Saturday, April 18, 2020

KASUS HINTERKAIFECK: KALA SANG PSIKOPAT BERAKSI


Lahan pertanian di Hinterkaifeck ini menjadi saksi bisu salah satu kasus pembunuhan paling mencekam dalam sejarah Jerman

Hinterkaifeck adalah sebuah desa kecil yang berada pada jarak 70 km dari kota Munich, Jerman. Desa terpencil ini menjadi lokasi sebuah kasus pembunuhan paling misterius dalam sejarah Jerman. Pada 31 Maret 1922, enam penghuninya ditemukan tewas terbunuh. Mereka adalah keluarga Gruber yang mendiami sebuah lahan pertanian dan peternakan di desa yang awalnya terpencil dan damai.

Berbagai fakta mengejutkan sekaligus menakutkan ditemukan sepanjang penyelidikan, membuktikan bahwa sesosok pembunuh misterius telah menghantui lahan pertanian itu sebelum bahkan sesudah kasus pembunuhan itu, mengendap-endap di dalam kegelapan malam, menunggu saat yang tepat untuk beraksi.

Dari bagaimana ia menghabisi keluarga itu, jelas ia adalah seorang psikopat. Dan pelakunya mungkin adalah seseorang yang tak pernah siapapun duga.

Dear readers, welcome to the Dark Case.


Lahan pertanian di Hinterkaifeck, sebuah desa kecil di utara Jerman ini dihuni oleh beberapa keluarga yang semuanya hidup harmonis. Seperti desa kecil pada umumnya, para penghuninya saling mengenal. Salah satunya adalah keluarga Gruber yang memiliki lima anggota. Andreas Gruber yang sudah berusia 60-an tahun adalah sang kepala keluarga. Ia tinggal bersama istrinya, Cazilia Gruber, anak perempuannya yang bernama Viktoria Gabriel dan kedua cucunya, Cazilia (dinamai sama seperti neneknya) yang berumur 7 tahun dan Josef yang berumur 2 tahun. Viktoria sendiri menjanda setelah suaminya yang bernama Karl Gabriel tewas pada Perang Dunia I pada tahun 1914.

Kala itu tak ada yang menduga, bahwa desa mereka yang sunyi senyap menjadi lokasi pembunuhan sadis paling misterius dalam sejarah Jerman, ketika keluarga Gruber dan pembantu mereka ditemukan terbantai.

Hal-hal aneh mulai terjadi di lahan pertanian mereka sesaat sebelum pembantaian itu berlangsung. Enam bulan sebelum peristiwa itu terjadi, pembantu mereka tiba-tiba berhenti. Alasannya karena ia sering mendengar suara aneh dari loteng dan mengira rumah tersebut berhantu. Loteng, sesuai dengan tradisi Barat kala itu, dipergunakan sebagai gudang. Jadi seharusnya tak ada yang mendiami loteng rumah tersebut. Namun nyatanya, sang pembantu kerap mendengar suara langkah kaki dan aktivitas di bagian teratas rumah tersebut.

Bukan itu satu-satunya hal aneh yang terjadi. Andreas, sang kakek, menemukan sebuah koran yang tak pernah ia beli, di dalam rumahnya. Dan yang paling menakutkan, beberapa hari sebelum keluarga itu diserang, Andreas menemukan jejak kaki di atas salju menuju ke kediamannya. Namun anehnya, sama sekali tak ada jejak kaki yang mengarah keluar dari rumah. Pada saat yang sama, kunci rumah juga tiba-tiba menghilang. Andreas juga mulai mendengar langkah kaki dari atas loteng. Suatu malam, keluarga itu melihat seorang pria tengah mengawasi mereka dari kejauhan, di balik hutan.

Pada 31 Maret 1922, keluarga itu kedatangan seorang pembantu baru bernama Maria. Naasnya, pada malam itulah pembunuhan sadis itu berlangsung. Pada malam itu, Andreas, Cazilia istrinya, Viktoria putrinya, dan Cazilia cucu perempuannya, dibunuh di dalam kandang kuda di lahan peternakan mereka. Mereka dibunuh satu demi satu dengan menggunakan sebuah “mattock” atau sejenis cangkul. Selesai menghabisi mereka berempat, sang pembunuh dipercaya masuk ke rumah dan membunuh Maria serta Josef, anak Viktoria yang masih berumur 2 tahun.

Warga kota sebenarnya mulai heran ketika Cazilia, sang cucu perempuan, mulai absen tanpa keterangan di sekolahnya. Para warga juga mulai bertanya-tanya ketika mereka tak lagi melihat keluarga itu di ibadah Minggu pagi di gereja mereka. Bahkan petugas pos-pun ikut merasa janggal ketika melihat surat-surat yang diantarkannya seminggu lalu ke rumah mereka sama sekali belum disentuh.

Namun tak ada satupun yang merasa curiga, sebab cerobong keluarga Gruber kala itu masih mengeluarkan asap, bukti bahwa seseorang masih menghuni rumah itu.

Keluarga Gruber, penghuni Hinterkaifeck yang bernasib naas

Suatu hari seorang mekanik bernama Albert Hofner datang untuk memenuhi janjinya memperbaiki sebuah mesin di kediaman keluarga tersebut. Ia mencoba mencari para penghuni rumah, namun tak menemukan mereka. Pintu rumah mereka dalam keadaan tertutup. Suara gonggongan anjing terdengar dari dalam. Karena sudah mengenal baik keluarga Gruber, iapun memutuskan untuk memperbaiki mesin itu. Ia juga sama sekali tak menaruh rasa curiga karena ia masih bisa mendengar suara binatang ternak yang dipelihara di dalam lumbung. Hari itu baginya terasa normal seperti hari-hari biasa.

Siang harinya, Albert pulang setelah mesin itu berhasil ia perbaiki. Dalam perjalanannya, bertemu dengan kepala desa Hinterkaifeck dan menceritakan tentang kondisi lahan pertanian keluarga Gruber yang sunyi. Merasa curiga, ia-pun mengutus kedua anaknya untuk menyelidikinya. Pada hari itu, para warga menemukan kejutan mengerikan. Mereka menemukan mayat keluarga Gruber tewas dibantai. Tak ada satupun yang selamat dari kejadian naas tersebut.

Polisipun segera turun tangan. Karena level kesadisannya yang mengejutkan, polisi lokal kewalahan dan akhirnya meminta bala bantuan polisi dari kota Munich, yang terbiasa menangani kasus besar. Namun sebelum mereka datang, warga desa yang dikenal rajin bergotong royong memenuhi TKP bahkan memindahkan jenazah para korban. Hal tersebut tentu merusak barang-barang bukti di sana. Semua jenazah dan bukti yang tersisa kemudian dikirim ke Munich untuk penyelidikan lebih lanjut. Sayang, pada Perang Dunia II, kala terjadi pemboman di kota Munich, sehingga seluruh bukti tersebut musnah.

Dari hasil penyelidikan kala itu ditemukan bahwa seluruh harta milik keluarga tersebut masih utuh, sehingga jelas perampokan bukanlah motifnya. Yang paling aneh, penyelidikan membuktikan bahwa sang pelaku masih tinggal di rumah itu selama beberapa hari setelah pembunuhan berlangsung, bahkan sempat memberi makan hewan-hewan ternak di sana. Anjing keluarga Gruber bahkan dipelihara dengan baik.

Seperti disebutkan tadi, salah satu alasan mengapa para warga merasa tak curiga walaupun keluarga Gruber lama tak menunjukkan batang hidung mereka. Hal ini karena cerobong dapur keluarga tersebut masih mengeluarkan asap, membuktikan bahwa seseorang masih menggunakan dapur itu untuk memasak. Seorang pria konon melewati rumah tersebut saat malam hari dan mengaku ia mencium bau yang amat menjijikkan dari asap perapian rumah tersebut.

Entah apa yang dimasak sang pembunuh malam itu.

Bahkan yang paling membuat merinding, kala Albert Hofner memperbaiki mesin keluarga Gruber, dipercaya sang pembunuh masih berada di sana, mengawasinya. Menurut penuturan Albert, ketika ia datang, ia melihat pintu rumah tertutup dan anjing keluarga tersebut menggonggong dari dalam rumah. Ketika ia pergi, anjing itu sudah berada di luar, bahkan tali lehernya terikat dengan rapi di sebuah pohon, seolah seseorang mengajaknya jalan-jalan.

Namun siapakah pelaku pembunuhan sadis tersebut? Bak bayangan, ia muncul dan kemudian menghilang. Tak ada bukti tersisa yang mampu mengungkapkan misteri identitasnya. Namun ada dugaan kuat tentang siapa pelakunya.

Jika kalian jeli, maka sedari awal seharusnya kalian melihat sebuah kejanggalan dalam cerita ini. Apakah kalian memperhatikannya?

Gue beri kesempatan satu lagi. Baca paragraf pertama dan kelima dari artikel ini dengan seksama.

Jika kalian siap, akan gue berikan jawabannya.

Foto lawas keluarga Gruber

Dari awal diceritakan bahwa Viktoria adalah janda dan suami Viktoria yang bernama Karl Gabriel meninggal dalam Perang Dunia I pada tahun 1914. Namun anehnya, pada 1922, Viktoria memiliki seorang anak laki-laki berusia 2 tahun. Bayi itu lahir enam tahun setelah kematian suaminya.

Lalu siapakah ayah anak itu?

Warga desa menduga bahwa Viktoria terlibat hubungan terlarang, justru dengan ayahnya sendiri. Hubungan incest inilah kemungkinan yang didengar sang pembantu (yang melarikan diri karena menganggap rumah itu berhantu) di loteng, karena tentu Viktoria dan ayahnya melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Mungkin saja ini hanyalah pikiran kotor para penghuni desa, namun yang jelas, suami Viktoria jelas bukan ayah Josef dan ada laki-laki lain yang menjalin hubungan terlarang dengan wanita itu hingga ia mengandung.

Fakta ini seakan menjadi kepingan sempurna untuk menyusun puzzle ini. Skandal ini jelas adalah sebuah motif yang kuat untuk menghabisi seantero keluarga.

Bagaimana jika sang pembunuh adalah suami Viktoria dan menantu Andreas, yakni Karl Gabriel?

Banyak yang menduga bahwa Karl Gabriel sesungguhnya masihlah hidup. Ia mungkin diduga terbunuh, padahal selamat (toh, jumlah korban Perang Dunia I amatlah banyak dan tak semua bisa dipastikan kebenarannya). Mungkin ia tertangkap oleh musuh dan dipenjara. Mungkin saja ia berhasil kabur namun karena keterbatasan teknologi komunikasi saat itu ia tak bisa menghubungi keluarganya. Mungkin saja ia terjebak di negara lain, ada banyak kemungkinan.

Namun bagaimana jika ia berhasil menemukan jalan pulang dan kembali ke Hinterkaifeck? Tentu ia mengharapkan cinta dari istrinya begitu ia sampai. Bisa dibayangkan, begitu terkejutnya ia begitu kembali dan menemukan bahwa istrinya ternyata tak setia. Maka tak heran, dengan teramat sadis Karl kemudian menghabisi keluarga istrinya itu tanpa ampun. Apalagi jika ia sempat mendengar rumor bahwa Andreas, mertuanya sendiri, menjalin hubungan incest dengan istrinya. Pasti itu akan meningkatkan amarahnya dan terbukti pada level kesadisannya, dimana ia ikut membunuh anggota keluarga lain yang tak berdosa.

Tapi ada yang kurang masuk akal. Cazilia adalah putri kandungnya sendiri, namun mengapa ia tega membunuhnya? Gue sendiri berteori bahwa kematian Cazilia adalah kecelakaan. Cazilia, menurut penyelidikan polisi, masih hidup setelah serangan itu. Terbukti pada luka di kepalanya yang membuktikan ia menjambak rambutnya sendiri hingga tercabut dari kepalanya. Mungkin saja, Cazilia kala itu tanpa sengaja terkena hempasan kapak, namun masih bertahan hidup. Justru ia tewas karena shock melihat ibu dan kakek neneknya sudah bergelimpangan menjadi mayat dengan kondisi menggenaskan.

Itu juga menjelaskan mengapa Josef, bayi berusia dua tahun yang tanpa dosa, ikut-ikutan dibunuh. Jelas bagi Karl, jika ia benar pembunuhnya, balita itu adalah bukti ketidaksetiaan istrinya. Ketidakberuntungan juga menimpa Maria yang juga menjadi “collateral damage” atau korban sampingan dari pembunuhan itu karena ia berada di tempat dan waktu yang salah.

Teori bahwa Karl sebagai sang pembunuh juga diperkuat dengan fakta bahwa ia masih tinggal di rumah itu beberapa hari setelah kematian anggota keluarganya. Ia jelas mengenal dengan baik rumah itu. Bahkan, ia masih mengayomi binatang peliharaan keluarga itu, yakni seekor anjing, juga rajin memberi makan hewan-hewan ternak yang dibesarkan di peternakan itu.

Namun ada pula teori kedua. Ada seorang lelaki lain di desa itu yang diduga sebagai ayah dari anak Viktoria, yakni seorang duda bernama Lorenz Schlittenbauer. Buktinya adalah inisial LS yang ditulis oleh Viktoria di akta kelahiran putranya. Lorenz juga termasuk salah satu warga desa yang pertama menemukan mayat keluarga Gruber dan memindahkan mereka demi alasan kemanusiaan. Mungkin alasan dibaliknya adalah justru ia ingin merusak TKP agar kasus itu tak terpecahkan. Ide itupun sempat tercetus di kepala polisi, namun setelah penyelidikan lebih lanjut, Lorenz dilepaskan karena ketiadaan bukti.

Teori ketiga adalah seorang pembunuh berantai bernama Paul Muller. Paul adalah seorang serial killer yang beraksi di Amerika Serikat dan membunuh korban-korbannya dengan kapak. Kapak, merupakan senjata yang mirip dengan “mattock”, senjata pembunuhan keluarga Gruber. Sama dengan kasus di Hinterkaifeck, Paul membunuh hanya demi memenuhi hasrat pribadinya dan sama sekali tak memiliki motif untuk merampok, sehingga meninggalkan semua harta korbannya.

Ada yang menduga bahwa Paul, yang seorang imigran dari Jerman, sudah memulai aksi sadisnya sebelum ia pindah ke Amerika Serikat. Mungkin saja, kala itu ia tengah lewat di peternakan keluarga Gruber dan tertarik tinggal di sana sementara, mematai-matai mereka selama beberapa bulan, sebelum akhirnya melampiaskan nafsu kejinya. Tapi, apakah Paul sebagai sosok pembunuh berantai yang tak diragukan kesadisannya, juga penyayang binatang? Kenapa ia malah memelihara dengan baik hewan-hewan yang ada di sana?

Ilustrasi "mattock" senjata pembunuhan kala itu

Satu lagi hal yang sangat disturbing bagi gue di kasus ini adalah, siapapun pelakunya, ia adalah psikopat sejati. Kalian mungkin masih ingat artikel tentang tes psikopat yang gue muat bertahun-tahun yang lalu di blog ini, tentang perbedaan seorang psikopat dan orang normal.

Katakanlah kalian ingin membunuh seseorang dan ia bersembunyi di dalam lemari, apa yang akan kalian lakukan?
Jika kalian memutuskan mendobrak lemari dan membunuhnya di sana, kalian justru normal.
Namun jika kalian memilih menunggu hingga korban kalian akhirnya keluar, kalian termasuk psikopat.

Yap, yang dilakukan sang pembunuh, mulai dari bersembunyi di loteng, meninggalkan jejak (koran dan jejak kaki di atas salju), menatap rumah mereka dari kejauhan, bahkan tinggal di rumah itu setelah pembunuhan seakan tak terjadi apa-apa, adalah ciri-ciri seorang psikopat sejati. Ia memilih menunggu, ketimbang langsung beraksi. Bahkan ia masih terbilang santai, bahkan mengamati Albert yang tengah memperbaiki mesin di pertanian itu, mungkin sembari memainkan “mattock”-nya, menimbang-nimbang apakah ia hendak membunuhnya juga atau tidak.

Kesabaran psikopatik yang tak normal itulah yang membuat dirinya bisa dianggap gila dan amat berbahaya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Gruber di rumah peternakan mereka di Hinterkaifeck atau siapa sang pelaku sebenarnya. Kita hanya bisa menduga sebab semua bukti sudah lenyap dan kasus itu sendiri terjadi hampir seabad yang lalu. Siapapun pelakunya jelas perilakunya membuktikan bahwa sosok psikopat tak selalu brutal dan temperamental. Ia juga bisa sabar, perhitungan, dan teramat santai.

Sumber artikel: Wikipedia

Sumber gambar: Bizarrepedia, Red PigTools




8 comments:

  1. Duh nyesel baca :(( jadi parno kan


    Selalu waspada gaes, jgn lupa selalu kunci pintu, semoga kita semua selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa

    ReplyDelete
  2. Merinding banget bacanya 😭

    ReplyDelete
  3. Salah satu kasus yg terseram bagi saya, sengaja ya min foto2 seramnya gk ditampilkan :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya gue ada foto2 TKPnya sih tapi ada gambar mayatnya jadi ragu mau gw publish. Nanti gue tampilin deh di versi videonya di channel youtube mengaku backpacker.

      Delete
  4. Satu hal yang jelas, pembunuhnya itu seseorang yang dikenal baik sama keluarga Gruber. Soalnya anjing mereka (yang kemungkinan besar anjing penjaga) jinak sama si pembunuh bahkan setelah mencium bau darah majikannya di badan si pembunuh.

    Satu lagi teori menurutku, keluarga Gruber nyembunyiin seseorang di loteng (kemnungkinan seseorang berkebangsaan yahudi). Orang itulah yang akhirnya jadi ayahnya Josef dan suaranya didengar oleh Maria. Sedangkan jejak kaki di salju itu, jejak kakinya si pembunuh (mungkin dia juga memburu si yahudi). Pas kejadian, karena si prmbunuh ga bisa nemuin orang yang ngumpet, dia membantai seluruh keluarga sebagai 'hukuman' dan pergi.
    Terus si yahudi balik lagi ke tempat persembunyiannya, nemuin keluarga yang ngebantu semua tewas, dan ngegantiin hidup di sana sampe dia bisa keluar dengan aman.
    Tapi pas si Albert dateng, dia ketakutan nd akhirnya kabur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah kejadiannya kira2 20 tahun sebelum perang dunia 2 jadi gue ga tau sih apa saat itu udah ada sentimen anti yahudi, tapi gue setuju ama teori anjingnya dan dan memperkuat dugaan juga kalo ka menantu pelakunya

      Delete
    2. Ups, bacanya ga teliti.
      Pas baca si menantu meninggal di medan perang, langsung yang kecantol di otak WW2 nd jaman Nazi 😂

      Delete
  5. Merinding bacanya :((

    ReplyDelete