Friday, January 3, 2014

URBAN LEGEND #9: NO ACCOUNTING FOR TASTE

 

NO ACCOUNTING FOR TASTE

SELERA ORANG BISA BERBEDA

 

Aku mulai memiliki masalah serius dengan teman-teman kerjaku yang baru. Aku sudah mencoba membicarakannya dengan orang tuaku. Mereka mengatakan ini hanya “culture shock”, yang menurutku sangat mungkin, sebab ini adalah pekerjaan pertamaku. Belum lagi sejak kecil, aku selalu “homeschooling” sehingga aku mengakui memang kurang bersosialisasi. Ditambah lagi orang tuaku cukup overprotektif. Namun lama-kelamaan, perilaku teman2 kerjaku ini mulai sangat mengangguku, bahkan membuatku takut.

Maksudku, bukannya teman2ku ini hantu atau monster menakutkan. Bukan seperti itu. Mereka tampak seperti orang normal dan selalu ramah terhadapku. Ketidaknyamananku berasal dari apa yang mereka makan. Setiap hari pukul 12 siang, mereka selalu beristirahat untuk makan siang. Namun aku selalu saja makan sendirian di kubik-ku dan tak pernah bergabung dengan mereka. Sebab aku selalu takut dengan apa yang mereka makan.

Aku pernah menyelidikinya. Aku kadang mengendap-ngendap untuk mencium bau daging yang mereka bawa dari rumah. Bahkan aku pernah sampai mengubek-ubek tempat sampah untuk mencari bekas2 tulang yang tadi mereka santap.

Ketika aku sampai di rumah, selalu saja pertanyaan ini berkecamuk dalam diriku.

Mengapa makanan mereka tak menjerit ataupun menangis seperti makananku?

***

6 comments:

  1. Si aku makan sesuatu yg hidup?

    ReplyDelete
  2. karena menangis, bahkan menjerit, berarti kemungkinan besar makanannya manusia

    ReplyDelete
  3. ngebayangin : si aku bawa anak kecil di box lunch nya...ahahaha...

    ReplyDelete
  4. hm, orangtua yg overprotektif, home-schooling, dia monster yah? :/

    ReplyDelete