Showing posts with label HISTORY. Show all posts
Showing posts with label HISTORY. Show all posts

Saturday, May 1, 2021

RIWAYAT RANAVALONA I: SALAH SATU RATU TERKEJAM DALAM SEJARAH DUNIA

 

Siapakah pemimpin wanita terkejam dalam sejarah? Mungkin ada yang menjawab Kaisar Wu Zetian di dinasti Tiongkok kuno atau Queen Mary dari dinasti Tudor Inggris yang karena kekejamannya sampai dijuluki sang “Bloody Mary”. Namun rupanya jika kita menghitung jumlah korbannya, kedua masih terbilang kalah sadis dengan ratu dari negeri antah berantah ini. Ranavalona I adalah nama ratu yang pernah berkuasa di Madagascar, sebuah pulau di sebelah tenggara Afrika. Namanya memang masih asing di telinga kita, namun jangan salah. Di bawah kepemimpinannya yang bertangan besi, populasi Madagascar saat itu turun drastis dari 5 juta menjadi 2,5 juta hanya dalam waktu 6 tahun.

Dengan kata lain, sang ratu ini dengan keji melenyapkan separuh populasi pulaunya sendiri.

Siapakah Ranavalona ini dan seperti apa riwayat kekejamannya? Kita simak saja di Dark History kali ini.

LENYAPNYA KOLONI ROANOKE: AMERICA’S FIRST MYSTERY

 

Postingan ini dibuat atas permintaan Adhitya Sucipto. Thanks atas inspirasinya!

12 Oktober 1492 tercatat dalam sejarah sebagai kala dimana Christopher Columbus pertama menemukan benua Amerika. Walaupun ada banyak kontroversi mengenai pengetahuan umum ini (bangsa Viking dari Eropa sudah datang ke Amerika sejak tahun 1000 M dan Columbus sebenarnya tak mendarat di benua Amerika kala itu, namun di sebuah pulau di Karibia), namun tak bisa ditampik bahwa semenjak tanggal tersebut, kolonialisasi benua tersebut dimulai oleh bangsa Eropa. Koloni Jamestown yang didirikan pada 1607 tercatat sebagai koloni bangsa kulit putih pertama di benua tersebut. Namun perlu dicatat bahwa Jamestown merupakan koloni “sukses” pertama, bukan koloni pertama yang sesungguhnya. Jauh sebelum Jamestown, sudah ada beberapa koloni-koloni yang didirikan di benua tersebut oleh bangsa Eropa, namun semua berujung pada kegagalan, bahkan tragedi. Salah satunya adalah koloni Roanoke.

Koloni Roanoke didirikan pada 1583 oleh pemerintah Inggris, namun koloni menemui akhir yang amat misterius. Ketika kembali dikunjungi pada 1590, seluruh populasinya lenyap tanpa jejak. Hingga kini tak ada yang tahu dimana keberadaan para penduduk Roanoke. Karena masa itu merupakan masa dimana Amerika masihlah benua “liar” dan bangsa Eropa terlibat perselisihan dengan bangsa Indian (penduduk asli Amerika), tentulah banyak kemungkinan tentang apa yang terjadi pada mereka. Namun tak bisa dipungkiri, lenyapnya koloni Roanoke adalah “misteri pertama Amerika”.

Apa yang sesungguhnya terjadi pada koloni yang tiba-tiba lenyap tersebut? Kita akan membahasnya dalam Dark History kali ini.

Friday, April 30, 2021

CHERNOBYL DIARIES 2: PART 2 – BAGAIMANA CHERNOBYL NYARIS MEMUSNAHKAN KEHIDUPAN DI EROPA, BAHKAN DUNIA

 

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Kinare Amarill. Thanks!

Dari seri pertama (yang amat panjang) tentang Chernobyl kita sudah membahas sains di balik cara bekerjanya sebuah PLTN serta apa penyebab ledakan di PLTN Chernobyl di Pripyat kala itu. Perlu kita ingat bahwa PLTN Chernobyl memiliki 4 reaktor dan ledakan kala itu hanya terjadi di reaktor nomor 4. Namun ini saja cukup untuk memulai sebuah efek domino yang berpotensi menyapu seluruh kehidupan yang ada di Eropa. Kini, reaktor nomor 4 yang sama sekali tak terlindungi oleh RPV seperti reaktor nuklir lain pada umumnya,

Ledakan tersebut tak melukai secara langsung para teknisi yang sedang bekerja dari ruang kontrol, termasuk Anatoly, Aleksander, dan Leonid, namun terdengar keras hingga membangunkan seantero warga Pripyat. Grafit, yang merupakan moderator reaktor yang menahan inti uranium tersebut, terpental ke udara, melepaskan radiasi yang amat mematikan.

Monday, April 26, 2021

CHERNOBYL DIARIES: PART 1 – INILAH AKIBATNYA JIKA KALIAN MEMAKAI REAKTOR NUKLIR “HARGA TEMEN”

 

PLTN Chernobyl

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Kinare Amarill. Thanks!

Sudah menonton serial HBO berjudul “Chernobyl” yang merupakan re-interpretasi Hollywood tentang bencana Chernobyl di Ukraina (dulu jajahan Uni Soviet) pada 1986? Well, gue sarankan sih jangan (kecuali kalian penggemar drama-drama bertema berat) karena nggak hanya “slow burn” namun nuansanya amat kelam dan menyebabkan depresi. Namun mungkin itulah yang dialami penduduk Chernobyl kala itu dibawah cengkeraman rezim Komunis Rusia. Tapi drama tersebut (walaupun tak sepenuhnya 100% akurat karena tentu harus ada dramatisasi untuk membuatnya makin komersil) membuat gue sadar akan satu fakta yang selama ini gue abaikan.

Selama ini gue menganggap Uni Soviet sebagai pihak jahat yang akibat kelalaiannya menyebabkan bencana nuklir terburuk dalam sejarah itu. Namun kenyataannya, Uni Soviet juga merupakan “pahlawan” sebab seandainya mereka tidak bertanggung jawab atas insiden tersebut, seluruh kehidupan di Eropa mungkin akan musnah tak berbekas dan seluruh benua biru itu akan menjadi benua mati. Jika seluruh Eropa mati, maka well, jelas dampaknya akan dirasakan di seluruh dunia, at least impact ekonominya.

Mengejutkan memang, namun sebuah kesalahan yang terjadi pada Sabtu malam, 26 April 1986 itu bisa saja menimbulkan sebuah Butterfly Effect yang begitu mematikan hingga bisa mengancam keberadaan kehidupan di dunia ini akibat pancaran radiasi mautnya.

Namun mengapa bencana itu bisa sedemikian berbahaya? Apa penyebabnya dan bagaimana kita akhirnya bisa menghindari bencana yang mungkin saja bisa menimbulkan pergolakan politik dan sosial yang sedemikian dahsyat itu (jika saja seluruh Eropa menjadi benua mati tentu efeknya akan sangat drastis bagi sejarah dunia ini)?

Dear readers, silakan simak Dark History kali ini untuk mengetahui jawabannya.

SEJARAH PARA ASSASSIN: WARISAN TIMUR TENGAH YANG PALING DITAKUTI

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Adhitya Sucipto. Thanks!

Kalian tentu tak asing lagi dengan istilah “assasin” alias pembunuh. Kata yang terserap ke Bahasa Inggris ini sesungguhnya berasal dari bahasa Arab. Alasannya, Assassin adalah nama ordo pembunuh yang benar-benar ada di Timur Tengah kuno sana. Ordo Assassin berdiri pada tahun 1090 hingga akhirnya berakhir pada 1275. Namun siapakah Ordo Assassin ini sebenarnya?

Assassin sesungguhnya adalah nama sebuah cabang ajarah Syi’ah yang bernama sekte Nizari yang merupakan penganut mazhab Ismaili. Kaum Nizari mendapatkan permusuhan baik dari kaum Muslim Sunni maupun dari kaum Syi’ah mainstream sendiri, sehingga mereka harus bersembunyi di daerah pegunungan di antara Persia dan Syria. Karena hanya berjumlah sedikit, maka mereka mengembangkan sebuah metode unik untuk mempertahankan diri. Mereka mengutus para pembunuh dari klan mereka sendiri untuk menghabisi lawan politik mereka secara diam-diam. Cara ini dianggap lebih menguntungkan daripada berperang dengan pasukan melawan musuh mereka, yang jelas akan membuat mereka kewalahan karena sedikitnya jumlah mereka. Tak jarang, mereka juga “mengomersilkan” jasa mereka dengan bersedia menjadi pembunuh bayaran bagi berbagai pihak yang berani membayar mereka. Kisah para Assassin ini tentu menjadi cacatan hitam yang cukup tabu bagi dunia Muslim Timur Tengah kuno.

Seperti apakah sepak terjang para Assassin ini hingga nama mereka tetap terabadikan di dunia modern ini? Kita simak saja kisah para Assassin ini di Dark History kali ini.


THE DAWN OF THE ASSASSIN


Inilah lukisan Hassan I, grand master pertama sekaligus pendiri Ordo Assassin


Pendiri Orde Assassin adalah pria bernama Hassan-i Sabbah. Baik Hassan maupun ayahnya merupakan penganut mazhab Ismaili, salah satu aliran dalam ajaran Syi’ah. Kala itu Hassan dan keluarganya tinggal di kota Rayy, Iran. Namun penguasa kota Rayy kala itu, Nizam al Mulk, ternyata amat membenci para penganut Syi’ah sehingga iapun mengusir Hassan dan keluarganya dari Persia. Hassan kemudian mengungsi ke tempat ayahnya yang tinggal di Kairo. Kala itu Kairo merupakan ibu kota Kekhalifamah Fatimiyah yang juga bermazhab Ismaili.

Namun di sana Hassan kembali terlibat masalah. Kala itu Kekhalifahan Faitimiyah tengah gonjang-gonjing karena kematian sang khalifah mereka, yakni al-Mustansir Billah. Sang khalifah kala itu memiliki dua anak yang bersengketa dan berebut tahta. Ayah Hassan kala itu mendukung Nizar, sang putra tertua khalifah. Namun pemenang sengketa adalah adiknya, al-Musta’li, sehingga keluarga Hassan dan pengikutnya yang tadinya mendukung Nizari pun akhirnya diusir dari Kairo. Karena mendukung Nizar, maka para pengikut Hassan pun disebut Nizari. Sekte Nizari (yang tadi merupakan cabang mazhab Ismaili dari aliran Syi’ah) kini mendapat dua musuh, yakni kaum Sunni (yang sejak awal memang menentang keberadaan aliran Syi’ah) dan juga dari kaum Ismaili (Syi’ah) sendiri yang memenangkan sengketa di Kekhalifahan Fatimiyah.

Namun Hassan kurang sreg dengan istilah “Nizari” ini sehingga kemudian memanggil para pengikutnya sebagai para “Assassin” yang berasal dari kata “asas”. Arti dari kata “Assassin” sendiri adalah orang-orang yang memiliki prinsip atau asas. Tak diterima baik di Timur Tengah, para pengikut sekte Nizari ini kemudian bersembunyi di pegunungan antara Persia dan Suriah. Kaum Assassin kemudian merebut kastil Alamut dan Lambsar di wilayah pegunungan dekat Laut Kaspia yang kemudian mereka gunakan sebagai benteng pertahanan.


Inilah peta wilayah Assassin, berada di tengah County of Tripoli dan Principality of Antioch yang dikuasai pasukan Salib Kristen dari Eropa. Mereka juga bertetangga dengan Kerajaan Yerusalm (milik Eropa), Kekhalifahan Fatimiyah, dan Kekaisaran Seljuq


Kala itu kemunculan para Assassin hampir bertepatan dengan Perang Salib I pada 1096. Para pasukan Eropa yang memenangkan Perang Salib kemudian bercokol di tiga wilayah, yakni Antiokia, Tripoli, dan Yerusalem, serta mendirikan negara merdeka di sana. Antiokia meliputi Turki dan sebagian Suriah, sementara Tripoli meliputi Lebanon utara dan Suriah barat, serta Kerajaan Yerusalem yang meliputi Lebanon selatan, Suriah selatan, Yordania, hingga tentu saja Palestina. Uniknya, wilayah kekuasaan para anggota Ordo Assassin ini berada di antara Antiokia dan Tripoli yang tergolong wilayah yang dikuasai kaum Kristen. Karena berada di wilayah pegunungan yang terpencil serta lokasinya pun berada di wilayah kekuasaan Eropa, Kaum Assassin pun tergolong bebas dari gangguan kaum Muslim dari aliran lain yang hendak mengganggu mereka.

Namun bukan berarti kaum Assassin tak terlibat politik. Bahkan mereka dengan aktif berkecimpung di dalamnya. Kaum Assassin secara resmi bermusuhan dengan Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir dan Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Irak dan berpaham Sunni. Kaum Assassin ingin menyingkirkan kedua kerajaan tersebut, tapi tentu saja hal itu tidaklah mudah. Ketiganya adalah kekaisaran dengan wilayah luas, jumlah tentara yang amat besar, serta persenjataan lengkap. Sebagai sebuah sekte kecil, tentu para Assassin akan kalah telak jika berani melawan mereka. Karena itu Hassan kemudian menggunakan sebuah taktik dengan melatih kaum pria dari sektenya untuk menjadi pembunuh tangguh yang kemudian dikirimkan untuk memata-matai dan membunuh para lawan politiknya, meliputi para wazir, raja, bahkan khalifah sekalipun. Cara itu tergolong lebih praktis untuk menghabisi musuh-musuh mereka ketimbang harus berperang.

Uniknya, para Assassin ini memiliki kode etik sendiri. Semisal mereka hanya membunuh dalam jarak dekat menggunakan pisau atau belati, karena cara itu dianggap lebih “terhormat”. Mereka tak pernah membunuh diam-diam menggunakan panah ataupun racun karena cara itu dianggap kurang “jantan”.

Hassan sendiri sebagai pendiri Ordo Assassin ini tak pernah meninggalkan tahtanya. Ia hanya mengutus para assassin-nya untuk beraksi, namun memerintah langsung dari dalam benteng. Karena tak pernah “turun gunung”, iapun dikenal memiliki reputasi misterius dan kerap disebut sebagai “sang pria tua di atas gunung”. Konon, Marco Polo, sang petualang legendaris yang kala itu kebetulan melintasi wilayah kekuasaan para Assassin, yang memberinya julukan itu berdasarkan hembusan kabar burung.


THE WAR WITH THE SELJUKS


Di wilayah pegunungan seperti inilah para assassin bermarkas, sehingga amat sulit menaklukkan mereka

Lalu siapakah korban para Assassin ini? Korban perdana kaum Assassin adalah Nizar al Mulk dari Kesultanan Seljuk (kini merupakan wilayah Turki dan Iran). Jika kalian ingat, dia-lah orang yang dulu mengusir Hassan dari kota Rayy, tempat tinggalnya, hanya karena dia penganut paham Syi’ah. Rupanya Hassan adalah pria yang amat pendendam sehingga pria yang dulu pernah menghinanya itu dijadikannya korban pertama. Namun hal ini mengobarkan permusuhan baru antara Kesultanan Seljuk dengan Ordo Assassin.

Pada masa pemerintahan Hassan, Ordo Assassin sukses besar, bahkan berhasil menghabisi sekitar 50 musuh besar mereka, kebanyakan adalah petinggi politik Kesultanan Seljuk. Hal ini tentu saja membuat murka Sultan Seljuk kala itu yang bernama Muhammad I Tapar. Merasa sukses, Ordo Assassin pun semakin pede dan berani memperluas wilayah kekuasaannya. Mereka bahkan berhasil membuka “cabang” di Aleppo, Suriah. Kala itu, Hassan mengutus salah satu assassin kepercayaannya, al-Hakim al-Munajjim yang tak hanya memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni, namun juga amat cerdas. Ia adalah cendekiawan yang menguasai ilmu astrologi dan kedokteran. Ia kemudian bersahabat dengan emir Aleppo kala itu, Ridwan. Bahkan, para assassin membantu Ridwan untuk menyingkirkan para lawan-lawan politiknya. Ketika al-Hakim meninggal, maka assassin legendaris lain, seorang pandai besi bernama Abu Tahir al-Sa’igh, menggantikannya. Baik al-Hakim maupun Abu Tahir dikenal sebagai “grand master” Assassin (walaupun hanya memimpin cabang Suriah) karena kepiawaian mereka membunuh.

Pada 1105, tangan Muhammad I Tapar sang Sultan Seljuk sudah terlalu gatal ingin menghabisi para Assassin sehingga iapun mengutus seorang panglimanya, Ahmad ibn Nizam al-Mulk, untuk menghancurkan benteng para Assassin di Alamut. Sesuai namanya, kalian pasti sudah menduga bahwa Ahmad adalah putra dari Nizam, korban pertama para Assassin. Namun sayang, Ahmad tak berhasil merebut benteng Alamut dan membalaskan dendam ayahnya. Akan tetapi ia berhasil menghabisi salah satu pemimpin Assassin bernama Ahmad ibn 'Abd al-Malik ibn Attāsh.

Kastil Masyaf di Suriah, salah satu lokasi benteng pertahanan milik Ordo Assassin

Di Suriah, sang grand master Assassin, Abu Tahir kembali membantu Ridwan menyingkirkan musuh politiknya, kali ini bernama Khalaf ibn Mula'ib, emir kota Apamea. Mereka mengutus assasin bernama Abu'l Fath dari Sarmin yang berhasil membunuh Khalaf dan menjadikan Ridwan penguasa kota Apamea. Namun kemudian, salah satu anak laki-laki dari Khalaf ternyata berhasil lolos dan membalaskan dendam ayahnya dengan menghabisi Abu’l Fath. Yang mengejutkan, keberhasilannya kala itu ternyata berkat dukungan Tancred, seorang ksatria Perang Salib blasteran Italia dan Viking. Peristiwa ini membuat para Assassin mulai mewanti-wanti keberadaan para ksatria Eropa.

Pada 1108, Ahmad ibn Nizam al-Mulk hampir saja dibunuh oleh para assassin sebagai aksi balas dendam, namun beruntung ia berhasil lolos. Tapi para assassin sendiri berhasil membunuh banyak saingan politik mereka, mulai dari Isfahan (Iran) hingga Mosul (Suriah).

Ridwan, sang penguasa Aleppo meninggal pada 1113 dan digantikan oleh anaknya, Alp Arslan al-Akhras. Namun sang anak ini, baru berusia 16 tahun dan juga tuna wicara, sangat mudah dipengaruhi. Muhammad I Tapar, sang sultan Seljuk, memperingatkan pemimpin muda itu akan betapa berbahaya para Assassin. Akibatnya, Alp Arslan tak sudi lagi melanjutkan kerjasamanya dengan para Assassin, seperti yang dilakukan ayahnya. Alp Arslan kemudian mengutus panglimanya, Said ibn Badi, untuk menghabisi para Assassin di Aleppo. Bahkan, mereka berhasil menghukum mati Abu Tahir, sang grand master Assassin. Namun tentu saja para Assassin lain tak tinggal diam dan berhasil menghabisi Said ibn Badi sebagai aksi balas dendam. Alp Arslan, karena kecerobohannya, membuat banyak musuh (baik dari kalangan orang dalamnya maupun dengan kerajaan lain, seperti Antiokia) akhirnya tewas, bahkan tanpa campur tangan para Assassin.

Pada 1118, Muhammad I Tapar akhirnya meninggal dunia dan saudaranya, Ahmad Sanjar menjadi sultan Seljuk yang baru. Kini para Assassin mengubah taktik mereka. Mengetahui bahwa kaum Seljuk adalah musuh yang amat berbahaya, mereka kini mengajukan perdamaian. Namun usaha perdamaian ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan Ahmad yang sudah keburu jyjy dengan reputasi sadis para Assassin. Akibatnya, Assassin pun mengancam Ahmad dengan “halus”. Konon, para assassin menyusup ke dalam kamar sang sultan ketika ia sedang tidur, lalu meninggalkan sebilah belati di samping ranjangnya. Hal ini seakan menjadi peringatan bahwa para assassin bisa melakukan apa yang mereka mau, termasuk membunuh sultan kapanpun. Ancaman dari para assassin itupun cukup membuat Sultan Ahmad bergidik ngeri hingga iapun memutuskan berdamai dengan para Assassin, bahkan rela memberi mereka upeti.

Lukisan yang menggambarkan keberhasilan seorang assassin menghabisi Nizam al Mulk dari Kekaisaran Seljuq. Perhatikan kesamaan busana antara sang assassin yang sedang menusuk Nizam dengan para pengawal Nizam, membuktikan para assassin sangatlah mahir dalam menyamar

Kini, berhasil “menaklukkan” Kekaisaran Seljuk, musuh besar mereka, kebrutalan para Assassin pun menjadi-jadi. Mereka mulai mengintai dua kekhalifahan yang selama ini menjadi musuh bebuyutan mereka, yakni Kekhalifahan Fatimiyah yang beraliran Syi’ah dan Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni. Para anggota Ordo Assassin tentu masih dendam kesumat pada Kekhalifahan Fatimiyah karena mengusir mereka dari tanah air mereka. Pada 1121, mereka menghabisi seorang wazir (penasehat) yang sangat berpengaruh di Dinasti Fatimiyah, yakni al-Afdal Shahanshah (dia pulalah yang dulu membunuh Nizar, sang panutan kaum Assassin sebelum mereka terusir dari Kairo). Bahkan sang khalifah sendiri, yakni al-Amir bi-Ahkam Allah juga berhasil mereka bunuh pada 1130. Pada 1135, mereka juga berhasil menghabisi seorang khalifah Abbasiyah bernama al-Mustarshid.

Pada 1124, Hassan sang grand master sekaligus pendiri Ordo Assassin, akhirnya meninggal dunia dan digantikan anaknya, Kiya Buzurg Ummid. Ahmad Sanjar, sang Sultan Seljuk mengira ini adalah kesempatan emas untuk menghabisi para Assassin karena menyangka sang grand master baru ini menye-menye dan nggak setangguh ayahnya. Sang sultanpun mengutus perwiranya, Mu'in ad-Din Kashi untuk segera menghancurkan benteng Assassin. Namun serangan ini gatot alias gagal total dan Mu’in akhirnya dibunuh oleh para assassin.

Mahmud II, putra dari mendiang Muhammad I Tapar yang kala itu diberi daerah kekuasaan di Isfahan (Iran) berusaha meminta ampun atas “kekhilafan” Sultan Ahmad itu. Takut nantinya para Assassin membalas dendam dengan aksi yang lebih keji, Mahmud II kemudian menawarkan perdamaian. Para duta dari kaum Assassin kemudian datang ke Isfahan untuk memenuhi permintaan Mahmud II (yang sebenarnya tulus itu). Namun ternyata rakyat Isfahan sendiri tak sudi menerima kedatangan mereka dan langsung ramai-ramai mengeroyok dan menghabisi para utusan Assassin tersebut. Hal tersebut menunjukkan sudah sebegitu kadung bencinya rakyat Seljuk terhadap para Assassin yang memiliki reputasi kejam dan kelam itu.

Buzurg Ummid, sang grand master Assassin, meninggal pada 1138 dan digantikan oleh putranya Kiya Muhammad. Ia kemudian membalas dendam atas insiden di Isfahan itu dengan menghabisi putra Mahmud II (karena kala itu Mahmud II sudah keburu meninggal). Kiya Muhammad sebagai grand master yang baru juga mencatat sejarah dengan membunuh korban Eropa pertama mereka. Kala itu, Raymond II, raja dari Tripoli tiba-tiba menjadi korban para Assassin. Perlu diingat bahwa sebelumnya para Assassin tak pernah mencari masalah dengan kaum Eropa yang bercokol di Timur Tengah semenjak Perang Salib, jadi tentu alasannya bukanlah main-main. Kala itu Raymond menyetujui kedatangan musuh bebuyutan para Assassin dari Eropa.

Siapa lagi jika bukan para Ksatria Templar.


SALADIN AND THE KNIGHTS OF TEMPLAR


Saladin, sang pahlawan Muslim termahsyur juga menjadi musuh bebuyutan para Assassin

Pada 1162, sang grand master Assassin Kiya Muhammad turun tahta dan digantikan oleh anaknya yang bergelar Hassan II. Setelah kematian Hassan II pada 1166, maka putranya Imam Muhammad II menggantikannya. Namun dua grand master ini dianggap lemah dan tak “segarang” pendahulu-pendahulunya. Justru nantinya, yang menjelma menjadi sosok assassin paling ditakuti adalah pria bernama Rashid ad-Din Sinan, yang nantinya karena kepiawaiannya membunuh yang begitu ditakuti, berani mengangkat dirinya sendiri sebagai seorang grand master.

Kala itu wilayah Timur Tengah berkobar karena terjadinya Perang Salib III. Sinan, seorang ahli alkimia yang cerdas, dikirim Hassan II ke Suriah untuk mengembalikan kejayaan para Assassin di sana. Ingat, para Assassin dulu memiliki kedudukan amat kuat di Suriah pada masa kekuasaan Ridwan, sebelum akhirnya terusir dari sana. Sinan, dengan kecerdasan dan juga kemampuannya membunuh, tak perlu waktu lama untuk menjadi salah satu assassin terhebat dan juga paling legendaris. Bahkan, kala itu Sinan bebas membunuh siapapun yang ia mau tanpa perlu perintah langsung Hassan II, sang grand master-nya sendiri. Memang, kala itu Hassan II yang bertahta di Alamut, markas besar Assassin, justru takut dan takluk pada kehebatan Sinan.

Namun kini, di tengah Perang Salib II, Sinan harus memilih antara dua sisi yang berlawanan, apakah ia akan mendukung para pasukan Salib dari Eropa, yang dipimpin oleh Richard The Lion Heart, ataukah ia akan mendukung pasukan Muslim yang dipimpin ksatria legendaris, Saladin?

Jawabannya mungkin akan mengejutkan kalian.

Ordo Assassin seringkali bersitegang dengan dunia Islam, contohnya dengan Kekhalifahan Fatimiyah yang membangun masjid Al-Azhar di Kairo ini. Karena itulah, pada ajang Perang Salib, peran mereka amatlah ambigu

Kala itu para Kstaria Templar tiba dari Eropa. Mereka mendarat di Tartus, kini wilayah Suriah. Ingat, Raymond II sang raja Tripoli kala itu dibunuh oleh Assassin karena mengizinkan keberadaan para Ksatria Templar tersebut. Namun rupanya para Assassin lebih memilih berdiplomasi dalam menghadapi kedatangan para ksatria dari Eropa itu. Sinan, yang kini telah mengangkat dirinya sebagai grand master Assassin, mencoba bernegosiasi dengan pemimpin Eropa lain di Timur Tengah, yakni Almaric yang kala itu menjabat sebagai raja Yerusalem. Sinan bersedia membantu Almaric untuk mengalahkan Nur ad-Din, seorang raja dari Negeri Syam yang menjadi musuh bebuyutannya, dengan imbalan Almaric menyingkirkan para Ksatria Templar dari Tartus.

Almaric menyetujui rencana itu dan Sinan-pun mengutus para Assassin ke Yerusalem. Namun di tengah perjalanan, seorang ksatria Templar bernama Walter du Mesnil berhasil menyergap para Assassin ini dan membunuh mereka. Rupanya rencana mereka tercium oleh grand master Ksatria Templar bernama Odo de Saint Amand yang kemudian mengutus Walter. Almaric yang kesal karena rencananya runyam akhirnya meminta Walter dan para ksatria Templar lainnya menyerah. Odo menolak dan menyatakan hanya Paus-lah yang berkedudukan di Vatikan yang bisa menghukum Walter. Almaric-pun, demi menjaga “persahabatannya” dengan Ordo Assassin, diam-diam menangkap Walter dan mengurungnya. Sinan kemudian menerima permintaan maaf Almaric, namun tentu insiden tersebut menambah kebencian Ordo Assassin terhadap para Ksatria Templar.

Selesai menghadapi Ksatria Templar, Sinan kini memusatkan perhatiannya pada musuhnya yang lain: Saladin. Saladin adalah seorang ksatria dari golongan suku Kurdi yang beragama Sunni. Tentu, sebagai Sunni, ia menjadi musuh bebuyutan kaum Assassin yang beraliran Syi’ah. Kepopuleran Saladin sebagai seorang jenderal perang tangguh mulai membuat para Assassin khawatir. Selama ini para Assassin bercokol di perbatasan dua wilayah kekuasaan Eropa di Timur Tengah. Jika Saladin berhasil mengusir hegemoni Barat dari sana dan wilayah itu dikuasai Muslim, apalagi Sunni, tentu akan berdampak buruk bagi mereka. Oleh karena itu, para Assassin berusaha mengenyahkan Saladin.

Bahkan, karena tangguhnya musuh baru mereka, Sinan sang grand master Assassin sendiri akhirnya turun tangan.

Kabar bahwa para Assassin mengincarnya telah lama terdengar di kuping Saladin sehingga membuatnya khawatir. Tentu saja, siapa tak mengenal reputasi brutal dari ordo pembunuh yang paling ditakuti di Timur Tengah itu? Bahkan, Saladin mengantisipasi kedatangan para Assassin ini (yang biasanya diam-diam di tengah malam) dengan menebarkan bubuk kapur dan arang di sekitar tendanya, untuk menangkap jejak kaki para Assassin.

Namun sang Assassin ternyata lebih piawai. Sinan kala itu menyusup diam-diam ke tenda Saladin dan yang mengejutkan, sama sekali tak melukainya. Ia malah meninggalkan sebuah roti beracun dan belati di samping tempat tidur Saladin (ingat, metode “menakut-nakuti” ini juga pernah mereka lancarkan pada seorang sultan Seljuk). Tentu tujuannya untuk menurunkan nyali Saladin dan menunjukkan bahwa para assassin bisa membunuhnya kapanpun mereka mau. Khawatir akan keselamatan keponakannya, paman Saladin yang juga menjabat sebagai gubernur di kota Hama, Suriah akhirnya menjembatani perdamaian antara Saladin dan para Assassin.

Setelah “menaklukkan” Saladin, apalagi rencana para Asassin?

Saladin berhasil menaklukkan para Ksatria Templar

Kala itu, di tengah Perang Salib III, Kerajaan Yerusalem tengah mengalami gonjang-ganjing akibat kematian sang raja, Almaric. Almaric kala itu meninggalkan dua orang putri cantik jelita bernama Sybilla dan Isabella, yang diam-diam bersaing dan saling membenci, sebab berasal dari dua ibu yang berbeda. Kontan, para pangeran-pangeran tampan dari penjuru Eropa berebut hendak meminang kedua putri itu. Tak hanya karena kecantikan mereka, namun siapapun yang berhasil menikahi kedua putri itu tentu akan menjadi Raja Yerusalem. Kota Yerusalem, seperti kalian tahu, merupakan kota suci bagi tiga agama sekaligus, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam. Tak heran, tentu siapapun yang menjadi raja akan meraup upeti pajak yang amat besar dari para penganut tiga agama tersebut yang tak henti-hentinya datang ke Yerusalem untuk berziarah.

Kala itu Sybilla menikah dengan Guy of Lusignan, seorang ksatria dari Prancis, sementara Isabella menikah dengan Conrad of Montferrat, bangsawan dari Italia. Sayangnya, Sybilla kemudian meninggal karena wabah. Sebagai suami putri sulung Almaric, Guy merasa dirinya berhak menduduki tahta sebagai raja Yerusalem. Namun Conrad berpikir lain. Karena Isabella adalah satu-satunya putri Almaric yang masih hidup, maka istrinya-lah yang pantas menjadi ratu dan ia selaku suaminya yang seharusnya menjadi raja. Akibatnya, pecah perang antara dua kubu pendukung Guy dan Conrad untuk memperebutkan tahta Raja Yerusalem.

Perselisihan antara keduanya semakin runyam setelah seorang raja Inggris bernama Richard The Lion Heart, yang baru saja tiba untuk membela Eropa dalam Perang Salib III, ikut campur tangan. Dalam kekisruhan itu, rupanya Raja Richard lebih mendukung Guy. Namun Conrad mewarisi darah biru bangsawan (bahkan, dua sepupunya menjabat sebagai raja) sehingga Guy-pun (yang hanya seorang ksatria) kalah pamor. Namun disinilah terjadi sebuah peristiwa misterius.

Kala itu Conrad menunjukkan kepiawaiannya berperang dengan berhasil mempertahankan kota Tyre di Lebanon dari serangan Saladin. Namun tiba-tiba saja, pria-pria misterius yang menyamar menjadi rahib menyusup dan menusuk Conrad hingga tewas. Dari gaya pembunuhannya yang khas, kuat dugaan bahwa para pembunuh itu tak lain adalah utusan dari para Assassin. Namun apa tujuan mereka membunuh Conrad? Bukannya selama ini para Assassin berusaha keras untuk tak ikut campur dalam permasalahan pribadi para warga Eropa yang menduduki Timur Tengah (terkecuali karena terpaksa, seperti pada kasus Raymond II dan para Ksatria Templar)? Ada desas-desus bahwa para Assassin tersebut sesungguhnya dibayar jasanya oleh Richard The Lion Heart untuk menghabisi Conrad. Namun ada pula teori yang lebih heboh yang menyatakan bahwa Saladin sendirilah otak di bawah pembunuhan.

Hingga kini, misteri tersebut tak pernah terpecahkan.


THE FALL OF THE ASSASSINS


Lukisan yang menggambarkan jatuhnya benteng para assassin di tangan para pasukan Mongol yang terkenal beringas

Pembunuhan Conrad merupakan aksi terakhir Sinan. Sang grand master terhebat dalam sejarah Ordo Assassin itu akhirnya meninggal pada 1193, anehnya, pada tahun yang sama dimana Saladin meninggal. Namun sayangnya (atau malah untungnya), sepeninggal Sinan, tak ada lagi grand master Assassin yang mampu menyamai kehebatannya. Bahkan Ordo Assassin justru mengalami kemerosotan karena konflik internal. Pada 1210, Muhammad II meninggal dan digantikan anaknya Hassan III. Namun berbeda dengan para grand master sebelumnya, Hassan III lebih condong pada ajaran Sunni karena memiliki ibu dan empat istri yang kesemuanya penganut Sunni. Ia bahkan membuka persahabatan dengan Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni (yang sebelumnya menjadi musuh bebuyutan Ordo Assassin).

Tentu saja perubahan drastis ini membuat para Assassin yang beraliran Syi’ah tak terima. Hassan III kemudian tewas secara misterius pada 1221 karena diracun. Penggantinya adalah Muhammad III, putranya yang baru berusia 9 tahun. Tentu saja karena usia yang terlalu muda, para penasehatnya turun tangan untuk memangku tahta. Titah pertama mereka adalah membunuh istri-istri Hassan III yang dituduh meracuninya. Tentu saja mengingat tabiat para Assassin, bisa dipastikan sang grand master tersebut dibunuh oleh anak buahnya sendiri.

Pada 1255, grand master Muhammad III juga ditemukan tewas secara misterius, sama seperti ayahnya, dan digantikan anaknya, Rukn al-Din Khurshah yang kemudian akan dikenal sebagai grand master Assassin terakhir.

Kepiawaian Assassin dalam membunuh ternyata bukanlah tandingan serangan tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Mereka berhasil menaklukkan benteng Alamut bahkan menghukum mati sang grand master terakhir. Namun itu bukan berarti kaum Asasssin benar-benar punah. Perlu kita pahami bahwa istilah “Assassin” berlaku bagi semua penganut paham Nizari dari mazhab Ismaili dari aliran Syi’ah. Tak hanya para pembunuh piawai saja, namun juga istri dan anak-anak mereka juga bisa disebut “Assassin” asalkan memiliki paham yang sama.

Para Assassin yang selamat pun bermukim di Salamiyah, Suriah. Kini, para Assassin yang tersisa tak lagi menyebut diri mereka dengan nama yang jelas memiliki konotasi mengerikan itu. Mereka hanya menyebut diri mereka Sekte Nizari dimana kini, mereka memiliki pemimpin tertinggi bernama Aga Khan. Sekte Nizari tak pernah benar-benar mati, bahkan bisa dibilang memiliki posisi yang cukup dihormati baik di Timur Tengah maupun Asia Selatan.

Namun setelah mempelajari sejarah para Assassin, muncul pertanyaan. Bagaimana mereka bisa setangguh itu, hingga nama merekapun terukir dalam sejarah?

Para Assassin dikenal dengan misi bunuh diri mereka. Seperti para pilot Kamikaze Jepang, para Assassin sama sekali tak takut kematian. Tapi apa rahasianya?


THE HASHISH EATER


Lukisan yang menggambarkan Hassan I, sang grand master, tengah "mengakali" pengikutnya sehingga merekapun rela mati demi menuntaskan tugas berbahaya Ordo Assassin


Seperti yang sudah gue sebutkan tadi di awal, nama “Assassin” berasal dari kata “asas”. Namun ada pula teori lain yang menyatakan bahwa nama tersebut berasal dari “hashshashin” yang artinya pengguna “hashish”. Kalian mungkin tak asing dengan hashish yang merupakan “rokok” khas Timur Tengah. Ada kemungkinan bahwa asal nama ini ada benarnya. Kaum Assassin memang dikenal sebagai pengguna hashish, namun bukan untuk bersenang-senang. Konon, sang grand master pertama Assassin, yakni Hassan, meminta para anggota-anggota baru para Assassin untuk merokok menggunakan hashish ini sebagai suatu bentuk upacara inisiasi. Tanpa sepengetahuan mereka, Hassan telah memasukkan sejenis halusinogen (mungkin opium) atau bahkan obat bius ke dalam hashishs tersebut. Dalam kondisi tak sadarkan diri (atau bahkan teler), para assassin-assassin baru itu dibawa ke sebuah taman yang indah dan berisi gadis-gadis cantik. Hassan kemudian mengatakan bahwa mereka tengah berada di “surga” dan jika mereka akan kembali lagi ke tempat itu jika mereka mati di tengah misi “suci” untuk melayani Ordo Assassin.

Ada juga cerita lain tentang bagaimana Hassan meyakinkan para anggotanya untuk rela mati di misi mereka. Ia berpura-pura memenggal kepala salah seorang Assassin-nya dan menaruh kepalanya di depan tahtanya. Padahal, yang terjadi sebenarnya, pria itu hanyalah dikubur dengan kepala di atas tanah. Hassan lalu berpura-pura memiliki kekuatan untuk berkomunikasi dengan orang mati dan “membangkitkan” kepala itu. Kemudian kepala itu akan membuka matanya dan bercerita tentang surga yang ia kunjungi setelah mati karena selama ini ia melayani ordo Assassin sepenuh hati. Untuk semakin meyakinkan ceritanya itu, Hassan kemudian diam-diam memenggal sungguhan pria tersebut dan memajang kepalanya untuk mengukuhkan triknya itu.

Legenda lain tentang para Assassin mengisahkan tentang seorang ksatria dari Eropa bernama Count Henry II of Champagne yang kala itu berjumpa dengan sang Grand Master Assassin yang legendaris, Sinan. Kala itu sang Count sesumbar bahwa tentaranya-lah yang terhebat dan mereka bisa mengalahkan para Assassin dengan mudah karena jumlah mereka 10 kali lipat banyaknya. Mendengarnya, Sinan hanya tersenyum lalu menyuruh salah satu Assassin yang kala itu berjaga di atas menara untuk menjatuhkan dirinya ke bawah. Tanpa ragu, sang Assassin itupun melompat dan akhirnya tewas. Melihatnya, sang Count langsung angkat tangan dan menyerah, mengakui bahwa memang Ordo Assassin yang lebih hebat karena mereka mengikuti semua perintah sang Grand Master mereka tanpa ragu, bahkan jika mereka disuruh untuk mati sekalipun.

Dengan berbekal semua cerita-cerita ini, tentulah kita paham mengapa para Assassin bisa sebegitu berhasilnya dan ditakuti pada masanya. Tentu saja, keberadaan Assassin ini (walaupun ordo aslinya telah musnah) menginspirasi berbagai aksi kejahatan serupa, yakni membunuh petinggi-petinggi politik dengan cara asasinasi. Mulai dari presiden Amerika seperti Abraham Lincoln hingga Archduke Franz Ferdinand yang kematiannya memicu PD I dan PD II, semuanya merupakan aksi asasinasi. Terbaru, kematian saudara Kim Jong Un di Malaysia hingga kematian Jamal Khasoggi (yang uniknya, didalangi pihak Timur Tengah, negeri asal para Assassin), merupakan bukti bahwa teknik para Assassin ini sampai kapanpun akan digunakan sebagai cara instan untuk menyingkirkan musuh dan mendapatkan kekuasaan.

SUMBER: WIKIPEDIA, ANCIENT HISTORY ENCYCLOPEDIA


A VERY SPECIAL THANKS TO:

Aulia Pratama Putri

별처럼 다 우리 빛나

SPECIAL THANKS TO MY SUPPORTER THIS APRIL:

Sinyo Kulik , Singgih Nugraha , Adhitya Sucipto , Rahadian Pratama Putra , Radinda , Kinare Amarill , Maulii Za , Rara , Sharnila Ilha , Victria tan , Ali Hutapea , Keny Leon , Rosevelani Manasai Budihardjo , Marcella F , Tieya Aulia , PJ Metlit , Marwah , Dana Xylin , Paramita . Amelia Suci Wulandari . Rivandy , Syahfitri , Dyah Ayu Andita Kumala , Fitriani , Ilmiyatun Ainul Qolbi , Ciepha Ummi , Riani Azhafa 


Sunday, April 25, 2021

KEBERINGASAN JENGIS KHAN: SANG RAJA DIRAJA YANG MEMBANTAI 11% POPULASI DUNIA INI

Kita mungkin mengenal Kubilai Khan, raja keturunan Mongol yang berusaha menyerang Jawa dan berhasil dikalahkan berkat tipu daya Raden Wijaya, sang pendiri Majapahit. Gelar “Khan” berarti “kaisar” sudah diwariskan turun-temurun sejak abad 3 M dan merupakan julukan khas bagi penguasa suku-suku di kawasan Turki dan Mongolia (yang memiliki nenek moyang yang sama). Namun pada abad 12, nama “Khan” menjadi sebuah nama yang amat ditakuti semenjak disematkan kepada nama seorang pemuda keturunan Mongol bernama Temujin. Kala itu, semenjak naik tahta menggantikan ayahnya yang seorang kepala suku, ia menggunakan gelar Jengis Khan. Dalam penaklukannya, Genghis Khan berhasil menjadikan Mongolia menjadi kekaisaran dengan wilayah terluas dalam sejarah kuno dunia. Wilayahnya terbentang dari Korea hingga Polandia dan mencakup benua Eurasia.

Dalam penaklukannya itu, percaya atau tidak, dia membunuh sekitar 11 persen populasi dunia kala itu.

Namun bagaimana perjalanan Temujin hingga menjadi kaisar yang paling ditakuti dalam sejarah dunia tersebut? Kita simak saja dalam Dark History kali ini.

WABAH BLACK DEATH: EUROPE’S DARKEST HISTORY

Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Kinare Amarill. Thanks!

Kita semua pasti pernah mendengar tentang wabah Black Death, serbuan penyakit mematikan yang mengukir sejarah sebab menewaskan hingga separuh populasi Eropa. Karena kala itu sang Benua Biru tersebut masih berada dalam era kegelapan yang disebut sebagai “Dark Age”, maka berbagai takhyul pun menghantui wabah tersebut. Kepercayaan primitif yang dianut penduduk Eropa menyebabkan rendahnya ilmu medis yang mereka kuasai kala itu (beda banget dengan kondisi sekarang dimana benua mereka amat maju dan memimpin dunia sains dan kedokteran) sehingga tak ayak, jumlah korbanpun mencapai puluhan hingga bahkan ratusan juta, angka yang masih mencengangkan bahkan oleh standar modern saat ini.

Kita semua mungkin sudah tahu bahwa Black Death disebabkan oleh wabah pes yang disebarkan oleh tikus, namun bagaimana kisah lengkapnya hingga wabah tersebut bisa tiba di Eropa dan mencabut nyawa begitu banyak orang? Bagaimana pula kaitan wabah tersebut dengan persiapan kita menghadapi wabah modern saat ini, seperti Coronavirus.

Dear readers, please enjoy our Dark History.

KEKEJAMAN PASUKAN 731 JEPANG DAN SEJARAH SENJATA BIOLOGIS PADA PERANG DUNIA II

 


Jika kita membahas tentang perang berskala dahsyat yang dinamakan Perang Dunia II, maka yang pertama kali terngiang di benak kita adalah peristiwa “Holocaust” atau pembantaian jutaan warga Yahudi di Eropa oleh rezim Nazi di bawah pimpinan Hitler. Namun pada kenyataannya, kita tak perlu jauh-jauh untuk melihat kekejaman perang tersebut. Di Asia sendiri, sebuah unit ketentaraan Jepang bernama Unit 731 ternyata melakukan aksi yang sama-sama tak manusiawinya terhadap penduduk Asia, terutama yang bermukim di Tiongkok.

Pada masa Perang Dunia II, sebuah pasukan khusus yang dinamakan Unit 731 diutus oleh sang kaisar negeri Matahari terbit itu untuk mengembangkan senjata biologis dan kimia untuk memenangkan perang. Akibatnya, Unit 731 menggunakan wewenang yang diberikan kepada mereka untuk melakukan eksperimen-eksperimen biadab tak berperikemanusiaan, termasuk menguji coba berbagai penyakit-penyakit mematikan pada manusia, kemudian membedah mereka hidup-hidup.

Straight from a gore horror movie, this is the story of Unit 731, one of the cruelest human experiments in history.

Saturday, June 6, 2020

KALA ITU, KETIKA HUJAN TURUN SELAMA 2 JUTA TAHUN



Apakah kalian menikmati musim hujan? Mungkin ada yang suka sama hujan (biasanya sih buat kalian yang romantis nih) atau ada juga yang benci banget ama musim hujan (apalagi yang pake motor). Saat musim seperti ini memang hujan bisa turun setiap hari, kadang dari pagi ampe sore. Namun jika musim hujan selama 6 bulan saja sudah membuat kalian kesel, bagaimana dengan hujan yang berlangsung selama 2 juta tahun???

Hah, emangnya bisa Bang? Bisa, bahkan sudah pernah. Periode hujan selama 2 juta tahun itu terjadi pada zaman purba (kala manusia belum ada) dan disebut dengan “Carnian Pluvial Event”, sekitar 230 juta tahun lalu. Uniknya, peristiwa inilah yang menyebabkan dinosaurus merajai masa berikutnya, yakni Era Jurassic.

Thursday, May 7, 2020

TAHUN 2020 BURUK? KALIAN BERUNTUNG TIDAK HIDUP DI TAHUN 536 M, TAHUN TERBURUK DALAM SEJARAH MANUSIA





Kita mengalami banyak sekali bencana di tahun 2020 ini, tapi itu semua tak ada tandingannya dengan tahun yang disebut-sebut para sejarawan sebagai tahun terburuk dalam sejarah manusia, yakni tahun 536 M. Memang ada tahun-tahun dengan bencana mematikan dalam sejarah manusia. Lihat saja tahun 1349 dimana wabah “Black Death” menyapu bersih separuh populasi Eropa, atau 1918 dimana wabah “Flu Spanyol” membasmi sekitar 100 juta penduduk dunia. 

Tapi situasi tahun 536 sungguh berbeda. Mulai dari wabah kelaparan, perang, hingga wabah penyakit, semuanya muncul berbarengan, menyiksa manusia yang hidup di masa itu dengan penderitaan tak terperikan. 

Yang mengejutkan, semuanya itu diduga disebabkan oleh bencana alam, kemungkinan letusan gunung berapi.

KISAH SANG "INTI IBLIS": APA YANG TERJADI DENGAN BOM ATOM KETIGA?



Dunia tentu mengingat bagaimana Perang Dunia II berakhir pada Agustus 1945. Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu setelah kedua kota vitalnya, Hiroshima dan Nagasaki, hancur lebur oleh serangan bom atom Amerika Serikat. Namun tahukah kalian, bahwa pada tanggal 19 Agustus 1945, militer AS sebenarnya berniat untuk menjatuhkan bom atom ketiga ke Tokyo. Namun tentu rencana itu tak diejawantahkan karena Jepang keburu takluk, “cukup” oleh dua bom nuklir yang mereka miliki.

Ini membawa kita ke pertanyaan lain, apa yang terjadi dengan bom atom ketiga yang tak jadi dipakai ini? Dimana dia kini?

Inti dari bom atom tersebut awalnya dinamakan “Rufus”. Namun karena tragedi naas yang menghantui bom atom ini, namanya-pun lebih dikenal dengan nama “Demon Core” atau “Inti Iblis”. Mengapa mereka menyematkan nama yang begitu mengerikan tersebut? Peristiwa tragis apakah yang terjadi kala itu?

Dear readers, simaklah Dark Case kali ini.

Saturday, April 18, 2020

WOULD YOU HELP HER? KASUS KITTY GENOVESE DAN FENOMENA “BYSTANDER EFFECT”



Pada 13 Maret 1964, sebuah kasus pembunuhan mengguncang Amerika Serikat dan mengubah sejarah negara itu. Seorang wanita berusia 28 tahun bernama Kitty Genovese ditusuk tepat di depan pintu apartemennya di New York. Kala itu, sekitar 38 orang tetangganya menjadi saksi pembunuhan itu, bahkan mendengar teriakannya meminta tolong selama setengah jam.

Namun naasnya, tak ada satupun dari mereka yang menolongnya.

Kasus Kitty Genovese membuktikan fenomena apati warga kota besar. Sebuah istilah baru-pun muncul di buku teks psikologi, yakni “bystander effect”. Selanjutnya, kasus kematian gadis ini memicu munculnya apa yang kini disebut sebagai ....

911

Dear readers, welcome to the Dark Case.

Friday, March 20, 2020

THE BUTTERFLY EFFECT: PESTA MEGAH IRAN YANG MENGUBAH ARUS SEJARAH DUNIA



“2,500 Year Celebration of the Persian Empire” adalah sebuah pesta megah yang diadakan pada 12-16 Oktober 1971 di Iran. Saat kali pertama kali denger tentang pesta ini, gue mengira pesta ini bakalan berakhir zonk kayak “Fyre Festival”. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Bahkan ada yang menyebut mungkin seperti inilah Fyre Festival akan terlihat apabila benar-benar berhasil dilaksanakan. Pesta yang digadang-gadang sebagai “pesta terbesar dalam sejarah” itu mengundang ratusan raja, ratu, dan para darah biru lainnya dari seantero dunia, tentu dengan perlakuan sekelas bintang lima yang patut mereka dapatkan.

Namun justru di sinilah letak masalahnya. Gara-gara kesuksesan pesta inilah, dunia yang kita tempati ini menjadi dunia yang amat berbeda. Sebab pesta megah tersebut pada akhirnya akan menumbangkan Dinasti Kekaisaran Iran yang sudah berjalan selama 2,5 milenia dan memicu Revolusi Iran yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini.

Berikut ini adalah kisahnya.

MISTERI INSIDEN VELA: KILATAN CAHAYA MISTERIUS DI SAMUDRA PASIFIK



Samudra Atlantik senantiasa damai, sebab hanya sedikit, bahkan bisa dibilang tak ada kehidupan di sana. Pulau-pulau mungil yang ada di sana terletak di tengah antah berantah dan amatlah jauh dari peradaban terdekat. Akan tetapi pada 22 September 1979, kondisi itu berubah drastis ketika sebuah peristiwa spektakuler tertangkap oleh mata dunia.

Kala itu, kedamaian di samudra tersebut terkoyak ketika dua kilatan cahaya mahadashyat terlihat di langit. Memang tak ada saksi mata yang bisa memastikannya, akan tetapi lonjakan cahaya itu tertangkap oleh sensor sebuah satelit bernama Vela (hence, peristiwa tersebut lebih dikenal dengan nama “Insiden Vela”). Apa yang menyebabkan peristiwa itu masihlah misteri. Apakah cahaya itu disebabkan oleh sebuah asteroid yang memasuki Bumi, ataukah yang lebih mengkhawatirkan lagi: sebuah bom nuklir?

Namun bagaimana bisa sebuah bom nuklir diledakkan di tengah lautan antah berantah? Siapa yang melakukannya dan mengapa? Jawabannya mungkin sangat kelam, apalagi untuk masa depan dunia ini.

Dear readers, inilah Dark Case kali ini.

LILIAN ALLING: KISAH ANEH SANG PEJALAN KAKI SEJATI


Membaca kisah Lilian Alling emang bikin gue teringat ama “Chrnoicle of Mother Nature” yang pernah gue kompilasi tentang korban-korban keganasan alam. Namun bedanya, kisah Lilian ini hingga kini tak memiliki penutup atau ending yang memuaskan tentang bagaimana nasibnya. Lilian Alling adalah seorang imigran asal Rusia yang datang ke Amerika Serikat untuk mencari penghidupan baru. Akan tetapi setelah beberapa tahun tinggal di sana, Lilian merasa tak kerasan dan memutuskan pulang ke kampung halamannya. Sayang sekali Lilian tak memiliki cukup uang untuk kembali hingga akhirnya mengambil sebuah keputusan yang sulit kita percayai.

Ia memutuskan untuk pulang ke Rusia dari Amerika Serikat dengan berjalan kaki!

Bagaimanakah kisah selengkapnya? Simak perjalanan nekad wanita ini dalam Dark Case berikut ini.

Wednesday, February 19, 2020

PARA KANDIDAT PEMILU AMRIK 2020: SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI PRESIDEN NEGARA ADIDAYA TERSEBUT? NOMOR 3 BIKIN KAGET!!!



Proses Pemilu Amerika Serikat tentu menjadi salah satu tradisi demokrasi yang paling ditunggu-tunggu sejagad. Tak mengherankan, siapa sih yang nggak merasa penasaran tentang sosok yang akan memimpin negara adidaya tersebut dan kebijakan-kebijakan apa yang AKAN ditempuhnya? Soalnya tak bisa kita pungkiri, tiap kebijakan negara Paman Sam tersebut mau tak mau akan berdampak pada seluruh dunia.

Pemilu terdekat adalah tahun 2020 dan sudah ada 10 kandidat presiden yang mengungkapkan hasrat serta ambisinya untuk maju sebagai calon presiden. Perlu diingat hanya ada dua partai politik di Amrik, yani parta Demokrat dan Republikan. Kedua-duanya memiliki visi dan ideologinya sendiri yang sekilas saling bertentangan. Semisal kaum Republikan dikenal berpemikiran tradisional dan konservatif, sementara pendukung Demokrat dikenal modern dan moderat (liberal).

Pendirian merekapun tertuang dalam berbagai kebijakan mereka yang cukup kontradiktif satu sama lain. Semisal, kaum Demokrat yang amat mendamba kebebasan amatlah mendukung pelegalan pernikahan sesama jenis (pro-LGBT) dan hak aborsi (pro-choice). Sebaliknya, pendukung Republikan amat menentang kedua hal tersebut (anti-gay dan pro-life). 

Namun kaum Republikan juga bukannya tanpa dosa. Mereka amat mendukung hak warga sipil untuk memiliki senjata (pro-gun) dimana hal ini ditengarai menyebabkan maraknya berbagai kasus penembakan massal di Amerika. Sementara itu kaum Demokrat tentu saja ingin membatasi kepemilikan senjata api untuk mencegah jatuhnya korban jiwa.

Nah, politik di Amrik memang sangat menarik, maka dari itu gue di sini akan membeberkan siapa saja calon presiden mereka. Emang sih kita nggak bisa milih, tapi nggak ada salahnya kita senantiasa mengikuti perkembangan berita internasional. Yuk kita kemon!

HARBINGER OF DEATH: KISAH “TYPHOID MARY” DAN “SUPER SPREADER”, TAK BERDOSA NAMUN MEMBAWA PETAKA




Masih karena heboh Coronavirus nih, gue akan mengangkat kisah para “asymptomatic carrier” alias  orang-orang yang terinfeksi oleh patogen (virus atau bakteri penyebab penyakit), namun kebal terhadap penyakit itu sehingga tidak menunjukkan gejala apapun, akan tetapi masih bisa menularkannya pada orang lain. Contoh terkenal dari para “carrier” itu adalah sosok yang pada awal abad ke-20 disebut sebagai “Typhoid Mary”. Sosoknya kala itu mengguncang publik Amerika Serikat, bahkan mengundang ketakutan. Pasalnya, kemanapun sang Mary pergi, malaikat maut seolah senantiasa mengikutinya. Mary menyebarkan penyakit tifus (yang kala itu masih mematikan) kepada orang-orang di sekitarnya. Kasus serupa ternyata terjadi dalam penyebaran COVID-19 ketika seorang pria, lagi-lagi kebal terhadap virus ini, menularkan wabah ini ke penjuru Eropa.
Seperti apakah kisah mereka? Gue akan membahasnya di Dark Case kali ini.

DARK HISTORY: WABAH FLU SPANYOL, KIAMAT YANG TERLUPAKAN


 

Dunia kini lagi digoncang gundah gulana gara-gara merebaknya Coronavirus atau yang kini disebut dengan COVID-19. Banyak yang menyamakan wabah Coronavirus ini dengan wabah serupa yang pernah terjadi pada awal abad ke-20. Pada tahun 1918, dunia kala itu dihantam oleh wabah flu misterius yang mengoyak jagad. Wabah itu disebut dengan Flu Spanyol (sebuah salah kaprah sebenarnya, tapi akan gue jelaskan nanti) dan yang mengagetkan, wabah ini menginfeksi 500 juta penduduk dunia kala itu serta menewaskan (angkanya masih simpang siur) antara 50 hingga 100 juta penduduk Bumi.

Mengapa bencana ini begitu mematikan? Apakah penyebabnya? Mungkinkah wabah berskala apokaliptik ini akan terulang kembali?

Dear readers, inilah Dark History kali ini!

Sunday, December 8, 2019

RADIOACTIVE SERIES #4: TOKAIMURA NUCLEAR ACCIDENT


Jika kita ditanya, apa insiden nuklir mematikan yang pernah terjadi di Jepang, mungkin pikiran kita akan melayang ke Tragedi Fukushima yang pernah terjadi tahun 2011 lalu. Namun tragedi yang lebih mematikan ternyata pernah terjadi pada 30 September 1999 di Tokai, Prefektur Ibaraki, Jepang. Jika Insiden Fukushima terjadi karena dipicu gempa yang tentunya di luar jangkauan manusia, Insiden Tokaimura disebabkan oleh kelalaian manusia, dan yang lebih buruk lagi, keserakahan. Tak hanya itu, insiden kecelakaan nuklir di Tokaimura terjadi hingga dua kali!

Dear readers, inilah Dark Case kali ini.

Saturday, December 7, 2019

RADIOACTIVE SERIES #3: INSIDEN LAB SL-1, TRAGEDI KECELAKAAN NUKLIR PERTAMA DI DUNIA



Jika ditanya, negara mana yang pernah mengalami kecelakaan nuklir, pasti di benak akan langsung terbayang negeri komunis Uni Soviet (Rusia) dan bawahannya, seperti Ukraina. Namun ternyata, kecelakaan nuklir yang berbahaya pun sering terjadi di negara Paman Sam yang notabene negara adidaya yang menjadi pionir energi atom. Akan tetapi berkat kepiawaian media yang menyembunyikannya, kasusnya tentu tak berhembus sekencang Chernobyl, bahkan tak banyak warga negara AS sendiri yang tahu.

Secara mengejutkan, sudah terjadi 56 kecelakaan reaktor nuklir di Amerika Serikat sepanjang sejarah! Kecelakaan nuklir pertama kala itu tercatat terjadi di laboratorium berjuluk SL-1 di negara bagian Idaho yang menewaskan tiga orang. Kisah ini hingga kini masih diselimuti misteri karena tak meninggalkan saksi mata, hingga ada teori yang menyebutkan bahwa kondisi kejiwaan salah satu korbannya menjadi penyebab tragedi itu. Melengkapi “Radioactive Series”, gue akan membahasnya secara singkat.

Dear readers, inilah Dark Case kali ini.