Sunday, May 10, 2020

KASUS ROY KYOSHI HINGGA “STRING THEORY”: PART 2 – “MULTIVERSE OF MADNESS” DAN ANCAMAN “GERBANG IBLIS”



Hai guys, balik lagi ke bahasan gue yang nyasar dari bahas kasus narkobanya Roy Kiyoshi ke ilmu fisika dan “String theory” (jauh banget yak). Gue harap kalian belum puyeng dan masih bisa ngikutin. Melanjut postingan sebelumnya, gue akan membahas dimensi keenam hingga kesepuluh. Jika kalian nggak paham, jangan khawatir, sebab membahas kesepuluh dimensi ini memang di luar nalar dan bisa berujung pada kegilaan hiks.


SIXTH DIMENSION

Dimensi VI akan membawa kita kembali ke konsep Dimensi III. Dimensi III memiliki “panjang”, “lebar”, dan “kedalaman” dan siapapun yang berada dii Dimensi III (which is us) bisa bergerak dalam tiga arah: kanan-kiri, naik-turun, dan juga maju-mundur. Kita berandai-andai saja jika ketiganya berlaku untuk timeline hidup kita.

Nah di Dimensi V kita membahas tentang Alexa yang bisa mondar-mandir nggak hanya ke masa lalu dan masa depan (kanan-kiri), tapi juga bisa mengambil percabangan lain (naik-turun). Sekarang di Dimensi VI, dia bisa melakukan hal yang lebih ekstrim lagi. Ia bisa pergi ke dunia paralel lain yang sama sekali tak melibatkan timeline-nya.


Adanya Dimensi V membuat kita berpikir, bagaimana ya jika seadainya kita membuat pilihan yang berbeda? Bagaimana ya jika seandainya Alexa tetap jualan cincau, bagaimana jika ia jadi dokter, bagaimana jika ia jadi pengacara? Tapi ingat, di seluruh dunia bukan cuman Alexa saja yang hidup di sana. Masih ada orang-orang lain. Katakanlah orang-orang itu membuat keputusan-keputusan yang berbeda, tentu akan muncul percabangan-percabangan semesta paralel yang tak terhingga jumlahnya.

Maka dari itu, untuk protagonis di Dimensi VI, kita ambil tokoh baru yang gue namai Elena. Katakanlah Elena ini penghuni Dimensi VI dan ia masuk ke berbagai timeline percabangan dunia paralel milik Alexa dimana Alexa mengambil berbagai pilihan hidup yang berbeda, yakni di dunia A dimana Alexa malas belajar dan juragan cincau; lalu dia pergi ke dunia B dimana Alexa rajin belajar dan jadi dokter; lalu ke dunia C dimana Alexa menjadi pengacara.

Jika Alexa di Dimensi V adalah penjelajah waktu, maka Elena di Dimensi VI adalah penjelajah universe paralel.

Tak hanya itu, ia bisa menjajal keingintahuannya semisal, dengan pergi ke semesta dimana ibu Hitler keguguran sehingga Hitler tak pernah dilahirkan. Seperti apakah kehidupan di sana? Alexa bahkan bisa masuk ke dunia-dunia paralel lain dimana ia seharusnya tak ada di sana. Semisal ia bisa berpetualang ke sebuah dunia dimana Bumi tak pernah tertabrak asteroid dan dinosaurus masih hidup (berarti mungkin manusia tak pernah ada). Atau dia mungkin pergi ke sebuah timeline dimana kehidupan di Bumi tak pernah ada karena hancur ditabrak meteor dan justru malah Mars-lah yang memiliki kehidupan.

Kita perlu ingat, bahwa segala kemungkinan yang membentuk Multiverse nggak hanya sebatas pilihan yang kita buat. Tiap orang memilih pilihan berbeda sehingga akan membuat multiverse lain. Dan tak hanya manusia, bahkan hewan pun membuat pilihan-pilihan berbeda, membentuk ke multiverse lain. Tak hanya makhluk hidup, hembusan angin, arah debu yang terbang, kemana jatuhnya butiran hujan, lintasan partikel di seluruh alam semesta, semuanya bisa saja membuat pilihan yang berbeda, melahirkan multiverse dengan kemungkinan tanpa batas. Semua kemungkinan itu ada sejak Big Bang, yakni permulaan penciptaan alam semesta yang kita tinggali saat ini.


Semua kemungkinan sejak awal mula penciptaan alam semesta itulah yang disebut Dimensi VI. Mulai sekarang, gue akan mencontohkan multiverse bukan sebagai sebuah titik, namun sebagai sebuah lingkaran, seperti di atas (untuk membuatnya berbeda dengan dimensi-dimensi sebelumnya).


SEVENTH DIMENSION


Dimensi I hingga VI semuanya memiliki satu syarat, bahwa segala yang terjadi di sana, entah itu perjalanan waktu ataupun penjelajahan dunia paralel, harus terjadi dalam satu kondisi inisial (awal) yang sama. Dan di alam semesta yang kita tinggali ini, tak ada yang lebih awal ketimbang “Big Bang”. Dan disinilah letak “keabsurdan” empat dimensi terakhir ini. Sebab Dimensi VII hingga X sudah bukan lagi tentang pilihan kita yang membentuk multiverse, namun pilihan Tuhan yang berkehendak menciptakannya.

Big Bang” atau “Ledakan Besar” adalah peristiwa yang menciptakan seluruh alam semesta ini. Namun bagaimana jika “Big Bang” tak pernah terjadi, atau digantikan oleh peristiwa lain, katakanlah “Small Bang” yang gue sendiri nggak tahu itu apa. Kondisi insial yang berbeda itu akan menyebabkan seluruh hukum fisika di semesta tersebut sama sekali berbeda.

Bisa saja di sana air mendidih jika didinginkan dan membeku jika dipanaskan. Mungkin saja disana 1+2 bukan 3 namun 9. Bisa saja kecepatan cahaya di sana bukan 3x108 m/s tapi 3x108 cm/s sehingga lebih lambat ketimbang kecepatan suara. Mungkin saja tak ada gravitasi sehingga manusia (jika ada) bisa terbang semaunya. Mungkin saja planet-planet di sana berbentuk kubus, bukan bola. Mungkin saja di sana cewek yang selalu salah, bukan cowok. Mungkin saja di sana cowok nggak pernah bohong dan cewek nggak pernah nyakitin. Mungkin saja di sana Indosiar bisa memproduksi sinetron sekualitas “Chernobyl”. Yang jelas, semua hukum alam yang kita tahu takkan berlaku di sana.

EIGHT DIMENSION

Kembali ke pola semula, jika kita membuat percabangan di Dimensi VI maka voila, kita mendapatkan Dimensi VIII.

Katakanlah tokoh utama kita sekarang bernama Æ-§7889¿ (maklum dia kan dari multiverse yang sama sekali berbeda dengan kita). Dia hidup di sebuah universe dimana dia bisa terbang karena gaya gravitasi nggak berlaku. Bisa saja dia menggunakan kemampuannya terbang untuk menyelamatkan orang-orang atau mungkin saja dia bakalan diam saja dan nggak melakukan apa-apa. Nggak hanya itu, Æ-§7889¿ juga bisa memajukan dan memundurkan waktu sesukanya di multiverse miliknya. Kemungkinan-kemungkinan itu akan membentuk dunia paralel, yang jika digabungkan dengan kemungkinan di multiverse kita akan membentuk dimensi ke-8. 

NINTH DIMENSION


Oke, katakanlah Æ-§7889¿ (dibaca “Ngok Ngok”) kini memiliki kekuatan super karena ia berada di Dimensi IX. Ia bisa pergi ke semua multiverse paralel bahkan ke dunia kita, ke semua timeline yang ia mau (baik ke masa depan maupun masa lalu), bahkan menelusuri semua kemungkinan dari semua universe dari semua multiverse yang ia kunjungi. Kita bisa mengatakan, semakin tinggi dimensi kita, semakin dekat kekuatan kita dengan Tuhan.

TENTH DIMENSION

Bisa dibilang membayangkan seperti apa Dimensi X sangatlah sulit tanpa membuat manusia menjadi gila. Di sinilah titik yang gue sebut sebagai “Multiverse of Madness” karena segalanya menjadi mungkin dan kita bisa melakukan apapun. Dinilah batas kewarasan kita diuji, maka bisa dibilang mustahil memahami apa itu Dimensi X.

SO WHERE ARE THEY?

Mungkin kalian bertanya, jika memang ada 10 dimensi, dimana mereka? Mengapa kita hanya bisa merasakan sampai 3 dimensi (4 lah maksimal). Lalu yang enam kemana? Apa disembunyikan si Ngok Ngok tadi?

Jawabannya mungkin sangat aneh. Kesepuluh dimensi itu sebenarnya ada di depan mata kita, namun kita tak menyadarinya.

Untuk menjelaskannya, lagi-lagi kita harus membuat pengandaian. Anggap saja di depan kita ada sebuah kereta api. Kereta api, seperti kita tahu, memiliki tiga dimensi ruang, diwakili “panjang”, “lebar”, dan “kedalaman”. Jika kereta api itu tepat berada di depan kita, kita akan jelas melihatnya sebagai benda berdimensi tiga.


Lalu katakanlah begini. Kamu melihat kereta itu tepat dari samping sehingga kami nggak bisa melihat kedalamannya, dengan demikian kereta itu terlihat hanya punya “panjang” dan “lebar”, sehingga terlihat seperti makhluk dua dimensi.

Kita coba cara lebih ekstrim lagi. Bagaimana jika kita melihatnya dari kejauhan, semisal dari atas dari google earth? Mungkin kita kini hanya melihatnya sebagai sebuah garis yang panjang. Jadi, kereta yang semula berdimensi tiga, di mata kita menjelma menjadi berdimensi satu.

Bagaimana jika kita melihatnya lebih jauh lagi? Maka kereta api itu hanya terlihat seperti sebuah titik, yakni dimensi 0. Tapi itu tidak berarti kereta api tak berdimensi, bukan? Kita semua sudah tahu bahwa kereta api memiliki tiga dimensi.

Sama seperti dimensi keempat, kita kadang tak menyadarinya. Jika kita melihat sebuah rumput semisal, kita hanya melihatnya diam, mungkin hanya bergerak sedikit ketika tertiup angin. Maka, kita hanya melihat rumput sebagai objek berdimensi tiga. Tapi jika semisal kita merekamnya, katakanlah selama sebulan, lalu melihat rekaman itu dengan cara mempercepatnya, maka kita akan melihat bahwa rumput itu tumbuh dan bertambah tinggi. Maka kitapun menyadari, bahwa rumput itu berdimensi empat, yakni memiliki dimensi waktu pula.

Hal ini berlaku pula bagi 6 dimensi di atas kita. Penjelasan paling mungkin mengapa kita belum “melihat” keenam dimensi mulai dari Dimensi V-X hanya ada dua, yakni antara keenam dimensi itu “bersembunyi” dari kita, ataukah kita sendiri yang “bersembunyi” dari keenam dimensi itu.

CALABI-YAU MANIFOLD

Tibalah kita ke struktur yang disebut Calabi-Yau Manifold. Gue nggak akan terlalu dalam membahas struktur apa ini (terlalu berbau matematika tingkat tinggi yang bakal bikin kalian puyeng), tapi yang jelas lipatan ini berkaitan erat dengan “menghilangnya” keenam dimensi dari indra kita. Seperti gue jelaskan tadi, kita tak bisa menyadari kehadiran dimensi lain (atau salah menanggapi dimensi lain) karena perbedaan jarak pengamatan kita (seperti analogi kereta tadi). Jadi, lagi-lagi “jarak” adalah jawaban atas pertanyaan kita.

Hanya ada dua opsi yang ditawarkan para ilmuwan untuk menjawab dimana letak keenam dimensi dari urutan 5-10 itu. Yang pertama, keenam dimensi itu tertekuk dan terlipat dalam Calabi-Yau manifold dalam ukuran yang amat kecil, sehingga kita tak bisa mengobservasinya. Jika ini benar, maka secara teori kita mungkin bisa menyaksikan mereka seandainya kita bisa mengecilkan ukuran tubuh kita seperti Ant Man.

Yang kedua berteori sebaliknya. Justru alam semesta kita (berserta keempat dimensi yang kita diami, yakni Dimensi I-IV) yang terlipat dalam ukuran mahakecil, sehingga kita takkan mampu mengobservasi dimensi-dimensi lain yang jauh lebih besar dari kita. Namun, makhluk-makhluk dari dimensi lebih tinggi, mungkin bisa menyaksikan kita menggunakan teknologi tertentu, semacam mikroskop supercanggih. Tentu, kedua teori itu, walaupun berlawanan, tetap menarik bagi kita.

EVIL AXIS” MEMBUKTIKAN MULTIVERSE?



Sama seperti gue mencoba memberikan bukti tentang kedatangan alien ataupun kemungkinan adanya peradaban lebih tinggi dari kita melalui 'Oumuamua dan Bintang Tabby di episode sebelumnya, gue juga akan memberikan “bukti” terdekat kita tentang keberadaan Multiverse, atau paling tidak, adanya universe lain di luar kita.

Bukti itu bernama CMB Cold Spot. Karena namanya yang kurang mentereng, beberapa ilmuwan menyebutnya dengan nama yang lebih menakutkan, yakni “Axis of Evil” atau gue lebih suka menyebutnya “Gerbang Iblis”.

Sejak tahun 2001, sebuah pesawat angkasa luar bernama “Wilkinson Microwave Anisotropy Probe” atau WMAP mengukur sebuah anomal ganjil di langit, tepatnya di Konstelasi Eridanus. Ada sebuah titik di sana yang bersuhu lebih dingin dari seluruh alam semesta. Suhu di sana, tanpa sebab yang jelas, drop sekitar 70 μK dari suhu rata-rata alam semesta, yakni sekitar 2,7 K (terwarnai biru di gambar di atas). Hal ini dianggap teramat aneh dan tak bisa dijelaskan oleh akal sehat, bahkan oleh para saintis yang terkenal memiliki otak brilian sekalipun. Kalo suhu lebih tinggi mah biasa, bisa kita tebak karena ada bintang di sana. Tapi kalo lebih dingin? Apa mungkin ada kulkas melayang di sana?

Hingga kini para ilmuwan tak tahu pasti apa penyebab menurunnya suhu di sana. Seorang srikandi di bidang kosmologi (ilmu yang mempelajari asal usul alam semesta) bernama Laura Mersini-Houghton pun mengajukan teori kontroversial. Spot dingin tersebut disebabkan karena tabrakan antara alam semesta kita dengan alam semesta lain di luar sana. Memang bisa dilogika, jika kita berada di multiverse yang terdiri atas universe-universe yang berbeda, maka pasti ada kemungkinan tiap alam semesta itu bisa bertabrakan. Bahkan galaksi saja bisa bertabrakan dan saling memakan.

Pertanyaan lain muncul. Apakah alam semesta yang menabrak kita itu alam semesta yang baik ataukah jahat? Alien di universe kita saja sudah membuat kita khawatir (lihat postingan gue tentang teori “Dark Forest”), apalagi penghuni alam semesta lain. Jangan sampai titik dingin ini menjadi pintu gerbang alam lain seperti kisahnya “Strangers Things” dimana para demogorgon menyerang dunia kita melalui pintu menuju dunia mereka, Upside-Down.

Karena teori menakutkan inilah, tak sedikit ilmuwan pengikut Laura yang menjuluki titik dingin ini sebagai “Axis of Evil”.

Walaupun menggelitik kuping, jangan sampai ya teori ini menjadi kenyataan. Jika benar “Axis of Evil” benar menjadi gerbang universe lain, berarti pengorbanan Roy Kiyoshi untuk menjaga kestabilan multiverse kita dengan membiarkan dirinya tertangkap dan nggak menciptakan “branch” parallel universe lain sia-sia dong?




15 comments:

  1. Penjelasan bang Dave keren banget, gak ngebosenin, malah bikin nagih, mantul bang Dave!!!

    ReplyDelete
  2. Buset Bangdep

    Berat beraat beeraat

    Untung dah buka

    ReplyDelete
  3. Wuahh! Gak nyangka bang dave update hari ini. Thanks bang

    ReplyDelete
  4. Ada satu lagi teroi Bang.
    Teori Taoist, dikatakan bahwa alam semesta kita hanyalah sebuah wadah spiritual dari makhluk yang tingkatnya sangat tinggi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah gue sih masih batasin bahasan ini ke ilmu fisikanya, belum masuk ke memetafisika hehehe. Bsk deh kalo artikel berikutnya gue bahas aspek metafisikanya.

      Ada jg kok teori (namanya matriks kalo ga salah) yang isinya seluruh alam semesta itu itu cuma simulasi komputer makhluk yg intelegensinya lebih tinggi aja

      Delete
  5. Coba liat akun instagram "whatif.show" bang daveee untuk penjelasan cold spotnya.. thnks

    ReplyDelete
  6. https://www.instagram.com/tv/B_2exv4gkY1/?igshid=1s0brcvmyyjel

    ReplyDelete
  7. https://www.instagram.com/tv/B_2exv4gkY1/?igshid=1s0brcvmyyjel

    ReplyDelete
  8. Kembali ke Roy Kiyoshi, apabila dia merubah timelinenya dpt mengakibatkan butterfly effect yg buruk begitu?

    ReplyDelete
  9. Its been a while!
    Yaampun masih aktif, hampir takut blog ini sudah kemana karena bertaun2 ku berdosa tidak menengok 😂 syukur syukur

    ReplyDelete
  10. Kalo memang ada multiverse, berarti di dunia sono juga sama-sama gak mampu melintas antar verse. Lagian kalo kasus si roy dikaitkan ama spring teori kayaknya konyol. Wkwkwkw

    ReplyDelete
  11. Kereeeen anjayy,,,

    ReplyDelete
  12. Halo bang, mau izin jadiin bebrapa cerita abang yang horor buat konten youtube boleh kah?

    ReplyDelete
  13. Mampir kesini dg niat buat cari hiburan..ketemu artikel yg mengandung nama "roy kim00cih" awalnya males buat baca..tapi ternyata malah mendapat wawasan seabreg..blok ente emang tjaQeub��

    ~pembaca artikel horor MBP sejak 2014

    ReplyDelete
  14. Bang gue curiga kalo anaknya Elon Musk yang dikasih nama x æ a-12 sebenarnya datang dari dimensi ke IX, soalnya namanya mirip si ngok-ngok (Æ-§7889¿). Apa jangan-jangan pengucapannya pun sama? Hanya tuhan yang tau.

    ReplyDelete