Friday, April 24, 2020

BUS TO MAGELANG - CHAPTER 3



Mulia hanya bisa menatap dengan geram ketika Faleny secara refleks memeluk Jerry ketika menyaksikan adegan mengerikan itu. Ia menatap gadis itu lekat-lekat.

Sebulan yang lalu ia menyatakan cintanya. Namun tak hanya ditolak, dia juga ditertawakan habis-habisan. Dan sekarang, justru dengan sengaja ia memamerkan kemesraannya di depan matanya.

Apakah ia pikir dirinya tak berharga? Ia teringat kejadian tadi di pom bensin, ketika ia turun untuk pergi ke kamar mandi, justru mereka berdua menguncinya di dalam. Ia memang sering menjadi bahan bully-an teman-temannya. Alasannya sederhana, ia adalah pemuda biasa-biasa saja dan tidak populer, beda seperti Jerry, Faleny, dan gengnya.

Apakah salah ia mencintainya? Apa ia tak pantas mendapatkan cintanya?

Ia masih menatap tangan Faleny yang terlingkar di pinggang Jerry.

Dasar perempuan kurang ajar!” bisiknya dalam batin.

***

Ja ... jalankan mobilnya!” seru Bima.

Ta ... tapi dia ...” tanpa sadar Rima yang saat itu ketakutan setengah mati, menggenggam tangan Foo dengan keras.

Dengan cepat, Ridho, sang sopir memutar setir dan melajukan busnya. Para gadis kembali menjerit ketika tiba-tiba Raga menerjang bagian depan bus. Ia berlumuran darah dan wajahnya terlihat mengerikan. Berkali-kali ia menghantamkan tangan dan kepalanya untuk memecahkan kaca jendela depan bus.

A ... apa yang dia lakukan?” jerit Rima.

Ridho tak punya pilihan lain selain mempercepat busnya dan melindas tubuh Raga. Mereka semua menjerit saat terdengar suara “Kraaaak!” yang amat keras ketika ban raksasa dari bus menggencet tubuhnya dan meremukkan tulangnya.

A ... apa yang kau lakukan?” seru Rima, “Kau baru saja membunuhnya!”

Apa kau tak lihat yang terjadi yang di sekitar kita!” seru Ridho sambil terus melajukan mobilnya.

Ridho benar, suasana di sekitar kami seperti neraka. Mobil-mobil terbakar. Sementara itu kerusuhan terjadi di jalan. Rima menoleh dan melihat beberapa orang keluar dari sebuah warteg dengan berlumuran darah.

Di tangan mereka tergenggam bagian-bagian tubuh manusia yang dagingnya mereka santap mentah-mentah.

Astaga!” jerit Rima, “Apa yang terjadi?”

Gadis itu menoleh dan melihat Foo serta Bima tak mampu berkata apa-apa. Syefira dan Tara juga tampak ketakutan.

Titik! Titik!” jerit seorang wanita.

Apa yang terjadi?” perawat bernama Vina itu segera menghampirinya.

Adikku!” jerit Yuli dengan panik, “Tolong adikku!”

Titik terlihat limbung dan jatuh ke lantai, memegang dadanya yang kesakitan.

Dia ... dia terkena serangan jantung ...” Vina dengan sigap berusaha membantunya, “Apa dia bawa obatnya?”

Tidak,” Yuli terlihat menangis, “Kami meninggalkannya di rumah. Sakit jantungnya sudah tak pernah kambuh lagi.”

Tak apa-apa, Kak ...” Titik memaksakan diri tersenyum, meskipun ia terlihat menahan rasa sakit, “Aku sudah lama ingin berjumpa suami dan anakku di surga ...”

Seusai mengatakan itu, kepalanya langsung terkulai dan matanya terpejam. Vina segera memeriksa denyut nadinya, namun ia lalu menggeleng.

Maafkan, aku. Dia sudah meninggal.”

Tidaaaaak ...” pipi Yuli berlumuran air mata.

Rima menoleh ketika mendengar isakan seorang anak. Ia segera menenangkan gadis cilik itu.

Jangan menangis, Dik.” ujar Rima sambil tersenyum, walaupun dia sendiri ketakutan, “Siapa namamu.”

Gadis itu menjawab di tengah isakannya, “Naura ...”

Topiku indah sekali.” Rima memuji topi berenda yang ia kenakan.

SIAL!” tiba-tiba Ridho membanting setirnya ke kiri sehingga hampir membuat kami terjatuh kembali.

Rima menoleh ke depan dan melihat sebuah bus terbakar di depan mereka, menutup jalan. Kini bus yang mereka tumpangi tengah berjalan di tanah berumput sehingga mereka harus menjaga keseimbangan ketika bus bergoyang-goyang ke kanan dan kiri karena jalanan yang tak rata.

Awasss!” jerit Rima. Ridho dengan sigap menghentikan busnya. Hampir saja mereka menabrak sebatang pohon. Kini, pohon itu berdiri tepat di depan kaca jendela depan bus mereka, membaginya menjadi dua. Entah apa jadinya jika bus itu menabraknya.

KYAAAAA!!!” terdengar jeritan Faleny yang selama ini duduk di belakang. Mereka semua menoleh dan melihat orang-orang berlumuran darah, bahkan tak lengkap lagi anggota tubuhnya, mengepung bus.

Tiba-tiba saja pria yang selama ini diam dan duduk di bangku paling belakang berusaha melarikan diri dengan membuka pintu belakang.

Tidak! Jangan!” seru Foo.

Namun terlambat, zombie-zombie itu sudah keburu menggapai tubuh pria itu dan menariknya ke luar. Terdengar jeritan pria itu, namun yang lebih mengerikan, kini zombie-zombie itu berusaha merangsek masuk melalui pintu yang kini terbuka.

Mulia dan Jerry yang berada dekat pintu segera berusaha menutup pintu itu. Namun tangan-tangan zombie itu berhasil mengganjal di sela-sela pintu. Mereka terus meraung dan mengibaskan tangan mereka, mencoba meraih mangsa. Foo dan Bima segera membantu kedua pemuda itu, namun mereka masih kesulitan menutupnya.

Mulia menoleh dan melihat Faleny berdiri di sampingnya dengan ketakutan, sementara perhatian semua orang terarah pada kerumunan zombie yang berusaha mereka tahan di luar. Ia melepaskan pegangannya sedikit sehingga pintu itu terbuka makin lebar, bahkan beberapa zombie mampu memasukkan kepala mereka dan meraung.

Inilah saatnya,” pikir Mulia, “Hanya inilah kesempatanku satu-satunya.”

Tiba-tiba saja, ia meraih tangan Faleny dan melemparkannya ke luar. Gadis itu menjerit ketika para zombie itu menangkap tubuhnya dan mencabiknya, membawanya pergi.

Ini kesempatan kita!” seru Mulia. Mereka segera mendorong pintu itu hingga menutup ketika perhatian para zombie itu tertuju pada tubuh Faleny yang tengah mereka mangsa.

Apa yang kau lakukan?!” seru Jerry dengan marah.

Ma ... maaf ...” Mulia menampakkan wajah sedihnya, “Aku berusaha menolongnya ... namun zombie-zombie itu berhasil meraihnya ...”

Jerry pun duduk di salah satu kursi dan menangis tersedu-sedu.

Mulia hanya tersenyum melihatnya.

***

Lanjutkan perjalanan!” Foo memberi komando, “Bisa mati kita jika lama-lama di sini!”

Ridho melajukan bus itu kembali, mencoba menghindari pohon yang hampir mereka tabrak, dan mencoba kembali ke jalan besar.

Tapi kemana kita akan pergi?” tanyaku cemas.

Ini wabah yang menular dengan cepat.” ujar Vina, satu-satunya dari mereka yang memiliki pengalaman dan pengetahuan medis. “Kita harus menghindari kota besar. Semakin banyak orang, semakin banyak juga yang terinfeksi.”

Berarti kita tak bisa kembali ke Yogya atau terus ke Semarang.” kata Syefira, “Lalu kemana? Apa kita akan terus ke Magelang?”

Untuk apa?” bantah Bima, “Tak bisa dijamin wabah itu belum menyebar sampai ke sana?”

Guys, sepertinya perawat itu benar.” Tara menunjukkan berita di Line-nya, “Wabah zombie ini sudah menjangkiti kota-kota besar. Seluruh Jakarta hingga ke jawa Timur sudah terinfeksi.”

Mereka semua segera mengecek handphone. Benar rupanya, di grup whatsapp, tersiar kabar tentang kerusakan dan kerusuhan yang menjalar hampir di semua kota besar di Jawa. Bahkan wabah ini katanya telah mencapai Sumatra dan Singapura.

Ridho, sang sopir kami segera menyalakan radio. Terdengar berita pengumuman dari pemerintah.

... Kepada semua yang selamat ... diperintahkan untuk naik ke dataran yang lebih tinggi ... dari pengamatan kami, para zombie tidak mampu bernapas di tempat dengan kadar oksigen yang semakin menipis. Diulangi ... semua yang selamat harap segera menuju ke dataran tinggi ... para tentara sudah kami persiapkan di sana ...”

Kurasa ini artinya kita akan tetap meneruskan perjalanan ke Magelang.” kata Foo.


BERSAMBUNG


1 comment: