Showing posts with label backpacking. Show all posts
Showing posts with label backpacking. Show all posts

Thursday, August 4, 2016

SERENE BY THE SEA: HUTAN MANGROVE PASIR MENDIT KULON PROGO (WHICH IS UNPREDICTABLY GOOD)

 

100_6987

Hallo guys. Kali ini gue bakal membahas acara jalan-jalan gue pas mudik ke rumah nenek gue di Kutoarjo. Kebetulan pas hari-H lebaran, sekalian mudik gue diajak ama cousin-cousin gue maen ke objek wisata yang nggak terlalu terkenal sih di perbatasan Yogya – Purworejo, tepatnya di hutan mangrove di tepi pantai Pasir Medit. Gue sih nggak terlalu excited pergi ke hutan mangrove (palingan pohon ama aer doang isinya). Tapi yah namanya diajak jalan-jalan siapa sih yang nolak. Di luar dugaan, ternyata gue menikmati banget objek wisata ini bahkan merekomendasikannya ke kalian-kalian.

Friday, January 17, 2014

LOST IN NGAWI: BENTENG VAN DEN BOCH, THE COLOSSEUM OF JAVA

 

Photo-1571   

Pas liat foto2 di atas, mungkin para readers mengira foto2 itu gue ambil di Itali ya, soalnya mirip ama Colosseum gitu Tapi kalian yang udah kenal ama admin pasti ngerasa aneh, “Admin Mengaku Backpacker kan kere, mana mungkin bisa jalan2 ke Eropa?” Yup, emang bener banget guys (bukan masalah gue kere, tapi foto2 itu emang nggak diambil di Europe), soalnya foto2 di atas gue ambil di Benteng Van Den Bosch A.K.A Benteng Pendem yang terletak di Ngawi, kota kecil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

PRISONER IN PARADISE: TERPENJARA KEINDAHAN TAWANGMANGU

 

100_4548

Libur telah tiba....libur telah tiba...horeee...horeee (Tasya mode on). Admin lagi seneng banget nih guys soalnya setelah setengah tahun membanting tulang, akhirnya masa liburan telah tiba. Secara gue udah mulai bosan di Jakarta, maka liburan akhir tahun ini admin habiskan dengan mudik ke kampung halaman gue di Solo, apalagi di Solo ada Mom and Dad tercinta. Btw di Solo gue udah bertekad bakal wisata alam ke Tawangmangu. Buat yang nggak tahu, Tawangmangu itu daerah pegunungan yang jadi wisata andalan Kabupaten Karanganyar, yang letaknya dekat banget ama Solo. Bisa dibilang, kayak pegunungan Alpen-nya Solo lah #halah lebay#.

Buat wong2 Solo kayak gue, kita sering banget nyebut “Tawangmangu” dengan bahasa gaulnya, “TW”. Secara TW itu daerah pegunungan, maka di sana kita bisa lihat gunung *YA IYALAH* . Namun nggak cuman gunung guys, kita juga bisa liat candi bersejarah sekaligus keindahan air2 terjun di sana. TW memang menjadi rumah bagi dua candi istimewa, yakni Candi Sukuh dan Candi Cetho. Mengapa admin bilang istimewa? Soalnya bentuk candinya menyerupai piramid suku Inca, beda ama candi2 pada umumnya di tanah air. Setahu admin juga, ada 3 air terjun di sana, yaitu Grojogan Sewu (air terjun tertinggi dan terbesar di Jateng btw), Parang Ijo, ama Jumog. Nah, karena admin yakin udah banyak yang membahas Grojogan Sewu, kali ini admin bakal membahas Parang Ijo dan Jumog waterfalls yang bisa gue bilang merupakan “Hidden Paradise”.

Tuesday, July 16, 2013

EKSPEDISI KE PANTAI CLARA & PULAU PAHAWANG, LAMPUNG: FINDING PARADISE DOES NEED SOME CASH (150 K FOR EXACT)

 

Photo-0348

Hallo readers! Masih tentang acara2 jalan ke Lampung, kali ini aku akan menceritakan petualangan hari kedua di Journey to Sumatra (atau lebih tepatnya 1/25 journey to Sumatra, soalnya cuma ampe Lampung aja hehehe). Kalo hari pertama aku mengunjungi Pantai Pasir Putih dan Lampung Fair, hari kedua aku berniat menikmati keindahan pantai Clara dan Pulau Pahawang.

BANDAR LAMPUNG: A CITY WITH SO MUCH MORE TO OFFER

 

Photo-0331

Oke, aku tahu slogan di atas adalah slogan Podomoro City (which is not a real city, only a bunch of apartment and a freakin’ mall underneath it). Tapi kurasa slogan itu juga cocok diterapkan buat kota Bandar Lampung. Aku cuma sempat berada di sini 2 hari, namun aku suka banget sama kota ini. Selain karena lokasinya yang dekat dengan laut yang indah, kota ini juga luas dan masih banyak yang belum ku-explore dari kota di selatan Sumatra ini.

LET’S GO TO LAMPUNG FAIR!!!

 

Photo-0314

“Mau yang Lampung banget? Silakan datang ke Lampung Fair”

Mungkin itulah yang bisa kutawarkan pada kalian. Pada hari pertama kedatanganku di Lampung, aku langsung dikecewakan dengan Pantai Pasir Putih yang ternyata nggak begitu bagus menurutku. Akhirnya rencanaku saat itu berantakan soalnya aku berencana menghabiskan beberapa jam di pantai, namun kenyataannya aku hanya tahan selama 10 menit di pantai itu. Akupun berencana menghabiskan waktu di Bandar Lampung saja sambil cari makan, tapi aku bingung dalam selang waktu selama itu mau kemana. Beruntung, Ariyo yang menjadi host-ku selama di Lampung menawarkan acara Lampung Fair. Yap, gue beruntung banget, soalnya tanpa kurencanakan, ternyata ada event yang menggabungkan seluruh keunikan budaya Lampung dalam satu tempat.

BACKPACKING KE LAMPUNG: A NEVER ENDING STORY

 

Photo-0244

Akhirnya impianku selama ini tercapai (walaupun baru secuil) yaitu menginjakkan kaki ke tanah Sumatra. Sebenarnya sih impianku sejak dulu adalah menggunakan jalur darat untuk menelusuri Lampung – Palembang – Bengkulu – Padang – Bukittinggi. Tentu selain ingin menikmati keindahan alam Sumatra yang belum terjamah manusia *lebay*, aku juga ingin melihat kehidupan orang2 Sumatra di kota2 tersebut. Puncaknya, aku ingin melihat Rumah Gadang yang “hidup dan bernapas” di habitat aslinya di tanah Minangkabau, bukan hanya sekedar panggung yang ditata di TMII. Namun sayangnya aku masih mengumpulkan keberanian (dan duit hehehe) untuk perjalanan itu dan baru sempat mencicilnya dengan mengunjungi Lampung. Walaupun sebentar, tapi ini adalah pengalaman backpacker yang paling keren yang pernah kualami sejauh ini.

NB: Semua harga di sini dicatat sebelum kenaikan BBM Juni 2013, jadi untuk harga update bisa dikira2 naik sekitar 20% dari harga yang tertera di sini. Semisal 20 ribu kemungkinan naik jadi 25 ribuan lah.

Saturday, February 16, 2013

AKU DAN RAGUNAN

 

Photo-0078

Pasti kesan pembaca pas baca judul postinganku di atas adalah, “Emang kenapa? Mirip?”

Yee...enak aja. Ini adalah postingan pertamaku yang mengawali agenda backpackeranku ke seluruh Jakarta hehehe. Pas tangga merah Maulud Nabi 2013 kemaren, rasanya nggak afdol kalo cuma seharian tiduran di kost mulu. Akhirnya aku berencana jalan-jalan aja. Nah, Ragunan menjadi pilihan pertamaku karena biasanya museum tutup pas hari libur nasional (dan juga pas nggak punya duit kalo mau ke mall). Akhirnya aku putuskan saja ke Ragunan yang murah meriah. Apalagi aku kepengen banget liat yang namanya Pusat Primata Schmutzer (huh, susah banget namanya) setelah kemaren aku memposting tentang 13 jenis monyet teraneh di dunia.

MUSEUM TAMAN PRASASTI JAKARTA: KUBURAN MALAH ROMANTIS

 

Photo-0395

Seabis menunaikan ibadah Minggu pagiku di Gereja Katedral Jakarta, aku berniat untuk melanjutkan petualanganku ke Museum Taman Prasasti. Tau dong yang namanya Museum Taman Prasasti, yaitu bekas kuburan Belanda yang artistik banget. Nah aku sempet buta nih ama letak museum ini. Dari yang kubaca dari google maps sih letaknya di sebelah barat Monas. Tapi karena aku memang niat jalan-jalan, jadinya malah kesasar nggak jelas hehehe. Ini dia ceritanya.

Wednesday, December 26, 2012

MEMOIR OF MY SHITTY JOURNEY: KOTA TUA JAKARTA

Foto5201

Postingan kali ini agak beda, soalnya aku akan menceritakan kesialan bertubi-tubi yang menimpaku selama berlibur di Kota Tua Jakarta. Makanya tulisan ini kuberi judul "My Shitty Journey". Yap, it’s that "sh*t". Mungkin penyebabnya karena perjalanan itu kuadain pas 21-12-2012 alias hari kiamat versi Kalender Maya. Najis deh pokoknya. Ini dia pengalamanku, silakan disimak.

Sunday, September 23, 2012

BACKPACKING KE BLITAR: BUNG KARNO BANGET!

 

100_2193

Kalo ditanyain dua hal apa yang paling kucintai di dunia ini (selain ortu dan keluarga tentunya), pastilah kujawab: sejarah dan SNSD (hehehe). Namun kali ini aku nggak akan membahas cewek-cewek di SNSD tapi aku akan membahas kota yang kaya akan sejarah, yaitu Blitar. Salah satu alasan aku tertarik mengunjungi Blitar karena dari dulu aku kepengen mengunjungi Candi Penataran. Plus lagi bonusnya di Blitar terdapat makam sosok yang sangat kukagumi, yaitu Bung Karno, presiden pertama kita. Bisa dibilang Blitar adalah kota dimana sejarah bersemayam.

DIRUNDUNG KEKECEWAAN DI WADUK SELOREJO


100_1900
Sebagai bagian dari rencana backpacking ke Kediri – Blitar, kuputuskan untuk mengunjungi Waduk Selorejo yang terletak di Ngantang, Malang. Waduk ini mau tak mau harus dilewati dalam perjalanan Kediri – Malang. Awalnya aku terpesona oleh waduk ini ketika sekilas melewatinya sekitar setahun lalu saat aku dan teman-teman mengunjungi Jatim Park setelah berziarah di Goa Maria Pohsarang, Kediri. Awalnya aku merencanakan berbagai judul puitis (baca: lebay) untuk postingan tentang waduk ini, semisal: “Tenggelam dalam Pesona Waduk Selorejo”, “Terpukau Aura Keindahan Waduk Selorejo”, hingga “Terpikat Magnet Keeksotisan Waduk Selorejo” *tuh kan lebay*. Tapi ternyata begitu melihatnya dengan mata kepala sendiri, akhirnya tercetus judul yang lebih sesuai “Waduk Selorejo: Terus Gue Harus Bilang WOW Gitu???”

BACKPACKING KE KEDIRI: SAKING ASYIKNYA AMPE BINGUNG NGASIH JUDUL APA

100_1860
Entah gimana awalnya aku jatuh cinta dengan Jawa Timur, namun ini sudah ketiga kalinya aku backpacking ke Jatim. Pertama dulu ke Surabaya, lalu ke Malang, dan sekarang dua kota sekaligus, yaitu Kediri dan Blitar aku sambangi. Nah, kuakui perjalananku ke Kediri kali ini merupakan petualangan yang “liar” soalnya aku sama sekali buta soal kota Kediri (saking “liarnya” bahkan di Kediri aku belum tau mau tidur dimana hahaha). Pengen donk denger pengalaman aku backpacking ke kedua kota itu, ya kan?
*pembaca langsung serempak bilang “Nggaaaaakk!!!*
Huh kalo emang nggak mau ngapain kalian buka blogku sejak pertama *ngambek mode on* Tapi tetap saja sebagai orang narsis, tanpa dimintapun aku akan membeberkan pengalamanku berpetualang (baca: kesasar) ke kedua kota tersebut. Begitu serunya pengalamanku di kedua kota itu ampe di postingan ini aku bingung mau kasih judul apa hehehe. Check it out!

Sunday, September 9, 2012

MENIKMATI LEBARAN DI PANTAI JATI MALANG

  100_1729

Halooooo para readers setiaku (padahal banyakan yang mampir ke blogku gara2 nyasar hehehe). Masih pada ganteng dan cantik khan? Senangnya bisa kembali ke dunia ngeblog-mengeblog setelah menghabiskan libur lebaran di desa nenekku yang jauh dari peradaban (hiks). Nah, kali ini aku akan membahas pengalaman “rada” backpacker ke sebuah pantai yang mungkin masih asing di telinga kalian, yaitu Pantai Jati Malang. Pantai ini terletak tak jauh dari Purworejo dan Kutoarjo (tempat aku mudik pas lebaran kemaren). Penasaran ama pengalamanku (hahaha lebay banget), disimak yuk monggooooo….

Sunday, August 12, 2012

MENAPAK JEJAK DI IMOGIRI: UDAH CAPEK, SALAH ITUNG LAGI

 

100_1629

Imogiri adalah kompleks pemakaman raja-raja Mataram Islam. Makam ini adalah kelanjutan makam raja-raja di Kotagede. Kalo di Kotagede, raja-raja yang dimakamkan di sana adalah raja-raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Mataram Islam. Kalo di Imogiri, raja-raja yang dimakamkan di sana adalah para penerusnya. Salah satu hal yang membuatku tertarik backpacking ke Imogiri adalah mitos bahwa jika kita berhasil menghitung jumlah anak tangga di Imogiri dengan tepat, maka permohonan kita akan terkabul. Maka akupun mencoba membuktikannya!

Sunday, July 8, 2012

FLASHPACKING: WHAT THE HELL IS THAT???

Flashpacking
Flashpacking, apaan tuh? Pertama kali aku dengar kata flashpacking di sebuah artikel di Kompasiana yang menceritakan seorang traveller yang naik pesawat PP Jakarta-Yogyakarta cuma untuk menikmati Candi Prambanan dalam waktu kurang dari sehari. OK, itu jelas bukan backpacker, secara harga tiket pesawat kan mahal, lebih ekonomis naek kereta. Pertama sih aku pikir kata “flash” berarti flashpacking itu melakukan perjalanan kilat (kayak lagunya Goerge Michael tuh, “Flash Love” hehehe). Eh, tapi ternyata dari pengakuan seorang flashpacker di sebuah blog, ternyata dia pernah menghabiskan 8 hari flashpacking di Eropa. Well, ternyata perbedaan backpacker ama flashpacker bukan terletak pada lamanya waktu, namun pada bugdetnya. Wikipedia mengatakan definisi flashpacker adalah backpacker with bigger budget.
Anehnya saat aku menilik2 pengertian serta perbedaan flashpacking dan backpacking, aku malah ngerasa kok aku ada di antara keduanya. Ada sih unsur2 flashpacking yang pernah kualamin, walaupun sebagian besar tetap backpacking type. Ini dia penjelasan mengenai flashpacking yang kuperoleh dari website Flashpacker Indonesia yang motto-nya “Flashpacking: travelling yang gue banget”
Menurut website itu tuh, flashpacker berbeda ama turis maupun backpacker. Kalo turis nggak mau repot dan nyerahin semua urusan ke travel agent (ya ampun, nyokap gue banget tuuuuuuuuh kayak pas ke Bali hehehe), flashpacker justru ngatur sendiri jadwal, itinerary, hingga budget perjalanannya. Tapi flashpacker beda ama backpacker juga loh. Bedanya kalo backpacker lebih budget oriented, maka flashpacker lebih experience and time oriented. Mereka nggak segan2 ngeluarin duit lebih banyak daripada backpacker untuk menikmati pengalaman yang nggak ada duanya (nyewa speedboat mahal biar bisa liat lumba2, no problemo) atau agar waktunya nggak terbuang percuma (kayak contoh di atas tadi, lebih suka naik pesawat daripada kereta untuk menghemat waktu). Kaum flashpacker juga lebih mengejar kenyamanan daripada harus hidup nge-gembel ala backpacker. Tapi kaum flashpacker juga nggak gila kemewahan lho. Nggak perlu nginep di hotel berbintang 5 kalo hotel bintang 2 udah cukup nyaman.
Oya satu lagi perbedaan lain, flashpacker selalu membawa gagdet mereka, mulai dari I-Pod, laptop, dan camcorder. Well, itu karena flashpacker lebih memilih hotel yang aman daripada sekali lagi, nge-gembel ala backpacker. Namun sayangnya, kaum flashpacker sering mendapat cibiran dari sodara jauhnya, kaum backpacker, karena mereka dianggap nggak mau bersusah-susah layaknya backpacker sejati. Walaupun sebenarnya nggak gitu banget sih. Website Flashpacking luar negeri menyarankan para flashpacker yang notabene selalu travelling dengan budget berlebih agar sedikit berbagi dengan sesama, terutama jika mereka berada di Asia.
Singkat kata, tipe orang yang cocok jadi flashpacker adalah pegawai mapan (nggak harus tajir lho). Mereka umumnya punya jatah liburan sebentar sehingga memanfaatkan waktu mereka sebaik2nya. Yah, walaupun itu berarti mengeluarkan bugdet lebih tinggi daripada backpacker. Dari sisi jiwa travelling, mereka sebenarnya nggak jauh beda ama sedulurnya, kaum backpacker. Seorang flashpacker berpedoman “Kenapa harus mahal kalo bisa murah, ngapain harus bayar kalo bisa gratis” (ya ampuuuuuuun, gue bangeeeeeeeeeeeeeeeet tuh, hehehe).
Terus gue termasuk backpacker apa flashpacker ya? Kesamaanku dengan flashpacker, aku cukup teliti dan rinci dalam menyusun itinerary dan bugdet (walaupun tentu dalam kenyataan kadang berbeda dengan yang dilakoni, tapi at least dah ada rencana yang matang). Mulai dari rute perjalanan, opsi transportasi, lama perjalanan, rincian biaya, Plan B jika Plan A gagal, dan lain-lain. Namun aku masih sangat mengutamakan sisi budget dengan tetap kusesuaikan dengan kebutuhan waktu dan pengalaman yang bisa kudapat (jadi sama2 bugdet, time, dan experience oriented secara seimbang, serasi, selaras, dan berkesinambungan, halah). Menurut profiler FBI (cailah, kebanyakan liat pilem), profilku juga sesuai dengan flashpacker, yaitu pegawai yang punya jatah libur dikit, walaupun penghasilanku sih sebenarnya nggak besar2 amat (namun Puji Tuhan masih bisa disisihin buat nabung dan travelling). Oya, aku juga nggak bisa travelling tanpa kamera digital dan MP3 walau nggak berani bawa laptop. Namun aku cuma bawa backpack satu di punggung tiap kali travelling layaknya backpacker normal, bikan koper kayak flashpacker. Jadi aku masuk mana dong?
Akhirnya aku menemukan artikel I Wanna Be Flashpacker yang menyatakan bahwa flashpacker berasal dari backpacker yang berevolusi ketika:
1. mereka bertambah tua (padahal aku masih merasa brondong)
2. mereka memiliki income yang semakin tinggi (padahal aku masih kere)
OK, aku seorang backpacker :-[
Sumber:

CATATAN BACKPACKING KE JATIM: ENAKNYA JADI AREK MALANG

 
balai kota malang
Setelah aku menuntaskan petualangan yang melelahkan di Trowulan, akhirnya aku melanjutkan perjalananku ke destinasi yang kedua selama backpacking di Jatim, yaitu Malang. Banyak penderitaan yang kualami sepanjang perjalanan, tapi semuanya setimpal dengan pengalaman indah yang kualami selama di kota bunga itu. Dengan kota seindah dan senyaman itu, aku berpikir “Wah, pasti enak rasanya jadi Arek Malang!”

CATATAN BACKPACKING KE JATIM: THE AMAZING TROWULAN

trowulan

Udah lama aku terobsesi buat backpacking ke Jatim. Aku kepengen banget melihat kayak apa sih kehidupan arek Jatim, beda nggak sih ama wong Solo? Nah, setelah mengincar jatah cutiku bulan ini, akhirnya kutetapkan untuk backpacking ke Trowulan (Mojokerto – Malang) selama 2 hari. Di Trowulan aku kepengen mengabadikan peninggalan2 Majapahit di sana, sementara di Malang aku kepengen ngeliat katedralnya sekalian menikmati kesejukan kota apel itu.

Monday, March 12, 2012

BACKPACKING KE CANDI SOJIWAN


Aku tergelitik ketika membaca artikel di blog detik travel yg berjudul “Candi Sojiwan Siap Memancarkan Pesonanya”. Kita emg jarang mendengar candi yg satu ini, soalnya rekonstruksinya sndri baru kelar taon 2011 kmrn. Tp krn letaknya yg cukup dkt dg Candi Prambanan, aku pun tergoda untuk mengunjunginya sbg penutup perjalanaku setelah mengunjungi Candi Kalasan dan Candi Sari. Itung2 sekalian plg ke Solo, toh jg satu arah. Syg perjalananku kali ini harus dibarengi cucuran darah, keringat, dan air mata hiks (mode lebay on).

Dr Candi Sari aku lalu berjalan ke halte bus Trans Yogya yg terletak di dpn Pasar Kalasan. Kata ibu penjual sate (atau dawet ya aku lupa, pokoknya di pinggir jln), letaknya nggak jauh dr Candi Sari. Tggl jln aja ke arah barat, haltenya sehabis lampu merah. Aku smpt khawatir sebab bapaknya yg jaga Candi Kalasan jg blg kl Candi Sari letaknya jg “dekat”. Dan emg benar, org Yogya memiliki definisi yg cukup kontroversial dlm mengartikan kata “dekat”!!!

Setelah lelah berjalan, akhirnya kutemukan jg halte trans. Namun sialnya pas aku hampir sampai, bus trans jurusan Prambanan udah dtg. Begitu aku nyampe ke loket eh busnya udah brgk lg. Mbak-nya yg jaga loket ampe ketawa2. Hu’uh. Akhirnya setelah membayar 3 rb aku akhirnya naek bus berikutnya. Hari Minggu begini siap2 aja dg bus trans yg sll ramai dg turis2 yg mau mengunjungi Prambanan. Aku aja satu bus dg sekelompok anak muda dg aksen Jakarte. Ada pengalaman lucu saat perjalanan. Di perempatan lampu merah, dua kali kami menemukan sekong2 sedang ngamen di pinggir jln. Para penumpang bus pun lgs terbahak2. Yuk mariii…

Aku lalu turun di halte dpn Prambanan. Nah, jujur aku blm tau letak Candi Sojiwan ini, jd dg percaya diri aku ngikuti saran dr blog detik travel. Dari halte trans aku berjalan menuju kiri menuju pasar lalu berjalan terus hingga mencapai persimpangan rel kereta api. Nah di sinilah aku tersasar, kata blognya aku harus menuju pertigaan sehabis rel ke sebelah kanan, pdhl lokasi sebnarnya ada di sebelah kiri. Setelah muter2 nggak karuan (mlh hmpr nyampe Ratu Boko kyknya), akhirnya aku bertanya pd bapak yg jaga rel KA dan akhirnya menemukan Candi Sojiwan setelah perjuangan keras.

Candi Sojiwan emg terletak di tengah2 desa, shg tdk begitu mudah ditemukan. Begitu melihatnya aku lgs kaget sebab aku nggak menyangka candinya bakal sebesar ini. Kondisi candi inipun utuh dan lengkap, tdk spt Candi Kalasan. Setelah mengisi buku tamu dan membayar iuran seikhlasnya (kusaranin 5 ribu), akhirnya aku nggak buang2 waktu untuk memfoto candi ini. Ini adl foto candi sebelum pemugaran.

Dan ini setelah pemugaran. Wow!

Ternyata candi ini menghadap ke barat (jalan masuknya ada di sebelah utara). Keunikan candi ini adl gapuranya yg menempel dg pondasi candi tp tdk menjadi satu dg bangunan utamanya.


Di luar candi kulihat dua buah bagian stupa ini. Hmm…mlh jd ingat candi Muara Takus.

Akupun naik ke atas candi. Seperti biasa, ada relief makara ini yg menyambut kita. 

Ada relief unik di candi ini, yaitu gambar penunggang singa.


Saat menjelajahinya, akhirnya aku tahu knp sosok candi ini begitu gagah. Trnyta bbrp bagian2nya diganti dg batu baru. Spt ini buktinya.

Ada motif yg sgt aneh di candi ini. Seperti relief penduduk Indian (Maya atau Inca) ya? Apa ini bukti nenek moyang kita ada hubungan dg suku Inca?

Di dlm candi tak kutemukan apa2. trnyta arca2 di dlm candi sudah dipindah di dkl loket informasi. Begitu ngeliat arcanya, lgs terkuak kl candi ini candi Buddha. Hehehe…pinter kan gue (pdhl liat stupanya aja dah jelas tuh candi Buddha).

Aku lalu mengitari bagian samping candi. Agak mengecewakan soalnya aku nggak byk menemukan relief di dinding candi, pdhl di candi2 lain biasanya byk. Nggak tau jg apa arsitek candi ini dulunya penganut gaya minimalis atau emg sebagian besar dindingnya diganti dg batu2 yg baru.

Namun begitu aku turun, trnyta bagian pondasi candi justru memamerkan relief2 yg msh terjaga dg baik. Kebanyakan motif floral namun ada jg relief yg menceritakan kisah fabel (sebab byk relief hewan dan manusia di sini). Ini motif floralnya.


Di bagian kanan kiri undak2an aku jg melihat relief ini. Hmm…ada pohon di tengah2nya dan semacam shaman (mgkn). 

Spt biasa spt candi2 lain, bagian2 candi yg tersisa (nggak tau jg knp nggak dimasukin ke candi yg direnov, mgkn nggak tau letaknya atau kerusakannya cukup parah) di-display di sekitar candi.



Uniknya saat sore tiba, trnyta anak2 dr desa sekitar bermain bola di pelataran candi. bnr2 pemandangan yg manis :)

Setelah puas melihat2 kemegahan candi Sojiwan, akupun memutuskan kembali ke Solo. Aku menemukan jalan cepat menuju ke Candi Sojiwan dr dpn Candi Prambanan (nggak pake muter2 rel dan nggak pake kesasar. Pertama, di dpn Prambanan kalian akan menemukan sebuah masjid megah dg menara yg tinggi dg puncak berlapis emas (lebay bgt penjelasannya, pdhl mesjid di dpn Prambanan cm ada satu). Tepat di sebelah baratnya (jln menuju Yogya) terdapat gang ini yg bertuliskan jalan menuju desa wisata. Gang ini ada tepat di smpg rmh makan padang "Putra Minang".

Susuri aja jln ini sampai kalian menemukan pintu rel KA dan seberangilah rel tsb. Ingat, jgn menyeberang rel saat ada kereta melintas (ya iyalah)! Inilah pemandangan dr lokasi tsb.

Nah, dr seberang rel, ambillah jalan yang menuju ke kiri (arah timur) hingga kalian menemukan gang ini, lalu masuk (aku lupa, mgkn gang kedua atau ketiga setelah pintu rel).

Terus aja sampai kalian melihat stupa candi dr kejauhan. Kl nggak salah, jln ini berakhir di perempatan. Ambil jalan lurus atau ke kanan lalu belok kiri. Untuk pulangnya, bs lwt rute yg sama.

Nah, itulah sekilas perjalananku backpacking mengunjungi Candi Kalasan, Candi Sari, dan Candi Sojiwan. Saranku, jika kalian ingin mengunjungi candi2 ini dlm satu hari (trmsk mgkn Prambanan dan Plaosan) dg kendaraan umum, kusarankan kalian mengunjungi Candi Sari atau Kalasan dl. Lalu dg bus trans tggl menuju ke arah Prambanan. Jgn dibalik (dr Prambanan dl) sebab bus trans yg menuju ke Kota Yogya tdk berhenti di Kalasan. Smg posting ini bermanfaat bagi kalian bt nge-rencanain program jln2 kalian sndri.









BACKPACKING KE CANDI SARI


Candi Sari terletak tak jauh dr Candi Kalasan (itu kata bapaknya yg jaga Candi Kalasan, kl menurutku sih ttp jauh soalnya aku jln kaki hiks). Maka dari itu nggak lengkap rasanya kunjunganku ke Candi Kalasan kl nggak sekalian menikmati keelokan Candi Sari. Dr Candi Kalasan kita tggl berjalan ke arah jalan besar lalu belok kanan (ke arah timur) dan berjalan beberapa ratus meter. Nah, kl kalian dtg dr arah barat (dr Yogya), beloklah di gapura ini (ada di arah utara jalan) Ada tulisannya desa Candi Sari. 

Tak jauh dr situ, di jalan besar sbnrnya terdapat papan penunjuk jalan Candi Sari (yg br kusadari saat plg) yg SANGAT TIDAK MEMBANTU!!!

See? Tp kl kalian dr arah timur (dr Solo) lbh dkt kl kalian turun di masjid yg sgt mencolok ini. Lalu kalian tggl masuk ke gang menuju utara.

Beberapa langkah dr kedua gang yg kusebutkan td, akan terlihat stupa2 candi dr kejauhan. Kl kalian msk ke gang yg ada di smpg masjid replika Katedral St. Basil Rusia td, kalian akan lgs pas berada di bagian dpn candi. 

Tiket masuknya sm murahnya dg Candi Kalasan, cm 2 rb. Kondisi candi ini jelas lbh baik drpd kondisi Candi Kalasan. Bangunan candi ini mirip2 dg Candi Plaosan dan aku dengar candi ini sebenarnya adl wihara Buddha, jd bkn tpt ibadah gt kyk kebanyakan candi. Makanya candinya dibuat melebar agar dapat diisi dg byk ruangan di dalamnya. Ventilasinya pun cukup byk br para biksunya betah.

Trnyta spt ini bentuk Candi Sari ketika ditemukan. Wah, cukup ancur ya. 

Ini adl detail relief di samping dan blkg candi. Hmm…reliefnya dewanya kyk menari2 ya? Tp yg aneh aku mlh nggak melihat satupun relief Buddha di sini. Ada yg bs sedikit memberi penerangan?





Ketika aku msk ke dlm, aku melihat relung berhias motif kala ini. Dugaanku dulunya ini wastafel (ngaco!). 

 Di bagian dlm candi tdk kutemukan apapun. Mgkn arca2 udah ilang, kl nggak disimpan di dlm museum (dan abis itu br ilang hehehe). Ada keuntungannya jg sih arca2nya dipindah, shg bebas dr tangan2 jahil yg mengunjungi candi ini. Selain itu resiko rusaknya arca jg bs diminimalisir jika ada di dlm museum. Tp kerugiannya ya kita nggak bs menikmati wujud asli candi ini pd ms2 kejayaannya.

Suasana di dlm candi cukup gelap dan mengingatkanku dg suasana di dlm Candi Plaosan. Aku pun buru2 keluar krn serem hehehe. Kunjunganku ke Candi Sari hanya singkat dan aku lgs melanjutkan perjalananku ke Candi Sojiwan. But it's worth to visit.