Sunday, April 26, 2020

BUS TO MAGELANG – CHAPTER 4


WARNING: GORY CONTENT


Ada satu masalah.” Ridho tiba-tiba berkata.

Ada apa?” Foo langsung menyahut, “Apa ada zombie lagi di depan?”

Bukan itu, tapi kurasa kita harus berhenti di pom bensin. Mustahil bensin kita cukup untuk sampai ke Magelang.”

Apa? Kenapa kau tak isi penuh tangkinya saat di pom bensin tadi?” seru Bima dengan kesal.


Maaf, tapi aku tak tahu kalau bakalan ada wabah zombie yang merebak!” jawabnya ketus. “Lagipula kita harus ambil jalan alternatif yang memutar jauh karena jalan utama sudah tertutup.”

Ini gawat!” balas Rima, “Coba bayangkan, pasti zombie-zombie itu sudah menunggu kita di sana! Kita hanya akan menjadi santapan mereka di sana.”

Benar! Kita sama sekali tak bisa mempertahankan diri!” sambut Jerry.

Eh, guys.” ujar Mulia yang semenjak tadi duduk di belakang, “Lihat ini!”

Semua menoleh ke arahnya dan terkesiap.

Mulia mengeluarkan sebilah senapan dari dalam sebuah tas besar berwarna coklat.

Da ... darimana kau dapat itu?” ucap Foo dengan gelagapan.

Masih ada banyak lagi di dalam sini.”

I ... itu kan tas milik pria yang terbunuh tadi.” jawab Rima. Mereka semua langsung menhampiri tas itu. Benar kata Mulia, ada banyak senjata di dalamnya. Sebuah senapan, pistol, tak lupa peluru-pelurunya, juga batang-batang berwarna merah yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.

Ini dinamit,” kata Foo, “TNT.”

Apa?” jerit Rima, “Untuk apa pria tadi membawa ini semua?”

Entahlah, mungkin dia teroris atau semacamnya. Namun ini justru bagus bukan?” Foo mengacungkan dinamit itu, “Kita jadi punya senjata untuk mempertahankan diri.”

Rima tak habis pikir. Apa pria pendiam tadi adalah tentara? Tapi mustahil seorang tentara membawa bahan-bahan berbahaya seperti ini di dalam sebuah bus penumpang. Apa benar kata Foo, kalau dia teroris? Atau apakah pria tadi tahu wabah zombie bakalan menyerang sehingga ia mempersiapkan diri seperti ini?

Ada yang tahu cara menggunakan senjata?” tanya Foo sambil mengisikan peluru ke senapan itu, “Aku dulu atlet menembak.”

Aku!” Mulia mengambil sebuah pistol dari dalam tas, “Ayahku seorang tentara.”

Ayahmu tentara? Tapi kenapa kau cu ...” Jerry hendak mengatakan “culun sekali”, namun mulutnya terhenti ketika melihat Mulia mengokang senjata itu.

Apa ada lagi yang bisa dijadikan senjata?” tanya Rima.

Vina segera mengorek-orek isi tasnya. Ia mengeluarkan seperangkat alat bedah berisi pisau dan beberapa jarum suntik.

Aku baru saja membelinya di Yogya untuk klinikku. Apa ini bisa?”

Rima menerima pisau itu, “Ketimbang tidak ada.”

Baiklah,” Foo mempersiapkan senjatanya, “Dimana pom bensin terdekat?”

***

Bus itu berhenti di sebuah pom bensin di pinggir jalan utama. Suasana tampak sepi. Tampak mobil-mobil ditinggalkan pemiliknya di jalan. Pom bensin itu tampak terbengkalai, ada serpihan kaca dimana-mana, dan para pegawainya pun tak terlihat.

Apakah aman?” Rima melongok ke jendela. Foo memberi aba-aba bagi sebagian dari mereka untuk turun. Foo dan Ridho turun. Sementara Mulia berjaga, bersiap menembak jika ada zombie mendekati mereka.

A ... aku ingin pergi ke kamar mandi.” bisik Tara pada Bima.

Ini benar-benar bukan waktunya, Tar!” keluh Bim. “Bisakah kau tahan?”

Tapi aku benar-benar kebelet!”

Bima akhirnya menyerah dan mengantarnya turun.

Baiklah, ayo cepat masuk!” Bima berjaga ketika mereka berada di depan toilet. Tara segera masuk, namun sesampainya di dalam, ia langsung menjerit.

AAAAAAAA!!!” Gadis itu segera keluar dan memeluk Bima.

Ada apa?”

Tiba-tiba saja Bima meringis ketakutan. Dari dalam toilet perempuan, muncul seorang wanita merangkak berlumuran darah. Ia berusaha menggapai mereka. Perutnya yang besar tampak bergerak-gerak. Ia tengah hamil.

I ... ia sudah terinfeksi ...” bisik Bima ngeri. Urat-urat di wajah dan kulit wanita itu menonjol seperti orang-orang lain yang ternfeksi. Matanya tampak haus darah, namun ia tak berdaya untuk menggapai mereka karena beban di perutnya.

Tak ... tak bisakah kita menolongnya ...”

Menolongnya bagaimana?”

Ta ... tapi bayi dalam perutnya ...”

Tara menjerit ketika tiba-tiba perut wanita itu sobek. Seutas tangan kecil merobeknya dari dalam, berusaha menggapai-gapai udara luar. Air ketuban dan darah langsung tumpah ruah dari dalam perut wanita itu. Janin itu mencoba melebarkan sobekan yang tadi ia buat dan memunculkan wajah penuh gigi taring. Ia merangkak keluar dari rahim ibunya sendiri, menggeliat di antara tali pusar yang melilitnya.

Teriakan Tara yang menjadi-jadi mengundang para zombie lain untuk muncul.

Semuanya, lari!” seru Foo.

Beruntung, Ridho sudah selesai mengisi bensin. Ia segera naik sementara Foo menembakkan senjata untuk melindungi Tara dan Bima yang tengah berlari kembali ke bus.

Tiba-tiba saja, 

“AAAAAAARGH!!!” 

Bima berteriak ketika seorang zombie muncul dari salah satu pintu toilet dan berhasil menggigit telapak tangannya.

BIMA!” jerit Tara.

Namun sebelum zombie itu kembali melancarkan serangan, sebutir peluru keburu bersarang di kepalanya dan melumpuhkannya. Tara dan Bima menoleh dan melihat Mulia kembali menembaki satu demi satu zombie.

Cepat masuk!” seru Foo, mengulurkan tangannya ke arah Bima dan Tara.

Tidak! Jangan biarkan dia masuk!” seru Vina sembari memeluk anaknya erat-erat. “Pemuda itu ... pemuda itu terinfeksi ...”

Tapi kita tak bisa membiarkannya di luar dan dimakan makhluk-makhluk itu!” Foo bersikeras.

Tidak, dia benar ...” Bima menggelengkan kepalanya, “A ... aku hanya akan melukai kalian jika aku ikut masuk ...”

Tara menangis mendengar jawaban itu, “Ti ... tidak ...”

Masih ada cara, cepat masukkan dia!” seru Rima tiba-tiba. Ia lalu menoleh ke arah Vina, “Kau bawa desinfektan kan? Kita akan mengamputasi tangannya di sini. Itu akan menghambat penyebaran virusnya.”

Apa kau gila?” seru Foo.

Lakukan saja!” Tara menarik Bima ke dalam dan mereka segera menutup pintu. Ridho segera melajukan busnya meninggalkan pom bensin itu. Sementara itu para zombie terus berusaha merangsek masuk. Beberapa menggoyang-goyangkan bus ini, bahkan berusaha memecahkan kaca.

Cepat pergi!” seru Jerri.

Aku tak bisa!” seru Ridho, “Mereka mengepung kita!”

Bunyikan klaksonnya sekencang mungkin!” perintah Foo. Ridho menurutinya dan membunyikan klakson. Suara bising itu segera mengganggu para zombie dan merekapun berjalan menjauh.

Bantu aku, Bu Vina!” seru Rima ketika bus itu mulai berjalan kembali. Wanita itu segera meninggalkan anaknya dan menyiapkan alat-alat bedah. ia lalu menyuntikkan obat penghilang rasa sakit dan membebatkan perban sekencang mungkin di tangan Bima.

Aaaaaargh ...” pemuda itu mengerang kesakitan, “Cepatlah ...”

Rima segera menyayat telapak tangan Bima yang tadi tergigit dan mengupas dagingnya. Pemuda itu berteriak kesakitan, walaupun tadi sudah disuntik dengan morfin.

Itu takkan berhasil,” seru Vina, “Kita harus memotong tangannya!”

Dengan apa? Kita tak punya gergaji atau semacamnya.”

Pakai ini!” Mulia mengulurkan sebuah palu yang biasa digunakan untuk memecah kaca jendela dalam keadaan darurat kepada Foo. Pemuda itu dengan kebingungan menerimanya.

Vina dan Rima segera menyayatkan pisau itu lebih dalam untuk memotong pergelangan tangannya. Mereka dengan mudah mengiris daging di tangannya, namun mereka terhambat dengan tulang putih yang menonjol begitu mereka berhasil mengupasnya.

AAAAAAARG! AAAAAAAAAAAARGH!!!” Bima berteriak tak karuan dan mulai menggeliat.

Pegangi kakinya!”

Tara dan Syefira segera memegangi kedua kaki Bima yang terus menendang-nendang.

Lakukan, Foo!” seru Rima.

A ... aku tak bisa ...” pemuda itu tampak ragu.

Lakukan! Jika tidak ia akan berubah menjadi zombie dan kita semua akan dalam bahaya besar!”

Foo akhirnya meneguhkan hatinya dan mulai memukul-mukulkan palu itu ke tulang tangan Bima. Pemuda itu terus menggeliat ketika tulang itu perlahan retak.

Putar tulangnya!”

KRAAAAAK!!!”

Foo tak punya pilihan lain selain memelintir tulang itu agar patah. Bima menjerit sambil mengejang ketika Foo akhirnya berhasil memutar dan mematahkan tangan itu. Ia langsung melemparkannya. Namun di luar dugaaan mereka, tangan yang telah berubah menjadi zombie itu masih terus bergerak, bahkan mencoba berjalan menggunakan jemarinya.

JLEEEB!!!” Mulia segera menusukkan sebilah pisau dan menancapkan tangan itu di lantai bus.

Vina segera menyiramkan alkohol ke luka pemuda itu dan membebat tangannya yang kini sudah tumpul dengan erat.
Gawat, aku khawatir jika tidak segera mendapatkan transfusi, pemuda ini akan meninggal kehabisan darah.” Perawat itu menyeka keringat di dahinya setelah semua bahaya itu berlalu.

Tara sembari menangis memangku tubuh Bima yang kini tak sadarkan diri.

Kita harus segera ke Magelang.” Rima menatap ke depan. Namun perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu satu jam itu sepertinya akan sangat sulit mereka capai.


BERSAMBUNG


No comments:

Post a Comment