Thursday, May 7, 2020

PERCAYAKAH KALIAN PADA ALIEN? PART 2 – SKALA KARDASHEV, PERKARA BOLA DYSON, HINGGA MISTERI BINTANG TABBY


Ilustrasi Dyson Sphere atau Bola Dyson, bukti kecanggihan alien dengan peradaban lebih tinggi dari manusia

Melanjutkan pertanyaan di episode sebelumnya, percayakah kalian pada alien? Drake Equation menjawab bahwa probabilitas adanya kehidupan alien di luar sana amatlah tinggi. Kemudian teori “Dark Forest” menjawab Paradox Fermi tentang mengapa mereka memutuskan bersembunyi. Benarkah ada peradaban alien di luar sana yang begitu mengancam dan menakutkan?

Agar bisa lebih jauh membahas tentang hal tersebut, kita juga perlu menelaah bisa seberapa modern-kah peradaban alien di luar sana. Apakah keberadaan mereka benar-benar bisa mengancam kita? Adakah bukti keberadaan mereka, selain foto UFO yang buram?

Gue akan menjawabnya di artikel kali ini. Namun pertama-tama gue ingin mengenalkan kalian pada konsep Skala Kardashev.


KARDASHEV SCALE



Seberapa canggih sih peradaban alien di luar sana? Beruntung seorang astronom asal Uni Soviet bernama Nikolai Kardashev menjawabnya lewat teorinya yang diterbitkan pada 1964. Kardashev beranggapan, semakin maju sebuah peradaban, maka akan semakin besar pula kebutuhan energinya. Ini memang masuk akal. Bayangkan, sebuah rumah sederhana di desa dan di kota, manakah yang lebih besar kebutuhan listriknya? Tentu rumah di perkotaan bukan? Rumah di desa mungkin hanya memerlukan listrik untuk kebutuhan dasar, semisal lampu. Namun rumah di perkotaan tentu lebih banyak peralatan canggihnya, seperti TV, komputer, kompor listrik, water heater, pompa air, dll.

Maka Kardashev mengandaikan, semakin maju peradaban alien di luar sana, tentu mereka akan membutuhkan semakin banyak energi. Namun darimana mereka akan memenuhi kebutuhan energi tersebut? Sumber energi apakah yang akan mereka gunakan? Bagaimana mereka memanennya? Inilah yang mendasari pemikiran Kardashev.

Ia mengemukakan teori tentang Skala Kardashev, yakni peradaban alien di luar sana, jika memang benar ada, akan terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan kemajuan teknologinya.

Peradaban Tipe I



Peradaban tipe ini disebut juga “Peradaban Planet”. Peradaban ini bisa menggunakan semua energi yang terdapat di planet mereka. Peradaban jenis inilah mungkin yang terdekat dengan level teknologi yang dimiliki oleh manusia di Bumi. Menurut Kardashev, peradaban ini akan mengonsumsi energi sebanyak 4x1016 watt. Peradaban ini hanya mampu memanen energi matahari yang sampai ke planet mereka.

Peradaban Tipe II



Peradaban tipe ini disebut juga “Peradaban Bintang”. Peradaban ini bisa menggunakan semua energi yang terdapat di tata surya mereka. Peradaban ini membutuhkan energi yang jauh berkali-kali lipat lebih besar, yakni 4x1026 watt. Agar bisa memenuhinya, mereka harus memanen keseluruhan energi matahari mereka. Menurut teori, mereka bisa menggunakan Bola Dyson (akan gue jelaskan nanti) untuk keperluan tersebut.

Peradaban Tipe III




Peradaban tipe ini disebut juga “Peradaban Galaksi”. Peradaban ini bisa menggunakan semua energi yang terdapat di galaksi mereka. Peradaban ini memiliki kebutuhan energi hingga 4×1036 watt dan untuk memenuhinya, mereka harus memanen energi dari seluruh bintang-bintang yang ada di galaksi mereka.

Kardashev percaya bahwa kebudayaan alien takkan bisa semaju hingga Type IV, sehingga ia hanya berhenti di Type III.

Mungkin kalian berpikir, wah manusia sudah sampai di Level I dong karena kita kan bisa memanen energi dari matahari kita, semisal menggunakan solar panel. Namun tak semudah itu. Astronom lain, Carl Sagan, hanya beranggapan bahwa level peradaban kita belumlah genap Level 1, namun baru sampai di Level 0,7. Hal ini berdasarkan fakta bahwa konsumsi energi kita baru mencapai 2x1013 watt, masih jauh dari angka 4x1016 watt yang menjadi standar peradaban Type I.

Fisikawan lain, Michio Kaku juga berpendapat, untuk mencapai level I saja, manusia masih membutuhkan waktu hingga 200 tahun mendatang. Sedangkan untuk mencapai level II, manusia memerlukan waktu hingga ribuan tahun. Tak ayal, level III baru dapat dicapai manusia 100.000 hingga 1 juta tahun mendatang.

Kalo ini sih masih lama brow


Namun itu bukan berarti manusia tak bisa berimajinasi. Seorang ilmuwan bernama Dyson berhasil merancang sebuah struktur bernama “Dyson Sphere” atau mulai sekarang akan gue sebut sebagai “Bola Dyson”, jika memang suatu saat kita mencapai Level II.

BOLA DYSON



Dyson Sphere” atau “Bola Dyson” merupakan megastruktur hipotetis (alias bangunan mahabesar yang hingga kini belum bisa dibuat) yang melingkupi sebuah bintang untuk memanen energinya. Sebagai gambaran, planet kita hanya menerima 0,000000049% energi dari Matahari. Jika kita ingin memanen 100% energi matahari, cara terbaik melakukannya adalah menutupi matahari tersebut dengan struktur yang disebut Bola Dyson ini.

Freeman Dyson, seorang fisikawan dan ahli matematika, pertama kali mengemukakan ide tersebut di papernya yang diterbitkan tahun 1960, berjudul "Search for Artificial Stellar Sources of Infrared Radiation". Ia mengusulkan jutaan struktur melayang yang mengelilingi seluruh permukaan Matahari untuk menangkap energinya. Tentu dengan cara ini, akan ada lebih banyak energi yang ditangkap. Membuat Bola Dyson tentulah tidak mudah. Untuk bisa membuatnya, kita minimal haruslah mencapai peradaban Type II terlebih dahulu.

Ada empat jenis Bola Dyson yang bisa dibuat. Pertama atau yang paling sederhana, namun dengan input energi paling rendah, adalah Dyson Ring (Cincin Dyson).



Jika kita menjejerkan Cincin Dyson hingga menutupi seluruh permukaan matahari, maka kita akan mendapatkan Dyson Swarm atau Dyson Bubble (Gelembung Dyson) Uniknya, tiap unit penyusun Gelembung Dyson ini disebut sebagai “statites” dan dapat dirancang sebagai planet-planet kecil yang bisa menjadi habitat baru manusia.



Rancangan paling radikal dari Bola Dyson adalah Dyson Shell (Cangkang Dyson). Tentu kita bisa membayangkan, bahkan Gelembung Dyson-pun takkan bisa menangkap 100% energi matahari sebab akan ada energi yang lolos lewat sela-sela ruang kosong di antara unit-unit “statites” penyusunnya. Oleh sebab itu, ide paling ekstrim adalah membuat struktur yang benar-benar solid yang bisa menutup dan memblokir seluruh energi yang keluar dari matahari.



Apabila rancangan Cangkang Dyson ini bisa terealisasi, maka manusia akan bisa mencukup standar kebutuhan energi Type II, yakni 4x1026 watt. Namun perlu kita ingat, membuat struktur se-fantastis ini tentu akan memiliki banyak tantangan. Jika kita mempergunakan seluruh material yang ada di tata surya kita (bahkan menambang asteroid dan planet lain) kita baru bisa membuat Tempurung Dyson setebal 8-20 centimeter! Belum lagi memblokir seluruh matahari bisa mengubah kondisi tata surya kita ini.


BUKTI ADANYA BOLA DYSON?

Lokasi Tabby Star di konstelasi Cygnus (Angsa)

Kita kembali ke teori alien kita. Jika memang benar ada kehidupan alien yang sesuai dengan skala Kardashev, apalagi yang mencapai type di atas III, maka secara teori kita akan bisa mengamati mereka.

Pada 14 Oktober 2015, sekelompok astronom di Kepler Space Telescope menangkap sebuah fenomena aneh di bintang bernama KIC 8462852 yang berada di konstelasi Cygnus, sekitar 1.500 tahun cahaya jauhnya dari Bumi. Bintang tersebut kemudian diberi nick-name “Tabby Star” atau “Bintang Tabby” sesuai dengan nama pemimpin tim astronom tersebut, Tabetha S. Boyajian. 

Bintang Tabby ini menarik perhatian para astronom karena perilakunya yang aneh, yakni bintang tersebut “meredup” hingga 22% tanpa alasan yang jelas. Salah satu penjelasan yang “mungkin” dari meredupnya bintang ini adalah sebuah struktur buatan yang mem-blok bintang ini untuk menyerap energinya.

Grafik yang memperlihatkan penurunan luminitas (kecerahan) bintang Tabby, seakan-akan secara periodik ada yang "menutup" dan "menyerap" cahayanya

Dengan kata lain, meredupnya Bintang Tabby mungkin disebabkan oleh adanya sebuah “Bola Dyson”

Namun benarkah teori itu? Kita mungkin takkan pernah tahu mengingat betapa jauhnya lokasi bintang tersebut. Namun ternyata Bintang Tabby bukanlah satu-satunya bintang yang dicurigai tengah “dieksploitasi” energinya oleh alien. Pada 2016, bintang lain di rasi bintang Scorpion, bernama EPIC 204278916 juga mengalami fenomena serupa, bahkan lebih ekstrim, karena meredup hingga 65% selama 25 hari pengamatan. Spekulasi yang sama menyeruak, bahwa sebuah ras alien luar angkasa membangun Bola Dyson di sekitarnya untuk memanen energinya.

TIPE-TIPE PERADABAN LAIN DAN IMPLIKASINYA

Mungkin kalian masih ingat bahwa Kardashev tak percaya bahwa ada makhluk di alam semesta ini yang bisa mencapai lebih dari Level III. Hal ini dikarenakan pada hakikatnya, mahkluk dengan teknologi tinggi akan cenderung menghancurkan diri mereka sendiri jika tak mampu mengimbangi kemajuan teknologinya dengan solusi. Contohnya bisa kita lihat sekarang di Bumi kita ini kok, tak perlu jauh-jauh berpetualang ke planet alien.

Kemajuan teknologi kita telah menyebabkan berbagai kerusakan alam, sebut saja lubang di lapisan ozon, pencemaran udara, punahnya flora dan fauna akibat kerusakan habitat, pemanasan global, hingga perubahan iklim. Kita juga perlu ingat, bahwa semua teknologi, semaju apapun, pasti takkan bisa menghindari yang namanya limbah. Jika kita tidak bijak mengelola limbah tersebut, maka yang ada planet kita justru akan rusak karena eksploitasi energi yang berlebihan.

Ini akan membawa kita ke masalah lain, yang erat kaitannya dengan teori “Dark Forest” yang gue perkenalkan di artikel sebelumnya. Bagaimana jika di luar sana ada alien yang menguasai tak hanya Level I, namun juga level II bahkan III. Kita bisa membayangkan mungkin saja karena kebutuhan energi mereka yang amat tinggi, planet tempat tinggal mereka menjadi rusak, atau bahkan bintang milik mereka kehabisan energi?

Tentu hanya satu hal yang terpikirkan oleh mereka jika itu terjadi: mereka akan pergi ke tempat lain.

Jika mereka sampai datang ke planet kita, maka hal tak terelakkan pun akan terjadi: penjajahan.

Tapi bukan itu saja hal terburuk yang terjadi. Kardashev hanya membatasi skalanya hingga III, namun para pemikir yang lebih modern berpendapat lain. Bukan mustahil, di alam semesta yang mahaluas ini, ada tipe-tipe peradaban lain yang jauh lebih tinggi. Michio Kaku merekomendasikan peradaban Type IV atau Peradaban Ekstragalaktik dimana mereka menyerbu galaksi lain untuk mencukupi kebutuhan energi mereka.

Yang lebih menakutkan, fisikawan John D. Barrow mengusulkan level tertinggi, yakni peradaban Type Omega dimana mereka memiliki teknologi yang bisa memanipulasi ruang dan waktu, bahkan bisa memanen energi dari seluruh alam semesta. Pemikiran tergila kita tentu bisa menduga, mereka bisa saja menyerbu alam semesta lain (sesuai konsep multiverse) apabila energi di alam semesta mereka habis.

Feeling safe enough, guys?


11 comments:

  1. Kok gw jadi teringat ama Half-Life sehabis baca ini postingan?

    ReplyDelete
  2. Mengingatkan ku pada Thanos dan Captain Marvel

    ReplyDelete
  3. Keren bang dave bahas hal semacam ini lagi dong kapan kapan.

    ReplyDelete
  4. Apaaaaaa drake equation & Kardashev dicetusin taun 1960-an?? sementara itu gw taunya baru2 ini

    ReplyDelete
  5. Seperti planet krypton yg kehabisan energi akhirnya hancur :((


    Btw serem juga yg bola tabby, seandainya kita mengambil planet Jupiter pun kayaknya memang blm cukup untuk menghalangi cahaya matahari ke Exo planet, hhhmmm btw nice Bangdep, pengetahuan ku terupgrade, kayul kudu baca juga

    ReplyDelete
  6. Mungkin saja sebenarnya alien yg sering kita bayangkan memang ada, tapi bukan bernama 'alien' tapi 'malaikat' atau 'penghuni langit'

    ReplyDelete
  7. Artikel yang kayak gini nih yang bener bener horror banget bagi gw. Menunjukan betapa tidak berdayanya kita dibanding alam semesta yang begitu besar dan misterius.

    Mungkin kedepan bisa perbanyak lagi konten "Lovercraftian Horror" kayak gini lagi bang hehe. Anyway makasih sudah sharing bang :)

    ReplyDelete
  8. Tipe yang telah menciptakan energi Unlimited gak ada Bang?
    Sayang banget soalnya, udah punya sejarah jutaan tahun, 10 besar peradaban terpintar di galaksi, tapi energi masih limit.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya nggak bisa deh, soalnya energi itu nggak bisa diciptakan karena ada hukum kekekalan energi, bisanya cuma diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. bahkan bintang pun lama2 bisa habis kalo energinya dipake terus buat menciptakan panas dan cahaya

      Delete
  9. Para ilmuan nampaknya hanya memperkirakan kebutuhan energi di masa depan secara kuantitas. Jika memang peradaban manusia bahkan sudah mencapai penemuan mesin waktu, bukankah seharusnya manusia sedah bisa lebih efektif mengelola energi.
    Penggunaan energi di bumi saja berinovasi pada arah yang semakin hemat (kl contoh peradaban desa dan kota sepertinya kurang global). Misal lampu jaman dulu lebih boros dan redup karena skrng sdh ditemukan lampu led yang hemat energi dan lbh terang.
    Apa lagi energi bersifat kekal, harusnya sih jika peradabannya maju sudah bisa mengelola kondisi tsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. energi emang kekal tapi kan ada prinsip hukum termodinamika II, energi cuman bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. biasanya pemanfaatan energi apapun selain menghasilkan energi yg berguna, juga menghasilkan residu berupa panas. nah panas ini kalo terakumulasi terus bisa ngancurin peradaban itu (jika mereka nggak tahu cara mengelolanya). sama kayak kita, banyak masalah di dunia kita itu muncul gara2 kita nggak bisa mengelola limbahnya (sampah, gas2 rumah kaca, dsb). Gitu sih kalo menurut gue

      Delete