia bahkan membuka persahabatan dengan Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni (yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutan Ordo Assassin).

Tentu saja perubahan drastis ini membuat para Assassin yang beraliran Syi’ah tak terima. Hassan III kemudian tewas secara misterius pada 1221 karena diracun. Penggantinya adalah Muhammad III, putranya yang baru berusia 9 tahun. Tentu saja karena usia yang terlalu muda, para penasehatnya turun tangan untuk memangku tahta. Titah pertama mereka adalah membunuh istri-istri Hassan III yang dituduh meracuninya. Tentu saja mengingat tabiat para Assassin, bisa dipastikan sang grand master tersebut dibunuh oleh anak buahnya sendiri.

Pada 1255, grand master Muhammad III juga ditemukan tewas secara misterius, sama seperti ayahnya, dan digantikan anaknya, Rukn al-Din Khurshah yang kemudian akan dikenal sebagai grand master Assassin terakhir.

Kepiawaian Assassin dalam membunuh ternyata bukanlah tandingan serangan tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Mereka berhasil menaklukkan benteng Alamut bahkan menghukum mati sang grand master terakhir. Namun itu bukan berarti kaum Asasssin benar-benar punah. Perlu kita pahami bahwa istilah “Assassin” berlaku bagi semua penganut paham Nizari dari mazhab Ismaili dari aliran Syi’ah. Tak hanya para pembunuh piawai saja, namun juga istri dan anak-anak mereka juga bisa disebut “Assassin” asalkan memiliki paham yang sama.

Para Assassin yang selamat pun bermukim di Salamiyah, Suriah. Kini, para Assassin yang tersisa tak lagi menyebut diri mereka dengan nama yang jelas memiliki konotasi mengerikan itu. Mereka hanya menyebut diri mereka Sekte Nizari dimana kini, mereka memiliki pemimpin tertinggi bernama Aga Khan. Sekte Nizari tak pernah benar-benar mati, bahkan bisa dibilang memiliki posisi yang cukup dihormati baik di Timur Tengah maupun Asia Selatan.

Namun setelah mempelajari sejarah para Assassin, muncul pertanyaan. Bagaimana mereka bisa setangguh itu, hingga nama merekapun terukir dalam sejarah?

Para Assassin dikenal dengan misi bunuh diri mereka. Seperti para pilot Kamikaze Jepang, para Assassin sama sekali tak takut kematian. Tapi apa rahasianya?


THE HASHISH EATER


Lukisan yang menggambarkan Hassan I, sang grand master, tengah "mengakali" pengikutnya sehingga merekapun rela mati demi menuntaskan tugas berbahaya Ordo Assassin


Seperti yang sudah gue sebutkan tadi di awal, nama “Assassin” berasal dari kata “asas”. Namun ada pula teori lain yang menyatakan bahwa nama tersebut berasal dari “hashshashin” yang artinya pengguna “hashish”. Kalian mungkin tak asing dengan hashish yang merupakan “rokok” khas Timur Tengah. Ada kemungkinan bahwa asal nama ini ada benarnya. Kaum Assassin memang dikenal sebagai pengguna hashish, namun bukan untuk bersenang-senang. Konon, sang grand master pertama Assassin, yakni Hassan, meminta para anggota-anggota baru para Assassin untuk merokok menggunakan hashish ini sebagai suatu bentuk upacara inisiasi. Tanpa sepengetahuan mereka, Hassan telah memasukkan sejenis halusinogen (mungkin opium) atau bahkan obat bius ke dalam hashishs tersebut. Dalam kondisi tak sadarkan diri (atau bahkan teler), para assassin-assassin baru itu dibawa ke sebuah taman yang indah dan berisi gadis-gadis cantik. Hassan kemudian mengatakan bahwa mereka tengah berada di “surga” dan jika mereka akan kembali lagi ke tempat itu jika mereka mati di tengah misi “suci” untuk melayani Ordo Assassin.

Ada juga cerita lain tentang bagaimana Hassan meyakinkan para anggotanya untuk rela mati di misi mereka. Ia berpura-pura memenggal kepala salah seorang Assassin-nya dan menaruh kepalanya di depan tahtanya. Padahal, yang terjadi sebenarnya, pria itu hanyalah dikubur dengan kepala di atas tanah. Hassan lalu berpura-pura memiliki kekuatan untuk berkomunikasi dengan orang mati dan “membangkitkan” kepala itu. Kemudian kepala itu akan membuka matanya dan bercerita tentang surga yang ia kunjungi setelah mati karena selama ini ia melayani ordo Assassin sepenuh hati. Untuk semakin meyakinkan ceritanya itu, Hassan kemudian diam-diam memenggal sungguhan pria tersebut dan memajang kepalanya untuk mengukuhkan triknya itu.

Legenda lain tentang para Assassin mengisahkan tentang seorang ksatria dari Eropa bernama Count Henry II of Champagne yang kala itu berjumpa dengan sang Grand Master Assassin yang legendaris, Sinan. Kala itu sang Count sesumbar bahwa tentaranya-lah yang terhebat dan mereka bisa mengalahkan para Assassin dengan mudah karena jumlah mereka 10 kali lipat banyaknya. Mendengarnya, Sinan hanya tersenyum lalu menyuruh salah satu Assassin yang kala itu berjaga di atas menara untuk menjatuhkan dirinya ke bawah. Tanpa ragu, sang Assassin itupun melompat dan akhirnya tewas. Melihatnya, sang Count langsung angkat tangan dan menyerah, mengakui bahwa memang Ordo Assassin yang lebih hebat karena mereka mengikuti semua perintah sang Grand Master mereka tanpa ragu, bahkan jika mereka disuruh untuk mati sekalipun.

Dengan berbekal semua cerita-cerita ini, tentulah kita paham mengapa para Assassin bisa sebegitu berhasilnya dan ditakuti pada masanya. Tentu saja, keberadaan Assassin ini (walaupun ordo aslinya telah musnah) menginspirasi berbagai aksi kejahatan serupa, yakni membunuh petinggi-petinggi politik dengan cara asasinasi. Mulai dari presiden Amerika seperti Abraham Lincoln hingga Archduke Franz Ferdinand yang kematiannya memicu PD I dan PD II, semuanya merupakan aksi asasinasi. Terbaru, kematian saudara Kim Jong Un di Malaysia hingga kematian Jamal Khasoggi (yang uniknya, didalangi pihak Timur Tengah, negeri asal para Assassin), merupakan bukti bahwa teknik para Assassin ini sampai kapanpun akan digunakan sebagai cara instan untuk menyingkirkan musuh dan mendapatkan kekuasaan.

SUMBER: WIKIPEDIA, ANCIENT HISTORY ENCYCLOPEDIA


A VERY SPECIAL THANKS TO:

Aulia Pratama Putri

별처럼 다 우리 빛나

SPECIAL THANKS TO MY SUPPORTER THIS APRIL:

Sinyo Kulik , Singgih Nugraha , Adhitya Sucipto , Rahadian Pratama Putra , Radinda , Kinare Amarill , Maulii Za , Rara , Sharnila Ilha , Victria tan , Ali Hutapea , Keny Leon , Rosevelani Manasai Budihardjo , Marcella F , Tieya Aulia , PJ Metlit , Marwah , Dana Xylin , Paramita . Amelia Suci Wulandari . Rivandy , Syahfitri , Dyah Ayu Andita Kumala , Fitriani , Ilmiyatun Ainul Qolbi , Ciepha Ummi , Riani Azhafa 


Sunday, April 25, 2021

KEBERINGASAN JENGIS KHAN: SANG RAJA DIRAJA YANG MEMBANTAI 11% POPULASI DUNIA INI

Kita mungkin mengenal Kubilai Khan, raja keturunan Mongol yang berusaha menyerang Jawa dan berhasil dikalahkan berkat tipu daya Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit. Gelar “Khan” berarti “kaisar” sudah diwariskan turun-temurun sejak abad 3 M dan merupakan julukan khas bagi penguasa suku-suku di kawasan Turki dan Mongolia (yang memiliki nenek moyang yang sama). Namun pada abad 12, nama “Khan” menjadi sebuah nama yang amat ditakuti semenjak disematkan kepada nama seorang pemuda keturunan Mongol bernama Temujin. Kala itu, semenjak naik tahta menggantikan ayahnya yang seorang kepala suku, ia menggunakan gelar Jengis Khan. Dalam penaklukannya, Genghis Khan berhasil menjadikan Mongolia menjadi kekaisaran dengan wilayah terluas dalam sejarah kuno dunia. Wilayahnya terbentang dari Korea hingga Polandia dan mencakup benua Eurasia.

Dalam penaklukannya itu, percaya atau tidak, dia membunuh sekitar 11 persen populasi dunia kala itu.

Namun bagaimana perjalanan Temujin hingga menjadi kaisar yang paling ditakuti dalam sejarah dunia tersebut? Kita simak saja dalam Dark History kali ini.

WABAH BLACK DEATH: EUROPE’S DARKEST HISTORY

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Kinare Amarill. Thanks!

Kita semua pasti pernah mendengar tentang wabah Black Death, serbuan penyakit mematikan yang mengukir sejarah sebab menewaskan hingga separuh populasi Eropa. Karena kala itu sang Benua Biru tersebut masih berada dalam era kegelapan yang disebut sebagai “Dark Age”, maka berbagai takhyul pun menghantui wabah tersebut. Kepercayaan primitif yang dianut penduduk Eropa menyebabkan rendahnya ilmu medis yang mereka kuasai kala itu (beda banget dengan kondisi sekarang dimana benua mereka amat maju dan memimpin dunia sains dan kedokteran) sehingga tak ayak, jumlah korbanpun mencapai puluhan hingga bahkan ratusan juta, angka yang masih mencengangkan bahkan oleh standar modern saat ini.

Kita semua mungkin sudah tahu bahwa Black Death disebabkan oleh wabah pes yang disebarkan oleh tikus, namun bagaimana kisah lengkapnya hingga wabah tersebut bisa tiba di Eropa dan mencabut nyawa begitu banyak orang? Bagaimana pula kaitan wabah tersebut dengan persiapan kita menghadapi wabah modern saat ini, seperti Coronavirus.

Dear readers, please enjoy our Dark History.

KEKEJAMAN PASUKAN 731 JEPANG DAN SEJARAH SENJATA BIOLOGIS PADA PERANG DUNIA II

 


Jika kita membahas tentang perang berskala dahsyat yang dinamakan Perang Dunia II, maka yang pertama kali terngiang di benak kita adalah peristiwa “Holocaust” atau pembantaian jutaan warga Yahudi di Eropa oleh rezim Nazi di bawah pimpinan Hitler. Namun pada kenyataannya, kita tak perlu jauh-jauh untuk melihat kekejaman perang tersebut. Di Asia sendiri, sebuah unit ketentaraan Jepang bernama Unit 731 ternyata melakukan aksi yang sama-sama tak manusiawinya terhadap penduduk Asia, terutama yang bermukim di Tiongkok.

Pada masa Perang Dunia II, sebuah pasukan khusus yang dinamakan Unit 731 diutus oleh sang kaisar negeri Matahari terbit itu untuk mengembangkan senjata biologis dan kimia untuk memenangkan perang. Akibatnya, Unit 731 menggunakan wewenang yang diberikan kepada mereka untuk melakukan eksperimen-eksperimen biadab tak berperikemanusiaan, termasuk menguji coba berbagai penyakit-penyakit mematikan pada manusia, kemudian membedah mereka hidup-hidup.

Straight from a gore horror movie, this is the story of Unit 731, one of the cruelest human experiments in history.