Postingan ini dibuat atas rekomendasi: Adhitya Sucipto. Thanks!
Kalian
tentu tak asing lagi dengan istilah “assasin” alias pembunuh.
Kata yang terserap ke Bahasa Inggris ini sesungguhnya berasal dari
bahasa Arab. Alasannya, Assassin adalah nama ordo pembunuh yang
benar-benar ada di Timur Tengah kuno sana. Ordo Assassin berdiri pada
tahun 1090 hingga akhirnya berakhir pada 1275. Namun siapakah Ordo
Assassin ini sebenarnya?
Assassin
sesungguhnya adalah nama sebuah cabang ajarah Syi’ah yang bernama
sekte Nizari yang merupakan penganut mazhab Ismaili. Kaum Nizari
mendapatkan permusuhan baik dari kaum Muslim Sunni maupun dari kaum
Syi’ah mainstream sendiri, sehingga mereka harus bersembunyi di
daerah pegunungan di antara Persia dan Syria. Karena hanya berjumlah
sedikit, maka mereka mengembangkan sebuah metode unik untuk
mempertahankan diri. Mereka mengutus para pembunuh dari klan mereka
sendiri untuk menghabisi lawan politik mereka secara diam-diam. Cara
ini dianggap lebih menguntungkan daripada berperang dengan pasukan
melawan musuh mereka, yang jelas akan membuat mereka kewalahan karena
sedikitnya jumlah mereka. Tak jarang, mereka juga “mengomersilkan”
jasa mereka dengan bersedia menjadi pembunuh bayaran bagi berbagai
pihak yang berani membayar mereka. Kisah para Assassin ini tentu
menjadi cacatan hitam yang cukup tabu bagi dunia Muslim Timur Tengah
kuno.
Seperti
apakah sepak terjang para Assassin ini hingga nama mereka tetap
terabadikan di dunia modern ini? Kita simak saja kisah para Assassin
ini di Dark History kali ini.
THE
DAWN OF THE ASSASSIN
 |
| Inilah lukisan Hassan I, grand master pertama sekaligus pendiri Ordo Assassin |
Pendiri
Orde Assassin adalah pria bernama Hassan-i Sabbah. Baik Hassan maupun
ayahnya merupakan penganut mazhab Ismaili, salah satu aliran dalam
ajaran Syi’ah. Kala itu Hassan dan keluarganya tinggal di kota
Rayy, Iran. Namun penguasa kota Rayy kala itu, Nizam al Mulk,
ternyata amat membenci para penganut Syi’ah sehingga iapun mengusir
Hassan dan keluarganya dari Persia. Hassan kemudian mengungsi ke
tempat ayahnya yang tinggal di Kairo. Kala itu Kairo merupakan ibu
kota Kekhalifamah Fatimiyah yang juga bermazhab Ismaili.
Namun di
sana Hassan kembali terlibat masalah. Kala itu Kekhalifahan
Faitimiyah tengah gonjang-gonjing karena kematian sang khalifah
mereka, yakni al-Mustansir Billah. Sang khalifah kala itu memiliki
dua anak yang bersengketa dan berebut tahta. Ayah Hassan kala itu
mendukung Nizar, sang putra tertua khalifah. Namun pemenang sengketa
adalah adiknya, al-Musta’li, sehingga keluarga Hassan dan
pengikutnya yang tadinya mendukung Nizari pun akhirnya diusir dari
Kairo. Karena mendukung Nizar, maka para pengikut Hassan pun disebut
Nizari. Sekte Nizari (yang tadi merupakan cabang mazhab Ismaili dari
aliran Syi’ah) kini mendapat dua musuh, yakni kaum Sunni (yang
sejak awal memang menentang keberadaan aliran Syi’ah) dan juga dari
kaum Ismaili (Syi’ah) sendiri yang memenangkan sengketa di
Kekhalifahan Fatimiyah.
Namun
Hassan kurang sreg dengan istilah “Nizari” ini sehingga kemudian
memanggil para pengikutnya sebagai para “Assassin” yang berasal
dari kata “asas”. Arti dari kata “Assassin” sendiri adalah
orang-orang yang memiliki prinsip atau asas. Tak diterima baik di
Timur Tengah, para pengikut sekte Nizari ini kemudian bersembunyi di
pegunungan antara Persia dan Suriah. Kaum Assassin kemudian merebut
kastil Alamut dan Lambsar di wilayah pegunungan dekat Laut Kaspia
yang kemudian mereka gunakan sebagai benteng pertahanan.
 |
| Inilah peta wilayah Assassin, berada di tengah County of Tripoli dan Principality of Antioch yang dikuasai pasukan Salib Kristen dari Eropa. Mereka juga bertetangga dengan Kerajaan Yerusalm (milik Eropa), Kekhalifahan Fatimiyah, dan Kekaisaran Seljuq |
Kala itu
kemunculan para Assassin hampir bertepatan dengan Perang Salib I pada
1096. Para pasukan Eropa yang memenangkan Perang Salib kemudian
bercokol di tiga wilayah, yakni Antiokia, Tripoli, dan Yerusalem,
serta mendirikan negara merdeka di sana. Antiokia meliputi Turki dan
sebagian Suriah, sementara Tripoli meliputi Lebanon utara dan Suriah
barat, serta Kerajaan Yerusalem yang meliputi Lebanon selatan, Suriah
selatan, Yordania, hingga tentu saja Palestina. Uniknya, wilayah
kekuasaan para anggota Ordo Assassin ini berada di antara Antiokia
dan Tripoli yang tergolong wilayah yang dikuasai kaum Kristen. Karena
berada di wilayah pegunungan yang terpencil serta lokasinya pun
berada di wilayah kekuasaan Eropa, Kaum Assassin pun tergolong bebas
dari gangguan kaum Muslim dari aliran lain yang hendak mengganggu
mereka.
Namun
bukan berarti kaum Assassin tak terlibat politik. Bahkan mereka
dengan aktif berkecimpung di dalamnya. Kaum Assassin secara resmi
bermusuhan dengan Kekhalifahan Fatimiyah di Mesir dan Kekhalifahan
Abbasiyah yang berpusat di Irak dan berpaham Sunni. Kaum Assassin
ingin menyingkirkan kedua kerajaan tersebut, tapi tentu saja hal itu
tidaklah mudah. Ketiganya adalah kekaisaran dengan wilayah luas,
jumlah tentara yang amat besar, serta persenjataan lengkap. Sebagai
sebuah sekte kecil, tentu para Assassin akan kalah telak jika berani
melawan mereka. Karena itu Hassan kemudian menggunakan sebuah taktik
dengan melatih kaum pria dari sektenya untuk menjadi pembunuh tangguh
yang kemudian dikirimkan untuk memata-matai dan membunuh para lawan
politiknya, meliputi para wazir, raja, bahkan khalifah sekalipun.
Cara itu tergolong lebih praktis untuk menghabisi musuh-musuh mereka
ketimbang harus berperang.
Uniknya,
para Assassin ini memiliki kode etik sendiri. Semisal mereka hanya
membunuh dalam jarak dekat menggunakan pisau atau belati, karena cara
itu dianggap lebih “terhormat”. Mereka tak pernah membunuh
diam-diam menggunakan panah ataupun racun karena cara itu dianggap
kurang “jantan”.
Hassan
sendiri sebagai pendiri Ordo Assassin ini tak pernah meninggalkan
tahtanya. Ia hanya mengutus para assassin-nya untuk beraksi, namun
memerintah langsung dari dalam benteng. Karena tak pernah “turun
gunung”, iapun dikenal memiliki reputasi misterius dan kerap
disebut sebagai “sang pria tua di atas gunung”. Konon, Marco
Polo, sang petualang legendaris yang kala itu kebetulan melintasi
wilayah kekuasaan para Assassin, yang memberinya julukan itu
berdasarkan hembusan kabar burung.
THE
WAR WITH THE SELJUKS
 |
| Di wilayah pegunungan seperti inilah para assassin bermarkas, sehingga amat sulit menaklukkan mereka |
Lalu
siapakah korban para Assassin ini? Korban perdana kaum Assassin
adalah Nizar al Mulk dari Kesultanan Seljuk (kini merupakan wilayah
Turki dan Iran). Jika kalian ingat, dia-lah orang yang dulu mengusir
Hassan dari kota Rayy, tempat tinggalnya, hanya karena dia penganut
paham Syi’ah. Rupanya Hassan adalah pria yang amat pendendam
sehingga pria yang dulu pernah menghinanya itu dijadikannya korban
pertama. Namun hal ini mengobarkan permusuhan baru antara Kesultanan
Seljuk dengan Ordo Assassin.
Pada
masa pemerintahan Hassan, Ordo Assassin sukses besar, bahkan berhasil
menghabisi sekitar 50 musuh besar mereka, kebanyakan adalah petinggi
politik Kesultanan Seljuk. Hal ini tentu saja membuat murka Sultan
Seljuk kala itu yang bernama Muhammad I Tapar. Merasa sukses, Ordo
Assassin pun semakin pede dan berani memperluas wilayah kekuasaannya.
Mereka bahkan berhasil membuka “cabang” di Aleppo, Suriah. Kala
itu, Hassan mengutus salah satu assassin kepercayaannya, al-Hakim
al-Munajjim yang tak hanya memiliki kemampuan bertarung yang mumpuni,
namun juga amat cerdas. Ia adalah cendekiawan yang menguasai ilmu
astrologi dan kedokteran. Ia kemudian bersahabat dengan emir Aleppo
kala itu, Ridwan. Bahkan, para assassin membantu Ridwan untuk
menyingkirkan para lawan-lawan politiknya. Ketika al-Hakim meninggal,
maka assassin legendaris lain, seorang pandai besi bernama Abu Tahir
al-Sa’igh, menggantikannya. Baik al-Hakim maupun Abu Tahir dikenal
sebagai “grand master” Assassin (walaupun hanya memimpin cabang
Suriah) karena kepiawaian mereka membunuh.
Pada
1105, tangan Muhammad I Tapar sang Sultan Seljuk sudah terlalu gatal
ingin menghabisi para Assassin sehingga iapun mengutus seorang
panglimanya, Ahmad ibn Nizam al-Mulk, untuk menghancurkan benteng
para Assassin di Alamut. Sesuai namanya, kalian pasti sudah menduga
bahwa Ahmad adalah putra dari Nizam, korban pertama para Assassin.
Namun sayang, Ahmad tak berhasil merebut benteng Alamut dan
membalaskan dendam ayahnya. Akan tetapi ia berhasil menghabisi salah
satu pemimpin Assassin bernama Ahmad ibn 'Abd al-Malik ibn Attāsh.
 |
| Kastil Masyaf di Suriah, salah satu lokasi benteng pertahanan milik Ordo Assassin |
Di
Suriah, sang grand master Assassin, Abu Tahir kembali membantu Ridwan
menyingkirkan musuh politiknya, kali ini bernama Khalaf ibn Mula'ib,
emir kota Apamea. Mereka mengutus assasin bernama Abu'l Fath dari
Sarmin yang berhasil membunuh Khalaf dan menjadikan Ridwan penguasa
kota Apamea. Namun kemudian, salah satu anak laki-laki dari Khalaf
ternyata berhasil lolos dan membalaskan dendam ayahnya dengan
menghabisi Abu’l Fath. Yang mengejutkan, keberhasilannya kala itu
ternyata berkat dukungan Tancred, seorang ksatria Perang Salib
blasteran Italia dan Viking. Peristiwa ini membuat para Assassin
mulai mewanti-wanti keberadaan para ksatria Eropa.
Pada
1108, Ahmad ibn Nizam al-Mulk hampir saja dibunuh oleh para assassin
sebagai aksi balas dendam, namun beruntung ia berhasil lolos. Tapi
para assassin sendiri berhasil membunuh banyak saingan politik
mereka, mulai dari Isfahan (Iran) hingga Mosul (Suriah).
Ridwan,
sang penguasa Aleppo meninggal pada 1113 dan digantikan oleh anaknya,
Alp Arslan al-Akhras. Namun sang anak ini, baru berusia 16 tahun dan
juga tuna wicara, sangat mudah dipengaruhi. Muhammad I Tapar, sang
sultan Seljuk, memperingatkan pemimpin muda itu akan betapa berbahaya
para Assassin. Akibatnya, Alp Arslan tak sudi lagi melanjutkan
kerjasamanya dengan para Assassin, seperti yang dilakukan ayahnya.
Alp Arslan kemudian mengutus panglimanya, Said ibn Badi, untuk
menghabisi para Assassin di Aleppo. Bahkan, mereka berhasil menghukum
mati Abu Tahir, sang grand master Assassin. Namun tentu saja para
Assassin lain tak tinggal diam dan berhasil menghabisi Said ibn Badi
sebagai aksi balas dendam. Alp Arslan, karena kecerobohannya, membuat
banyak musuh (baik dari kalangan orang dalamnya maupun dengan
kerajaan lain, seperti Antiokia) akhirnya tewas, bahkan tanpa campur
tangan para Assassin.
Pada
1118, Muhammad I Tapar akhirnya meninggal dunia dan saudaranya, Ahmad
Sanjar menjadi sultan Seljuk yang baru. Kini para Assassin mengubah
taktik mereka. Mengetahui bahwa kaum Seljuk adalah musuh yang amat
berbahaya, mereka kini mengajukan perdamaian. Namun usaha perdamaian
ini ditolak mentah-mentah oleh Sultan Ahmad yang sudah keburu jyjy
dengan reputasi sadis para Assassin. Akibatnya, Assassin pun
mengancam Ahmad dengan “halus”. Konon, para assassin menyusup ke
dalam kamar sang sultan ketika ia sedang tidur, lalu meninggalkan
sebilah belati di samping ranjangnya. Hal ini seakan menjadi
peringatan bahwa para assassin bisa melakukan apa yang mereka mau,
termasuk membunuh sultan kapanpun. Ancaman dari para assassin itupun
cukup membuat Sultan Ahmad bergidik ngeri hingga iapun memutuskan
berdamai dengan para Assassin, bahkan rela memberi mereka upeti.
 |
| Lukisan yang menggambarkan keberhasilan seorang assassin menghabisi Nizam al Mulk dari Kekaisaran Seljuq. Perhatikan kesamaan busana antara sang assassin yang sedang menusuk Nizam dengan para pengawal Nizam, membuktikan para assassin sangatlah mahir dalam menyamar |
Kini,
berhasil “menaklukkan” Kekaisaran Seljuk, musuh besar mereka,
kebrutalan para Assassin pun menjadi-jadi. Mereka mulai mengintai dua
kekhalifahan yang selama ini menjadi musuh bebuyutan mereka, yakni
Kekhalifahan Fatimiyah yang beraliran Syi’ah dan Kekhalifahan
Abbasiyah yang beraliran Sunni. Para anggota Ordo Assassin tentu
masih dendam kesumat pada Kekhalifahan Fatimiyah karena mengusir
mereka dari tanah air mereka. Pada 1121, mereka menghabisi seorang
wazir (penasehat) yang sangat berpengaruh di Dinasti Fatimiyah, yakni
al-Afdal Shahanshah (dia pulalah yang dulu membunuh Nizar, sang
panutan kaum Assassin sebelum mereka terusir dari Kairo). Bahkan sang
khalifah sendiri, yakni al-Amir bi-Ahkam Allah juga berhasil mereka
bunuh pada 1130. Pada 1135, mereka juga berhasil menghabisi seorang
khalifah Abbasiyah bernama al-Mustarshid.
Pada
1124, Hassan sang grand master sekaligus pendiri Ordo Assassin,
akhirnya meninggal dunia dan digantikan anaknya, Kiya Buzurg Ummid.
Ahmad Sanjar, sang Sultan Seljuk mengira ini adalah kesempatan emas
untuk menghabisi para Assassin karena menyangka sang grand master
baru ini menye-menye dan nggak setangguh ayahnya. Sang sultanpun
mengutus perwiranya, Mu'in ad-Din Kashi untuk segera menghancurkan
benteng Assassin. Namun serangan ini gatot alias gagal total dan
Mu’in akhirnya dibunuh oleh para assassin.
Mahmud
II, putra dari mendiang Muhammad I Tapar yang kala itu diberi daerah
kekuasaan di Isfahan (Iran) berusaha meminta ampun atas “kekhilafan”
Sultan Ahmad itu. Takut nantinya para Assassin membalas dendam dengan
aksi yang lebih keji, Mahmud II kemudian menawarkan perdamaian. Para
duta dari kaum Assassin kemudian datang ke Isfahan untuk memenuhi
permintaan Mahmud II (yang sebenarnya tulus itu). Namun ternyata
rakyat Isfahan sendiri tak sudi menerima kedatangan mereka dan
langsung ramai-ramai mengeroyok dan menghabisi para utusan Assassin
tersebut. Hal tersebut menunjukkan sudah sebegitu kadung bencinya
rakyat Seljuk terhadap para Assassin yang memiliki reputasi kejam dan
kelam itu.
Buzurg
Ummid, sang grand master Assassin, meninggal pada 1138 dan digantikan
oleh putranya Kiya Muhammad. Ia kemudian membalas dendam atas insiden
di Isfahan itu dengan menghabisi putra Mahmud II (karena kala itu
Mahmud II sudah keburu meninggal). Kiya Muhammad sebagai grand master
yang baru juga mencatat sejarah dengan membunuh korban Eropa pertama
mereka. Kala itu, Raymond II, raja dari Tripoli tiba-tiba menjadi
korban para Assassin. Perlu diingat bahwa sebelumnya para Assassin
tak pernah mencari masalah dengan kaum Eropa yang bercokol di Timur
Tengah semenjak Perang Salib, jadi tentu alasannya bukanlah
main-main. Kala itu Raymond menyetujui kedatangan musuh bebuyutan
para Assassin dari Eropa.
Siapa
lagi jika bukan para Ksatria Templar.
SALADIN
AND THE KNIGHTS OF TEMPLAR
 |
| Saladin, sang pahlawan Muslim termahsyur juga menjadi musuh bebuyutan para Assassin |
Pada
1162, sang grand master Assassin Kiya Muhammad turun tahta dan
digantikan oleh anaknya yang bergelar Hassan II. Setelah kematian
Hassan II pada 1166, maka putranya Imam Muhammad II menggantikannya.
Namun dua grand master ini dianggap lemah dan tak “segarang”
pendahulu-pendahulunya. Justru nantinya, yang menjelma menjadi sosok
assassin paling ditakuti adalah pria bernama Rashid ad-Din Sinan,
yang nantinya karena kepiawaiannya membunuh yang begitu ditakuti,
berani mengangkat dirinya sendiri sebagai seorang grand master.
Kala itu
wilayah Timur Tengah berkobar karena terjadinya Perang Salib III.
Sinan, seorang ahli alkimia yang cerdas, dikirim Hassan II ke Suriah
untuk mengembalikan kejayaan para Assassin di sana. Ingat, para
Assassin dulu memiliki kedudukan amat kuat di Suriah pada masa
kekuasaan Ridwan, sebelum akhirnya terusir dari sana. Sinan, dengan
kecerdasan dan juga kemampuannya membunuh, tak perlu waktu lama untuk
menjadi salah satu assassin terhebat dan juga paling legendaris.
Bahkan, kala itu Sinan bebas membunuh siapapun yang ia mau tanpa
perlu perintah langsung Hassan II, sang grand master-nya sendiri.
Memang, kala itu Hassan II yang bertahta di Alamut, markas besar
Assassin, justru takut dan takluk pada kehebatan Sinan.
Namun
kini, di tengah Perang Salib II, Sinan harus memilih antara dua sisi
yang berlawanan, apakah ia akan mendukung para pasukan Salib dari
Eropa, yang dipimpin oleh Richard The Lion Heart, ataukah ia akan
mendukung pasukan Muslim yang dipimpin ksatria legendaris, Saladin?
Jawabannya
mungkin akan mengejutkan kalian.
 |
| Ordo Assassin seringkali bersitegang dengan dunia Islam, contohnya dengan Kekhalifahan Fatimiyah yang membangun masjid Al-Azhar di Kairo ini. Karena itulah, pada ajang Perang Salib, peran mereka amatlah ambigu |
Kala itu
para Kstaria Templar tiba dari Eropa. Mereka mendarat di Tartus, kini
wilayah Suriah. Ingat, Raymond II sang raja Tripoli kala itu dibunuh
oleh Assassin karena mengizinkan keberadaan para Ksatria Templar
tersebut. Namun rupanya para Assassin lebih memilih berdiplomasi
dalam menghadapi kedatangan para ksatria dari Eropa itu. Sinan, yang
kini telah mengangkat dirinya sebagai grand master Assassin, mencoba
bernegosiasi dengan pemimpin Eropa lain di Timur Tengah, yakni
Almaric yang kala itu menjabat sebagai raja Yerusalem. Sinan
bersedia membantu Almaric untuk mengalahkan Nur ad-Din, seorang raja
dari Negeri Syam yang menjadi musuh bebuyutannya, dengan imbalan
Almaric menyingkirkan para Ksatria Templar dari Tartus.
Almaric
menyetujui rencana itu dan Sinan-pun mengutus para Assassin ke
Yerusalem. Namun di tengah perjalanan, seorang ksatria Templar
bernama Walter du Mesnil berhasil menyergap para Assassin ini dan
membunuh mereka. Rupanya rencana mereka tercium oleh grand master
Ksatria Templar bernama Odo de Saint Amand yang kemudian mengutus
Walter. Almaric yang kesal karena rencananya runyam akhirnya meminta
Walter dan para ksatria Templar lainnya menyerah. Odo menolak dan
menyatakan hanya Paus-lah yang berkedudukan di Vatikan yang bisa
menghukum Walter. Almaric-pun, demi menjaga “persahabatannya”
dengan Ordo Assassin, diam-diam menangkap Walter dan mengurungnya.
Sinan kemudian menerima permintaan maaf Almaric, namun tentu insiden
tersebut menambah kebencian Ordo Assassin terhadap para Ksatria
Templar.
Selesai
menghadapi Ksatria Templar, Sinan kini memusatkan perhatiannya pada
musuhnya yang lain: Saladin. Saladin adalah seorang ksatria dari
golongan suku Kurdi yang beragama Sunni. Tentu, sebagai Sunni, ia
menjadi musuh bebuyutan kaum Assassin yang beraliran Syi’ah.
Kepopuleran Saladin sebagai seorang jenderal perang tangguh mulai
membuat para Assassin khawatir. Selama ini para Assassin bercokol di
perbatasan dua wilayah kekuasaan Eropa di Timur Tengah. Jika Saladin
berhasil mengusir hegemoni Barat dari sana dan wilayah itu dikuasai
Muslim, apalagi Sunni, tentu akan berdampak buruk bagi mereka. Oleh
karena itu, para Assassin berusaha mengenyahkan Saladin.
Bahkan,
karena tangguhnya musuh baru mereka, Sinan sang grand master Assassin
sendiri akhirnya turun tangan.
Kabar
bahwa para Assassin mengincarnya telah lama terdengar di kuping
Saladin sehingga membuatnya khawatir. Tentu saja, siapa tak mengenal
reputasi brutal dari ordo pembunuh yang paling ditakuti di Timur
Tengah itu? Bahkan, Saladin mengantisipasi kedatangan para Assassin
ini (yang biasanya diam-diam di tengah malam) dengan menebarkan bubuk
kapur dan arang di sekitar tendanya, untuk menangkap jejak kaki para
Assassin.
Namun
sang Assassin ternyata lebih piawai. Sinan kala itu menyusup
diam-diam ke tenda Saladin dan yang mengejutkan, sama sekali tak
melukainya. Ia malah meninggalkan sebuah roti beracun dan belati di
samping tempat tidur Saladin (ingat, metode “menakut-nakuti” ini
juga pernah mereka lancarkan pada seorang sultan Seljuk). Tentu
tujuannya untuk menurunkan nyali Saladin dan menunjukkan bahwa para
assassin bisa membunuhnya kapanpun mereka mau. Khawatir akan
keselamatan keponakannya, paman Saladin yang juga menjabat sebagai
gubernur di kota Hama, Suriah akhirnya menjembatani perdamaian antara
Saladin dan para Assassin.
Setelah
“menaklukkan” Saladin, apalagi rencana para Asassin?
 |
| Saladin berhasil menaklukkan para Ksatria Templar |
Kala
itu, di tengah Perang Salib III, Kerajaan Yerusalem tengah mengalami
gonjang-ganjing akibat kematian sang raja, Almaric. Almaric kala itu
meninggalkan dua orang putri cantik jelita bernama Sybilla dan
Isabella, yang diam-diam bersaing dan saling membenci, sebab berasal
dari dua ibu yang berbeda. Kontan, para pangeran-pangeran tampan dari
penjuru Eropa berebut hendak meminang kedua putri itu. Tak hanya
karena kecantikan mereka, namun siapapun yang berhasil menikahi kedua
putri itu tentu akan menjadi Raja Yerusalem. Kota Yerusalem, seperti
kalian tahu, merupakan kota suci bagi tiga agama sekaligus, yakni
Yahudi, Kristen, dan Islam. Tak heran, tentu siapapun yang menjadi
raja akan meraup upeti pajak yang amat besar dari para penganut tiga
agama tersebut yang tak henti-hentinya datang ke Yerusalem untuk
berziarah.
Kala itu
Sybilla menikah dengan Guy of Lusignan, seorang ksatria dari Prancis,
sementara Isabella menikah dengan Conrad of Montferrat, bangsawan
dari Italia. Sayangnya, Sybilla kemudian meninggal karena wabah.
Sebagai suami putri sulung Almaric, Guy merasa dirinya berhak
menduduki tahta sebagai raja Yerusalem. Namun Conrad berpikir lain.
Karena Isabella adalah satu-satunya putri Almaric yang masih hidup,
maka istrinya-lah yang pantas menjadi ratu dan ia selaku suaminya
yang seharusnya menjadi raja. Akibatnya, pecah perang antara dua kubu
pendukung Guy dan Conrad untuk memperebutkan tahta Raja Yerusalem.
Perselisihan
antara keduanya semakin runyam setelah seorang raja Inggris bernama
Richard The Lion Heart, yang baru saja tiba untuk membela Eropa dalam
Perang Salib III, ikut campur tangan. Dalam kekisruhan itu, rupanya
Raja Richard lebih mendukung Guy. Namun Conrad mewarisi darah biru
bangsawan (bahkan, dua sepupunya menjabat sebagai raja) sehingga
Guy-pun (yang hanya seorang ksatria) kalah pamor. Namun disinilah
terjadi sebuah peristiwa misterius.
Kala itu
Conrad menunjukkan kepiawaiannya berperang dengan berhasil
mempertahankan kota Tyre di Lebanon dari serangan Saladin. Namun
tiba-tiba saja, pria-pria misterius yang menyamar menjadi rahib
menyusup dan menusuk Conrad hingga tewas. Dari gaya pembunuhannya
yang khas, kuat dugaan bahwa para pembunuh itu tak lain adalah utusan
dari para Assassin. Namun apa tujuan mereka membunuh Conrad? Bukannya
selama ini para Assassin berusaha keras untuk tak ikut campur dalam
permasalahan pribadi para warga Eropa yang menduduki Timur Tengah
(terkecuali karena terpaksa, seperti pada kasus Raymond II dan para
Ksatria Templar)? Ada desas-desus bahwa para Assassin tersebut
sesungguhnya dibayar jasanya oleh Richard The Lion Heart untuk
menghabisi Conrad. Namun ada pula teori yang lebih heboh yang
menyatakan bahwa Saladin sendirilah otak di bawah pembunuhan.
Hingga
kini, misteri tersebut tak pernah terpecahkan.
THE
FALL OF THE ASSASSINS
.jpeg) |
| Lukisan yang menggambarkan jatuhnya benteng para assassin di tangan para pasukan Mongol yang terkenal beringas |
Pembunuhan
Conrad merupakan aksi terakhir Sinan. Sang grand master terhebat
dalam sejarah Ordo Assassin itu akhirnya meninggal pada 1193,
anehnya, pada tahun yang sama dimana Saladin meninggal. Namun
sayangnya (atau malah untungnya), sepeninggal Sinan, tak ada lagi
grand master Assassin yang mampu menyamai kehebatannya. Bahkan Ordo
Assassin justru mengalami kemerosotan karena konflik internal. Pada
1210, Muhammad II meninggal dan digantikan anaknya Hassan III. Namun
berbeda dengan para grand master sebelumnya, Hassan III lebih condong
pada ajaran Sunni karena memiliki ibu dan empat istri yang kesemuanya
penganut Sunni. Ia bahkan membuka persahabatan dengan Kekhalifahan
Abbasiyah yang beraliran Sunni (yang sebelumnya menjadi musuh
bebuyutan Ordo Assassin).
Tentu
saja perubahan drastis ini membuat para Assassin yang beraliran
Syi’ah tak terima. Hassan III kemudian tewas secara misterius pada
1221 karena diracun. Penggantinya adalah Muhammad III, putranya yang
baru berusia 9 tahun. Tentu saja karena usia yang terlalu muda, para
penasehatnya turun tangan untuk memangku tahta. Titah pertama mereka
adalah membunuh istri-istri Hassan III yang dituduh meracuninya.
Tentu saja mengingat tabiat para Assassin, bisa dipastikan sang grand
master tersebut dibunuh oleh anak buahnya sendiri.
Pada
1255, grand master Muhammad III juga ditemukan tewas secara
misterius, sama seperti ayahnya, dan digantikan anaknya, Rukn al-Din
Khurshah yang kemudian akan dikenal sebagai grand master Assassin
terakhir.
Kepiawaian
Assassin dalam membunuh ternyata bukanlah tandingan serangan tentara
Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Mereka berhasil menaklukkan
benteng Alamut bahkan menghukum mati sang grand master terakhir.
Namun itu bukan berarti kaum Asasssin benar-benar punah. Perlu kita
pahami bahwa istilah “Assassin” berlaku bagi semua penganut paham
Nizari dari mazhab Ismaili dari aliran Syi’ah. Tak hanya para
pembunuh piawai saja, namun juga istri dan anak-anak mereka juga bisa
disebut “Assassin” asalkan memiliki paham yang sama.
Para
Assassin yang selamat pun bermukim di Salamiyah, Suriah. Kini, para
Assassin yang tersisa tak lagi menyebut diri mereka dengan nama yang
jelas memiliki konotasi mengerikan itu. Mereka hanya menyebut diri
mereka Sekte Nizari dimana kini, mereka memiliki pemimpin tertinggi
bernama Aga Khan. Sekte Nizari tak pernah benar-benar mati, bahkan
bisa dibilang memiliki posisi yang cukup dihormati baik di Timur
Tengah maupun Asia Selatan.
Namun
setelah mempelajari sejarah para Assassin, muncul pertanyaan.
Bagaimana mereka bisa setangguh itu, hingga nama merekapun terukir
dalam sejarah?
Para
Assassin dikenal dengan misi bunuh diri mereka. Seperti para pilot
Kamikaze Jepang, para Assassin sama sekali tak takut kematian. Tapi
apa rahasianya?
THE
HASHISH EATER
 |
| Lukisan yang menggambarkan Hassan I, sang grand master, tengah "mengakali" pengikutnya sehingga merekapun rela mati demi menuntaskan tugas berbahaya Ordo Assassin |
Seperti
yang sudah gue sebutkan tadi di awal, nama “Assassin” berasal
dari kata “asas”. Namun ada pula teori lain yang menyatakan bahwa
nama tersebut berasal dari “hashshashin” yang artinya pengguna
“hashish”. Kalian mungkin tak asing dengan hashish yang merupakan
“rokok” khas Timur Tengah. Ada kemungkinan bahwa asal nama ini
ada benarnya. Kaum Assassin memang dikenal sebagai pengguna hashish,
namun bukan untuk bersenang-senang. Konon, sang grand master pertama
Assassin, yakni Hassan, meminta para anggota-anggota baru para
Assassin untuk merokok menggunakan hashish ini sebagai suatu bentuk
upacara inisiasi. Tanpa sepengetahuan mereka, Hassan telah memasukkan
sejenis halusinogen (mungkin opium) atau bahkan obat bius ke dalam
hashishs tersebut. Dalam kondisi tak sadarkan diri (atau bahkan
teler), para assassin-assassin baru itu dibawa ke sebuah taman yang
indah dan berisi gadis-gadis cantik. Hassan kemudian mengatakan bahwa
mereka tengah berada di “surga” dan jika mereka akan kembali lagi
ke tempat itu jika mereka mati di tengah misi “suci” untuk
melayani Ordo Assassin.
Ada juga
cerita lain tentang bagaimana Hassan meyakinkan para anggotanya untuk
rela mati di misi mereka. Ia berpura-pura memenggal kepala salah
seorang Assassin-nya dan menaruh kepalanya di depan tahtanya.
Padahal, yang terjadi sebenarnya, pria itu hanyalah dikubur dengan
kepala di atas tanah. Hassan lalu berpura-pura memiliki kekuatan
untuk berkomunikasi dengan orang mati dan “membangkitkan” kepala
itu. Kemudian kepala itu akan membuka matanya dan bercerita tentang
surga yang ia kunjungi setelah mati karena selama ini ia melayani
ordo Assassin sepenuh hati. Untuk semakin meyakinkan ceritanya itu,
Hassan kemudian diam-diam memenggal sungguhan pria tersebut dan
memajang kepalanya untuk mengukuhkan triknya itu.
Legenda
lain tentang para Assassin mengisahkan tentang seorang ksatria dari
Eropa bernama Count Henry II of Champagne yang kala itu berjumpa
dengan sang Grand Master Assassin yang legendaris, Sinan. Kala itu
sang Count sesumbar bahwa tentaranya-lah yang terhebat dan mereka bisa
mengalahkan para Assassin dengan mudah karena jumlah mereka 10 kali
lipat banyaknya. Mendengarnya, Sinan hanya tersenyum lalu menyuruh
salah satu Assassin yang kala itu berjaga di atas menara untuk
menjatuhkan dirinya ke bawah. Tanpa ragu, sang Assassin itupun
melompat dan akhirnya tewas. Melihatnya, sang Count langsung angkat
tangan dan menyerah, mengakui bahwa memang Ordo Assassin yang lebih
hebat karena mereka mengikuti semua perintah sang Grand Master mereka
tanpa ragu, bahkan jika mereka disuruh untuk mati sekalipun.
Dengan
berbekal semua cerita-cerita ini, tentulah kita paham mengapa para
Assassin bisa sebegitu berhasilnya dan ditakuti pada masanya. Tentu
saja, keberadaan Assassin ini (walaupun ordo aslinya telah musnah)
menginspirasi berbagai aksi kejahatan serupa, yakni membunuh
petinggi-petinggi politik dengan cara asasinasi. Mulai dari presiden
Amerika seperti Abraham Lincoln hingga Archduke Franz Ferdinand yang
kematiannya memicu PD I dan PD II, semuanya merupakan aksi asasinasi.
Terbaru, kematian saudara Kim Jong Un di Malaysia hingga kematian
Jamal Khasoggi (yang uniknya, didalangi pihak Timur Tengah, negeri
asal para Assassin), merupakan bukti bahwa teknik para Assassin ini
sampai kapanpun akan digunakan sebagai cara instan untuk
menyingkirkan musuh dan mendapatkan kekuasaan.
SUMBER: WIKIPEDIA, ANCIENT HISTORY ENCYCLOPEDIA
A VERY SPECIAL THANKS TO:
Aulia
Pratama Putri
별처럼 다 우리 빛나
SPECIAL THANKS TO MY
SUPPORTER THIS APRIL:
Sinyo Kulik
, Singgih Nugraha , Adhitya Sucipto , Rahadian Pratama Putra , Radinda , Kinare
Amarill , Maulii Za , Rara , Sharnila Ilha , Victria tan , Ali Hutapea , Keny
Leon , Rosevelani Manasai Budihardjo , Marcella F , Tieya Aulia , PJ Metlit ,
Marwah , Dana Xylin , Paramita . Amelia Suci Wulandari . Rivandy , Syahfitri , Dyah
Ayu Andita Kumala , Fitriani , Ilmiyatun Ainul Qolbi , Ciepha Ummi , Riani Azhafa