Saturday, April 18, 2020

KASUS “MOMMY IS IN THE TREES”: PSIKOPAT DENGAN HATI NURANI?



Crystal dan kedua orang tuanya, Diana Robertson dan Mike Riemer

Pada 12 Desember 1985, seorang gadis cilik ditemukan sedang menangis sendirian di luar sebuah department store di kota Tacoma, negara bagian Washington, Amerika Serikat. Para pegawai toko berusaha menemukan kedua orang tuanya, namun gagal. Ia seolah terdampar di sana, sendirian, ditinggalkan begitu saja. Setelah berita tentangnya ditayangkan di televisi, neneknya sendiri mengenalinya dan segera menjemputnya. Ketika sang nenek menanyakan keberadaan ibunya, bocah itu hanya menjawab, “Mommy is in the trees” atau, “Mama ada di dalam pepohonan.”

Siapa sangka, jawaban anak itu akan membawa para petugas penyelidik ke sebuah kasus pembunuhan berantai misterius yang hingga kini tak terpecahkan.

Dear readers, welcome to the Dark Case.


Cerita ini dimulai pada pagi 12 Desember 1985. Kala itu sepasang kekasih bernama Diana Robertson dan Mike Riemer memutuskan untuk mengunjungi sebuah hutan di dekat kota Tacoma. Walaupun belum diresmikan dalam ikatan pernikahan, kedua kekasih itu telah memiliki anak perempuan bernama Crystal yang sudah berusia 2 tahun. Kala itu menjelang Natal dan Crystal, meminta sebuah pohon cemara untuk dihias menjadi sebuah pohon Natal. Maka untuk menyanggupinya, ketiganya pun berkendara ke tengah hutan di pedalaman negara bagian Washington.

Perlu diketahui bahwa Washington merupakan salah satu negara bagian di utara Amerika Serikat yang masih memiliki alam yang belum tersentuh dan hutan yang teramat lebat. Mike, yang tak asing dengan wilayah hutan tersebut, juga memiliki pekerjaan sebagai pemburu. Ia meninggalkan jebakan di dalam hutan untuk menangkap satwa liar dan kesempatan itu juga ia gunakan untuk memeriksa buruannya.

Akan tetapi, itulah kala terakhir pasangan itu terlihat.

Potret kebahagiaan Mike Riemer dan kekasihnya, Diana sebelum terkoyak tragedi

Pada hari yang sama, putri mereka yang masih berusia 2 tahun, Crystal, ditemukan di sebuah department store, tanpa kedua orang tuanya. Kita sudah tahu bagaimana kisah ini kemudian berlanjut dan petunjuk apa yang ditinggalkan anak berusia 2 tahun itu. Polisipun mengadakan pencarian besar-besaran hanya berbekal pada petunjuk yang ditinggalkan Crystal, yakni “Mommy is in the trees”. Bak sebuah kode yang harus dipecahkan, para polisi berkesimpulan, bahwa kedua orang tuanya berada di dalam hutan.

Namun pencarian mereka sia-sia belaka. Baik Diana maupun Mike lenyap tanpa jejak.

Dua bulan kemudian, seorang pendaki menemukan jenazah seorang wanita terbaring di kedalaman lubuk hutan di dekat kota Elbe, Washington. Jenazah itu adalah milik Diana Robertson, ibu dari Crystal.

Lokasi dimana jenazah Diana tergeletak cukup jauh dari lokasi dimana Crystal diketemukan, yakni sekitar 50-an kilometer. Polisi segera datang dan dari luka-luka yang ia derita, jelas kematiannya tidaklah alami. Tubuh wanita itu ditikam selama 17 kali dan ada sebuah kaos kaki menjerat lehernya. Kemungkinan dengan senjata itulah, sang pembunuh melenyapkan nyawanya dengan cara mencekiknya.

Hanya beberapa langkah dari mayat Diana, ditemukan mobil milik mereka. Namun keberadaan kekasihnya, Mike, sama sekali tak terlihat di lokasi itu. Beberapa barang bukti yang ditemukan justru menjurus kepada dugaan memilukan, bahwa Diana tewas di tangan ayah dari putrinya sendiri.

Potret TKP dimana jenazah Diana diketemukan

Beberapa barang bukti yang ditemukan seakan memberatkan Mike. Mobil milik Mike ditemukan tak jauh dari mayat Diana dengan noda darah di kursi penumpang. Sayang sekali, karena keterbatasan teknologi DNA kala itu, tak bisa ditentukan darah milik siapakah itu. Yang polisi ketahui, darah itu jelaslah darah manusia. Namun tak sulit untuk menduganya. Karena mobil itu adalah mobil milik Mike, maka tentu menurut logika Mike berada di kursi pengendara dan kursi penumpang tentu ditempati Diana.

Tak hanya itu, di dalam mobil terselip secarik kertas dengan sebuah pesan berbunyi, “I love you, Diana.” Tulisan dalam kertas itu adalah tulisan tangan Mike sehingga seakan, tulisan itu adalah pesan terakhirnya atau permintaan maaf. Mungkin saja, setelah menghabisi nyawa kekasihnya, Mike menyesal?

Pesan terakhir Mike untuk Diana? Kata-kata mesra ini justru berbuntut kecurigaan setelah Diana ditemukan tewas dan seolah menjadi motif sempurna

Perlu diingat pula, jarak antara Tacoma, dimana Crystal ditemukan, dan Elbe, dimana jasad Diana dan mobil mereka ditemukan, cukup jauh. Mustahil Crystal dapat berpindah dari kedua lokasi itu dengan mudah. Kemungkinan, sang ayahnya sendiri, Mike yang membawa gadis itu ke department store supaya seseorang menolongnya, kemudian kabur. Ya, tetap saja Crystal adalah buah hatinya sendiri sehingga ia tak tega untuk menghabisi nyawanya, walaupun ia adalah saksi kematian ibunya sendiri. Setelah memastikan keselamat putrinya sendiri, iapun kabur.

Tapi apa motifnya?

Kehidupan Mike dan Diana ternyata tak semesra foto-foto mereka. Faktanya, Diana ternyata mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Setelah diselidiki, keluarga dekat mereka bersaksi bahwa kehidupan Diana dan Mike ternyata menyimpan sebuah rahasia kelam. Mike adalah pria abusif yang kerap menyiksa dan memukuli Diana. Bahkan, Diana pernah mengatakan pada ibunya bahwa Mike pernah mengancam untuk membunuhnya. Beberapa minggu sebelum kematiannya, Diana sempat maju ke pengadilan untuk menuntut Mike. Akan tetapi sesaat sebelum Natal, mereka berdua akhirnya berbaikan.

Fakta lain yang tak kalah mengerikanpun muncul. Ternyata Diana bukanlah korban pertama yang ditemukan tewas di dalam hutan itu. Sebelumnya, seorang pria bernama Stephen Harkins dan kekasihnya, Ruth Cooper juga ditemukan tewas di tempat sama, empat bulan sebelumnya. Bahkan Ruth tewas dengan cara serupa dengan Diana, yakni dengan cara dicekik dengan kaos kaki. Pada Maret 1985, pembunuhan lain juga terjadi. Seorang pria bernama Edward Smith dan kekasihnya, Kimberly, juga ditemukan tewas di sebuah sungai, tak jauh dari hutan tersebut.

Mungkinkah semua kejadian ini adalah perbuatan seorang pembunuh berantai?

Dua korban lain sang pembunuh berantai, yakni Ruth Cooper dan Steven Harkins 

Karena miripnya modus operandi sang pembunuh, yakni menggunakan kaos kaki sebagai senjata pembunuhan, maka ia-pun dijuluki sebagai “sock tube killer”.

Keluarga Mike sendiri tak mengelak bahwa Mike adalah seorang pria bertemperamen tinggi. Dengan tinggi 1,8 meter dan berat 81 kg, bahkan memiliki bekas luka di wajahnya, Mike memang terlihat sangar. Apalagi ia memiliki ketrampilan sebagai seorang pemburu yang sudah biasa membunuh binatang liar. Tak heran jika ia menjadi kandidat kuat sebagai seorang pembunuh berantai kejam. Namun keluarga Mike masih tak bisa mempercayai bahwa putra mereka bisa setega itu. Mereka masih bersikukuh bahwa Mike sama sekali tak bersalah.

Ada sebuah hal yang tak masuk akal sebenarnya. Jika benar Mike adalah pembunuhnya, dengan menggunakan apa ia kabur? Bukankah mobilnya ditemukan di samping jenazah Diana? Apa ia memiliki dua mobil? Apa mungkin ia sebenarnya masih berkeliaran di dalam hutan?

Sebuah jawaban barulah terkuak 30 tahun setelah kasus itu berlalu. Namun jawaban itu bukanlah jawaban yang siapapun duga.

Pada Maret 2011, sebuah tengkorak milik seorang pria ditemukan terkubur, sekitar 1,6 kilometer dari lokasi penemuan jenazah Diana. Tengkorak itu adalah milik Mike Riemer. Penyelidikan melalui otopsi membuktikan bahwa ternyata Mike justru dibunuh terlebih dulu ketimbang Diana.

Di hutan seperti inilah jenazah Mike ditemukan


Hal ini tentu menghapus kecurigaan bahwa Mike adalah seorang pembunuh berantai. Namun penemuan mengejutkan ini membawa kita ke pertanyaan baru: siapakah sesungguhnya sang pembunuh berantai itu?

Ada satu lagi pertanyaan menggelitik tentang nasib Crystal pada saat hari naas dimana pembunuhan itu terjadi.

Crystal, sang gadis cilik yang berusia 2 tahun itu, kala itu bersama dengan orang tuanya saat mereka dibunuh. Namun ia kemudian ditemukan di sebuah department store sejauh 56 kilometer dari lokasi TKP. Sebagai bayangan, jarak itu ditempuh dalam satu jam perjalanan menggunakan mobil.
Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah kala itu, Crystal berada di dalam mobil yang dikendarai oleh sang pembunuh.

Ya, kala itu sang pembunuh memutuskan tak hanya mengampuni nyawa Crystal, namun juga menyelamatkannya. Crystal jelas takkan mampu bertahan hidup di dalam hutan setelah kematian kedua orang tuanya. Sang pembunuh kemudian memutuskan untuk membawa Crystal ke sebuah tempat yang ramai, yakni sebuah department store, sejauh 50-an kilometer, agar gadis cilik itu ditemukan oleh pihak berwajib.

Namun mengapa? Bisakah kalian membayangkan, seorang pembunuh yang begitu brutal menghabisi nyawa 6 orang, tiba-tiba memiliki hati nurani? Apa yang ada pikirannya kala itu? Bahkan mungkin saja, sang pembunuh diam-diam mengawasi Crystal kala itu ketika ia ditemukan di department store, memastikan agar ia tetap aman.

Hingga kini, identitas sang pembunuh tak pernah terungkap dan kasus pembunuhan aneh itu masih dikenang dengan ucapan Crystal kala itu,

Mommy is in the tress.

Sayang jawaban itu takkan membuat kita mengetahui, dimanakah sang pembunuh kini.


Sumber artikel: Wikipedia

Sumber gambar: Unsolved Mysteries, FindGrave






6 comments:

  1. Dari yang kulihat, pola pembunuhan berantainya sama: membunuh sepasang kekasih. Crystal merupakan anak kecil, jadi mungkin pembunuhnya tak tega; atau mungkin dia orang yang konsisten. Jadi dia memutuskan menyelamatkannya.

    ReplyDelete
  2. Yeee, seneng banget ada update-an lagi hehe...

    ReplyDelete
  3. Merinding

    30 tahun, selama itu pula mungkin orang tua Diana mencurigai keluarga Mike, dan selama itu pula keluarga Mike merasa bersalah pada keluarga Diana.

    Setidaknya Cristal masih ada untuk tau bukan ayahnya yg membunuh ibunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. 2 tahun ga inget apa2 bro

      Delete
    2. I Mean sekarang, dia sekarang tau bukan ayahnya yg bunuh ibunya, bayangkan sampai usia 25 tahun dia menduga juga ayahnya yang bunuh ibunya, baru dua usia 32 baru tau

      Delete