Showing posts with label RESORT SERIES. Show all posts
Showing posts with label RESORT SERIES. Show all posts

Saturday, August 2, 2014

RESORT PART 15 – FINAL

 

Ia meninggalkan kami yang terpaku dalam kebingungan dan kembali menemui para biksu yang berada di ruangan dimana Makiko disekap.

“Apa ini semua belum selesai?” pikiranku berkecamuk dalam rasa takut. “Bagaimana jika ini memang takkan pernah bisa berakhir?”

Saturday, July 26, 2014

RESORT PART 14B

 

“Para biksu kemudian membuka pintu kuil untuk memeriksa keadaan sang ibu. Namun di dalam ia sangat kelelahan, menghabiskan sepanjang malam berteriak mencari anaknya. Ia segera mendapatkan perawatan, namun ketika ia bangun, mereka menyadari bahwa ia sudah kehilangan kewarasannya. Mungkin karena ia harus kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya, atau mungkin karena pengalaman mengerikan yang ia alami, tak ada yang bisa tahu secara pasti.”

Sunday, July 20, 2014

RESORT PART 14A

 

[Catatan admin: maaf, dari awal aku menjanjikan akan ada 15 episode untuk cerita bersambung ini. Tapi rupanya aku salah hitung dan sebenarnya ada 16 episode. Oleh karena itu, aku akan menyebut episode ini sebagai 14A dan episode selanjutnya 14B]

Takumi, Shoji, dan aku menatap sang biksu, tak sabar untuk mendengarnya melanjutkan ceritanya. Apa yang salah dengan bocah itu? Mengapa warga menjadi ketakutan melihatnya?

Saturday, July 12, 2014

RESORT PART 13

 

Kami bertiga masuk ke ruangan dimana kami pertama berada ketika kami tiba di rumah ini.

“Kalian melakukannya dengan sangat baik tadi malam,” biksu itu mulai berbicara sambil tersenyum hangat, “Kalian kini telah aman. Upacara pembersihan berjalan dengan lancar dan kini telah selesai.”

Kami tak tahu apa yang dapat kami katakan, jadi kami hanya tersenyum dengan canggung ke arahnya. Ada banyak hal yang ingin kami tanyakan, namun tak seorangpun dari kami berani berbicara.

“Kurasa aku harus memberitahukan pada kalian segalanya,” ia berkata penuh simpati, “Mari, ada yang ingin aku tunjukkan pada kalian.”

Saturday, July 5, 2014

RESORT PART 12

 

Akhirnya aku melihat wajahnya secara langsung.

Wajahnya tampak hitam pekat. Hanya terlihat matanya yang cekung, panjang, dan seluruhnya berwarna putih.

Ia sedang menatap kami.

Saturday, June 28, 2014

RESORT PART 11

 

“Shoji!”

Kami bertiga terpaku.

Kemudian kami mendengarnya kembali. Suara itu berasal tepat dari luar kuil.

“Shoji!”

Kami sadar benar suara siapa itu.

Suara itu sudah tak asing lagi bagi kami.

Itu suara Misaki.

“Shoji, aku membawakanmu onigiri.”

Walaupun suara itu jelas milik Misaki, namun sama sekali tidak ada intonasi dalam suara itu. Hanya suara yang datar, seolah-olah diucapkan oleh boneka.

“Shoji!”

Aku merasakan genggaman tangan Shoji semakin erat. Tentu saja ia tak menjawabnya dan suara itu terus berlanjut.

“Shoji.”

“Selamat datang!”

“Aku membawakanmu onigiri.”

“Shoji.”

“Selamat datang!”

“Aku membawakanmu onigiri.”

Ia terus-menerus mengulanginya, jelas sekali tak terdengar normal.

Aku mulai ketakutan. Itu suara Misaki. Tapi apa benar itu Misaki?

Biksu itu pernah mengatakan bahwa takkan ada seseorangpun yang akan mengunjungi kami. Ditambah lagi cara berbicara Misaki yang seolah-olah robot, aku tahu bukan ia yang berada di luar pintu kuil saat itu.

Takumi kembali dan mengenggam tanganku amat erat. Akupun tahu bahwa ia juga mendengar suara itu.

Suara itu kembali terdengar dari arah pintu kuil.

“Selamat datang!”

“Shoji!”

“Aku membawakanmu onigiri!”

Tiba-tiba pintu mulai bergetar.

Sesuatu yang ada di luar itu mencoba masuk! Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila makhluk itu berhasil masuk.

Aku ingin kabur secepat mungkin dari sini. Biksu itu berkata ia berada di kuil utama. Namun dimana kuil utama? Apa kuil besar yang ada di bawah itu? Bisakah kami mencapainya? Lalu bagaimana jika kami kabur dan tak menyelesaikan ritual ini? Apa ia akan terus menghantui kami? Sial!

Terdengar suara hantaman yang keras dari arah pintu. Bila tadi ia hanya menggerak-gerakkannya saja, kini kurasa ia menghantamkan tubuhnya ke arah pintu. Ia masih membuat suara-suara monoton yang sama seperti suara Misaki. Ia kemudian berhenti dan terdengar berjalan mengelilingi kuil, sambil terus menghantam-hantamkan tubuhnya ke dinding di sepanjang perjalanannya.

Ia tak bisa masuk, aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Ia tak bisa masuk.

Kemudian aku menyadari sesuatu yang menakutkan.

Di dinding dekat dimana kami berada, terdapat sebuah retakan, celah dimana papan-papan kayu bertemu. Dan ia bergerak makin dekat dengan dinding itu.

Bagaimana jika ia mengintip ke dalam melalui celah itu? Bagaimana jika ia melihat kami di dalam sini?

Aku tak mau menunggu hingga hal itu terjadi. Aku kemudian menarik kedua temanku ke tengah ruangan. Kami bergerak perlahan namun pasti.

Jantungku berdetak sangat kencang saat itu.

Kemudian tanpa sadar aku menoleh ke retakan di dinding itu. Akhirnya aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Ia sedang mengintip melalui celah itu.

TO BE CONTINUED

Saturday, June 21, 2014

RESORT PART 10

 

Aku menatap Shoji. Sangat sukar melihat wajahnya saat suasana yang mulai remang-remang seperti ini, namun kurasa ia tak mendengarnya.

Dapatkah kalian mendengarnya? Apa hanya aku yang bisa? Ataukah ini hanya imajinasiku saja?

Sunday, June 15, 2014

RESORT PART 09

 

Terasa sangat dingin di dalam kuil. Aku khawatir dengan syarat tak boleh makan dan minum, namun aku merasa percaya diri kami bisa bertahan untuk malam ini.

Bangunan itu sendiri sudah amat tua dan banyak celah-celah di dinding dimana papan-papan kayu bertemu. Kuil juga amat kecil.

Karena masih siang, aku masih dapat melihat wajah Takumi dan Shoji lewat cahaya yang masuk melalui celah-celah di dinding kayu. Ini pertama kalinya kami tidak saling berbicara meskipun kami berada sangat dekat satu sama lain.

Aku mengangguk untuk mengatakan, “Segalanya akan baik-baik saja.” Dan mereka mengangguk balik.

Sunday, June 8, 2014

RESORT PART 08

 

Aku menoleh, dan tetap, aku tak melihat apapun di balik pintu kertas itu. Namun aku memperhatikan raut wajah Shoji amat ketakutan.

Biksu itu menoleh ke arah kami, “Jadi mana anak yang katamu bisa melihat mereka itu?”

“Shoji, anak ini.” ketika Ryuichi mengatakan hal itu, pria paruh baya dan pria tua itu saling menatap satu sama lain.

Sang biksu kemudian berbicara.

“Apa dia juga yang masuk ke dalam kuil?”

“Tidak.” Ryuichi menggeleng, “Itu adalah Yuuki.”

“Hmm...” hanya itu yang bisa dikatakan biksu itu.

“Shoji hanya di luar dan hanya mengamati, kurasa.” sambung Ryuichi.

“Begitukah?” biksu itu terdiam sesaat lalu berbicara dengan Shoji, “Apa ini kali pertamanya kamu mengalami hal seperti ini?”

“Mengalami hal seperti ini?” ia bertanya, tak yakin dengan apa yang dimaksud biksu itu.

“Ya, melihat roh atau hal-hal seperti itu.”

Shoji mengangguk, “Ini kali pertamaku.”

“Jadi begitu? Hmm...ini cukup aneh.”

“A....” Shoji tampak hendak berbicara dan semuanya menoleh ke arahnya.

“Bicaralah.” kata sang biksu.

“Apa aku akan mati?” ia tampak bergetar saat mengatakannya.

“Ya,” sang biksu menjawab tanpa tedeng aling-aling, “Jika ini terus berlanjut, kau pasti akan mati.”

Shoji kehilangan kata-kata. Gemetarnya berhenti seketika dan kepalanya menunduk.

Melihatnya, Takumi langsung berbicara, “Apa maksud anda dengan dia akan mati?”

“Maksudku ia akan dibawa pergi,” sang biksu menjawab. Takumi dan aku masih tak mengerti dengan apa yang ia maksud. Sesuatu akan membawa Shoji pergi?

Sang biksu melanjutkan perkataannya,

“Aku tak terkejut kalian tak memahami perkataanku.” Ia berpaling kepadaku, “Yuuki, ketika kamu masuk ke dalam kuil, apa kamu merasakan ada yang aneh?”

Kuil? Aku mengasumsikan yang ia maksud adalah lantai kedua hotel itu.

“Aku mendengar sesuatu. Suara garukan dan ada suara napas yang aneh. Ada banyak jimat menancap di pintu ...”

“Begitu,” kata sang biksu, “Kamu mungkin tak menyadarinya, namun yang tinggal di sana bukanlah manusia.”

Aku tak terkejut. Aku sudah menduganya sejak awal.

“Aku percaya bahwa kau dapat merasakan keberadaan mereka dengan indra pendengaranmu. Sedangkan Shoji, temanmu, bisa merasakan mereka lewat indra penglihatannya.” biksu itu menjelaskan, “Biasanya manusia tak mampu merasakan mereka. Mereka tinggal di suatu tempat, tanpa ada yang memperhatikan, meringkuk dalam kesunyian.

“Shoji,” ia berpaling ke temanku itu, “Apa kau melihatnya sekarang?”

“Tidak, namun aku bisa melihat bayangannya,” ia menoleh dengan gugup, menatap pintu geser kertas yang berada di samping kami. “Ia mencakari pintu dengan sangat keras.”

“Ia tak bisa masuk. Aku melindungi tempat ini, namun tetap saja ia berusaha menghancurkan pelindung itu.” Ia berhenti beberapa saat sebelum kembali melanjutkan, “Tapi kalian tak bisa tinggal di sini selamanya. Aku akan meminta kalian pergi ke suatu tempat. Dan Shoji, kau harus mengerti ... mereka akan mencoba muncul kembali di hadapanmu. Aku sadar ini akan sangat sulit bagimu. Namun kau harus tetap tenang dan mengikuti apapun perintahku.”

Shoji hanya mampu mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Kami mengikuti biksu itu dan meninggalkan rumah yang melindungi kami. Kami berjalan masuk ke torii dan menaiki tangga batu itu ke atas. Ryuichi hanya mengikuti kami sampai ke luar rumah. Ia kemudian membungkuk dan meninggalkan kami di tangan biksu itu.

Merasa ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang kami kenal, kami bertiga mengikuti biksu itu dengan enggan. Shoji terlihat sangat lelah dan ketakutan. Berupaya melindunginya, aku dan Takumi berjalan sambil mengapitnya. Kami berusaha sebisa mungkin menjaganya dari apapun yang ia lihat.

Begitu kami sampai di anak tangga terakhir, kami melihat sebuah kuil besar. Namun mengejutkan bagi kami, biksu itu tidak membawa kami ke sana; melainkan melewati sisi kanan kuil tersebut dan terus berjalan. Di sana terdapat sebuah torii lain dan tangga-tangga batu menuju ke atas. Namun sebelum kami tiba di bawah gerbang itu, sang biksu berbicara pada kami.

“Shoji, apa yang ia lakukan sekarang?”

“Ia berdiri ...” Shoji berkata, masih melihat ke sekeliling, “Ia selalu mengawasi dan mengikuti kita, kemanapun kita pergi.”

“Hmm... dia sudah berdiri? Dia pasti sangat bersemangat karena kau bisa melihatnya.” Biksu itu menjelaskan, “Kita sudah tak punya banyak waktu. Ayo, cepat!”

Ketika kami selesai menaiki anak-anak tangga tersebut, kami melihat kuil lain. Kuil ini lebih kecil, namun umurnya terlihat lebih tua daripada kuil yang ada di bawah tadi. Biksu itu berjalan ke bagian belakang kuil kemudian memanggil kami. Kami berjalan ke tempat dimana ia berdiri dan ia menjelaskan bahwa kami harus menghabiskan malam ini di dalam kuil untuk membersihkan diri kami dari apapun yang mencoba menempel pada kami. Begitu kami masuk, ternyata tak ada satupun sumber penerangan dan kami juga dilarang berbicara sepatah katapun hingga fajar tiba.

“Tentu kalian juga tak boleh menggunakan telepon genggam kalian juga.” Sang biksu menjelaskan, “Semua yang menghasilkan cahaya tidak diperbolehkan di dalam kuil ini. Aku juga melarang kalian untuk makan dan tidur selama kalian berada di dalam kuil.”

Ia memberikan kepada kami masing-masing sebuah kantong aneh dan mengatakan pada kami untuk menggunakannya apabla kami benar-benar membutuhkannya. Aku menatapnya lekat-lekat. Kantung ini untuk apa? Sebelum aku bertanya, biksu itu seakan sudah bisa membaca pikiranku dan menjelaskan bahwa kantong itu tahan air. Aku pikir itu adalah toilet kami untuk malam ini. Memang sukar dipercaya, namun kami terpaksa menerima semua peraturan yang diberikan kepada kami.

Setelah biksu itu selesai menjelaskan, kami diminta untuk meneguk air dari sebuah pipa bambu sebelum kami masuk ke dalam kuil.

Kami masuk ke dalam kuil satu-persatu, namun ketika Shoji masuk, ia menutup mulutnya tiba-tiba dan keluar untuk muntah. Takumi dan aku terkejut, namun ada yang lebih terkejut daripada kami. Biksu itu. Ia segera kehilangan postur tenangnya begitu melihat apa yang terjadi pada Shoji.

“Kalian tidak pergi ke kuil itu lagi hari ini, bukan?”

“Hah, tidak...tentu tidak.” jawabku.

“Aneh. Kalian hanya masuk sekali, namun upacara pembersihan langsung dimulai begitu kalian masuk. Bahkan kalian tak bisa masuk ke dalam kuil ini...”

Aku tak mengerti apa yang biksu itu katakan, namun ia menatap tas yang dibawa Shoji.

“Selama kalian tinggal di hotel, apa seseorang pernah memberikan kalian sesuatu?”

“Kami mendapat upah kami, namun hanya itu.”

Kemudian barulah kami teringat, “Oya, nyonya pemilik penginapan memberikan kami sebuah tas uang koin kecil.”

“Dan onigiri.” sahut Takumi.

Setelah mendengar hal tersebut, biksu itu bertanya pada Shoji, “Apa kau kebetulan membawa benda-benda itu?”

“Aku meninggalkan onigiri itu di tasku yang lain, namun kurasa aku punya uang koin dan amplop berisi upah kami.” Ia membuka tasnya dan mengeluarkan amplop dan tas uang koin yang kami terima. Sang biksu mengambil tas kecil itu dan membukanya.

Semula aku berpikir tas itu akan berisi uang-uang koin sebagai bagian dari upah kami.

Namun ketika ia membukanya dan memperlihatkan isinya pada kami, kami langsung mundur dengan ketakutan.

Tas kecil itu berisi potongan-potongan kuku, sama seperti potongan kuku yang menggores kakiku kemarin. Kuku-kuku berwarna putih dan merah.

Shoji muntah lagi dan biksu itu memutuskan untuk mengambil semua barang yang kami bawa. Kami memberikannya dompet, telepon genggam, dan benda lainnya yang kira-kira kami dapatkan dari hotel. Biksu itu mengangguk pada kami dan membiarkan Shoji minum dari pipa bambu itu kembali.

Kami bertiga masuk kembali ke dalam kuil.

“Kalian tak boleh membuka pintu ini,” kata sang biksu, “Aku akan berada di kuil utama. Aku akan kembali menjemput kalian esok pagi.”

Ia berhenti sesaat dan menatap kami.

“Kalian tidak boleh berbicara pada apapun yang mungkin akan datang dari balik dinding. Kalian tak boleh berbicara satu sama lain juga. Kam tidak mengatakan pada siapapun dimana kalian berada, jadi tidak akan ada siapapun yang datang untuk kalian malam ini, ingat itu! Aku akan berdoa bagi keselamatan kalian.”

Biksu menatap kami lagi dan kami mengangguk ke arahnya. Hanya itu yang bisa kami lakukan. Kami sudah tidak diperbolehkan berbicara, sehingga kami hanya diam, ketakutan.

Biksu itu meninggalkan kami dan menutup pintu kuil itu rapat-rapat.

TO BE CONTINUED

Saturday, May 31, 2014

RESORT PART 07

 

“Apa?” aku menoleh dan melihat sebuah mobil kecil mengikuti taksi kami. Benar, itu memang mobil dari penginapan. Mengapa mereka mengikuti kami?

Sunday, May 25, 2014

RESORT PART 06

 

“Selamat pagi! Apa kalian tidur dengan nyenyak?” ia selalu menanyakan pertanyaan yang sama tiap pagi semenjak kami tiba. Namun entah kenapa, pertanyaannya kali ini seperti memiliki maksud lain. Aku merasa sangat gugup, jadi Takumi yang menjawabnya.

Saturday, May 17, 2014

RESORT PART 05

 

Ia masih bisa melihatnya? Apa yang ia lihat?

Aku menoleh, namun tak ada apapun di sana. Hanya pintu geser yang terbuat dari kertas, itupun dalam keadaan tertutup.

Aku tak mengerti apa yang ia bicarakan. Sama sekali tidak. Aku berpikir ia sudah kehilangan akal sehatnya. Atau mungkin ia dirasuki oleh sesuatu.

“Aku memang berada di bawah saat itu, namun aku melihat sesuatu.” mulutnya gemetaran, namun ia berbicara dengan sangat jelas.

Sunday, May 11, 2014

RESORT PART 04

 

Aku ingat naik ke sana. Rasa takutnya masih melekat jelas dalam ingatanku. Namun aku tak pernah membungkuk dan yang lebih penting lagi, aku tak ingat pernah memakan sisa-sisa makanan yang membusuk.

Namun melihat kaosku yang penuh kotoran, mereka dapat dengan mudah membuktikan apa yang mereka lihat. Bahkan di tanganku ada bekas sisa-sisa makanan itu.

Aku merasa hampir gila.

Saturday, May 3, 2014

RESORT PART 03

 

Cahaya matahari dari luar menyinari tangga, namun masih cukup gelap di dalam. Dengan hati-hati aku menaiki tangga satu-persatu. Di tengah jalan, aku mendengar suara “Krak ... krak ...”

Sunday, April 27, 2014

RESORT PART 02

 

Hari berikutnya, kami menyelesaikan pekerjaan kami lebih awal dan berkumpul di pintu masuk dimana Shoji berada.

Kami menunggu Makiko-san.

Segera setelah kami berkumpul di sana, Makiko meninggalkan salah satu kamar dengan keranjang makanan. Ia membuka pintu menuju ke tangga dan menghilang ke dalamnya. Pertama akan kujelaskan, untuk menuju tangga, kami harus keluar dari pintu masuk hotel, sebab tak ada jalan menuju ke lantai dua dari dalam penginapan. Kami harus keluar terlebih dahulu dan di pojok bangunan terdapat sebuah pintu untuk menuju ke lantai atas.

Seperti yang dikatakan Shoji, dia kembali setelah sekitar 5 menit berada di atas. Makanan di atas keranjang telah lenyap. Dia kembali masuk tanpa mengetahui keberadaan kami.

“Lihat,” kata Shoji, “Cepat kan?”

“Yah, kau benar.”

“Ada apa di atas sana?” tanya Takumi.

“Aku tak tahu. Apa kalian mau memeriksanya?” saran Shoji.

“Uhm, jujur ... aku agak takut,” kata Takumi.

“Sebenarnya aku juga. Tapi bagaimana, apa kalian tak mau tahu?” desak Shoji.

“Hmm...kurasa itu bukan ide buruk. Ayo kita kesana.” kataku dan kami bertiga segera mengendap-endap ke arah pintu tersebut.

“Apa pintunya terkunci?” Takumi bertanya dengan nada cemas. Aku berusaha menggeser pintu dan pintupun terbuka beberapa centimeter. Shoji yang berada di sebelah kiri pintu dapat melihat bagian dalamnya.

“Ew...” ia melenguh dan menutup hidungnya.

“Ada apa?” tanya Takumi.

“Apa kau tidak menciumnya?”

“Mencium apa?” Takumi dan aku kebingungan.

“Serius kalian tidak menciumnya?” ujar Shoji sambil terus menutup hidungnya, “Buka pintunya lebih lebar dan kalian akan menciumnya!”

Aku mengumpulkan segenap keberanianku dan membuka pintu itu lebih lebar. Udara hangat mengalir keluar, diikuti debu yang berterbangan.

“Maksudmu debu-debu ini?”

“Hah? Aku tak menciumnya lagi ...” ujar Shoji.

“Berhentilah mempermainkan kami!” Takumi tampak marah, “Jika kau mengerjai kami lagi, aku akan meninggalkanmu di sini!” Takumi memang berwatak agak keras dan kasar.

“Maaf...tapi aku tadi benar-benar menciumnya, seperti bau sampah.”

“Cukup!” seru Takumi, “Itu hanya imajinasimu!”

Aku mengintip ke dalam melalui celah pintu dan memperhatikan sesuatu.

Lorong di dalamnya sangatlah sempit. Begitu sempit hingga hanya satu orang yang bisa melaluinya. Dan sama sekali tak ada pencahayaan di dalam. Aku hanya bisa melihat ujung lorong karena cahaya yang masuk dari luar, dari pintu yang kami buka ini. Di ujung lorong di lantai atas, terdapat pintu lain.

“Apa kita akan naik ke atas?” tunjukku.

“Tidak! Tidak!” Takumi tampak panik, “Jangan naik ke atas!”

“Kau tak mau?” Shoji keheranan melihat Takumi panik.

“Jika kalian mau ke sana, silakan saja. Tapi aku tetap di sini!” Takumi bersikeras.

“Yah, kalau begitu aku tetap di sini saja juga.” kata Shoji.

“Ah, kalian berdua pengecut! Bukankah kalian yang mengajakku ke sini?” ujarku, “ Baiklah, kalau begitu aku yang akan naik ke atas.”

“Serius?” mereka berdua berseru bersamaan.

“Jika aku tak pergi sekarang, aku takkan bisa tidur memikirkannya. Jika aku tak bisa tidur, maka aku akan pergi ke sini malam-malam dan itu tentunya akan lebih gawat. Jadi aku akan naik ke sana sekarang!” Alasan itu memang tak masuk akal, namun rasa penasaran sudah telanjur menguasaiku. Selain itu ada Shoji dan Takumi di sini, jadi pasti aman.

Namun selain penasaran, aku juga merasa takut. Aku akan naik ke sana sendirian, tetapi mereka berdua telah berjanji untuk tidak lari dan memperingatkanku jika sesuatu terjadi.

Maka akupun mulai naik ke atas.

TO BE CONTINUED

Saturday, April 19, 2014

RESORT PART 01

 

Catatan: Resort adalah sebuah cerita yang sangat panjang, meliputi sekitar 15 episode. Kisah ini bercerita tentang tiga sahabat bernama Takumi, Shoji, dan Yuuki (sang narator). Mereka memutuskan untuk bekerja selama liburan musim panas di sebuah penginapan terpencil. Mereka menduga Makiko, sang pemilik penginapan menyembunyikan sesuatu di lantai dua penginapannya. Ketika mereka memutuskan untuk naik ke lantai dua, didorong rasa ingin tahu mereka, hal mengerikan pun terjadi.

Karena cerita ini sangat panjang, sebaiknya jangan terlalu berharap untuk langsung mengetahui endingnya. Nikmati saja tiap episodenya.

***

Peristiwa ini terjadi ketika aku masih menjadi mahasiswa baru.

Musim panas mulai mendekat. Aku dan empat temanku memutuskan untuk berlibur ke pantai. Ketika kami membahasnya, salah seorang teman kami mengusulkan untuk bekerja paruh waktu di sana. Kamipun setuju, karena toh sebulan bermain di pantai kedengarannya membosankan. Paling tidak dengan bekerja, kami akan mendapat tambahan uang saku. Sayangnya, dua orang teman kami harus mengikuti seminar, sehingga mereka tak bisa ikut. Akhirnya, hanya kami bertiga yang meneruskan rencana tersebut.

Maka kamipun mulai mencari pekerjaan musim panas secara online Lowongan di sebuah hotel menarik perhatianku. Tentu karena aku berpikir pasti mudah bertemu dengan gadis-gadis di tempat semacam ini. Sempurna!

Kami menelepon hotel tersebut dan pemiliknya melakukan wawancara melalui telepon. Semua berjalan lancar. Kami bertiga diterima bekerja di sana selama musim panas. Dengan rencana kami berjalan lancar, kamipun tak sabar menantikan musim panas, bahkan sudah berandai-andai bertemu wanita-wanita cantik di sana.

Akhirnya hari itu tiba dimana kami mulai bekerja di hotel itu. Ini adalah kali pertama aku bekerja, jadi aku merasa sedikit gugup, namun juga excited.

Ketika kami tiba di hotel itu, kami terperangah. Ternyata hotel itu bukan hotel modern seperti yang kami duga. Hotel itu ternyata adalah rumah tradisional Jepang yang sudah tua, namun sangat luas dan masih terawat baik. Namanya cukup aneh, “B&B Cottage”, sama sekali tak cocok dengan atmosfer Jepang yang sangat kental di sini.

Kami memanggil dari depan pintu dan seorang wanita berumur separuh baya menyambut kami. Ia tersenyum dan memperkenalkan dirinya sebagai Makiko-san, pemilik penginapan ini.

Hotel ini memiliki empat kamar untuk tamu, sebuah ruang makan, dan dua kamar untuk staf. Sehingga total terdapat enam kamar, tidak termasuk dapur. Kami kemudian dibawa ke ruang makan. Setelah beberapa saat, seorang gadis muda muncul dan membawakan kami teh. Ia mengatakan namanya adalah Misaki-chan dan ia bekerja di penginapan ini. Selain kami berlima, ada pula suami Makiko bernama Ryuichi.

Kami secara singkat memperkenalkan diri kami dan Makiko menjawab, “Kamar para tamu berada di lantai satu. Kamar kalian akan berada di ujung lorong ini. Nah, sekarang mari kita bawa barang-barang bawaan kalian ke kamar.”

Dua temanku, Takumi dan Shoji, tiba-tiba bertanya, “Bukankah ada kamar juga di lantai dua?”

Kami memang melihat dari luar bahwa hotel ini memiliki dua tingkat.

Makiko tertawa, “Memang ada lantai dua di rumah ini, namun kami tidak menggunakannya.”

Kami bertiga keheranan sebab saat ini adalah musim liburan. Bukankah lebih menguntungkan untuk membuka kamar-kamar di lantai dua sehingga bisa menampung lebih banyak tamu? Namun saat itu kami tak begitu memikirkannya. Mungkin saja jika tamu sudah banyak, mereka akan membukanya, pikir kami.

Kami membawa barang-barang kami ke kamar. Pemandangan yang terlihat di kamar kami sangatlah indah, dengan taman Jepang dan pegunungan di kejauhan. Maka pekerjaan musim panas kamipun dimulai. Pekerjaan itu ternyata sangat berat, namun karena orang-orang yang bekerja dengan kami sangat menyenangkan, maka kami mengerjakannya dengan senang hati.

“Wah, kita benar-benar beruntung mendapatkan pekerjaan ini, ya kan?” temanku Takumi berkata padaku setelah kami bekerja di sana selama seminggu.

“Ya, bahkan lebih keren lagi: kita akan mendapatkan uang.” kata Shoji.

“Yah tentu,” jawabku, “Namun puncak liburan akan segera datang. Kita akan sangat sibuk nantinya.”

“Nah, karena kau mengungkitnya tadi ... apakah mereka akan membuka lantai dua jika lebih banyak tamu berdatangan?”

“Kurasa tidak,” kata Shoji, “Bukankah Makiko-san dan keluarganya tinggal di sana?”

“Benarkah?” Takumi dan aku menaikkan nada suara kami. Kami baru tahu hal itu.

“Aku nggak benar-benar yakin sih. Tapi bukankah ia selalu membawa makanan ke atas?”

“Aku tak tahu.” Takumi dan aku sama-sama heran mendengarnya.

Shoji membersihkan halaman pada suatu sore dan melihat Makiko naik ke atas cukup sering. Dia membawa keranjang dengan makanan di dalamnya dan bergegas naik ke atas. Ketika Shoji mengatakannya kepada kami, kami cukup terkejut.

“Benarkah?” mungkin karena aku tak melihatnya sendiri, aku tak begitu mempercayai cerita Shoji itu.

Beberapa hari kemudian, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri ketika sedang menyapu lorong. Makiko mengendap-endap keluar dari salah satu kamar tamu. Biasanya ia tak membersihkan kamar itu. Selalu Misaki yang mengerjakannya. Aku pikir itu agak aneh. Bahkan aku sempat meragukan penglihatanku, namun itu jelas Makiko. Aku memikirkannya sepanjang hari dan tak tahan untuk menyinggungnya di hadapan teman-temanku.

“Ya, aku melihatnya juga.” Takumi berkata ketika aku menceritakan hal itu.

“Serius? Mengapa tak kau ceritakan padaku?”

“Aku hanya berpikir ia mungkin ada keperluan di sana.” Takumi menjelaskan, “Toh dia pemilik penginapan ini kan? Ia bebas untuk berbuat apapun.”

“Memang.” aku setuju.

Hanya sebulan sebelum pekerjaan musim panas kami berakhir. Kami tak bisa menahan rasa penasaran kami.

“Kenapa kita tidak mengikutinya saja?” saran Shoji.

“Apa yang kau katakan?” Takumi heran, “Tempat ini kan sangat kecil. Jelas sekali kita bakal ketahuan.”

“Tapi ...” Shoji masih tampak penasaran.

“Sekarang bagaimana?” aku bertanya. Namun tak ada yang bisa menjawabku. Beberapa minggu lagi kami akan pergi dan kami ingin ada pengalaman berkesan sebelum meninggalkan tempat ini.

Sebuah petualangan.

“Baiklah. Jika salah satu dari kita melihat hal yang aneh, maka kita akan memberitahu satu sama lain. setuju?” kamipun sepakat sebelum pergi tidur malam itu.

Keesokan harinya, Shoji memanggil kami ke sebuah ruangan. Kami dengan enggan mengikutinya.

“Nah, kalian tahu kan saat aku mengatakan bahwa Makiko selalu naik ke lantai dua?” Shoji memulai, “Sebelumnya aku hanya melihatnya naik ke atas, namun kali ini aku menunggunya hingga ia turun. Dan ia menghabiskan waktu sekitar lima menit di atas, lalu ia turun membawa nampan makanan yang kosong.”

“Dan?” Takumi penasaran.

“Dia selalu makan dengan kita kan? Namun ia membawa makanan ke atas...bukankah itu artinya ada yang tinggal di lantai atas?”

“Aku pikir begitu, namun ....” kataku.

“Siapapun yang tinggal di atas, kita belum pernah melihatnya. Kita bahkan belum pernah mendengar ada yang tinggal di atas bukan?”

“Apa mungkin orang yang tinggal di atas sedang sakit?”

“Namun jika dia hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk makan, bukankah itu berarti dia sangat sehat? Tidakkah kalian berpikir ini aneh? Kamu sendiri kan yang bilang untuk mengatakan pada kalian kalau aku melihat ada yang aneh. Itu sebabnya aku mengatakannya pada kalian.”

“Lalu, apa yang sebenarnya ada di atas?” kami bertiga bertanya-tanya.

 

TO BE CONTINUED