Saturday, April 18, 2020

KASUS KABIN KEDDIE: THE FIRST HOME INVASION


Para korban tragedi Keddie Murders

Mungkin kalian pernah menonton film-film bergenre home invasion seperti “Strangers” dan “You're Next”. Kalian juga pasti tak asing lagi dengan genre film slasher Hollywood tentang sekelompok remaja yang dikejar pembunuh berantai di dalam sebuah kabin atau pondok kayu terpencil di dalam hutan? Film-film tersebut terinspirasi oleh sebuah kasus pembunuhan misterius di sebuah kabin terpencil di kota Keddie, California pada 1981. Kala itu, empat orang meregang nyawa di tangan pembunuh misterius yang hingga kini identitasnya tak pernah terungkap.

Kasus ini kemudian lebih dikenal dengan nama kasus “Keddie Murders” atau pembunuhan di Kabin Keddie.

Dear readers, welcome to the Dark Case.


Susan Sharp

Kisah ini berawal dari seorang ibu rumah tangga bernama Susan Sharp yang baru saja berpisah dengan suaminya. Ia kemudian membawa keluarganya pindah bersamanya ke sebuah kabin atau pondok kayu sederhana di pedalaman Gunung Sierra Nevada di California, Amerika Serikat.
Kala itu ia membawa kelima anaknya, yakni John, putra tertuanya yang berusia 15 tahun, putrinya Sheila yang berusia 14 tahun, Tina yang berumur 12 tahun, Rick 10 tahun dan Greg 5 tahun.

Lokasi tempat mereka tinggal amatlah terpencil. Tercatat ia memiliki dua tetangga terdekat, yakni keluarga Smartt dan keluarga Seabolt.

Pada 11 April 1981, around 1:30 pm, Susan dan putrinya, Sheila menjemput Dana, teman John yang kala itu ingin menginap di rumah mereka. Namun Sheila tak ikut pulang bersama ibunya. Ia lebih memilih untuk berpesta di rumah tetangga mereka, keluarga Seabolt dan menginap di sana. Susan kemudian pulang ke rumah. Kebetulan, salah satu teman kedua anak terkecilnya, Rick dan Greg Justin juga memutuskan untuk menginap di rumah keluarga Sharp. Justin adalah anak tetangga mereka, dari keluarga Smartt. Sehingga malam itu, total ada 7 orang yang berada di rumah itu, yakni Susan, sang ibu, keempat anaknya, yakni John, Tina, Rick, dan Greg, serta Dana dan Justin, teman anak-anaknya yang menginap di sana.

Tak ada yang menduga, malam itu akan berakhir dengan bencana.

Potret kebahagiaan keluarga Sharp sebelum tragedi naas menimpa mereka. Hanya separuh dari keluarga ini yang selamat dari pembantaian oleh "home invasion" yang menimpa mereka

Sekitar jam 7 pagi keesokan harinya, tangga; 12 April, Sheila pulang dan terkejut setengah mati begitu menemukan mayat ibunya, Susan tergeletak bersama jasad John, adiknya, serta Dana, teman adiknya. Sheila dengan panik segera naik ke kamar atas untuk melihat kondisi adik-adiknya yang lain. Beruntung, ia menemukan kedua adik laki-lakinya, Greg dan Rick serta Justin, teman dan tetangga mereka, dalam keadaan hidup. Mereka bahkan seakan tak mengetahui apa yang terjadi di lantai bawah.

Akan tetapi saat itu, sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan Tina, adiknya.

Sheila segera meluncur dengan panik ke rumah keluarga Seabolt untuk meminta pertolongan. James, kepala keluarga Seabolt kala itu, segera turun tangan menyelamatkan ketiga anak itu dan membawanya keluar dari kabin. Sayang, saat melakukannya, kemungkinan James ikut merusak berbagai barang bukti yang ada di kabin itu.

Polisi kemudian dipanggil untuk menangani kasus itu. Kematian Susan, John, dan Dana terbilang amatlah sadis. Polisi menduga ketiganya dibunuh di ruang tamu, uniknya, dengan cara yang berbeda-beda. Susan ditusuk di dadanya, leher John disayat, dan Dana dicekik hingga tewas. Namun ada satu kesamaan di jenazah mereka. Ketiganya memiliki luka bekas hantaman benda keras di kepala mereka, kemungkinan menggunakan palu.

Sheila yang kala itu tinggal bersama keluarga Seabolt sama sekali tak mendengar apapun. Anehnya, sama sekali tak ada bekas pintu ataupun jendela yang didobrak paksa. Siapapun pembunuh itu, pasti dikenal dengan baik oleh keluarga Sharp, sehingga mereka mengundangnya masuk. Kematian keluarga Smart bisa digolongkan sebagai “home invasion” atau kasus dimana rumah diserang oleh sosok dari luar rumah.

Perkembangan kasus itupun semakin ganjil. Kita perlu ingat bahwa selain keluarga Seabolt dimana Sheila menginap, mereka memiliki satu tetangga lagi yakni keluarga Smartt. Justin Smart, anak kecil dari keluarga tersebut, kebetulan menginap di rumah itu pada malam kejadian naas itu terjadi. Dan ada satu keanehan. Maryln Smartt, ibu dari Justin, mengaku menemukan sebuah jaket berlumuran darah di ruang bawah tanah rumahnya.

Jaket itu diyakini sebagai milik Tina, korban yang hilang.

Tina, gadis cilik yang lenyap pada tragedi di Kabin Keddie

Suami Maryln, yakni Martin Smartt juga mengaku bahwa sebuah palu miliknya tiba-tiba lenyap dari dalam rumahnya. Ingat bahwa ketiga korban dari keluarga Smart, semuanya memiliki luka hantaman martil di kepala mereka. Mungkinkah sang pembunuh sempat bersembunyi di rumah keluarga Smartt, namun kemudian memutuskan pergi ke rumah keluarga Sharp ketika menemukan bahwa rumah itu kosong? Kedua orang tua Justin memang tengah pergi kala itu, sehingga menjadi alasan Justin diinapkan di kabin kediaman keluarga Sharp.

Namun kesaksian paling penting justru muncul dari Justin. Kala itu Justin mengaku ia mendapat “mimpi aneh” ketika kasus pembunuha itu berlangsung. Polisi yakin “mimpi” itu sebenarnya adalah ingatan Justin akan malam kejadian yang terkubur dalam alam bawah sadarnya. Mungkin trauma yang dalam membuat batin anak itu menguburnya dan menganggapnya hanya sebagai mimpi. Seorang ahli hipnotis kemudian turun tangan dan di bawah kendali alam bawah sadarnya, Justin menggambarkan apa yang ia lihat dan dengar malam itu. Ia mendengar Susan, sang ibu, bertengkar dengan dua orang pria. Sketsa kedua pria itupun dibuat, namun tak membantu banyak. Kasus itu tetap menemui jalan buntu.

Salah satu petunjuk lain muncul. Dana diketahui adalah pengguna narkoba dan sebelum tiba di rumah keluarga Sharp, ia mencuri LSD, sejenis narkotik jenis halusinogenik, dari pengedar setempat. Mungkinkah kasus ini berkaitan dengan kebiasaan buruk Dana tersebut? Semisal, transaksi obat bius yang berujung maut? Atau sang pengedar memutuskan mengejar Dana ke sana?

Tak hanya kasus kematian keluarga itu menemui jalan buntu. Tina, sang anak gadis berusia 12 tahun yang hilang dari rumah itu, juga tak kunjung ditemukan, walaupun pencarian besar-besaran telah dilakukan.

Sketsa para pelaku yang didapat dari kesaksian Justin di bawah pengaruh hipnotis

Akhirnya pada April 1984, hampir tepat 3 tahun setelah pembunuhan misterius itu, jenazah Tina ditemukan. Jasadnya tergeletak menyisakan tulang belulang di tengah hutan, sekitar 160 kilometer dari tempat keluarganya terbunuh. Anehnya, saat ditemukan, sebuah telepon misterius masuk ke 911 mengaku bahwa tulang yang saat itu mereka temukan benarlah sisa jenazah Tina Sharp yang telah lama menghilang.

Namun penemuan jenazah Tina justru menambah panjang misteri pembunuhan itu. Sama sekali tak ada bukti tersisa dan identitas sang pelaku pun hingga kini tak terpecahkan. Karena statusnya yang terus menggantung, akhirnya diputuskan untuk menghancurkan kabin tempat pembunuhan sadis itu berlangsung, karena toh, takkan ada yang mau mendiami setelah pembunuhan sadis tersebut. Kabin Keddie-pun tinggal kenangan, terkubur bersama masa lalu mengerikan yang dipendamnya.

Tersisa satu pertanyaan? Siapakah sang pembunuh sebenarnya? Mengapa ia melakukan aksi sadis tersebut?

Jawabannya mungkin tak pernah jauh dari keluarga Sharp dan Kabin Keddie yang mereka diami.

Pada sebuah tayangan dokumenter tentang kasus itu pada 2008, Maryln Smartt, tetangga mereka, mengaku bahwa ia mencurigai suaminya, Martin, sebagai sang pelaku sesungguhnya. Mengapa ia berpikir demikian? Kala itu Martin berteman dengan Bo Boubede, seorang anggota mafia dari Chicago. Pada malam kejadian, Martin sama sekali tak memiliki alibi sebab ia sedang berada di bar, minum-minum dengan sahabatnya itu. Martin juga diketahui amat membenci John, putra keluarga Sharp.

Martin Smart dan Bo Boubede diduga sebagai pelaku pembunuhan yang sesungguhnya

Sayang, takkan ada yang bisa memastikan kecurigaan itu. Martin sendiri sudah meninggal pada tahun 2000 karena kanker. Rekannya, Bo, bahkan telah meninggal dua tahun setelah kasus itu, yakni pada 1988.

40 tahun setelah kejadian menggenaskan di Kabin Keddie, kasus itu kembali mengemuka ketika sebuah bukti baru tiba-tiba muncul di dekat lokasi kejadian. Pada Maret 2016, sebuah palu yang diduga kuat sebagai senjata pembunuhan terdapat Susan Sharp dan anak-anaknya ditemukan. Palu tersebut ternyata sama persis dengan palu milik Martin Smartt yang ia laporkan hilang dari rumahnya. Namun penemuan palu itu kembali mengungkit kecurigaan. Jelas bahwa ada seseorang yang sengaja meletakkan palu itu di situ supaya ditemukan, sebab mustahil tak ada yang menemukan palu itu selama 40 tahun berlalu.

Namun siapakah yang meletakkannya jika benar sang pembunuh sudah meninggal? Ataukah sebenarnya sang pembunuh masihlah berkeliaran?

Pembunuhan beruntun di Kabin Keddie hingga kini masih menyisakan warisan. Film-film Hollywood bergenre home invasion dan film-film horor yang bersetting di kabin terpencil di tengah hutan konon terinspirasi oleh kasus ini. Yang terbaru, film “The Strangers” yang dirilis tahun 2008 diduga kuat diadaptasi dari kasus Kabin Keddie. 

Genre home invasion seakan membangkitkan kengerian terdalam para pemirsanya. Bayangkan, sebuah rumah yang seharusnya memberikan rasa aman justru diserang dari luar. Kasus home invasion lain yang tak kalah ngeri adalah kasus Charles Manson, but that's for another day.

Sumber artikel: Wikipedia

Sumber gambar: All That Interesting, Medium












9 comments:

  1. Gue yg dejavu, atau artikel ini emang pernah di post sebelumnya ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan2 malah mandela effect soalnya gue belum pernah bikin postingan ini sebelumnya hehehe

      Delete
    2. Mandela effect artinya apa bang Dave?

      Delete
    3. Serius bang?

      Lah gw baca cerita ini dimana ya? Keknya emang baca disini deh...

      Delete
  2. :((

    Home invasion selalu mengerikan...

    Siapa yang sengaja meletakkan palu di sana...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh ada ada teori lho kalo sosok kevin mc allister (bocah yg diperanin macaculay culkin di film home alone) itu nanti gedenya jd john kramer alias jigsaw killer di film "saw" soalnya anaknya sebenarnya psikopat (menikmati penderitaan si penjahatnya) dan jago bikin jebakan

      Delete
    2. Hooh, kabarnya Kevin ini calon2 psicopet, kenapa coba dia gak langsung menghubungi 911 atau mencari bantuan ke luar? Malah bikin jebakan dan membahayakan diri sendiri, katanya Krn Kevin suka sesuatu yang memacu adrenalin

      Delete